Claim Missing Document
Check
Articles

Found 29 Documents
Search

The Correlation Between Smoking Behavior and The Use of “Used Cooking Oil” with Hypertension Incidences at Malimbu Coastal Area Adnyana, I Gede Angga; Kresnapati, I Nyoman Bagus Aji; Saputra, I Putu Bayu Agus; Diarti, Maruni Wiwin; Jiwintarum, Yunan
Jurnal Keperawatan Terpadu (Integrated Nursing Journal) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Keperawatan, Poltekkes Kemenkes Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32807/jkt.v5i2.518

Abstract

Hypertension is the main risk factor that leads to cardiovascular disease such as heart attack, heart failure and stroke, which is the highest cause of death in the world. One area with high risk of hypertension is the coastal area. The famous coastal area in the Lombok is Malimbu, located in North Lombok, West Nusa Tenggara Province. This research is an analytical observational study with a cross sectional design. This study aims to determine the correlation between smoking behavior and use of “used cooking oil” and the incidence of hypertension. Samples in this study were 70 people (n=70), and was taken using accidental sampling technique. Data were analyzed using chi-square. The results showed that the incidence of hypertension was 48% of the 70 respondents. Most of the respondents (70%), had no history of hypertension in their family. This research shows that there is no correlation between smoking behavior and the incidence of hypertension (p=0.807) with PR=1.156 (0.354 - 3.797). The use of “used cooking oil” was also found to be not correlated with the incidence of hypertension (p=0.632) with PR=1.275 (0.486 - 3.345). Although several previous studies showed that the smoking behavior and the use of used cooking oil correlate to hypertension, but this study result shows different data. This can be caused by other factors. Future research needs to examine the characteristics of smokers that may be related to the incidence of hypertension
Aktivitas Fisik Sebagai Faktor Risiko Hipertensi Pada Masyarakat Desa Batu Layar, Kabupaten Lombok Barat: Physical Activity as a Risk Factor for Hypertension among the Community of Batu Layar Village, West Lombok Regency Saputra, I Putu Bayu Agus; Ni Made Wiasty Sukanty; Anisah; Laksmi Nur Fajrini; I Gede Angga Adnyana
Jurnal Kolaboratif Sains Vol. 8 No. 12: Desember 2025
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/jks.v8i12.9028

Abstract

Hipertensi merupakan kondisi peningkatan tekanan darah sistolik lebih dari 140 mmHg dan tekanan darah diastolik lebih dari 90 mmHg pada dua kali pengukuran dengan selang waktu lima menit dalam keadaan istirahat. Tujuan dari kegiatan ini untuk mengidentifikasi masalah kesehatan, menentukan prioritas masalah, merencanakan intervensi pemecahan masalah khususnya terkait masyarakat desa Batu Layar, Kabupaten Lombok Barat. Metode yang digunakan untuk menentukan prioritas masalah dari komunitas masyarakat desa Batu Layar yakni menggunakan metode delphi, prioritas masalah yang didapatkan pada komunitas masyarakat desa Batu Layar yaitu Hipertensi. Hasil penelitian dengan jumlah sampel 136 orang. Hasil dari penelitian ini didapatkan 61 orang. dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan (p<0,05) antara tingkat aktivitas fisik dengan kejadian hipertensi. Analisis data statistik menunjukkan bahwa individu dengan aktivitas fisik rendah memiliki risiko lebih tinggi mengalami peningkatan tekanan darah dibandingkan dengan individu yang melakukan aktivitas fisik sedang hingga tinggi
HUBUNGAN STRES, AKTIVITAS FISIK, DAN PERILAKU MAKAN DENGAN STATUS GIZI SISWA SMAN 4 PRAYA LOMBOK TENGAH Ahmad Mursyid; Dewi Utari; I Gede Angga Adnyana; Dasti Anditiarina
Indonesian Journal of Health Research Innovation Vol. 3 No. 1 (2026): Indonesian Journal of Health Research Innovation
Publisher : Yayasan Menawan Cerdas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64094/68v5we42

Abstract

Remaja menghadapi masalah gizi ganda, yaitu gizi kurang dan gizi lebih, yang dapat dipengaruhi oleh faktor psikososial dan perilaku. Stres, aktivitas fisik, dan perilaku makan merupakan determinan penting status gizi pada usia sekolah.Tujuan penelitian untuk menganalisis hubungan tingkat stres, aktivitas fisik, dan perilaku makan dengan status gizi siswa kelas XII SMAN 4 Praya, Lombok Tengah. Penelitian kuantitatif analitik dengan desain cross-sectional pada Januari 2024 di SMAN 4 Praya. Sampel berjumlah 90 siswa dipilih menggunakan purposive sampling dari populasi siswa kelas XII. Data dikumpulkan melalui kuesioner untuk mengukur tingkat stres, aktivitas fisik, dan perilaku makan, serta pengukuran antropometri untuk menentukan status gizi. Analisis bivariat dilakukan menggunakan uji korelasi Gamma untuk variabel ordinal dan uji Mann–Whitney sesuai karakteristik data dengan tingkat signifikansi 0,05. Sebagian besar responden memiliki status gizi normal (56,7%), tingkat stres sedang (67,8%), perilaku makan baik (54,4%), dan aktivitas fisik sedang (64,4%). Terdapat hubungan bermakna antara tingkat stres dan status gizi (p<0,001). Tidak terdapat hubungan bermakna antara perilaku makan dan status gizi (p=0,391) maupun antara aktivitas fisik dan status gizi (p=0,910). Tingkat stres berhubungan signifikan dengan status gizi siswa kelas XII SMAN 4 Praya. Perilaku makan dan aktivitas fisik tidak menunjukkan hubungan yang signifikan dengan status gizi pada penelitian ini. Penelitian lanjutan perlu mempertimbangkan faktor perancu seperti kualitas tidur, asupan energi, pengetahuan gizi, dan kondisi medis, serta menggunakan instrumen aktivitas fisik yang lebih objektif.
Hubungan Antara Tingkat Pendidikan Orang Tua, Status Ekonomi, dan Sanitasi Lingkungan dengan Kejadian Diare pada Balita di Gunungsari Kabupaten Lombok Barat Dzikra, Girang; Angga Adnyana, I Gede; Maya Samodra, Velia; Azmi, Fahriana
Midwifery Student Journal (MS Jou) Vol. 4 No. 1 (2025): Midwifery Student Journal (MS Jou)
Publisher : Poltekkes Kemenkes Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32807/msjou.v4i1.68

Abstract

Latar Belakang : Anak-anak sangatlah rentan untuk terkena penyakit, hal ini dikarenakan imunitas pada anak masih bersifat imatur dan akan terus berkembang seiring pertambahan usia. Berdasarkan data World Health Organization (WHO) diare merupakan penyakit kedua tertinggi penyebab kematian pada anak usia dibawah 5 tahun dengan kasus kematian mencapai 370.000 anak pada tahun 2019. Tujuan : Mengetahui hubungan tingkat Pendidikan orang tua, status ekonomi, dan sanitasi lingkungan dengan kejadian diare pada balita usia 0-60 bulan di wilayah Gunungsari Kabupaten Lombok Barat. Metode : Penelitian ini dilakukan di wilayah Gunungsari Kabupaten Lombok Barat dengan teknik pengambilan sampel yaitu purposive sampling. Data penelitian kemudian dianalisis secara univariat dan bivariat. Hasil : Data penelitian didapatkan bahwa sebanyak 24 (30%) responden tidak mengalami kejadian diare, sedangkan sebanyak 56 (70%) responden  mengalami kejadian diare. Hasil analisis bivariat menunjukkan tidak terdapat hubungan antara tingkat pendidikan orang tua (p-value = 1,195), status ekonomi (p-value = 0,256), penyediaan air bersih (p-value = 0,254), jamban keluarga (p-value = 0,147), dan pengelolaan limbah cair (p-value = 0,336) terhadap kejadian diare pada balita usia 0-60 bulan di wilayah Gunungsari Kabupaten Lombok Barat. Kesimpulan : Tidak terdapat hubungan antara tingkat pendidikan orang tua, status ekonomi, penyediaan air bersih, jamban keluarga, dan pengelolaan limbah cair terhadap kejadian diare pada balita usia 0-60 bulan di wilayah Gunungsari Kabupaten Lombok Barat. Berdasarkan hasil penelitian ini, khususnya untuk Pemerintah dan instansi Kesehatan harus berfokus terkait penanganan dan pencegahan pengendalian faktor risiko kejadian diare. Abstract Background: Children are highly vulnerable to diseases due to their immature immune systems, which continue to develop as they age. According to data from the World Health Organization (WHO), diarrhea is the second highest cause of death among children under 5 years old, with 370,000 deaths recorded in 2019. Objective: To determine the relationship between parental education level, economic status, and environmental sanitation with the occurrence of diarrhea in children aged 0-60 months in the Gunungsari district of West Lombok Regency. Method: This research was conducted in the Gunungsari district of West Lombok Regency on November 11-12, 2023, using purposive sampling technique. The data were analyzed using univariate and bivariate analyses. Results: The research data revealed that 24 (30%) respondents did not experience diarrhea, while 56 (70%) respondents experienced diarrhea. Bivariate analysis showed no significant relationship between parental education level (p-value = 1.195), economic status (p-value = 0.256), provision of clean water (p-value = 0.254), family toilets (p-value = 0.147), and liquid waste management (p-value = 0.336) with the occurrence of diarrhea in children aged 0-60 months in the Gunungsari district of West Lombok Regency. Conclusion: There is no significant relationship between parental education level, economic status, provision of clean water, family toilets, and liquid waste management with the occurrence of diarrhea in children aged 0-60 months in the Gunungsari district of West Lombok Regency. Based on these research findings, particularly for the government and health institutions, the focus should be on handling and preventing the control of diarrhea risk factors.
Hubungan Adekuasi Hemodialisis terhadap Kualitas Hidup, Kecemasan, dan Status Gizi Pasien Ginjal Kronis di RSUD Provinsi NTB Nur Raihan Ramdhani; Lalu Buly Fatrahady Utama; I Gede Angga Adnyana; Irwan Setiobudi
Malahayati Nursing Journal Vol 8, No 3 (2026): Volume 8 Nomor 3 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v8i3.24632

Abstract

ABSTRACT Chronic kidney disease is a global health problem with a continuously increasing prevalence. In the end stage, patients require long-term hemodialysis therapy, in which hemodialysis adequacy plays an important role in controlling uremic symptoms and influencing patients’ quality of life, anxiety levels, and nutritional status. This study aimed to analyze the relationship between hemodialysis adequacy and quality of life, anxiety, and nutritional status among chronic kidney disease patients undergoing hemodialysis at the Provincial General Hospital of West Nusa Tenggara in 2025.This study employed a quantitative method with an observational analytic design. The sampling technique used was purposive sampling, involving 90 chronic kidney disease patients undergoing hemodialysis. Data were analyzed using the Chi-square test with a significance level of p-value 0.05.The results showed that the majority of patients had adequate hemodialysis adequacy, totaling 72 respondents (60.0%), good quality of life in 68 respondents (56.7%), mild anxiety levels in 70 respondents (58.3%), and normal nutritional status in 65 respondents (54.2%). The Chi-square test indicated a significant relationship between hemodialysis adequacy and quality of life (p-value = 0.003), anxiety level (p-value = 0.001), and nutritional status (p-value = 0.004).In conclusion, hemodialysis adequacy is significantly associated with quality of life, anxiety levels, and nutritional status among chronic kidney disease patients at the Provincial General Hospital of West Nusa Tenggara in 2025. Keywords: Quality of Life, Chronic Kidney Disease, Gender, Self-Efficacy, Therapy Adherence.  ABSTRAK Penyakit ginjal kronis merupakan masalah kesehatan global dengan prevalensi yang terus meningkat. Pada stadium akhir, pasien memerlukan terapi hemodialisis jangka panjang, di mana adekuasi hemodialisis berperan penting dalam mengendalikan gejala uremia serta memengaruhi kualitas hidup, tingkat kecemasan, dan status gizi pasien. Tujuan penelitian adalah menganalisis hubungan adekuasi hemodialisis terhadap kualitas hidup, kecemasan, dan status gizi pasien ginjal kronis yang menjalani hemodialisis di RSUD Provinsi Nusa Tenggara Barat tahun 2025.Metode penelitianinikuantitatif dengan desain analitik observasional. Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan purposive sampling dengan jumlah sampel sebanyak 90 pasien ginjal kronis yang menjalani hemodialisis. Data dianalisis menggunakan uji Chi-square dengan batas nilai signifikansi p-value 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar pasien memiliki adekuasi hemodialisis yang adekuat sebanyak 72 responden (60,0%), kualitas hidup baik sebanyak 68 responden (56,7%), tingkat kecemasan ringan sebanyak 70 responden (58,3%), serta status gizi normal sebanyak 65 responden (54,2%). Uji Chi-square menunjukkan adanya hubungan signifikan antara adekuasi hemodialisis dengan kualitas hidup (p-value = 0,003), tingkat kecemasan (p-value = 0,001), dan status gizi (p-value = 0,004). Kesimpulan penelitian ini adalah adekuasi hemodialisis berhubungan signifikan dengan kualitas hidup, tingkat kecemasan, dan status gizi pasien ginjal kronis di RSUD Provinsi NTB tahun 2025. Kata Kunci: Adekuasi Hemodialisis, Penyakit Ginjal Kronik, Kualitas Hidup, Kecemasan, Status Gizi.
Uji Efektivitas Antibakteri Ekstrak Daun Pisang Mas (Musa Acuminata Colla) terhadap Pertumbuhan Staphylococcus Aureus dan Escherichia Coli Eka Anjelita Leony; I Gede Angga Adnyana; Sabariah Sabariah; Resna Hermawati
Malahayati Nursing Journal Vol 8, No 2 (2026): Volume 8 Nomor 2 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v8i2.24250

Abstract

ABSTRACT Staphylococcus aureus and Escherichia coli are pathogenic bacteria that cause common infectious diseases in humans. Recently, there has been an increase in antibacterial resistance due to inappropriate use. One way to overcome this problem is to look for alternative medicines derived from natural materials, such as the leaves of Musa acuminata colla, which are thought to have antibacterial compounds. This study is a true experimental study with a fully randomized design. The number of experimental units was 24 for one bacteria divided into 6 groups, namely 25%, 50%, 75%, 100% concentration, positive control ciprofloxacin, and negative control distilled water. The results concentrations of 25%, 50%, 75% Musa acuminata colla leaf extract could not inhibit the growth of Staphylococcus aureus. However, at 100% concentration, there is an inhibition zone with an average diameter of 10.62 mm. The results of data analysis using the unpaired T test showed a statistically significant difference between the 100% concentration and the positive control (mean: 33 mm) with a p-value 0.001. Meanwhile, in Escherichia coli there was no zone of inhibition at all test concentrations. The conclusions is Musa acuminata colla leaf extract caused an inhibition zone at 100% concentration, but the antibacterial efficacy needs to be optimized, while for Escherichia coli it had no effect on bacterial growth.  Keywords: Musa Acuminata Colla, Staphylococcus Aureus, Escherichia Coli.  ABSTRAK Staphylococcus aureus dan Escherichia coli merupakan bakteri patogen penyebab penyakit infeksi yang umum pada manusia. Belakangan ini terjadi peningkatan resistensi antibakteri akibat penggunaan yang tidak tepat. Salah satu cara untuk mengatasi masalah tersebut dengan mencari obat alternatif yang bersumber dari bahan alam contohnya adalah daun Musa acuminata colla yang diduga memiliki senyawa antibakteri. Penelitian ini merupakan true experimental dengan rancangan acak lengkap. Jumlah unit percobaan sebanyak 24 untuk satu bakteri yang dibagi menjadi 6 kelompok yaitu konsentrasi 25%, 50%, 75%, 100%, kontrol positif ciprofloxacin, dan kontrol negatif aquades. Ekstrak daun Musa acuminata colla pada konsentrasi 25%, 50%, 75% tidak menimbulkan zona hambat terhadap Staphylococcus aureus. Namun pada konsentrasi 100%, terdapat zona hambat dengan diameter rerata 10,62 mm. Sedangkan, pada Escherichia coli tidak terdapat zona hambat pada semua konsentrasi uji. Kesimpulannya Ekstrak daun Musa acuminata colla menimbulkan zona hambat pada konsentasi 100%, namun efektivitas antibakteri perlu dioptimasi, sedangkan untuk Escherichia coli tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan bakteri. Kata Kunci: Musa Acuminata Colla, Staphylococcus Aureus, Escherichia Coli.
Hubungan Antara Kadar Hemoglobin, Indeks Massa Tubuh (IMT), Kepatuhan Antenatal Care (ANC) dengan Kejadian Preeklamsia di RSUD Bima Nadhirah Az-Zahra; Adib Ahmad Sammakh; I Gede Angga Adnyana; Novianti Anggie Lestari
Malahayati Nursing Journal Vol 8, No 4 (2026): Volume 8 Nomor 4 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v8i4.24828

Abstract

ABSTRACT Preeclampsia is one of the complications of pregnancy characterized by the onset of hypertension after 20 weeks of gestation and may be accompanied by multiorgan involvement. This study aimed to determine the association between hemoglobin levels, Body Mass Index (BMI), and antenatal care (ANC) compliance with the incidence of preeclampsia at RSUD Bima. This study employed an analytic observational design with a case–control approach. A total of 90 respondents were included, consisting of 45 cases (preeclampsia) and 45 controls (non-preeclampsia), selected using purposive sampling based on inclusion and exclusion criteria. Data were obtained from medical records and analyzed using the Chi-square test with a significance level of 5%. The results showed a statistically significant association between hemoglobin levels and the incidence of preeclampsia (p-value = 0,001). Body Mass Index (BMI) was also significantly associated with preeclampsia (p-value = 0,036), with an Odds Ratio (OR) of 3,083 and a 95% Confidence Interval (CI) of 1,170–8,129, indicating that pregnant women with a high-risk BMI had a higher likelihood of developing preeclampsia. In contrast, no statistically significant association was found between ANC compliance and the incidence of preeclampsia (p-value = 0,590). In conclusion, hemoglobin levels and Body Mass Index (BMI) were significantly associated with the incidence of preeclampsia, whereas antenatal care compliance showed no significant association with preeclampsia at RSUD Bima. Keywords: Antenatal Care Adherence, Body Mass Index (BMI), Hemoglobin Level, Preeclampsia.  ABSTRAK Preeklamsia merupakan salah satu komplikasi kehamilan yang ditandai dengan hipertensi setelah usia kehamilan 20 minggu dan dapat disertai keterlibatan multiorgan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kadar hemoglobin, Indeks Massa Tubuh (IMT), dan kepatuhan antenatal care (ANC) dengan kejadian preeklamsia di RSUD Bima. Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan case control. Jumlah sampel sebanyak 90 responden yang terdiri dari 45 kelompok kasus (preeklamsia) dan 45 kelompok kontrol (tidak preeklamsia), dengan teknik pengambilan sampel purposive sampling berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Data diperoleh dari rekam medis dan dianalisis menggunakan uji Chi-square dengan tingkat signifikansi 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan secara statistik antara kadar hemoglobin dengan kejadian preeklamsia (p-value = 0,001). Indeks Massa Tubuh (IMT) juga berhubungan signifikan dengan kejadian preeklamsia (p-value = 0,036) dengan nilai Odds Ratio (OR) sebesar 3,083 dan interval kepercayaan 95% (CI: 1,170-8,129), yang menunjukkan bahwa ibu hamil dengan IMT berisiko memiliki peluang lebih besar mengalami preeklamsia. Sementara itu, kepatuhan antenatal care (ANC) tidak menunjukkan hubungan yang signifikan secara statistik dengan kejadian preeklamsia (p-value = 0,590). Kesimpulan penelitian ini adalah kadar hemoglobin dan IMT berhubungan secara signifikan dengan kejadian preeklamsia, sedangkan kepatuhan ANC tidak berhubungan secara signifikan dengan kejadian preeklamsia di RSUD Bima. Kata Kunci: Indeks Massa Tubuh (IMT), Kadar Hemoglobin, Kepatuhan Antenatal Care (ANC), Preeklamsia.
Hubungan Anemia Kehamilan, Status Ekonomi dan Pola Pemberian Makan dengan Kejadian Stunting pada Anak di Puskesmas Pemenang, Kabupaten Lombok Utara Nayna Aulia Lubis; Lalu Irawan Surasmaji; I Gede Angga Adnyana; Hilda Santosa
Malahayati Nursing Journal Vol 7, No 3 (2025): Volume 7 Nomor 3 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v7i3.18710

Abstract

ABSTRACT Stunting refer to impaired physical and cognitive growth. It is often caused by prolonged malnutrition. This Condition is influenced by several factors, such as history of pregnancy-related anemia, feeding patterns, and economic status. Understanding the relationship between these factors is Important for stunting control and prevention. This study investigates the correlation between history of pregnancy-related anemia, feeding patterns, and economic status with the incidence of stunting at Puskesmas Pemenang in North Lombok Regency. This study was an analytical observational with cross-sectional design approach. A total of 91 participants were selected through non-probability purposive sampling. The Study was conducted at Puskesmas Pemenang, North Lombok Regency, in September 2024. The data obtained were analyzed through the Chi-square test, with a significance threshold established at p0.05. Univariate analysis revealed that 41 (45.1%) children exhibited stunting, 49 (53.8%) mothers had a history of pregnancy-related anemia, 35 (38.5%) respondents demonstrated inappropriate dietary patterns, and 68 (74.7%) respondents were classified as having an economic status below the minimum wage. Bivariate analysis revealed a statistically meaningful correlation between a history of pregnancy-related anemia and stunting, yielding a p-value of 0.002 (PR: 2.33; 95% CI: 1.343-4.070). Additionally, a significant association was found between inappropriate dietary patterns and the incidence of stunting, with a p-value of 0.001 (PR: 3.08; 95% CI: 1.894-5.028). Conversely, no significant association was observed between economic status and the incidence of stunting, with a p-value of 0.165 (PR: 1.64; 95% CI: 0.847-3.185). History of pregnancy-related anemia and inappropriate dietary patterns are strongly linked to the occurrence of stunting in a statistically significant manner. In contrast, economic status does not show a significant statistical association with the incidence of stunting. Keywords: Stunting, Child Nutrition, Maternal and Child Health, Dietary Patterns, Pregnancy-Related Anemia, Economic Status.  ABSTRAK Stunting merupakan suatu kegagalan pertumbuhan pada tubuh dan otak anak. Hal ini muncul sebagai akibat dari kekurangan gizi dalam waktu yang lama. Stunting dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti riwayat anemia kehamilan, pola pemberian makan dan status ekonomi. Mengetahui hubungan berbagai faktor ini penting untuk pencegahan dan pengendalian stunting. Mengetahui hubungan antara riwayat anemia kehamilan, pola pemberian makan dan status ekonomi dengan kejadian stunting pada Puskesmas Pemenang, Kabupaten Lombok Utara. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif-observasional, dengan desain cross-sectional. Penelitian ini menggunakan 91 sampel dengan metode purposive sampling. Penelitian dilakukan di Puskesmas Pemenang, Kabupaten Lombok Utara pada bulan September 2024. Data yang diperoleh dianalisis dengan uji Chi-square dengan nilai signifikansi p0,05. Hasil analisis univariat menunjukkan 41 (45,1%) anak mengalami stunting, 49 (53,8%) ibu memiliki riwayat anemia kehamilan, 35 (38,5%) responden memiliki pola makan tidak tepat dan 68 (74,7%) responden memiliki status ekonomi dibawah UMR. Analisis bivariat pada riwayat anemia kehamilan dan stunting menunjukan hubungan yang signifikan dengan nilai p: 0,002 (PR: 2,33; CI 95%: 1,343-4,070). Hubungan signifikan juga didapatkan antara pola pemberian makan dan stunting dengan nilai p 0,001 (PR: 3,08; CI 95%: 1,894-5,028). Antara status ekonomi dan kejadian stunting tidak menunjukan hubungan yang signifikan, dengan nilai p: 0,165 (PR 1,64; CI 95%: 0,847-3,185). Riwayat anemia pada masa kehamilan dan pola pemberian makan berhubungan signifikan secara statistik dengan kasus stunting. Antara status ekonomi dan kejadian stunting juga tidak menunjukan hubungan yang signifikan. Kata Kunci: Stunting, Gizi Balita, Kesehatan Ibu dan Anak, Pola Makan Balita, Anemia Kehamilan, Status Ekonomi Keluarga
Analysis of Stunting Risk Factors: Contribution of Immunization, Exclusive Breastfeeding, and Duration of Breastfeeding in a Cross-Sectional Study I Gede Angga Adnyana; Nayna Aulia Lubis; Denta Haritsa Apriliana; I Nyoman Bagus Aji Kresnapati; I Putu Bayu Agus Saputra
Jurnal Berkala Kesehatan Vol 11, No 2 (2025): JURNAL BERKALA KESEHATAN 1 (NOVEMBER - APRIL)
Publisher : Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jbk.v11i2.25533

Abstract

Stunting remains a major public health challenge in Indonesia, particularly in West Nusa Tenggara and North Lombok Regency. It is influenced by a combination of biological and environmental factors, with immunization history, exclusive breastfeeding (EBF), and breastfeeding duration being key modifiable determinants. This cross-sectional observational study examined the association between these factors and stunting among children aged 0–59 months. A total of 83 children were included in the analysis, with bivariate analysis conducted using the Chi-square test at a 95% confidence level (α = 0.05). Results showed that most children were male (59%), did not experience stunting (54.2%), received full immunization (67.5%), practiced EBF (83.15%), and were breastfed for less than 2 years (59.4%). No statistically significant association was found between immunization history (p=0.592) or EBF practices (p=0.219) and stunting. However, a significant relationship was identified between shorter breastfeeding duration (less than 2 years) and higher stunting risk (p=0.009, PR=2.62, 95% CI: 1.225–5.593). In conclusion, there was no significant relationship between the history of immunization and the history of exclusive breastfeeding with the incidence of stunting. However, there was a significant relationship between the duration of breastfeeding and the incidence of stunting
Co-Authors Adib Ahmad Sammakh Ahmad Mursyid Aji Kresnapati, I Nyoman Bagus Ana Andriana Ana Andriana Ananta Fittonia Benvenuto Andriana, Ana ANISAH Ardian Ansari Arjita, I Putu Dedy Asary, Teguh Mayadi Ayu Anulus Azmi, Fahriana Dasti Anditiarina David Maulana Abdurraman Qudus Denta Haritsa Apriliana Deny Sutrisna Wiatma Dewi Utari Dzikra, Girang Effendi, Raden Gunawan Eka Anjelita Leony Hady Anshory Hardinata Herlinawati Herlinawati Herlinawati Hilda Santosa I Nyoman Bagus Aji Kresnapati I Putu Bayu Agus Saputra I Putu Bayu Agus Saputra I Putu Deddy Arjita I Putu Ryan Aryadana Icha Aisyah Icha Aisyah Irwan Setiobudi Kadek Dwi Pramana Khairunnisai T. Kresnapati, I Nyoman Bagus Aji Laksmi Nur Fajrini Lalu Afrial Imam Anugrah Lalu Afrial Imam Anugrah Lalu Buly Fatrahady Utama Lalu Irawan Surasmaji Luktiana, Metha Made Rika Anastasia Pratiwi Maruni Wiwin Diarti Maruni Wiwin Diarti Maruni Wiwin Diarti Maruni Wiwin Diarti Maya Samodra, Velia Merta, Putu Demas Ardina Metha Luktiana Muhamad Sasiar Tajiwalar Musyarrafah, Musyarrafah Nadhirah Az-Zahra Nayna Aulia Lubis Ni Made Wiasty Sukanty Ni Made Wiasty Sukanty Novianti Anggie Lestari Nur Raihan Ramdhani Nyoman Cahyadi Tri Setiawan Nyoman Cahyadi Tri Setiawan Putu Demas Ardina Merta Resna Hermawati Rozikin Rozikin Rozikin, Rozikin Rusmiatik Rusmiatik Sabariah Sabariah Siti Safira Khairunnisa Sofyana, Nova Rindani Susanti, Mahida Rina Syuhada, Irwan Velia Maya Samodra Wanadiatri, Halia Yunan Jiwintarum Yunan Jiwintarum Yunan Jiwintarum