Andri Suprayogi
Departemen Teknik Geodesi, Fakultas Teknik Universitas Diponegoro

Published : 133 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

ANALISIS IDENTIFIKASI KAWASAN KARST MENGGUNAKAN METODE POLARIMETRIK SAR (SYNTHETIC APERTURE RADAR) DAN KLASIFIKASI SUPERVISED Shiska, Pran; Prasetyo, Yudo; Suprayogi, Andri
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 6, Nomor 1, Tahun 2017
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1473.849 KB)

Abstract

ABSTRAKIndonesia mempunyai bentang alam yang sangat beragam, salah satunya adalah bentang alam karst.Di Kecamatan Cipatat terdapat bentang alam karst yang berada pada batu gamping formasi Rajamandala. Topografi kawasan karst Cipatat berbentuk bukit dantelah mengalami perubahan akibat penambangan karst. Dengan memanfaatkan pengindraan jauh aktif atau sistem RADAR dilakukan identifikasi kawasan karst. Saat ini masih sedikit yang mengembangkan metode klasifikasi citra berbasis RADAR untuk identifikasi geologi, khususnya di negara Indonesia yang beriklim tropis.Penelitian ini menggunakan citra ALOS PALSAR 1.1 dual polarisasi (HH, HV) tahun 2007-2008. Identifikasi karst menggunakan tiga parameter (Anisotropy, Entropy dan Alpha) dari metode dekomposisi polarimetrik H/α/A dimana masing-masing parameter merepresentasikan sifat fisik objek. Karst biasanya berada di bawah penutup lahan maka dilakukan klasifikasi dengan algoritma supervised wishart untuk klasifikasi tutupan lahan (non karst). Tutupan lahan ini digunakan untuk melihat keterkaitan hasil identifikasi kawasan karst dengan penutup lahan.  Validasi dilakukan dengan membandingkan koordinat geografis citra hasil identifikasi karst dengan koordinat citra pada Google Earth dan dibantu data geologi karst.Kawasan karst teridentifikasi seluas 533 Ha (2007) dan 1165 Ha (2008) dengan perubahan luas 632 Ha.  Diketahui karst termasuk tipe surface scattering, keacakan hamburan sedang dan kekasaran permukaan sedang. Kemudian kawasan karst paling banyak teridentifikasi pada tutupan lahan vegetasi jarang. Untuk kawasan non karst (tutupan lahan) diperoleh  nilai overall accuracy 53,83% dan kappa 46,13% (2007). Kemudian overlay accuracy 53,41% dan kappa 45,65%(2008). Hal ini mengindikasikan nilai akurasi kelas tutupan lahan tidak sesuai dengan kondisi lapangan yang sebenarnya. Namun hasil klasifikasi tersebut sudah bisa membedakan dengan baik antara lahan terbangun, perairan, dan vegetasi.Validasi spasial hasil identifikasi karst tidak menunjukan hasil yang baik. Hal ini dikarenakan banyak objek lain yang memiliki tipe scatter yang sama dengan karst.Kata Kunci : ALOS PALSAR, Dekomposisi H/α/A, Karst, Polarimetrik SAR, Wishart Supervised.ABSTRACTIndonesia has a very diverse landscape, one of them is karst landscape. In sub Cipatat karst landscapes are located on limestone formations Rajamandala. Cipatat shaped karst topography of the region and the hill has undergone changes due to mining karst. By utilizing remote sensing active or RADAR system to identify karst region. Currently there are still a few who develop RADAR based image classification method for the identification of geology, particularly in countries tropical Indonesia.This study uses ALOS PALSAR 1.1 dual polarization (HH, HV) in 2007-2008. for the identification of the karst region. Identification of karst uses three parameters (Anisotropy, Entropy and Alpha) of the decomposition method polarimetric H/α A which each parameters represents the physical properties of the object. Karst usually exist below land cover so classification is carried out by wishart supervised algorithm for land cover classification (non karst). Land cover is used to see how the results of the identification of karst area related with land cover. Validation is done by comparing the geographical coordinates of the image of the karst identification with the imagery in Google Earth coordinates and assisted karst geological data.Karst areas identified an area of 533 Ha (2007) and 1165 Ha (2008) with 632 ha area changes. Known karst include the type of surface scattering, the randomness of the medium scattering and moderate surface roughness. Then most of karst areas identified in land cover sparse vegetation. For non-karst area (land cover) values obtained overall accuracy 53.83% and kappa 46.13% (2007). Then overlay accuracy 53.41% and kappa 45.65% for 2008. This indicates the value of the accuracy of land cover classes do not correspond to actual field conditions. But the results of these classifications have been able to distinguish well between developed and undeveloped land, water, and vegetation. Validation karst spatial identification results did not show good results. This is because many other objects that have the same type of scatter with karst. Keywords: ALOS PALSAR, Karst, H/α/A Decomposition, SAR Polarimetric, Wishart SupervisedABSTRAKIndonesia mempunyai bentang alam yang sangat beragam, salah satunya adalah bentang alam karst.Di Kecamatan Cipatat terdapat bentang alam karst yang berada pada batu gamping formasi Rajamandala. Topografi kawasan karst Cipatat berbentuk bukit dantelah mengalami perubahan akibat penambangan karst. Dengan memanfaatkan pengindraan jauh aktif atau sistem RADAR dilakukan identifikasi kawasan karst. Saat ini masih sedikit yang mengembangkan metode klasifikasi citra berbasis RADAR untuk identifikasi geologi, khususnya di negara Indonesia yang beriklim tropis.Penelitian ini menggunakan citra ALOS PALSAR 1.1 dual polarisasi (HH, HV) tahun 2007-2008. Identifikasi karst menggunakan tiga parameter (Anisotropy, Entropy dan Alpha) dari metode dekomposisi polarimetrik H/α/A dimana masing-masing parameter merepresentasikan sifat fisik objek. Karst biasanya berada di bawah penutup lahan maka dilakukan klasifikasi dengan algoritma supervised wishart untuk klasifikasi tutupan lahan (non karst). Tutupan lahan ini digunakan untuk melihat keterkaitan hasil identifikasi kawasan karst dengan penutup lahan.  Validasi dilakukan dengan membandingkan koordinat geografis citra hasil identifikasi karst dengan koordinat citra pada Google Earth dan dibantu data geologi karst.Kawasan karst teridentifikasi seluas 533 Ha (2007) dan 1165 Ha (2008) dengan perubahan luas 632 Ha.  Diketahui karst termasuk tipe surface scattering, keacakan hamburan sedang dan kekasaran permukaan sedang. Kemudian kawasan karst paling banyak teridentifikasi pada tutupan lahan vegetasi jarang. Untuk kawasan non karst (tutupan lahan) diperoleh  nilai overall accuracy 53,83% dan kappa 46,13% (2007). Kemudian overlay accuracy 53,41% dan kappa 45,65%(2008). Hal ini mengindikasikan nilai akurasi kelas tutupan lahan tidak sesuai dengan kondisi lapangan yang sebenarnya. Namun hasil klasifikasi tersebut sudah bisa membedakan dengan baik antara lahan terbangun, perairan, dan vegetasi.Validasi spasial hasil identifikasi karst tidak menunjukan hasil yang baik. Hal ini dikarenakan banyak objek lain yang memiliki tipe scatter yang sama dengan karst.Kata Kunci : ALOS PALSAR, Dekomposisi H/α/A, Karst, Polarimetrik SAR, Wishart Supervised.ABSTRACTIndonesia has a very diverse landscape, one of them is karst landscape. In sub Cipatat karst landscapes are located on limestone formations Rajamandala. Cipatat shaped karst topography of the region and the hill has undergone changes due to mining karst. By utilizing remote sensing active or RADAR system to identify karst region. Currently there are still a few who develop RADAR based image classification method for the identification of geology, particularly in countries tropical Indonesia.This study uses ALOS PALSAR 1.1 dual polarization (HH, HV) in 2007-2008. for the identification of the karst region. Identification of karst uses three parameters (Anisotropy, Entropy and Alpha) of the decomposition method polarimetric H/α A which each parameters represents the physical properties of the object. Karst usually exist below land cover so classification is carried out by wishart supervised algorithm for land cover classification (non karst). Land cover is used to see how the results of the identification of karst area related with land cover. Validation is done by comparing the geographical coordinates of the image of the karst identification with the imagery in Google Earth coordinates and assisted karst geological data.Karst areas identified an area of 533 Ha (2007) and 1165 Ha (2008) with 632 ha area changes. Known karst include the type of surface scattering, the randomness of the medium scattering and moderate surface roughness. Then most of karst areas identified in land cover sparse vegetation. For non-karst area (land cover) values obtained overall accuracy 53.83% and kappa 46.13% (2007). Then overlay accuracy 53.41% and kappa 45.65% for 2008. This indicates the value of the accuracy of land cover classes do not correspond to actual field conditions. But the results of these classifications have been able to distinguish well between developed and undeveloped land, water, and vegetation. Validation karst spatial identification results did not show good results. This is because many other objects that have the same type of scatter with karst. *)  Penulis, Penanggung Jawab Keywords: ALOS PALSAR, Karst, H/α/A Decomposition, SAR Polarimetric, Wishart Supervised I.      PendahuluanI.1.          Latar Belakang Indonesia merupakan salah satu negara kepulauan yang mempunyai potensi sumber daya alam yang melimpah baik di darat maupun di laut. Tidak hanya hasil dari alam dan kandungan didalamnya, namun negara Indonesia juga mempunyai bentang alam yang sangat beragam, salah satunyaadalah bentang alam karst. Karst adalah suatu daerah yang mempunyai karakteristik relief dan drainase yang khas, terutama disebabkan oleh derajat pelarutan batu-batuannya yang intensif (Ford dan Williams, 1996).Salah satu daerah di Indonesia yang mempunyai bentang alam karst adalah kawasan karst Cipatat yang berada pada batu gamping formasi Rajamandala. Berdasarkan cacatan Badan Pengelolaah Lingkungan Hidup (BPLHD) Jawa Barat (2004), kawasan karst Cipatat merupakan kawasan dengan laju kerusakan signifikan. Topografi kawasan karst Cipatat berupa sebaran bukit karst dan sudah banyak mengalami perubahan. Sehingga kawasan ini cocok dijadikan sebagai bahan kajian, yaitu dengan memanfaatkan penginderaan jauh aktif atau Synthetic Aperture RADAR (SAR) untuk identifikasi kawasan karst.Data RADAR yang digunakan adalah ALOS PALSAR frekuensi L-band dengan panjang gelombang 15-30 cm sehingga dapat menembus atau penetrasi objek lebih dalam. Pada penelitian sebelumnya, data ini efektif untuk mengklasifikasi tutupan lahan dan terrain (Lee, J. dkk., 2004).  Data pada frekuensi L-band dengan metode OPCE lebih kuat dalam pemetaan daerah tertutup salju dari pada data dengan frekuensi C-band (Martini, A. dkk., 2004). Kemudian data dengan frekuensi L-band polarisasi penuh bisa mengidentifikasi sebaran mineral besi di dataran tinggi wilayah Amazon Brazil (Arnaldo, dkk., 2013). Penelitian-penelitian terebut menjadi landasan untuk melakukan penelitian terkait identifikasi kawasan karst menggunakan data ALOS PALSAR.Data ALOS PALSAR tidak hanya mempunyai frekuensi L-band tetapi juga berbagai polarisasi. Polarisasi tersebut berkaitan dengan intensitas backscatter objek. Penelitian ini menggunakan citra ALOS PALSAR 1.1 dual polarisasi (HH, HV) tahun 2007 dan 2008. Data diolah dengan metode polarimetrik H/α/A sehingga menghasilkan tiga parameter Entropy (H), Alpha (α), Anisotropy (A). Parameter tersebut merepresentasikan sifat fisik objek berdasarkan nilai eigen value dan vector matrik covariance. Sehingga parameter tersebut dijadikan sebagai parameter untuk identifikasi kawasan karst. Karst bukanlah penutup lahan maka dilakukan klasifikasi dengan algoritma supervised wishart untuk klasifikasi tutupan lahan (non karst). Tutupan lahan tersebut digunakan untuk mengetahui keterkaitan sebaran karst yang teridentifikasi dengan penutupan lahan.Oleh karena itu digunakan juga data ALOS PALSAR yang sama untuk mengahasi
STUDI PENGARUH KERAMBA JARING APUNG (KJA) TERHADAP KUALITAS AIR DI WADUK KEDUNG OMBO DENGAN CITRA LANDSAT-8 MULTITEMPORAL SILALAHI, ERTHA; Suprayogi, Andri; Sukmono, Abdi
Jurnal Geodesi Undip Volume 7, Nomor 4, Tahun 2018
Publisher : Jurusan Teknik Geodesi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (690.675 KB)

Abstract

Waduk Kedung Ombo merupakan sebuah bendungan raksasa terletak di Provinsi Jawa Tengah dimana dikelilingi oleh tiga kabupaten yaitu Kapupaten Grobogan, Kabupaten Sragen, dan Kabupaten Boyolali tepatnya di Kecamatan Geyer, Kabupaten Grobogan. Keberadaan Waduk Kedung Ombo dengan area yang begitu luas menjadikannya memiliki peranan yang sangat penting bagi masyarakat sekitar yaitu sebagai penyedia sumber air utama. Selain sebagai sumber air utama, Waduk Kedung Ombo juga memiliki peranan penting dalam sektor perikanan yaitu kegiatan budidaya ikan dengan menggunakan Keramba Jaring Apung (KJA) yang dimana jika berkembang pesat akan menimbulkan dampak negatif yaitu penurunkan kualitas perairan waduk. Pada penelitian ini pengambilan titik sampel dilakukan pada bulan April 2018 yang diambil secara acak pada perairan Waduk Kedung Ombo. Hasil sampling akan diuji di laboratorium dimana hasilnya akan digunakan dalam pengolahan algoritma masing-masing pada citra Landsat-8 dan pada KJA diperoleh perubahan jumlah untuk setiap tahunnya. Konsentrasi TSS dan kandungan klorofil-a yang diperoleh digunakan untuk mengetahui distribusi pencemaran dan kesuburan air yang nantinya dikaitkan dengan perubahan jumlah KJA. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini menunjukkan bahwa perubahan luas KJA dari tahun 2013, 2014, 2016 dan 2018 mengalami kenaikan setiap tahunnya. Kualitas air waduk untuk tahun 2013, 2014, 2016 dan 2018, berada dalam keadaan memenuhi baku mutu dan berstatus trofik oligotrof. Berdasarkan rentang nilai klasifikasi pencemaran air, konsentrasi TSS tertinggi tahun 2013 berada pada rentang 0 – 100 mg/l, untuk tahun 2014 dengan rentang 100 – 500 mg/l, untuk tahun 2016 dan 2018 memiliki rentang sebesar  >1000 mg/l . Sedangkan berdasarkan rentang nilai klasifikasi kesuburan air, kandungan klorofil-a tertinggi dari tahun 2013, 2014, 2016 tetap berada pada rentang 2,6 – 7,3 mg/l dan pada tahun 2018 naik hingga berada pada rentang 7,3 – 56 mg/l. Dengan demikian konsentrasi TSS lebih menunjukkan kenaikan lebih signifikan dari pada kandungan klorofil-a yang artinya KJA lebih mempengaruhi secara signifikan terhadap konsentrasi TSS.
ANALISIS PERUBAHAN TUTUPAN LAHAN DAS BLORONG TERHADAP PENINGKATAN DEBIT MAKSIMUM SUNGAI BLORONG KENDAL Saraswati, Galuh Febriana; Suprayogi, Andri; Amarrohman, Fauzi Janu
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 6, Nomor 2, Tahun 2017
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (621.763 KB)

Abstract

ABSTRAK            DAS Blorong merupakan Daerah Aliran Sungai yang melintasi 2 kabupaten di Jawa Tengah yaitu Kabupaten Kendal dan Kabupaten Kota Semarang. Perubahan penggunaan DAS Blorong, dimana adanya perluasan kawasan dan perubahan lahan menjadi kawasan permukiman yang akan mengurangi kawasan peresapan air hujan dan mengakibatkan terjadinya peningkatan debit aliran Sungai Blorong di Kabupaten Kendal khususnya di bagian hilir DAS. Dalam beberapa tahun terakhir ini banjir yang diakibatkan oleh meluapnya sungai Blorong Kabupaten Kendal disebabkan oleh curah hujan yang tinggi dan meningkatnya besar debit maksimum yang melebihi kapasitas sungai, dikarenakan banyaknya perubahan lahan yang terjadi di kawasan tersebut.            Penelitian ini dilakukan dengan metode penginderaan jauh yaitu dengan interpretasi dan klasifikasi citra Landsat untuk memperoleh peta tutupan lahan, selanjutnya dilakukan perhitungan nilai koefisien run off berdasarkan kelas tutupan lahannya, kemudian dengan data intensitas hujan maksimum, dan luas daerah tangkapan air hujan dilakukan perhitungan debit maksimum dengan Metode Rasional.            Hasil penelitian menunjukkan bahwa tahun 2003–tahun 2013 peningkatan luas lahan terbesar terjadi pada kelas lahan permukiman yaitu sebesar 118,022 ha, dan lahan ladang mengalami penurunan luasan paling besar yaitu sebesar 52,539 ha. Pada tahun 2003–tahun 2013 nilai koefisien run off meningkat sebesar 0,029. Peningkatan nilai koefisien run off ini diikuti dengan peningkatan besarnya debit puncak atau debit maksimum sebesar 0,228 m³/dt. Kata Kunci : Tutupan Lahan, DAS, Koefisien run off, Debit Maksimum  ABSTRACTBlorong wateshed is across two districts in Central Java are Kendal and Semarang. Blorong watershed land cover changes, where the regional expansion and land cover changes into a resident areas that will reduce the water infiltration of rain and resulting in an increase in the river flow of blorong in the district of Kendal, especially in the downstream part of the watershed. In recent years the flood caused by the overflow of the river blorong of kendal caused by high rainfall and increasing the maximum discharge that exceeds the capacity of the river, due to a lot of land cover changes in the region.The research was carried out by remote sensing method is by interpretation and classificatio of Landsat imagery to obtain the land cover map, then was calculated of the run-off coefficient based on land cover classes, then with the maximum rainfall intensity data, and the wide catchment area was calculated the maximum discharge with Rasional method.The result of this research show that the largest increases occured in the area of settlement land class that is equal to 118,022 ha, and field class land area experienced the greatest decline in the amount of5 2,539 ha in 2003 to 2013. In 2003 – 2013 the run-off coefficient increased by 0,29. Increased run-off coefficient is followed by an increase of the peak discharge / maximum discharge of 0,228 m³/dt. Keyword : Land cover, Watershed, Run off coefficient, Maximum discharge
PEMODELAN POTENSI BENCANA TANAH LONGSOR MENGGUNAKAN ANALISIS SIG DI KABUPATEN SEMARANG Ramadhan, Taufik Eka; Suprayogi, Andri; Nugraha, Arief Laila
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 6, Nomor 1, Tahun 2017
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1165.483 KB)

Abstract

ABSTRAK Kabupaten Semarang merupakan salah satu daerah di Indonesia yang termasuk daerah yang rawan terjadi bencana. Data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Semarang, bencana yang sering terjadi di Kabupaten Semarang yakni tanah longsor, kekeringan, puting beliung, dan banjir.Dalam penelitian ini, telah dilakukan pembuatan pemodelan potensi bencana tanah longsor di Kabupaten Semarang dengan menggunakan metode analisis SIG dan metode skoring dan pembobotan dengan mengacu pada Permen PU No. 22/PRT/M/2007 tentang Pedoman Penataan Ruang Kawasan Rawan Bencana Longsor dan metode Analytical Hierarchy Proccess (AHP) dengan narasumber Kepala Seksi Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kabupaten Semarang.Dari Penelitian ini didapatkan hasil berupa, terdapat enam faktor penyebab potensi bencana tanah longsor di Kabupaten Semarang, yaitu tata guna lahan dengan bobot 20% untuk Permen PU dan 0,250 untuk AHP, curah hujan dengan bobot 20% untuk Permen PU dan 0,304 untuk AHP, kelerengan dengan bobot 25% untuk Permen PU dan 0,161 untuk AHP, Jenis Tanah dengan bobot 15% untuk Permen PU dan 0,131 untuk AHP, Keberadaan Sesar dengan bobot 10% untuk Permen PU dan 0,102 untuk AHP, dan Infrastruktur dengan bobot 10% untuk Permen PU dan 0,053 untuk AHP. Selanjutnya dari analisis Overlay peta potensi tanah longsor didapatkan tiga kelas potensi yaitu Tinggi dengan luas 18,641% untuk Permen PU dan  6,635% untuk AHP, Sedang dengan luas 51,455% untuk Permen PU dan 47,167% untuk AHP dan Rendah dengan luas 30,084% untuk Permen PU dan 46,199% untuk AHP. Kata Kunci : AHP, Permen PU, Skoring dan Pembobotan, SIG, Tanah Longsor.  ABSTRACT Semarang District is one of region in Indonesia which included in disaster prone-areas. Data from BPBD Semarang District’s mention that the most frequent disaster in Semarang District are Landslides, Droughts, Waterspouts, and Floods.This research has been conducted to create a modeling of potential landslides in Semarang District using GIS analysis method and Scoring and Weighting Method which refers to Permen PU No. 22/PRT/M/2007 on Guidelines Spatial Landslides Prone Areas and Analytical Hierarchy Proccess (AHP) method with the speaker is Section Chief of Prevention and Preparadness BPBD Semarang District.From this research showed there were six potential factors causing Landslides in Semarang District, that were Land Use with a weight of 20% for Permen PU and 0,250 for AHP, Precipitation with a weight of 20% for Permen PU and 0,304 for AHP, Slope with a weight of 25% for Permen PU and 0,161 for AHP, Soil Types with a weight of 15% for Permen PU and 0,131 for AHP, Presence Fault with a weight of 10% for Permen PU and 0,102 for AHP, and Infrastructure with a weight of 10% for Permen PU and 0,053 for AHP. Furthermore, from the Overlay analysis of potential landslides map obtained three classes of potential that were, High Potency with an area of 18,641% for Permen PU and 6,635% for AHP, Medium Potency with an area of 51,455% for Permen PU and 47,167% for AHP, and Low Potency with an area of 30,084% for Permen PU and 46,199% for AHP. Keywords : AHP, Permen PU, Scoring and Weighting, GIS, Landslides
SEMARANG CHARITY MAP, PENYAJIAN PETA DONASI SOSIAL KOTA SEMARANG BERBASIS BLOGGER JAVASCRIPT Rohim, Wahyu Nur; Awaluddin, Moehammad; Suprayogi, Andri
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1364.049 KB)

Abstract

AbstrakKebingungan seringkali dialami oleh para pegiat sosial, soal keterbatasan informasi mengenai kegiatan sosial, panti sosial, komunitas sosial dan data penyandang masalah kesejahteraan sosial yang selanjutnya kami sebut donasi sosial di Kota Semarang sedikit banyak menghambat mereka dalam melakukan manajemen donasi. Hingga akhirnya muncul pertanyaan-pertanyaan seperti berapa jumlah panti sosial di Kota Semarang, panti sosial mana yang paling dekat dari rumah, petunjuk jalan dari suatu tempat menuju lokasi kegiatan sosial, panti sosial dan komunitas sosial tertentu,berapa estimasi waktu tempuhnya dan berapa pulaestimasi jarak tempuhnya.Dalam penelitian tugas akhir ini dilakukan penyajian data donasi sosial ke dalam sebuah sistem informasi geografis online dengan menggunakan platform blogger dalam membangun situs dengan bahasa pemrograman Javascript dan HTML.Dalam pembuatan peta utama, peta panti sosial dan peta komunitas sosial, peneliti menggunakan software ArcGIS Desktop 10.sp1untuk mengelola basis data agar menjadi sebuah data vektor spasial.Data vektor spasial tersebut selanjutnya dikelola di ArcGIS Developer untuk menampilkanya ke dalam sebuah peta online dasar atau Web Map di situs ArcGIS Online.Beberapa fitur Web Map Application tersedia di dalam situs ArcGIS Online, salah satunya adalah fitur Directions. Sebuah fitur yang mampu memberikan informasi petunjuk jalan secara terperinci, estimasi jarak dan estimasi waktu kepada  pengguna dengan menggunakan nilai koordinat lintang bujur sebagai parameternya. Maka fitur Directions peneliti pilih untuk menyajikan peta online dasar donasi sosial. Setelah memastikan bahwa fitur Directionspada peta dasar online donasi sosial bekerja dengan baik, kemudian menampilkannya ke dalam situs dengan menggunakan bahasa pemrograman HTML memanfaatkan fungsi i frame. Sebelum situs di terbitkan, alamat situs dengan ekstensi .blogspot.com diubahke alamat pantisemarang.info. Kata Kunci: Peta Donasi Sosial, Semarang, ArcGIS Developer, Blogger, Javascript AbstractSocial workers often get stuck in confusion, limited information about social events, social house, social community and the data about social prosperity matter later named social donation in Semarang alittle bit more dragging them in conducting the donation management. Therefore, a number of questions come up such as how many social houses in semarang, which social house is closer to the housing, the path sign from a certain place to the events location, social houses, and certain social community, and also how much the time estimation and how many the distance estimation.In this final assignment research, the social donation data is presented in an online geographical information system by using the blogging platform in working out a site using the JavaScript and HTML programming system. In the process of making the main map, the social houses map, and the social community map, the researcher uses ArcGIS Desktop 10.sp1 software to manage the basis data to be a spatial vector data. The spatial vector data is processed by ArcGIS Developer to show it in the basic online map or Web Map in ArcGIS Online site.Some Web Map Application features is available in the ArcGIS Online site, one is the direction feature. A feature gives the path sign information in detail, the distance estimation and time estimation to the user by using the number of longitude-latitude coordinate as the parameter. After ensuring that the direction feature of the social donation basic online map works well, later it is showed in the site using the HTML programming system of frame function. Before the site is published, the site address of .blogspot.com extension is changed into pantisemarang.info. Keywords: Social Donation Mapping, Semarang, ArcGIS Developer, Blogger, Javascript
ANALISIS KORELASI PREDIKSI PERUBAHAN GENANGAN ROB TERHADAP PREDIKSI PERUBAHAN ZONA NILAI TANAH DI KECAMATAN SEMARANG UTARA Ikhsan, Edi; Suprayogi, Andri; ., Hani'ah
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 1, Nomor 1, Tahun 2012
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1445.985 KB)

Abstract

In the coastal region geomorphology process on going of a complex so that the is a dynamic system. Physical processes and human intervention to separate the pressure on coastal areas. Semarang coastal area including northern Semarang district has a sloping topography with a slope of 0-2%. With a sloping topography, the city of Semarang is very vulnerable to the impact caused by rising sea levels. One thing that often happens is that the flood tide (rob). If sea levels continue to rise, it can result in increasing the extent of inundation rob a place in the city of Semarang. So it can be assumed that the pool would rob correlated to the value of the land. This study used the mean sea  level data years 1985-2010 of  the final project Catur Julianto  in 2011, data reduction in the face of the land in Semarang, data from the spot height semarang topographic maps, data NJOP per meter of land in the district north Semarang years 1994-2011, and map of the zone  land value  in 2011.  This research will  rob  prediction  maps  generated  in 2015,  2020,  and 2025  in Semarang on Safe inundation scenarios, HHWL, MSL, and LLWL, rob our predictions in districts north Semarang  zone  land value,  the price of land according  to  land value zone code 2015, 2020, and 2025, and the correlation of changes rob a pool of predictions to changes in the soil zone. The results showed that the pool of rob in the city of Semarang each year will increase. The main cause is the decline in the face of earth is happening in the city of Semarang. While the value of land in areas prone to  rob  it  tends to go up  from  year  to year.  2015,  2020,  and 2025  is predicted to  be at  a maximum  price  of  AU  in the  village  code Dadapasari  and minimum  prices  are on  the  AW  code  Lor village  stage. While the  correlation of  changes in  the scenario  inundation  zone  rob  to changes in  the value of land in an area safe from inundation rob predicted by 94%, were flooded when HHWL by 82%, and were inundated when the MSL by 73%.
APLIKASI TERRESTRIAL LASER SCANNER UNTUK PEMANTAUAN DEFORMASI BANGUNAN (STUDI KASUS : TANGKI KLARIFIER PDAM KOTA SEMARANG) Muzaka, Rifqi Najib; Suprayogi, Andri; Nugraha, arief Laila
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1388.144 KB)

Abstract

ABSTRAK Teknologi Terrestrial Laser Scanner saat ini telah berkembang di bidang pemetaan. Dengan kelebihan yang ditawarkan oleh alat tersebut adalah kecepatan pengambilan data yang tinggi, tingkat akurasi yang tinggi dan ekonomis. Salah satu pemanfaatan teknologi Terrestrial Laser Scanner ini adalah untuk pemantauan terhadap deformasi dari bentuk bangunan. Dengan memanfaatkan data As Built Drawingsebagai data awal dan data Terrestrial Laser Scanner sebagai data terbaru.Pemantauan deformasi bentuk dilakukan dengan mengkaji perbandingan bentuk dari keadaan lampau bangunan dengan kondisi existing bangunan.Pada penelitian ini menggunakan FARO Laser Scanner Focus 3D Dengan dimensi 24x20x10 cm dan berat hanya 5 kg. Alat ini memiliki sudut ukuran horizontal sebesar 305o dan vertikal 360o. Pada penelitian ini scanning dilakukan terhadap salah satu aset dari PDAM Tirta MoedalKotaSemarang yakni tangki klarifier yang dikelola oleh divisi produksi PDAM Tirta MoedalKotaSemarang. Pengumpulan data penelitian ini dilakukan dengan scanning sebanyak 23 kali scanning terhadap dua tangki yang diberi kode IPA III dan IPA IV. Kemudian setelah data scanning diperoleh,  data tersebut diolah dengan menggunakan software Scene 5.2. Dengan berdasarkan pada gambar desain As Built Drawing yang dimiliki oleh PDAM Tirta MoedalKotaSemarang kemudian dapat dilakukan pengolahan sebagai pembanding mengenai kajian deformasi bangunan.Deformasi bentuk bangunan yang terjadi pada tangki yang di deteksi pada tangki PDAM Tirta MoedalKotaSemarang adalah rata-rata tinggi tangki 0,062m lebih panjang dan memiliki diameter rata-rata 0,092 m lebih panjang daripada gambar rencana As Built Drawing nya pada tangki unit IPA III. Serta, pada tangki unit IPA IV memiliki perbedaan tinggi rata-rata lebih pendek 0,025m diameter rata-rata lebih panjang 0,003 m, Serta pada tabung tangki IPA IV lainnya tinggi rata-rata lebih tinggi 0,054 m dan diameter rata-rata 0,022 m lebih pendek dari desain rencana atau As Built Drawing nya.Kata Kunci : Terrestrial Laser Scanner, As Built Drawing, Deformasi BangunanABSTRACTTerrestrial Laser Scanner technology has developining on mapping sector now. With high speed recording data, high accurate, and economical it was offered the advantage. One of terrestrial laser scanner utilization is for monitoring deformation shape of building. Usage the as built drawing data monitoring of deformation shape can detected. With inspecting past shape building and existing shape building condition. This research was using FARO Laser Scanner Focus 3D with dimension 24x20x10 cm and weight only 5 kg. This instrument has horizontals angle measurement in the around of  305o and 360 o at the vertical angle. At this research scanning process has been done toward one of Tirta Moedal Semarang City Water Company asset, the klarifier water tank has been managed by production division of Tirta Moedal Semarang City Water Company. Collecting research data has been scanning almost 23 times towards both of the tank wich has been coded IPA III and IPA IV. Then after scanning data was obtained, and processed by Scene 5.2 software. And then based on as built drawing design was obtained from Tirta Moedal Semarang City Water Company can do comparison processed related building deformation study. Deformation of building shapes have occurred on klarifier tank and detected on klarifier tank of Tirta Moedal Semarang City Water Company. Building deformation has detected high about 0,062 m longer than as built drawing and has diameter about 0,092 m longer than the as built drawing design of IPA III unit. At IPA IV tank unit has different high 0,025 m shorter than the as built drawing, and about 0,003 m longer than  as built drawing of IPA IV unit. And at the other IPA IV tank has height about 0,054 m and diameter about 0,022 m shorter than the as built drawing design.Keywords : Terrestrial Laser Scanner, As Built Drawing, Building deformation
Analisis Distribusi Klorofil A Dengan Pengaruhnya Terhadap Hasil Perikanan Menggunakan Metode Penginderaan Jauh ( Studi Kasus Pesisir Pantai Pesawaran Lampung ) ., Henndry; Suprayogi, Andri; Yuwono, Bambang Darmo
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 3, Nomor 1, Tahun 2014
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (860.197 KB)

Abstract

Indonesia memiliki bermacam-macam kekayaan alam yang melimpah, diantaranya adalah kekayaan sumber daya ikan baik di laut, sungai, maupun danau. Kabupaten Pesawaran adalah salah satu kabupaten di Provinsi Lampung, Indonesia. Kabupaten Pesawaran merupakan daratan dengan ketinggian yang bervariasi. Umumnya nelayan yang ada di perairan selatan Kabupaten Pesawaran  masih cenderung menggunakan intuisi yang didapat secara turun temurun untuk menentukan daerah penangkapan ikan. Nelayan seringkali pulang membawa hasil tangkapan yang sedikit bahkan terkadang kosong. Hal ini berpengaruh terhadap tingkat kesejahteraan mereka. Kelemahan tersebut pada prinsipnya telah menjadi perhatian para ahli, terutama untuk memaksimalkan upaya penangkapan di negara berkembang (Mustapha et al., 2010).Penelitian ini bersifat analisis deskriptif yaitu menjelaskan tentang persebaran klorofil A di wilayah pesisir pantai Kabupaten Pesawaran dan melakukan perbandingan dengan data statistik perikanan di daerah tersebut dalam kurun waktu tiga tahun pengamatan menggunakan citra Aqua-Modis tahun 2011, 2012 dan 2013. Hasil yang di dapat dari penelitian ini adalah perubahan klorofil dari tahun 2011 hingga tahun 2013 memiliki suatu pola yaitu selalu mengikuti perubahan musim yang terjadi di Indonesia seperti adanya musim kemarau dan musim penghujan. Pada musim kemarau yang terjadi antara januari 2011 dan juni 2011, jumlah klorofil dalam bentuk luasan  berjumlah 6.318,620 km2 Sedangkan pada musim penghujan yang terjadi pada bulan juli 2011 hingga desember 2011 berjumlah 12.725,120 km2Kata kunci: Klorofil, Perikanan, Aqua-Modis, Penginderaan Jauh
DETEKSI PERUBAHAN GARIS PANTAI DENGAN METODE BILKO DAN AGSO (STUDI KASUS KAWASAN PANTAI SELATAN PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA TAHUN 1997 SAMPAI TAHUN 2012) Cahyani, Septian Dewi; Suprayogi, Andri; Awaluddin, Moehammad
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 1, Nomor 1, Tahun 2012
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (157.244 KB)

Abstract

Coastline change detection in Yogyakarta Province conducted in 15 years (1997-2012)  utilizing Landsat satellite imagery in 1997, 2002, 2006, and 2012. According to Sudarsono, 2011 coastline is the meeting between the shore (land) and water (ocean). A certain water level was chosen to explain the position of the coastline, the water line (high water line) as the coastline and the line of low water (low water line) as a reference depth. The conclusion from the results of digitization and validation using GPS handeld tracking in the field in 2012 with Landsat image data are applied to the formula BILKO and AGSO obtained the best accuracy values ​​of 95% for BILKO formula. Average coastline change from the best formula is (1) Average coastline change in 1997-2002 caused by the abrasion of 212.20 Ha, and average result of the accretion of 107.89 Ha. (2) Average coastline change in 2002-2006 caused by the abrasion of 287.00 hectares, and average result of the accretion of 236.89 Ha. (3) Average year 2006-2012 coastline changes that occur due to abrasion of 379.50 Ha, and average result of the accretion of 250.07 Ha.   Key words : Landsat Satellite Imagery, Coastline Change
ANALISIS KESESUAIAN KAWASAN PERUNTUKAN PEMAKAMAN UMUM BARU BERBASIS SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS (SIG) (Studi Kasus : Kecamatan Tembalang, Kota Semarang) Aji, Angga Sapto; Suprayogi, Andri; Wijaya, Arwan Putra
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1091.01 KB)

Abstract

ABSTRAK Pertambahan penduduk yang terus meningkat serta keterbatasan lahan pemakaman umum di Kecamatan Tembalang menimbulkan permasalahan seperti kekurangan lahan makam. Untuk mengatasi masalah tersebut, maka dibutuhkan suatu perencanaan lokasi makam baru, agar kebutuhan masyarakat untuk lahan pemakaman tetap terpenuhi. Dalam merencanakan lokasi pemakaman umum baru, diperlukan suatu sistem informasi terstruktur yang terdiri dari aspek kebijakan, ekonomi, fisik, lingkungan, sosial dan budaya. Sistem tersebut dikenal dengan nama Sistem Informasi Geografis.Tahapan perencanaan lokasi makam baru dilakukan dengan menyusun berbagai kriteria utama, yaitu kriteria landuse, fisik, ekonomi dan ekologi.  Analytic Hierarchy Process (AHP) berbasis spasial, digunakan untuk menghitung bobot kriteria, kemudian bobot tersebut digunakan untuk memperoleh peta kesesuaian masing-masing kriteria. Dengan menggunakan perangkat lunak ArcGIS.10. dilakukan proses tumpang susun (overlay) terhadap peta kesesuaian masing-masing kriteria. Sehingga diperoleh hasil akhir berupa peta kesesuaian lokasi makam baru Kecamatan Tembalang, Kota Semarang. Dari hasil pembobotan AHP diperoleh besar pengaruh setiap parameter yaitu 56,99 % untuk kriteria landuse, 24,63 % untuk kriteria fisik, 12,13 % untuk kriteria ekonomi, dan 6,26 % untuk kriteria ekologi. Dari hasil proses overlay diperoleh lokasi dengan kategori sangat sesuai seluas 99.06 (ha), lokasi dengan kategori sesuai seluas 815.95 (ha), lokasi dengan kategori kurang sesuai seluas 1487.80 (ha), dan lokasi dengan kategori tidak sesuai seluas 1746.18 (ha). Kata Kunci : AHP , Lokasi pemakaman umum baru, SIG. ABSTRACT                 The increasing population and the limitation of public cemeteries in Tembalang caused problems such as lack of cemeteries area. To overcome this problem, it is needed a plan for new cemetery location so that it can be fulfilled for those who need it. As a plan for the location of new public cemeteries, it is required a system of structural informations which consists of aspects such as policy, economic, physical, environmental, social and cultural. This system is known as geographic information system.                A plan step for a new cemetery locations is doing by arranging the main criteria, i.e. land use type, physical, economic, and ecological. Analytic Hierarchy Process (AHP) based on spatial analysis was used to calculate weight criterion which the next is used to obtain a map of the suitability of each criterion. By using the ArcGIS 10, it was done the process of overlaying map by each suitability map which was appropriate to criteria so that can be obtained the convenient map for the cemetery locations in Tembalang, Semarang. The results can be acquired influenced by  those parameters with landuse, physical, economic, and ecological of 56.99%, 24,63%, 12, 13%, and 6.26%, respectively. By the overlaying process, it also can be obtained the results with the very suitable category  area, the corresponding category area, lacked category area, and inappropriate category area  of 99,06 Ha, 815.95 Ha, 487,80 Ha, and 1746,18 Ha, respectively.  Keyword: AHP , GIS, New Public Cemetry Location.  *) Penulis, Penanggungjawab
Co-Authors ., Hani'ah Abdi Sukmono, Abdi Adinda Thana A. Pertiwi ADYVICTURA TINAMBUNAN Agung Setiawan Ahmad Syauqani Akhmad Didik Prastyo Albertus Indra Bagus Cahyadi Amran Nur Utomo Andreas Ardianto Prodjo Koesoemo Angga Sapto Aji, Angga Sapto Anggoro Wahyu Utomo Anisa Isna Yesiana Antoneta Yuanita Arief Laila Nugraha Arief Waskito Aji Arif Witoko Arizal Kawamuna, Arizal Arlina . Arwan Putra Wijaya Ary Nurhidayati Sugianto ATIKA MARWATI Aufan Niam Aulia Rizky Auliannisa Auliannisa Bagas Arif Widyagdo Bagas Setia Aji Bambang Darmo Yuwono Bambang Darmo Yuwono Bambang Septiana Bambang Sudarsono Bambang Sudarsono Bandi Sasmito Bashit, Nurhadi Bodro Sisvinta hayu Briandana Januar Aji Gunadi Bunga Roliesta Sari Dafid Januar Damar Ismoyo Danang Budi Susetyo Daud Panji Permana David Beta Putra Demi Stevany Diah Ratna Setianingrum DONY AGIL PRASETYO Dwi Arini Edi Ikhsan Emeralda Amirul Ariefa Endang Purwati EVAN BRILLIANTO Fadhlan Hamdi Fadlila Ananingtyas, Fadlila Fahrunnisa Wulandari Adininggar Fajar Dwi Hernawan Fajar Rusdyanto Fauzi Janu Amarrohman, Fauzi Janu Febrina Mutiara Rosita Pane Galuh Fitriarestu Santoso Gigih Pradana Gilang Andhika Surya J. Gilang Diva Pradana Giustia Puspa Geoda Grivina Yuliantika Gunita Mustika Hati Hana Sugiastu Firdaus Hana Sugiastu Firdaus, Hana Sugiastu Handaru Aryo Suni Hani'ah . Hani'ah . . Hani'ah Hani'ah Hani'ah, Hani'ah Haniah Haniah Hasan Basyri Henndry . Hot Parningotan Banjarnahor Ibrohim Shiddiq Ika Rahayu Wulansari Ikhlasul Amal Ahyani INNEKE ASTRID PITALOKA Johan Irawan Kemala Medika Putri Kurnia Darmawan Laode M Sabri Lea Kristi Agustina LM. Sabri Lukman Maulana Lydia Fadilla M Khoirul Baihaqi Maulvi Surya Gustavianto Mega Dwijayanti Meilina Fika Mayangsari Moehammad Awaluddin Moehammad Awwaluddin Moehammad Awwaluddin Muhamad Arif Debalano Muhamad Salahuddin Muhammad Alimsuardi Muhammad Annis Wichi Luthfina Muhammad Fitrianto Muhammad Hakqi Muhammad Iqbal Akhsin Muhammad Rifqi Andikasani Muhammad Ulya Muhammad, Rido Mutiaraning Pertiwi Narendra Sava Hanung Nasytha Nur Farah Nathania, Jessica Nia Rahmadhani Nurhadi Bashit Nurhadi Bashit Nyoman Winda Novitasari Olivia Sinaga Paundra Ksatrio Wahyutomo Pran Shiska, Pran Raden Putra Raihan Virgatama Ramadhan Susilo Utomo Randy Alihusni Wardana Ratih Kumala Dewi Rian Yudhi Prasetyo Ridwan Ageng Ashari Ridwan Aminullah Rifky Satrio Utomo Rifqi Najib Muzaka Rizal Adhi Pratama Rizki Putra Agrarian Rizqi Umi Rahmawati Rizqie Irfan Ryadi, Michael Vashni Immanuel Ryandana Adhiwuryan Bayuaji Saraswati, Galuh Febriana Sawitri Subiyanto Septian Dewi Cahyani SILALAHI, ERTHA Singgih Wahyu Nugroho Suardi Lubis Sulaiman Hakim Sinaga Sutomo Kahar Sutomo Kahar Taufik Eka Ramadhan, Taufik Eka TAUFIQ FITRIANSYAH ADI PRADANA Tri Afiebbawa Exactanaya Tsana’a Alifia Nauthika Tyas Arni Putri Ulifatus Sa'diyah Veri Pramesto Wahyu Darmawan Wahyu Nur Rohim Wicke Widyanti Santosa Wisnu Hanggoro Yonanda Simarsoit Yudo Prasetyo Yudo Prasetyo