Claim Missing Document
Check
Articles

MASALAH PENELITIAN DI PERGURUAN TINGGI Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1987: HARIAN SURYA POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (127.643 KB)

Abstract

       Beberapa ahli dan pengamat pendidikan mempunyai kesamaan pendapat bahwa penelitian yang ada di perguruan tinggi dewasa ini belum bisa diandalkan untuk mengembangkan ilmu dan pengetahuan. Mutu penelitian yang adapun umumnya masih rendah, dan hal ini berkaitan dengan minimnya dana yang tersedia.       Direktur Jendral Dikti Depdikbud, Prof. Dr. Soekadji Ranoewihardjo mengatakan bahwa rendahnya mutu pe-nelitian di perguruan tinggi erat kaitannya dengan mutu dosen. Mutu tenaga pengajar di perguruan tinggi belakang an ini belum terlalu baik dan masih perlu ditingkatkan terus lewat program-program pasca sarjana.       Menurut beliau bahkan banyaknya penelitian berupa proyek di perguruan tinggi sebenarnya tidak perlu untuk dimasalahkan; meskipun disadari terkadang penelitian ter sebut tidak sesuai dengan perkembangan ilmu di kampus.       Dr. Ir. Jujun S. Suriasumantri dari IKIP Jakarta bahkan menganjurkan agar proyek penelitian tetap dipertahankan, tentu saja disertai catatan tidak mengorbankan etika ilmiah yang berlaku.
SARJANA, TUKANG SEMIR, DAN PROGRAM SP3 Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1989: HARIAN SUARA KARYA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (99.221 KB)

Abstract

       Apabila kita menemukan seorang tukang semir yang menjadi sarjana, karena kegigihan perjuangan dan usahanya, kiranya bukan merupakan hal yang sangat luar biasa; tetapi apabila  kita menemukan para sarjana yang menjadi tukang semir sepatu, kiranya hal ini bukan merupakan peristiwa yang biasa.        Di Bhubaneswar, India peristiwa tersebut sungguh-sungguh terjadi; para insinyur teknik yang sarjana itu secara beramai-ramai menjadi tukang semir sepatu. Mereka "menjual" jasa di depan gedung sekretariat tenaga kerja, dan ternyata cukup "laris", karena cukup banyak karyawan kantor tersebut yang  --entah karena kasihan atau alasan lain-- mau menikmati jasanya.       Mulanya  pimpinan dan karyawan sekretariat tenaga kerja setempat tidak tahu-menahu kalau penyemir-penyemir tersebut sesungguhnya adalah para sarjana;  dan setelah tahu ...... polisi lah yang kemudian "berbicara".       Mengapa para insinyur yang sarjana tersebut berulah menjadi tukang semir sepatu amatiran? Rupanya mereka ingin mengajukan protes pada pemerintah setempat tentang betapa sulitnya mencari pekerjaan.  Berkali-kali mereka ikut "ngantre" untuk melamar pekerjaan tetapi hasilnya "nol", alias tak berhasil mendapatkan pekerjaan sebagaimana yang diinginkannya.
REMANG-REMANG MASA DEPAN PENDIDIKAN NASIONAL Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2004: HARIAN MEDIA INDONESIA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (131.004 KB)

Abstract

Bahwa mutu pendidikan nasional kita masih jauh dari harapan kiranya bukan rahasia lagi. Masalah besar bangsa Indonesia adalah rendahnya mutu pendidikan. Banyak indikator tentang rendahnya mutu; antara lain produk pendidikan yang kurang mampu bersaing di pasar global, kurang mampu mensolusi masalah yang dihadapi bangsa, dan kurang mampu menunjuk-kan kebermanfaatan sosial secara optimal.          Hasil studi yang dilakukan oleh PERC, Political and Economical Risk Consultancy (2001), menempatkan Indonesia pada ranking ke-12 dari 12 negara di Asia dalam hal mutu pendidikan. Ini berarti mutu pendidikan di Indonesia ternyata paling rendah di antara negara-negara di Asia pada umumnya. Dalam hal ini negara-negara tetangga memiliki mutu pendidikan yang lebih baik daripada Indonesia; katakanlah Filipina pada ranking ke-9, Malaysia ke-7, India ke-5, dan Singapura ke-2.          Studi lain yang dilakukan oleh UNDP, United Nations Development Programme (2003) tentang Human Development Index (HDI) secara tak langsung juga menunjukkan rendahnya mutu pendidikan kita. Dalam hal ini Indonesia hanya menempati ranking ke-112 dari 174 negara; sementara negara-negara tetangga seperti Malaysia, Filipina, Thailand, Singapura, dan Australia berada di ranking yang lebih baik. Hal ini lagi-lagi menunjukkan rendahnya mutu pendidikan di Indonesia, di sisi lain menunjukkan lebih rendahnya mutu pendidikan kita daripada negara-negara tetangga.
MEMBERHASILKAN UN SMA SUPRIYOKO, KI
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2009
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (95.246 KB)

Abstract

Pada hari ini, Senin 20 April 2009, Ujian Nasional (UN) SMA, MA dan SMK mulai dilaksanakan secara serentak di seluruh Indonesia. Kegiatan akademik ini akan berlangsung selama lima hari; dari Senin 20 April s/d 24 Jum?at 24 April 2009. Meskipun pelaksanaannya hanya lima hari tetapi persiapan UN tersebut sudah dilakukan jauh hari sebelumnya.Ada sekolah yang mempersiapkan UN beberapa minggu sebelumnya, tetapi ada siswa dan orang tua yang menyiapkan momentum ini beberapa bulan sebelumnya; bahkan ada yang dalam hitungan tahun. Mereka mengikuti kegiatan bimbingan belajar sejak kelas dua dengan harapan akan memperoleh kemudahan dalam mengerjakan soal-soal UN. Bagi sekolah, meskipun UN sudah menjadi kegiatan rutin akhir tahun pelajaran akan tetapi tetap saja menimbulkan rasa was-was di kalangan guru dan kepala sekolah. Banyak guru diganti karena kegagalan UN; dan banyak kepala sekolah dimutasi karena ketidakberhasilan UN di sekolahnya.
TAMANSISWA DI ERA INDUSTRI Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1992: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (216.695 KB)

Abstract

       Menjelang datangnya abad ke-21 ini Indonesia dan negara-negara lain di dunia pada umumnya tengah dihadapkan pada era industri dengan berbagai kompleksitas problematikanya. Problematika industrialisasi secara umum dialami baik oleh negara-negara yang baru saja membuka pintu industrialisasi, semisal Indonesia serta Thailand, maupun oleh negara-negara yang sudah "masuk" dalam ranah industrialisasi itu sendiri, seperti misalnya Amerika Serikat (AS) dan negara-negara di Eropa pada umumnya.          Problematika industrialisasi yang dihadapi oleh berbagai negara di dunia ini, tak terkecuali Indonesia, menyangkut dua aspek sekaligus; masing-masing adalah as-pek sikap/mental serta aspek keterampilan  yang keduanya merupakan penyangga utama atas budaya suatu bangsa. Itu-lah sebabnya maka  pada akhirnya  proses industrialisasi itu  akan bermuara pada terjadinya pergeseran kebudayaan (cultural transformation) suatu bangsa.          Dari sisi sikap/mental maka berlangsungnya proses industrialisasi memerlukan kesiapan masyarakat;  dan se-cara empirik ternyata tidak seluruh kelompok masyarakat memiliki kesiapan diri untuk menyatu dalam proses. Ambil contoh:  proses industrialisasi memerlukan akurasi dalam penjadwalan kembali atas berbagai kegiatan yang menuntut setiap orang dapat menghargai waktu;  namun begitu masih banyak kelompok masyarakat yang belum sanggup menghargai waktu,  rapat masih banyak terlambat,  pertemuan banyak tertunda, jadwal aktivitas banyak tidak ditepati, dan se bagainya. Realita ini menunjukkan belum seluruh kelompok masyarakat siap atau dapat menghargai waktu.
SUSKESNYA PROGRAM KELUARGA BERENCANA "MENGANGKAT" INDONESIA DI MATA DUNIA Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1987: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (136.569 KB)

Abstract

       Matej Gaspar, sang manusia kelima milyar telah lahir. Bayi mungil yang lahir pada hari Sabtu subuh tgl 11 Juli '87 di Zagreb, Yugoslavia telah dipilih oleh PBB (Perserikatan Bangsa Bangsa) untuk dijadikan simbol atau tanda sebagai manusia kelima milyar yang lahir di  Bumi ini. Sekretaris Jendral PBB Javier Perez de Cuellar juga secara langsung telah "menengok" bayi tersebut.       Itu semua berarti bahwa saat ini setidak-tidaknya bumi kita telah dihuni oleh lima milyar manusia.  Sebuah deretan angka yang cukup panjang bila ditulis.       Sebuah persoalan segera muncul; apakah Bumi yang kita huni mampu "menghidupi" manusia yang sangat  banyak jumlahnya, dalam artian apakah kekayaan Bumi kita --baik yang  sudah dieksploitir maupun yang belum--  akan mampu membawa manusia pada kehidupan yang layak.       Sampai saat ini Bumi kita barangkali masih mampu "menghidupi" manusia --meskipun di sana-sini nyaring terdengar bunyi lonceng kemiskinan dan kelaparan--, tetapi bagaimana dengan tahun-tahun mendatang di mana manusia akan menjadi berlipat ganda jumlahnya?
HINDARKAN GURU SEKOLAH DASAR SEBAGAI OBJEK PENDERITA Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2006: MAJALAH FASILITATOR
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (117.905 KB)

Abstract

Barangkali paradigma pendidikan di Indonesia sekarang ini berbalik 180 derajat. Pasalnya, guru pada umumnya dan guru SD khususnya yang seharusnya menjadi subjek pendidikan, artinya sebagai penentu keberhasilanpendidikan nasional; sekarang justru dijadikan objek  pendidikan.  Universitas Terbuka (UT) yang memperoleh sertifikat ISO 9001:2000 dari International Council for Open and Distance Education Standard Agency (ISA) Global menawarkan diri mendidik 200.000 guru yang belum sarjana untuk disarjanakan. Untuk mempertahankan mutu lulusan, demikian dinyatakan Atwi Suparman selaku rektor, pihaknya siap melakukan koordinasi antara unit-unit UT di pusat dengan Unit Program Belajar Jarak Jauh (UP-BJJ) di seluruh Indonesia. Semua ini dilakukan untuk mengusahakan lulusan yang berkualitas; pasalnya meski usia UT lebih dari sepuluh tahun tetapi tetap saja masih ada orang yang meragukan kualitas lulusan UT.  Tawaran UT tersebut hanya salah satu contoh saja; karena di luar UT masih banyak lembaga yang menawarkan diri untuk menyarjanakan guru dengan berbagai modelnya. Katakan dengan PTN dan PTS. Model-model yang ditawarkan pun bervariasi; ada yang melalui kelas reguler, kelas jauh, kelas akhir pekan, kelas luar kota, dan masih banyak lagi. Dalam hal ini guru benar-benar sedang dijadikan objek pendidikan.
POLITIK PENDIDIKAN DI INDONESIA Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2001: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (97.955 KB)

Abstract

       Di samping menulis dua buku yang cukup "sensasional" bagi masyarakat pendidikan khususnya,  yaitu  "Pedagogy of Opressed" dan "Cultural Action for Freedom", ternyata Paulo Freire yang oleh banyak kalangan sering disebut sebagai salah satu tokoh liberalisme pendidikan, juga mengarang buku yang diberi judul "The Politic of Education". Dalam buku yang terakhir ini, meski tidak diuraikan di dalam chapter khusus  tetapi secara implisit tersajikan secara jelas betapa pentingnya politik pendidikan untuk menentukan kinerja dan keberhasilan pendidikan suatu negara.          Dilukiskan dalam buku tersebut,  persoalan-persoalan  yang menyangkut pemberantasan buta huruf, pemeranan guru, reformasi agraria, pemeranan pekerja sosial,  pemberantasan buta huruf politik, humanisasi pendidikan, peran gereja, dsb, tidak dapat dilepas dari politik pendidikan.  Suatu negara yang politik pendidikannya buruk maka kinerja dan keberhasilan pendidikannya juga buruk;  sebaliknya, suatu negara yang politik pendidikannya bagus maka kinerja dan keberhasilan pendidikannya juga bagus. Demikian kira-kira inti sajian di dalam bukunya Paulo Freire tersebut.          Memang dunia pendidikan tak mungkin lepas dari kekuasaan, dan Paulo Freire telah mencoba mengangkat ke permukaan. Bahkan kekuasaan di suatu negara memegang kunci keberhasilan pendidikan di negara bersangkutan.  Di sisi lain pemerintah dengan kekuasaan (dominan) yang dimilikinya,  tanpa mengabaikan kelompok-kelompok sosial di masyarakat,  menjadi pelaku sentral dalam menentukan dan melaksanakan kebijakan pendidikan.
MENGGELORAKAN BUDI PEKERTI Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2007: HARIAN PIKIRAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (115.046 KB)

Abstract

Pada waktu saya menyampaikan presentasi di dalam sebuah seminar di Cairn, Australia tentang kondisi pendidikan, khususnya pendidikan swasta, di Indonesia beberapa waktu lalu tiba-tiba seorang partisipan menginterupsi dengan satu pertanyaan, apakah cirikhas keunggulan pendidikan di negara Anda, maksudnya di Indonesia.           Untuk menjawab cirikhasnya adalah teknologi tentu saya malu karena perkembangan teknologi pendidikan (educational technology) di Indonesia kalah dibanding Australia, New Zealand, Republik Korea, Jepang, Amerika Serikat (AS) dan Canada. Padahal pendidik dari negara-negara tersebut banyak yang hadir sebagai partisipan. Karenanya, saya segera menjawab cirikhas keunggulan pendidikan di Indonesia terletak pada budi pekerti.          Lebih lanjut saya menyatakan bahwa budi pekerti demikian mudahnya ditanamkan pada anak didik di semua satuan pendidikan dengan pendekatan keteladanan (behavioral model approach). Tetapi saya tidak menyatakan bahwa justru keteladanan itulah yang sulit dilakukan oleh orang Indonesia, termasuk banyak guru kita.
SISTEM LATIHAN KERJA NASIONAL Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1987: HARIAN PRIORITAS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (122.432 KB)

Abstract

       Pada tgl 9 Februari 1987 TVRI Pusat menayangkan program wawancara yang mengupas masalah ketenagakerjaan di tanah air. Hadir sebagai 'interviewee' antara lain Menteri Tenaga Kerja RI, Soedomo; serta Ketua Kadin, Soekamdani S. Gitosardjono.       Sebuah konsep ketenagakerjaan yang "ditawarkan" dalam wawancara tersebut adalah akan diselenggarakannya sistem latihan kerja nasional sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas ketrampilan yang dimiliki oleh para pekerja kita yang pada umumnya masih tergolong "minim".         Sebagai ilustrasi pendukung ditampilkan data bah-wa setiap tahun tidak kurang sebanyak dua juta pencari kerja keluar masuk kantor atau "penyedia kerja" lainnya untuk mengadu nasib. Disisi yang lainnya, sebagian besar dari tenaga kerja yang ada dewasa ini kualitasnya tergo-long relatif rendah;  diilustrasikan oleh Pak Soekamdani  bahwa sekitar 80% dari tenaga kerja yang ada merupakan lulusan Sekolah Dasar.       Kiranya perlu dicatat bahwa dalam Piramida Tenaga Kerja di Indonesia maka tenaga kerja lulusan SD, sekolah dasar, kualifikasinya setaraf dengan tenaga kerja yang tidak pernah sekolah sama sekali;  ialah masuk dalam kelompok "tenaga kerja tidak terampil" (unskilled worker). Kelompok ini merupakan kelompok yang paling "bawah" da-lam piramida tersebut.