Articles
TRAGEDI PENDIDIKAN
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2007: HARIAN MEDIA INDONESIA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (100.191 KB)
Baru saja Pak Jusuf Kalla selaku wakil presiden menyatakan terjadinya tragedi di bidang teknologi. Dinyatakan, kita bisa menerbangkan Gatotkaca N-250 yang hampir sama dengan Orville dan Wilbur Wright yang mener-bangkan pesawat tgl 17 Desember 1903. Bedanya, pesawat mereka terbang terus tetapi N-250 tidak terbang. Malah yang terjadi mantan pegawai PT DI demo terus. Kita prihatin karena yang dielu-elukan sebagai kebangkitan teknologi itu hanya terjadi sesaat, selanjutnya menjadi beban negara. Â Â Â Â Â Â Â Apa yang dinyatakan Pak Kalla juga berlaku dalam dunia pendidikan. Pesawat pendidikan kita tidak terbang, banyak demo dilakukan oleh praktisi pendidikan, dan justru menjadi beban negara. Â Â Â Â Â Â Â Tidak terbang artinya kualitas pendidikan kita tidak kompetitif, apalagi di atas bangsa lain pada umumnya. Demonstrasi yang dilakukan oleh guru, siswa, dan kelompok masyarakat makin sering terjadi, misalnya dalam soal ujian nasional dan anggaran pendidikan. Di sisi lain, pendidikan kita yang menyita anggaran pemerintah cenderung menjadi beban negara daripada sesuatu yang menghasilkan profit dan karakter bagi bangsa ini.
BERGAUL DENGAN MASYARAKAT MAJEMUK BERKAT SENIORITAS DAN KUALITAS
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1985: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (103.929 KB)
      Besok tanggal 27 Spetember 1985 KR, Kedaulatan Rakyat, genap berusia "panca windu" atau empat puluh tahun. Suatu usia yang hanya terpaut beberapa minggu, atau tepatnya terpaut empat puluh satu hari dengan kemerdekaan bangsa Indonesia.       Dengan usia kemerdekaan yang 40 tahun, telah banyak yang dapat diperbuat oleh negara kita, baik dalam hal pembangunan fisik maupun pembangunan mental spiritual guna menghantarkan rakyatnya kejenjang kehidupan yang lebih tinggi. Demikian pula halnya dengan KR, dalam usianya yang telah mencapai "panca windu" tentu sudah banyak yang dikerjakan, khususnya dalam hal pembangunan informasi .       Seperti kita ketahui televisi, radio dan surat kabar ialah merupakan "trisaka" atau tiga pilar utama bagi sebuah operasi penerangan, ialah suatu proses untuk mengkomunikasikan informasi dari pemerintah kepada masyarakat serta dari masyarakat kepada pemerintah. Lebih dari itu termasuk juga di dalamnya informasi antar anggota masyarakat.       Efektivitas penyajian pada ketiga jenis media informasi tersebut akan berkaitan erat dengan intensitas pemahaman informasi bagi audience nya (pirsawan, pendengar atau pembacanya). Oleh karena itu dapat dimaklumi bila efektivitas penyajian selalu menjadi topic aktual bagi kalangan televisi, radio maupun surat khabar.
KAPAN KITA MEMILIKI E-UNIVERSITY?
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2006: HARIAN JAWA POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (114.733 KB)
Publikasi Majalah The Times di Inggris tentang nama-nama perguruan tinggi kelas dunia baru-baru ini ada sebagian yang menyedihkan dan ada sebagian lain yang membanggakan kita. Menyedihkan karena tidak satu pun perguruan tinggi Indonesia yang masuk dalam jajaran âeliteâ, di sisi lain membanggakan karena salah satu perguruan tinggi Indonesia, yaitu UGM Yogyakarta, menjadi salah satu perguruan tinggi berkelas dunia (world university) untuk bidang ilmu tertentu. Â Â Â Â Â Â Sepuluh perguruan tinggi terbaik kelas dunia tahun 2006, âTop 10 World Universitiesâ, sbb: Harvard University (US); Massachusets Institute of Technology (US); University of Cambridge (UK); University of Oxford (UK); Stanford University (US); University of California Barkeley (US); Yale University (US); California Institute of Technology (US); Princeton University (US); dan Ecoley Polytechnique (UK). Yang menyedihkan tidak satu pun perguruan tinggi di Indonesia masuk didalamnya. Jangankan Indo-nesia, perguruan tinggi di Jepang, Singapura, dan Australia pun gagal. Â Â Â Â Â Â Yang membanggakan; UGM Yogyakarta menjadi satu dari 100 pergu-ruan tinggi terbaik dunia untuk bidang ilmu-ilmu sosial (social sciences), ilmu-ilmu budaya dan humaniora (art and humanities), dan bidang ilmu-ilmu biomedis (biomedicines).
ANALISIS KOMPARATIF KURIKULUM 1984 SEKOLAH MENENGAH ATAS
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1987: HARIAN SUARA KARYA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (128.183 KB)
Pertanyaan yang sampai saat ini belum terjawabkan semenjak diaplikasikannya kurikulum baru di sekolah menengah umum tingkat atas (SMA), Kurikulum 1984 SMA, adalah benarkah kurikulum baru lebih bersifat kualitatif dibanding dengan kurikulum lama; dalam artian bahwa struktur dan materi kurikulum baru lebih menunjang proses belajar mengajar di perguruan tinggi.      Apabila dibandingkan terhadap struktur kurikulum lama (1975) maka kurikulum baru (1984) memang mempunyai karakteristik yang spesifik; ialah terletak pada adanya pengelompokan antara kelompok mata pelajaran inti dengan kelompok mata pelajaran pilihan pada struktur kurikulum baru.      Kelompok mata pelajaran inti wajib diikuti oleh seluruh siswa dari semua program (A1, A2, A3 SERTA A4); sedangkan kelompok mata pelajaran pilihan hanya diikuti oleh siswa dari setiap program, artinya untuk program yang berbeda maka kelompok mata pelajaran pilihannya ber beda pula.      Dari sisi lain, yang kemudian menimbulkan semacam "keasingan" adalah materi kurikulum itu sendiri. Pada prinsipnya kalau diamati secara cermat materi kurikulum baru tidak menunjukkan perbedaan yang menyolok dari ku-rikulum lama. Disini kemudian menimbulkan "keasingan" tentang kualitas kurikulum baru; benarkah kurikulum baru atau kurikulum 1984 SMA lebih menunjang proses belajar mengajar di perguruan tinggi?
MENGUNJUNGI KOTA LAMA DAN KOTA BARU CINA
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1996: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (111.777 KB)
      Secara umum status sosial dan ekonomi masyarakat Cina Daratan belumlah setinggi Hong Kong. Masih banyak orang miskin di Cina, sebaliknya jumlah orang miskin di Hong Kong jumlahnya relatif amat sedikit. Di samping didasarkan pada berbagai studi ilmiah maka keadaan ini secara sepintas juga dapat dilihat dari penampilan masyarakat sehari-hari di berbagai kota.       Apabila di Hong Kong hampir tidak ada lagi orang naik sepeda untuk keperluan bisnisnya maka pemandangan orang beramai-ramai mengurus bisnis dengan naik sepeda ini sangat mudah dilihat pada berbagai kota di Cina; misalnya saja di Shanghai, Guangzhou, Xian, dsb, bahkan juga termasuk di ibu kota Beijing. Pemandangan seperti ini lebih gampang lagi ditemukan di kota-kota kecil, di samping juga di daerah pedesaan. Memang, nampaknya sepeda merupakan simbol kultural bagi masyarakat Cina; akan tetapi disamping itu banyak orang yang menyatakan bahwa sepeda kini merupakan lambang kemiskinan masyarakat Cina.       Kota-kota di Cina pada umumnya secara fisik juga terkesan lebih kumuh daripada kota-kota di Hong Kong. Di samping itu masyarakat Cina pada umumnya terkesan tidak seintelek masyarakat Hong Kong; meskipun kami tidak bermaksud mengatakan masyarakat Cina lebih bodoh daripada masyarakat Hong Kong.     Kalau World Economic Forum (WEF) dalam publikasi ilmiahnya baru-baru ini mendudukkan Hong Kong pada urutan kedua dalam hal kemampuan daya saing ekonomi negara di pasar internasional maka lembaga itu mendudukkan Cina pada urutan di atas 30 dari 49 negara yang ditelitinya. Memang sangat jauh terpautnya. Keadaan ini sebe-narnya dapat menunjukkan bahwa secara ekonomi Cina masih sulit bersaing dengan Hong Kong.
NOBEL: LEPAS SBY HINGGAP OBAMA
SUPRIYOKO, KI
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2009
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (105.977 KB)
Dari Oslo, Norwegia diperoleh kabar bahwa Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama berhak memenangkan hadiah nobel (nobel prize) tahun 2009 ini dalam kategori perdamaian. Penentuan ini sebenarnya sudah dila-kukan awal Oktober 2009 lalu, dan baru diumumkan kepada publik pada tanggal 9 Oktober 2009. Â Â Â Â Â Â Â Mengapa kabar pemenang Nobel Perdamaian 2009 tersebut datang dari Norwegia, bukan dari Swedia sebagaimana dengan pemenang nobel untuk kategori yang lainnya seperti fisika, kimia, ekonomi, dsb? Ya, oleh karena khusus untuk kategori perdamaian selama ini penentuannya dilaksanakan oleh Parlemen Norwegia. Â Â Â Â Â Â Â Kemenangan Obama yang belum genap satu tahun memimpin AS itu tak urung menimbulkan kontroversi dan mendapat reaksi yang beragam dari masyarakat dunia; sebagian ada yang mendukung seratus persen, menolak seribu permil dan sebagian lagi ada yang mendukung dengan catatan. Biasa, opini dua orang saja susah disamakan apalagi opini jutaan manusia.
JABATAN STRUKTURAL "BERMASALAH"
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1994: HARIAN SURABAYA POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (212.75 KB)
      Beberapa Perguruan Tinggi Negeri (PTN) di negara kita saat ini sedang dilanda masalah; yaitu menyangkut "tragedi" para sivitas akademikanya, yang dalam hal ini adalah sebagian guru besar alias profesor yang tengah a-taupun pernah mengemban tugas sebagai pejabat struktural. Lebih daripada itu konon warga PTN yang tengah menikmati hari-hari tua dimasa pensiun (retired) pun ada juga yang terkena "tragedi" tersebut. Meskipun "tragedi" ini konon sudah teratasi akan tetapi bukan berarti permasalahannya telah terselesaikan secara tuntas.        Apabila diklasifikasi ada tiga kelompok civitas akademika yang terkena "tragedi". Kelompok pertama ialah mereka yang usianya lebih 60 tahun dan masih aktif meng-emban tugas pengabdian sebagai pejabat struktural; bagi mereka tidak lagi diberi tunjangan struktural sejak Juli 1994 sebagaimana yang pernah diterima pada bulan-bulan sebelumnya. Mereka masih harus melanjutkan tugas-tugas strukturalnya tanpa "dibayar". Itulah sebabnya maka ada diantara mereka yang membuat joke bahwa mereka menjalani "kerja rodi". Tentu saja hal ini hanya "guyonan", karena ada pula di antara mereka yang ikhlas menjalankan tugas struktural tanpa bayaran.        Kelompok kedua mengena kepada mereka yang pernah mengemban jabatan struktural dan sekarang sudah tak lagi menjabat. Kepada mereka ini diminta mengembalikan komula tif tunjangan struktural yang pernah diterima terhitung sejak usia 60 tahun ketika menjabat. Dalam hal ini konon ada yang harus mengembalikan "utang" dalam jumlah belas-an juta rupiah dari kantongnya.
MEMPOLITISASI ORGANISASI PROFESI
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1993: HARIAN BERNAS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (411.005 KB)
      Inilah kasus aktual yang menarik. Ketidak-hadiran Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Wardiman Djojonegoro, dalam peringatan hari ulang tahun Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) ke-48 di Jakarta tanggal 25 November 1993 yang lalu ternyata ada "buntut"nya. Ke-tidak-hadiran langsung menteri pendidikan pada peristiwa yang cukup penting tersebut diinterpretasi sebagai tidak atau kurangnya perhatian pemerintah terhadap para guru.        Seperti kita ketahui beberapa hari yang lalu PGRI merayakan hari ulang-tahunnya di Jakarta dengan mengun-dang Mendikbud, namun karena Pak Wardiman pada saat yang sama mempunyai tugas lain yang tak kalah pentingnya maka kehadirannya pada peringatan tersebut diwakilkan Irjen Depdikbud, Mahmud Zaki. Keadaan seperti ini sesungguhnya bukan milik Mendikbud saja, akan tetapi juga termiliki oleh para menteri yang lainnya; apabila dalam waktu yang bersamaan terdapat acara ganda tentu saja tidak semua a-cara dapat dihadiri langsung, maka ditunjuklah staf atau pembantu untuk mewakilinya.        Meski dalam acara HUT PGRI tersebut Mendikbud sem pat memberikan sambutan tertulisnya akan tetapi ternyata ada pihak yang mencoba "mempolitisasi" bahwa ketidak-ha-diran secara langsung menteri pendidikan di dalam acara tersebut merupakan cerminan sikap pemerintah yang kurang memperhatikan nasib guru di negara kita. Apabila hal ini dinyatakan oleh "sembarang orang" barangkali tidak meng-apa, tetapi yang menarik hal ini justru dinyatakan oleh seorang Wakil Ketua Komisi IX Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) kita, Sukowaluyo.
KASUS TOMMY MORISON DAN SOAL MENCEGAH AIDS
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1996: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (118.108 KB)
Ketika akhir-akhir ini banyak koran dan media elektronik gencar memberitakan petinju kelas berat pujaan orang (kulit putih) Amerika Serikat (AS) Tommy Morison yang di-KO oleh penyakit AIDS segera saya teringat lagi pertemuan dengan seorang teman dari AS di Tokyo, Jepang kira-kira setahun yang lalu.       Dalam pertemuan tersebut dia mengatakan bahwa saat ini banyak orang AS yang cemas dan takut dengan makin banyaknya kasus AIDS yang melanda masyarakat AS itu sendiri. Seperti kita ketahui,katanya, sekarang ini banyak orang-orang AS dari berbagai profesi (manager, sporter, entertainer, enterpriser,, dsb) yang terkena AIDS. Di sisi lainnya kecemasan dan ketakutan itu sendiri makin meningkat dengan adanya sinyalemen bahwa ternyata bukan orang dewasa dan orang tua saja yang telah terkena kasus AIDS akan tetapi banyak anak-anak dan remaja AS yang mulai terkena kasus AIDS, setidak-tidaknya sangat berpotensi untuk terkena penyakit AIDS.      Konon banyak orang Amerika yang "merelakan" orang-orang tua dan orang-orang dewasanya untuk terkena AIDS, tentu saja bagi yang sudah terlanjur positif AIDS; tetapi tidak untuk anak-anak dan remaja. Walaupun kehidupan di AS terkenal bebas, termasuk soal ganti-ganti pasangan dalam melakukan hubungan seksual sebagai salah satu deter-minan AIDS, tetapi masyarakat AS tetap sangat "berkeberatan" kalau penyakit yang benar-benar mengerikan tersebut harus berjangkit pada anak-anak dan remaja.      Masyarakat AS sangat menyadari bahwa masa depan bangsa dan negaranya sangatlah tidak mungkin diserahkan kepada generasi yang (pernah) terjangkiti AIDS. Meskipun mereka yakin bahwa suatu saat nanti penyakit AIDS akan dapat disembuhkan akan tetapi mereka tetap cemas dan takut.
PENDIDIKAN BERBASIS MASYARAKAT LUAS
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2001: HARIAN PIKIRAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (90.623 KB)
       "Ganti menteri ganti beleid"; nampaknya kalimat yang cukup khas ini tetap berlaku dalam dunia pendidikan kita. Sudah berkali-kali kita memiliki menteri pendidikan, kalau dihitung sejak Republik ini diproklamasikan sudah lebih dari 30 kali terjadi pergantian men-teri pendidikan, dan dalam realitasnya sudah berkali-kali pula kita menerima kebijakan baru dalam menjalankan roda pendidikan nasional. Apakah setiap ganti menteri pendidikan harus terjadi pergantian kebijakan? Tentu saja tidak; namun realitas yang sudah terjadi me-mang menjadi "expost facto" yang tidak terelakkan.        Realitasnya memang demikian; meski tidak selalu akan tetapi hampir setiap terjadi pergantian menteri pendidikan terjadi pula pergantian kebijakan. Dengan demikian kita tidak perlu heran kalau beberapa menteri memiliki "educational mark" masing-masing; contoh konkritnya Pak Nugroho Notosusanto dengan humanioranya, Pak Fuad Hassan dengan mutu dan relevansinya, Pak Wardiman Djojone-goro dengan Link and Match-nya, dan sebagainya.        Keadaan seperti itu tidaklah aneh dan tentu saja tidak salah karena setiap pimpinan lembaga memang berhak mengembangkan ke-bijakan yang diyakini tepat untuk mensukseskan tugasnya. Apabila dengan suatu kebijakan tertentu diyakini pendidikan nasional dapat lebih maju mengapa hal itu tidak ditempuh. Hal ini juga menunjukkan adanya kreativitas dan keberanian untuk meraih prestasi.        Memang, sisi negatifnya tentu ada kalau setiap ganti menteri terus berganti kebijakan. Apa itu? Keadaan ini mengesankan tidak adanya "grand design" untuk mengembangkan pendidikan nasional dalam jangka pendek, menengah dan panjang.