Claim Missing Document
Check
Articles

Found 27 Documents
Search

Formulasi dan Uji Efektivitas Sampo Ekstrak Daun Sirih Hijau (Piper Betle L.) Terhadap Mortalitas Kutu Kepala Manusia (Pediculus Humanus Capitis) Susanti, Mahida Rina; Musyarrafah, Musyarrafah; Andriana, Ana; Adnyana, I Gede Angga
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 4, No 6 (2024): Volume 4 Nomor 6 (2024)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v4i6.14543

Abstract

ABSTRACT Head lice (Pediculosis capitis) is a skin and head hair health problem caused by Pediculus humanus capitis. Pediculosis capitis is a common health problem that often occurs. Pediculus humanus capitis, also known as head lice, is an ectoparasite that lives on the human scalp. Pediculosis can cause skin irritation, allergic reactions, and bacterial infections due to excessive scratching and sleep disturbances. To determine the effectiveness of green betel leaf extract (Piper betle L.) shampoo formulation against mortalitis of human head lice (Pediculus humanus capitis). This study used a true experimental method with Post Test Only Controlled Group Design, and Completely Randomized Design (CRD) with 6 treatment groups consisting of positive control with premethin 1%, negative control with distilled water, green betel leaf extract shampoo (Piper betle L.) with concentrations of 15%, 20%, 25% and 30%. the results of the Kruskal-Wallis non-parametric test obtained 0.008 value (sig <0.05) which means that green betel leaf extract shampoo (Piper betle L.) has a mortality effect on head lice (Pediculus humanus capitis). Green Betel Leaf (Piper betle L.) extract shampoo formulation is effective against mortality of Human Head Lice (Pediculus humanus capitis) and the most effective shampoo concentration is found in 30% concentration shampoo with 100% mortality rate and takes 5 minutes to kill head lice. Keywords: Green Betel Leaf Extract Shampoo (Piper Betle L.), Mortality, Human Head Lice (Pediculus Humanus Capitis).  ABSTRAK Kutu kepala (Pediculosis capitis) merupakan masalah kesehatan pada kulit dan rambut kepala yang disebabkan oleh Pediculus humanus capitis. Pediculosis capitis merupakan masalah kesehatan umum yang sering terjadi. Pediculus humanus capitis atau sering dikenal dengan kutu kepala merupakan ektoparasit yang hidup pada kulit kepala manusia. Pediculosis dapat menyebabkan iritasi kulit, reaksi alergi, dan infeksi bakteri karena garukan berlebihan serta gangguan tidur. Mengetahui efektivitas formulasi sampo ekstrak daun sirih hijau (Piper betle L.) terhadap mortalitis kutu kepala manusia (Pediculus humanus capitis). Penelitian ini menggunakan metode eksperimen sejati (true eksperimental) dengan rancangan Post Test Only Controlled Group Design, dan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 6 kelompok perlakuan yang terdiri atas kontrol positif dengan premethin 1%, kontrol negatif dengan aquadest, sampo ekstrak daun sirih hijau (Piper betle L.) dengan konsentrasi 15%, 20%, 25% dan 30%. Hasil uji non parametrik Kruskal-Wallis diperoleh hasil 0,008 nilai (sig<0,05) yang artinya artinya sampo ekstrak daun sirih hijau (Piper betle L.)  memiliki efek mortalitas pada kutu kepala (Pediculus humanus capitis). Formulasi sampo ekstrak Daun Sirih Hijau (Piper betle L.) efektif terhadap mortalitas Kutu Kepala Manusia (Pediculus humanus capitis) dan konsentrasi sampo yang paling efektif terdapat pada sampo konsentrasi 30% dengan tingkat mortalitas 100% dan membutuhkan waktu 5 menit untuk membunuh kutu kepala. Kata Kunci: Sampo Ekstrak Daun Sirih Hijau (Piper Betle L.), Mortalitas, Kutu Kepala Manusia (Pediculus Humanus Capitis).
The Correlation Between Smoking Behavior and The Use of “Used Cooking Oil” with Hypertension Incidences at Malimbu Coastal Area Adnyana, I Gede Angga; Kresnapati, I Nyoman Bagus Aji; Saputra, I Putu Bayu Agus; Diarti, Maruni Wiwin; Jiwintarum, Yunan
Jurnal Keperawatan Terpadu (Integrated Nursing Journal) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Keperawatan, Poltekkes Kemenkes Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32807/jkt.v5i2.518

Abstract

Hypertension is the main risk factor that leads to cardiovascular disease such as heart attack, heart failure and stroke, which is the highest cause of death in the world. One area with high risk of hypertension is the coastal area. The famous coastal area in the Lombok is Malimbu, located in North Lombok, West Nusa Tenggara Province. This research is an analytical observational study with a cross sectional design. This study aims to determine the correlation between smoking behavior and use of “used cooking oil” and the incidence of hypertension. Samples in this study were 70 people (n=70), and was taken using accidental sampling technique. Data were analyzed using chi-square. The results showed that the incidence of hypertension was 48% of the 70 respondents. Most of the respondents (70%), had no history of hypertension in their family. This research shows that there is no correlation between smoking behavior and the incidence of hypertension (p=0.807) with PR=1.156 (0.354 - 3.797). The use of “used cooking oil” was also found to be not correlated with the incidence of hypertension (p=0.632) with PR=1.275 (0.486 - 3.345). Although several previous studies showed that the smoking behavior and the use of used cooking oil correlate to hypertension, but this study result shows different data. This can be caused by other factors. Future research needs to examine the characteristics of smokers that may be related to the incidence of hypertension
Aktivitas Fisik Sebagai Faktor Risiko Hipertensi Pada Masyarakat Desa Batu Layar, Kabupaten Lombok Barat: Physical Activity as a Risk Factor for Hypertension among the Community of Batu Layar Village, West Lombok Regency Saputra, I Putu Bayu Agus; Ni Made Wiasty Sukanty; Anisah; Laksmi Nur Fajrini; I Gede Angga Adnyana
Jurnal Kolaboratif Sains Vol. 8 No. 12: Desember 2025
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/jks.v8i12.9028

Abstract

Hipertensi merupakan kondisi peningkatan tekanan darah sistolik lebih dari 140 mmHg dan tekanan darah diastolik lebih dari 90 mmHg pada dua kali pengukuran dengan selang waktu lima menit dalam keadaan istirahat. Tujuan dari kegiatan ini untuk mengidentifikasi masalah kesehatan, menentukan prioritas masalah, merencanakan intervensi pemecahan masalah khususnya terkait masyarakat desa Batu Layar, Kabupaten Lombok Barat. Metode yang digunakan untuk menentukan prioritas masalah dari komunitas masyarakat desa Batu Layar yakni menggunakan metode delphi, prioritas masalah yang didapatkan pada komunitas masyarakat desa Batu Layar yaitu Hipertensi. Hasil penelitian dengan jumlah sampel 136 orang. Hasil dari penelitian ini didapatkan 61 orang. dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan (p<0,05) antara tingkat aktivitas fisik dengan kejadian hipertensi. Analisis data statistik menunjukkan bahwa individu dengan aktivitas fisik rendah memiliki risiko lebih tinggi mengalami peningkatan tekanan darah dibandingkan dengan individu yang melakukan aktivitas fisik sedang hingga tinggi
HUBUNGAN STRES, AKTIVITAS FISIK, DAN PERILAKU MAKAN DENGAN STATUS GIZI SISWA SMAN 4 PRAYA LOMBOK TENGAH Ahmad Mursyid; Dewi Utari; I Gede Angga Adnyana; Dasti Anditiarina
Indonesian Journal of Health Research Innovation Vol. 3 No. 1 (2026): Indonesian Journal of Health Research Innovation
Publisher : Yayasan Menawan Cerdas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64094/68v5we42

Abstract

Remaja menghadapi masalah gizi ganda, yaitu gizi kurang dan gizi lebih, yang dapat dipengaruhi oleh faktor psikososial dan perilaku. Stres, aktivitas fisik, dan perilaku makan merupakan determinan penting status gizi pada usia sekolah.Tujuan penelitian untuk menganalisis hubungan tingkat stres, aktivitas fisik, dan perilaku makan dengan status gizi siswa kelas XII SMAN 4 Praya, Lombok Tengah. Penelitian kuantitatif analitik dengan desain cross-sectional pada Januari 2024 di SMAN 4 Praya. Sampel berjumlah 90 siswa dipilih menggunakan purposive sampling dari populasi siswa kelas XII. Data dikumpulkan melalui kuesioner untuk mengukur tingkat stres, aktivitas fisik, dan perilaku makan, serta pengukuran antropometri untuk menentukan status gizi. Analisis bivariat dilakukan menggunakan uji korelasi Gamma untuk variabel ordinal dan uji Mann–Whitney sesuai karakteristik data dengan tingkat signifikansi 0,05. Sebagian besar responden memiliki status gizi normal (56,7%), tingkat stres sedang (67,8%), perilaku makan baik (54,4%), dan aktivitas fisik sedang (64,4%). Terdapat hubungan bermakna antara tingkat stres dan status gizi (p<0,001). Tidak terdapat hubungan bermakna antara perilaku makan dan status gizi (p=0,391) maupun antara aktivitas fisik dan status gizi (p=0,910). Tingkat stres berhubungan signifikan dengan status gizi siswa kelas XII SMAN 4 Praya. Perilaku makan dan aktivitas fisik tidak menunjukkan hubungan yang signifikan dengan status gizi pada penelitian ini. Penelitian lanjutan perlu mempertimbangkan faktor perancu seperti kualitas tidur, asupan energi, pengetahuan gizi, dan kondisi medis, serta menggunakan instrumen aktivitas fisik yang lebih objektif.
Hubungan Antara Tingkat Pendidikan Orang Tua, Status Ekonomi, dan Sanitasi Lingkungan dengan Kejadian Diare pada Balita di Gunungsari Kabupaten Lombok Barat Dzikra, Girang; Angga Adnyana, I Gede; Maya Samodra, Velia; Azmi, Fahriana
Midwifery Student Journal (MS Jou) Vol. 4 No. 1 (2025): Midwifery Student Journal (MS Jou)
Publisher : Poltekkes Kemenkes Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32807/msjou.v4i1.68

Abstract

Latar Belakang : Anak-anak sangatlah rentan untuk terkena penyakit, hal ini dikarenakan imunitas pada anak masih bersifat imatur dan akan terus berkembang seiring pertambahan usia. Berdasarkan data World Health Organization (WHO) diare merupakan penyakit kedua tertinggi penyebab kematian pada anak usia dibawah 5 tahun dengan kasus kematian mencapai 370.000 anak pada tahun 2019. Tujuan : Mengetahui hubungan tingkat Pendidikan orang tua, status ekonomi, dan sanitasi lingkungan dengan kejadian diare pada balita usia 0-60 bulan di wilayah Gunungsari Kabupaten Lombok Barat. Metode : Penelitian ini dilakukan di wilayah Gunungsari Kabupaten Lombok Barat dengan teknik pengambilan sampel yaitu purposive sampling. Data penelitian kemudian dianalisis secara univariat dan bivariat. Hasil : Data penelitian didapatkan bahwa sebanyak 24 (30%) responden tidak mengalami kejadian diare, sedangkan sebanyak 56 (70%) responden  mengalami kejadian diare. Hasil analisis bivariat menunjukkan tidak terdapat hubungan antara tingkat pendidikan orang tua (p-value = 1,195), status ekonomi (p-value = 0,256), penyediaan air bersih (p-value = 0,254), jamban keluarga (p-value = 0,147), dan pengelolaan limbah cair (p-value = 0,336) terhadap kejadian diare pada balita usia 0-60 bulan di wilayah Gunungsari Kabupaten Lombok Barat. Kesimpulan : Tidak terdapat hubungan antara tingkat pendidikan orang tua, status ekonomi, penyediaan air bersih, jamban keluarga, dan pengelolaan limbah cair terhadap kejadian diare pada balita usia 0-60 bulan di wilayah Gunungsari Kabupaten Lombok Barat. Berdasarkan hasil penelitian ini, khususnya untuk Pemerintah dan instansi Kesehatan harus berfokus terkait penanganan dan pencegahan pengendalian faktor risiko kejadian diare. Abstract Background: Children are highly vulnerable to diseases due to their immature immune systems, which continue to develop as they age. According to data from the World Health Organization (WHO), diarrhea is the second highest cause of death among children under 5 years old, with 370,000 deaths recorded in 2019. Objective: To determine the relationship between parental education level, economic status, and environmental sanitation with the occurrence of diarrhea in children aged 0-60 months in the Gunungsari district of West Lombok Regency. Method: This research was conducted in the Gunungsari district of West Lombok Regency on November 11-12, 2023, using purposive sampling technique. The data were analyzed using univariate and bivariate analyses. Results: The research data revealed that 24 (30%) respondents did not experience diarrhea, while 56 (70%) respondents experienced diarrhea. Bivariate analysis showed no significant relationship between parental education level (p-value = 1.195), economic status (p-value = 0.256), provision of clean water (p-value = 0.254), family toilets (p-value = 0.147), and liquid waste management (p-value = 0.336) with the occurrence of diarrhea in children aged 0-60 months in the Gunungsari district of West Lombok Regency. Conclusion: There is no significant relationship between parental education level, economic status, provision of clean water, family toilets, and liquid waste management with the occurrence of diarrhea in children aged 0-60 months in the Gunungsari district of West Lombok Regency. Based on these research findings, particularly for the government and health institutions, the focus should be on handling and preventing the control of diarrhea risk factors.
Uji Efektivitas Antibakteri Ekstrak Daun Pisang Mas (Musa Acuminata Colla) terhadap Pertumbuhan Staphylococcus Aureus dan Escherichia Coli Leony, Eka Anjelita; Adnyana, I Gede Angga; Sabariah, Sabariah; Hermawati, Resna
Malahayati Nursing Journal Vol 8, No 2 (2026): Volume 8 Nomor 2 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v8i2.24250

Abstract

ABSTRACT Staphylococcus aureus and Escherichia coli are pathogenic bacteria that cause common infectious diseases in humans. Recently, there has been an increase in antibacterial resistance due to inappropriate use. One way to overcome this problem is to look for alternative medicines derived from natural materials, such as the leaves of Musa acuminata colla, which are thought to have antibacterial compounds. This study is a true experimental study with a fully randomized design. The number of experimental units was 24 for one bacteria divided into 6 groups, namely 25%, 50%, 75%, 100% concentration, positive control ciprofloxacin, and negative control distilled water. The results concentrations of 25%, 50%, 75% Musa acuminata colla leaf extract could not inhibit the growth of Staphylococcus aureus. However, at 100% concentration, there is an inhibition zone with an average diameter of 10.62 mm. The results of data analysis using the unpaired T test showed a statistically significant difference between the 100% concentration and the positive control (mean: 33 mm) with a p-value 0.001. Meanwhile, in Escherichia coli there was no zone of inhibition at all test concentrations. The conclusions is Musa acuminata colla leaf extract caused an inhibition zone at 100% concentration, but the antibacterial efficacy needs to be optimized, while for Escherichia coli it had no effect on bacterial growth.  Keywords: Musa Acuminata Colla, Staphylococcus Aureus, Escherichia Coli.  ABSTRAK Staphylococcus aureus dan Escherichia coli merupakan bakteri patogen penyebab penyakit infeksi yang umum pada manusia. Belakangan ini terjadi peningkatan resistensi antibakteri akibat penggunaan yang tidak tepat. Salah satu cara untuk mengatasi masalah tersebut dengan mencari obat alternatif yang bersumber dari bahan alam contohnya adalah daun Musa acuminata colla yang diduga memiliki senyawa antibakteri. Penelitian ini merupakan true experimental dengan rancangan acak lengkap. Jumlah unit percobaan sebanyak 24 untuk satu bakteri yang dibagi menjadi 6 kelompok yaitu konsentrasi 25%, 50%, 75%, 100%, kontrol positif ciprofloxacin, dan kontrol negatif aquades. Ekstrak daun Musa acuminata colla pada konsentrasi 25%, 50%, 75% tidak menimbulkan zona hambat terhadap Staphylococcus aureus. Namun pada konsentrasi 100%, terdapat zona hambat dengan diameter rerata 10,62 mm. Sedangkan, pada Escherichia coli tidak terdapat zona hambat pada semua konsentrasi uji. Kesimpulannya Ekstrak daun Musa acuminata colla menimbulkan zona hambat pada konsentasi 100%, namun efektivitas antibakteri perlu dioptimasi, sedangkan untuk Escherichia coli tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan bakteri. Kata Kunci: Musa Acuminata Colla, Staphylococcus Aureus, Escherichia Coli.
Hubungan Adekuasi Hemodialisis terhadap Kualitas Hidup, Kecemasan, dan Status Gizi Pasien Ginjal Kronis di RSUD Provinsi NTB Ramdhani, Nur Raihan; Utama, Lalu Buly Fatrahady; Adnyana, I Gede Angga; Setiobudi, Irwan
Malahayati Nursing Journal Vol 8, No 3 (2026): Volume 8 Nomor 3 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v8i3.24632

Abstract

ABSTRACT Chronic kidney disease is a global health problem with a continuously increasing prevalence. In the end stage, patients require long-term hemodialysis therapy, in which hemodialysis adequacy plays an important role in controlling uremic symptoms and influencing patients’ quality of life, anxiety levels, and nutritional status. This study aimed to analyze the relationship between hemodialysis adequacy and quality of life, anxiety, and nutritional status among chronic kidney disease patients undergoing hemodialysis at the Provincial General Hospital of West Nusa Tenggara in 2025.This study employed a quantitative method with an observational analytic design. The sampling technique used was purposive sampling, involving 90 chronic kidney disease patients undergoing hemodialysis. Data were analyzed using the Chi-square test with a significance level of p-value 0.05.The results showed that the majority of patients had adequate hemodialysis adequacy, totaling 72 respondents (60.0%), good quality of life in 68 respondents (56.7%), mild anxiety levels in 70 respondents (58.3%), and normal nutritional status in 65 respondents (54.2%). The Chi-square test indicated a significant relationship between hemodialysis adequacy and quality of life (p-value = 0.003), anxiety level (p-value = 0.001), and nutritional status (p-value = 0.004).In conclusion, hemodialysis adequacy is significantly associated with quality of life, anxiety levels, and nutritional status among chronic kidney disease patients at the Provincial General Hospital of West Nusa Tenggara in 2025. Keywords: Quality of Life, Chronic Kidney Disease, Gender, Self-Efficacy, Therapy Adherence.  ABSTRAK Penyakit ginjal kronis merupakan masalah kesehatan global dengan prevalensi yang terus meningkat. Pada stadium akhir, pasien memerlukan terapi hemodialisis jangka panjang, di mana adekuasi hemodialisis berperan penting dalam mengendalikan gejala uremia serta memengaruhi kualitas hidup, tingkat kecemasan, dan status gizi pasien. Tujuan penelitian adalah menganalisis hubungan adekuasi hemodialisis terhadap kualitas hidup, kecemasan, dan status gizi pasien ginjal kronis yang menjalani hemodialisis di RSUD Provinsi Nusa Tenggara Barat tahun 2025.Metode penelitianinikuantitatif dengan desain analitik observasional. Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan purposive sampling dengan jumlah sampel sebanyak 90 pasien ginjal kronis yang menjalani hemodialisis. Data dianalisis menggunakan uji Chi-square dengan batas nilai signifikansi p-value 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar pasien memiliki adekuasi hemodialisis yang adekuat sebanyak 72 responden (60,0%), kualitas hidup baik sebanyak 68 responden (56,7%), tingkat kecemasan ringan sebanyak 70 responden (58,3%), serta status gizi normal sebanyak 65 responden (54,2%). Uji Chi-square menunjukkan adanya hubungan signifikan antara adekuasi hemodialisis dengan kualitas hidup (p-value = 0,003), tingkat kecemasan (p-value = 0,001), dan status gizi (p-value = 0,004). Kesimpulan penelitian ini adalah adekuasi hemodialisis berhubungan signifikan dengan kualitas hidup, tingkat kecemasan, dan status gizi pasien ginjal kronis di RSUD Provinsi NTB tahun 2025. Kata Kunci: Adekuasi Hemodialisis, Penyakit Ginjal Kronik, Kualitas Hidup, Kecemasan, Status Gizi.