Claim Missing Document
Check
Articles

EFEKTIFITAS “PEWARISAN PERIBAHASA” MELALUI PENDIDIKAN MASYARAKAT SEBAGAI MEDIA PEMBENTUK KARAKTER BANGSA INDONESIA DI ERA GLOBAL Nani Sunarni
FKIP e-PROCEEDING 2017: SEMINAR NASIONAL #3: BAHASA DAN SASTRA INDONESIA DALAM KONTEKS GLOBAL
Publisher : Pendidikan Fisika FKIP UNEJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Peribahasa merupakan kearifan lokal yang berupa produk lama dan terus hidup sampai zaman modern bahkan bisa sampai masa mendatang apabila terus diwariskan dari generasi ke generasi. Sistem pewarisan tidak hanya dapat disampaikan melalui pendidikan formal saja, namun dapat pula diwariskan melalui pendidikan di masyarakat secara nonformal. Penggunaan peribahasa dalam komunikasi sehari-hari baik lisan maupun tulisan dapat dianggap lebih efektif daripada hanya disampaikan secara formal tanpa membudayakannya dalam komunikasi sehari-hari. Peribahasa dalam bahasa Indonesia sangat bervariasi dan salah satu diantaranya yaitu peribahasa yang terkait dengan “etika berkehidupan”. Contoh “di mana bumi di pijak, di situ langit dijunjung”. Peribahasa tersebut bermakna agar bangsa Indonesia dapat hidup menyesuaikan diri di mana mereka berada”mengingat  bangsa Indonesia yang sangat beraneka ragam baik suku, agama,  maupun budaya. agar saling menghormati dan dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitarnya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode deskriptrif. Data yang digunakan yaitu peribahasa bahasa Indonesia yang terkait dengan etika. Sebagai landasan analisis data digunakan teori tentang pembelajaran bahasa menurut pandangan Michiya (1983). Hasil penelitian ini, teridentifikasi bahwa penggunaan peribahasa dalam komunikasi di masyarakat sangat efektif sebagai pewarisan budaya. Penelitian ini bermanfaat untuk dijadikan model aplikasi pewarisan budaya melalui peribahasa sebagai dasar pandangan hidup masyarakat Indonersia di era global. Kata Kunci: era global, bangsa Indonesia, peribahasa, pendidikan masyarakat
Pembentukan Dajare Pada Drama 99.9 ~Keiji Senmon Bengoshi~ Season Dua Episode Dua Talin Salisah; Agus Suherman Suryadimulya; Nani Sunarni
KIRYOKU Vol 5, No 1 (2021): Jurnal Kiryoku
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/kiryoku.v5i1.8-14

Abstract

Japanese has a wordplay similar to the English wordplay, puns. The wordplay term is dajare. Dajare is a wordplay that relies on identical words, where the meanings are different. This article focuses on the formation of dajare sentences in the drama 99.9 ~Keiji Senmon Bengoshi~ season two episode two from nine episodes. The analysis process was using qualitative methods. The results of the analysis of the dajare sentences found in the drama show that particles can also help in the formation of dajare. In addition, the speaker or dajare the speakers will look for the exact word that he wants to say. In view of the response of humor itself, depending on the atmosphere and feelings received by the listener. 
FUNGSI TEIDO NO FUKUSHI KONNANI, SONNANI, DAN ANNANI DALAM KALIMAT BAHASA JEPANG Rahadiyan Duwi Nugroho; Yuyu Yohana; Nani Sunarni
Metalingua: Jurnal Penelitian Bahasa Vol 12, No 2 (2014): METALINGUA, EDISI DESEMBER 2014
Publisher : Balai Bahasa Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (142.265 KB) | DOI: 10.26499/metalingua.v12i2.27

Abstract

TULISAN ini memfokuskan pada kajian fungsi adverbia konnani ‘begini; seperti ini’,sonnani ‘begitu: seperti itu’, dan annani ‘begitu; seperti itu’ dalam kalimat bahasaJepang. Adapun adverbia ini, di samping menerangkan satuan gramatikal, berfungsisebagai penunjuk (shiji kinou). Data bersumber dari novel Bottchan (2003). Masalahpenelitian ini dibatasi pada identifikasi struktur kalimat yang mengandung adverbiatujuan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif-kualitatif.Berdasarkan hasil penelitian, teridentifikasi bahwa adverbia konnani, sonnani, danannani dapat menerangkan satuan gramatikal, seperti verba, adjektiva, frasa nominal,frasa verbal, dan klausa, serta dapat menunjuk acuan, seperti orang, benda, perbuatan,perihal, peristiwa, dan situasi. Keterkaitan antara satuan gramatikal dengan acuantunjuknya terhubung melalui referensi anafora dan katafora.
PROSES VERBALISASI PADA SYAIR KARYA SYIHABUDDIN DAN AL-BUNI DALAM KITAB SYAMSUL MA’ARIF (KAJIAN MORFOLOGI) Zamzam Mugni Alawi; Agus Nero Sofyan; Nani Sunarni; Ypsi Seoria Soemantri
Hijai - Journal on Arabic Language and Literature Vol 4, No 1 (2021)
Publisher : Bahasa dan Sastra Arab, Fakultas Adab dan Humaniora, UIN Sunan Gunung Djati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/hijai.v4i1.13044

Abstract

ABSTRAKSyair merupakan bagian dari karya sastra di dalamnya terdapat berbagai macam proses pembentukan verba salah satunya yaitu seperti yang terdapat pada syair karya Syihabuddin Ahmad Musa Al-‘Ajali dan syair karya Imam Al-Buni yang terdapat dalam Kitab Syamsul Ma’arif. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mendeskripsikan terjadinya proses verbalisasi pada syair karya Syihabuddin Ahmad Musa Al-‘Ajali dan syair karya Imam Al-Buni yang terdapat dalam Kitab Syamsul Ma’arif. Jenis penelitian ini yaitu penelitian kepustakaan (Library Research). Adapun dalam penelitian ini menggunakan metode deskriptif analitik, yaitu dengan menelaah dan mengkaji sumber data pada syair karya Syihabuddin Ahmad Musa Al-‘Ajali dan syair karya Imam Al-Buni yang terdapat dalam Kitab Syamsul Ma’arif. Teori pendekatan yang digunakan pada penelitian ini yaitu pendekatan morfologi atau taṣrīf bahasa Arab menurut Ahmad Al-Hamalawi. (1953). Jumlah bayt pada syair karya Syihabuddin Ahmad Musa Al-‘Ajali terdiri dari 13 bayt dan syair karya Imam Al-Buni terdiri dari 12 bayt. Dengan demikian seluruhnya berjumlah 25 bayt yang terdapat dalam Kitab Syamsul Ma’arif. Dapat disimpulkan yaitu bahwa proses verbalisasi pada syair karya Syihabuddin Ahmad Musa Al-‘Ajali dan syair karya Imam Al-Buni yang terdapat dalam Kitab Syamsul Ma’arif di antaranya meliputi: prefiks (al-sawabiq) berjumlah sebanyak 16 data, sufiks (al-lawahiq) berjumlah sebanyak 6 data, dan konfiks (al-muzdawijah) berjumlah sebanyak 2 data.
SEJARAH PERKEMBANGAN BAHASA JEPANG DAN PENELITIANNYA Nani Sunarni; Onin Najmudin
Makna: Jurnal Kajian Komunikasi, Bahasa, dan Budaya Vol 3 No 1 (2018): MAKNA : Jurnal Kajian Komunikasi,Bahasa, dan Budaya
Publisher : Fakultas Komunikasi, Sastra, dan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33558/makna.v3i1.843

Abstract

There is a long history of the development and research of Japanese language. Morita (1990:282) divided the development of Japanese language into seven periods: Kodai (13000BC–600AD), Jodai (600-784), Chuuko (784- 1184), Chuusei (1184-1603), Kinsei (1603-1867),Kindai (1868-1945), and Gendai (1946-1989). On the other hand, Hibatani (1996) indicatedfive periods of Japanese language development: Nara (710) Jouko Nihongo’Old Japanese’,Heian (794) Chuuko Nihongo’ Late Old Japanese’, Kamakura (1185/1192), Muromachi[1331/1392] ) Chuusei Nihongo’Middle Japanese’, Edo (1603) Kinsei Nihongo’ or EarlyModern Japanese’, and Meiji (1868), Taisho (1912), Showa (1926), Heisei (1989) - GendaiNihongo as ’Modern Japanese’. The present study aims to identify the development as well asstudies of Japanese language from old to modern period. Thus, the present study aims todiscuss the birth of Japanese language from the adoption of the Chinese language of kanbunand kanji by the Buddhist monks, the research of writings from Nara period in which thereading of Japanese language was started, bushu ‘radical’, sound, as well as the meaning ofKanji and the research toward koten-kogo that delivered the change in phoneme, joshi(kantou joshi), and prefix. In addition, there is a discussion toward the birth of waka danrenga lahir te, ni o, ha in Kanazukai’s study which became a milestone for grammar andphoneme change.
TELAAH KATA HAJIME DAN HAJIMETE DALAM KALIMAT BAHASA JEPANG DAN PADANANNYA DALAM BAHASA INDONESIA Nani Sunarni; Onin Najmudin
Makna: Jurnal Kajian Komunikasi, Bahasa, dan Budaya Vol 5 No 2 (2019): MAKNA: Jurnal Kajian Komunikasi, Bahasa, dan Budaya
Publisher : Fakultas Komunikasi, Sastra, dan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33558/makna.v5i2.1808

Abstract

Penelitian ini difokuskan pada kajian kata hajime dan hajimete serta padanannya dalam bahasa Indonesia. Data yang digunakan berupa kalimat-kalimat yang mengandung kedua kata di atas. Data dianalisis melalui kajian stuktur dan makna dengan berdasarkan teori yang bersifat eklektis. Hasil kajian data teridentifikasi bahwa hajime berkategori nomina, sedangkan hajimete berkategori adverbia. Namun, bila secara struktur berfungsi sebagai predikat dapat pula digunakan sebagai nomina. Secara makna teridentifikasi bahwa hajime memiliki lima makna, yaitu (a) menunjukkan makna “mulai”, (b) menyatakan makna permulaan atau pada awalnya, (c) munculnya sesuatu perkara, (d) menyatakan sesuatu yang di awal diantara sesuatu yang banyak, dan (e) kata yang digunakan waktu memberikan sesuatu yang dijadikan inti. Sedangkan, hajimete bermakna (1) baru pertama kali yang sampai saat itu tidak ada atau tidak pernah, (2) dengan kejadian waktu itu lambat laun ~ akhirnya. Hasil kajian bermanfaat untuk mempermudah penggunaan dan pemahaman kata hajime dan hajimete dalam komunikasi baik lisan maupun tulisan.
Penerjemahan Modalitas dalam Teks Bahasa Jepang ke dalam Teks Bahasa Indonesia Jonjon Johana; Nani Sunarni; Risma Rismelati
Jurnal Bahasa Jepang Taiyou Vol. 1 No. 1 (2018): Versi Cetak
Publisher : Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (626.149 KB) | DOI: 10.22236/taiyou.v1i1.4810

Abstract

Bahasa Jepang dikenal sebagai salah satu bahasa yang memiliki keunikan dan bentuk yang variatif dalam menyampaikan maksud atau ide penutur. Secara umum bentuk- bentuk tersebut ditandai dengan sufiks, penanda modalitas dan lainnya. Contoh, dalam kalimat (1) “watashi mo yatte miru beki datta ne” „saya pun waktu itu semestinya mencobanya juga ya‟. (2) “Byounin wa yukkuri yasumu mono da” „orang sakit semestinya istirahat dengan tenang‟. Penanda modalitas yang digunakan oleh kedua kalimat tersebut berbeda. Modalitas dalam teks (1) ditandai dengan modalitas obligasi (beki), tetapi pada kalimat (2) ditandai dengan modalitas eksplanasi (mono). Sehingga, kedua modalitas tersebut dalam bahasa Indonesia diterjemahkan menjadi kata yang memiliki makna sama yang merupakan modalitas obligasi, semestinya. Hal ini menjadi salah satu kesulitan yang dihadapi oleh pembelajar bahasa Jepang berbahasa ibu, bahasa Indonesia. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian secara lebih mendalam. Metode yang digunakan dalam penelitian ini merupakan metode desktriptif kualitatif. Penelitian ini akan dianalis melalui 3 tahapan, yakni pengumpulan data, analisis data, dan pengambilan kesimpulan berdasarkan teori Miles dan Huberman (1998) dan teori Muntaha (2006). Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teks berbahasa Jepang. Hasil dari penelitian ini mengambarkan bahwa dalam proses penerjemahan dari bahasa Jepang ke dalam bahasa Indonesia, terdapar adanya teknik penambahan dan parafrasa. Secara teoritis, hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai referensi dalam teori penerjemahan, dan dapat digunakan sebagai referensi dalam proses penerjemahan teks bahasa Jepang ke dalam teks bahasa Indonesia.
Kesalahan Penggunaan Keigo dalam Drama Nihonjin No Shiranai Nihongo Nani Sunarni; Hilda Dian Estherina
Jurnal Bahasa Jepang Taiyou Vol. 2 No. 1 (2019): Versi Cetak
Publisher : Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (936.276 KB) | DOI: 10.22236/taiyou.v2i1.4834

Abstract

This study aims to describe language errors in honorific between native speakers (Japanese) and non native speakers (foreign students). This research uses a drama series called Nihonjin No Shiranai Nihongo (2010) as data source. The research applies analytical descriptive method to the dialogue discourses used as the data. It starts from data collecting process to be analyzed later based on the theory of language errors in the view of Yoshikawa (1997) and Error Analyis of Norish (1989). Based on the results of the analysis, it is identified that language errors occur due to lack of language understanding, error in Japanese honorifics. This research is theoretically very useful in adding references for the study of language errors and can practically be used as a basic for learning Japanese, especially learning Kaiwa.
PELANGGARAN PRINSIP KERJA SAMA PADA KONTEN VIDEO KERY ASTINA DI TIKTOK: KAJIAN PRAGMATIK Fadhila Afiya; Riza Lupi Ardiati; Rosaria Mita Amelia; Nani Sunarni
Metahumaniora Vol 12, No 2 (2022): METAHUMANIORA, SEPTEMBER 2022
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/metahumaniora.v12i2.37670

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan wujud pelanggaran prinsip kerja sama pada konten video Kery Astina di aplikasi Tiktok sekaligus menginterpretasikan makna implikatur dari tuturan yang melanggar prinsip kerja sama pada konten video Kery Astina di aplikasi Tiktok. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Sumber data yang digunakan pada penelitian ini berupa sebuah video yang cukup viral. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik simak dan catat. Teknik yang digunakan untuk menganalisis data adalah teknik kualitatif yang dimulai dengan cara mengumpulkan data, mereduksi data, penyajian data, dan verifikasi serta penarikan simpulan. Pendekatan yang digunakan dalam menganalisis data adalah pendekatan pragmatik berdasarkan teori dari Grice (1989). Hasil penelitian menunjukkan terdapat wujud pelanggaran prinsip kerja sama dengan 3 jenis maksim, yaitu maksim kuantitas, maksim kualitas, dan maksim relevansi. Sementara makna implikatur dari setiap tuturan adalah berbeda sesuai dengan konteks yang ada pada tuturan.
Fungsi Pragmatik Permainan Kata pada Wacana Iklan Audiovisual “Santarou” Berbahasa Jepang Ilham Hijrah Mustaqim; Nani Sunarni; Agus Suherman Suryadimulya
Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya Vol 6 No 2 (2023)
Publisher : Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/diglosia.v6i2.648

Abstract

Wordplay or paronomasia is a type of verbal humor based on the ambiguity between two similar-sounding words or one word with multiple meanings. Wordplay is known for being used in advertisement, but it is still unclear what specific function it has in realizing the communicative purpose of the text, especially in regard to pragmatic function, that is, whether the text is informative, appellative, commissive, or contactive. This research aims to analyze how wordplay is used in the Japanese-language audiovisual advertisement titled “Santarou” and identify its pragmatic functions. It is qualitative research using the observation method for data collection and the identity method for data analysis. The results indicate that wordplay could be used to indirectly discuss the product being offered with ambiguous utterances in the case of informative and appellative advertisements, to connect the situation depicted in the advertisement with the product in the case of commissive advertisement, and to attract the audience’s attention and associate a characteristic with the brand in the case of contact advertisement.