Claim Missing Document
Check
Articles

MATEMATIKA DIVIDEOKAN? Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1985: HARIAN SUARA MERDEKA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (125.074 KB)

Abstract

       Ada berita yang cukup menarik dari sebuah negara sedang berkembang,  Nikaragua. Negara ini pada tahun 70-an pernah mengalami sebuah kompleksitas akademis yang cukup memusingkan, ialah tentang sangat terbatasnya kuantitas dan kualitas guru Matematika, khususnya untuk tingkat pendidikan dasar.        Seperti halnya negara-negara lain pada umumnya maka Nikaragua juga menyadari bahwa roda pembangunan di negaranya mau tidak mau harus berkepentingan langsung maupun tidak langsung terhadap perkembangan Matematika sebagai "ilmu dasar" bagi hampir segala cabang ilmu dan teknologi. Seperti kita ketahui pembangunan suatu negara tidak dapat dilepaskan dari pemanfaatan serta penerapan ilmu dan teknologi.        Itulah sebabnya maka terbatasnya guru-guru Matematika, khususnya pada jenjang pendidikan dasar sangat merisaukan negara.        Berdasar pada kenyataan tersebut maka keluarlah sebuah "desisi akademis" yang merupakan manifestasi dari hasil berbagai diskusi dan konsultasi, yang berupa di bukanya secara resmi  "Nicaragua Radio Mathematics Project"  di wilayah Masaya  (wilayah terkecil diantara 16 wilayah yang ada di Nikaragua). Menurut statistik tahun 1971 di wilayah tsb terdapat anak sekolah dasar yang banyaknya 19.391 orang.
MENGANTISIPASI MASA DEPAN EBTANAS Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2000: HARIAN PIKIRAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (101.594 KB)

Abstract

Pelaksanaan evaluasi belajar tahap akhir secara nasional atau yang lebih dikenal dengan sebutan Ebtanas di sekolah, dari SD s/d SMU/SMK saat ini masih berlangsung.  Kalau tanggal 22 s/d 25 Mei yang lalu telah berlangsung di SMU,  selanjutnya tanggal 29 s/d 31 berlangsung di SLTP, maka pada tanggal 5 s/d 7 Juni sekarang ini berlangsung di satuan SD.       Seperti tahun-tahun yang sebelumnya,  setiap Ebtanas ber-langsung di sekolah-sekolah  maka di media massa muncul komentar publik tentang perlu dan tidaknya Ebtanas dilanjutkan untuk waktu yang akan datang. Oleh karena keadaan ini telah berlangsung ber-tahun-tahun maka pola komentarnya pun dapat dipetakan;  di satu sisi ada yang menginginkan  untuk segera mengakhiri era Ebtanas, sementara di sisi yang lain ada pula yang menginginkan tetap mem-pertahankan sistem evaluasi belajar  yang usianya  hampir mencapai dua dasa warsa tersebut.       Adu argumentasi mengenai  perlu dan tidaknya Ebtanas dia-khiri biasanya cukup ramai diekspose oleh media massa; di samping hal ini juga berlangsung pada ruang-ruang kelas yang melibatkan para guru.  Namun hampir dapat dipastikan,  komentar itu tinggal komentar dan argumentasi tinggal argumentasi  karena pemerintah,  yang dalam hal ini Departemen Pendidikan Nasional sepertinya tidak cukup tanggap mengenai hal itu.  Jangankan mengambil keputusan, sedangkan mengambil prakarsa  untuk mengintensifkan argumentasi saja nampaknya enggan melakukan.       Kali ini pun komentar-komentar  mengenai Ebtanas "kambuh" kembali.  Para pakar dan praktisi pendidikan, tidak kurang mantan menteri pendidikan, Fuad Hassan,  dan menteri pendidikan nasional yang masih aktif, Yahya Muhaimin, ikut terlibat dalam mengekspresi pendapat dan pandangannya mengenai Ebtanas. Demikian pula para guru dan sementara anggota masyarakat  yang masih menaruh perhatian terhadap pendidikan nasional kita.
KEPUASAN SEMU HASIL UAN Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2004
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (115.5 KB)

Abstract

Senin 14 Juni 2004 yang lalu hasil Ujian Akhir Nasional (UAN) di SMA, MA dan SMK diumumkan secara serentak di seluruh Indonesia. Momentum ini sangat ditunggu-tunggu siswa dan orang tuanya karena hasil UAN menentukan bisa dan tidaknya seseorang untuk melanjutkan studinya ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.          Hasil UAN adalah penting tidak saja bagi siswa, orang tua, pengurus sekolah, dan masyarakat; akan tetapi juga penting bagi pihak pemerintah. Pentingnya hasil UAN bagi pemerintah adalah dapat digunakan sebagai ukuran tentang sejauh mana usaha peningkatan kualitas pendidikan yang dilakukan telah mencapai keberhasilannya. Adapun formula simpelnya menyatakan, semakin memuaskan hasil UAN semakin berhasil usaha pemerintah meningkatkan kualitas pendidikan, dalam hal ini pendidikan di SMA, MA, dan SMK; demikian juga sebaliknya, semakin tidak memuaskan hasil UAN semakin tidak berhasil usaha pemerintah untuk meningkatkan kualitas pendidikan.          Berkait dengan hal tersebut, sebelum hasil UAN diumumkan secara terbuka kepada publik maka pimpinan Badan Penelitian dan Pengem-bangan (Balitbang) Depdiknas baru-baru ini menyelenggarakan konfe-rensi pers tentang hasil UAN. Dalam kesempatan ini Kepala Balitbang, Dodi Nandika, menyatakan bahwa tingkat ketidaklulusan UAN tahun ini relatif rendah dan tidak setinggi yang dikhawatirkan publik.
PERBAIKAN GIZI ANAK SEKOLAH DASAR Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1996: HARIAN BALI POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (113.161 KB)

Abstract

       Direncanakan mulai Bulan Juli 1996 mendatang pemerintah  akan meluncurkan program baru yang disebut dengan Pemberian Makanan Tambahan bagi Anak Sekolah (PMTAS).  Program baru ini akan disa-sarkan bagi anak-anak SD yang berlokasi di desa-desa tertinggal, dari desa-desa yang berada di wilayah barat Indonesia sampai desa-desa yang berada di wilayah timur Indonesia.       Program PMTAS tersebut akan dilaksanakan dengan peningkatan dan perbaikan gizi pada kalangan anak-anak SD kita;  adapun caranya adalah dengan memberikan makanan sehat yang mengandung energi dan protein. Bukan berarti anak-anak kita akan diberi sandwich, big burger, hamburger, salad, fried-chicken, beef hot-dog, dsj; tetapi mereka ini akan diberi makanan tambahan berupa jajanan "desa" yang terbuat dari umbi-umbian (tales, ketela, dsb), biji-bijian (jagung, gan-dum, kedele, dsb), dan buah-buahan (pisang, sukun,dsb). Agar supaya makanan yang dihasilkan benar-benar mengandung lemak, protein dan vitamin maka bahan dasar tersebut diolah dengan bahan-bahan lain yang sehat seperti gula, minyak goreng, sayuran, telur atau daging.       Jangan dibayangkan bahwa anak-anak SD kita nantinya akan ber-pesta pora setiap harinya karena program PMTAS lebih menekankan pentingnya perbaikan gizi daripada peningkatan selera. Makanan tam-bahan ini "hanya" bernilai 250 s/d 350 rupiah per anak untuk sekali pembagian kepada mereka. Direncanakan makanan tambahan ini akan diberikan selama tiga hari dalam setiap minggunya.       Yang kiranya perlu dicatat ialah  bahwa nantinya akan dianjurkan kepada masyarakat sekitar sekolah dapat berpartisipasi dalam pelaksa-naan program PMTAS;  ibu-ibu PKK, pengurus BP3, atau para orang tua murid dapat saja menangani program tersebut dengan bekerjasama secara mutualistik dengan pihak sekolah.
PILIHAN-PILIHAN PASCA UMPTN Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1994: HARIAN BALI POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (180.8 KB)

Abstract

       Bagi peserta  Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN) mungkin tanggal 30 Juli 1994 yang lalu merupakan hari yang menegangkan karena pada hari serta tanggal itu hasil jerih payah dalam upaya meraih kesempatan belajar pada PTN diumumkan secara serentak. Ketegangan ini dapat timbul karena berdasarkan teori kemungkinan (probability theory) setiap peserta mempunyai kesempatan yang relatif kecil untuk berhasil menembus dinding UMPTN;  secara ma-tematis angkanya tidak lebih dari 20%.          Betapa tidak .., dari sebanyak 422.000-an peserta UMPTN ternyata yang dinyatakan berhasil hanya 62.000-an peserta saja. Itu berarti tiap tujuh peserta UMPTN hanya satu saja di antaranya yang bisa memenangkan ketat atau tajamnya kompetisi.Sudah barang tentu hasil "baik" UMPTN memang tidak mudah untuk mendapatkannya.          Sejak adanya kebijakan pemerintah c/q Departemen Pendidikan dan Kebudayaan untuk sementara tidak menambah atau mendirikan PTN baru didalam beberapa tahun terakhir ini, terkecuali menambah beberapa jurusan maupunprogram studi yang dianggap perlu, maka daya serap PTN boleh di-katakan tidak mengalami perubahan yang berarti. Di dalam beberapa tahun terakhir ini daya serap PTN terhadap para lulusan sekolah menengah berkisar pada angka  60.000 s/d 70.000 untuk setiap tahunnya  (angka ini tidak termasuk Universitas Terbuka); kalaupun jumlahnya menyimpang atau keluar dari interval tersebut  maka angka simpangan atau tingkat deviasinya tidaklah tinggi.
MENCARI PERGURUAN TINGGI TERBAIK Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2007: HARIAN MEDIA INDONESIA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (105.906 KB)

Abstract

Baru saja U.N. News mengumumkan universitas terbaik di Amerika pada tahun 2007 saat ini dalam ?America's Best Colleges 2007?. Dalam publikasi ini kita dapat mengetahui universitas terbaik Amerika menurut kategorinya; misalnya kategori umum, ekonomi, teknik, dan sebagainya. Kita juga dapat mengetahui universitas terbaik menurut wilayahnya; dalam hal ini wilayah utara, barat, timur dan selatan.        Tujuh universitas terbaik, ?The Best Seven 2007?, di Amerika menurut versi U.S. News tersebut adalah sbb: Princeton University di New Jersey pada ranking ke-1 (ke-1), Harvard University di Massachusetts (ke-2), Yale University di Connecticut (ke-3), California Institute of Technology di California (ke-4), Stanford University di California (ke-5), Massachusetts Institute of Technology di Massachusetts (ke-6), dan University of Penn-sylvania di Pennsylvania (ke-7).        Dengan mengetahui urutan kualitasnya, di samping bertambah banyak informasi yang diperoleh maka masyarakat lebih terbimbing dengan pertim-bangan yang lebih kaya dalam mengakses perguruan tinggi. Untuk memilih universitas dalam rangka kelanjutan studi misalnya; masyarakat akan lebih mudah menentukan pilihan sesuai keinginannya.
KISRUH PENERIMAAN CPNS Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2006
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (86.839 KB)

Abstract

       ?Seleksi CPNS Depag DKI Dicurigai Bernuansa KKN?, ?CPNS Yang Dicoret Akan Diangkat Penerimaan Berikutnya: Gubernur Jateng Minta Maaf?, ?Guru Honorer di Tangerang Protes?, ?Ratusan Guru Bantu DIY Protes Hasil Tes CPNS?, ?Komisi D Akan Ajukan ?Judicial Review? terha-dap PP 48?, ?Kecewa Hasil Penerimaan CPNS: Guru Bantu DIY Grudug Dewan dan Kepatihan?, ?Pembatalan Kelulusan 118 CPNS Di Klaten: Gu-bernur Jateng Diancam Di-PTUN-Kan?, ?Pahitnya Pengumuman CPNS?, ?Honor Daerah Pemkot Lapor Dewan?, ?Giliran Guru Bantu Protes?, ?Apa Putri Pak Gub Tak Mampu?, dsb.; itulah berbagai judul berita yang dimuat di berbagai media massa cetak.        Apabila kita perhatikan substansinya kelihatan ada yang kurang beres di dalam proses penerimaan PNS kali ini. Kisruh, semrawut, amburadul, ruwet, kocar-kacir, leda-lede, dan entah apa lagi kata-kata yang tepat untuk melukiskannya. Bagaimana mungkin pengumuman daftar CPNS yang dite-rima tiba-tiba diralat dengan pengumuman lain. Anehnya, banyak nama yang semula dinyatakan diterima tiba-tiba hilang dalam pengumuman ralat, alias pengumuman berikutnya.        Apa pun alasannya, hal itu menandakan pekerjaan yang tidak beres, apalagi profesional. Sebagai manusia normal kita dapat membayangkan; mereka yang dinyatakan diterima dalam pengumuman pertama sudah me-lakukan sujud syukur dan bahkan ada yang sudah syukuran tiba-tiba saja ?haknya? dibatalkan. Sudah barang tentu mereka malu dengan masyarakat sekitarnya; bisa terjangkit ansietas (stres ringan) sampai stres berat.
DAMPAK SEKOLAH BEAYA TINGGI Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1993: HARIAN SUARA KARYA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (408.697 KB)

Abstract

       Baru-baru ini Mendikbud kita Wardiman Djojonegoro menyatakan  bahwa sekolah-sekolah serta perguruan tinggi swasta boleh memungut beaya pendidikan yang tinggi asal mutu sekolahnya benar-benar baik.  Pihak Depdikbud tidak keberatan sekolah-sekolah swasta, baik SD, SLTP dan SLTA serta perguruan tinggi swasta mengenakan beaya pendidik-an yang tinggi kepada siswa ataupun mahasiswanya asalkan lembaga pendidikan yang bersangkutan dapat mempertang-gungjawabkan kualitasnya.          Pada sisi yang lainnya Mendikbud juga menyatakan kalau ada sekolah atau perguruan tinggi (swasta) yang me mungut beaya pendidikan tinggi tetapi mutunya tidak baik maka Depdikbud tidak segan-segan akan memberi peringatan keras kepada penyelenggaranya, kalau perlu menutup seko-lah atau perguruan tinggi tersebut.         Pungutan beaya yang tinggi tersebut bagi Mendikbud nampaknya merupakan hal wajar dan bisa diberi toleransi. Penyelenggaraan pendidikan di sekolah memang mahal, ada beaya pembangunan gedung,  penyediaan sarana dan fasili-tas belajar,  penyediaan guru yang bermutu dengan nafkah atau gaji yang memadai serta operation cost lainnya yang memerlukan beaya tidak rendah.  Logika sederhananya: ma-kin tinggi mutu pendidikan yang diharapkan semakin mahal pula tuntutan beaya pendidikannya.
YANG SALAH DALAM PENGAJARAN MATEMATIKA Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1990: HARIAN SUARA KARYA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (118.649 KB)

Abstract

       Tiga kali berpartisipasi dan tiga kali pula tidak sanggup berprestasi. Itulah nasib pelajar Indonesia yang dikirimkan pada forum olimpiade Matematika tingkat dunia yang hanya diselenggarakan satu kali dalam setiap tahun; disebut International Mathematics Olympics (IMO).       Forum IMO diikuti oleh para pelajar yang berasal dari sekitar 50 negara;  dan untuk pertama kalinya pelajar Indonesia mengambil bagian dalam IMO tahun 1988 yang lalu yang berlangsung di Canbera, Australia.  Satu tahun berikutnya,  tahun 1989,  pelajar Indonesia kembali berpartisipasi pada IMO yang dilangsungkan di Braunschweig, Jerman Barat;  dan pada tahun 1990 ini pelajar Indonesia  kembali berpartisipasi pada kegiatan IMO yang dilangsungkan di Beijing, China.       Hasilnya .....? Ternyata pelajar Indonesia selalu mendapatkan juara; akan tetapi dari urutan terbawah.  Di Australia (1988)  pelajar kita menduduki ranking pertama dari bawah,  selanjutnya di Jerman Barat (1989) pelajar kita menduduki ranking kedua juga dari bawah; sedangkan di China (1990) pelajar kita kembali menduduki ranking kedua, juga dari bawah.
RESTRUKTURISASI KRATON Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2007
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (84.895 KB)

Abstract

         Ada kabar berita duka yang semoga tidak benar kenyataannya. Konon anggota DPR Propinsi DIY yang terhormat dan yang sekarang ini sedang bermain eksperimentasi demokrasi tidak menyetujui bantuan untuk mere-konstruksi bangunan di lingkungan Kraton Yogyakarta dan Tamansari di dalam struktur RAPBD 2007.          Apabila berita tersebut benar, hal itu sungguh mengenaskan. Dengan tetap percaya kepada kebijakan yang diambil oleh para anggota dewan, masyarakat pun layak menanyakan sejauh mana sense of belonging, sense of art, sense of culture, dan entah sense apa lagi yang dimiliki oleh anggota dewan yang kesemuanya adalah para warga Yogyakarta; lebih daripada itu bahkan mereka adalah bagian daripada pemimpin Kota Pendidikan dan Kota Budaya Yogyakarta.          Ketidaksetujuan anggota DPR tersebut di atas juga terasa aneh. Kalau kita membuka Visi Pembangunan DIY yang termuat dalam Renstra DIY 2004-2008, di sana telah disebutkan, ?Terwujudnya Pembangunan Regional sebagai wahana menuju pada kondisi Daerah Istimewa Yogyakarta pada tahun 2020 sebagai pusat Pendidikan, Budaya dan Daerah Tujuan Wisata Terkemuka, dalam lingkungan masyarakat yang maju, mandiri, sejahtera lahir batin didukung oleh nilai-nilai kejuangan dan pemerintah yang bersih dalam pemerintahan yang baik dengan mengembangkan Ketahanan Sosial Budaya dan sumberdaya berkelanjutan?.