Articles
MEMPERSOALKAN DUALISME PENDIDIKAN
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1993: HARIAN BALI POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (410.65 KB)
      Sistem dualisme pengelolaan pendidikan dasar atau tepatnya Sekolah Dasar (SD) kembali direaktualisasi dan disorot oleh para pengambil keputusan. Baru-baru ini di dalam pertemuan antara Mendikbud dan staf dengan anggota Komisi IX Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI perbincangan mengenai dualisme pengelolaan pendidikan dasar kembali muncul di permukaan. Efisiensi dan efektivitas sistemnya kembali didiskusikan.        Sesungguhnya pembicaraan mengenai sistem dualisme tersebut bukan pertama kalinya dilakukan; sejak beberapa tahun yang lalu, semenjak Pak Wardiman Djojonegoro belum memegang pucuk pimpinan departemen pendidikan, semenjak Peraturan Pemerintah (PP) No.28/1990 tentang Pendidikan Dasar disusun,bahkan semenjak sebelum Undang-Undang (UU) No.2/1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional terbakukan, maka pembicaraan tentang dualisme pengelolaan pendidikan dasar sudah sering dilakukan. Bahkan, masalah dualisme ini menjadi semacam agenda klasik untuk pertemuan Mendik bud dengan anggota Komisi IX DPR RI; bermula dari perta-nyaan mengenai efisiensi dan efektivitas sistem kemudian berakhir dengan keinginan untuk mengakhiri sistem.        Tegasnya: secara historis pertanyaan dan keraguan mengenai efisiensi dan efektivitas sistem dualisme dalam pengelolaan pendidikan dasar serta keinginan untuk meng-akhiri sistem tersebut sudah muncul sejak lama. Meskipun demikian ternyata sampai saat ini sistem tersebut masih berjalan seperti biasa, tidak pernah ada perubahan sedi-kitpun,bahkan melalui peraturan tertentu sistem tersebut terasa makin dibakukan.
PEDULI AIDS MELALUI SEKOLAH
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1996: HARIAN PIKIRAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (116.04 KB)
      Belum lama ini Menteri Pendidikan Wardiman Djojonegoro telah menerima pendapat dan usulan tentang kemungkinan AIDS, Acquired Immuno Defficiency Syndrome (AIDS), sebuah penyakit "modern" yang disebabkan oleh Human Immunodefficiency Virus (HIV),untuk dimasukkan dalam kurikulum sekolah. Dengan dimasukkannya dalam kurikulum maka anak-anak kita yang masih menuntut ilmu di bangku sekolah lebih mudah mengenal AIDS secara ilmiah sehingga nantinya akan menjauhi penyakit yang sangat ditakuti itu.      Dengan tanpa meremehkan pendapat dan usulan tersebut, secara bijaksana Pak Wardiman mengemukakan bahwa tidak mungkin AIDS dimasukkan di dalam paket kurikulum; namun demikian bukan tidak mungkin materi AIDS dapat disampaikan melalui bidang-bidang studi yang relevan, misalnya saja melalui bidang studi Kesehatan.     Memang secara teknis tidaklah mungkin kurikulum yang sekarang ini berlaku di sekolah, SD,SLTP maupun SMU/SMK, disempurnakan dan apalagi diubah hanya karena adanya keinginan untuk memasukkan bidang studi AIDS di dalamnya. Kurikulum 1994 yang sekarang ini diberlakukan di sekolah-sekolah kita masih tergolong baru dan belum ada evaluasi efektivitas pada kurikulum tersebut. Secara metodologis penyempurnaan atau perubahan kurikulum baru dilaksanakan kalau sudah ada evaluasi efektivitas.      Meskipun demikian, usulan tersebut perlu dilihat dari kaca mata yang positif. Setidak-tidaknya terdapat dua hal penting di balik usulan tersebut di atas; yaitu pertama, adanya kekhawatiran yang mendalam terhadap generasi anak dan remaja ("sekolahan") kalau-kalau sampai terjangkiti AIDS yang dapat merusak masa depan diri dan bangsanya, dan kedua, metoda penyampaian informasi dini mengenai AIDS pada generasi penerus kita.
TRAUMA AKADEMIK DALAM "SISTEM NEM"
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1993: HARIAN BALI POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (409.849 KB)
      Perburuan kursi belajar di SLTP, Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama, baik negeri maupun swasta telah dimulai sejak tanggal 22 Juni 1993 yang lalu. Para lulusan SD, Sekolah Dasar, dan/atau orangtuanya dipersilakan memilih SLTP yang dianggap paling cocok dan paling banyak membe-rikan kemudahan belajar. Tidak ada larangan sedikit pun bagi lulusan SD untuk melanjutkan studinya di SLTP, bah-kan untuk menyongsong dicanangkannya program wajib bela-jar SLTP tahun 1994 mendatang oleh pemerintah maka para lulusan SD justru dianjur-anjurkan untuk melanjutkan stu dinya di SLTP.        Bagaimana apabila sekolah-sekolah setempat tidak mampu menampung lulusan SD yang ada? Ini baru masalah! Memang sampai sekarang ini angka melanjutkan (continuity rate) SD-SLTP di negara kita masih berkisar pada angka 65%, artinya baru 65 dari setiap 100 lulusan SD yang da-pat ditampung di SLTP. Bagaimana dengan nasib 35 lulusan yang lainnya? Ada yang bekerja, membantu orang tua, me-nganggur, dan entah apa lagi.       Meskipun angka melanjutkan SD-SLTP secara nasional masih jauh dari memadai akan tetapi di kota-kota besar seperti Jakarta, Yogyakarta, Surabaya, Denpasar, dan la-innya masalah tersebut tidak terlalu meresahkan. Umumnya jumlah kursi belajar di sekolah-sekolah setempat relatif cukup untuk menampung lulusan SD yang ada; masalahnya se karang adalah bagaimana memilih SLTP yang bermutu berka-itan dengan sistem seleksi yang diaplikasi.
DERITA GURU DI TIMOR TIMUR
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1999: HARIAN PIKIRAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (112.071 KB)
      Baru-baru ini seseorang datang menemui saya dengan membawa keluhan tentang keluarganya yang sudah beberapa tahun menjadi guru di Timor Timur. Menurutnya, sudah bertahun-tahun sang guru tersebut telah banyak mengalami penderitaan yang tak terkira; dari hal-hal yang menyangkut psikis, misalnya hinaan dan ancaman dari orang tua apabila anaknya yang tidak rajin masuk sekolah tidak dinaikkelaskan, sampai hal-hal yang menyangkut fisik, antara lain pelemparan dengan batu dan pemukulan.      Lebih daripada itu sekarang ini rumah satu-satunya yang ia miliki sebagai tempat berteduh dan berkumpul dengan keluarga telah diberi tanda khusus oleh penduduk setempat. Maksudnya kalau Timor Timur nantinya jadi melepaskan diri dari kedaulatan RI, dan berdiri sendiri sebagai negara yang merdeka, maka sang guru yang berasal dari luar Timor Timur itu harus angkat kaki. Nah, pada saat itulah rumah sang guru tersebut akan dimiliki oleh penduduk yang lebih dulu memberi tanda khusus.      Kedatangan teman saya tadi meminta saya untuk menyampaikan keluhan kepada Menteri Pendidikan, Juwono Sudarsono, atau kepada Presiden Habibie, atau membawanya ke dalam rapat Badan Pertim-bangan Pendidikan Nasional (BPPN), dengan harapan dapat dicarikan jalan keluarnya dengan segera.      Ketika saya tanyakan apakah masalah tersebut sudah pernah dia-jukan kepada pimpinan departemen setempat, misalnya kepada penga-was, Kepala Kantor Pendidikan tingkat kecamatan atau Kepala Kanwil Depdikbud, atau kepada aparat keamanan setempat; mereka menyatakan setiap kejadian hampir selalu dilaporkannya. Namun demikian tak pernah mendapatkan jalan keluar yang memuaskan; bahkan kalau fre-kuensi laporannya agak tinggi dirinya sering justru dianggap "rewel" atau bahkan diberi cap sebagai anak nakal.
PELAJAR BERKELAHI PERLU DIADILI
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1991: HARIAN SURABAYA POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (214.528 KB)
Jakarta "heboh"; puluhan bahkan ratusan pelajar terlibat secara langsung dalam suatu perkelahian massal. Mereka "beringas", sampai polisi yang akan menetralisasi suasana ikut menerima lemparan batu atas keberingasannya itu. Kaca-kaca jendela sekolah pecah, dan mobil polisi pun kabarnya tak luput dari sasaran perusakan. Peristiwa tak berbudaya ini pun ternyata cepat merembet di berbagai kota; Semarang, Gresik, Surabaya, dan entah di mana lagi. Benar-benar memprihatinkan!
Itulah ilustrasi global tentang sudah kelewat-ba-tasnya kenakalan remaja, tepatnya kenakalan siswa. Lebih memprihatinkan lagi justru ada sementara pelajar yang bangga dapat ikut berkelahi, meskipun atas ulahnya ter-sebut banyak pihak lain yang dirugikan.
Atas kenyataan tersebut wajarlah apabila kemudian Presiden Soeharto sempat menyatakan keprihatinannya; ba-gaimana mungkin para pelajar kandidat pemimpin bangsa di masa depan justru bangga melibatkan diri dalam peristiwa yang tak berbudaya. Dan, wajar pulalah apabila Mendikbud Fuad Hassan kemudian mengemukakan ketersetujuannya untuk membawa pelajar yang sering berkelahi ke pengadilan.
EFEKTIVITAS SISTEM MULTIDEPARTEMENTASI
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1992: HARIAN BALI POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (212.149 KB)
      Beberapa hari yang lalu saya mendapatkan undangan dari Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kalimantan Timur untuk memberikan presentasi serta masukan dalam seminar pendidikan yang konon sudah cukup lama direncanakan. Apabila kemudian saya juga mendapat undangan dan kesempatan "berbicara" dalam seminar pendidikan yang diselenggarakan oleh Bappeda Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) barangkali ada unsur kebetulannya.       Membandingkan kondisi pendidikan antara DIY dengan Kalimantan Timur tentu ada manfaatnya karena di dalamnya akan kita dapati indikator-indikator yang kontroversial, yang justru perlu mendapatkan perhatian. Secara ringkas etos didik masyarakat Kalimantan Timur belumlah maksimal sedangkan di DIY masalah etos didik ini dapat dikatakan tidak masalah lagi. Di Kalimantan Timur sarana dan fasi-litas pendidikan serta pendidikan massa (mass education) masih diperlukan; sementara itu di DIY pendidikan massa justru menjadi masalah, terutama di pendidikan dasar.        Kalau di beberapa daerah, termasuk Kalimantan Ti-mur, saat ini tengah mengalami masalah dengan sedikitnya sekolah dan guru maka DIY justru mengalami masalah de-ngan banyaknya sekolah dan guru.
SAATNYA, KOMPUTER MASUK SEKOLAH
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1987: HARIAN PRIORITAS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (100.045 KB)
      Dewasa ini di sekeliling kita terasa makin penuh dengan produk elektronik yang mampu "mendobrak" dunia: komputer. "Si kotak pintar" ini rasanya memang semakin pintar menawarkan kelebihan yang dimilikinya; produktivitas, obyektivitas, serta akurasi kerja yang tinggi.      Kemampuannya yang teruji memang benar-benar mampu menarik minat untuk menggunakan jasanya, itulah sebabnya maka berbagai perusahaan kian gencar menyajikan komputer dengan segala jenis dan kapasitasnya. Berbagai "label" komputer terasa telah "menjajah" kita.      Memang harus diakui bahwa dunia saat ini tengah menanam ketergantungan yang semakin dalam terhadap hasil ramuan elektronik itu. Berbagai instansi, perkantoran, bahkan perorangan (terutama kaum profesionalis) semakin "tidak dapat bekerja" tanpa menggunakan jasa komputer.      Produk teknologi canggih itu memang memiliki satu kelebihan yang sangat utama; ialah akar-akarnya mampu menyelinap pada berbagai disiplin ilmu dan keterampilan, kedokteran, kesehatan, perikanan, kehutanan, teknologi, perminyakan, ruang angkasa, pertanian, ekonomi, hukum, mass-media, dsb. Pokoknya hampir seluruh disiplin ilmu dan keterampilan tidak terkecuali dunia pendidikan.
TPI DAN PROBLEMATIKANYA
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1993: HARIAN BALI POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (211.291 KB)
      Saat ini TPI genap berusia dua tahun. Dalam usianya yang baru "seumur jagung" ini berbagai kritik, saran dan bahkan sinisme masyarakat yang ditujukan kepada TPI seperti tidak henti-hentinya mengalir. Hal ini mengingat kan kita pada hari-hari pertama ketika TPI dilahirkan, yang mana saat itu kritik tajam, saran, dan sinisme juga banyak bermunculan. Kalau waktu itu TPI sering dikepanjangkan sebagai "Televisi Prematur Indonesia" karena program-programnya yang dianggap tidak berbobot, "Televisi Periklanan Indonesia" karena siarannya banyak diselingi dengan iklan, atau "Televisi Pembantu Indonesia" karena siarannya kebanyakan diikuti oleh para pembantu RT, dsb, hal itu merupakan ekspresi dari berbagai sinisme.        Dalam usianya yang sudah dua tahun sekarang ini pun ternyata berbagai kritik, saran, serta sinisme masih tetap saja bermunculan. Tidaklah mengapa; karena kritik, saran dan sinisme itu justru menunjukkan adanya rasa ke-cintaan serta besarnya harapan masyarakat kita terhadap TPI dengan program-programnya.        Apabila kita menengok ke belakang sejenak, lahir-nya TPI memang disiapkan untuk memberikan santunan pendi dikan kepada anggota masyarakat; baik anggota masyarakat yang belum mendapatkan pelayanan pendidikan di sekolah maupun yang sudah mendapatkannya di sekolah. Sasaran TPI meliputi dua kelompok sekaligus; yaitu kelompok peserta didik sekolah bagi siswa SLTP dan SLTA serta peserta di-dik di luar sekolah yang terdiri atas anak-anak prasekolah, ibu-ibu rumah tangga, remaja putus sekolah, pejabat dan usahawan, serta khalayak umum.
MENGGALAKKAN LEMBAGA KETEKNIKAN DI DESA UNTUK MENEKAN ANGKA PENGANGGURAN KITA
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1988: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (105.04 KB)
      Beberapa waktu yang lalu Departemen Tenaga Kerja (Depnaker) kembali menyelenggarakan rapat kerja (raker) untuk membahas masalah-masalah ketenagakerjaan di negara kita. Moment ini sangat penting karena pada saat itu berkumpul banyak pakar yang diharapkan mampu mencari jalan keluar tentang masalah ketenagakerjaan yang benar-benar sangat kompleks: pengangguran.      Masalah pengangguran tenaga potensial di negara kita selama ini masih merupakan salah satu kompleksitas yang menghambat berputarnya roda-roda pembangunan nasional yang tengah kita jalankan.      Tidak mengherankan bila dalam membuka acara tersebut Presiden Soeharto kembali mengamanatkan agar supaya dilaksanakan usaha-usaha yang maksimal untuk menghindari meningkatnya angka pengangguran di negeri yang tercinta ini; dengan kata lain perlu dilakukan usaha-usaha untuk menekan angka pengangguran tenaga potensial di negara kita sampai pada bilangan yang sekecil mungkin.      Pengangguran dan setengah pengangguran merupakan salah satu bentuk pemborosan sumber daya yang paling potensial, serta akan menurunkan daya beli masyarakat yang kemudian dapat menghambat pertumbuhan ekonomi. Oleh sebab itu menghindari pengangguran berarti secara langsung dapat mempercepat pertumbuhan ekonomi.
MENSARJANAKAN GURU SD
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2007: MAJALAH FASILITATOR
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (139.358 KB)
Dalam mengawali perjalanan tahun 2007 telah diluncurkan layanan pendidikan jarak jauh bagi guru Sekolah Dasar (SD) di Indonesia. Secara teknis program ini ditangani oleh sepuluh perguruan tinggi terakreditasi yang difasilitasi oleh Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PMPTK) Depdiknas. Â Â Â Â Â Â Â Â Â Kesepuluh perguruan tinggi tersebut merupakan PTN dan PTS di wilayah barat dan timur Indonesia; adapun nama-namanya ialah Universitas Pendidikan Indonesia (Bandung), Universitas Sriwijaya (Palembang), Universitas Negeri Yogyakarta (Yogyakarta), Universitas Negeri Makassar (Makassar), Universitas Negeri Malang (Malang), Universitas Muhamma-diyah Malang (Malang), Universitas Cendrawasih (Jayapura), Universitas Nusa Cendana (Kupang), Universitas Katolik Atma Jaya (Jakarta), dan Universitas Tanjungpura (Banjarmasin). Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Melihat nama-nama tersebut di atas orang boleh sedikit lega; ternyata dalam menangani peningkatan kualifikasi akademik guru SD tersebut tidak hanya PTN yang dilibatkan akan tetapi PTS yang diselenggarakan langsung oleh masyarakat pun juga dilibatkan. Â Â Â Â Â Â Â Â Tujuan utama diselenggarakannya pendidikan jarak jauh di atas ialah meningkatkan kualifikasi akademik guru SD dengan cara mensarjanakan pendidikannya. Hal ini disesuaikan dengan tuntutan PP No.19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan dan UU No.14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen yang menyatakan supaya menjadi profesional maka guru (SD) harus memiliki kualifikasi pendidikan minimal, sekurang-kurangnya berpendidikan minimal D4 atau S1.