Andri Suprayogi
Departemen Teknik Geodesi, Fakultas Teknik Universitas Diponegoro

Published : 133 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

ANALISIS KETELITIAN DSM KOTA SEMARANG DENGAN METODE INSAR MENGGUNAKAN CITRA SENTINEL-1 Handaru Aryo Suni; Bambang Darmo Yuwono; Andri Suprayogi
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 8, Nomor 3, Tahun 2019
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1032.516 KB)

Abstract

ABSTRAK Perkembangan teknologi yang pesat menyebabkan semakin berkembang pula teknologi dalam bidang pemetaan. Terdapat banyak metode yang dapat dilakukan untuk mendapatkan data elevasi, seperti pengukuran terestris yang menghasilkan peta kontur, fotogrametri, atau menggunakan metode pengindraan jauh khususnya dengan menggunakan citra radar dengan metode pengolahan InSAR.  Metode InSAR selain dapat digunakan untuk pembuatan informasi ketinggian dapat juga digunakan untuk pembuatan peta deformasi (Pepe, A. dan Calo, F. 2017), identifikasi longsor (Kang, Y. dan Zhao, C, 2017), dan dapat dikombinasikan dengan metode lain seperti pengukuran GPS untuk pengamatan penurunan muka tanah (Yuwono, B, D, dkk. 2018). Informasi ketinggian (elevasi) dapat berupa tabel koordinat, peta kontur, ataupun model elevasi digital. Informasi ketinggian dapat diaplikasikan pada banyak hal, seperti : pembuatan peta jaringan sungai, analisis daerah rawan longsor, perencanaan jaringan jalan, pemetaan daerah rawan banjir, pembuatan peta deformasi, bahkan hingga keperluan militer. Kota Semarang sebagai salah satu kota pusat pemerintahan dan pusat industri di Pulau Jawa sangat membutuhkan data ketinggian untuk menunjang proses pengembangannya. Data ketinggian dapat digunakan untuk perencanaan tata guna lahan, manajemen drainase, jaringan air bersih, jaringan jalan, identifikasi daerah rawan bencana longsor di Kota Semarang. Hasil dari penelitian ini didapatkan DSM dengan selisih ketinggian 0,148 meter sampai 203,558 meter dengan ketelitian 52,381 meter dengan standar deviasi 35,386 meter.
ANALISIS PERUBAHAN KERAPATAN VEGETASI HUTAN JATI DENGAN METODE INDEKS VEGETASI NDVI (Studi Kasus: Kawasan KPH Randublatung Blora) Arif Witoko; Andri Suprayogi; Sawitri Subiyanto
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 3, Nomor 3, Tahun 2014
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1530.761 KB)

Abstract

ABSTRAK            Sebagian besar wilayah Kabupaten Blora merupakan hutan, terutama hutan jati. KPH Randublatung merupakan KPH terbesar di wilayah Kabupaten Blora. Penebangan liar (illegal logging) di kawasan KPH Randublatung menyebabkan berkurangnya jumlah pohon jati dan luas vegetasi hutan jati. Akibat dari berkurangnya vegetasi hutan jati dapat menyebabkan perubahan musim yang tidak menentu dan beberapa fauna hutan kehilangan habitatnya.            Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perubahan luas dan kerapatan vegetasi hutan jati di kawasan KPH Randublatung. Metode yang digunakan untuk mengetahui untuk mengetahui kerapatan vegetasi hutan jati yaitu berdasarkan analisis indeks vegetasi NDVI (Normalized Difference Vegetation Indeks) dengan menggunakan citra Landsat 7 ETM+ tahun perekaman 2000 dan 2011.            Berdasarkan dari hasil pengolahan data, pada tahun 2000 luas vegetasi hutan jati di kawasan KPH Randublatung seluas 25.528,33 ha, dengan tingkat kerapatan sedang memiliki nilai tertinggi yang didapat dari analisis indeks vegetasi NDVI yaitu seluas 10.815,45 ha. Sedangkan pada tahun 2011 luas vegetasi hutan jati di KPH Randublatung seluas 12.451,37 ha, dengan tingkat kerapatan jarang memiliki nilai tertinggi yaitu seluas 5.105,77 ha. Dengan demikian dari tahun 2000 sampai dengan tahun 2011 tutupan lahan vegetasi hutan jati di kawasan KPH Randublatung mengalami perubahan seluas 13.076,96 ha. Kata Kunci :  kerapatan vegetasi, hutan jati, NDVI, citra Landsat 7 ETM+, KPH Randublatung ABSTRACTMost of the area Blora Regency is covered by forest, especially Jati forests. Unity Forest Perhutani Officials (KPH) Randublatung is the largest KPH in the Blora Regency. Illegal logging in the KPH Randublatung result in less quantity of Jati trees and large of forest vegetation. As a result of the reduced Jati forest vegetation can cause errotic seasonal changes and some animal loss their cage.This study aims to determine the change in the density of vegetation and extensive Jati forests in the KPH Randublatung. The method used to determine the density of the forest vegetation to determine the identity that is based on the analysis of vegetation index NDVI (Normalized Difference Vegetation Index) using image Landsat 7 ETM + recording in 2000 and 2011.Based on the results of data processing, in 2000 area forest vegetation in the KPH Randubltung of 25.528.33 ha, with does not too heavy density has the highest value obtained from the analysis of vegetation index NDVI is an area of 10.815,33 ha. Meanwhile in 2011 area forest vegetation in the KPH Randublatung of  12.451,37 ha, with rare densities has highest value area of 5.105,77 ha. Thus from 2000 to 2011 land cover Jati forest vegetation in the KPH Randublatung changing area of 13.076,96 ha. Keywords :  density of vegetation, jati forest, NDVI, image Landsat 7 ETM +, KPH Randublatung
PETA SEBARAN WISATA KABUPATEN KENDAL BERBASIS SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS (Studi Kasus Kabupaten Kendal) Wisnu Hanggoro; Sawitri Subiyanto; Andri Suprayogi
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 6, Nomor 4, Tahun 2017
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (458.054 KB)

Abstract

ABSTRAK            Sebagai salah satu wilayah yang ada  di Provinsi Jawa Tengah, Kendal adalah salah satu Kabupaten yang juga dikenal dengan kota santri, Kabupaten Kendal memiliki beraneka ragam tempat wisata dengan bergbagai keunikan seni budaya ,kuliner dan kerafian lokal masyarakat, dari berbagai macam wisata tersebut terdapat beberapa tempat wisata yang masih tersembunyi yang artinya akses menuju tempat - tempat wisata tersebut masih ada yang belum mengetahui, oleh karena itu di perlukan Peta Sebaran Wisata Kabupaten Kendal Berbasis Sistem Informasi Geografis yang bertujuan memudahkan masyarakat untuk mengetahui lokasi tempat wisata di Kabupaten Kendal.         Pembuatan Peta Persebaran tempat wisata alam yaitu dengan software SIG Metode yang digunakan adalah dengan menggunakan SIG dan melakukan survei lapangan berupa pengambilan koordinat menggunakan GPS.          Tujuan dari penelitian tugas akhir ini adalah untuk mengetahui tempat - tempat wisata alam di Kabupaten Kendal . Dan juga untuk memberikan informasi yang didapat dari instansi pemerintah terhadap lokasi tempat wisata yang didapat dari observasi di lapangan dari lokasi tempat wisata yang ada sehingga dapat diakses oleh khalayak umum.
PEMBUATAN APLIKASI PENGOLAH KOMPONEN PASUT METODE PERATAAN KUADRAT TERKECIL BERBASIS WEB Agung Setiawan; Andri Suprayogi; Arief Laila Nugraha
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 2, Nomor 3, Tahun 2013
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (278.976 KB)

Abstract

Pengamatan pasang surut laut merupakan fungsi dari lamanya waktu pengamatan dan mempunyai cara pengamatan yang disesuaikan dengan teknik pengambilan data yang akan digunakan. Teknik pengambilan data secara oseanografik dilakukan di tepi pantai dimana data pengamatan pasang surut berupa ketinggian permukaan laut yang diambil dengan interval waktu tertentu.Dalam penulisan tugas akhir ini akan dikaji penentuan konstanta harmonik pasut laut menggunakan web (Web Based) sebagai sarana untuk mengeksekusinya, dengan metode analisis harmonik teknik kuadrat terkecil (least square). Karena kemampuan web based dapat menjalankan aplikasi berbasis web dimanapun kapanpun tanpa harus melakukan penginstalan program merupakan kelebihan dari aplikasi ini.Setelah menyelesaikan tugas akhir ini, maka didapat kesimpulan telah dibangunnya aplikasi yang memudahkan pengguna khususnya untuk menghitung konstanta komponen-komponen pasut yang nantinya dapat digunakan untuk menghitung Mean Sea Level, Higher High Water Level, Lower Low Water Level, atau keperluan lain yang berhubungan dengan survei Hidrografi. Hasil dari penelitian ini nantinya dapat digunakan untuk keperluan navigasi kapal, sebagai landasan penanggulangan rob atau sebagai pengambilan keputusan yang berkaitan dengan survei hidrografi lainnya.Kata Kunci : Pasang surut, kuadrat terkecil, Web based
ANALISIS ARAH DAN PREDIKSI PERSEBARAN FISIK WILAYAH KOTA SEMARANG TAHUN 2029 MENGGUNAKAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS DAN CA MARKOV MODEL Lydia Fadilla; Sawitri Subiyanto; Andri Suprayogi
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 6, Nomor 4, Tahun 2017
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (513.852 KB)

Abstract

ABSTRAK       Kota Semarang merupakan Ibu Kota Provinsi Jawa Tengah, Kota Semarang mempunyai luas wilayah 373.70 Km². Dalam beberapa tahun terakhir, perkembangan Semarang ditandai pula dengan munculnya beberapa gedung pencakar langit di beberapa sudut kota. Dengan jumlah penduduk sekitar 1.5 juta jiwa dan 76.06% bekerja di sektor jasa, membuat Kota Semarang berkembang pesat sehingga menyebabkan tingginya pertumbuhan kawasan permukiman maupun kawasan industri perdagangan. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan arah persebaran fisik Kota Semarang dari tahun 2005-2017 serta menentukan kesesuaian prediksi arah persebaran fisik Kota Semarang tahun 2029 dengan Model Cellular Automata (CA) Markov terhadap RTRW Kota Semarang.      Penelitian ini menitik beratkan pada kawasan permukiman dan kawasan industri dengan memanfaatkan Sistem Informasi Geografis (SIG) untuk menganalisis arah perubahan penggunaan lahan yang terjadi pada tahun 2005- 2017.  Dan CA Markov Model untuk meodelkan prediksi penggunaan lahan Kota Semarang pada tahun 2029. Citra yang digunakan adalah Citra Landsat-7 tahun 2005 dan 2011 serta Citra Landsat-8 tahun 2017.      Hasil dari Overlay menyatakan pertumbuhan penggunaan lahan Kota Semarang tahun 2005-2011 seluas 3254.416 Hektar deengan lahan kosong sebesar 69%, permukiman sebesar 21% dan industri 3.2%. Pada tahun 2011-2017 perubahan penggunaan lahan seluas 6067.674 Hektar. Permukiman sebesar 54%, lahan kosong sebesar 36%, dan kantor sebesar 3%. Dari hasil analisis kesesuaian CA Markov Model dengan RTRW pada kelas lahan permukiman, lahan industri dan lahan kosong sebanyak 56.931% dinyatakan tidak sesuai dan 43.07%. lainnya sesuai. Dengan tingkat kepercayaan >40% (0.40) yang dinyatakan cukup baik.
PENENTUAN LOKASI POTENSIAL PENGEMBANGAN KAWASAN INDUSTRI MENGGUNAKAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS DI KABUPATEN SUKOHARJO Albertus Indra Bagus Cahyadi; Andri Suprayogi; Fauzi Janu Amarrohman
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 7, Nomor 1, Tahun 2018
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (508.659 KB)

Abstract

ABSTRAK           Kabupaten Sukoharjo memiliki kelebihan untuk dapat dijadikan model pembangunan kawasan industri. Hal ini, dikarenakan letak wilayahnya yang berada dekat dengan Kota Solo dan termasuk wilayah yang strategis dan fungsional untuk mendirikan sebuah kawasan industri. Untuk mendorong pertumbuhan sektor industri agar menjadi lebih terarah, terpadu dan memberikan hasil guna yang lebih optimal, maka dibutuhkan pengembangan kawasan industri. Pengembangan kawasan industri merupakan kategori aspek spasial yang mana diperlukan sebuah metode untuk menyajikannya. Salah satu metode yang digunakan adalah Sistem Informasi Geografis (SIG). SIG merupakan langkah yang tepat dalam menyajikan aspek spasial (keruangan). Dalam hal ini SIG mempunyai manfaat yang dapat digunakan untuk mengetahui tingkat potensi lahan pengembangan kawasan industri di Kabupaten Sukoharjo. Kawasan industri yang diteliti merupakan semua jenis industri dengan luas minimal 20 ha dan masuk kedalam industri besar. Penelitian ini mempertimbangkan tujuh parameter untuk menunjang dalam pengembangan kawasan industri, yaitu kemiringan lereng, penggunaan lahan, jenis tanah, jarak lahan terhadap jalan utama, jarak lahan terhadap sungai, jarak lahan terhadap fasilitas umum serta aksesbilitas jalan terhadap lahan. Data tersebut kemudian diidentifikasi dengan menggunakan metode AHP (Analytical Hierarchy Process) untuk menunjukkan besar bobot yang mempengaruhi untuk masing-masing parameter. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah peta potensi lahan untuk kawasan indusrtri. Tingkat potensi lahpan untuk pengembangan kawasan industri di Kabupaten Sukoharjo dibagi menjadi lima kelas, yaitu sangat sesuai (S1) sebesar 2,176 %, cukup sesuai (S2) sebesar 18,382  %, sesuai marginal sebesar (S3) 48,715 %, tidak sesuai pada saat ini (N1) sebesar 29,343 % dan 1,384 % untuk tidak sesuai permanen (N2). Dari hasil analisis, diperoleh peta potensi lahan baru untuk dikembangkan sebagai kawasan industri selain kawasan RTRW di Kabupaten Sukoharjo seluas 450,887 ha. Kata Kunci: AHP, Kabupaten Sukoharjo, Potensi Lahan Industri, SIG                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                 ABSTRACT           Sukoharjo District has advantages to be used as a model of industrial estate development. This is due to the location of its territory which is close to Solo City and includes a strategic and functional area to establish an industrial estate. To encourage the growth of industrial sector to become more focused, integrated and provide more optimal results, it is necessary to develop industrial estate. Industrial estate development is a spatial aspect category which requires a method to present it. One of the methods used is Geographic Information System (GIS). GIS is an appropriate step in presenting the spatial aspect. In this case GIS has benefits that can be used to determine the level of potential land for industrial development in Sukoharjo District. The industrial areas studied are all types of industries with a minimum area of 20 ha and entered into large industries. This study considers seven parameters to support in the development of industrial estate, ie slope, land use, soil type, land distance to main road, distance of land to river, distance of land to public facilities and road accessibility to land. The data is then identified using the AHP (Analytical Hierarchy Process) method to show the magnitude of the weights that affect for each parameter. The results obtained from this research are land potential map for industrial area. The level of land potential for industrial estate development in Sukoharjo Regency is divided into five classes, which is very suitable (S1) of 2,176 %, quite appropriate (S2) of 18,382 %, marginally equal (S3) 48,715 %, not appropriate at this time (N1) of 29,343 % and 1,384 % for permanent non-conformity (N2). From the analysis result, obtained a map of potential new land to be developed as an industrial area other than RTRW area in Sukoharjo Regency is 450,887 hectar. Keywords : AHP, Sukoharjo District, Industrial Land Potential, SIG
ANALISIS KESESUAIAN LAHAN TAMBAK MENGGUNAKAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS (Studi Kasus : Kecamatan Brangsong, Kabupaten Kendal, Provinsi Jawa Tengah) Diah Ratna Setianingrum; Andri Suprayogi; Hani'ah ,
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 3, Nomor 2, Tahun 2014
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (740.304 KB)

Abstract

AbstrakKesesuaian lahan merupakan salah satu aspek yang menentukan keberhasilan kegiatan budidaya tambak di wilayah pesisir. Budidaya tambak memiliki komponen keruangan serta perbedaan karakteristik biofisik dan sosial-ekonomi dari setiap lokasi. Banyak tambak intensif belum memanfaatkan kelebihan Sistem Informasi Geografis (SIG) dalam melakukan pemilihan lokasi dan pengelolaan budidaya, dimana hal tersebut penting dilakukan untuk menghindari kegagalan usaha.Penelitian ini menggunakan metode survei untuk pengambilan data parameter kualitas air (keasaman/pH, suhu, salinitas, oksigen terlarut/DO, nitrat, dan fosfat). Untuk analisis kesesuaian lahan tambak menggunakan metode skoring, parameter kualitas air masing-masing diberi bobot dan skor yang kemudian dibedakan menjadi 4 kelas kesesuaian lahan yaitu kelas S1 (Sangat Sesuai), S2 (Cukup Sesuai), S3 (Sesuai Bersyarat), dan N (Tidak Sesuai).Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa lahan tambak di Kecamatan Brangsong berada di kelas S1 (Sangat Sesuai) dan S2 (Cukup Sesuai), dengan luas S1 sebesar 85,41 ha (39,68%) dan S2 129,84 ha (60,32%). Dari perhitungan persentase jumlah produksi ikan per luas wilayah tambak menunjukkan bahwa tambak di Kecamatan Brangsong cocok untuk budidaya lele. Namun, dengan perawatan tambak yang memadai, tambak di Brangsong sangat potensial untuk budidaya bandeng dan udang yang bernilai ekonomis tinggi. Ditinjau dari data jumlah produksi ikan tahun 2009-2012 menunjukkan produksi ikan tidak mengalami kenaikan. Beberapa faktor yang mempengaruhi hal ini antara lain : kondisi area tambak yang kotor, kondisi ekonomi petani tambak yang kurang memadai, dan kondisi cuaca yang buruk.Kata kunci : SIG, kesesuaian lahan, budidaya tambak                                            Abstract                                   Land suitability is one aspect that determines the success of ponds aquaculture activities in the coastal areas. Ponds aquaculture has a spatial component and differences in the biophysical and socio-economic characteristics of each location. Many intensive ponds have not taken advantage of Geographic Information System (GIS) in site selection and management of cultivation, where it is important to avoid business failure.This study used a survey method for data retrieval of water quality parameters (acidity/pH, temperature, salinity, dissolved oxygen/DO, nitrate, and phosphate). For pond land suitability analysis using scoring method, water quality parameters were each given weights and scores then divided into 4 land suitability classes namely S1 (Highly Suitable), S2 (Moderately Suitable), S3 (Suitable Conditional), and N (Not Suitable).The results obtained showed that the ponds in coastal areas of Brangsong District are in class S1 (Highly Suitable) and S2 (Moderately Suitable), with an area of S1 85,41 ha (39,68%) and S2 129,84 ha (60,32%). From the calculation of the percentage of the total production of fish per pond area indicates that ponds in the Brangsong District suitable for catfish farming. However, with adequate treatment ponds, ponds in Brangsong are potential for aquaculture of milkfish and shrimp with high economic value. Judging from the data on the number of fish production in 2009-2012 showed no increase on  fish production. Some of the factors that influence it, among others : the conditions of the dirty ponds ares, the economic condition of farmers embankment inadequate, and adverse weather conditions.Keywords : GIS, land suitability, ponds aquaculture*)Penulis Penanggung Jawab
DESAIN PENGEMBANGAN APLIKASI PEROLEHAN SUARA HASIL PEMLIHAN UMUM 2019 MENGGUNAKAN WEBGIS (STUDI KASUS : KECAMATAN DEMAK, KABUPATEN DEMAK ) Rizqi Umi Rahmawati; Arief Laila Nugraha; Andri Suprayogi
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 8, Nomor 4, Tahun 2019
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (726.901 KB)

Abstract

Pemilihan umum adalah proses memilih orang untuk mengisi jabatan-jabatan politik tertentu. Pemilihan umum dilakukan dengan memberikan suara pada tempat pemungutan suara. Tempat pemungutan suara atau biasa disebut dengan TPS adalah tempat pemilih memberi suara dan mengisi surat suara mereka dalam pemilihan umum. Jumlah seluruh kelurahan/ desa di Kecamatan Demak yaitu 19 daerah, sehingga dibutuhkan suatu tahapan yang memakan waktu lama dalam pelaksanaanya. Banyak penduduk yang hanya mengerti hasil akhir pemilu namun tidak mengerti hasil pemilu setiap TPS dan posisi TPS tersebut. Hal ini membutuhkan suatu sistem untuk menentukan informasi mengenai hasil perolehan suara pada setiap TPS beserta posisi TPSnya yang disebut Sistem Informasi Geografis (SIG).Data yang diambil berasal dari data perhitungan langsung, sehingga aplikasi yang dibuat peneliti memberikan informasi lebih jelas, lengkap, dan bersifat umum, sehingga dapat diakses oleh siapapun dan informasi mengenai hasil pemilu dapat tersosialisasikan dengan baik. Peneliti memanfaatkan sistem informasi geografis berbasis web untuk memetakan hasil pemilu 2019 dengan studi kasus di 10 desa/ kelurahan dengan penduduk yang memiliki hak pilih paling banyak di  Kecamatan Demak. Peneliti menggunakan software Carto dengan basis data Mysql. Website ini terdapat informasi mengenai persebaran TPS dan visualisasinya serta hasil pemilu serentak 2019 di Kecamatan Demak, Kabupaten Demak. Setelah dilakukan pengujian sistem didapatkan hasil bahwa website tersebut dapat diakses di  semua browser, dan pada pengujian usability menunjukkan efektivitas aplikasi mendapatkan nilai kepuasan 89,3% serta efisiensi mendapatkan nilai kepuasan 90,2%. Maka dapat dikatakan responden sangat puas dengan website. Kata Kunci : Carto, Mysql, SIG, TPS ABSTRACTElection is the process of choosing people to fill certain political positions. Elections are made by voting at the polling station. A polling station or commonly called a TPS is a place where voters vote and fill their ballots in general elections. The total number of Kelurahan / Desa in Demak Subdistrict is 19 regions, so we need a stage that takes a long time to implement. Many residents only understand the final election results but do not understand the election results for each polling station. This requires a system to determine information about candidates and parties submitted and the results of the majority of votes at each polling station and the position of the polling station.The data taken comes from direct calculation data, so that applications made by researchers provide clearer, more complete, and general information, so that it can be accessed by anyone and information about election results can be well socialized. Researchers used a web-based geographic information system to map the results of the 2019 elections with case studies in 10 villages with the most voting rights in Demak District. Researchers used Carto software with MySQL database.On this website there is information about the distribution of polling stations and its visualization as well as the results of the 2019 simultaneous elections in Demak District, Demak Regency. After testing the system, the results show that the website can be accessed in all browsers, and the usability test shows the effectiveness of applications to get a satisfaction rating of 89.3% and efficiency of getting a satisfaction rating of 90.2%. Then it can be said that respondents are very satisfied with the website.
ANALISIS HUBUNGAN VARIASI LAND SURFACE TEMPERATURE DENGAN KELAS TUTUPAN LAHAN MENGGUNAKAN DATA CITRA SATELIT LANDSAT (Studi Kasus : Kabupaten Pati) Anggoro Wahyu Utomo; Andri Suprayogi; Bandi Sasmito
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 6, Nomor 2, Tahun 2017
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (653.093 KB)

Abstract

ABSTRAKPerkembangan teknologi penginderaan jauh ditandai dengan semakin banyaknya satelit yang digunakan untuk keperluan studi sehingga mendorong pemanfaatannya dalam berbagai bidang. Satelit Landsat milik NASA dalam perkembangannya telah menghasilkan beberapa generasi, di antaranya adalah Landsat 7 dan yang terbaru Landsat 8. Satelit Landsat 8 merupakan misi kelanjutan dari Landsat 7, karakteristik kedua satelit tersebut hampir sama dalam hal resolusi spasial, spektral dan temporalnya serta karakteristik sensornya. Sensor pada satelit ini dilengkapi inframerah thermal yang dapat mendeteksi suhu permukaan.Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Pati. Adapun data yang digunakan adalah data Landsat 7 dan Landsat 8. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan variasi antara land surface temperature dengan kelas tutupan lahan memanfaatkan teknologi penginderaan jauh yaitu metode klasifikasi terbimbing dan pengolahan suhu permukaan menggunakan metode mono-window brightness temperature. Hasil dari pengolahan tersebut akan dilakukan analisis spasial menggunakan zonal statistic, dimana hasilnya adalah nilai minimal, maksimal, rata-rata dan range serta standar deviasi dari suhu permukaan di setiap satuan pemetaan tutupan lahan yang dihasilkan. Kemudian hasil dari nilai tersebut dilakukan perbandingan antara standar deviasi terhadap range, sehingga hasil dari perbandingan tersebut dapat digunakan untuk mengetahui variasi hasil olahan suhu permukaan terhadap tiap tutupan lahan yang dihasilkan.Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengolahan suhu permukaan didapatkan hasil suhu permukaan rata-rata pada wilayah penelitian untuk bulan Mei 2016 berkisar antara 29,020C; bulan Juni 2016 berkisar antara 23,000C dan bulan Juli 2016 berkisar antara 20,920C. Sedangkan hubungan antara land surface temperature dengan kelas tutupan lahan didapatkan hasil suhu tertinggi pada lahan terbangun dan suhu terendah pada kelas non pertanian. Untuk hasil variasi suhu permukaan paling rendah terdapat pada kelas Perairan, hal ini ditunjukkan oleh nilai rata-rata rasio antara 2σ terhadap range sebesar 17,16%. Sedangkan hasil variasi suhu permukaan paling tinggi terdapat pada kelas Non Pertanian, hal ini berdasarkan hasil dari rata-rata rasio antara antara 2σ terhadap range sebesar 22,23 %.Kata Kunci: Land Surface Temperature, Penginderaan Jauh, Satelit Landsat, Tutupan Lahan ABSTRACT                    The continued development of remote sensing technology is characterized by the increasing by number of satellites used for purposes of study that encourages utilization in a variety of fields. NASA Landsat satellite in its development has resulted in several generations, including the most recent Landsat 7 and Landsat 8. Satellite Landsat 8 is a continuation of the Landsat 7 mission, characteristics of the both satellites are almost the same in terms of spatial resolution, spectral and temporal as well as the characteristics of the sensor. Sensors on the satellite is equipped with thermal infrared that can detect surface temperatures.This research conducted in Pati regency. The data used are Landsat 7 and Landsat 8. The purpose of this research was to determine correlation between the variations of land surface temperature with the land cover classes by utilizing remote sensing technology that the method is supervised classification and surface temperature using mono-window brightness temperature method. The results of the processing will be analyzing spatial with zonal statistics, where the output is a minimum value, maximum, average, standard deviation and range of the surface temperature on each unit generated land cover mapping. The results of that value be conducted a comparison between the standard deviation of the range, so the results of these comparisons can be used to determine variations in the surface temperature of the processed results of each land cover generated. The results showed that the surface temperature in the area of research for the month of May 2016 ranged between 29,02°C; in June 2016 ranged between 23,00°C and in July 2016 ranged from 20,92°C. While the correlation between land surface temperatures with land cover classes is performed at the highest temperature encountered on building area and the lowest temperature in the non-agricultural classes. For the lowest surface temperature variations found in waters class, this is indicated by the value of the average ratio between 2σ of the range is 17.16%. While variations in surface temperature is highest on Non-Agricultural class, it is based on the results of the average ratio of between 2σ of the range is 22.23%.Keywords:  Land Cover, Land Surface Temperature, Landsat Satelite, Remote Sensing
ANALISIS KORELASI PERUBAHAN GARIS PANTAI KAWASAN PESISIR KOTA SEMARANG TERHADAP PERUBAHAN GARIS PANTAI PESISIR KABUPATEN DEMAK (DARI TAHUN 1989-2012) Rizqie Irfan; Andri Suprayogi; Hani'ah .
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 1, Nomor 1, Tahun 2012
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (560.231 KB)

Abstract

Wilayah pesisir merupakan sumber daya potensial yang banyak dijumpai di Negara kepulauan termasuk  Indonesia. Pesisir utara Jawa Tengah salah satunya yaitu  daerah Semarang yang berbatasan  sebelah timur dengan Demak.  Dinamika wilayah pesisir menjadi perhatian karena proses geomorfologi yang komplek, diantaranya perubahan garis pantai akibat proses abrasi dan akresi. Abrasi yang meningkat di pesisir Demak diduga akibat dari laju pembangunan yang timpang di pesisir Semarang, sehingga dapat diasumsikan perubahan garis pantai pesisir Semarang berkorelasi dengan perubahan garis pantai Kabupaten Demak. Penelitian ini menggunakan data citra satelit Landsat tahun 1989, tahun 1994, tahun 1997, tahun 2003, tahun 2008 dan tahun 2012 untuk mendeteksi perubahan garis pantai yang terjadi. Pada penelitian ini akan dihasilkan luas perubahan garis pantai antara tahun 1989-1994, tahun 1994-1997, tahun 1997-2003, tahun 2003-2008 dan tahun 2008-2012 yang didigitasi dari hasil pengolahan citra Landsat menggunakan rumus penentuan garis pantai BILKO, serta korelasi antara perubahan garis pantai di pesisir Semarang terhadap perubahan garis pantai pesisir Demak. Kata Kunci: Citra Satelit Landsat, Perubahan Garis Pantai, Korelasi.
Co-Authors ., Hani'ah Abdi Sukmono, Abdi Adinda Thana A. Pertiwi ADYVICTURA TINAMBUNAN Agung Setiawan Ahmad Syauqani Akhmad Didik Prastyo Albertus Indra Bagus Cahyadi Amran Nur Utomo Andreas Ardianto Prodjo Koesoemo Angga Sapto Aji, Angga Sapto Anggoro Wahyu Utomo Anisa Isna Yesiana Antoneta Yuanita Arief Laila Nugraha Arief Waskito Aji Arif Witoko Arizal Kawamuna, Arizal Arlina . Arwan Putra Wijaya Ary Nurhidayati Sugianto ATIKA MARWATI Aufan Niam Aulia Rizky Auliannisa Auliannisa Bagas Arif Widyagdo Bagas Setia Aji Bambang Darmo Yuwono Bambang Darmo Yuwono Bambang Septiana Bambang Sudarsono Bambang Sudarsono Bandi Sasmito Bashit, Nurhadi Bodro Sisvinta hayu Briandana Januar Aji Gunadi Bunga Roliesta Sari Dafid Januar Damar Ismoyo Danang Budi Susetyo Daud Panji Permana David Beta Putra Demi Stevany Diah Ratna Setianingrum DONY AGIL PRASETYO Dwi Arini Edi Ikhsan Emeralda Amirul Ariefa Endang Purwati EVAN BRILLIANTO Fadhlan Hamdi Fadlila Ananingtyas, Fadlila Fahrunnisa Wulandari Adininggar Fajar Dwi Hernawan Fajar Rusdyanto Fauzi Janu Amarrohman, Fauzi Janu Febrina Mutiara Rosita Pane Galuh Fitriarestu Santoso Gigih Pradana Gilang Andhika Surya J. Gilang Diva Pradana Giustia Puspa Geoda Grivina Yuliantika Gunita Mustika Hati Hana Sugiastu Firdaus Hana Sugiastu Firdaus, Hana Sugiastu Handaru Aryo Suni Hani'ah . Hani'ah . . Hani'ah Hani'ah Hani'ah, Hani'ah Haniah Haniah Hasan Basyri Henndry . Hot Parningotan Banjarnahor Ibrohim Shiddiq Ika Rahayu Wulansari Ikhlasul Amal Ahyani INNEKE ASTRID PITALOKA Johan Irawan Kemala Medika Putri Kurnia Darmawan Laode M Sabri Lea Kristi Agustina LM. Sabri Lukman Maulana Lydia Fadilla M Khoirul Baihaqi Maulvi Surya Gustavianto Mega Dwijayanti Meilina Fika Mayangsari Moehammad Awaluddin Moehammad Awwaluddin Moehammad Awwaluddin Muhamad Arif Debalano Muhamad Salahuddin Muhammad Alimsuardi Muhammad Annis Wichi Luthfina Muhammad Fitrianto Muhammad Hakqi Muhammad Iqbal Akhsin Muhammad Rifqi Andikasani Muhammad Ulya Muhammad, Rido Mutiaraning Pertiwi Narendra Sava Hanung Nasytha Nur Farah Nathania, Jessica Nia Rahmadhani Nurhadi Bashit Nurhadi Bashit Nyoman Winda Novitasari Olivia Sinaga Paundra Ksatrio Wahyutomo Pran Shiska, Pran Raden Putra Raihan Virgatama Ramadhan Susilo Utomo Randy Alihusni Wardana Ratih Kumala Dewi Rian Yudhi Prasetyo Ridwan Ageng Ashari Ridwan Aminullah Rifky Satrio Utomo Rifqi Najib Muzaka Rizal Adhi Pratama Rizki Putra Agrarian Rizqi Umi Rahmawati Rizqie Irfan Ryadi, Michael Vashni Immanuel Ryandana Adhiwuryan Bayuaji Saraswati, Galuh Febriana Sawitri Subiyanto Septian Dewi Cahyani SILALAHI, ERTHA Singgih Wahyu Nugroho Suardi Lubis Sulaiman Hakim Sinaga Sutomo Kahar Sutomo Kahar Taufik Eka Ramadhan, Taufik Eka TAUFIQ FITRIANSYAH ADI PRADANA Tri Afiebbawa Exactanaya Tsana’a Alifia Nauthika Tyas Arni Putri Ulifatus Sa'diyah Veri Pramesto Wahyu Darmawan Wahyu Nur Rohim Wicke Widyanti Santosa Wisnu Hanggoro Yonanda Simarsoit Yudo Prasetyo Yudo Prasetyo