Articles
DUA PILIHAN PASCA UMPTN
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1992: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (213.094 KB)
Hasil Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN) baru saja diumumkan tanggal 8 Agustus 1992 yang lalu sebagaimana yang direncanakan sebelumnya. UMPTN tahun ini meloloskan 70.509 mahasiswa baru PTN, yang terdiri dari 65.183 mahasiswa baru Strata Satu (S1) dari berbagai jurusan dan 5.326 mahasiswa baru Diploma Dua (D2) Program Guru Sekolah Dasar (PGSD). Dengan adanya kebijakan pemerintah untuk sementara tidak mendirikan PTN baru dalam beberapa tahun terakhir ini, terkecuali menambah beberapa jurusan maupunprogram studi yang dianggap perlu, maka daya serap PTN boleh di-katakan tidak mengalami perubahan yang berarti. Di dalam beberapa tahun terakhir ini daya serap PTN terhadap para lulusan sekolah menengah berkisar pada angka 65.000 s/d 70.000 untuk setiap tahunnya; kalau pun jumlahnya keluar dari interval tersebut, seperti kali ini sedikit di atas angka 70.000, maka angka deviasinya tidaklah tinggi. Tahun ini peserta UMPTN mencapai 436.517 kandidat dan yang lolos hanya 70.509 kandidat; artinya untuk bisa menembus dinding PTN maka setiap kandidat harus sanggup menyisihkan lima atau enam kandidat yang lainnya. Suatu perjuangan yang tidak ringan tentunya.
KONSEPSI KEUNGGULAN SEKOLAH TAMANSISWA
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1997: HARIAN PIKIRAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (121.618 KB)
Pada harian ini sesungguhnya saya sudah beberapa kali menulis tentang sekolah unggul, antara lain "Mendesiminasi Sekolah Unggul Tamansiswa" (Pikiran Rakyat: 25/07/96), "Pendidikan Keunggulan Sekolah Dasar" (Pikiran Rakyat: 06/01/97) dan "Rahasia Keberha-silan Sekolah Unggul" (Pikiran Rakyat: 31/01/97); meski demikian tulisan ini tidak akan bersifat replikatif karena konsepsi keunggulan sekolah Tamansiswa yang menjadi bahasan tulisan ini memang sangat spesifik dan khas. Seperti kita ketahui pembicaraan mengenai sekolah unggul akhir-akhir ini kembali menarik minat masyarakat, terutama sekali setelah Tamansiswa mencanangkan dimulainya (kembali) operasional sekolah unggul di beberapa tempat. Tanggal 3 Juli 1997 yang lalu bertepatan dengan peringatan Hari Ulang Tahun Ke-75 (tigaperempat abad) Perguruan Nasional Ta-mansiswa, Ketua Umum Yayasan Ki Hadjar Dewantara (Soesilo Soedarman) bersama-sama Ketua Umum Majelis Luhur Tamansiswa (Ki Boerhanoeddin Lubis) telah mencanangkan dimulainya operasionali-sasi sekolah unggul SMU Tamansiswa Ibu Pawiyatan Yogyakarta. Dimulainya sekolah unggul di lingkungan Tamansiswa sebenar-nya tidak istimewa bila dilihat dari realitas tentang banyaknya sekolah unggul di berbagai tempat sekarang ini. Meskipun demikian hadirnya sekolah-sekolah unggul di Tamansiswa ternyata sangat menarik minat masyarakat disebabkan ada kekhasan yang dikembangkan didalamnya. Hadirnya sekolah-sekolah unggul (yang baru) di lingkungan Tamansiswa sama sekali bukan karena kelatahan. Sebelum masyarakat kita "menghebohkan" hadirnya sekolah unggul di negeri ini maka terlebih dahulu Tamansiswa sudah merintisnya; misalnya SMU Tamansiswa Arun,Aceh (kerja sama dengan PT Arun) dan SMU Taruna Nusantara Magelang, Jawa Tengah (kerja sama dengan ABRI).
SEKOLAH SWASTA: 'MOBIL REYOT'!
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1984: HARIAN MASA KINI
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (131.07 KB)
Kalau anda akan pergi ke Amsterdam menggunakan pesawat, maka begitu pesawat anda 'take off' dari Halim Perdana Kusumah tiba-tiba saja sudah mendarat di Schiphol. Pesawat anda hanya berhenti dibeberapa kota saja sekedar untuk mengisi bahan bakar atau menaikkan penumpang (passengers -biar lebih gagah), misalnya di Singapura - Colombo - Karachi - Wina, atau pakai route lain lagi Singapura - Dehli - Karachi - Frankfurt. Di setiap kota anda hanya diberi waktu enam puluh menit, dan setelah dikurangi untuk 'ini-itu' tinggallah tiga puluh menit waktu anda untuk melihat-lihat apa yang ada disekitar pelabuhan udara tersebut. Praktis perjalan an anda menggunakan pesawat terbang yang hampir dua pu-luh empat jam itu hampir tidak memberikan kesan yang banyak kepada anda maupun teman-teman anda dalam satu pesawat. Sekarang cobalah anda menuju ke Yogya menggunakan mobil reyot dari Jakarta. Tiba-tiba saja ditengah perja- lanan anda harus berhenti untuk mengisi bahan bakar yang mau habis, membetulkan knalpot yang mau lepas, mengen-cangkan baut yang mulai kendor, atau membereskan packing yang mulai bocor dan sebagainya. Perjalanan anda ini tentu lebih berat tetapi sa-ngat mengasyikkan. Sambil mengencangkan baut kita dapat melihat luasnya sawah dengan padinya yang menguning, sam bil membetulkan knalpot kita dapat menik mati segarnya udara hutan jati atau sambil memberesi packing kita bisamemandangi wajah-wajah gadis desa yang serba polos, dsb. Ternyata walau perjalan an anda ini berat tetapi banyak memberikan kesan tersen diri disudut kepala anda.
MENGEMBANGKAN PERGURUAN TINGGI DI PEDESAAN
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1988: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (122.067 KB)
Berapakah jumlah penduduk Indonesia sekarang ini? Entah angka pastinya, tetapi yang jelas lebih dari 165 juta orang. Kemudian Lalu berapakah jumlah penduduk yang bertempat tinggal di pedesaan? Sekitar 77% dari seluruh penduduk Indonesia bertempat tinggal di pedesaan. Atau setidak-tidaknya lebih dari separuh penduduk tetap setia (bertahan) di desa. Sekarang marilah kita mencoba mengingati perguruan tinggi kita, perguruan tinggi negeri (PTN) serta perguruan tinggi swasta (PTS). Berapakah jumlah PTN di negara kita? Apabila Universitas Terbuka (UT) tidak dimasukkan pada perhitungan maka di negara kita sudah terdapat 43 PTN. Bila kemudian pertanyaan tersebut dilanjutkan dengan berapakah jumlah PTN yang berdomisili di pedesaan, maka dengan mudah akan kita jawab bahwa tidak satu pun di antara PTN berdomisili di pedesaan. Nah sekarang, berapakah jumlah PTS kita? Jumlah PTS yang bernaung di bawah Depdibud saja saat ini tidak kurang 744 lembaga. Jumlah ini belum termasuk PTS yang bernaung di luar Depdikbud.
BELAJAR EFEKTIF DI PERGURUAN TINGGI
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1990: HARIAN BALI POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (127.724 KB)
Berdasarkan pengamatan terhadap kalender akademik pada berbagai perguruan tinggi maka Bulan September biasanya ditandai dengan dimulainya proses belajar mengajar bagi para mahasiswanya; dan para mahasiswa baru pun mulai merasakan suka-dukanya menerima pelajaran dan tugas-tugas dari para dosennya. Secara empiris banyak mahasiswa baru yang mengalami sedikit keterkejutan yang disebabkan oleh perubahan sistem (shock by changing of system); dari sistem di SMA yang semula serba "menerima" berubah pada sistem baru di perguruan tinggi yang harus banyak berinisiatif. Apabila sewaktu belajar di SMA maka hampir segalanya ditentukan oleh sang guru, kini mereka harus lebih banyak belajar secara mandiri; ke perpustakaan sendiri, menyelesaikan tugas sendiri, berkonsultasi sendiri, dan sebagai-nya. Pada sisi yang lain relatif banyak pula di antara mahasiswa yang terpaksa mengalami kegagalan ("drop-out") disebabkan karena kurang memahami sistem yang utuh, termasuk di dalamnya sistem pencapaian prestasi yang dimanifestasikan dalam satuan Indeks Prestasi (IP).
OTONOMI MANAJEMEN PERGURUAN TINGGI
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1996: HARIAN BALI POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (115.668 KB)
Direktur Pembinaan Sarana Akademik Direktorat Jenderal Dikti Depdikbud Harsono Taroepratjeko dalam suatu seminar di Surakarta baru-baru ini menyatakan perlunya segera dilakukan penataan ulang sistem pendidikan tinggi kita berdasarkan pendekatan paradigma baru yang sesuai dengan tuntutan kebutuhan masyarakat. Lebih lanjut Pak Harsono menyatakan bahwa otonomi, akreditasi, evaluasi dan akuntabilitas merupakan komponen dari suatu paradigma manajemen pendidikan tinggi yang baru dalam penataan sistem pendidikan tinggi tersebut. Meskipun demikian beliau mengingatkan bahwa penataan kembali sistem pendidikan tinggi ini bukanlah semata-mata menjadi tujuan. Sebab,suksesnya program tersebut tetap diindikasikan dari hasil keluaran pendidikan tinggi maupun dampak yang ditimbul-kannya. Program akan dinyatakan sukses kalau keluaran pendidikan tinggi makin bermutu dan memberikan dampak positif dalam perkembangan masyarakat; demikian pula yang sebaliknya. Otonomi bukan semata-mata menyangkut kebebasan pada bidang keilmuan, melainkan juga meliputi otonomi pengelolaan perguruan tinggi secara keseluruhan. Otonomi yang terakhir inilah yang harus lebih direalisasikan di dalam rangka penataan ulang sistem pendidikan tinggi kita. Selama ini otonomi dalam bidang pengembangan keilmuan memang sudah direalisasikan, namun demikian otonomi manajemen perguruan tinggi secara keseluruhan menurut Pak Harsono memang belum sepenuhnya terbentuk. Lontaran gagasan Pak Harsono tersebut memang sangat menarik untuk dicermati, meski bukan barang baru bagi masyarakat perguruan tinggi itu sendiri. Persoalan otonomi manajemen perguruan tinggi di negara kita memang sudah lama didiskusikan; meski demikian sampai sekarang tetap saja menjadi topik yang sangat menarik untuk diangkat ke permukaan.
MEMBOYONG "URUN REMBUG" DARI LAPANGAN
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1985: MAJALAH PUSARA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (96.564 KB)
Pada tgl 30 Juli 1985, beberapa hari yang lalu, Presiden Soeharto telah melantik Prof. Dr. Fuad Hassan sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia untuk menggantikan Prof. Dr. Nugroho Notosusanto yang telah 'mendahului' kita sebelum jabatan dan tugas yang diembannya berakhir dalam satu periode. Dalam pesan-pesannya Presiden mengingatkan bahwa masalah pendidikan sampai sekarang belum dapat terpecahkan secara memuaskan. Oleh karena masih begitu banyaknya masalah pendidikan yang belum terpecahkan maka ini menunjukkan betapa besarnya tantangan yang masih harus dihadapi. Selanjutnya untuk menghadapi tantangan tersebut, dalam upaya memecahkan masalah-masalah pendidikan yang tengah kita hadapi, maka Mendikbud dalam penjelasannya mengatakan bahwa sudah merencanakan tiga masalah yang harus segera ditangani, masing-masing adalah stabilitas kurikulum dan sistem pendidikan, pembenahan administrasi serta penyediaan forum untuk masyarakat.
MENGAPA PRESIDEN DAPAT PENGHARGAAN DARI PBB
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1989: HARIAN SUARA MERDEKA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (103.372 KB)
Tanggal 8 Juni 1989 hari ini, atas perhatian dan jasa-jasanya yang besar di bidang kependudukan, Presiden RI Soeharto menerima penghargaan di bidang kependudukan ("population awards") dari organisasi dunia Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang bermarkas di New York, Amerika Serikat. Penghargaan bidang kependudukan yang "dikeluarkan" oleh PBB, sebagaimana yang akan diterimakan kepada presiden kita tersebut, khusus hanya diberikan kepada orang-orang atau orga-nisasi-organisasi tertentu yang ter bukti benar-benar telah berjasa dalam meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai masalah-masalah kependudukan. Pada periode tahun 1989 ini rupa-rupanya Presiden Soeharto terpilih sebagai satu-satunya "pemenang" yang memenuhi persyaratan untuk kriteria perorangan, sedangkan untuk kriteria organisasi dimenangkan oleh Programme National De Bienetre Familial, suatu badan keluarga yang bersifat nasional dari Togo, Afrika Barat. Meskipun "population awards" yang diberikan pada presiden kita tersebut lebih cenderung pada kriteria perorangan, akan tetapi hal tersebut tidak dapat dilepaskan dari upaya bangsa kita di dalam rangka "menyederhanakan" masalah-masalah kependudukan melalui program-program keluarga berencana (KB). Dan Pak Harto memang telah banyak meletakkan konsep dasar dalam pengembangan program KB di Indonesia, sebab beliau yakin bahwa keberhasilan gerakan KB merupakan unsur penentu keberhasilan pembangunan nasional.
BOBOT MISI PENDIDIKAN DI RADIO
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1997: HARIAN SUARA KARYA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (114.733 KB)
Kalau saja penulisan ini dapat dipresentasikan secara auditif tentu akan saya pilih 'Mars Jakarta' dalam musika-instrumentalia sebagai tune untuk mengantarkan salam buka tulisan ini serta sekaligus untuk menyampaikan salam hangat penuh semangat "sekali di udara tetap di udara". Kita sebagai warga Nusantara baik di kala dalam perjalanan, sedang tiduran, di ladang menggarap sawah, di laut mencari ikan, di kamar sepi untuk menyendiri atau di tempat-tempat lain, demi mendengar instrumentalia tersebut ingatan kita tentu akan segera lari pada RRI kita dengan segala romantika perjuangannya. Tanpa terasa usia radio yang sama dengan usia kemerdekaan kita sudah mencapai 52 tahun; artinya dunia keradioan kita telah mengalami pahit getir selama lebih dari setengah abad. Radio kita, RRI, secara formal memang lahir hanya 25 hari setelah bangsa Indonesia mengumandangkan kemerdekaannya; yaitu 11 September 1945. Walau dalam beberapa tahun terakhir ini hari radio hampir tidak lagi diperingati dengan pemotongan tumpeng atau kegiatan seremonial yang penuh glamour, sebagaimana orang memperingati hari lahirnya stasiun televisi swasta misalnya, tentu saja hal itu tidak berarti bahwa semangat perjuangan RRI yang pernah mampu memotivasi bangsa ini untuk membangun diri telah lenyap di telan bumi. Rasanya memang benar, meski tidak secara mutlak; sekarang ini sudah banyak orang yang menjadi tega "melupakan" radio, khususnya RRI, untuk beralih kepada televisi. Siang dan malam, pagi dan sore, banyak orang yang asyik menjaga televisi hingga sampai lupa bahwa ada media lain yang tak kalah menariknya, yaitu radio. Namun begitu hal ini tentunya tidak menjadikan kita pesimistis karena di luar banyak orang yang "melupakan" radio tersebut justru ada banyak orang yang ingin lebih dekat dengan radio; dari para nelayan, petani, orang pasar sampai dengan siswa dan mahasiswa.
POTENSI RRI MASIH DAPAT DITINGKATKAN DI SEGALA BIDANG
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1984: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (119.258 KB)
"Usaha pentrapan aspek-aspek inovasi ini bukanlah hanya sekedar merupakan konsekuensi logis dari pada pendidikan yang berorientasi pada kemajuan jaman, tetapi juga karena approach tradisional dan konvensional tak lagi menanggulangi masalah yang bertambah lama bertambah rumit. Salah satu diantara aspek-aspek inovasi itu ialah penggunaan siaran (broadcasting) dalam pendidikan. Telah lama diidentifikasikan bahwa broadcasting memiliki potensi yang hebat jika penggunaannya teratur dan terarah.Sudah masanya kini kita menjelajahi kemungkinan dan potensi broadcasting itu dalam dunia pendidikan kita". ( Menteri P & K, 1972 ) Hari ulang tahun Radio Republik Indonesia (RRI) tiba kembali, dan pada tanggal 11 September 1984 ini usia RRI sudah mencapai 39 tahun. Usia ini hanya terpaut beberapa minggu atau bahkan hanya beberapa hari saja dibanding dengan usia kemerdekaan negara kita. Kalau dibuat suatu diagram tentang frekuensi masyarakat dalam mendengarkan siaran RRI tentu akan kita temui suatu grafik yang ber-jalan naik dan turun dalam tiap-tiap periode. Ini menandakan bahwa suatu saat masyarakat sangat berminat untuk mengikuti acara-acara yang disajikan oleh RRI, di saat yang lain menjadi acuh tak acuh dan di saat yang lain lagi justru menjadi akan bosan sehingga mereka tidak segan-segan untuk memutar tombol potensio radionya ke posisi 'off', atau menggantikannya dengan gelombang yang lain. Pada tahun-tahun awal masa kemerdekaan dulu tentu siaran RRI banyak diikuti bahkan digandrungi masyarakat, di samping karena relevansi dan kualitas informasi yang sangat meyakinkan di saat itu juga karena relatif belum banyaknya media massa baik yang bersifat cetak, auditif dan visual sebagai pusat informasi.