Articles
MENUJU "RESEARCH UNIVERSITY"
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1990: HARIAN SUARA MERDEKA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (89.771 KB)
      Akhir-akhir ini para pakar dan praktisi pendidikan, tak terkecuali Mendikbud Prof Doktor Fuat Hassan, sering berbicara tentang Research university sebagai indikator kredibilitas sebuah perguruan tinggi. Selanjutnya masyarakat menghubung-hubungkan antara kredibilitas perguruan tinggi, penelitian, serta jurnal penelitian.       Popularitas jurnal penelitian dengan kredibilitas perguruan tinggi memang berkorelasi yang positif; makin populer jurnal penelitian yang diterbitkan oleh perguruan tinggi memberi indikator makin tingginya kredibilitas perguruan tinggi yang bersangkutan.       Hipoteses tersebut barangkali memang tidak dapat digeneralisasikan untuk seluruh jurnal penelitian maupun seluruh perguruan tinggi: namun setidak-tidaknya sebuah perguruan tinggi di Ing-gris, Manchester university, telah berhasil membuktikannya melalui jurnal penelitian yang diterbitkan, "International Journal of electrical engineering and electronics education" maka makin terangkatlah nama lembaga tersebut.
"BABY-BOOM" DALAM PENDIDIKAN
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1992: HARIAN SUARA KARYA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (210.283 KB)
      Dalam suatu seminar pendidikan pada sebuah kampus beberapa waktu lalu, seorang pemrasaran mencoba mengaktu alisasi istilah klasik yang beberapa tahun silam sempat populer di Amerika Serikat (AS), yaitu baby boom. Adapun pengertian istilah ini adalah terjadinya peledakan kelahiran (bayi) di dalam kurun waktu tertentu.        Di AS peristiwa baby boom tersebut pernah terjadi pada tahun 40-an setelah usai Perang Dunia II dan tahun 1960-an setelah usai Perang Vietnam. Kisahnya sederhana,sekembalinya para tentara dari medan perang yang nota bene lama berpisah dengan isteri atau keluarganya mereka segera memulai (kembali) aktivitas "reproduksi"-nya. A-kibatnya dapat dibayangkan secara mudah: beberapa bulan kemudian terjadi kelahiran bayi yang cukup tinggi kuan-titasnya; hal ini disebabkan karena aktivitas reproduksi tersebut dilaksanakan pada kurun waktu yang sama. Itulah kira-kira logika simpelnya.        Apakah peristiwa "baby-boom" tersebut ada hubung-annya dengan fenomena pendidikan? Disinilah permasalahan yang perlu diklarifikasi!
KI HADJAR "RONTOKKAN" ORDONANSI BELANDA
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1995: HARIAN SUARA MERDEKA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (413.538 KB)
Kita mempunyai kebiasaan yang konstruktif pada setiap tanggal 2 Mei memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Kiranya tidak banyak yang tahu bahwa kebiasaan ini sudah dimulai lebih dari tiga puluh tahun yang silam. Setiap kita bangsa Indonesia ini memperingati Hardiknas maka nama Ki Hadjar Dewantara segera muncul di benak kita semua;memang peringatan Hardiknas itu sendiri diambil atau dibakukan dari tanggal lahir Ki Hadjar sebagai Bapak Pendidikan yang telah menyumbangkan hampir seluruh hidupnya untuk mengembangkan pendidikan nasional.  Ki Hadjar lahir di Yogyakarta tanggal 2 Mei 1889 dengan nama Raden Mas (RM) Soewardi. Beliau berasal dari keluarga bangsawan Soerjaningrat sehingga ketika muda lebih dikenal dengan nama R.M. Soewardi Soerjaningrat. Sebagaimana dengan kebiasaan "orang Jawa" waktu itu yang sering berganti nama di masa tuanya maka Soewardi pun ketika genap berusia "panca windu" atau empat puluh tahun, berdasarkan perhitungan Tahun Caka, juga berganti nama; adapun nama yang dipilihnya adalah Ki Hadjar Dewantara sebagaimana yang kita kenal sampai sekarang ini.  Semenjak mudanya Ki Hadjar senang mengekspresikan ide dalam tulisan. Beliau merupakan penulis yang mahatangguh pada masanya; tulisan-tulisannya sangat tegar dan patriotik yang sanggup membangkitkan semangat antikolonial. Tulisan-tulisan Ki Hadjar juga berisikan konsep-konsep pendidikan berwawasan kebangsaan Indonesia yang banyak dimuat di berbagai media massa terkenal ketika itu; antara lain Sedya Tama, Midden Java, De Express, Poesara, Oetoesan Hin-dia, Kaoem Moeda dan Tjahaja Timoer.
DIPERLUKAN SISTEM DEGRADASI-PROMOSI
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1988: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (110.587 KB)
      Ada kebijakan baru dari Depdikbud yang menyangkut dunia pendidikan tinggi di negara kita. Kali ini tentang pembekuan izin pendirian Perguruan Tinggi Swasta (PTS), dalam hal ini adalah PTS-PTS "baru" yang baru akan dihadirkan eksistensinya.      Prof. Dr. Soekadji Ranoewihardjo selaku Direktur Jendral pendidikan Tinggi Depdikbud dalam acara jumpa pers tentang hasil Raker rektor universitas dan institut negeri, ketua akademi dan koordinator Kopertis se Indonesia baru-baru ini menginformasikan bahwa pemerintah kita yang dalam hal ini adalah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan mulai pertengahan Januari 88 ini membekukan izin pendirian PTS baru.      Dirjen Dikti yang didampingi oleh beberapa pejabat teras Depdikbud dalam jumpa pers tersebut lebih lanjut mengemukakan bahwa bagi PTS yang masih dalam status izin operasional akan segera diadakan penilaian kembali berdasar tata cara yang lebih ketat, terutama dari segi jumlah tenaga pengajar yang dimiliki oleh PTS ybs.      Perkembangan PTS akhir-akhir ini memang tergolong sangat pesat; akan tetapi dalam perkembangannya tampak menjurus kearah yang sulit "dipertanggungjawabkan".
MERINDUKAN PENDIDIKAN SISTEM AMONG
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2008
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (105.86 KB)
Mengeratkan hubungan antara Ki Hadjar Dewantara, Tamansiswa, dan pendidikan nasional tentu bukan kegiatan yang mengada-ada, apalagi salah. Ketiga âaspekâ tersebut memang mempunyai hubungan banyak arah yang dalam bahasa risetnya diterminologisasi sebagai multi-ways correlation. Â Â Â Â Â Â Â Ki Hadjar, pria kelahiran Yogyakarta tanggal 2 Mei 1889 dengan nama Soewardi, adalah pendiri dan pemimpin Tamansiswa; di samping pernah menjadi menteri pendidikan yang pertama kali di Indonesia. Konsep pendi-dikan Ki Hadjar tidak saja dipraktekkan di Tamansiswa akan tetapi juga di Indonesia dalam konteks pendidikan nasional. Konsep kebudayaannya pun juga dijalankan di Tamansiswa, di samping Indonesia. Tentu bukan berarti bahwa Tamansiswa berdiri sendiri di luar Indonesia. Â Â Â Â Â Â Â Pemerintah Indonesia pun mengakui besarnya jasa Ki Hadjar utamanya di bidang pendidikan dan kebudayaan. Melalui Surat Keputusan Presiden RI Nomer:316/1959 tertanggal 16 Desember 1959, pemerintah menetapkan tanggal lahir Ki Hadjar sebagai Hari Pendidikan Nasional sebagaimana yang senantiasa kita peringati pada setiap tahunnya.
PERENCANAAN BENGKEL TERPADU
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1984: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (118.707 KB)
Perencanaan Bengkel Terpadu bergerak dalam dua jalur, ialah perencanaan fisik serta organisasi dan pengelolaan yang keduanya harus direncanakan secara ter padu pula, karena menurut pengalaman perencanaan fisik yang baik ternyata tidak selalu mendukung organisasi dan pengelolaan yang sempurna.      Ambil contoh, dalam struktur organisasi terdapat lima Ketua Jurusan masing-masing dengan sekretarisnya, akan tetapi tidak satu lokalpun disediakan untuk para Ketua Jurusan tersebut. Atau sebaliknya!      Orientasi pembangunan Bengkel Terpadu adalah Kurikulum STM Tahun 1976. Masalahnya adalah lebih dari 80% STM Swasta di DIY masih menggunakan Kurikulum 1964 atau Kurikulum 1964 yang Disempurnakan, karena untuk menerapkan Kurikulum 1976 terbentur masalah bengkel dan fasilitasnya yang belum memenuhi syarat.            Ini cukup memprihatinkan! Ibarat makan di Restaurant kita disuguhi nasi yang kemarin. Demikian kiranya masih ada dalam batas wajar karena apabila kita amati lebih jauh ternyata sampai saat ini masih ada pula STM Negeri di DIY ini yang juga belum mampu menerapkan Kurikulum 1976, alias masih menggunakan Kurikulum 1964 / 1964 yang Disempurnakan pula (Aduh, kasihan sekali sekolah ini).            Bengkel Terpadu akan menolong STM-STM swasta dalam menerapkan Kurikulum 1976 (Kurikulum terakhir saat ini yang disarankan pemerintah).
MERADIOKAN PROGRAM PENDIDIKAN
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1986: HARIAN PRIORITAS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (138.595 KB)
Salah satu di antara aspek-aspek inovasi tersebut adalah penggunaan siaran (broadcasting) dalam pendidikan. Telah lama diidentifikasikan bahwa broadcasting mempunyai potensi yang amat hebat jika penggunaannya dapat teratur dan terarah.                      (Menteri P dan K: 2 Jan 1972)      Dalam sejarah keradioan di negara kita maka misi atau tugas utama dalam penyiaran radio senantiasa menga-lami perubahan sesuai dengan tuntutan waktu. Ketika sang waktu bergulir untuk menjumpai "sistem" yang baru maka apa yang diudarakan oleh radiopun harus menyesuaikannya.      Menjelang kemerdekaan dulu tugas utama yang diem-ban oleh radio adalah membangkitkan semangat juang atau sikap patriotisme rakyat untuk melawan penjajah. Dalam era pembangunan dewasa ini maka tugas utama yang diemban oleh radio ialah memberikan informasi kepada masyarakat tentang rencana dan kegiatan pembangunan sehingga masya-rakat termotivisir untuk melibatkan diri di dalamnya.      Sebagaimana ditegaskan dalam GBHN 1978 bahwa tu-gas media massa (termasuk didalamnya radio!) adalah menggelorakan semangat pengabdian perjuangan bangsa, serta memperkokoh persatuan dan kesatuan nasional, mempertebal rasa tanggung jawab dan disiplin nasional, serta mengga-irahkan partisipasi masyarakat dalam pembangunan.
PENTINGNYA TATA KRAMA AKADEMIK DI LINGKUNGAN PERGURUAN TINGGI
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1996: HARIAN PIKIRAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (125.465 KB)
Baru-baru telah ini meletup suatu isu destruktif yang oleh banyak kalangan dianggap dapat mencoreng wajah perguruan tinggi kita. Isu destruktif ini berkisar kepada masalah jiplak-menjiplak karya ilmiah, khususnya karya penelitian. Yang cukup menarik serta menimbulkan rasa "geregetan" masyarakat adalah kasus tersebut tidak hanya dila-kukan oleh mahasiswa, akan tetapi dilakukan pula oleh dosen.     Mulanya biasa saja! Banyak mahasiswa perguruan tinggi,PTS dan PTN, yang melakukan penelitian di dalam rangka penyusunan skripsi program kesarjanaannya. Dosen pembimbing pun lalu memeriksa dan membimbing, ada yang intensif ada yang ala kadarnya, setelah diang-gap layak maka mahasiswa pun mengurus tanggal ujiannya. Apa yang terjadi? Ternyata ada penguji yang jeli; (sebagian) yang ditulis oleh mahasiswa tersebut adalah "mengadopsi" karya orang lain. Gugurlah mahasiswa tersebut dalam mempertahankan karya ilmiahnya.     Barangkali mahasiswa tersebut termasuk "beruntung" karena pada saat itu pula dia telah dinyatakan gugur! Ada lagi kasus seorang maha-siswa dari suatu PTN ternama di Yogyakarta,mahasiswa S2 lagi, yang mulanya berjalan mulus baik dari penyusunan tesis sampai ujiannya. Yang bersangkutan juga sempat menikmati gelar akademik Magister atas "jerih payahnya" itu;akan tetapi beberapa bulan kemudian setelah ada yang menemukan unsur penjiplakan karya ilmiah tesisnya maka gugurlah kredibilitasnya sebagai ilmuwan.Dan gelar akademiknya pun akhirnya dicabut oleh pihak lembaga (Supriyoko, "Pencabutan Ija-zah di Perguruan Tinggi", Pikiran Rakyat: 05/12/95).      Ilustrasi konkrit tersebut hanya merupakan sebagian dari banyak kasus destruktif yang menimpa perguruan tinggi kita. Kalau kemudian ada seorang profesor yang menyatakan telah terjadi prahara akademik pada perguruan tinggi kita barangkali memang ada benarnya.
SARJANA KITA, EHM ... MINIR ?
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1983: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (117.98 KB)
Pada suatu acara tertentu, tepatnya acara seminar yang diadakan oleh salah satu perguruan tinggi di Yogyakarta saya bertemu dengan seorang teman. Setelah ngomong agak lama kemudian beliau berkata bahwa kalau ada dua orang yang sama-sama sarjana,yang satu sarjana Indonesia sedangkan satunya "Sarjana Barat" (dimaksud sarjana yang berasal dari negara yang sudah maju) kemudian mereka diberi masalah/pekerjaan yang sama maka sarjana kita akan minir.Saya memang tidak tahu pasti kata "minir" tersebut berasal dari negara, daerah atau kampung mana, tetapi yang dimaksudkan adalah semacam perasaan rendah diri, minder, grogi, dan sebangsanya. Hati kecil saya terkesiap saat itu bukan lantaran sok nasionalis akan tetapi memang tidak berani menolaknya secara tergesa-gesa. Dan apa yang terjadi kemudian ialah justru lebih cenderung mengiyakan saja.Pernyataan kawan seprofesi saya tadi meyakinkan diri ini setelah melihat banyaknya "volenteur-volenteur" asing yang bekerja di negara kita dengan penuh percaya diri.Walaupun sebagian dari mereka bukan seorang sarjana tetapi mereka tampak pandai di bidangnya dan kalau tak tahu akan terus terang bertanya. Disisi lain banyak sarjana-sarjana kita (terutama yang baru) nampak belum sreg dalam penampilannya, seolah bekal yang diperoleh dari pendidikannya belum mampu untuk menunjang profesinya. Tentunya tidak semuanya begitu.
SKENARIO ANAK INDONESIA MASA DEPAN
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1999: HARIAN PIKIRAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (118.103 KB)
      Penggantian Kurikulum 1994 menjadi Kurikulum 1999, atau Kurikulum Edisi 1999, Kurikulum 1994 yang Disempurnakan, atau apa pun namanya, sampai kini ternyata belum tuntas. Kebelumtuntasan ini bukan saja menyangkut pelaksanaan di lapangan yang banyak membawa keberatan pada para praktisi pendidikan di sekolah akan tetapi juga menyangkut belum jelasnya konsep kurikulum baru tersebut dalam kaitannya dengan skenario pembentukan anak Indonesia di masa depan.      Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa secara teknis penggantian kurikulum sekolah kita, dari SD s/d SMU dan SMK, tahun ini terasa mendadak. Apabila awal Juli lalu ada pejabat Depdikbud yang menginformasikan kurikulum baru belum selesai disusun itu menandakan bahwa penyusunan Kurikulum 1999 memang dilakukan secara marathon. Dengan demikian tidak terlalu salah apabila ada yang menyatakan bahwa dari sisi produksi, Kurikulum 1999 itu seperti fast food. Kalau kemudian ada yang mempertanyakan mana ada kurikulum "fast food" yang bermutu tentu dapat dimaklumi.      Dari sisi pelaksanaan juga demikian. Tiba-tiba saja pimpinan sekolah mendapatkan instruksi menjalankan Kurikulum 1999 meski banyak di antara mereka belum pernah sekalipun mendapat sosialisasi mengenai kurikulum yang baru. Perubahan sistem periodesasi belajar dari catur wulan ke semester (pada SMK), penambahan jam belajar, penyesuaian materi GBPP per mata pelajaran, dsb, benar-benar membingungkan banyak praktisi pendidikan di sekolah.       Pada sisi yang lain terdapat masalah-masalah yang prinsipial ditanyakan di lapangan; apakah Kurikulum 1999 ini dapat memberi kejelasan tentang skenario anak-anak kita di masa depan? Apakah penggantian kurikulum ini hanya merupakan ide sesaat dari para "penguasa" pendidikan?