Claim Missing Document
Check
Articles

MENGELOLA ANAK CERDAS INDONESIA Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2008: HARIAN KOMPAS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (110.998 KB)

Abstract

         “Khusus untuk anak-anak kita yang berprestasi cemerlang, yang telah mengharumkan nama bangsa dan negara dengan meraih medali emas dalam olimpiade berbagai cabang ilmu pengetahuan tingkat internasional, Peme-rintah akan memberikan beasiswa, untuk menuntut ilmu di universitas mana pun di seluruh dunia, sampai mencapai gelar doktor. Kita patut bersyukur, pada tahun 2007, kontingen Indonesia berhasil memperoleh 51 medali emas dari berbagai olimpiade sains internasional. Suatu prestasi yang cemerlang dan membanggakan”.          Kalimat tersebut secara eksplisit dinyatakan oleh Presiden SBY ketika beliau menyampaikan pidato kenegaraan dan keterangan pemerintah atas rancangan undang-undang tentang anggaran pendapatan dan belanja negara tahun anggaran 2009 beserta nota keuangannya pada tanggal 15 Agustus 2008 yang lalu.          Apabila kita cermati secara teliti di dalam sejarah pidato kenegaraan presiden RI, pengakuan terhadap prestasi internasional anak cerdas Indone-sia baru pertama kali terjadi. Apalagi menghadirkan anak-anak cerdas pada acara resmi pidato kenegaraan rasanya juga belum pernah dilakukan selama ini; terkecuali pada momentum 15 Agustus 2008 yang lalu.
BERBAGAI PROBLEM AKTUAL GURU KITA Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1994: HARIAN SUARA MERDEKA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (414.02 KB)

Abstract

       Dimulai tahun 1994 ini UNESCO menetapkan tanggal 5 Oktober sebagai "hari guru internasional";  yaitu merupakan hari guru yang diperingati secara internasional.  Bagi bangsa Indonesia,  secara kebe-tulan peringatan hari guru ini tanggalnya bersamaan dengan "Hari Angkatan Bersenjata Republik Indonesia" yang sudah biasa dirayakan rakyat kita,  khususnya anggota ABRI.  Jadi,  kalau tanggal 5 Oktober tahun ini kita tidak memperingati hari guru secara meriah barangkali ada hubungannya dengan "kebersamaan" waktu tersebut, di samping karena masih baru maka masyarakat kita pada umumnya belum begitu familiar dengan "hari guru internasional".          Menanggapi ketetapan UNESCO mengenai "hari guru internasio- nal" tersebut maka Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), Basyuni Suriamihardja, menyatakan bahwa ketetapan itu membuktikan terdapatnya pengakuan masyarakat internasional terhadap pentingnya peran guru, khususnya bagi lembaga pendidikan.          Lebih lanjut Pak Basyuni menyatakan bahwa ketetapan UNESCO tersebut mengingatkan kita atas pentingnya upaya penegakan wibawa, status dan peran guru di masyarakat. Hal ini dipandang sangat penting mengingat pengakuan masyarakat terhadap peran guru dalam dunia pendidikan belum cukup diimbangi dengan penghargaan yang proporsional, misalnya menyangkut peningkatan kesejahteraan guru.
PENDIDIKAN ANAK USIA DINI Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2006: HARIAN PIKIRAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (110.577 KB)

Abstract

Setelah sekian lama tak terdengar aktivitas Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang berskala nasional dan internasional di Indonesia; belum lama ini Depdiknas menyelenggarakan seminar dan lokakarya nasional PAUD. Aktivitas ini melibatkan beberapa direktur jenderal (dirjen), dari dirjen Pendidikan Luar Sekolah (PLS) yang membawahi direktorat PAUD, dirjen pendidikan tinggi, sampai dirjen mutu pendidikan dan tenaga kependidikan.          Momentum yang dihadiri ratusan partisipan tersebut juga menghadir-kan pembicara yang berskala internasional; masing-masing Ms. Soo-Hyang Choi dari UNESCO atau tepatnya dari bagian Section for Early Childhood and Inclusive Education serta Marylou Hyson, Ph.D. dari NAEYC Was-hington DC selaku senior advisor for Research and Professional Practice.          Diskusi dan perbincangan yang berkembang dalam forum seminar dan lokakarya tersebut telah dibuat rumusan; dan rumusan ini menjadi referensi pengembangan pendidikan anak usia dini di Indonesia.
SEKITAR KEWENANGAN SARJANA TESIS DAN EQUIVALENT Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1986: HARIAN SUARA MERDEKA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (121.061 KB)

Abstract

       Ketika acara "break" dari seminar kecil pada sebuah perguruan tinggi tiba, seorang kawan lama mendekat dan dia langsung menggamit tangan saya. Setelah berbasa-basi sejenak kemudian dia menanyakan sesuatu kepada saya, ialah apa sebenarnya tugas IKIP yang sesungguhnya? Yang dimaksud adalah tentang lulusan program S1 IKIP dipersiapkan untuk apa?       Terus terang saya agak "terperanjat" demi mende-ngar pertanyaannya itu. Bukan saja karena kawan saya tsblebih senior dari saya, akan tetapi saya merasa agak sulit menerjemahkan kalimat tersebut dimaksudkan untuk "menanya" atau "menguji".       Dengan mempertimbangkan segala sesuatunya akhir-nya saya memberi jawaban bahwa tugas IKIP adalah mempersiapkan calon guru sekolah menengah. Dan itulah sebabnya maka pelaksanaan kurikulum program S1 IKIP (termasuk di dalamnya FKIP yang bernaung dibawah universitas) selalu berorientasikan pada sekolah menengah, baik sekolah menengah umum ataupun sekolah menengah kejuruan.       Kenapa banyak lulusan program S1 IKIP yang diberi kewenangan mengajar pada perguruan tinggi?  Demikian ki-ra-kira "protes"nya.
MENYOAL KONSEPSI PENDIDIKAN KEUNGGULAN TAMANSISWA Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1996: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (119.934 KB)

Abstract

       Mana sekolah unggul di Tamansiswa? Tamansiswa sudah saatnya memiliki sekolah-sekolah unggul!  Begitulah pertanyaan dan pernyataan yang berkembang di tengah-tengah masyarakat kita. Pertanyaan dan pernyataan ini mengesankan bahwa sampai sekarang Tamansiswa belum atau tidak memiliki sekolah unggul sama sekali.  Bahkan kesan ini berkembang terus sampai menimbulkan persepsi yang salah bahwa seolah-olah Tamansiswa anti keunggulan dalam menyelenggarakan pendididikannya bagi rakyat banyak.       Kesan tersebut jelas tidak benar!  Kalau yang  dimaksud  sekolah unggul adalah sekolah yang sarana dan fisiknya memadai serta dapat menghasilkan lulusan yang berprestasi secara "luar biasa" maka seko-lah unggul semacam itu bukan barang baru bagi Tamansiswa. Artinya bahwa Tamansiswa memang sudah memilikinya.      Ingat SMU Taruna Nusantara di Magelang yang banyak dikagumi masyarakat dan diacu oleh sekolah-sekolah sejenis lainnya?  Ya, seko-lah itu adalah sekolah Tamansiswa yang dikembangkan bersama-sama dengan pihak ABRI.  Secara ideologis Tamansiswa memberikan kontribusi berupa wawasan kebudayaan (Ki Hadjar Dewantara) dan ABRI memberi kontribusi berupa wawasan kejuangan (Sudirman) maka jadi-lah SMU Taruna Nusantara yang sangat terkenal itu. Memang SMU Taruna Nusantara ini tidak "full-manage" oleh Tamansiswa.      Jauh hari sebelum mengembangkan SMU Taruna Nusantara maka Tamansiswa sudah mengembangkan belasan sekolah dari TK, SD, SMP s/d SMU di Bathupat, Aceh.  Sekolah-sekolah ini dikembangkan atas kerja sama antara Tamansiswa dengan PT Arun sehingga kemudian oleh masyarakat dikenal dengan sebutan Tamansiswa LNG Arun. Prestasi lulusan sekolah-sekolah ini sangat dihandalkan.
HINDARI HOLOCAUST PENDIDIKAN SUPRIYOKO, KI
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2009
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (103.75 KB)

Abstract

       Holocaust yang artinya prahara atau bencana besar saat ini  merupakan terminologi yang sangat populer di Arab, khususnya di Palestina. Serangan “membabi-buta” yang dilakukan Israel di Gaza dan menewaskan ribuan manusia itulah yang disebut holocaust. Terminologi ini semakin populer ketika dikumandangkan secara berulang kali oleh televisi Al-Jazeera dan Al-Arabiya.          Di Indonesia, holocaust ada hubungannya dengan sertifikasi pendidik. Apakah hubungannya? Sejak tahun kemarin s/d sekarang proses sertifikasi yang melibatkan ratusan ribu guru dan dosen telah dan masih berlangsung. Puluhan ribu guru dan dosen bahkan telah menikmati kenaikan kesejahte-raan secara signifikan setelah mendapatkan sertifikat pendidik.          Permasalahannya, kalau kenaikan kesejahteraan puluhan ribu guru dan dosen yang telah menyita triliunan rupiah uang negara tersebut tidak diser-tai dengan semakin matapnya kinerja pendidikan maka terjadilah bencana besar di negeri ini. Holocaust!
PERJUANGAN TAMANSISWA BELUM SELESAI Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1983: MAJALAH PUSARA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (106.12 KB)

Abstract

"Op den 3den Juli 1922 werd de eerste Taman Siswa te Jogjakarta opgericht. Het was de tijd van den geweldigen drang naar onderwijs, waartegen het departement van onderwijs niet opgewassen bleek. Tallooze kinderen, die toelating tot de schlen verzochten, moesten worden teleurgesteld. Er was voor hen geen plaats; het maximum kon niet wor den overschreden".     "Pada tanggal 3 Juli 1922 Taman Siswa yang pertama didirikan di Yogyakarta. Ketika itu adalah masanya keinginan bersekolah amat kuat, di mana terbukti bahwa Departemen Pengajaran tidak dapat menguasainya. Banyak anak-anak yang ingin masuk sekolah terpaksa mengalami kekecewaan. Bagi mereka itu tidak ada tempat, jumlah maksimum tidak dapat menguasainya".Demikian yang pernah ditulis oleh Ki Hadjar Dewantara sebagai Tokoh Pendidikan Nasional kita, yang menurut presiden pertama RI Soekarno, Ki Hadjar sekaligus merupakan Tokoh Nasional, Tokoh Kemerdekaan, dan Tokoh Pendidikan Nasional yang dengan keuletan dan ketabahan hati berjuang terus sepi ing pamrih rame ing gawe.Ki Hadjar Dewantara melalui tulisan-tulisannya di berbagai surat kabar, majalah, brosur-brosur, serta penerbitan lain yang tersebar di seluruh Nusantara di samping berhasil membangkitkan semangat per-juangan pada masa penjajahan juga berhasil meletakkan konsep dasar pendidikan nasional yang progressif bagi generasi pada waktu itu, sekarang dan mendatang.
MENGANTISIPASI MENURUNNYA ANGGARAN PENDIDIKAN Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1998: HARIAN PIKIRAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (113.161 KB)

Abstract

       Menurut jadual nanti malam,  hari Selasa tanggal 6 Januari 1998, Presiden Soeharto akan menyampaikan keterangan pemerintah tentang Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) tahun 1998/1999 di depan Sidang Paripurna DPR RI.  Momentum seperti ini memang sudah menjadi tradisi politik yang konstruktif di negara kita sejak beberapa tahun yang lalu.        Tradisi politik tersebut memang sangat konstruktif karena dengan diketahuinya rancangan anggaran negara,  baik anggaran pendapatan maupun anggaran belanja, maka seluruh lapisan masyarakat Indonesia dapat mengerti betul kekuatan dan kelemahan ekonomik kita sebagai suatu "keluarga besar". Selanjutnya masyarakat pun dapat berfikir lebih cermat,  kegiatan-kegiatan mana yang memang pantas mendapat prioritas dan kegiatan-kegiatan mana yang dapat dinomer-sekiankan. Sudah barang tentu semua itu dilaksanakan dalam kerangka pelaksanaan pembangunan nasional kita.      Banyak kalangan yang menanti-nantikan pidato Presiden Soeharto malam nanti dengan perasaan yang pesimistik;  cemas, was-was, dan bahkan sepertinya ada sedikit rasa takut.  Mengapa demikian? Karena banyak orang tahu bahwa formulasi RAPBN 1998/1999 kali ini disusun dalam kondisi ekonomik yang memprihatinkan.  Gejolak moneter yang sudah muncul sejak beberapa bulan lalu sampai sekarang belum dapat teratasi secara tuntas.       Keadaan tersebut nampaknya disadari benar oleh pemerintah kita sampai-sampai Presiden Soeharto memberi petunjuk kepada Pak Gi-nardjar Kartasasmita  selaku Ketua Bappenas agar dalam penyusunan RAPBN 1998/1999 benar-benar dilakukan secara realistik, apa adanya dan jangan ditutup-tutupi.
KEJUTAN TFR DARI DIY Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1991: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (216.03 KB)

Abstract

       Ada kejutan baru dari Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY); total fertility rate (TFR) di DIY didasarkan pada Survey Demografi dan Kesehatan (SDKI) Tahun 1991 ternyata paling rendah di Indonesia, yaitu menunjuk pada angka 2,076. Artinya suatu angka yang menunjukkan rata-rata seorang wanita di DIY mempunyai anak selama masa reproduksinya hanya 2,076 orang saja. Angka ini merupakan hasil terbaik kalau dibandingkan dengan angka serupa untuk provinsi-provinsi lainnya di Indonesia. Informasi bagus ini dikemukakan oleh Kepala BKKBN Propinsi DIY, Soenjoto, pada forum rapat konsultasi baru-baru ini (KR, 23/11/91).          Dari sumber yang sama juga dipresentasikan angka komparatif tentang TFR di berbagai provinsi; misalnya di DKI Jakarta sebagai provinsi yang memiliki TFR terendah kedua  angkanya sebesar 2,150,  di Jawa Timur yang memiliki TFR terendah ketiga angkanya sebesar 2,204. Provinsi-provinsi lain di luar DIY, DKI Jakarta dan Jawa Timur angka TFR-nya lebih besar lagi.              Angka TFR yang terendah tentu merupakan prestasi untuk bidang pembangunan kependudukan dan kesehatan; dan prestasi tersebut  tidak akan dapat dicapai tanpa adanya kerjasama yang kompak antara unsur-unsur yang terkait.
TOKYO KEBANGGAAN DAN REPRESENTASI Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1997: HARIAN PIKIRAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (121.276 KB)

Abstract

       Tokyo  merupakan ibukota negara Jepang;  itulah sebabnya  kota yang sudah terbangun sejak abad ke-17 oleh Dinasti Tokugawa Ieyasu itu mendapat julukan sebagai capital city. Di samping julukan terse-but Tokyo juga menyandang berbagai julukan yang lain; antara lain Eastern Capital,  Official Capital City, Cultural City, Metropolis Modern City, dan sebagainya.       Kita memerlukan waktu sekitar tujuh jam  untuk mencapai Tokyo dari Jakarta menggunakan pesawat jenis Boeing 747, Airbus A-300 atau pesawat sejenisnya,  karena harus menempuh jarak sekitar 6.050 Km; sedikit lebih jauh dibanding jarak antara Jakarta ke Beijing China sekitar 5.900 Km,  atau lebih dekat dibanding jarak antara Denpasar ke Auckland New Zealand sekitar 6.950 Km. Penerbangan dari Jakarta ke Tokyo dapat dilaksanakan secara langsung (direct flight), atau bisa ditempuh melalui beberapa kota internasional seperti Kuala Lum-pur, Bangkok, Hong Kong, dan Taipei.  Kita pun dapat menempuhnya melalui Brunei, Manila, dan Taipei.       Secara geografis  Tokyo sendiri terletak  di bagian tengah-selatan Pulau Honshu, pulau terbesar di Jepang.  Kalau orang akan pergi dari Tokyo ke Naha,  kota yang terletak di Pulau Okinawa salah satu pulau di bagian ujung selatan Jepang maka diperlukan waktu lebih dari dua jam dengan pesawat terbang DC 9;  kira-kira seperti dari Jakarta me-nuju Aceh.  Demikian pula kalau mau pergi dari Tokyo ke Wakkanai salah satu kota di ujung timur laut Jepang juga diperlukan waktu lebih dari 2 jam dengan pesawat yang sama;  kira-kira seperti dari Jakarta menuju kota di Indonesia bagian Timur.       Meskipun tidak seluas Indonesia,  Jepang memang tidak dapat di-katakan sebagai negara kecil;  jadi wajarlah bila untuk bepergian antar kota sering diperlukan waktu yang tidak pendek.