Claim Missing Document
Check
Articles

DOSEN SEBAGAI PENELITI Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1993: HARIAN BALI POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (409.051 KB)

Abstract

       Kalau ada dua ilmuwan dan sekaligus orang penting yang saling berbeda pendapat tentu bukan beda sembarang beda,  artinya masing-masing tentu mempunyai argumentasi yang dapat dipertanggung-jawabkan. Secara kebetulan per-bedaan pendapat ini terjadi antara dua ilmuwan dan orang penting kita;  yaitu mantan rektor Universitas Airlangga (Unair) yang pernah bekerja di berbagai lembaga nasional dan internasional, Marsetio Donoseputro,  dengan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, Wardiman Djojonegoro.           Mulanya biasa saja.  Pak Marsetio beropini bahwa dosen sebagai pengajar di perguruan tinggi sebaiknya tak merangkap sebagai peneliti.  Dosen yang lebih berpotensi mengajar diberi tugas mengajar tanpa meneliti, sedangkan dosen yang lebih berpotensi meneliti diberi tugas mene-liti tanpa mengajar.  Menurut beliau rangkap tugas dosen antara mengajar dan meneliti telah menyebabkan kualitas penelitian dosen menjadi rendah.  Itulah sebabnya beliau mengusulkan agar dosen yang lebih senang mengajar hanya diberi tugas mengajar, sedangkan dosen yang lebih senang meneliti hanya diberi tugas meneliti.          Pak Marsetio pun  menyatakan bahwa temuan-temuan penelitian dosen  yang meneliti dapat saja dipakai untuk mengajar oleh para dosen yang mengajar di kelas.
PERGURUAN TINGGI NEGERI AKAN DIAKREDITASI Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1990: HARIAN YOGYA POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (109.175 KB)

Abstract

       Baru-baru ini dilangsungkan sebuah diskusi panel oleh Pusat Kerja Sama Ilmiah, PKSI, Kopertis V Yogyakarta; adapun topik yang diambil ialah masa depan perguruan tinggi swasta, PTS, di Indonesia setelah diberlakukannya Peraturan Pemerintah (PP) No:30/1990  tentang pendidikan tinggi. Acara ini diikuti oleh 200-an praktisi PTS, terdiri dari pengurus yayasan, pimpinan lembaga serta dosen PTS. Beberapa civitas perguruan tinggi negeri, PTN, pun ternyata hadir pula.       Diskusi yang menampilkan pemrasaran dari berbagai latar belakang, antara lain dari Badan Pertimbangan Pen-didikan Nasional, BPPN, dari PTN serta dari PTS sendiri, tersebut berjalan sangat semarak; kiranya banyak peserta yang optimis bahwa PP No:30/1990 benar-benar akan mampu memberikan masa depan pada PTS di waktu-waktu mendatang.       Salah satu isyu yang paling menarik dari berbagai permasalahan yang timbul di dalam diskusi forum tersebut ialah menyangkut masalah akreditasi. Adapun pangkaltolak lahirnya pembicaraan tentang akreditasi ini kiranya ti-dak  dapat dilepaskan dari  pengalaman para praktisi PTS yang merasakan ada semacam ketidakadilan di dalam sistem akreditasi yang telah berjalan selama ini; meskipun pada umumnya mereka tetap menganggap bahwa akreditasi penting untuk dilaksanakan.
MEREALISASI ASEAN UNIVERSITY Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1992: HARIAN SUARA KARYA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (212.133 KB)

Abstract

       Bagus! Inilah komentar pertama ketika ide tentang pembentukan ASEAN University terkomunikasikan kepada masyarakat, terutama masyarakat akademik. Sesungguhnya ide pembentukan ASEAN University ini memang bukan merupakan hal yang baru, setidak-tidaknya ketika berlangsung KTT ke-4 ASEAN di Singapura beberapa waktu yang lalu gagasan tersebut telah diformulasi.          Bukan itu saja; ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memproklamasikan perguruan tinggi tanpa mahasiswa, "United Nation (UN) University",beberapa tahun yang lalu maka ide pembentukan ASEAN University pun segera muncul. Kerangka berfikirnya cukup simpel dan bersifat analogis; apabila di tingkat internasional telah berhasil dibentuk UN University maka di tingkat regional ASEAN pun kiranya perlu didirikan "ASEAN University" untuk menghimpun "ke-kuatan" pendidikan (tinggi) bangsa-bangsa ASEAN.         Meskipun ide pembentukan ASEAN University tersebut bukan merupakan barang baru  akan tetapi belakangan ini sempat teraktualisasi kembali; hal ini berkaitan dengan diselenggarakannya pertemuan ASEAN Sub Committee on Education (SCOE) di Jakarta baru-baru ini.
MENCARI METODE PENGELOLAAN ANAK "GENIUS" YANG TIDAK BERKESAN EKSKLUSIF DAN ELITIS Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1987: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (122.218 KB)

Abstract

       Konon  pada tahun 1900-an para birokrat di Paris Perancis ingin memiliki data komparatif antara anak-anak yang "normal" dengan anak-anak yang tergolong "kurang normal" (istilah normal disini dikaitkan dengan tingkat kecerdasannya); namun saat itu belum ada satu jenis alatpun yang bisa digunakan untuk mengungkap data dimaksud.       Karena alat untuk mengungkap data tersebut belum tersedia maka seorang yang banyak mendalami dunia pendidikan dan psikologi, Binet kemudian mendapat tugas untuk kepentingan tersebut di atas.       Pada tahun 1905 Binet bersama temannya Simon berhasil menciptakan sebuah alat yang dapat digunakan untuk mengukur tingkat kecerdasan seseorang; yang kemudian terkenal dengan sebutan Tes Binet-Simon. Alat atau konsep ini selanjutnya sering disebut-sebut sebagai  embah-nya alat pengukur kecerdasan. Dari sini pulalah selanjutnya lahir konsep-konsep tentang Intelligentie Quotient  (IQ) atau tingkat kecerdasan.       Dalam dunia pendidikan, inteligensi merupakan faktor  yang sangat dominan dalam  menentukan  keberhasilan belajar seseorang.
BUKU DAN KEHORMATAN BANGSA Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2003
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

       “Tidak ilmu suluh padam”, demikianlah bunyi pepatah lama bangsa Indonesia yang kira-kira artinya ialah, tanpa memiliki ilmu atau kepandaian yang cukup maka kehormatan kita di mata masyarakat akan sirna. Dengan kata lain, kalau kita memiliki ilmu atau kepandaian secara memadai maka hidup kita akan terhormat di mata masyarakat, sebaliknya kalau kita tidak memiliki ilmu atau kepandaian secara memadai maka hidup kita tidak akan terhormat di mata masyarakat.          Kalau kita kemudian bersafari ke negara tetangga Malaysia dan Brunei Darussalam, ternyata kedua bangsa serumpun ini pun memiliki pepatah yang hampir sama artinya. “Hitam-hitam bendi, putih-putih sadah”, begi-tulah bunyi pepatah yang dimaksud. Adapun artinya, orang yang berilmu akan dihormati sekalipun berwajah buruk, sedangkan orang yang tidak berilmu akan ditindas sekalipun berwajah elok. Sementara bangsa Arab memiliki pepatah kuno, “al ngilmu shoidun, walkitaabahu khoiduh(u)”, yang artinya ilmu itu seperti binatang buruan atau liar dan buku itu sebagai tali pengikatnya.          Arti dan makna peribahasa tersebut kiranya bersifat universal, dalam hal ini tidak hanya berlaku bagi bangsa Indonesia, Malaysia dan Arab saja akan tetapi berlaku bagi seluruh bangsa di dunia ini. Orang yang berilmu atau pandai, apalagi kepribadiannya baik, pasti dihormati oleh orang lain; sebaliknya kalau ada orang yang berilmu atau pandai tetapi kepribadiannya buruk sehingga tidak dihormati oleh orang lain maka faktor penyebab ketidakhormatan tersebut bukan pada ilmu akan tetapi pada keburukan atas kepribadiannya.  
MENAIKKAN PAMOR SEKOLAH SWASTA Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1988: HARIAN SUARA MERDEKA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (122.641 KB)

Abstract

       Beberapa waktu yang lalu kami mendapat kesempatan dan tugas untuk melaksanakan studi banding pada beberapa lembaga pendidikan  di salah satu negara maju Eropa, tepatnya adalah di negeri Belanda.       Salah satu hal yang sangat menarik bagi kami adalah relatif banyaknya lembaga pendidikan swasta (private school) yang menjadi "favourite" masyarakat. Sementara itu pada sisi yang lain telah tertanamnya perasaan bangga  pada masyarakat umum untuk menyekolahkan putra-putri nya pada lembaga pendidikan swasta tersebut.       Di Zaandam misalnya, di kota kecil ini kami temui "sekolah wanita" setingkat SMTP yang dikelola oleh yayas an nonpemerintah, alias swasta. Dari berbagai siswa yang kami interview pada umum-nya merasa bangga dapat belajar di sekolah swasta tersebut; dan menurut pengakuannya perasaan bangga semacam itu juga dimiliki oleh orangtuanya masing-masing. Setelah kami "lacak" lebih dalam, sekolah itu memang merupakan "favourite" masyarakat setempat.       Tetapi memang begitulah adanya, pada umumnya para orang tua sangat bangga dapat menyekolahkan putra-putri nya di sekolah swasta.
PLUS MINUS HASIL UMPTN Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1991: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (56.937 KB)

Abstract

       Pagi hari ini, 3 Agustus 1991, hasil Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN) diumumkan secara serentak di seluruh Indonesia. Para kandidat yang telah ikut berkompetisi meramaikan "upacara" penyaringan mahasiswa baru PTN tahun ini dapat segera meluncur ke PTN dan PUML terdekat atau mencermati media massa tertentu untuk melihat hasil perjuangannya selama ini.          Sebanyak 67.713 peserta UMPTN 1991 (bilangan ini belum termasuk PGSD) konon dinyatakan berhasil menembus dinding PTN. Secara kuantitatif jumlah ini lebih rendah dibandingkan dengan jumlah kandidat yang berhasil menembus dinding PTN untuk tahun yang lalu. Apakah penurunan jumlah ini menandakan makin ketatnya persaingan di dalam perebutan kursi PTN?  Barangkali ya; meskipun taraf signifikansinya masih harus distudi lebih dalam.          Ada sedikit "cacat kecil" dalam pelaksanaan UMPTN kali ini;  yaitu secara optimal ternyata pola ini belum mampu membangkitkan minat masyarakat pada program kepen-didikan, khususnya program PGSD.
PENGANGKATAN KEMBALI GURU YANG PENSIUN PERLU PERHATIKAN REGENERASI STRUKTURAL Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1985: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (101.975 KB)

Abstract

       Pada jaman Belanda dulu apabila kita mendengar istilah pensiun maka interpretasi kita akan lari kepada seorang yang berusia lewat setengah baya bekas ambtenaar, duduk di kursi goyang, memakai kaca-mata "putih dengan memegang sebuah buku ditangan kanannya. Tidak ketinggalan, disampingnya terdapat meja "pendek" lengkap dengan kopi manisnya.        Itulah gambaran kenikmatan orang yang telah pensiun pada waktu itu. Orang yang mulai pensiun berarti orang yang mulai merasakan hidup nikmat, atau orang yang membuka "tabungan".  Seolah-olah segala jerih payah dan kepahitan hidup telah diselesaikannya dengan sempurna.        Sekarang, terutama dari dimensi ekonomis material, keadaan tersebut terasa telah berubah hampir 180 derajad.        Seorang yang mulai menjalani masa pensiun dapat dikatakan mulai membuka hidup prihatin (tentu tidak untuk semua orang). Dengan penghasilan yang menjadi sangat  pas-pasan, untuk tidak dikatakan kurang, disertai vareasi berbagai tanggungan maka lengkaplah keprihatinan hidup. Hal ini barangkali sangat terasa bagi para "pensiunan" guru yang biasanya dulu kurang sempat "menabung".
POLEMIK SEPUTAR UJIAN NASIONAL Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2006: HARIAN SUARA MERDEKA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (96.631 KB)

Abstract

       Isu pendidikan yang paling menarik selama perjalanan tahun 2006 ini adalah tentang Ujian Nasional (Unas). Di samping berkembang sepanjang tahun, utamanya menjelang dan pada waktu dilaksanakan, isu Unas juga menyita perhatian masyarakat luas. Guru, siswa, orang tua siswa, organisasi guru, asosiasi profesi pendidikan, sampai wakil rakyat alias anggota DPR ikut merespon (rencana) dilaksanakannya Unas.          Di kalangan para ahli pun terdapat silang pendapat dengan berbagai argumentasinya masing-masing; ada sebagian yang setuju dilaksanakannya Unas untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional, dan ada pula yang tidak sependapat dengan alasan tidak bisa banyak faktor penentu kelulusan direduksi hanya menjadi tiga mata pelajaran.          Di kalangan DPR pun konon terdapat silang pendapat; namun di luar terdengar kabar bahwa komisi DPR yang membidangi pendidikan sempat “mengancam”, Unas boleh saja dilaksanakan sepanjang hasilnya hanya digunakan sebagai dasar pemetaan pendidikan nasional dan tidak dipakai sebagai dasar penentuan kelulusan siswa. Atau, kalau pemerintah “ngotot” menyelenggarakan Unas maka DPR tidak akan menyetujui anggaran untuk Unas. Padahal kita tahu, anggaran untuk menyelenggarakan Unas setiap tahunnya lebih dari 250 milyar rupiah.
MERINTIS BANK KARYA ILMIAH Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1987: HARIAN SUARA KARYA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (124.237 KB)

Abstract

           Kasus jual beli skripsi, tesis, disertasi serta berbagai karya ilmiah lainnya melalui pedagang kaki lima yang banyak terungkap di "kota pelajar" Yogyakarta  pada akhir-akhir ini; yang kemungkinan juga terjadi di kota-kota  lain, kini mulai ramai menjadi bahan  pembicaraan yang cukup aktual.           Tidak kurang dari para birokrat akademik sendiri, seperti Dirjen Dikti Soekadji Ranoewihardjo; Kepala Balitbang Dikbud Harsja W. Bachtiar; sampai Mendikbud Fuad Hassan  sendiri ikut terlibat didalamnya. Dengan adanya keterlibatan dari para "tokoh" dengan berbagai ragam pendapatnya telah menjadikan masalah ini sebagai  sebuah "polemik kecil".           Sebagian dari mereka berpendapat bahwa jual beli karya ilmiah melalui pedagang kaki lima memang tidak membawa masalah, justru hal ini merupakan media pemerataan penyebaran informasi ilmiah; meski Mendikbud Fuad Hassan sendiri  masih mempertanyakan apakah cara ini  merupakan cara yang terbaik dalam penyebaran informasi.           Sementara itu pendapat yang lain mengatakan bahwa jual beli skripsi, tesis, dsb di sembarang tempat adalah kurang pada tempatnya; hal ini mengingat bahwa skripsi, tesis, dsb bersifat unpublished (tidak dipublikasikan).