Claim Missing Document
Check
Articles

BUDAYA "ANTI SERIUS" DI TELEVISI Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1994: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (412.845 KB)

Abstract

       Ini ada cerita dari lapangan.  Ketika teman-teman Pusat Teknologi Komunikasi (Pustekkom) Depdikbud Jakarta berkumpul di suatu tempat untuk menseleksi naskah tele-visi pendidikan yang layak untuk diaudio-visualkan, baik dari segi materi (subject matter)  maupun dari segi tek-nologi pembuatannya (media), beberapa diantaranya sempat mengeluh tentang betapa sulitnya membuat program-program sekolah atau paket-paket pendidikan yang menarik untuk ditayangkan di layar televisi.          Seperti diketahui Pustekkom  merupakan salah satu lembaga milik Depdikbud  yang dikoordinasi langsung oleh Balitbang,  yang salah satu fungsinya adalah memproduksi paket-paket siaran untuk ditayangkan di TPI maupun TVRI.          Pada dasarnya membuat film-film yang mendidik itu tidak mudah, sedangkan membuat program yang menarik juga tak gampang;  namun demikian lebih tidak mudah dan lebih tidak gampang lagi membuat  program-program audio-visual yang mendidik sekaligus menarik.
PILIHAN PASCA UMPTN, UNIVERSITAS TERBUKA DAN PTS Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1993: HARIAN SURABAYA POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (411.885 KB)

Abstract

       Hasil Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN) baru saja diumumkan tanggal 31 Juli 1993 yang lalu seba-gaimana yang telah direncanakan sebelumnya.  UMPTN tahun ini berhasil meloloskan 61.396 peserta yang terdiri dari 33.786 peserta bidang studi IPS dan 27.610 peserta untuk bidang studi IPA. Seperti tahun-tahun yang lalu di dalam hal jumlah maka peserta IPS senantiasa lebih dominan.         Dengan adanya kebijakan pemerintah untuk sementara tidak mendirikan PTN baru dalam beberapa tahun terakhir ini, terkecuali menambah beberapa jurusan maupunprogram studi yang dianggap perlu, maka daya serap PTN boleh di-katakan tidak mengalami perubahan yang berarti. Di dalam beberapa tahun terakhir ini daya serap PTN terhadap para lulusan sekolah menengah berkisar pada angka  60.000 s/d 70.000 untuk setiap tahunnya; kalau pun jumlahnya keluar dari interval tersebut, seperti tahun lalu sedikit di a-tas angka 70.000, maka angka deviasinya tidaklah tinggi.          Tahun ini peserta UMPTN mencapai 422.696 kandidat dan yang lolos hanya 61.396 kandidat; artinya untuk bisa menembus  dinding PTN maka setiap kandidat harus sanggup menyisihkan lima atau enam kandidat yang lainnya.
MEREVISI UNDANG-UNDANG PENDIDIKAN Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1999: HARIAN PIKIRAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (123.01 KB)

Abstract

       Seandainya RM Soewardi Soerjaningrat, yang kemudian berganti nama menjadi Ki Hadjar Dewantara, masih hidup maka hari ini beliau tepat berusia 110 tahun.  Lahir pada tanggal 2 Mei 1889 dari keluarga Pakualaman Yogyakarta;  beliau berkiprah di dalam dunia politik dan jurnalistik sebelum akhirnya memutuskan untuk mengabdikan diri dan menghabiskan hidupnya di dunia pendidikan.        Karena pengabdiannya yang luar biasa di dalam membangun  dan memajukan pendidikan nasional maka beliau diangkat menjadi Pahla-wan Pendikan Nasional. Pas sudah! Jangan lupa bahwa konsep-konsep pendidikan nasional yang kita kembangkan sekarang ini banyak yang lahir atas pemikiran cemerlang Ki Hadjar. Wajarlah kalau beliau juga sering kita sebut sebagai Bapak Pendidikan Nasional Indonesia; bah-kan Presiden Soekarno sahabatnya dalam perjuangan pernah menyebut Ki Hadjar dengan tiga predikat sekaligus; yaitu Tokoh Politik, Tokoh Kebudayaan dan Tokoh Pendidikan.       Ketika Ki Hadjar wafat  maka tanggal kelahirannya, 2 Mei,  dija-dikan sebagai Hari Pendidikan Nasional yang senantiasa kita peringati pada setiap tahunnya.  Banyak momentum pendidikan nasional yang lahirnya ditepatkan pada tanggal yang "baik" tersebut; salah satunya adalah momentum lahirnya Undang-Undang (UU)  No.2/1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional.  Jadi hari ini, undang-undang pendidikan kita sudah genap sepuluh tahun atau satu dasa warsa.       Problematika kita sekarang adalah; apakah secara umum undang-undang pendidikan kita yang sudah berusia sepuluh tahun itu masih relevan dijadikan pedoman bagi penyelenggaraan pendidikan di negara kita.  Ataukah,  undang-undang pendidikan kita sudah mulai tertinggal oleh lajunya kemajuan jaman.
TPI DALAM SIKLUS KEBIJAKAN PENDIDIKAN Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1991: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (219.441 KB)

Abstract

Secara historik berbagai alternatif inovatif pada bidang pendidikan senantiasa dieksperimentasikan di berbagai negara, termasuk di Indonesia. Alternatif inovatif ini meliputi upaya untuk menciptakan pendekatan baru dalam bidang pengajaran; yaitu suatu pendekatan untuk menciptakan metode nonkonvensional dalam menyampaikan bekal atau materi pengajaran kepada anak didik. "Salah satu di antara usaha inovatif tersebut adalah penggunaan siaran (broadcasting) dalam pendidikan. Telah lama diidentifikasikan bahwa broadcasting memiliki potensi yang hebat kalau penggunaannya teratur dan tera-rah. Sudah masanya kini kita menjelajahi kemungkinan dan potensi broadcasting itu di dalam dunia pendidikan kita". Demikian dikemukakan oleh Menteri P dan K di hadapan para peserta "Lokakarya Siaran Radio Pendidikan" tanggal 3 Januari 1972, sebagai bagian dari tonggak-tonggak era kebangkitan pengajaran bermedia di Indonesia. Beberapa tahun sebelum Menteri P dan K memberikanamanatnya tersebut sebenarnya upaya-upaya untuk mencipta kan alternatif inovatif sudah dilakukan; setidak-tidak-nya dengan diberikannya lampu hijau terhadap rekomendasi pakar media Wilbur Schramm di dalam salah satu karyanya bertitel "The New Media : Memo to Educational Planners", (1965). Dalam karyanya tersebut Schramm sebagai "bapak media" mengemukakan kemungkinan dilaksanakannya inovasi pendidikan dengan memanfaatkan jasa media, termasuk pula di antaranya media radio dan televisi.
STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2005
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (127.314 KB)

Abstract

       The International Baccalaureate Organization (IBO), satu badan atau lembaga yang didirikan tahun 1956 serta berpusat di Switzerland (administrasi) dan di Inggris (riset, kurikulum dan asesmen) baru saja memberikan pengakuan dengan menerbitkan nama-nama sekolah yang berkualitas internasional. Dari ratusan nama yang diakui oleh IBO tersebut ternyata sangat sedikit nama sekolah di Indonesia yang ditulis dalam daftar.          Angka konkretnya sbb: dari 146.052 SD di Indonesia (Balitbang, 2003) ternyata hanya delapan sekolah saja yang mendapat pengakuan dunia dalam kategori ”The Primary Years Program” (PYP), dari 20.918 SMP di Indonesia ternyata juga hanya delapan sekolah yang mendapat pengakuan dunia dalam kategori ”The Middle Years Program” (MYP), dan dari 8.036 SMA ternyata hanya tujuh sekolah saja yang mendapat pengakuan dunia dalam kategori ”The Diploma Program” (DP).          Publikasi IBO tersebut senada dengan publikasi sebelumnya yang dilakukan oleh Asia Week (2000), yang menyatakan sangat sedikit perguruan tinggi di Indonesia yang diakui memiliki kualitas dunia. Dari 2000-an perguruan tinggi di Indonesia ternyata hanya empat perguruan tinggi saja yang mendapat pengakuan dunia dalam kategori ”multi discipline university” serta hanya satu perguruan tinggi yang mendapat pengakuan dunia dalam kategori ”science and technology university” .
MATEMATIKA, TPG, DAN PAK WARDIMAN Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1993: HARIAN BALI POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (409.525 KB)

Abstract

       Sebuah diskusi yang diselenggarakan oleh kelompok mahasiswa program studi Pendidikan Matematika baru-baru ini  menghasilkan konklusi sederhana tetapi sangat perlu untuk diperhatikan.  Konklusi tersebut menyatakan bahwa akhir-akhir ini  makin banyak orang tua siswa yang tidak dapat lagi membantu belajar matematika putra-putrinya di rumah. Umumnya para orang tua tersebut sudah tidak dapat lagi mengikuti perkembangan pelajaran matematika di seko lah anaknya;  utamanya perkembangan dari dimensi metoda. Kalau dilihat dari materinya sebenarnya tidaklah terlalu kompleks, akan tetapi motode atau pendekatan pemecahan masalahnya yang sekarang ini dianggap terlalu rumit.          Kesimpulan diskusi tersebut memang lebih didasar-kan pada pengamatan (observation), bukan pada penelitian (research), sehingga setiap orang dapat saja meragukan maupun meyakini konklusi tersebut.  Lepas dari itu semua konklusi sederhana ini  memang pantas mendapat perhatian para pendidik serta birokrasi pendidikan kita; apalagi pada akhir-akhir ini juga berkembang sinyalemen mengenai kekurang-berhasilan,  untuk tidak menyatakan kegagalan, pendidikan matematika di sekolah-sekolah.          Pendidikan Matematika di sekolah-sekolah sekarang ini kurang praktis, "berputar-putar",  dan sulit diikuti oleh anak didik maupun orang tua siswa. Begitu kira-kira pendapat dari sementara pengamat dan praktisi pendidikan kita. Lebih dari itu bahkan ada yang menyatakan pendapat bahwa pendidikan Matematika kita telah gagal mencapai tujuannya  untuk menanamkan nilai-nilai matematika serta mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari siswa.
AKHIRNYA SIPENMARU HARUS TURUN TAHTA Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1989: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (114.113 KB)

Abstract

       Kalau Direktur Perguruan Tinggi Depdikbud, Prof. Dr. Soekadji Ranoewihardjo baru-baru ini menginformasikan bahwa Sipenmaru,  seleksi penerimaan mahasiswa baru, untuk perguruan tinggi negeri (PTN) akan segera diakhiri mulai tahun 1989 ini; sebenarnya hal tersebut sudah bisa kita perhitungkan sebelumnya.       Sejak sekitar satu atau dua tahun yang lalu sebenarnya "perhitungan" tentang efektivitas Sipenmaru sudah dilakukan oleh para pengamat, dan tentunya juga oleh para birokrat yang berkepentingan. Di samping itu ada juga di antara anggota masyarakat kita yang mulai mempertanya kan "kecanggihan"  sistem seleksi yang mulai menampakkan  celah-celah kelemahannya itu.       Dalam rapat kerja nasional (rakernas) Depdikbud yang berlangsung pada pertengahan Juli 1987 yang lampau "tunas-tunas" gagasan untuk menghentikan peredaran Sipenmaru, baik yang berupa program ujian tulis (utul) maupun program non ujian-tulis penelusuran minat dan kemampuan (PMDK), sebenarnya sudah mulai muncul dipermukaan; meski belum sampai pada tahap kebijakan.       Dengan demikian kalau pada akhir tahun 1988 baru-baru ini Depdikbud mengambil kebijakan untuk mengakhiri era Sipenmaru maka sebenarnya hal tersebut dapat dikatakan merupakan realisasi dari gagasan yang sudah muncul pada beberapa waktu sebelumnya.
ANALISIS TENTANG KEBUTUHAN GURU DI DIY Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1991: HARIAN YOGYA POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (82.833 KB)

Abstract

       Problematika pengadaan dan pengangkatan guru atau tenaga kependidikan bagi sekolah-sekolah di negara kita makin lama tidak makin simpel akan tetapi justru semakin kompleks saja; apalagi bila dihubungkan dengan efisiensi dan efektivitas pemanfaatannya.          Baru-baru ini Rektor IKIP Negeri Jakarta, Conny Semiawan, membuat pernyataan -yang bernada complain (?)- bahwa sampai sekarang ini hampir 100% guru SD di negara kita tidak ada yang lulusan IKIP (termasuk FKIP, STKIP, dan sejenisnya). Pernyataan tersebut seolah-olah ingin menggambarkan betapa masih tingginya kekurangan atas ke-butuhan guru SD di negara kita.          Akhir-akhir ini  berbagai media memang memberita-kan betapa masih tingginya kebutuhan guru  SD, SLTP, dan SLTA di berbagai wilayah atau propinsi. Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur adalah contoh propinsi yang masih mengalami kekurangan guru SD; demikian juga dengan berba gai propinsi di luar Jawa. Secara kuantitatif kekurangan guru di berbagai propinsi masih menunjukkan angka yang tinggi; apalagi kalau dihubungkan dengan jenis-jenis bi-dang studi yang tergolong langka.
DISTRIBUSI ALAT KONTRASEPSI: SEBUAH MASALAH Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1990: HARIAN WAWASAN
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (106.275 KB)

Abstract

Kenakalan remaja (dan orang tua) yang akhir-akhir ini makin banyak mewarnai kehidupan kita, khususnya kehidupan masyarakat kota, seringkali dihubung-hubungkan dengan sistem distribusi alat kontrasepsi sebagai bagian dari pemasyarakatan gerakan Keluarga Berencana (KB).       Akhir-akhir ini memang banyak orang yang mengeluh bahwa distribusi alat kontrasepsi,  antara lain kondom, pil, obat vagina atau tissu KB, obat suntik, dsb, telah banyak yang disalahgunakan.  Orang-orang yang semestinya tidak berhak mendapatkan alat kontrasepsi ternyata dapat menikmatinya  secara "bebas";  sehingga mereka cenderung memakainya untuk kepentingan-kepentingan yang "salah".       Ironis lagi, konon,  kurang terkontrolnya distribusi alat kontrasepsi tersebut oleh sementara anak-anak sekolah dimanfaatkan untuk "mencoba" dengan pasangannya, atau dengan orang lain yang dipaksanya. 
MENINGKATKAN MINAT MASYARAKAT TERHADAP SEKOLAH KEJURUAN Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1992: HARIAN SURABAYA POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (216.782 KB)

Abstract

       Konvensi Nasional Pendidikan Indonesia ke-2 yang berlangsung di Medan baru saja berakhir. Sejumlah pakar dan birokrasi pendidikan berkumpul, berbincang-bincang, serta berembug untuk menghasilkan sejumlah kesamaan pandangan dan kesepakatan. Semua ini, ditujukan bagi kemajuan pendidikan di Indonesia.          Salah satu topik yang menarik di dalam forum ter-sebut adalah dilemparkannya masalah yang secara langsung menyangkut sekolah kejuruan,  suatu jenis lembaga pendi-dikan yang sedang "dilupakan" oleh sementara orang kare-na dianggap tidak efektif dan efisien, serta tidak mampu memberikan nilai kebanggaan. Yang lebih menarik, permasa lahan tersebut justru diaktualisasi oleh Mendagri Rudini yang nota bene lebih berkapasitas sebagai  "birokrat po-litik", dan bukan oleh para pakar pendidikan sendiri.          Keadaan tersebut mengingatkan kita pada peristiwa beberapa waktu lalu saat digugatnya eksistensi sekolah kejuruan oleh sementara orang untuk mengakhiri berlaku-nya sistem persekolahan di Indonesia yang selama ini me-ngembangkan sistem persekolahan jalur ganda (multiple track school system),  yang mendampingkan sekolah umum dengan sekolah kejuruan.  Sebagai gantinya akan dikem-bangkan sistem persekolahan jalur tunggal  (single track school system) dengan menggusur eksistensi sekolah keju-ruan. Untunglah Peraturan Pemerintah (PP) No:29/1990 segera diberlakukan sehingga pemikiran untuk "menggusur" eksistensi sekolah kejuruan dapat diakhiri.