Articles
KEMUNGKINAN BURISRAWA MASUK KELAS !
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1985: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (102.57 KB)
+: Kulonuwum Romo !-: Selamat sore Romo ! Ehm, walaupun agak terlambat kami berdua ingin menghaturkan Selamat Natal dan Tahun Baru kepada Romo.=: Oho, Jongen, sore ... sore ... sore ! Oh ya terimakasih, Romo pun juga mengucapkan Prettige Kersdagen en Een Gelukkig Nieuwjaar! Tapi kenapa koq tumben datang sore-sore kepada Romo ?+: Begini Romo, akhir-akhir ini ada berita hangat yang mengatakan bahwa sebentar lagi dikelas-kelas dianjurkan agar memasang tokoh wayang sesuai dengan selera siswanya. Tepatnya, menurut beberapa sumber tadi, ada instruksi, ehm maksud saya ada anjuran dari KAKANWIL DEPDIKBUD DIY agar Kepala Sekolah SMTP dan SMTA memasang wayang dengan maksud mengagungkan nilai-nilai budaya kita.
MASALAH PENELITIAN DAN ANATOMI DANANYA
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1989: HARIAN JAWA POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (94.888 KB)
Universitas Manchester di Inggris boleh berbangga diri; salah satu departemen (baca: jurusan) yang bernaung padanya telah berhasil menerbitkan jurnal penelitian dalam skala internasional yang memperoleh "welcome" dari kalangan ilmuwan perguruan tinggi di berbagai negara. Departemen tersebut, Department of Electrical Engineering and Electronics menerbitkan jurnal penelitian yang "eksklusif", "International Journal of Electrical Engineering Education", yang distribusinya mampu menembus berbagai perguruan tinggi di dunia ini, tidak terkecuali berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Kualitas dan vareasi hasil penelitian yang disajikan oleh jurnal ini memang pantas dibanggakan, untuk tidak "mengecapi" sebagai sangat istimewa. Pengelola jurnal tersebut juga berhasil menggaet peneliti dari berbagai perguruan tinggi "elite" di dunia ini untuk mengkomunikasikan hasil penelitiannya melalui jurnal yang dikelolanya; misalnya saja R.D. Phillips and L. Owens, masing-masing dari Saint George Institute of Education dan Sydney University (Australia), yang pernah menulis tentang proses belajar mengajar di Indonesia. "Penggaetan" peneliti berbobot dengan hasil-hasil penemuannya seperti tersebut di atas ternyata mempunyai daya pikat bagi pembacanya. Terbukti pembaca jurnal tersebut semakin banyak, bahkan atas permintaan pembacanya maka jurnal tersebut semenjak beberapa tahun yang silam telah diterbitkan dalam empat bahasa sekaligus: Inggris, Spanyol, Perancis, dan Jerman. Bahkan konon sekarang ini sudah berkembang ke lima atau enam bahasa.
SISTEM SELEKSI MASUK PERGURUAN TINGGI
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1997: HARIAN PIKIRAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (111.749 KB)
Menyusun instrumen atau materi testing perguruan tinggi bukanlah pekerjaan yang gampang; oleh karena itu kiranya wajar saja kalau sampai saat ini masih ada perguruan tinggi, PTS maupun PTN, yang belum berani menegakkan kemandirian dalam mengembangkan sistem seleksi terhadap kandidat mahasiswa barunya. Sampai kini masih ada PTN yang masih bergantung pada instansi lain untuk dapat menyeleksi kandidat mahasiswa baru; dan apalagi PTS, masih banyak PTS yang juga bergantung pada instansi lain termasuk PTN dalam mengembang-kan instrumentasinya. Secara metodologis ada empat persyaratan yang diperlukan untuk membuat materi tes sebagai bagian dari sistem seleksi di perguruan tinggi. Adapun keempat persyatan yang dimaksud ialah sbb: (1) pre-diction effektiveness, (2) economic effectiveness, (3) teaching-learning incentive dan (4) equity. Persyaratan yang pertama, prediction effectiveness, dimaksudkan sebagai seberapa akurat materi tes dapat membedakan kandidat yang probabilitas keberhasilannya adalah besar dengan kandidat lain yang probabilitas keberhasilannya adalah kecil seandainya mereka diberi kesempatan untuk belajar di perguruan tinggi. Lain kata, seberapa tepat keputusan seleksi menerima kandidat yang berpotensi tinggi dan menolak kandidat yang berpotensi rendah. Materi tes haruslah benar-benar bisa menyaring kandidat yang potensi akademiknya tinggi. Persyaratan kedua, economic effectiveness, lebih menunjuk pada pertimbangan "economic gain". Dalam bahasa yang sederhana dana atau anggaran yang dialokasikan untuk menopang kepentingan sistem haruslah sepadan dengan kecermatan prediksi yang diperoleh. Jangan membuang uang banyak untuk materi tes yang kurang valid di dalam penyusunan dan pelaksanannya.
PENERIALISME PENDIDIKAN DALAM PENYUSUNAN KURIKULUM
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1983: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (107.537 KB)
Setelah dunia pendidikan kita semarak dengan adanya beberapa konsep (pemikiran) tentang The Best Ten, Pergantian Sistem Proyek Perintis dan Sistem Praseleksi kini lebih kiprah lagi dengan munculnya sebuah gagasan tentang penggantian kurikulum.Gagasan ini adalah berupa penggabungan IPA dan IPS dan menggantikan kurikulum tujuh lima (1975) dengan 'kurikulum inti' yang tentu saja dipandang mengandung banyak segi-segi positifnya dibanding dengan segi negatifnya. Walau pun telah disadari pula untuk penerapannya tentu akan dijumpai hambatan tidak sedikit.Melihat sedikit penjabaran gagasan tersebut nampaknya lulusan SMTA kita lebih cenderung kepada seorang spesialis dari pada seorang generalis. Barangkali telah disadari bahwa lulusan SMTA kita selama ini nampaknya ada dalam posisi yang serba tanggung, dalam artian mau meneruskan studi sulit, mau bekerja tidak memiliki disiplin ketrampilan yang spesial.Barangkali saja gagasan itu timbul disamping dalam rangka untuk mempertinggi kualitas lulusan SMTA juga mengatasi kompleksitas-kompleksitas problematika dalam situasi yang dilematis ini.
PERLU EKSPERIMENTASI 'KURIKULUM RANTING'
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1988: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (121.616 KB)
Barangkali benar makna dari pomeo yang mengatakan bahwa sekolah umum merupakan favorit orang tua atau masyarakat, sedangkan sekolah kejuruan merupakan favorit pemerintah. Pomeo tersebut di atas diangkat dari "potret" kemasyarakat-an kita akhir-akhir ini. Pada umumnya para orangtua siswa di negara kita menginginkan anaknya bersekolah sampai ke jenjang pendidikan yang paling tinggi untuk itulah maka sekolah umum (SMP dan SMA) akhirnya menjadi pilihan; sebab hanya dengan sekolah jenis inilah maka cita-cita tersebut dapat dicapai. Suatu penelitian atau riset yang pernah dilakukan oleh A. Mani terhadap para siswa kelas tiga SMP di Indonesia salah satu kesimpulan mengatakan bahwa (hanya) orang tua dari keluarga "miskin"lah yang lebih selektif dalam mengirimkan anak wanitanya ke sekolah yang lebih tinggi (A Mani, "Determinants of Educational Aspirations among Indonesian Youth", 1983). Itulah sebabnya maka sekolah yang mampu memberikan kemungkinan studi secara maksimal kemudian dijadikan pilihan dan favorit oleh orangtua atau masyarakat.
KORELASI AIDS DENGAN PROSTITUSI
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1991: HARIAN BALI POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (244.107 KB)
Baru-baru ini salah satu kompleks prostitusi di Surabaya "geger" karena ada di antara para WTS-nya yang diserang AIDS. Orang pun lalu mulai menghubung-hubungkan antara prostitusi dengan AIDS. Memang antara prostitusi dengan AIDS makin lama semakin signifikan korelasinya. Melalui berbagai penelitian yang dilakukan oleh para ahli medik ditemukan bahwa prostitusi merupakan kegiatan yang sangat menyokong tersebarnya AIDS. Mungkin kita tidak begitu heran mendengar khabar bahwa "Departemen Kesehatan"-nya Korea Selatan pernah mengadakan pemeriksaan darah secara intensif terhadap puluhan ribu pelacur serta gadis bar sebagai salah satu upaya preventif untuk mencegah mengganasnya AIDS di negara tersebut. Lalu ..., bagaimana dengan informasi yang menyatakan bahwa AIDS lebih disebabkan karena hubungan seksual dengan kawan sejenis; bukan hubungan heteroseksual seperti kebanyakan yang terjadi di kompleks prostitusi? Berdasarkan sejarahnya bahwa asal mula AIDS ialah "melanda" kaum homoseksual di New York dan San Fransisco maka kegiatan-kegiatan penelitian tentang AIDS pada mu-lanya lebih terfokus pada kaum homoseksual ini. Kegiatan homoseks, atau mengadakan kegiatan hubungan seksual de-ngan pasangan yang sama jenisnya, pada mulanya dicurigai sebagai satu-satunya penyebab menularnya penyakit AIDS. Namun hasil penelitian ternyata homoseks bukan satu-satunya penyebab menularnya AIDS.
SILANG PENDAPAT TENTANG "MULTIPLE CHOICE"
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1990: HARIAN SURYA POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (114.208 KB)
Tes pilihan ganda (multiple choice) --selanjutnya untuk penulisan ini disingkat dengan TPG-- yang termasuk dalam kelompok tes objektif kembali dipermasalahkan oleh banyak orang; khususnya menyangkut kukurangan-kekurangan yang dimilikinya. TPG tidak dapat menjangkau kemampuan analisis dan sintesis anak didik, TPG membuat anak didik menjadi malas belajar, TPG membuat anak didik menyenangi permainan "untung-untungan", dan sebagainya. Kritik terhadap adanya kekurangan-kekurangan yang dimiliki oleh TPG tersebut rasanya memang sangat wajar dan argumentatif; akan tetapi ada satu kritik pedas yang serius dan sangat fundamental, yaitu TPG telah mengakibatkan "mandeg"-nya kemampuan penalaran anak didik kita dari jenjang pendidikan dasar sampai pendidikan tinggi. Ambil contoh: sistem EBTANAS yang mengembangkan pola TPG telah mengakibatkan lulusan SMTA kurang sanggup berfikir analitis dan sintesis. Buktinya..? Siswa-siswa Indonesia yang diikutkan dalam berbagai lomba ilmiah di luar negeri, dengan jenis-jenis soal analitis, ternyata tidak pernah menang pada hal mereka memiliki NEM tinggi.
KENDALA PENINGKATAN MUTU PTS
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1996: HARIAN SUARA KARYA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (120.279 KB)
Berbeda dengan kondisi di negara-negara maju, seperti di Jepang dan Amerika Serikat (AS) misalnya, secara umum sampai sekarang ini mutu Perguruan Tinggi Swasta (PTS) di Indonesia masih berada di bawah mutu Perguruan Tinggi Negeri (PTN). Bahwa secara khusus ada PTS yang mutunya jauh di atas mutu PTN pada umumnya hal itu memang benar adanya; namun demikian hal itu lebih bersifat kasus. Keadaan yang demikian itu menciptakan tradisi akademik yang acapkali kurang proporsional;misalnya kebanyakan lulusan SMU (dan SMK) baru mau mendaftarkan diri pada PTS setelah yakin bahwa di-rinya tidak kebagian kursi kuliah pada PTN. Lihatlah sebentar lagi, ketika hasil UMPTN nanti diumumkan (rencana 27 Juli 1996) maka kandidat mahasiswa baru PTN yang gagal tentu akan segera ramai-ramai "menyerbu" PTS. Tradisi akademik semacam ini memang tidak proporsional karena sebenarnya pendaftaran pada PTS bisa dilakukan bersamaan dengan pendaftaran pada PTN. Dengan demikian kegiatan akademik pada PTS dapat dilakukan bersama-sama dengan PTN; tidak selalu PTS tertinggal "start". Hal tersebut di atas bisa terjadi karena mutu PTS pada umumnya memang belum dapat dibanggakan, bahkan ada sebagian yang masih sangat memprihatinkan. Menghadapi kenyataan ini kiranya tidak salah kalau Presiden Soeharto segera menganjurkan dilakukan pembatasan terhadap munculnya PTS baru. Seperti kita ketahui ketika Pak Harto menerima audiensi pengurus Badan Musyawarah Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (BMPTSI) beberapa waktu yang lalu maka beliau menganjurkan perlunya diadakan pembatasan jumlah PTS sembari meningkatkan mutu PTS yang sudah ada. Pembatasan jumlah dilakukan dengan mengetatkan sistem seleksi berdirinya PTS baru, sementara itu peningkatan kualitas dapat dilakukan antara lain dengan membenahi sistem dan proses akreditasi.
KEBIJAKSANAAN DARI ATAS, NAH ...!!
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1985: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (101.461 KB)
Beberapa waktu yang lalu menjelang kegiatan Ebtanas akan diselenggarakan, seorang pejabat teras Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (Depdikbud) menegaskan bahwa mulai tahun ajaran 1984/1985 ini penyelenggaraan Ebtanas sepenuhnya dilaksanakan sesuai dengan 'kebijaksanaan nonkatrolan'. Penegasan yang cukup tegar tersebut, yang dapat meng-hantarkan kita kepada rasa syukur disatu pihak dan sekaligus dilain pihak (lihat KR, 13 April 1985, Supriyoko: "Kebijaksanaan Non Katrolan, Mungkinkah ?!"), kini benar-benar tengah teruji kebenarannya. Ibarat sebuah hipotesis yang tengah diuji oleh proses analisa data untuk menghasilkan sebuah kesimpulan yang benar (dan dipercaya!) dalam sebuah proses penelitian (research). Sejak semula telah muncul banyaknya kesangsian, apabila NEM (Nilai Ebtanas Murni) ditulis dalam STTB untuk menentukan kelulusan siswa) maka hampir bisa dipastikan akan terjadinya peristiwa rontoknya para peserta Ebtanas dalam proporsi yang maha besar (walaupun sekarang Depdikbud tidak mengenal istilah 'rontok').
WANITA INDONESIA DALAM PEMBANGUNAN
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1989: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (98.931 KB)
Bahwa kaum wanita itu memiliki berbagai kelebihan tertentu bila dibandingkan lawan jenisnya kiranya memang tidak perlu didiskusikan lagi. Barangkali atas kenyataan inilah maka proses emansipasi wanita di Indonesia, sebagaimana yang dicita-citakan Ibu Kartini, dapat berjalan dengan cukup lancarnya; meskipun bukan berarti tidak ada hambatan sama sekali. Tokoh pendidikan nasional kita yang amat familiar dalam soal "didik mendidik" Ki Hadjar Dewantara menunjuk salah satu kelebihan kaum wanita terletak di dalam soal memberikan pendidikan kepada sang anak. Menurut Ki Hadjar maka kaum wanita, terutama sang ibu, secara alamiah mempunyai kelebihan menyambung "tali rasa" dalam proses mendidik sang anak; yang mana "tali rasa" ini merupakan salah satu aspek psikologis yang sangat penting dan sangat dominan peranannya dalam keberhasilan suatu proses pendidikan. Secara ilmiah "hipotesis" Ki Hadjar tersebut pernah dibuktikan oleh hasil penelitian Frances P. Lawrenz and Wayne W. Welch yang pernah dilakukan beberapa waktu yang lalu.