Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

Relevansi Pemikiran Filsafat Al Kindi dalam Pembentukan Moral pada Masyarakat Plural Dewi, Tri Nur; Sukino, Sukino; Usman, Usman
Literasi: Jurnal Ilmu Pendidikan Vol. 16 No. 2 (2025)
Publisher : Universitas Alma Ata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21927/literasi.2025.16(2).290-305

Abstract

Al-Kindi, dikenal sebagai Bapak Filsafat Arab, merupakan pionir dalam integrasi pemikiran filsafat Yunani dengan ajaran Islam pada abad ke-9 M. Ia menjadi tokoh penting yang menjembatani antara tradisi intelektual Yunani dan nilai-nilai keislaman, terutama dalam mengembangkan pemikiran rasional yang tetap berakar pada wahyu. Namun, dalam konteks pendidikan Islam di Indonesia yang plural dan multikultural, riset mengenai kontribusi pemikiran Al-Kindi terhadap pembentukan moral dan pengembangan karakter peserta didik masih sangat minim. Gap penelitian ini terletak pada kurangnya eksplorasi mendalam tentang bagaimana pendekatan rasional dan integratif Al-Kindi dapat diadopsi untuk menjawab tantangan pendidikan moral di tengah masyarakat yang majemuk, khususnya dalam membangun sikap toleransi, berpikir kritis, keterbukaan, dan karakter inklusif yang sesuai dengan nilai-nilai Islam. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kebaruan kontribusi pemikiran Al-Kindi dalam pendidikan moral Islam, dengan menyoroti integrasi antara ilmu dan agama, serta relevansinya dalam membentuk karakter peserta didik di lingkungan masyarakat plural Indonesia saat ini. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif melalui studi pustaka terhadap karya-karya Al-Kindi dan kajian akademik terkait, penelitian ini menemukan bahwa Al-Kindi menempatkan filsafat sebagai sarana menemukan kebenaran melalui rasionalitas dan akal, tanpa menegasikan nilai-nilai wahyu sebagai sumber kebenaran hakiki. Kebaruannya terletak pada gagasan bahwa ilmu pengetahuan dan agama dapat berjalan seiring dan saling memperkuat. Dengan demikian, pendidikan Islam yang berlandaskan pada pemikiran Al-Kindi tidak hanya menghasilkan generasi yang cerdas secara intelektual, tetapi juga berakhlak mulia, toleran, terbuka terhadap perbedaan, dan adaptif terhadap dinamika sosial budaya serta perkembangan zaman. Dalam konteks masyarakat plural, pemikiran Al-Kindi mendorong pengembangan kurikulum dan metode pembelajaran yang menekankan nilai-nilai toleransi, dialog terbuka, dan penghargaan terhadap perbedaan, sehingga dapat membentuk masyarakat yang harmonis, inklusif, dan berkeadilan
Sowing Moderation Through the Curriculum of Love: The Relevance of Ibn Miskawaih's Middle Path Ethics Rafida, Alifa Ihfazna; Sukino, Sukino; Usman, Usman
Journal of Research in Social Science and Humanities Vol 5, No 4 (2025)
Publisher : Utan Kayu Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47679/jrssh.v5i4.523

Abstract

Religious moderation is a crucial approach in maintaining social harmony amid religious and cultural diversity in Indonesia, but its implementation still faces serious challenges in the form of intolerance and radicalism. This article examines the relevance of Ibn Miskawaih's concept of the middle path (al-ikhtiyar al-awsat) in the book Tahdhib al-Akhlaq as an ethical foundation for strengthening this moderation, while also proposing a “Curriculum of Love” as a transformative pedagogical approach. The thoughts of emphasizes that moral virtue lies in the balance between two extremes and the purification of the soul (tahdhib al-nafs), which in the context of Islamic education in Indonesia, these values can be integrated through a character-based curriculum to shape an inclusive attitude towards religion. This article argues that the integration of the values of compassion (mahabbah) and moral balance is essential to address the challenge of intolerance, where the “Curriculum of Love” serves as an instrument to internalize religious moderation through an affective approach that goes beyond mere textual understanding. Through a literature review, this study concludes that the synergy between Ibn Miskawaih's middle path ethics and the Curriculum of Love can encourage the creation of “Active Tolerance” and stronger social cohesion, enabling educational institutions to produce a generation that is not only intellectually intelligent but also highly empathetic towards diversity.