Claim Missing Document
Check
Articles

Found 39 Documents
Search

Studio Arsitektur dan Relevansinya dalam Pedagogi Rancang Bangun Gusti Ayu Made Suartika; Ni Made Swanendri; Kadek Edi Saputra; I Ketut Mudra
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 10 No 1 (2023): April 2023
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (232.881 KB) | DOI: 10.24843/JRS.2023.v10.i01.p08

Abstract

This article raises a query in regard to the suitability of the 'studio' as a learning method in the field of architecture. Its existence is inspired by the central position of the studio in the curriculum for building design. The studio-based course absorbs a relatively more significant portion of resources, time, and energy compared to others which play a supporting or enriching role. This article applies an inductive approach and explorative method in both data collection and analysis. By considering the various components of influence in architectural learning – aspects of pedagogy, cultural diversification, social interests, and advances in science and technology –, the discussion and results of the study are described in three sub-topics. First is an exploration of a studio design-based education and its roles in learning. Second, it is a study of adapted learning methods that are initiated and implemented by various academic institutions in the same field. And third, it is an extraction of relevant learning methods for future education in the field of architecture. Keywords: studio; learning methods; architecture; creativity; building design AbstrakArtikel ini membahas tentang kesesuaian ‘studio’ sebagai metode pembelajaran dalam pendidikan di bidang arsitektur. Keberadaannya diIlhami oleh sentralnya posisi studio di dalam kurikulum pembelajaran di bidang ilmu rancang bangun ini. Perkuliahan di studio menyerap porsi sumberdaya, waktu serta energi yang relatif jauh lebih besar, dibandingkan dengan berbagai mata kuliah lain yang berperan sebagai pendukung maupun pengkayaan. Artikel ini menerapkan pendekatan induktif dengan metode eksploratif baik dalam pengkoleksian data maupun analisisnya. Dengan mempertimbangkan berbagai komponen pengaruh terhadap pembelajaran di bidang arsitektur – aspek pedagogi, diversifkasi budaya, kepentingan sosial, dan kemajuan ilmu pengetahuan serta teknologi –, pembahasan serta hasil studi dijabarkan dalam tiga group sub-topik. Pertama, eksistensi studio dalam perannya sebagai wujud pembelajaran. Kedua, eksplorasi metode pembelajaran yang diimplementasikan oleh beragam institusi akademik di bidang yang sama. Dan ketiga, ekstraksi metode pembelajaran dalam ranah pendidikan di dunia arsitektur di masa yang akan datang.Kata kunci: studio; metode pembelajaran; arsitektur; kreativitas; rancang bangun
Identification of Tri Hita Karana Aspect in Taro Village Ni Wayan Sri Waras Danu Dewi; Natasya Oktavia Mangadang; Kadek Edi Saputra; Gusti Ayu Made Suartika; I Gusti Agung Ayu Rai Asmiywati
Journal of A Sustainable Global South Vol 8 No 1 (2024): February 2024
Publisher : Institute for Research and Community Services Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/jsgs.2024.v08.i01.p02

Abstract

Tri Hita Karana is a symbolization of happiness for Hindus People in Bali. To reach the bless from Tri Hita Karana, Balinese people must always make a harmonies relationship with God (Parahyangan), with human being (Pawongan) and with Environment (Palemahan). There are two types of villages in Bali: plain Bali villages, which are younger and found in the island's plains, and mountain Bali villages (Bali Aga), which are older, traditional settlements. Taro Village, one of Bali's oldest traditional villages, is made up of 14 banjars and is renowned for its rich cultural legacy. It also served as the model for the island's subak system. The identification of Tri Hita Karana elements adopted by the Taro Village community is attempted to be explained in this article. This study employed an exploratory qualitative methodology that included literature research and in-person observation. The study's findings demonstrate how Tri Hita Karana is practiced in Taro Village, Bali, as evidenced by the variety of customary rituals and the community's commitment to upholding the harmony of nature, humanity, and spirit in daily life. Index Terms— Bali Aga, Taro Village, Parahyangan, Pawongan, Palemahan.
Infrastruktur Kota Ramah Pesepeda: Ruang Parkir Koridor Puputan Renon–Hangtuah Sanur, Denpasar I Gusti Ayu Intan Paramitha; Gusti Ayu Made Suartika; I Made Adhika
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 11 No 2 (2024): October 2024
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JRS.2024.v11.i02.p05

Abstract

This article is about creating a cyclist-friendly city, taking a case study of Denpasar, which promotes sustainable infrastructures, particularly those dedicated to bicycles. In line with the Indonesian Ministry of Transportation’s Regulation No. 59 of 2020, which outlines the safety and accessibility of public parking for bicycles, it concentrates its discussions on the provision of such infrastructure for the Puputan Renon-Hangtuah Sanur Corridor of Kota Denpasar. This research employs a descriptive qualitative method, utilizing in-depth interviews as a data collection method. Its respondents include those coming from cycling communities and government agencies. Study findings will support the local government’s initiative to develop urban infrastructures that encourage public interest in cycling. This study has produced a map demonstrating potential bicycle parking spots along the Puputan Renon-Hangtuah Corridor in Denpasar. Locations of these spots have been based on respondents’ recommendations and include public facilities, shopping centers, and academic institutions. This map would recommend developing Denpasar as a cyclist-friendly city by providing safe and accessible bicycle parking spaces.Keywords: infrastructure; bike lanes; parking; safety AbstrakArtikel ini mendiskusikan tentang pembangunan kota ramah pesepeda dengan mengambil studi kasus di Denpasar, kota yang mempromosikan pembangunan infratruktur berkelanjutan, khususnya yang didedikasikan untuk sepeda. Beriringan dengan Permenhub Nomor 59 Tahun 2020 yang menjelaskan keamanan dan aksesibilitas ruang parkir publik untuk sepeda, artikel ini mengkonsentrasikan pembahasannya pada pengadaan infrastruktur untuk Koridor Puputan Renon-Hangtuah Sanur di Kota Denpasar. Penelitian ini menerapkan metode kualitatif deskriptif dengan memanfaatkan interview mendalam sebagai metoda pencarian data. Para responden berasal dari komunitas pesepeda dan instansi pemerintah. Temuan studi akan menjadi rekomendasi kepada pemerintah lokal untuk membangun infrastruktur kota yang medorong minat masyarakat dalam bersepeda. Studi ini memproduksi sebuah peta yang menunjukkan titik-titik parkir yang potensial di sepanjang Koridor Puputan Renon-Hangtuah Sanur. Lokasi titik-titik ini didasari atas rekomendasi yang diberikan oleh para responden yang melingkupi fasilitas publik, pusat perbelanjaan dan kawasan akademik. Hasil penelitian ini dapat dijadikan rekomendasi untuk pembangunan Denpasar sebagai kota ramah pesepeda dengan membangun ruang-ruang parkir bagi sepeda yang aman dan bisa diakses.Kata kunci: infrastruktur; jalur sepeda; parkir; keamanan
MAKNA DARI RAGAM HIAS PURA PURNA, DESA MENGWI, BADUNG, BALI Andika, Agus; Gautama, I Gusti Ngurah Agung Widagda Putra; Suartika, Gusti Ayu Made
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 9 No 2 (2025): Jurnal Arsitektur ARCADE Juni 2025
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31848/arcade.v9i2.3992

Abstract

Abstract: This article explores the meaning embedded in various ornamental designs of Balinese buildings, with Pura Purna in Mengwi Village, Badung Regency, as the case study. It highlights the diversity and richness of the ornaments, emphasizing their central role in characterizing religious structures. Using a qualitative approach, the study employs in-depth interviews, manuscript reviews, physical observations, and architectural documentation to analyze the form and design of these ornaments, contributing to understanding Balinese architectural identity. Data collection involved in-depth interviews, reviews of relevant manuscripts, physical observations, and architectural documentation, applying semiotic theory to interpret meanings. The study found that Pura Purna's architectural forms and ornamental designs were influenced by Dutch colonialism, encapsulated in the “Ni Dyah Tantri” animal tales, which embody deeply ingrained moral values within Balinese society. Moreover, the study observed that the ornaments used are not merely decorative elements but also reflections of the cultural and historical phases experienced by the community in Mengwi Village. Consequently, Pura Purna serves not only as a place of worship but also as a culturally rich and historically significant heritage that must be preserved. Keyword: Ornamental Designs, Cultural Influence, Balinese Heritage Abstrak: Artikel ini bertujuan untuk mengungkap makna yang tertanam dalam berbagai ragam hias dari bangunan di Bali. Artikel ini memilih Pura Purna sebuah tempat ibadah di Desa Mengwi, Kabupaten Badung sebagai objek studinya. Fokus diskusi yang diangkat adalah pada bentuk dan desain ornamen yang digunakan di pura ini. Artikel ini melihat keragaman dan kekayaan ornamen sebagai bagian sentral yang mengkarakterisasi sebuah struktur ibadah dan bahkan sebuah pura secara keseluruhan. Studi ini menggunakan pendekatan kualitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan melakukan serangkaian wawancara mendalam, tinjauan terhadap naskah-naskah yang relevan, observasi fisik, dokumentasi arsitektur, serta menggunakan teori Semiotika dalam mengungkap makna yang. Studi ini menemukan bahwa bentuk arsitektur dan desain ornamen Pura Puada di setiap ragam hias. rna dipengaruhi oleh kependudukan penjajah Belanda, yang dikemas dalam kisah kehidupan hewan Ni Dyah Tantri yang nilai-nilai moralnya sangat tertanam dalam kehidupan masyarakat Bali. Selain itu, diamati bahwa ornamen yang digunakan bukan hanya elemen dekoratif, tetapi juga cerminan dari fase-fase budaya dan sejarah yang dialami oleh komunitas di Desa Mengwi. Oleh karena itu, Pura Purna bukan hanya tempat ibadah tetapi juga warisan yang kaya secara budaya dan penting secara historis yang patut dilestarikan. Kata Kunci: Desain Ornamen, Pengaruh Budaya, Warisan Bali
Optimalisasi Program Pengembangan Jalur Sepeda Berbasis Keberlanjutan di Kota Denpasar Suryabrata, I Made Satyawira; Suartika, Gusti Ayu Made
Jurnal Pembangunan Wilayah dan Kota Vol 21, No 2 (2025): JPWK Volume 21 No. 2 June 2025
Publisher : Universitas Diponegoro Publishing Group, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/pwk.v21i2.68756

Abstract

Kota-kota global menghadapi tantangan keterbatasan akses terhadap moda transportasi massal, mengakibatkan tingginya ketergantungan terhadap penggunaan kendaraan pribadi untuk mobilitas harian. Pertumbuhan kendaraan bermotor yang pesat di Kota Denpasar menyebabkan tingginya tingkat kemacetan dan penurunan kualitas udara. Guna mengatasi hal ini, diperlukan pengembangan moda transportasi berkelanjutan seperti bersepeda. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kondisi eksisting jalur sepeda di Kota Denpasar dan merumuskan strategi optimalisasi pengembangan berbasis keberlanjutan. Pendekatan kualitatif deskriptif digunakan dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara mendalam, dan kajian dokumen. Analisis data dilakukan secara tematik menggunakan software NVivo meliputi tiga aspek utama keberlanjutan, yaitu lingkungan fisik, sosial-budaya, dan tata kelola kebijakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa telah terdapat jalur khusus sepeda di beberapa ruas jalan utama serta dukungan kebijakan dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) dan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR), namun implementasinya belum optimal. Jalur yang tersedia belum dilengkapi pembatas fisik, kurangnya fasilitas pendukung, dan minim integrasi antar moda, serta belum ada keterlibatan aktif masyarakat dan komunitas pesepeda. Temuan ini menekankan perlunya perancangan regulasi teknis, penataan infrastruktur sesuai prinsip bikeability, dan peningkatan peran stakeholders. Penelitian ini diharapkan memberi masukan bagi pemerintah kota dalam merancang jalur sepeda yang aman, nyaman, dan terintegrasi, serta mendukung mobilitas perkotaan yang berkelanjutan. 
The Impact of the Existence of Renon Field as a Public Open Space on the Value of the Surrounding Land Vianthi, Ni Putu Yunita Laura; Suartika, Gusti Ayu Made
ASTONJADRO Vol. 14 No. 2 (2025): ASTONJADRO
Publisher : Universitas Ibn Khaldun Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32832/astonjadro.v14i2.17705

Abstract

Fields or parks in the city center as public open spaces have social functions, ecological functions, environmental functions and economic functions. In terms of economic function, its existence has an impact as a movement of regional economic development. Fields that are strategically located in the core of the city center of government will affect the development of land use around them. As a result, this will have implications for increasing the need for land, which will ultimately escalate the economic value of the land. This study aims to analyze the impact of the existence of Renon Field as a public open space on the economic value of the land around it. The method used is a descriptive and comparative quantitative approach. The study used a comparison test of the difference between two areas, namely the subject area (Jl. Raya Puputan) as the affected area and the control area (Jl. Cok. Agung Tresna and Jl. Moh. Yamin) as a controlled area/considered not affected. Thus, the results obtained show that the existence of the Renon Field has a real impact with the acquisition of land value results in the subject area (Jl. Raya Puputan) being greater and/or having a significant difference in land value compared to the land value in the control area (Jl. Cok. Agung Tresna and Jl. Moh Yamin) as a corridor that is considered unaffected.
Effect of Agricultural Land Function Transfer on Urban Development in North Kuta District S, I Gusti Ngurah Ady Putra; Suartika, Gusti Ayu Made; Dwijendra, Ngakan Ketut Acwin
ASTONJADRO Vol. 13 No. 1 (2024): ASTONJADRO
Publisher : Universitas Ibn Khaldun Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32832/astonjadro.v13i1.14465

Abstract

Land use change in general concerns the transformation in allocating land resources from one designation to another. The aims of this study were (1) to identify problems with the conversion of agricultural land, especially paddy fields (2) to analyze its spatial pattern and the influencing factors, and (3) to analyze policies related to the conversion of agricultural land. This study used a qualitative approach, collecting data using interviews, observation, and documentation techniques. The data analysis technique used is descriptive qualitative. The research was conducted in North Kuta District, Badung Regency. The conclusions from this study are (1) the conversion of agricultural land to non-agricultural use is strongly influenced by the dynamics of very rapid urban growth, both from a demographic, economic, and physical perspective. 2) The spatial pattern of the conversion of paddy fields is influenced by socio-economic factors, including urban population growth, growth and shifts in economic structure, growth of land-using agricultural households, and changes in the area of land tenure. 3) The policy related to controlling the conversion of agricultural land is the consistency of the implementation of the District RDTR as the key to preventing the conversion of agricultural land to non-agricultural land.
FAKTOR YANG MEMPENGARUHI AKTIVITAS MASYARAKAT DI JALUR PEDESTRIAN JALAN GAJAH MADA DENPASAR DENGAN PENDEKATAN ACTIVE LIVING Arya, Ngurah; Suartika, Gusti Ayu Made
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 9 No 3 (2025): Jurnal Arsitektur ARCADE September 2025
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31848/arcade.v9i3.4242

Abstract

Abstract: The increasing use of private vehicles in recent years has become a pressing issue, contributing to various negative impact, including rising air pollution and a decline in the number of people walking. Active living refers to the effort to maintain a healthy lifestyle through regular physical activity, such as walking or cycling. Based on the triple-bottom-line theory, the aim of this study one the components that influence people’s behavior to move actively along the Jalan Gajah Mada Denpasar pedestrian path. The study area is located within a commercial zone that experiences significant traffic congestion during peak hours. A mixed-methods approach was employed, combining quantitative and qualitative techniques, including field surveys, interviews, and questionnaires for data collection. The results indicate that the majority of interviewees agreed that walking along the pedestrian path contributes to better health, enhances social well-being, and supports the local economy. However, challenges remain, such as inadequate infrastructure, the presence of parked vehicles on pedestrian paths, and safety concerns. Economic factors emerged as the primary motivator for people to engage in active mobility, while environmental conditions also played a crucial role. This tstudy emphasizes the importance of designing safe and comfortable pedestrian pathways to encourage active movement and ultimately improve quality of life. Further research is recommended to explore policy development and pedestrian design improvements through collaborative efforts with community stakeholders. Keywords: Active life, walking, pedestrian Abstrak: Meningkatnya pengguna kendaraan pribadi belakangan ini menjadi isu yang belakangan ini sering dibahas dan menimbulkan berbagai dampak negatif, salah satunya adalah polusi udara meningkat dan terjadi penurunan jumlah masyarakat yang berjalan kaki. Active living merupakan berusaha untuk tetap menjalani gaya hidup sehat secara rutin setiap hari, misalkan seperti berjalan kaki atau bersepeda. Berdasarkan teori triple-bottom-line, tujuan penelitian ini adalah untuk mempelajari salah satu komponen yang mempengaruhi perilaku masyarakat untuk bergerak aktif di sepanjang jalur pedestrian Jalan Gajah Mada Denpasar. Lokasi ini berada disebuah kawasan komersial dengan tingkat kemacetan tinggi di jam tertentu. Metode yang digunakan adalah kombinasi kuantitatif dan kualitatif dengan menggunakan teknik pengumpulan data melalui survey lapangan, wawancara dan pengumpulan data serta kuisioner. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa mayoritas hasil dari wawancara menjawab setuju bahwa berjalan kaki di jalur pedestrian dapat meningkatkan kesehatan dan meningkatkan kesejahteraan sosial serta mendukung ekonomi lokal. Namun, terdapat beberapa tantangan kurangnya fasilitas seperti masih terdapat parkir di jalur pedestrian, dan masalah keamanan yang perlu diperbaiki. Faktor ekonomi menjadi faktor utama bagi masyarakat untuk bergerak aktif, sementara kondisi lingkungan juga berperan penting. Penelitian ini membahas pentingnya merencanakan jalur pedestrian yang aman dan nyaman untuk mendorong masyarakat dalam bergerak lebih aktif, sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup. Rekomendasi untuk studi lebih lanjut mencakup pengembangan regulasi dan desain pedestrian serta kolaborasi dengan komunitas. Kata Kunci: Active living, berjalan kaki, pedestrian
KORELASI BENTUK PERKOTAAN DENGAN MOBILITAS PERKOTAAN PADA KOTA-KOTA DI NEGARA BERKEMBANG: TINJAUAN SISTEMATIK LITERATUR Galih, Komang Ayu Sari; Juliarthana, I Nyoman Harry; Suartika, Gusti Ayu Made; Sueca, Ngakan Putu
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 9 No 3 (2025): Jurnal Arsitektur ARCADE September 2025
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31848/arcade.v9i3.4282

Abstract

Abstract: Urban growth in the 21st century is characterized by massive urbanization, creating complex challenges related to urban form and mobility. This study examines the correlation between urban form and urban mobility in developing countries through a systematic literature review using the SALSA method (Search, Appraisal, Synthesis, and Analysis). A total of 20 articles published between 1999 and 2024 were analyzed, focusing on variables such as density, land-use mix, street connectivity, and transit accessibility. The findings indicate that compact, mixed-use, and well-connected urban forms encourage public transport use, walking, and cycling, thereby reducing dependence on private vehicles and lowering emissions. Conversely, urban sprawl exacerbates congestion, pollution, and energy consumption. Developing countries face unique challenges, including socio-economic disparities, dominance of informal transport, and limited data and governance capacity. These findings highlight the importance of integrating spatial planning with sustainable mobility policies. The study concludes that compact and inclusive transit-oriented development, supported by pedestrian- and cyclist-friendly infrastructure and regulation of informal transport, is essential for achieving sustainable and equitable urban mobility. Keyword: Urban Form, Urban Mobility, SALSA. Abstrak Pertumbuhan kota di abad ke-21 ditandai oleh urbanisasi masif yang menghadirkan tantangan kompleks terkait bentuk perkotaan dan mobilitas. Penelitian ini mengkaji korelasi antara bentuk perkotaan dan mobilitas di negara berkembang melalui tinjauan sistematik literatur dengan metode SALSA (Search, Appraisal, Synthesis, and Analysis). Sebanyak 20 artikel terbitan 1999–2024 dianalisis dengan fokus pada variabel – variabel dalam bentuk perkotaan dan mobilitas perkotaan. Hasil menunjukkan bahwa kota yang padat, bercampur fungsi, dan terhubung baik mendorong penggunaan transportasi umum, berjalan kaki, dan bersepeda, sehingga mengurangi ketergantungan kendaraan pribadi dan menekan emisi. Sebaliknya, urban sprawl memperparah kemacetan, polusi, dan konsumsi energi. Negara berkembang menghadapi tantangan khusus, seperti kesenjangan sosial-ekonomi, dominasi transportasi informal, serta keterbatasan data dan tata kelola. Temuan ini menegaskan pentingnya integrasi perencanaan ruang dan kebijakan mobilitas berkelanjutan. Studi ini menyimpulkan bahwa pengembangan kota padat dan inklusif berorientasi transit, didukung infrastruktur ramah pejalan kaki dan pesepeda serta regulasi transportasi informal, merupakan kunci untuk mewujudkan mobilitas perkotaan yang adil dan berkelanjutan. Kata Kunci: Bentuk Perkotaan, Mobilitas Perkotaan, SALSA.