Claim Missing Document
Check
Articles

Found 32 Documents
Search

EFEKTIFITAS “PEWARISAN PERIBAHASA” MELALUI PENDIDIKAN MASYARAKAT SEBAGAI MEDIA PEMBENTUK KARAKTER BANGSA INDONESIA DI ERA GLOBAL Nani Sunarni
FKIP e-PROCEEDING 2017: SEMINAR NASIONAL #3: BAHASA DAN SASTRA INDONESIA DALAM KONTEKS GLOBAL
Publisher : Pendidikan Fisika FKIP UNEJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Peribahasa merupakan kearifan lokal yang berupa produk lama dan terus hidup sampai zaman modern bahkan bisa sampai masa mendatang apabila terus diwariskan dari generasi ke generasi. Sistem pewarisan tidak hanya dapat disampaikan melalui pendidikan formal saja, namun dapat pula diwariskan melalui pendidikan di masyarakat secara nonformal. Penggunaan peribahasa dalam komunikasi sehari-hari baik lisan maupun tulisan dapat dianggap lebih efektif daripada hanya disampaikan secara formal tanpa membudayakannya dalam komunikasi sehari-hari. Peribahasa dalam bahasa Indonesia sangat bervariasi dan salah satu diantaranya yaitu peribahasa yang terkait dengan “etika berkehidupan”. Contoh “di mana bumi di pijak, di situ langit dijunjung”. Peribahasa tersebut bermakna agar bangsa Indonesia dapat hidup menyesuaikan diri di mana mereka berada”mengingat  bangsa Indonesia yang sangat beraneka ragam baik suku, agama,  maupun budaya. agar saling menghormati dan dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitarnya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode deskriptrif. Data yang digunakan yaitu peribahasa bahasa Indonesia yang terkait dengan etika. Sebagai landasan analisis data digunakan teori tentang pembelajaran bahasa menurut pandangan Michiya (1983). Hasil penelitian ini, teridentifikasi bahwa penggunaan peribahasa dalam komunikasi di masyarakat sangat efektif sebagai pewarisan budaya. Penelitian ini bermanfaat untuk dijadikan model aplikasi pewarisan budaya melalui peribahasa sebagai dasar pandangan hidup masyarakat Indonersia di era global. Kata Kunci: era global, bangsa Indonesia, peribahasa, pendidikan masyarakat
KOMPARASI KEARIFAN LOKAL SUNDA DAN JEPANG: PEMBENTUK KARAKTER ANAK Nani Sunarni
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 6, No 1 (2017): Jurnal Jentera
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (473.37 KB) | DOI: 10.26499/jentera.v6i1.327

Abstract

In the current era of globalization, cultures blend and dominate each other, making children confuse about their identity. Indonesia, as a multiracial and multicultural nation, is very rich in local wisdoms, and this wealth can be applied to build the character of children and fortify themselves from the negative influence of global or foreign cultures. Japan is a nation that lives based on culture and use local wisdoms as a foundation of life and learning materials that are directly implemented in everyday life. The same thing can be seen in the Sundanese society. Today many children do not recognize their own local wisdoms. This, according to the researchers, is due to the vacuum of local wisdom values in the curriculum and learning process. Therefore, various researchs on local wisdoms learning need to be done, include the learning program through oral tradition such as pupuh and folktale, and also traditional game. The method used in this research is descriptive qualitative method. The data used is the local wisdoms learning in Sundanese culture, which is the learning schedule related to local wisdoms that is limited to character building, and data related to local wisdoms in education in Japan, which is the schedule of "moral" learning activity. Data are analyzed based on Ratna's view (2015). Based on the results of the research, it is identified that the understanding of the values of local wisdoms can create a nation of character. The results of this study are theoretically useful to add references, especially on local wisdoms learning, and can be practically used as a learning model.  ABSTRAKDi era globalisasi seperti sekarang ini, budaya membaur dan saling mendominasi sehingga membuat anak bingung akan jati dirinya. Indonesia, sebagai negara majemuk yang multiras dan multikultural, sangat kaya dengan kearifan-kearifan lokal, dan kekayaan ini bisa diaplikasikan untuk membentuk karakter anak dan membentengi diri mereka dari pengaruh negatif budaya global atau asing. Jepang merupakan bangsa yang hidup dengan berbasis budaya dan menjadikan kearifan lokal sebagai landasan hidup serta materi pembelajaran yang langsung diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Hal serupa juga terlihat dalam masyarakat Sunda. Saat ini banyak anak-anak yang tidak mengenali kearifan lokalnya. Hal ini, menurut peneliti, disebabkan adanya kekosongan nilai-nilai kearifan lokal dalam kurikulum dan pembelajaran. Untuk itu, berbagai penelitian tentang pembelajaran kearifan lokal perlu dilakukan, termasuk pembelajaran melalui tradisi sastra lisan seperti pupuh dan dongeng, serta permainan tradisional. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif. Data yang digunakan adalah pembelajaran kearifan lokal dalam budaya Sunda, yaitu jadwal pembelajaran terkait kearifan lokal yang dibatasi pada pembentukan karakter, dan data terkait kearifan lokal dalam pendidikan di Jepang, yaitu berupa jadwal kegiatan pembelajaran “moral”. Data dianalisis berdasarkan pandangan Ratna (2015). Berdasarkan hasil penelitian teridentifikasi bahwa pemahaman terhadap nilai-nilai kearifan lokal dapat menciptakan bangsa yang berkarakter. Hasil penelitian ini secara teoretis bermanfaat untuk menambah referensi, khususnya tentang pembelajaran kearifan lokal, dan secara praktis dapat dijadikan model pembelajaran. 
PROSES VERBALISASI PADA SYAIR KARYA SYIHABUDDIN DAN AL-BUNI DALAM KITAB SYAMSUL MA’ARIF (KAJIAN MORFOLOGI) Zamzam Mugni Alawi; Agus Nero Sofyan; Nani Sunarni; Ypsi Seoria Soemantri
Hijai - Journal on Arabic Language and Literature Vol 4, No 1 (2021)
Publisher : Bahasa dan Sastra Arab, Fakultas Adab dan Humaniora, UIN Sunan Gunung Djati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/hijai.v4i1.13044

Abstract

ABSTRAKSyair merupakan bagian dari karya sastra di dalamnya terdapat berbagai macam proses pembentukan verba salah satunya yaitu seperti yang terdapat pada syair karya Syihabuddin Ahmad Musa Al-‘Ajali dan syair karya Imam Al-Buni yang terdapat dalam Kitab Syamsul Ma’arif. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mendeskripsikan terjadinya proses verbalisasi pada syair karya Syihabuddin Ahmad Musa Al-‘Ajali dan syair karya Imam Al-Buni yang terdapat dalam Kitab Syamsul Ma’arif. Jenis penelitian ini yaitu penelitian kepustakaan (Library Research). Adapun dalam penelitian ini menggunakan metode deskriptif analitik, yaitu dengan menelaah dan mengkaji sumber data pada syair karya Syihabuddin Ahmad Musa Al-‘Ajali dan syair karya Imam Al-Buni yang terdapat dalam Kitab Syamsul Ma’arif. Teori pendekatan yang digunakan pada penelitian ini yaitu pendekatan morfologi atau taṣrīf bahasa Arab menurut Ahmad Al-Hamalawi. (1953). Jumlah bayt pada syair karya Syihabuddin Ahmad Musa Al-‘Ajali terdiri dari 13 bayt dan syair karya Imam Al-Buni terdiri dari 12 bayt. Dengan demikian seluruhnya berjumlah 25 bayt yang terdapat dalam Kitab Syamsul Ma’arif. Dapat disimpulkan yaitu bahwa proses verbalisasi pada syair karya Syihabuddin Ahmad Musa Al-‘Ajali dan syair karya Imam Al-Buni yang terdapat dalam Kitab Syamsul Ma’arif di antaranya meliputi: prefiks (al-sawabiq) berjumlah sebanyak 16 data, sufiks (al-lawahiq) berjumlah sebanyak 6 data, dan konfiks (al-muzdawijah) berjumlah sebanyak 2 data.
Fungsi Pragmatik Permainan Kata pada Wacana Iklan Audiovisual “Santarou” Berbahasa Jepang Ilham Hijrah Mustaqim; Nani Sunarni; Agus Suherman Suryadimulya
Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya Vol 6 No 2 (2023)
Publisher : Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/diglosia.v6i2.648

Abstract

Wordplay or paronomasia is a type of verbal humor based on the ambiguity between two similar-sounding words or one word with multiple meanings. Wordplay is known for being used in advertisement, but it is still unclear what specific function it has in realizing the communicative purpose of the text, especially in regard to pragmatic function, that is, whether the text is informative, appellative, commissive, or contactive. This research aims to analyze how wordplay is used in the Japanese-language audiovisual advertisement titled “Santarou” and identify its pragmatic functions. It is qualitative research using the observation method for data collection and the identity method for data analysis. The results indicate that wordplay could be used to indirectly discuss the product being offered with ambiguous utterances in the case of informative and appellative advertisements, to connect the situation depicted in the advertisement with the product in the case of commissive advertisement, and to attract the audience’s attention and associate a characteristic with the brand in the case of contact advertisement.
Pelanggaran Prinsip Kerja Sama pada Drama Korea “Squid Game” Ni Gusti Ayu Dhyana Widyadewi; Ranti Julita; Nani Sunarni
Diglossia: Jurnal Kajian Ilmiah Kebahasaan dan Kesusastraan Vol. 14 No. 2 (2023): April
Publisher : Unipdu Jombang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26594/diglossia.v14i2.3263

Abstract

Penelitian ini membahas pelanggaran maksim prinsip kerja sama yang terjadi di dalam drama Korea “Squid Game”. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pelanggaran maksim-maksim prinsip kerja sama yang terjadi pada tuturan yang diujarkan oleh tokoh-tokoh dalam drama Korea “Squid Game” beserta implikatur-implikatur yang menyertainya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif untuk mendeskripsikan pelanggaran maksim prinsip kerja sama pada setiap data tuturan yang ditemukan. Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu simak bebas libat dan catat dengan data berupa tuturan-tuturan yang melanggar maksim prinsip kerja sama. Data yang diperoleh selanjutnya diolah dengan teknik reduksi data, penyajian data, dan penarikan simpulan. Hasilnya ditemukan 22 data yang melanggar prinsip kerja sama, yang terdiri dari 5 data melanggar maksim kuantitas, 4 data melanggar maksim kualitas, 13 data melanggar maksim relevansi, dan 3 data melanggar maksim cara. Pelanggaran terbanyak terjadi pada maksim relevansi dan paling sedikit pada maksi cara. Selain pelanggaran maksim, ditemukan juga berbagai implikatur yang terkadung di dalam tuturan-tuturan yang disampaikan yaitu berupa implikatur untuk menyatakan meminta, berbohong, memberikan informasi, menyatakan, menyindir, menjelaskan, penolakan, dan menuduh.
JENIS PARONOMASIA DALAM DAJARE GAIRAIGO PADA SITUS WEB DAJARESTATION Mustaqim, Ilham Hijrah; Sunarni, Nani
Jurnal Pendidikan Bahasa Jepang Undiksha Vol. 9 No. 1 (2023): Bahasa Jepang dan Pengajaran
Publisher : Undiksha Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbj.v9i1.52480

Abstract

Paronomasia atau permainan kata adalah gaya bahasa yang membandingkan kata-kata yang berbunyi sama atau mirip. Bentuk paronomasia bahasa Jepang yang disebut dajare umumnya berupa paronomasia sintagmatik, namun dalam kategori dajare yang menggunakan gairaigo (kata serapan), ditemukan data dajare berupa paronomasia paradigmatik. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan kategori dajare gairaigo berdasarkan jenis paronomasia secara semantis menurut Attardo, serta mendeskripsikan relasi makna yang terjadi pada dajare gairaigo, terutama dajare paradigmatik. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif deskriptif dengan metode analisis padan referensial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa paronomasia paradigmatik lebih banyak ditemukan dalam kategori dajare gairaigo. Relasi makna berupa sinonimi dengan kata dalam konteks kalimat digunakan dalam paronomasia paradigmatik untuk memunculkan makna target, sementara dalam paronomasia sintagmatik, relasi makna tidak digunakan karena makna referen dan makna target muncul bersamaan dalam satu kalimat.
SOSIALISASI GERAKAN ISSON IPPIN UNDOU PADA MASYARAKAT DESA SINDANGSARI KECAMATAN SUKASARI KABUPATEN SUMEDANG Sunarni, Nani; Hudaya, Asep Yusup
Midang Vol 2, No 1 (2024): Midang: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, Februari 2024
Publisher : Unpad Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/midang.v2i1.52399

Abstract

Kajian ini difokuskan pada sosialisasi optimalisasi sumber daya alam kepada masyarakat di desa Sindangsari kecamatan Sukasari, Kabupaten Sumedang. Wilayah Sindangsari merupakan daerah yang ditumbuhi pepohonan rumpun bambu. Namun, seiring dengan perkembangan daerah sekitar sebagai kota baru terjadi pengalihan fungsi hutan bambu menjadi perumahan dan sejenisnya.Tujuan program ini yaitu memberikan pemahaman tentang konservasi alam seiring dengan modernisasi wilayah. Hasil program menunjukkan bahwa masyarakat Sindangsari sangat antusias untuk melakukan optimalisasi sumber daya alam dengan hutan bambu menjadi kampung bambu.
GAYA BAHASA PADA ATEJI DALAM LIRIK LAGU GAME ENSEMBLE STARS!! Hammantyo, Aufa Putri; Sunarni, Nani
Journal of Linguistic Phenomena (JLP) Vol 3, No 2 (2025): Journal of Linguistic Phenomena, Januari 2025
Publisher : Direktorat Pendidikan dan Internasionalisasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jlp.v3i2.58226

Abstract

Penelitian ini merupakan kajian semantik yang difokuskan pada kajian ateji sebagai gaya bahasa dalam lirik lagu game Ensemble Stars!! produksi Happy Elements. Data yang digunakan merupakan ateji yang memiliki perbedaan makna antara cara baca dan kanji yang digunakan. Sumber data dalam kajian ini yaitu lirik lagu game Ensemble Stars!! produksi Happy Elements. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif tipe deskriptif. Data dianalisis berdasarkan teori ateji menurut pandangan Lewis (2010) dan Shirose (2012) serta teori gaya bahasa Keraf (2019). Hasil analisis menemukan 5 jenis gaya bahasa yaitu metafora (2), metonimia (2), sinekdoke (2), eponim (1), dan eufemisme (2). Hasil penelitian ini dapat digunakan untuk lebih memahami ateji sebagai gaya bahasa dalam lirik lagu bahasa Jepang.
SOSIALISASI BUDAYA HARMONI (WA) JEPANG TERHADAP SANTRI PESANTREN KILAT DI MESJID AL-ANSHOR MARGAHAYU RAYA KOTA BANDUNG Sunarni, Nani
Midang Vol 3, No 1 (2025): Midang: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, Februari 2025
Publisher : Unpad Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/midang.v3i1.58835

Abstract

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat khususnya kepada para santri pesantren kilat di Mesjid Al Anshor ini difokuskan pada sosialisasi pengenalan budaya harmoni (Wa) dengan lingkungan alam. Dalam pendidikan pesantren tidak hanya disajikan muatan lokal berbasis agama Islam saja, namun dalam era globalisasi, pemahaman budaya harmoni (Wa) perlu diperkenalkan. Keharmonian antara manusia dengan lingkungan perlu diwujudkan. Sebagai upaya dalam mewujudkan keharmonian antara manusia demngan alam lingkungannya perlu disampaikan melalui penanaman pendidikan  kesadaran terhadap alam dan lingkungan yang disajikan dalam kurikulum pesantren. Kesadaran keharmonian manusia dengan lingkungan alam tercantum pula pada Al Qur’an. Manusia seharusnya memelihara dan menjauhi perusakan alam. Namun, di Indonesia khususnya di kalangan para santri pun masih kurangnya kesadaran yang disebabkan oleh idealisme manusia. Hasil dari kegiatan pengabdian masyarakat ini, menjadikan para santri pesantren kilat di Mesjid Al Anshor ini termotivasi untuk lebih dapat meningkatkan dan mengimplementasikan nilai-nilai Islam khususnya harmoni dengan lingkungan dalam kehidupan sehari-harinya.
EDUKASI DAN PENDAMPINGAN PERAJIN DAN PENGUSAHA BATIK DI KABUPATEN GARUT Nur, Tajudin; Nugraha, Tb. Chaeru; Sofyan, Agus Nero; Sunarni, Nani; Indrayani, Lia Maulia; Ismail, Nany; Abdul Malik, M. Zulfi
Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 6, No 1 (2023): Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/kumawula.v6i1.44832

Abstract

Produksi batik Garut yang dikenal dengan batik Garutan mengalami penurunan. Hal ini disebabkan oleh kurangnya minat generasi penerus pada usaha batik tulis, ketidaktersediaan bahan dan modal, serta lemahnya strategi pemasaran dan juga munculnya batik mesin printing. Oleh karena itu, diperlukan upaya edukasi dan pendampingan kepada para perajin batik Garutan. Metode edukasi dan pendampingan yang digunakan adalah metode pemetaan sosial, yaitu rapid appraisal dan participatory appraisal. Pelaksanaan rapid appraisal  diawali dengan melakukan wawancara informan kunci, kemudian dilanjutkan dengan diskusi kelompok terarah (focus group discussion/FGD). Adapun pelaksanaanparticipatory appraisaldengan langkah sebagai berikut: pelatihan, pembinaan, pendampingan, dan kaji tindak. Berdasarkan kegiatan edukasi dan pendampingan yang telah dilakukan, terdapat animo dan apresiasi yang besar dari para peserta perajin batik di Kabupaten Garut. Ke depan, kegiatan tersebut dilakukan secara berkesinambungan agar manfaatnya dapat dirasakan oleh para perajin batik di Kabupaten Garut sehingga mereka semangat dalam mengembangkan usahanya.