Claim Missing Document
Check
Articles

MAKNA VERBA MAJEMUK ~KIRU DALAM BAHASA JEPANG: KAJIAN STRUKTUR DAN SEMANTIS Taqdir Taqdir; Nani Sunarni; Agus Suryadimulya
Aksara Vol 26, No 1 (2014): Aksara, Edisi Juni 2014
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1790.255 KB) | DOI: 10.29255/aksara.v26i1.143.47-56

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui struktur verba majemuk (V + V) dalam bahasa Jepang. Struktur tersebut meliputi pembentukan zenkoudoushi (verba awal) dengan koukoudoushi (verba akhir). Verba akhir (koukoudoushi) yang menjadi objek dalam makalah ini adalah verba ~kiru. Sementara itu, zenkoudoushi (verba awal) dalam pembahasan ini meliputi joutai doushi ‘verba statis’, keizoku doushi ‘verba kontuinitas’, shunkan doushi ‘verba fungtual’ dan daiyonshu doushi ‘verba bagian ke empat’. Pengklasifikasi ini mengacu pada pengklasifikasian verba Kindaichi. Kiru sebagai verba tunggal bermakna memotong, mengirisi, memutuskan, dan mematikan. Kiru pada saat digabungkan dengan verba lain akan membentuk sebuah verba majemuk yang mempunyai beberapa arti. Secara garis besar verba gabung kiru memiliki dua makna, yakni makna dari segi leksikal dan makna dari segi sintaksis.Secara leksikal verba gabung ~kiru bermakna setsudan ‘pemotongan’ dan shuketsu ‘selesai/berkahir’, sedangkan dari segi sintaksis memiliki makna kyokudo ‘luar biasa / tak terhingga’ dan makna kansui ‘perfektif’. Verba gabung ~kiru yang melekat pada verba kontuinitas (keizokudoushi) akan bermakna setsudan setsudan ‘pemotongan’, shuketsu ‘selesai/berkahir’, dan kansui ‘perfektif’, sedangkan apabila melekat pada verba fungtual (shunkandoushi) akan bermakna kyokudo ‘luar biasa/tak terhingga’. 
CITRA PEREMPUAN DALAM PERIBAHASA JEPANG MENURUT PANDANGAN ISLAM Nani Sunarni; Eka Kurnia Firmansyah
Metahumaniora Vol 10, No 1 (2020): METAHUMANIORA, APRIL 2020
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/metahumaniora.v10i1.26943

Abstract

Masyarakat umum memandang perempuan sebagai makhluk yang kuat tetapi sering pula dianggap makhluk yang lemah. Begitu pula dalam masyarakat Jepang, perempuan dianggap sebagai makhluk yang berpengaruh tetapi sebaliknya dapat pula dianggap makhluk yang lemah dan tidak memiliki pendirian. Hal tersebut, tercermin dalam peribahasa onna shichibu ni otoko sanbu (di lingkungan keluarga pengaruh ibu lebih kuat dari pada ayah) dan onna gokoro to aki no sora (perasaan perempuan mudah berubah-ubah/tidak memiliki pendirian). Kedua peribahasa tersebut hanya sebagai contoh dan masih banyak peribahasa lain yang mencerminkan citra dan identitas perempuan Jepang. Dalam konteks ini, Islam sebagai wahyu Ilahi, menempatkan perempuan pada posisi yang sangat terhormat dan mulia sesuai dengan kodrat dan tabiatnya, tidak berbeda dengan kaum laki-laki dalam masalah kemanusiaan dan hak-haknya. Oleh karena itu, tidak benar jika menilai ajaran Islam bersikap diskriminatif terhadap perempuan. Hal ini dapat dibuktikan dengan perbandingan pandangan budaya di luar Islam. Penelitian ini akan melihat citra perempuan dalam peribahasa Jepang menurut pandangan Islam. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Data yang digunakan berupa peribahasa Jepang yang di dalamnya terdapat kata onna (perempuan) dan dibatasi pada peribahasa yang menyatakan “kekuatan” yang diperbandingkan dengan pandangan Islam. Data dianalisis menggunakan pendekatan etnolinguistik Riley (2008). 
VARIAN MAKNA KATA TOKI SEBAGAI NOMINA PENANDA KEWAKTUAN DALAM KALIMAT BAHASA JEPANG Nani Sunarni
Metahumaniora Vol 9, No 2 (2019): METAHUMANIORA, SEPTEMBER 2019
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/metahumaniora.v9i2.25043

Abstract

Penelitian ini difokuskan pada makna kata toki ‘waktu’ dalam kalimat bahasa Jepang. Data yang digunakan dalam penelitian ini berupa kalimat yang di dalamnya terdapat kata toki. Dari hasil analisis teridentifikasi tujuh makna kata toki, yaitu pertama kata toki yang memiliki makna denotative yaitu waktu. Dan yang lainnya yaitu digunakan untuk mengekspresikan waktu yang tepat dalam kondisi dilakukannya suatu kegiatan, kondisi atau kegiatan lain pun terjadi dalam waktu yang bersamaan, menyatakan waktu atau masa selama sesuatu berada dalam kondisi tertentu, dalam kondisi atau dalam situasi, menyatakan kesempatan, dan menunjukkan ekspresi yang bersifat kebiasaan. Selain itu, dalam kategori sebagai konjungsi toki yang dilekati oleh partikel ni (toki) digunakan dalam bahasa lisan untuk mengeksprresikan sesuatu yang tidak ada kaitannya dengan pembicaran sebelumnya. Kata kunci: kesempatan, situasi, toki, waktu,
NILAI BUSHIDO TOKOH ANAK DALAM CERPEN “MIKAN” KARYA AKUTAGAWA RYUNOSUKE SEBAGAI DASAR MORAL PENDIDIKAN SOSIAL Nani Sunarni
Metahumaniora Vol 10, No 3 (2020): METAHUMANIORA, DESEMBER 2020
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/metahumaniora.v10i3.29959

Abstract

Kajian ini difokuskan pada nilai bushido dari tokoh seorang gadis kecil yang terdapat dalam cerpen Mikan. Dibalik kesederhanaan dan kelusuhan tokoh gadis kecil ternyata   di dalamnya terdapat kesucian hati , kegigihan, kerja keras, dan keberanian. Sikap ini  menggambarkan karakteristik budaya masyarakat Jepang yang berasal dari sebagian  nilai-nilai bushido yang dijadikan dasar acuan hidup masyarakat Jepang. Sikap-sikap moral ini menjadi modal dasar  untuk menjadi manusia Jepang yang menganut nilai-nilai sosial yang harmoni.Kata kunci:  bushido, pendidikan sosial, mikan, moral
PENYULUHAN TERHADAP KELOMPOK PEMBERDAYAAN KESEJAHTERAAN KELUARGA (PKK) DALAM UPAYA PEMANFAATAN SAMPAH BUNGKUS KOPI Nani Sunarni; Asep Yusup Hudaya
Sawala : Jurnal pengabdian Masyarakat Pembangunan Sosial, Desa dan Masyarakat Vol 2, No 1 (2021): Sawala : Jurnal pengabdian Masyarakat Pembangunan Sosial, Desa dan Masyarakat
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/sawala.v2i1.29260

Abstract

Organisasi Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) merupakan salah satu organisasi penggerak pemberdayaan masyarakat khususnya kaum ibu-ibu mulai dari tingkat yang paling kecil yaitu tingkat RT hingga tingkat nasional. Organisasi ini beranggotakan ibu-ibu rumah tangga yang berperan sebagai pelaku dalam kegiatan domestik keluarganya dan memiliki kemampuan peran ganda. Peran tersebut selain bertanggung jawab mengurus keluarga, juga memiliki peran mengurus hal lainnya termasuk dalam penanganan sisa buangan rumah tangga yang disebut sampah. Salah satu sampah yang cukup banyak yaitu bungkus kopi. Hal ini karena rata-rata masyarakat Indonesia menyukai kopi instan yang dibungkus dalam kemasan, sehingga menghasilkan sampah berupa bungkus kopi, dimana apabila dimanfaatkan dapat memiliki nilai ekonomis. Melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat, dilakukan penyuluhan dan pendampingan terhadap ibu-ibu PKK di tingkat yang paling kecil, yaitu tingkat RT. Mengingat tingkat ini merupakan ujung tombak dalam kegiatan kemasyarakatan yang melibatkan ibu-ibu. Diharapkan dari tingkat yang kecil ini dapat menjadi pelopor dalam bidang kebersihan lingkungan dan kreatif dalam bidang ekonomi. Dalam praktik pelaksanaan kegiatan ini digunakan pendekatan sosial budaya. Hasil dari kegiatan ini menunjukkan adanya perubahan positif yaitu perilaku ibu-ibu rumah tangga dari “budaya buang sampah” menjadi “budaya bank sampah”. 
PENGELOLAAN PRODUKSI TAS GONI DAN KESENIAN KARINDING PADA ORGANISASI MASYARAKAT BARAYA SOREANG DI KABUPATEN BANDUNG Nani Sunarni; Asep Yusup Hudayat
Sawala : Jurnal pengabdian Masyarakat Pembangunan Sosial, Desa dan Masyarakat Vol 2, No 2 (2021): Sawala : Jurnal pengabdian Masyarakat Pembangunan Sosial, Desa dan Masyarakat
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/sawala.v2i2.33534

Abstract

"Baraya Soreang" merupakan organisasi yang beranggotakan para mantan gank motor yang berkantor pusat di wilayah Soreang Kabupaten Bandung. Tujuan kegiatan pengabdian pada masyarakat ini adalah pemberdayaan dan peningkatan kreativitas di bidang seni yang telah mereka jalankan. Kreativitas yang telah mitra hasilkan di antaranya adalah produksi tas goni dan karinding. Kecintaannya pada budaya Sunda dilatarbelakangi oleh keinsyafannya untuk kembali kepada lingkungan normatifnya. Potensi kecintaan mereka terhadap budaya Sunda dan kreativitasnya perlu diapresiasi secara baik guna menumbuhkembangkan kesadaran-kesadaran yang kontributif bagi terciptanya harmonisasi baik terhadap lingkungan fisiknya, sosial, maupun lingkungan budayanya. Hasil dari kegiatan ini berorientasi kepada peningkatan pemahaman budaya Sunda, terutama menyangkut nilai-nilai filosofis, nilai-nilai estetika, dan nilai-nilai pragmatis sehingga dihasilkan design-design gambar untuk produk tas goni dan karinding. Adapun pada tahap kegiatan produksi telah dihasilkan tas goni dengan aneka model dan motif serta karinding untuk pengguna pemula dan tingkat mahir.  Kata kunci: Baraya Soreang,tas goni, karinding, kreativitas
Conceptual Metaphor about Corona Virus: Cognitive Semantic Analysis Irzam Sarif S; Yuyu Yohana Risagarniwa; Nani Sunarni
Eralingua: Jurnal Pendidikan Bahasa Asing dan Sastra Vol 5, No 1 (2021): ERALINGUA
Publisher : Makassar State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/eralingua.v5i1.13951

Abstract

Abstract. Conceptual metaphors are the result of mental construction, conceptualization of the experience of human life. In Japanese, metaphorical features are often found in conveying information so that information can be easily understood. This study aimed to describe the conceptual metaphors found at the Japanese Prime Minister's Press Conference, Shinzo Abe on March 14 and 28, 2020 through the official website kantei.go.jp. The research method used was descriptive qualitative analysis. Data were collected by taking text that contained metaphorical elements and then selected. Data selection was based on the basic principle of metaphor, which was the mapping from the source domain to the target domain. Then the data were classified based on the type of metaphor by Lakoff and Johnson and the type of image scheme by Cruse and Croft. Based on the study done, there were three types of conceptual metaphors, 1) Structural metaphors with conceptuals meaning of enemy, medical treatment, control, and mind; 2) Orientational metaphors with conceptual meaning of disadvantage, and approval; 3) Ontological metaphors with conceptuals meaning of finance, and emotion. In addition, there were also six types of image schemes, namely the image scheme of Strength, Existence, Identity, Scale, Space, and Unity.Keywords: Conceptual Meaning, Press Conference, Cognitive Semantic, Image Scheme
STRUKTUR KLAUSA VERBAL DALAM BAHASA INDONESIA DAN BAHASA JEPANG: SUATU ANALISIS KONTRASTIF Wahya -; Nani Sunarni; Endah Purnamasari
Sosiohumaniora Vol 3, No 1 (2001): SOSIOHUMANIORA, MARET 2001
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/sosiohumaniora.v3i1.5198

Abstract

Penelitian ini menggunakan metode deskriptif. Pendeskripsian data bahasa Indonesia dan bahasa Jepang menggunakan metode distribusional. Hasil pendeskripsian dibandingkan secara kontrastif. Berdasarkan hasil penelitian, struktur klausa verbal bahasa Indonesia dan bahasa Jepang berbeda. Perbedaan yang menonjol ditunjukkan oleh relasi verba dengan objek. Dalam bahasa Indonesia, objek berposisi pascaverbal (VO), sedangkan dalam bahasa Jepang, objek berposisi praverbal (OV). Relasi predikat verbal dengan argumen (subjek dan objek) tidak ditandai dengan partikel dalam bahasa Indonesia, sedangkan dalam bahasa Jepang relasi itu ditandai dengan partikel (joshi), yakni wa atau ga dalam predikasi; o atau ga dalam komplementasi. Kata kunci: klausa verbal, pra-verbal, pasca-verbal
Varian Structure And Meaning Of The Word "Tokoro" In Japanese Language Sentences Nani Sunarni; Jonjon Johana
Prosodi Jurnal Ilmu Bahasa dan Sastra Vol 12, No 2 (2018): Prosodi
Publisher : Program Studi Bahasa Inggris Universitas Trunojoyo Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (354.037 KB) | DOI: 10.21107/prosodi.v12i2.4528

Abstract

The word ‘tokoro’ as a noun in Japanese, is lexically equivalent to the word "place" in Indonesian, as in the phrase suzushii tokoro "cool place". This word in Japanese has a structure and meaning that varies depending on the words followed and those who follow them. The method used as the basis of the analysis is the desktiptif method. The sources of data used form of sentences which contain the word tokoro,  also analyzed based on studies of form and meaning. Based on the results of the analysis, it was identified that the word tokoro besides having a lexical meaning, also had a grammatical meaning. Grammatical meaning can be found in pseudo nouns (keishiki meishi) and as compound particles that function as conjunctions (setsuzoku joshi). Tokoro as a structure verb keishiki meishi (~ ru, ~ te iru, ~ ta tokoro) which shows time. Whereas setsuzokujoshi has a structure (1) V (~ ta) tokoro de, V ~ ru / ~ te iru dokoro dewanai, N dokorodokoroka ~ mo nai, adverbial/ particle case of tokoro ga and auxiliary particles (fuku joshi) tokoro.
EFEKTIFITAS “PEWARISAN PERIBAHASA” MELALUI PENDIDIKAN MASYARAKAT SEBAGAI MEDIA PEMBENTUK KARAKTER BANGSA INDONESIA DI ERA GLOBAL Nani Sunarni
FKIP e-PROCEEDING 2017: PROSIDING SEMINAR NASIONAL #3: BAHASA DAN SASTRA INDONESIA DALAM KONTEKS GLOBAL
Publisher : Pendidikan Fisika FKIP UNEJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak: Peribahasa merupakan kearifan lokal yang berupa produk lama dan terus hidup sampai zaman modern bahkan bisa sampai masa mendatang apabila terus diwariskan dari generasi ke generasi. Sistem pewarisan tidak hanya dapat disampaikan melalui pendidikan formal saja, namun dapat pula diwariskan melalui pendidikan di masyarakat secara nonformal. Penggunaan peribahasa dalam komunikasi sehari-hari baik lisan maupun tulisan dapat dianggap lebih efektif daripada hanya disampaikan secara formal tanpa membudayakannya dalam komunikasi sehari-hari. Peribahasa dalam bahasa Indonesia sangat bervariasi dan salah satu diantaranya yaitu peribahasa yang terkait dengan “etika berkehidupan”. Contoh “di mana bumi di pijak, di situ langit dijunjung”. Peribahasa tersebut bermakna agar bangsa Indonesia dapat hidup menyesuaikan diri di mana mereka berada”mengingat bangsa Indonesia yang sangat beraneka ragam baik suku, agama, maupun budaya. agar saling menghormati dan dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitarnya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode deskriptrif. Data yang digunakan yaitu peribahasa bahasa Indonesia yang terkait dengan etika. Sebagai landasan analisis data digunakan teori tentang pembelajaran bahasa menurut pandangan Michiya (1983). Hasil penelitian ini, teridentifikasi bahwa penggunaan peribahasa dalam komunikasi di masyarakat sangat efektif sebagai pewarisan budaya. Penelitian ini bermanfaat untuk dijadikan model aplikasi pewarisan budaya melalui peribahasa sebagai dasar pandangan hidup masyarakat Indonersia di era global. Kata-kata Kunci: era global, bangsa Indonesia, peribahasa, pendidikan masyarakat