Articles
SETENGAH HATI MENGHAPUS EBTANAS
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2002: HARIAN KOMPAS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (95.369 KB)
     Kabar paling baru dari pimpinan departemen pendidikan kita ialah rencana dihapuskannya pelaksanaan Ebtanas di SD (termasuk MI). Rencana ini akan direalisasikan mulai tahun 2002; dan karena selama ini nilai Ebtanas, yang oleh masyarakat lebih dikenal dengan sebutan Nilai Ebtanas Murni (NEM), diposisikan sebagai salah satu faktor untuk menentukan kelulusan siswa maka dengan dihapuskan-nya Ebtanas nanti kepala sekolah lebih bebas menentukan kelulusan (baca: ketamatan) siswa dengan tanpa memasukkan lagi faktor nilai Ebtanas.       Penghapusan Ebtanas di SD tersebut memang disertai dengan tanggung jawab sekolah untuk menentukan bahan ujian serta mem-berikan sertifikat tamat bagi semua siswa. Seterusnya untuk seleksi ke SLTP (termasuk MTs) sepenuhnya menjadi kewenangan sekolah yang akan dikehendaki calon siswa.        Dalam keterangannya, Pak Malik Fadjar selaku menteri pen-didikan nasional menyatakan bahwa salah satu pertimbangan utama akan dihapuskannya Ebtanas di SD ialah pelaksanaan program wajib belajar sembilan tahun yang menjadi program prioritas pemerintah memang tidak membutuhkan adanya Ebtanas.
HASIL EBTANAS BELUM MEMUASKAN
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1989: HARIAN SUARA KARYA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (93.96 KB)
      Pelaksanaan evaluasi belajar tahap akhir secara nasional, Ebtanas, untuk siswa-siswi sekolah menengah di Indonesia telah berakhir sudah; hasilnya juga sudah bisa dilihat dan "dinikmati" oleh para siswa-siswi itu sendiri, para guru, dan para orang tua siswa.      Dalam dunia pendidikan menengah di Indonesia maka Ebtanas mempunyai posisi yang benar-benar sangat strategis, karena hasilnya secara langsung dapat mencerminkan mutu pendidikan di negara kita pada umumnya, dan mutu lulusan sekolah menengah pada khususnya. Baiknya hasil Ebtanas akan mencerminkan tingginya mutu lulusan, sedang jeleknya hasil Ebtanas akan mencerminkan rendahnya mutu lulusan.      Kiranya tidaklah berlebihan adanya bila ada sementara orang yang berpendapat bahwa Ebtanas merupakan semacam titik kulminasi dalam rangkaian kegiatan belajar mengajar di sekolah menengah. Pada kenyataannya Ebtanas memang merupakan "moment pendadaran" bagi siswa sebelum meninggalkan sekolahnya masing-masing.      Oleh karena demikian strategisnya posisi Ebtanas tersebut di atas maka wajarlah apabila masyarakat kita menaruh perhatian yang cukup serius terhadap peristiwa akademik yang selalu terjadi secara rutin setiap akhir tahun ajaran itu.
MENGAKHIRI JUAL BELI GELAR
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2000: HARIAN SUARA MERDEKA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (115.271 KB)
      Ketika suatu diskusi kecil yang diikuti oleh para akademikus melakukan pembahasan mengenai diterminan maraknya jual beli gelar (akademik) di negara kita dalam lima sampai sepuluh tahun terakhir ini muncullah berbagai faktor yang diperkirakan menjadi penyebab-nya. Faktor-faktor yang diidentifikasi oleh peserta diskusi diyakini baik sacara langsung maupun tidak langsung berpengaruh pada ma-raknya kasus tersebut.      Adapun faktor-faktor yang dimaksud antara lain adalah ada-nya sekelompok masyarakat kita yang pandai memanfaatkan peluang bisnis untuk melakukan transaksi jual beli gelar, masih melekatnya kultur feodalistik dalam masyarakat, sikap sebagian dari kita yang lebih menghargai "kertas" di atas keahlian riil, terjadinya pelarian sosial atas ketidakmampuan kita untuk berprestasi secara konkrit, tidak adanya komitmen masyarakat untuk menyelesaikan kasus ini, tidak adanya ketegasan pemerintah, tidak adanya peraturan yang solid untuk menyeret para penipu ke pengadilan, dan sebagainya.      Ketika pembahasan sampai kepada keberpengaruhan faktor yang satu terhadap faktor yang lain dalam hubungan sebab akibat (causal relationship) ternyata pembahasan menemui jalan buntu. Di dalam teori penyelesaian masalah metoda ini memang banyak dipakai oleh para "teoretikus".       Sebagai misal apabila munculnya A disebabkan faktor B, dan munculnya B disebabkan faktor C maka untuk menyelesaikan masalah A yang diberi perlakuan harus faktor C bukan B. Kalau C-nya beres, otomatis B akan beres, dan kalau B beres maka permasalah-an A akan selesai. Tetapi bila yang diberi perlakuan ialah B maka permasalahan tidak pernah selesai selama C sebagai "prime mover" tidak dibereskan. Demikianlah cara berpikir orang kampus!
SELAMAT DATANG MAHASISWA BARU PTN
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1990: HARIAN WAWASAN
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (113.825 KB)
      Hasil ujian masuk perguruan tinggi negeri (UMPTN) Tahun 1990 diumumkan secara serentak melalui seluruh PTN yang tersebar di seluruh wilayah Nusantasa; itu berarti bahwa sekarang ini masing-masing kandidat mahasiswa baru PTN sudah mengetahui hasil akhir dari sebuah perjuangan yang penuh romantika, berhasil atau gagal.       Apabila kita membuat semacam peraturan tak tertulis (unwrited regulation) yang mewajibkan bagi kandidat yang berhasil untuk tertawa sekeras-kerasnya dan bagi kandidat yang gagal untuk menangis sejadi-jadinya, maka dapat dipastikan bahwa ke- rasnya tawa dari para kandidat yang berhasil akan tertutup oleh kerasnya tangis dari para kandidat yang gagal. Mengapa? Karena setiap ditemui satu orang yang tertawa maka di sekitarnya akan dijumpai lima orang yang menangis.      "Upacara" akademis UMPTN 1990 kali ini diikuti oleh 450.000-an kandidat, sedangkan yang diterima melalui jalur ujian tertulis UMPTN hanya sekitar 75.000 kandidat (angka ini tidak termasuk kandidat yang diterima melalui jalur "PMDK", politeknik, PGSD, dsb); jadi untuk dapat berhasil menundukkan UMPTN 1990 ini maka setiap kandidat harus dapat "mengalahkan" lima kandidat yang lainnya.
MENANAMKAN KONSEP HASTA BRATA PADA SISWA SD DI INDONESIA
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2006: MAJALAH FASILITATOR
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (134.15 KB)
Ada dua teori kepemimpinan yang banyak ditulis dalam berbagai buku dan referensi lainnya; kedua teori tersebut masing-masing adalah, pertama, pemimpin itu sudah âdicetakâ oleh Allah SWT, ia sudah diberi bakat-bakat kepemimpinan sejak lahirnya (the leader was born); dan kedua, pemimpin itu tidak âdicetakâ oleh Allah SWT melainkan dapat dididik oleh manusia dan lingkungan (the leader was educated). Â Â Â Â Â Â Â Dari kedua teori tersebut di atas mana yang lebih benar? Entahlah, akan tetapi yang jelas perdebatan mengenai hal itu sampai sekarang pun masih sering terdengar. Namun di luar itu, sekarang banyak diyakini orang tentang kombinasi atas keduanya; bahkan ada yang menyatakan sebagai teori ketiga yang menyatakan bahwa pemimpin itu di samping dipengaruhi bakat yang dimiliki semenjak lahir juga sejauhmana pendidikan mampu untuk menga-rahkannya. Kalau seseorang memiliki bakat pemimpin yang baik serta memperoleh pendidikan yang baik maka jadilah ia seorang pemimpin yang berhasil; demikian pula kalau seseorang tidak memiliki bakat pemimpin yang baik serta tidak memperoleh pendidikan yang baik maka akan sangat sulit dapat menjadi pemimpin yang berhasil. Â Â Â Â Â Â Dari tiga makro teori kepemimpinan tersebut berkembanglah belasan, puluhan, bahkan ratusan teori yang lebih detail atau mikro teori kepemim-pinan. Mikro teori ini ada yang tertulis, misalnya banyak teori modern yang dikenal masyarakat lewat buku-buku, majalah, jurnal, dan penerbitan lain, namun juga ada yang tidak tertulis, misalnya ajaran luhur nenek moyang yang lebih banyak disampaikan langsung dari orang ke orang. Â Â Â Â Â Â Â Mikro teori kepemimpinan tersebut berkembang di negara-nagara Barat maupun Timur; bahkan di masing-masing daerah pada suatu negara biasa-nya memiliki teori kepemimpinan yang detail. Hal ini sangat wajar oleh karena karakteristik pemimpin itu sangat dipengaruhi oleh kultur masyara-kat setempat; oleh karenanya di masing-masing kelompok masyarakat bisa saja muncul teori kepemimpinan yang berbeda satu sama lain.
MEMPERKECIL KADAR DEPENDENSITAS PTS
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1986: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (100.923 KB)
      Apabila inspirasi belum mau singgah pada hal "dewi malam" meminta untuk menulis naskah, maka saya cepat-cepat ambil sepeda butut untuk putar-putar kota sambil menikmati dan mensyukuri kebesaran Tuhan. Tidak peduli jam sepuluh, duabelas atau jam dua malam sekalipun. Kebiasaan ini saya tekuni sejak beberapa tahun terakhir ini.      Malam itu juga! Ketika hasrat hati ingin menulis tetapi inspirasi belum datang maka saya cepat-cepat ambil sepeda butut untuk putar-putar kota sebelum akhirnya berhenti di sebuah tempat untuk "bergudeg lesehan"; makanan rakyat yang konon sudah mendunia (yang jelas merupakan sektor informal yang kokoh dipertahankan untuk mengacu predikat kota ini).      Belum lagi pesanan dihidangkan, datanglah tiga pemuda yang mendekati saya. Mereka mengaku berstatus mahasiswa dari sebuah PTS yang cukup punya nama di Yogya ini; ketiganya mengaku sudah kenal saya; mengikuti tulisan-tulisan saya (bahkan yang satu mengaku sering mengikuti seminar saya di berbagai kesempatan); akhirnya ... mereka mengkritik artikel saya pada Kedaulatan Rakyat edisi 17 Desember 1986, di bawah titel "Sejarah Baru PTS Segera Datang".      Dalam artikel tersebut saya menulis bahwa dengan terbitnya SK Mendikbud Nomer: 020/U/1986 tentang pelaknanaan ujian negara bagi mahasiswa perguruan tinggi swasta, maka salah satu "trouble" ujian negara mulai dapat diatasi (tentunya kalau sudah direalisir pelaksanaannya), terutama yang menyangkut waktu tempuh.
MENGKLARIFIKASI VALIDITAS EMPIRIS UMPTN
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1996: HARIAN PIKIRAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (146.907 KB)
      Pikiran Rakyat edisi 23 Juli dan 6 Agustus 1996 secara simpatik menurunkan tulisan mengenai prosesi UMPTN sebagai metoda seleksi mahasiswa baru PTN.Tulisan yang merupakan rangkuman wawancara dengan Ketua Tim Pengolah Data UMPTN, Toemin A. Masoem, ter-sebut benar-benar informatif. Tulisan ini bisa dinikmati oleh pembaca baik dari kalangan pendidikan tinggi maupun masyarakat umum.      Tulisan tersebut juga sangat bermanfaat serta terasa mulai dapat membuka ketertutupan "Tim UMPTN" baik di tingkat lokal maupun nasional. Selama ini manajemen UMPTN kita oleh banyak kalangan memang dirasakan sebagai kurang transparan sehingga muncul penilaian, yang mungkin tidak tepat benar, bahwa "Tim UMPTN" bekerja tidak profesional; misalnya saja menyangkut lamanya waktu pengolah-an data untuk mendapatkan hasil akhir.       Ilustrasi riilnya sbb: tahun ini seleksi tertulis UMPTN dilaksanakan 18 dan 19 Juni sedangkan hasilnya baru dapat diumumkan 27 Juli. Itu berarti perlu waktu selama 38 hari untuk memproses data hingga mendapatkan hasil akhir. Kalau saja "Tim UMPTN" sedikit lebih pro-fesional mungkin dengan 21 hari semua pekerjaan dapat diselesaikan dengan baik hingga peserta UMPTN pun tidak perlu menunggu terlalu lama untuk mengetahui hasil akhirnya. Bukankah kini semuanya sudah serba computerized dan tersedia jasa telekomunikasi sehingga banyak pekerjaan yang dapat dilakukan secara akurat dan cepat.      Meskipun tulisan mengenai UMPTN tersebut sangat informatif, apalagi dengan nara sumber Pak Toemin yang lama berkecimpung di dunia UMPTN, akan tetapi ada beberapa hal yang kiranya perlu dikla-rifikasi; misalnya menyangkut tingkat kesulitan soal-soal, pemenuhan persyaratan kesahihan atau validitas, dan sebagainya.
MERATAKAN PT BERKELAS DUNIA
SUPRIYOKO, KI
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2009: HARIAN SUARA PEMBARUAN
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (109.212 KB)
Beberapa hari lalu, tepatnya 27 Januari 2009, Centro de Información y Documentación (CINDOC) dalam publikasinya âThe World Universities âRanking on the Webâ mengeluarkan daftar 5.000 perguruan tinggi terbaik dunia berdasarkan aksesabilitas dan visibilitas pendidikan melalui internet. Publikasi ini memang sudah ditunggu-tunggu oleh masyarakat pendidikan; khususnya pendidikan tinggi.        Sebagaimana sudah diduga sebelumnya; perguruan tinggi yang berki-prah di Amerika Serikat (AS) mendominasi papan atas. Sebanyak 104 atau 52 persen dari 200 perguruan tinggi terbaik dunia adalah perguruan tinggi yang berkiprah di AS.        Bukan itu saja, seluruh sel dalam kelompok sepuluh besar (the best ten) diisi oleh perguruan tinggi di AS; mereka itu adalah Massachusetts Insti-tute of Technology di ranking ke-1, Stanford University (ke-2), Harvard University (ke-3), University of California Berkeley (ke-4), Cornell University (ke-5), University Of Michigan (ke-6), California Institute of Tecnology (ke-7), University Of Minnesota (ke-8), University of Illinois Urbana Champaign (ke-9), dan University of Texas Austin (ke-10).
RELEVANSI PROGRAM SIARAN TERHADAP MISI PENDIDIKAN
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1983: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (133.756 KB)
Apabila penulisan ini dapat dipresentasikan secara auditif tentu akan saya pilih Mars Jakarta dalam instrumentalia sebagai tune untuk mengantarkan salam buka penulisan ini serta untuk menyampaikan salam hangat penuh semangat SEKALI DI UDARA TETAP DIUDARA.Kita sebagai warga nusantara baik dikala dalam perjalanan, sedang tiduran, di ladang menggarap sawah, di laut mencari ikan, di kamar sepi untuk menyendiri atau ditempat-tempat lain tetapi begitu mendengar music di atas tentu ingat betul kalau alunan tersebut menandakan kalau program siaran radio (RRI) sudah akan segera dimulai atau akan berakhir.Tanpa terasa usia radio kita hampir sama dengan usia kemerdekaan negara kita ialah 38 tahun. Suatu usia yang relatif lama yang membawa rentetan suka duka, pahit getir dan puja puji.Walau hampir selama sekitar dua puluh tahun terakhir ini hari radio hampir melayang dari ingatan kita karena tidak ditandai dengan pemotongan tumpeng atau upacara yang lainnya, tetapi itu tentu tidak mengendorkan semangat perjuangan dan semangat kerja orang-orang radio kita.
MENGANTISIPASI DAMPAK SIBERKOMUNIKASI
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1998: HARIAN PIKIRAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (127.084 KB)
      Pada peringatan Hari Pers Nasional tanggal 9 Februari yang lalu Presiden Soeharto secara implisit mengingatkan jajaran pers kita agar tidak terjebak pada sistem pemberitaan bermuatan rendah karena hal itu dapat menimbulkan disintegrasi bangsa. Nampaknya beliau tengah meneropong pers kita dari sisi perangkat lunak. Dan itulah "bahaya" yang dihadapi oleh pers nasional kita sekarang ini. Seandainya beliau sempat melihat dari sisi perangkat keras sebenarnya ada "bahaya" lain yang perlu kita waspadai bersama; yaitu "bahaya" yang ditimbulkan oleh kemajuan teknologi komunikasi.      Bahwa teknologi komunikasi telah dan akan berkembang pesat di akhir tahun 1900-an dan di awal tahun 2000-an telah diprediksi oleh banyak pakar komunikasi dan pakar teknologi; setidak-tidaknya oleh Wilbur Schramm dalam karya tulisnya The New Media : Memo to Educational Planners (1965) serta oleh Michael Hacker dan Robert Barden dalam bukunya Technology in Your World (1985).       Khusus tentang perkembangan teknologi komunikasi di Indonesia telah dilaporkan dan diprediksi oleh Franqois Raillon, seorang "pakar Indonesia" versi lembaga internasional French National Center for Scientific Research (FNCSR) dalam bukunya Indonesia 2000 : The Industrial and Technological Challenge (1990). Dalam salah satu bagian uraiannya, Raillon telah membahas perkembangan teknologi komunikasi di negara kita sejak dari diaksesnya teknologi komputer, dipergunakannya satelit sampai dengan kontribusi industri pendukung utamanya PT INTI dan LEN, untuk kemudian memprediksinya.      Prediksi para pakar teknologi dan pakar komunikasi tersebut ter-nyata memang benar; perkembangan teknologi komunikasi memang berjalan cepat dan hal ini telah berdampak secara nyata pada perkembangan pers di suatu negara, sudah barang tentu termasuk didalamnya pers nasional Indonesia.