Claim Missing Document
Check
Articles

Found 36 Documents
Search

Potensi Lokal Taman Nasional Manusela sebagai Gagasan Pembelajaran berbasis Keunggulan Lokal di Pulau Seram Kabupaten Maluku Tengah Sopacuaperu, Sonia Falensia; Dewi, Lusiawati; Sucahyo, S
Prosiding SNPBS (Seminar Nasional Pendidikan Biologi dan Saintek) 2021: Prosiding SNPBS (Seminar Nasional Pendidikan Biologi dan Saintek)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (375.702 KB)

Abstract

Potensi lokal merupakan produk atau jasa baik alami maupun buatan yang memiliki nilai serta daya kompetetif. Potensi yang dimaksud dapat berupa potensi sumber daya alam, budaya, sejarah bahkan geografis. Nilai yang dimiliki oleh potensi lokal ini dapat menjadi keunggulan lokal bagi daerah yang memilikinya. Sekarang ini sekolah menjadi salah satu tempat untuk melakukan pembelajaran yang berdasar kepada keunggulan lokal dengan memanfaatkan nilai potensi yang ada guna untuk melestarikan potensi lokal agar tetap dikenal dari generasi ke generasi. Tujuan dari peneletian ini yaitu untuk mengetahui potensi lokal Taman Nasional Manusela (TNM) sebagai gagasan pembelajaran berbasis kenunggulan lokal di Pulau Seram Kabupaten Maluku Tengah. Penelitian ini merupakan penelitian berdasarkan studi pustaka dari berbagai sumber yang relevan dengan tujuan penelitian. Taman Nasional Manusela menjadi daerah yang akan digunakan untuk mengali tentang potensi lokal yang ada. Dengan memiliki 4 ekosistem yaitu ekosistem pantai, ekosistem hutan rawa, ekosistem hutan hujan daratan rendah dan ekosistem hutan hujan pegunungan. Dari ke empat ekosistem yang ada dipilih 2 flora dan 1 fauna yaitu Kakatua Maluku (Cacatua moluccensis Gmelin, 1718), Nuri Raja Ambon (Alisterus amboinensis) dan Pakis Binaya (Cyathea binayana). Flora dan fauna ini sudah mulai berkurang di Maluku diakibatkan oleh perburuan, perdangangan oleh masyarakat sekitar bahkan orang lain sehingga perlu untuk dilestarikan agar tetap terjaga dan dilakukan melalui pembelajran berbasis keunggulan lokal untuk menanamkan kepada setiap generasi muda tetang potensi lokal yang ada di Maluku, Pulau Seram dan juga dapat diterapakn melalui pembelajran IPA berdasarkan kompetensi dasar yang ada yaitu Kelas VII (kompetensi dasar 3.2, 3.7), kelas X (kompetensi 3.2, 3.3, 3.8, 3.10). Setiap daerah memiliki nilai potensi yang dapat digunakan sebagai bagian dari pembelajaran dengan memiliki potensi lokal yang dijadikan sebagai keunggulan sehingga dapat menjaga warisan keanekaragaman yang telah ada dari dulu sebagai bentuk dari upaya untuk melestarikan ekosistem dan lingkungan.
Optimasi Perebusan Biji Ketapang (Terminalia Cattapa) Dalam Fermentasi Tempe Lelatobur, Lovely Ezverenzha; Dewi, Lusiawati
Prosiding SNPBS (Seminar Nasional Pendidikan Biologi dan Saintek) 2016: Prosiding SNPBS (Seminar Nasional Pendidikan Biologi dan Saintek)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (607.651 KB)

Abstract

Tempe merupakan produk pangan fermentasi yang juga merupakan makanan tradisional Indonesia dan telah banyak dimodifikasi dengan menggunakan bahan lain selain kedelai.Sudah terdapat setidaknya 6 jenis tempe dengan bahan yang selain kedelai dan salah satunya ada biji ketapang. Biji ketapang mengandung kadar protein 25,3%, lemak 16.35%, serat 11.75% dan karbohidrat 5.8%. Biji ketapang sudah mulai digunakan dalam pembuatan produk fermentasi seperti kecap, subtitusi tepung dan juga tempe, hanya saja untuk tempe masih belum diketahui lebih dalam kadar gizinya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan cara pengolahantempe khususnya pada perebusan biji ketapang dalam menghasilkan kualitas tempe biji ketapang yang baik dilihat dari uji proksimat dan organoleptik. Demi tercapai tujuan tersebut, biji ketapang direbus dengan menggunakan interval waktu perebusan 30 dan 45 menit yang diberi perebusan dua kali dan 60 menit dengan perebusan sekali. Setelah itu diberi ragi dan difermentasi selama 48 jam kemudian dilakukan uji proksimat dan organoleptik. Data yang diperoleh dianalisis dengan statistik sederhana (deskriptif). Hasil penelitian menunjukkan kadar air yang optimal untuk fermentasi tempe biji ketapang adalah pada perebusan 60 menit dengan persentase kadar air 62.50% untuk kadar abu optimal fermentasi tempe biji ketapang pada perebusan 45 menit yaitu 2.17% untuk kadar lemak dan protein optimal perebusan untuk fermentasi tempe bji ketapang adalah 60 menit dengan persentase 7.16% & 18.24% sedangkan untuk organoleptik skala nilai yang didapat semua perlakuan adalah 3 (netral). Disimpulkan bahwa nilai gizi berdasarkan uji proksimat dan organoleptik menunjukkan bahwa perebusan 45 menit dan 60 menit lebih optimal membantu dalam proses fermentasi biji ketapang menjadi tempe.
Deteksi Cemaran Coliform dan Salmonella Sp. pada Tempe Kedelai dari Kecamatan Sidorejo dan Tingkir, Kota Salatiga Kusuma, Rizky Dewi Darma; Dewi, Lusiawati
Prosiding SNPBS (Seminar Nasional Pendidikan Biologi dan Saintek) 2016: Prosiding SNPBS (Seminar Nasional Pendidikan Biologi dan Saintek)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (535.788 KB)

Abstract

Tempe kedelai merupakan produk makanan hasil fermentasi oleh Rhizopus sp. dan berpotensi sebagai sumber protein nabati. Tempe didapatkan melalui tahapan pensortiran kedelai, pemasakan, perendaman (pengasaman), pencucian, penirisan, peragian, dan pengemasan. Namun, sebagian sumber daya pekerja berkualitas rendah, bahan, proses, dan tempat pengolahan sederhana, sertaperalatan pengolahan konvensional menyebabkan tempe berisiko terkontaminasi mikroba patogen. Standar tempe kedelai pada SNI 3144-2015 menunjukkan batas cemaran coliform maksimal 10 APM/g dan Salmonella sp. negatif/25g. Kota Salatiga memiliki pengrajin tempe berkemasan plastik di Kecamatan Sidorejo dan Tingkir dengan skala produksi 50-100kg/hari. Besarnya skala produksi menyebabkan produsen perlu menyesuaikan standar produknya agar memiliki produk bermutu dan aman ketika didistribusikan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeteksi dan mendapatkan data jumlah cemaran coliform serta Salmonella sp. pada tempe kedelai berkemasan plastik yang diproduksi di Kecamatan Sidorejo dan Tingkir, Kota Salatiga dengan standar ketentuan SNI 3144-2015. Sampel berasal dari total 35% pengrajin tempe berkemasan plastik dengan skala produksi 50-100kg/hari yang dipilih secara acak. Deteksi jumlah cemaran coliform menggunakan metode Most Probable Number (MPN) dengan tahapan Uji Dugaan dan Uji Penegasan, sedangkan Salmonella sp. dideteksi dengan medium Salmonella Shigella Agar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua sampel yang diujikan belum memenuhi standar dengan jumlah cemaran coliform tertinggi 1.100 APM/g dan terendah 36 APM/g, serta ditemukan satu sampel yang tercemar Salmonella sp.. Pencemaran diketahui berasal dari air untuk produksi, lingkungan produksi, dan pekerja yang minim pemahaman sanitasi.
Kajian Penggunaan Kopi Toraja sebagai Media Fermentasi Kombu Marampa, Edgar Meyer; Dewi, Lusiawati
Prosiding SNPBS (Seminar Nasional Pendidikan Biologi dan Saintek) 2016: Prosiding SNPBS (Seminar Nasional Pendidikan Biologi dan Saintek)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (531.226 KB)

Abstract

Kopi Toraja merupakan salah satu jenis kopi dari Indonesia yang memiliki cita rasa dan daya saing internasional. Salah satu yang bisa menjadi inovasi baru dari penyajian kopi adalah kopi fermentasi atau yang dikenal dengan kopi kombucha. Selain mendapatkan manfaat dari kopi, mengkonsumsi kopi kombucha juga dapat memberikan manfaat dari hasil fermentasi kopi dari jamur kombu bagi tubuh. Jamur kombucha merupakan SCOBY, atau simbiosis dari koloni bakteri dan yeast. Kultur kombucha merupakan kerjasama simbiotik dari ragi dan bakteri yaitu Acetobacter xylinum dan yeast yaitu Saccharomyces cereviseae, Saccharomyces ludwigii, Saccharomyces bisporus, Zygosaccharomyces sp dan beberapa jenis kapang (Torolupsis sp). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji kemampuan kopi Toraja sebagai media fermentasi jamur kombu. Penelitian ini dilakukan dengan menyiapkan kultur kombucha, mengencerkan kopi dengan seri pengenceran 2.5gr/250ml; 4.5gr/250ml; 6,5gr/250ml; 8.5gr/250ml; 10.5gr/250ml, di mana 6,5gr/250ml sebagai kontrol mengikuti resep umum penyajian kopi, dan masing-masing perlakuan dibuat sebanyak 3 kali ulangan. Gula tebu ditambahkan sebanyak 15gr untuk semua perlakuan. Kopi difermentasi selama 14 hari sesuai standar waktu fermentasi teh kombucha, dan dihari terkahir dilakukan pengukuran terhadap total asam, berat kering, ketebalan jamur sebagai indikator pertumbuhan jamur serta uji organoleptik warna, rasa dan bau hasil fermentasi kopi terhadap 30 orang responden untuk mengetahui minat konsumen terhadap nilai pengenceran yang paling disukai. Dari penelitian ini diketahui bahwa kopi Toraja dapat menjadi media fermentasi jamur kombu, dengan pengenceran 2.5gr/250ml adalah konsentrasi yang paling baik untuk pertumbuhan jamur, sedangkan dari hasil uji organoleptik yang paling disukai adalah pengenceran 8.5gr/250ml.
EDUKASI DAN PELATIHAN PEMBUATAN ES KRIM SAYUR DAN BUAH BAGI REMAJA Paramastuti, Ratih; Rizkaprilisa, Windy; Hapsari, Martina Widhi; Dewi, Lusiawati
Community Development Journal : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 5 No. 2 (2024): Volume 5 No. 2 Tahun 2024
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/cdj.v5i2.23878

Abstract

Remaja rentan terhadap defisiensi mikronutrien karena kebutuhan zat gizinya yang tinggi untuk pertumbuhan, gaya hidup dan pola konsumsinya. Pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan remaja mengenai defisiensi mikronutrien, memberikan pelatihan pembuatan inovasi pangan yang memiliki kandungan vitamin dan mineral yang tinggi, meningkatkan minat remaja untuk konsumsi sayur dan buah, dan menumbuhkan jiwa wirausaha agar siswa dapat melihat potensi bahan pangan lokal. Produk yang dibuat adalah es krim daun kelor dan es krim mangga. Kegiatan dilaksanakan pada bulan Juli di SMK Kristen Terang Bangsa Semarang. Kegiatan ini terbagi menjadi pre-test, edukasi, praktik pembuatan es krim sayur dan buah, dan post-test. Peserta kegiatan sebanyak 18 orang yang terdiri dari 10 orang remaja putri dan 8 orang remaja putra yang mempunyai usia dalam rentang 15-18 tahun. Frekuensi konsumsi sayur responden yang termasuk dalam kategori kurang sebesar 89%, sedangkan frekuensi konsumsi buah yang termasuk kategori kurang sebanyak 94%. Hasil pengabdian menunjukkan bahwa peserta yang mengalami peningkatan pengetahuan sebesar 83%. Kepuasan peserta pengabdian terhadap topik, materi yang disampaikan, dan kesan mengikuti kegiatan adalah responden merasa bahwa kegiatan yang dilakukan bermanfaat. Kesan responden setelah mengikuti kegiatan antara lain penjelasan mudah dipahami, acara menarik, kegiatannya seru, materi mudah dicerna, acara bermanfaat, menyenangkan, dan menambah wawasan.
TEMPE “SUPER FOOD” UNTUK KALANGAN ANAK-ANAK TK DI SALATIGA DAN SEMARANG Dewi, Lusiawati; Paramastuti, Ratih; Rizkaprilisa, Windy
Community Development Journal : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 5 No. 3 (2024): Volume 5 No. 3 Tahun 2024
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/cdj.v5i3.27136

Abstract

Tempe merupakan pangan fermentasi dengan bahan dasar kedelai, difermentasi dengan starter dari kapang Rhizopus spp., dan merupakan pangan fermentasi asli dari Indonesia. Dalam rangka memperkenalkan tempe kepada generasi muda atau usia dini, maka tempe dapat dibuat berbagai olahan pangan berupa makanan dan minuman. Sosialisasi dan pelatihan dilakukan di KB TK Bethany Salatiga dan KB TK Karangturi Semarang.  Untuk di Salatiga, anak anak semua diajak untuk membuat bola coklat tempe dan pizza tempe. Sedangkan di Semarang dilakukan pelatihan terhadap guru-guru KB TK berupa burger tempe, sate tempe mayo, dan susu tempe. Selanjutnya guru-guru tersebut akan melakukan pelatihan ke ibu-ibu PKK di lingkungan masing masing.  Peserta merasa senang dan merasa sangat bermanfaat karena jenis pangan olahan tersebut belum pernah dikenal sebelumnya. Pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk memberikan pelatihan inovasi pengolahan tempe. Diversifikasi olahan tempe diharapkan dapat meningkatkan jumlah konsumsi tempe. Melalui kegiatan ini, para siswa dan guru dikenalkan dengan berbagai produk inovasi berbahan dasar tempe sehingga dapat meningkatkan ketertarikan dalam mengonsumsi tempe.