Claim Missing Document
Check
Articles

MENIMBANG NASIB DAN WIBAWA GURU Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1991: HARIAN YOGYA POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (214.079 KB)

Abstract

Barangkali tidak ada yang tidak sependapat untuk menyatakan bahwa sekarang ini tengah terjadi pergeseran persepsi terhadap profesi guru secara evolutif; perlahan tetapi terus berproses. Terjadinya pergeseran persepsi ini dikarenakan adanya hubungan resiprokal antara persepsi itu sendiri di satu pihak dengan perilaku guru di ma-syarakat pada pihak yang lain. Profesi guru, yang tempo dulu pernah didudukkan pada strata singgasana oleh masyarakat, sekarang ini nampaknya sudah tidak lagi. Tempo dulu para guru sepertinya bukan menjadi kelompok biasa di dalam masyarakat, dalam konotasi yang positif, sebab memiliki status sosial yang benar-benar terhormat. Di berbagai tempat guru dianggap sebagai "sesepuh", tempat mana masyarakat memercayakan sebagai tumpahan berbagai persoalan sosial untuk mencari solusinya. Begitu konstruktifnya persepsi masyarakat ter hadap profesi guru maka seandainya di negara kita, waktu itu, diadakan survei tentang tokoh nonformal di masyara-kat (nonformal leader) maka hampir bisa dipastikan bahwa guru akan menjadi kelompok dominan dalam respondennya. Itulah gambaran guru tempo dulu, yang barangkali sekarang ini tinggal menjadi kenangan manis. Apakah saat ini gambaran guru tersebut telah mengalami transformasi? Barangkali ada benarnya! Meski guru tetap saja menjadi "pahlawan tanpa tanda jasa" akan tetapi persepsi masyara kat terhadapnya tidak lagi sekonstruktif dulu; meskipun juga jangan diinterpretasi sebagai persepsi destruktif.
PENDIDIKAN UNTUK BANGSA SELATAN Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1999: HARIAN PIKIRAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (124.355 KB)

Abstract

       Beberapa hari lalu masyarakat dunia, khususnya masyarakat Afrika,  kehilangan salah seorang negarawan dan tokoh pendidikan yang sangat disegani dan dihormati.  Dia adalah  Julius Kambarage Nyerere, atau yang oleh masyarakat dunia dikenal dengan Nyerere. Namanya sangat populer tidak saja di negara-negara dunia ketiga pada khususnya, dan juga di negara-negara Afrika pada khususnya lagi, akan tetapi juga sangat populer di negara-negara maju pada umumnya.       Di samping berhasil mengantar Tanzania untuk menjadi suatu negara Merdeka dari jajahan Inggris pada tahun 1961 sehingga oleh rakyatnya disebut Bapak Bangsa, Nyerere yang antiimperalisme itu juga aktif di berbagai organisasi internasional; diantaranya sebagai pendiri dan aktivis  Organization for African Unity (OAU), "Forum Peduli Pendidikan Negara-Negara Selatan"  atau  South Commission,  Persatuan dan Penghormatan Hak Azasi Manusia, dan sebagainya.       Nyerere juga seorang tokoh pendidikan yang secara sistematis mengkomunikasikan konsep-konsepnya  untuk memajukan bangsa yang tertinggal. Dalam bukunya yang berjudul "Education for Self-Relience" (1978)  kentara sekali keinginan dari sang penulis  untuk menyadarkan bangsanya agar dapat menyadari kekurangannya dalam banyak hal.  Dan kekurangan itu hanyalah dapat diperbaiki melalui pendidikan sebab tanpa pendidikan maka masyarakat Tanzania pada khususnya dan bangsa Afrika pada umumnya akan makin tertinggal dari negara-negara lain yang lebih maju. Di samping disebut Bapak Bangsa,  Nyerere juga disebut dengan Mwalimu yang  berarti Sang Guru.  Karena kredibilitasnya beliau pernah didaulat untuk memimpin Forum Peduli Pendidikan Negara-Negara Selatan.
KEPEMIMPINAN VISIONER PENDIDIKAN Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2002: HARIAN SUARA PEMBARUAN
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (93.515 KB)

Abstract

         Sudah merupakan rahasia umum  mengenai rendahnya kinerja pendidikan nasional kita.  Bukan karena hasil studi PERC, Political and Economical Risk Consultancy (2000)  menempatkan Indonesia di ranking ke-12 dari 12 negara di Asia  berdasarkan solidnya kinerja pendidikan; tetapi dari berbagai tolok ukur yang diterima masyarakat internasional memang menunjukkan buruknya kinerja pendidikan kita,  katakanlah antara lain dengan indeks pembangunan manusia, daya saing ekonomi, diterimanya lulusan pendidikan di pasar global dan sebagainya.          Rendahnya kinerja pendidikan nasional tersebut  tidak lepas dari visi kepemimpinan kolektif pemerintah,  baik pemerintah pusat maupun daerah.  Sangat ironis, negara Indonesia yang sangat kaya dengan sumber daya alam  baik yang sudah tergali dan termanfaatkan maupun yang belum tergali dan termanfaatkan  kurang memiliki pemimpin atau negarawan  yang mempunyai visi kepemimpinan jauh ke depan untuk memajukan bangsa.          Keadaan tersebut di atas bukan saja dialami sekarang,  akan tetapi sudah dirasakan  sejak bertahun-tahun yang lalu ketika kon-disi ekonomi dan politik tidak sekompleks saat ini.          Para petinggi pemerintah kita ternyata cenderung disibukkan oleh masalah-masalah instan  serta terlena pada persoalan-persoalan yang berjangka pendek sehingga kurang mampu memecahkan permasalahan bangsa di dalam jangka panjang ke depan. Sampai sekarang kita tidak dapat menggambarkan  bagaimana profil bangsa Indonesia seperempat abad  ke depan  dikarenakan  para petinggi pemerintah memang tidak memiliki desain perencanaan yang matang.
MENGAPA MAHASISWA KITA BERAKSI ? Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1989: HARIAN WAWASAN
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (93.112 KB)

Abstract

       Fenomena sosial baru tentang aksi mahasiswa yang berlangsung pada berbagai tempat akhir-akhir ini rupanya benar-benar telah menyita perhatian kita di samping juga mengundang pendapat dari berbagai kalangan;  para tokoh politik, ilmuwan, budayawan, anggota DPR, menteri, serta Pangab. Lebih dari itu Presiden Soeharto sendiri nampaknya juga memberikan perhatian yang cukup serius terhadap berbagai aksi mahasiswa tersebut.       Kalau beberapa waktu yang lalu Menko Polkam Soedomo menegaskan bahwa tidak ada mahasiswa yang ditangkap hanya karena alasan mereka melakukan aksi, maka Panglima ABRI Try Soetrisno  juga menegaskan bahwa pada dasarnya aksi unjuk rasa yang dilakukan oleh para mahasiswa dalam beberapa waktu terakhir ini tidak dilarang.       Meskipun demikian Panglima ABRI yang juga sebagai Ketua Bakorstanas sempat mengingatkan bahwa sebagai bagian dari bangsa yang besar hendaknya para mahasiswa tidak bertindak "semrawut", dan dalam menyalurkan aspirasi dan partisipasinya  pada pembangunan hendaknya mengikuti tatanan peraturan yang ada.       Sangatlah simpatik apa yang dikemukakan oleh Pak Try tersebut di atas,  karena dari segi "rasa" (afektif) dapat ditangkap sebagai nasehat dari seorang 'bapak' kepada anaknya, bukan sebagai polisi yang hendak menangkap maling yang membandel.
BPS PERLU "BERGURU" PADA KPN Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1992: HARIAN SURABAYA POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (212.892 KB)

Abstract

       Ada sebuah fenomena sosio-politis di negara kita yang sangat menarik untuk dicermati bersama;  yaitu diaplikasikannya  temuan-temuan penelitian atau hasil studi secara lebih intensif dalam proses pengambilan keputusan (decision making process) oleh pemerintah. Fenomena yang konstruktif ini sekaligus menandai adanya kemajuan; oleh karena keputusan ataupun kebijakan yang dilandasi temuan empirik atau hasil studi umumnya lebih bersifat objektif dan rasional, serta bebas dari unsur "pressure".          Kiranya memang harus diakui bahwa selama ini rela tif banyak hasil studi yang harus melayang ke dalam tong sampah dan tidak pernah dilirik dalam proses pengambilan keputusan atau kebijakan pemerintah. Namun, sekarang ini setidak-tidaknya ada dua keputusan strategis yang sedang dan akan dibangun berdasarkan temuan penelitian; masing-masing adalah keputusan politis mengenai  tindak lanjut musibah Dili, Timor Timur,  serta keputusan soso-politis mengenai Sumbangan Dermawan Sosial Berhadiah (SDSB). Dua masalah ini memang sempat mengguncang perjalanan politik di negara kita akhir-akhir ini.          Apabila dalam masalah yang pertama, musibah Dili, maka peranan penelitian benar-benar telah nampak, yaitu digunakannya temuan penyelidikan (baca: penelitian) yang dilakukan oleh Komisi Penyelidik Nasional (KPN) di dalam mekanisme dan proses pembuataan kebijakan tindak lanjut;  maka  hal yang sama diharapkan akan dilakukan pemerintah kita dalam mengambil kebijakan mengenai SDSB.
MELEWATI USIA EMAS ITB SUPRIYOKO, KI
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2009: HARIAN PIKIRAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (117.395 KB)

Abstract

       Adalah Institut Teknologi Bandung atau yang lebih kita kenal dengan sebutan ITB. Lahirnya perguruan tinggi kebanggaan rakyat Indonesia ini tidak dapat dilepaskan dari Technische Hooge School (THS) te Bandoeng yang didirikan pada tahun 1920. Pada masa penjajahan Jepang namanya sempat diganti menjadi Bandung Kogyo Daigaku (BKD). Kemudian pada masa kemerdekaan, tahun 1945, namanya ?diindonesiakan? menjadi Seko-lah Tinggi Teknik (STT) Bandung.          Hanya sampai di situ romantikanya? Ternyata tidak! Konon oleh NICA eksistensi STT Bandung sempat dirobohkan dan diganti dengan Faculteit van Technische Wetenschap di bawah naungan Universiteit Van Indone-sie. Sungguh romantik kisahnya!          Pada tanggal 2 Maret 1959, atau setengah abad lalu, Fakultas Teknik serta Fakultas Ilmu Pasti dan Ilmu Alam secara resmi memisahkan diri menjadi Institut Teknologi Bandung (ITB). Itulah sebabnya tanggal 2 Maret diperingati sebagai hari ulang tahun ITB; dan pada tanggal 2 Maret 2009 ini merupakan ?usia emas? ITB.
TINJAUAN FILOSOFIS KONSEP CBSA Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1988: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (122.067 KB)

Abstract

Dalam hak pengembangan kemampuan anak didik maka setidak-tidaknya ada tiga acuan teoritis dasar yang sering disebut-sebut dalam dunia pendidikan.  Ketiga acuan tersebut masing-masing adalah teori nativisme, teori empirisme, serta teori konvergensi.       Teori nativisme dikembangkan oleh Arthur Schopenhauer, seorang ilmuwan yang lahir di kota Dantzig pada tanggal 22 Februari 1788 dan meninggal pada tamggal 21 September 1860.       Menurut teori tersebut perkembangan kemampuan seseorang akan sangat ditentukan oleh "potensi dalam" dari orang yang bersangkutan. Apabila seseorang mempunyai "potensi dalam" yang memadai maka perkembangan kemampuannya akan memadai pula, sebaliknya kalau "potensi dalam" yang dimiliki oleh orang tersebut sangat terbatas maka perkembangan kemampuannya pun akan menjadi sangat terbatas pula.       Bertolak belakang dengan teori nativisme tersebut diatas adalah teori empirisme yang dikembangkan oleh seorang ilmuwan Swiss,  Jean Jacques Rousseau,  yang lahir di Geneva pada tahun 1712 dan meninggal tahun 1778.
PRIORITAS ANGGARAN PENDIDIKAN DALAM RAPBN Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1998: HARIAN SUARA KARYA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (116.287 KB)

Abstract

       Suatu tradisi politis pidato presiden pada setiap awal tahun  untuk menyampaikan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) senantiasa mendapat perhatian dari banyak kalangan; baik kalangan dalam maupun luar negeri.  Hal ini juga berlaku pada pidato Presiden Soeharto yang disampaikannya tanggal 6 Januari 1998 (pada malam hari) lalu untuk menghantarkan nota keuangan dan RAPBN 1998/1999 di depan Sidang Paripurna DPR kita.       Tanggapan atas penyampaian RAPBN kali ini memang agak unik; meskipun angka-angka yang tercantum di dalam RAPBN 1998/1999 secara umum mengalami kenaikan akan tetapi keadaan yang demikian ini tidak secara otomatis mengundang sikap optimistik masyarakat, bahkan cenderung berkesan pesimistik. Padahal angka kenaikan dalam RAPBN 1998/1999 yang mencapai 32 persen dari RAPBN 1997/1998 yang sedang berjalan ini termasuk yang paling tinggi dalam sepuluh tahun terakhir.  Selama ini belum pernah kenaikan RAPBN kita men-capai di atas angka 20 persen.      Seperti yang telah kita ketahui bersama, bila dibandingkan dengan RAPBN 1997/1998 yang sedang berjalan ini, yaitu sebesar 101,1 trili-un rupiah,  maka RAPBN 1998/1999 yang angkanya mencapai 133,5 triliun rupiah, mengalami kenaikan yang sangat significance; yaitu mencapai 32,1 persen.         Kalau kita bandingkan dengan tahun-tahun yang lalu  maka angka kenaikan tersebut relatif bagus.  Tahun lalu RAPBN 1997/1998 adalah 101,1 triliun rupiah,  yang berarti hanya mengalami kenaikan sekitar 11 persen dari RAPBN 1996/1997 yang sedang berjalan saat itu yang besarnya 90,6 triliun rupiah.  Sedangkan dua tahun yang lalu RAPBN 1996/1997 mencapai 90,6 triliun rupiah,yang berarti hanya mengalami kenaikan sekitar 16 persen dibandingkan dengan RAPBN 1995/1996 yang sedang berjalan saat itu yang besarnya 78,0 triliun rupiah. 
PERGESERAN PERGURUAN TINGGI NEGERI SEBAGAI "UNIVERSITY OF CHOICE" Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1993: HARIAN SURABAYA POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (410.268 KB)

Abstract

       Setelah kesibukan pelaksanaan Ebtanas di SD, SLTP serta sekolah menengah baru saja berakhir maka kesibukan ini beralih ke perguruan tinggi,  yaitu dalam rangka pe-nerimaan mahasiswa baru. Bulan depan perguruan-perguruan tinggi negeri di negara kita akan menggelar UMPTN, Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri yang dilaksanakan secara serentak untuk PTN-PTN di seluruh wilayah tanah air.          Sebenarnya momentum UMPTN itu sendiri tidak ter-lalu istimewa, tetapi karena selama ini masih berkembang pandangan keliru pada sekelompok anggota masyarakat yang mendudukkan  PTN di atas segala-galanya,  "PTN is number one", maka UMPTN lalu memberikan arti tersendiri.          Beberapa pengamat memprediksi akan terjadinya pe-nurunan jumlah peserta UMPTN di beberapa wilayah atau di tingkat Panitya Ujian Masuk Lokal (PUML);  namun hal itu tidaklah berarti akan  menghilangkan daya kompetisi yang tajam dalam perebutan kursi kuliah di PTN.Kompetisi yang terjadi tetap akan ketat; setiap satu kursi kuliah rata-rata diperebutkan oleh lima atau enam kandidat.
DIY PROPINSI PALING SIAP Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1994: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (412.171 KB)

Abstract

       Hari ini para siswa, guru, serta bangsa Indonesia pada umumnya  bersama-sama memperingati  Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Bersamaan dengan itu Presiden Soe-harto berkenan mencanangkan program pendidikan yang akan menjadi tonggak kemajuan bangsa kita,yaitu Wajib Belajar Pendidikan Dasar (WBPD).          Bagi bangsa Indonesia,  momentum pencanangan WBPD kali ini sesungguhnya bukan merupakan pengalaman pertama karena sepuluh tahun yang lalu, tepatnya 2 Mei 1984, ki-ta juga pernah mempunyai pengalaman yang sama. Waktu itu Presiden Soeharto berkenan mencanangkan program Wajib Be lajar Sekolah Dasar (WBSD).  Di dalam perjalanan WBSD di akhir tahun yang kesepuluh ini nampaknya banyak keberha-silan yang telah diraih; antara lain jumlah anak usia SD (7-12 tahun) yang tidak sekolah dari tahun ke tahun bisa ditekan,  pada sisi yang lain kesadaran masyarakat untuk menyekolahkan  anaknya paling tidak sampai tamat SD juga semakin nyata.          Berbeda dengan WBSD  yang sasarannya anak usia SD maka WBPD sasarannya ialah anak usia SLTP (13-15 tahun). Jadi esensi WBPD ialah "mewajibkan" (baca: menganjurkan) anak-anak usia SLTP untuk segera "belajar" menuntut ilmu (baca: bersekolah).  Adapun konotasi "belajar" dalam hal ini tidaklah terbatas pada pengertian bersekolah secara konvensional, namun boleh juga mengikuti program-program ekuivalensinya; misalnya mengikuti Kejar Paket B, pesan-tren "modern", SMP Terbuka, dan sebagainya.