Claim Missing Document
Check
Articles

Found 34 Documents
Search

LEKSIKON PANGANAN BERBAHAN SINGKONG: KASUS DI KOTA SUMEDANG Sunarni, Nani
KABUYUTAN Vol 2 No 3 (2023): Kabuyutan, Nopember 2023
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61296/kabuyutan.v2i3.204

Abstract

Kabupaten Sumedang pernah menjadi daerah sentra singkong. Bahkan sampai sekarang pun di wilayah ini masih terdapat banyak pabrik-pabrik pengolahan singkong. Masyarakat Sumedang tidak hanya menjadikan singkong sebagai bahan tapioka yang diolah di pabrik-pabrik, namun bagi masyarakat Sunda Sumedang singkong dapat menjadi bahan makanan pengganti nasi dan berbagai olahan makanan ringan. Berbagai varian makanan olahan singkong ini memiliki nama dan cara pengolahan. Kajian ini merupakan kajian kebahasaan yang terkait dengan budaya yang bertujuan mendeskripsikan bentuk lingual dari leksikon panganan berbahan singkong. Penelitian ini dilakukan mulai dari proses pengumpulan data, analisis data, dan penarikan simpulan. Data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu kata berupa nama-nama panganan dancara pengolahan panganan berbahan singkong. Proses pengumpulan data dilakukan dengan metode survey dan wawancara yang dilanjutkan dengan teknik catat yaitu dengan mencatat kata-kata sebagai nama dan cara pengolahan panganan berbahan singkong. Data dianalisis dengan pendekatan struktural. Dari perspektif linguistik nama-nama olahan singkong dan cara pengolahan tersebut dapat dipandang sebagai leksikon. Berdasarkan analisis, bentuk linguistik tersebut merepresentasikan leksikon panganan dan leksikon cara pengolahan singkong. Secara bentuk, leksikon tersebut dapat diklasifikasikan menjadi leksikon yang terdiri atas kata tunggal sebagai morfem bebas, frasa, dan kata turunan ataukata jadian berstruktur di+nomina dan di+verba. Kata kunci: leksikon, singkong, sampeu, Sumedang
VARIAN KOSAKATA KULINER TRADISIONAL SUNDA BERBAHAN SINGKONG, TAHU, DAN ONCOM ( KASUS DI KOTA BANDUNG): VARIAN KOSAKATA KULINER TRADISIONAL SUNDA BERBAHAN SINGKONG, TAHU, DAN ONCOM ( KASUS DI KOTA BANDUNG) Sunarni, Nani
KABUYUTAN Vol 3 No 2 (2024): Kabuyutan, Juli 2024
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61296/kabuyutan.v3i2.255

Abstract

Kota Bandung merupakan kota multikultur sebagai tujuan pariwisata yang populer dengan sebutan kota kuliner. Seiring dengan kebutuhan kuliner, produktivitas menu baru sangat tinggi dengan nama-namanya yang baru. Dari satu nama makanan  “tahu”  muncul kosakata lain seperti tahu gejrot, tahu hot jeletot, tahu isi, bakso tahu, bakso tahu goreng (batagor), tahu bulat, goreng tahu, pais tahu, tahu burintik,  kupat tahu, angeun tahu dll. Munculnya kosakata-kosakata tersebut merupakan cermin perkembangan budaya dan identitas masyarakat pemilik kosakata tersebut. Kajian ini merupakan kajian kebahasaan yang terkait dengan budaya yang bertujuan mendeskripsikan bentuk lingual dari jenis-jenis kosakata yang terkait dengan kuliner. Proses pengumpulan data dilakukan dengan metode survey yang dilanjutkan dengan teknik catat yaitu dengan mencatat kosakata-kosakata nama kuliner di kota Bandung. Data dianalisis dengan pendekatan struktural dan kultural (Riley, 2008). Hasil penelitian ini memberikan perspektif budaya dan identitas Sunda dalam memandang tata nama kuliner sebagai kajian antroponomenika.
Pelanggaran Maksim Kuantitas Mahasiswa Bahasa dan Budaya Tiongkok Universitas Padjadjaran Fathnindhia, Khansa Azmilika; Sunarni, Nani; Sutami, Hermina
Kajian Linguistik dan Sastra Vol. 5 No. 1 (2026): Januari 2026
Publisher : Prodi Sastra Indonesia, FKIP Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/kalistra.v5i1.51774

Abstract

The Chinese Language and Culture study program is one of the study programs at the Faculty of Cultural Sciences, Padjadjaran University. Students in this study program come from various regions in Indonesia, and they are studying a foreign language, namely Chinese. Therefore, this study aims to analyze violations of the cooperative principle in students majoring in Chinese Language and Culture at Padjadjaran University. This study uses a descriptive-qualitative method. The researcher applies one major theory in analyzing this study, namely the Cooperative Principle theory proposed by Grice (1975). The subjects of this study were first-year students majoring in Chinese Language and Culture at Padjadjaran University who acted as respondents and became data sources, while the objects of this study were the utterances produced by first-year students majoring in Chinese Language and Culture at Padjadjaran University. The method used in data collection was the Discourse Completion Tasks (DCT) method, and the data analysis method used pragmatic and referential equivalent methods according to Sudaryanto's view (2015). Based on the results of the analysis, it shows that the violations of the cooperative principle that were often found were violations of the cooperative principle of the maxim of quantity. Abstrak Program studi Bahasa dan Budaya Tiongkok merupakan salah satu program studi di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran, mahasiswa pada program studi tersebut berasal dari berbagai daerah di Indonesia, mereka mengemban pendidikan untuk mempelajari bahasa asing, yaitu bahasa Tiongkok. Oleh karena itu, penelitian ini ini bertujuan untuk menganalisis pelanggaran prinsip kerja sama pada mahasiswa jurusan Bahasa dan Budaya Tiongkok Universitas Padjadjaran. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif-kualitatif. Peneliti menerapkan satu teori besar dalam menganalisis penelitian ini, yaitu teori Prinsip Kerja Sama yang dikemukakan oleh Grice (1975). Subjek penelitian ini menggunakan mahasiswa tingkat 1 jurusan Bahasa dan Budaya Tiongkok Universitas Padjadjaran yang berperan sebagai responden dan menjadi sumber data, sedangkan objek penelitian ini adalah tuturan yang diproduksi oleh mahasiswa tingkat 1 jurusan Bahasa dan Budaya Tiongkok Universitas Padjadjaran. Metode yang digunakan dalam pengumpulan data adalah dengan metode Discourse Completion Tasks (DCT), serta metode analisis data dengan menggunakan metode padan pragmatis dan referensial menurut pandangan Sudaryanto (2015). Berdasarkan hasil analisis menunjukkan bahwa pelanggaran prinsip kerja sama yang sering ditemukan adalah pelanggaran prinsip kerja sama maksim kuantitas yang paling sering ditemukan.
Relasi Emosi dan Kandōshi Kandō dalam Tindak Tutur Ekspresif Marah pada Drama Jepang Kontemporer The Queen of Villains Sumpena, Salsadila Hairulnisa; Sunarni, Nani; Ginanjar, Pika Yestia
Jurnal Bahasa dan Sastra Vol 13, No 3 (2025)
Publisher : Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/jbs.v13i3.136342

Abstract

This study aims to analyze the use of kandōshi kandō as a marker of the expressive speech act of anger in the Japanese drama The Queen of Villains by examining its forms, delineating its pragmatic functions, and investigating the patterns of inter-utterance relations that construct the emergence of anger expressions within the characters’ dialogues. The research employs a qualitative descriptive method using referential and pragmatic analytical approaches. The data were extracted from dialogue containing angry expressions and subsequently classified according to the forms of kandōshi kandō, their contexts of occurrence, and their pragmatic functions. The findings reveal six major forms haa, nanda, aa, ee, ou, and fuu each signaling a distinct nuance of anger, ranging from cynical rejection and angry surprise to belittlement, emotionally charged criticism, harsh prohibition, and contempt. The analysis further shows that all kandōshi kandō appear within dependent utterance chains (coupling), functioning as direct responses to triggering lines. In addition, their use is pragmatically egalitarian, the drama does not depict power dynamics through linguistic hierarchy, as both senior and junior characters express anger directly without mitigation, producing a pattern of conflictual equality rather than social dominance. These findings contribute to Japanese pragmatic studies by offering a detailed mapping of kandōshi kandō functions specifically within angry expressive acts an area that remains underexplored in prior research, which has tended to focus on anime, radio dramas, or classical performances.