Articles
NOBEL UNTUK MELAYU
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2007: HARIAN PIKIRAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (114.814 KB)
      Belum lama ini ada kejutan yang dianggap kontroversial oleh sebagian masyarakat dunia ketika Ole Danbolt Mjoes selaku Ketua Komite Nobel mengumumkan nama Albert Arnold Al Gore sebagai peraih Nobel Perda-maian Tahun 2007. Meski pengumuman pemenang sudah dilakukan pada pertengahan Oktober yang lalu tetapi penyerahan hadiahnya baru akan dilaksanakan tanggal 10 Desember mendatang sebagaimana dengan tradisi yang sudah berjalan selama ini.        Seperti telah kita ketahui, bersama dengan Intergovernmental Panel on Climate Change (IPPC), Albert Arnold Al Gore yang pernah dipercaya rakyat Amerika Serikat (AS) sebagai wakil presiden di era Presiden Bill Clinton (tahun 1993-2001), telah ditetapkan sebagai peraih Nobel Perda-maian yang sangat bergengsi itu. Peraihan nobel oleh Gore dipertimbang-kan karena kegigihannya dalam berkampanye memperingatkan pemanasan global dan menyerukan agar hal ini menjadi agenda internasional.        Secara ekstrem Gore dianggap satu-satunya orang yang telah berbuat lebih dan juga konkret mengenai perlunya langkah-langkah pencegahan ter-jadinya pemanasan global yang kian menjadi. Melalui film dokumenternya, âAn Incovenient Truthâ (2006) yang pernah meraih Academy Award 2007 sebagai film dokumenter terbaik, Gore melakukan kampanye ke seluruh penjuru dunia.
TENTANG APRESIASI GURU TERHADAP SK MENPAN
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1990: HARIAN YOGYA POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (140.931 KB)
      April 1990 ini barangkali akan menjadi salah satu bulan yang "mengesankan" bagi para guru di sekolah dasar dan menengah. Mengapa demikian? Konon pada Bulan April 1990 ini SK Menpan yang telah menjanjikan banyak harapan bagi para guru di sekolah dasar dan menengah akan mulai dilaksanakan secara "benar" di berbagai wilayah, tak terkecuali wilayah Yogyakarta dan Jawa Tengah.      Seperti yang masih kita ingat bersama; pada tanggal 2 Mei 1989 tahun yang lalu keluarlah Surat Keputusan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Nomer: 26/ MENPAN/1989 tentang angka kredit bagi jabatan guru di lingkungan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.      Pada saat SK Menpan tersebut di atas dikomunikasikan kepada umum, khususnya kepada para guru serta para pengelola pendidikan lainnya, maka segudang "kemeriahan" dan antusiasme segera muncul. Mengapa demikian? Karena para guru umumnya meyakini bahwa SK tersebut akan mampu memperbaiki nasibnya, yang sekaligus akan menjembatani upaya-upaya meningkatkan mutu pendidikan nasional kita.Â
BUDAYA ANTI SERIUS DALAM TELEVISI PENDIDIKAN INDONESIA
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1992: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (98.657 KB)
      Membuat kemasan audio-visual bagi program-program pengajaran yang mendidik sekaligus menarik itu memang sangat sulit. Ketika saya diminta presentasi dalam seminar sehari Televisi Pendidikan Indonesia (TPI) untuk mencari masukan konstruktif bagi pengembangan TPI itu sendiri saya katakan bahwa program-program pengajaran yang diaudio visualkan itu seperti pepatah Cina "jamu yang berkhasiat pahit rasanya".        Pada kenyataannya memang permasalahan itulah yang sampai sekarang dihadapi oleh teman-teman di TPI; yaitu membuat program-program pengajaran yang secara material pada berisi (berkhasiat) dan secara medional dapat mena-rik pirsawan untuk mengikutinya (tidak pahit). Di sekeli ling kita banyak jamu yang manis namun kurang berkhasiat, dan banyak jamu yang berkhasiat namun kurang manis. Bagi TPI, kini banyak program pengajaran yang secara material sangat hebat akan tetapi secara medional kurang menarik, atau sebaliknya program pengajaran yang secara medional sangat menarik akan tetapi secara material kurang berisi. Sangatlah sedikit program pengajaran yang materinya padat berisi sekaligus penyajiannya menarik.        Dalam kapasitasnya sebagai lembaga pertelevisian yang mengemban misi utama pendidikan, termasuk di dalam-nya pengajaran, maka TPI mau tidak mau harus dapat menya jikan program-program pendidikan, khususnya pengajaran, yang materinya memang padat berisi serta dari sisi media memang menarik minat pemirsanya (interestable).
SETELAH BAN DIBENTUK
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1995: HARIAN BALI POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (412.233 KB)
      Setelah ditunggu-tunggu lama pada akhirnya terbentuklah Badan Akreditasi Nasional (BAN). Satu setengah bulan yang lalu, tepatnya 23 Desember 1994, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Wardiman Djojonegoro telah menandatangani pembentukan BAN dan sekaligus melantik para anggota BAN di Jakarta.        Hadirnya BAN memang sudah ditunggu-tunggu sejak lama, sejak empat setengah tahun yang lalu ketika ketentuan mengenai eksistensi dan peran BAN yang dituangkan di dalam Peraturan Pemerintah (PP) ditandatangani oleh Presiden Soeharto. Seperti diketahui tepat pada tanggal 10 Juli 1990 Presiden Soeharto telah berkenan menandata-ngani PP No.30/1990 tentang Pendidikan Tinggi yang di dalamnya terdapat ketentuan mengenai eksistensi dan peran BAN. Sejak saat itu masyarakat kita, utamanya dari kalangan pendidikan tinggi, sangat merindukan hadirnya BAN untuk menjalankan fungsinya itu.        Dalam prakteknya memang tidak mungkin begitu ketentuan atau aturan selesai dibuat pada hari itu juga bisa dilaksanakan; dalam kasus ini tidak mungkin begitu ketentuan tentang BAN selesai dibuat lalu pada hari itu juga keanggotaannya dapat dibentuk dan ditetapkan. Meskipun demikian selang waktu yang relatif lama, dari 10 Juli 1990 ketika ketentuan mengenai BAN disahkan sampai 23 Desember 1994 ketika BAN terbentuk, telah banyak menimbulkan pertanyaan dan spekulasi di kalangan masyarakat.
PILIHAN DALAM "MULTIPLE TRACK"
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1994: HARIAN BALI POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (410.945 KB)
      Apabila tiada aral melintang maka hari ini, Senin 30 Mei 1994, diumumkan secara serentak hasil Ebtanas di SLTP. Setelah beberapa hari atau tiga minggu sebelumnya, tepatnya 9 s/d 11 Mei 1994, para siswa bergelut dan ber-gulat dengan materi soal Ebtanas yang relatif bervariasi itu maka hari ini mereka akan mendapatkan informasi ten-tang hasil jerih payahnya; berhasil dan lulus pendidikan di SLTP atau gagal dan tidak lulus.        Keberhasilan dalam Ebtanas SLTP tentu saja pantas disyukuri, baik bagi para siswa maupun bagi orang tuanya karena dengan keberhasilan ini maka pintu dan jalan un-tuk menuju cita-cita makin terbuka. Kalau kemudian kita ingat pada kesempatan belajar yang tercermin dalam angka partisipasi pendidikan maka tingkat kesyukuran tersebut pasti bertambah.Sampai kini angka partisipasi pendidikan SLTP baru menunjuk sekitar bilangan 53%, artinya baru 53 dari tiap 100 anak usia SLTP (13-15 tahun) yang mendapat kesempatan untuk bersekolah; dengan demikian bila mereka mendapat kesempatan sekolah dan lulus tentu harus selalu meningkatkan kadar kesyukurannya.        Bagi siswa yang kali ini belum berhasil disaran-kan untuk mengulang kelas dan mengikuti Ebtanas di tahun depan. Inilah alternatif yang paling rasional.
UPAYA PEMANFAATAN POTENSI RADIO BROADCASTING
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1987: HARIAN WAWASAN
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (96.972 KB)
      Barangkali agak aneh, tetapi memang nyata. Mata pelajaran Matematika oleh sementara siswa di negara kita dianggap sebagai "momok" yang cukup menakutkan. Meskipun secara teratur diadakan tatap muka (session) antara pembimbing kegiatan extra course, tetapi kesan Matematika sebagai pelajaran yang rumit tetap sulit dihilangkan.       Beberapa siswa sekolah menengah (serta mahasiswa) pernah berkomunikasi dengan saya; mereka ingin belajar komputer (menjadi operator, programmer atau analyst), tetapi terpaksa menunda keinginannya karena merasa tidak mampu "menguasai" Matematika secara baik.      Matematika memang bukan syarat mutlak bagi seseorang untuk untuk belajar komputer, karena si "logic machine" ini lebih menuntut alur berfikir logis dari pada matematis. Meskipun demikian dari keluhan mereka jelas dapat ditangkap kesan bahwa Matematika telah dianggap sebagai "barang" yang rumit.      Sekolah-sekolah di negara kita serta berbagai lembaga non-formal lainnya, seperti kursus-kursus pendidikan, sesungguhnya telah mengalokasikan waktu yang cukup memadai untuk mengadakan tatap muka langsung antara pembimbing dengan siswa guna mempelajari Matematika.Tetapi, kesan "kerumitan" Matematika tetap saja nampak. Formula, postulat, aksioma atau theorema-theorema yang sebenarnya sangat menarik untuk dipelajari, kadang-kadang justru berubah menjadi sesuatu yang menakutkan.
ANUGERAH UNTUK PERGURUAN TINGGI SWASTA
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2008: HARIAN PIKIRAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (104.829 KB)
Baru-baru ini saya mengontak sahabat yang menjadi pimpinan sebuah PTN ternama di negeri ini serta sahabat lain yang menjadi pimpinan sebuah PTS yang bergengsi. Kepada kedua sahabat itu sengaja saya menanyakan pendapatnya tentang penyerahan Anugerah Anindyaguna oleh menteri pen-didikan nasional, Bambang Sudibyo, kepada beberapa pimpinan PTN yang disaluti prestasi akademiknya. Â Â Â Â Â Â Â Sahabat yang menjadi pimpinan PTN menyatakan langkah menteri itu sangat tepat karena di samping memberikan PT yang sudah berprestasi juga memacu PT lain untuk ikut berprestasi. Mengenai sasaran pemberian anu-gerah hanya PTN, tanpa ada satu pun PTS, ia menyatakan kalau memang realitasnya yang berprestasi hanya PTN maka hal itu sudah tepat. Tanpa nada meremehkan, ia menambahkan mengapa PTS harus diberi anugerah kalau dalam realitasnya tidak ada PTS yang berprestasi. Â Â Â Â Â Â Â Dengan bahasa yang sedikit berbeda sahabat yang menjadi pimpinan PTS pun menyatakan hal yang sama. Langkah menteri memberikan anuge-rah dianggapnya sangat tepat. Namun demikian ketika menyangkut sasaran pemberian, ia mempertanyakan kenapa tidak satu pun anugerah diberikan kepada pimpinan PTS. Hal itu mengesankan tidak ada satu pun PTS yang berprestasi; padahal realitasnya banyak PTS yang berprestasi. Ini dianggap lucu karena selama ini menteri mendorong civitas PTS untuk berprestasi di tingkat dunia koq menjadi pelit memberikan anugerah.
EFEKTIVITAS SIARAN RADIO PENDIDIKAN
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1994: HARIAN SUARA MERDEKA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (413.26 KB)
      Di hadapan para peserta "Lokakarya Siaran Radio Pendidikan" yang diselenggarakan lebih dari dua puluh dua tahun yang silam, atau tepatnya tanggal 3 Januari 1972, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan menganjurkan untuk mempertimbangkan rekomendasi "Bapak Media" Wilbur Schramm dalam salah satu karyanya yang bertitel "The New Media : Memo to Educational Planners". Di dalam karya ilmiahnya ini Schramm yang sangat pakar di bidang permediaan mengemukakan tentang kemungkinan dilaksanakannya inovasi pendidikan dengan me-manfaatkan jasa media, termasuk di antaranya media radio.        Untuk mendukung anjurannya tersebut menteri kita menegaskan bahwa dengan munculnya aneka problematika pendidikan di Indonesia yang makin lama semakin kompleks maka inovasi pendidikan tidak mungkin lagi hanya dilaksanakan secara tradisional dan konvensional; oleh karena itu perlu dilakukan usaha-usaha nonkonvensional.        Akhirnya pada kesempatan tersebut diatas menteri mengharapkan agar segera dirumuskan masalah-masalah yang berhubungan dengan program penerapan broadcasting dalam pendidikan, untuk selanjutnya disusun suatu pola rencana umum untuk mengintegrasi broadcasting (siaran radio) dalam pendidikan secara pragmatis dan realistis.
TELEVISI PENDIDIKAN INDONESIA
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1997: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (120.223 KB)
      Satu bulan lalu seorang relasi yang berdomisili di Ungaran Jawa Tengah menemui saya untuk berkonsultasi tentang rencana pendirian stasiun pemancar radio pendidikan di wilayahnya. Sebelum memberi konsultasi lebih dulu saya bertanya apa yang dimaksud dengan radio pendidikan itu. Ternyata yang dimaksud adalah pemancar radio yang menayangkan program-program pendidikan formal atau program ins-truksional (instructional programme) sebagai ciri khas siarannya. Program-program ini ditujukan kepada siswa dan/atau guru sekolah formal; kalau di Indonesia SD, SLTP, SMU, dan sebagainya.      Dalam referensi kemedia-massaan jenis radio seperti itu disebut dengan Radio Pendidikan (Educational Radio). Jenis radio seperti ini banyak dikembangkan pada negara-negara di Afrika dan Amerika Selatan; adapun maksudnya adalah memberikan pelayanan pendidikan formal baik dalam rangka perluasan (extension) maupun pengayaan (enrichment) kepada masyarakat.     Tanpa mengurangi penghargaan atas niat baiknya maka keinginan untuk mendirikan radio pendidikan tersebut saya persilakan untuk di-pertimbangkan lebih sungguh-sungguh lagi. Sebenarnya banyak alasan yang mendasari saran saya tersebut, tetapi yang paling fundamental adalah adanya pengalaman yang menunjukkan sulit berkembangnya radio-radio seperti itu.     Secara empirik radio pendidikan memang sulit berkembang. Jenis radio ini hampir tidak memiliki akses bisnis yang kuat, siarannya sulit digemari masyarakat, produksi programnya lebih rumit, manajemen institusinya lebih kompleks dan manusianya dituntut lebih profesional. Tanpa didukung yayasan yang kuat, baik finansial maupun idealitas, dijamin radio itu tidak dapat berkembang; bahkan terancam mati.
STTB : ANTARA TARGET DAN KUALITAS
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1986: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (131.098 KB)
      Artikel saya yang termuat di harian ini di bawah titel "Kriteria Prestasi Akademis Sekolah Kian Bias" (KR, 3 Juni 1986) mendapat tanggapan dari Sdr. Ahmad Abu Hamid di harian yang sama di bawah judul "NEM dan Penggunaannya" (KR, 16 Juni 1986).      Saya cukup mengerti dan dapat memaklumi perasaan Sdr. Abu Hamid (maaf namanya saya singkat) sebagai guru yang kemudian merasa kurang sreg setelah membaca artikel saya tersebut (nuwun sewu, saya juga seorang guru SMTA, baik SMTA Umum maupun SMTA Kejuruan). Namun saya yakin perasaan tersebut akan segera hilang manakala Sdr. Abu Hamid membaca ralat saya tentang istilah NEM (KR, 5 Juni 1986). NEM yang saya maksud dalam artikel tersebut adalah Nilai dalam STTB yang salah satu komponen penentunya adalah Nilai Ebtanas Murni (NEM).      Apabila Sdr. Abu Hamid sudah membaca ralat saya tersebut saya yakin tanggapan tersebut akan ditarik kembali atau tidak perlu muncul, kecuali dalam kontek yang lain.      Kesimpulan tentang NEM benar-benar nilai murni yang diperoleh dari EBTANAS, bukan nilai sulapan, bukan nilai tipuan, saya setuju. Tidak ada masalah! Akan tetapi kesimpulan bahwa nilai dalam STTB merupakan hasil pengukuran serta penilaian pendidikan di sekolah secara kontinu sehingga merupakan nilai yang akurat kiranya perlu didiskusikan lebih jauh. Justru inilah salah satu hal yang mengusik saya untuk menulis tanggapan ini.