Claim Missing Document
Check
Articles

PERLU PENERTIBAN UT KAMPUS Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1990: HARIAN BALI POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (110.967 KB)

Abstract

       Penjelasan Rektor UT, Prof. DR. Setijadi, tentang eksistensi UT Kampus baru-baru ini barangkali cukup melegakan masyarakat; meskipun dapat dipastikan bahwa tidak seluruh anggota masyarakat dapat memahami isi penjelasan serta strategi yang diambil oleh pucuk pimpinan perguruan tinggi "termodern" di Indonesia itu.       Dalam penjelasannya Pak Setijadi menegaskan bahwa UT Kampus bukanlah perguruan tinggi, akan tetapi sekedar tempat bimbingan belajar yang diselenggarakan oleh pihak swasta bagi para mahasiswa UT. Kedudukan UT Kampus dapat disejajarkan dengan Bimbingan Tes UMPTN (Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri); dan sebagai usaha bimbingan belajar maka lembaga itu tidak perlu meminta ijin berdirinya dari UT maupun Kopertis.       Mahasiswa UT Kampus adalah mahasiswa PTN karena mereka adalah mahasiswa UT; artinya yang masuk UT Kampus maka mestinya terlebih dulu sudah menjadi mahasiswa UT. Dengan demikian status kemahasiswaan yang melekat pada mahasiswa yang mengikuti proses belajar belajar pada UT Kampus adalah dikarenakan karena ke-UT-annya, bukan dikarenakan ke-UT Kampus-annya.
MENGGUGAT KONSEPSI "MULTIPLE CHOICE" Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1992: HARIAN BALI POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (212.486 KB)

Abstract

       Menteri Riset dan Teknologi B.J. Habibie kembali menggugat sistem ujian pilihan ganda atau yang sering disebut dengan multiple choice (MC). Baru-baru ini beliau menyarankan agar MC jangan dipakai lagi kalau kita menginginkan anak didik berkualitas dan mampu berfikir rinci atau bernalar. MC tidak dapat menumbuhkan sikap dan perilaku anak untuk dapat menyelesaikan permasalahan yang dihadapinya secara tuntas.          Pada beberapa tahun terakhir ini MC memang sangat sering diaplikasi dalam proses belajar mengajar di seko-lah-sekolah atau di lembaga pendidikan lainnya di negeri ini;  lebih daripada itu MC juga diaplikasi dalam momen-tum evaluasi yang besar dan penting, katakanlah misalnya diaplikasi di dalam Ebtanas sekolah dasar sampai sekolah menengah, UMPTN, tes masuk PTS, dan sebagainya. Demikian populernya MC di kalangan lembaga pendidikan sampai bi-dang-bidang studi yang sebenarnya kurang tepat di-MC-kan pun akhirnya tak dapat lepas dari sistem ini, katakanlah bidang studi Matematika, Fisika, dan sebagainya.          Apakah sistem ujian model MC memang memiliki kele bihan dan kehebatan yang luar biasa sehingga diaplikasi pada berbagai momentum yang sangat strategis? Barangkali persoalan inilah yang mengusik Pak Habibie sehingga be-liau sempat melontarkan "gugatannya". Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Fuad Hassan memang pernah menyatakan bah-wa MC yang dikembangkan di sekolah-sekolah telah melalui proses validasi yang secara akademik dapat dipertanggung jawabkan;  meskipun demikian pernyataan ini ternyata tak mampu meluruhkan "gugatan" Pak Habibie.
HASIL EBTANAS DAN FAKTOR NONAKADEMIK Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1987: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (126.61 KB)

Abstract

           Seperti yang telah banyak diduga dan diperhitungkan sebelumnya oleh sementara pengamat pendidikan, maka hasil Ebtanas --evaluasi belajar tahap akhir yang dilakukan secara nasional-- pada tingkat SMTA untuk tahun ini ternyata  masih belum memuaskan; untuk tidak mengatakan sebagai masih memprihatinkan.           Jumlah peserta Ebtanas itu sendiri secara nasional untuk tingkat SMTA tahun ini adalah lebih dari satu juta orang, atau tepatnya 1.011.977 orang; yang terdiri dari  siswa  SMTA umum atau SMA sebanyak 662.488 orang (65,46%), dan siswa SMTA Kejuruan sebanyak 349.489 orang (34,54%). Jumlah ini tentunya amat besar bila dibanding dengan daya tampung perguruan tinggi yang masih sangat terbatas.           Belum memuaskannya hasil Ebtanas ini sudah banyak diduga sejak sebelum kegiatan evaluasi ini dilaksanakan; hal ini dihitung atas dasar ditemuinya kenyataan masih relatif banyaknya sekolah atau lembaga pendidikan yang proses belajar mengajar didalamnya masih harus selalu ditingkatkan efektivitasnya, disamping juga berdasar pada pengalaman tahun-tahun sebelumnya dimana hasil Ebtanas belum pernah memuaskan.           Ketika pertama kali Ebtanas dilaksanakan (84/85), bahkan hasilnya benar-benar jauh dari harapan. Di samping rata-rata Nilai Ebtanas Murni (NEM)-nya  yang  demikian minim, juga vareasi nilainya yang sangat heterogen.
MITOS MATEMATIKA DI SEKOLAH DASAR Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2004: MAJALAH FASILITATOR
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (120.67 KB)

Abstract

Perbincangan klasik mengenai matematika di SD selalu menggelitik kapan pun waktunya; hal ini disebabkan karena belum memuaskannya prestasi matematika siswa SD baik di forum lokal, nasional maupun internasional. Sayang seribu sayang, perbincangannya lebih terwarnai oleh berbagai keluhan daripada pengedepanan opini solutif maupun aktivitas-aktivitas konkret yang mendorong semakin berprestasinya siswa itu sendiri.          Harus diakui bahwa prestasi matematika siswa SD memang belum memuaskan, untuk tidak menyatakan menyedihkan. Pada tingkat lokal sesekali dilaksanakan lomba matematika antarsiswa; dan hasilnya banyak yang belum menggembirakan.          Beberapa waktu lalu, suatu lembaga kematematikaan di Yogyakarta mengadakan lomba matematika untuk SD, SMP dan SMA yang diikuti oleh 450-an siswa “terpilih” dari D.I. Yogyakarta dan Jawa Tengah. Penulis bangga menyaksikan banyaknya anak-anak yang cukup antusias mengikuti lomba ini. Namun, begitu melihat hasilnya rasa kebanggaan itu menjadi kurang optimal.          Mari kita perhatikan data konkretnya sbb: pada babak awal lomba, pencapaian nilai rata-rata (mean) peserta SD hanya 25,7 untuk rentang 0 s/d 45; atau kalau dikonversi ke dalam rentang konvensional 0 s/d 10 maka skor yang dicapai peserta SD hanya 5,7. Artinya siswa SD peserta lomba tersebut rata-rata hanya mampu mencapai nilai 5,7 dari nilai maksimal 10,0. Tentu saja angka ini jauh dari harapan peserta dan penye-lenggara lomba itu sendiri.
KOMPLIKASI UNAS Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2007
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (101.175 KB)

Abstract

Hari-hari di minggu pertengahan Juni ini hasil Ujian Nasional (Unas) SMA, MA, dan SMK diumumkan di berbagai daerah. Ada daerah yang mengumumkan hasil Unas Rabu tanggal 13 atau Kamis tanggal 14, tetapi yang paling banyak Sabtu tanggal 16 Juni 2007. Mengapa tidak seragam waktunya? Ya, karena juklis (petunjuk tertulis) dan juksan (petunjuk lisan) dari “atas” mengatakan Unas diumumkan paling lambat 16 Juni 2007.        Pengumuman hasil Unas kali ini memang agak komplikatif, di satu sisi ada pihak-pihak yang berkepentingan Unas segera diumumkan agar supaya “dampak ikutan” Unas bisa segera dipetik; namun di balik itu ada pihak-pihak yang terlalu hati-hati dan berkepentingan agar Unas diumumkan tidak tergesa-gesa sambil menunggu “cuaca politis” yang tenang dan benar-benar cool. Pada sisi yang lain ternyata ada pula pihak yang menginginkan hasil Unas sama sekali tidak diumumkan ke masyarakat dengan motivasi yang agak sulit dijelaskan.        Ini semua terjadi tidak terlepas dari adanya citizen law suit, yang dalam hal ini adalah gugatan warga negara yang merasa dirugikan dengan kebi-jakan diberlakukannya Unas. 
MENYUSUN INDIKATOR SKALA BONAFIDITAS PT SWASTA Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1985: MINGGUAN MINGGU PAGI
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (115.929 KB)

Abstract

       Ledakan besar pernah terjadi pada tahun 1983 dimana sebanyak 230.900 calon mahasiswa baru harus berjuang mati-matian untuk memperebutkan sekitar 16.000 kursi pada Perguruan Tinggi Negeri (PTN). Apabila kita hitung secara matematis maka akan kita dapati ratio kuantitatif antara jumlah peserta testing dengan jumlah yang diterima sebesar 1:14. Artinya, dari setiap 14 calon hanya seorang saja yang diterima menjadi warga baru PTN.       Ratio kuantitatif yang terlalu besar sebagai akibat dari keterbatasan daya tampung PTN disatu pihak serta membengkaknya peminat PTN dilain pihak.       Pada tahun 1984 angka ratio tersebut berhasil diperbaiki menjadi 1:6,5,  dari sekitar 483.000 calon yang memperebutkan 73.652 kursi.  Hal ini terjadi oleh karena sejak tahun lalu kita memiliki Universitas Terbuka (UT) yang memiliki daya tampung yang sungguh luar biasa.       Dengan melihat perubahan angka ratio tersebut barangkali kita dapat berbangga diri,  akan tetapi kalau kemudian kita lihat perkembangan dahsyat jumlah calon dari tahun ke tahun tentu,  sementara peningkatan daya tampung PTN relatif kecil, maka kita semakin yakin bahwa jumlah calon yang gagal masuk PTN dari tahun ke tahun akan menunjukkan grafik yang menanjak dan menanjak lagi.
MENGGABUNGKAN SPMB DENGAN UN Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2006: HARIAN PIKIRAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (103.781 KB)

Abstract

Sabtu tanggal 5 Agustus 2006 ini hasil ujian tulis Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB) PTN di Indonesia akan diumumkan secara serentak. Menurut rencananya pula, dari 300-an ribu peserta SPMB sebagai kandidat mahasiswa baru, kurang dari 100 ribu yang akan diterima. Itu artinya akan lebih banyak peserta yang gagal dibanding yang berhasil melewati “etape” pertama menjadi mahasiswa PTN.        Kalau kita berkata jujur, sebenarnya yang gagal maupun yang berhasil menembus SPMB sama-sama “lelah”. Pada kebanyakan orang, untuk dapat mempersiapkan ujian tulis SPMB yang baik tentu diperlukan konsentrasi dan stamina ekstra; padahal sebelumnya mereka sudah berkonsentrasi dan mengeluarkan stamina ekstra pada waktu menempuh Ujian Nasional (UN). Jadi hitung punya hitung peserta SPMB setidaknya harus dua kali berkon-sentrasi dan mengeluarkan stamina ekstra.        Untuk mengurangi “kelelahan” tersebut muncullah gagasan mengga-bung SPMB dengan UN. Kalau hal ini bisa dilakukan maka konsentrasi dan stamina anak muda Indonesia peserta SPMB tentu bisa dihemat, belum lagi dana milyaran rupiah untuk penyelenggaraan kedua momentum akademis tersebut juga dapat dihemat.        Gagasan tersebut di atas tentu amat bagus; masalahnya apakah gagasan yang amat bagus tersebut bisa dibenarkan?
SEKOLAH DASAR IDEAL: DELAPAN TAHUN ! Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1987: HARIAN SUARA KARYA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (124.33 KB)

Abstract

       Meskipun masih merupakan rencana jangka panjang, akan tetapi gagasan penggabungan Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Tingkat Pertama (SMTP) dalam sebuah pa-ket program pendidikan merupakan gagasan yang cukup me-narik diikuti sejak dini.       Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Fuad Hassan, baru-baru ini mengkomunikasikan bahwa nantinya SD dan SMTP akan digabung dalam sebuah paket yang merupakan manifestasi dari pelayanan pendidikan dasar (basic education) di negara kita. Hal ini merupakan rencana jangka panjang dari Depdibud.Garis logika yang ditarik untuk membangun gagasan tersebut adalah berangkat dari "titik usia" yang dikait-kan dengan kesempatan kerja.       Bila SD (enam tahun) dan SMTP (tiga tahun) diada-kan penggabungan maka lama pendidikan dasar menjadi sembilan tahun, sedangkan usia masuk pendidikan dasar ialah enam tahun;  maka lulusan SD (pendidikan dasar sembilan tahun) nantinya adalah 15 tahun. Kiranya perlu dicatat bahwa angka "15" merupakan "usia kerja minimal" yang ditetapkan oleh Departemen Tenaga Kerja (Depnaker); yang dalam artian bahwa komposisi tenaga kerja di negara kita secara formal diperhitungkan pada mereka yang usianya telah mencapai 15 tahun.
PASAL GLOBALISASI, "ANAK TELEVISI" DAN BUDI PEKERTI Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1996: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (114.676 KB)

Abstract

       Perjalanan kultural bangsa Indonesia tengah memasuki era baru era industrialisasi dan era globalisasi. Kalau era industrialisasi tertandai dengan terjadinya transformasi pada konsentrasi sumber investasi maka era globalisasi tertandai dengan terjadinya transparansi hampir pada semua bidang kehidupan.       Kalau selama ini mayoritas masyarakat Indonesia masih meletakkan konsentrasi sumber investasi pada tanah pertanian dan perkebunan (preindustrial society),  maka kita dituntut mengubah ke permesinan dan jasa (industrial society).  Itu pun ternyata belum  cukup; karena di depan kita ada "mesin budaya" yang menarik kita untuk meletakkan konsentrasi sumber investasi pada ilmu pengetahuan dan teknologi (post industrial society). Untuk menuju perjalanan ke depan diperlu-kan perjuangan yang tidak ringan karena sangat beragamnya potensi budaya antar kelompok masyarakat kita sendiri.       Sekarang ini kita sedang menghadapi gelombang perubahan yang maha dahsyat;  dari kultur yang konvensional menuju kultur yang tek-nologis, dari kultur yang semi tradisional menuju kultur yang modern. Semua ini menjadi tantangan baru bagi bangsa kita.       Dunia kita sekarang adalah dunia yang serba transparan;  dengan diaplikasikannya teknologi di semua bidang kehidupan maka terjadilah sistem informasi yang tak mengenal batas (borderless information). Dengan kekuatan teknologi maka sistem distribusi informasi sanggup menembus dinding-dinding geografis,  pagar-pagar sosial, filter-filter budaya dan tembok-tembok politik antar bangsa;  karenanya informasi yang terjadi di suatu tempat dapat dinikmati di tempat lain pada waktu yang sama.  Dunia global kita terasa menjadi sempit namun kita tetap dituntut memiliki wawasan luas untuk berenang didalamnya.
KESEIMBANGAN PENDIDIKAN SUPRIYOKO, KI
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2009
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (95.297 KB)

Abstract

Jum’at tanggal 3 Juli 2009 hari ini Tamansiswa genap berusia 87 tahun kalau dihitung dari hari kelahirannya. Lahir di Kota Yogyakarta dengan nama Perguruan Nasional Tamansiswa, Nationaal Onderwijs Instituut Tamansiswa, pada tanggal 3 Juli 1922; lembaga ini segera berkiprah di masyarakat untuk mengembangkan konsep-konsep pendidikannya. Berbicara tentang Tamansiswa tidak dapat dilepaskan dari Tokoh Pendidikan Nasional, Ki Hadjar Dewantara. Bukan saja beliau merupakan pendiri tetapi konsep-konsep pendidikan Ki Hadjar terus dikembangkan secara konsisten oleh Tamansiswa. Bahwa (sebagian) konsep pendidikan Ki Hadjar juga dikembangkan dalam mengimplementasi pendidikan nasional memang benar; namun demikian Tamansiswa-lah yang paling setia menjaganya dalam situasi dan kondisi yang silih berganti.