Claim Missing Document
Check
Articles

MANAJEMEN BARU KEUANGAN PTN Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1991: HARIAN BALI POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (212.361 KB)

Abstract

Otonomisasi keuangan pada perguruan tinggi negeri (PTN) sedang menjadi topik pembicaraan yang cukup aktual di kalangan masyarakat, khususnya masyarakat pendidikan. Masalah ini menjadi semakin meningkat aktualitasnya manakala mulai tahun ini secara bersama-sama hampir seluruh PTN di negeri ini menaikkan "pungutan"nya dari mahasiswa (baru) sampai batas yang sangat berarti. Seperti kita ketahui bersama pada tahun akademik 1991/1992 ini hampir seluruh PTN di negeri ini menaikkan tarifnya. Memang, kenaikan tarif PTN tidaklah seberapa bila dibandingkan dengan beaya pendidikan pada PTS umum-nya, akan tetapi menjadi sangat berarti kalau dibanding-kan dengan beaya pendidikan pada PTN di tahun-tahun yang sebelumya. Dan yang perlu diperhatikan, nampaknya PTN mulai bersaing dengan PTS dalam soal "pungut-memungut" dana pendidikan dari masyarakat. Dari kenyataan tersebut maka isu otonomisasi keu-angan pada PTN menjadi berkembang dengan suburnya; dalam era mendatang, konon, PTN akan mengembangan manajemen keuangannya secara lebih "bebas" sebagai manifestasi a-tas otonomi yang dimilikinya.
MENYELAMATKAN PTS INDONESIA Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2007: HARIAN PIKIRAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (108.946 KB)

Abstract

Keluhan paling signifikan di kalangan para pengelola Perguruan Tinggi Swasta (PTS) di Indonesia pada umumnya sekarang ini menyangkut relatif sedikitnya mahasiswa baru, meskipun proses penerimaan mahasiswa baru masih berlangsung di banyak PTS. Konon berbagai upaya telah ditempuh tetapi tetap saja kandidat mahasiswa yang masuk relatif sedikit, setidaknya lebih sedikit dari tahun-tahun sebelumnya.  Beberapa program studi pada PTS bahkan nyaris tidak ada kandidat ?penghuni? yang datang. Bagaimana mungkin sebuah program studi hanya diminati oleh sepuluh, atau bahkan kurang, kandidat mahasiswa baru.  Keluhan lanjutan pengelola PTS menyangkut ?keselamatan? lembaga; makin sedikit jumlah mahasiswa makin sedikit pula dana pendidikan yang dikumpulkan dari intelektual muda tersebut. Kalau biaya ?overhead? yang dikeluarkan adalah tetap, apalagi makin besar, khususnya yang menyangkut biaya tetap (fix cost) maka kebangkrutan finansial telah mengancam. Kebangkrutan finansial ini bisa menyebabkan ditutupnya program studi pada PTS; bahkan bukan tidak mungkin ditutupnya PTS itu sendiri.  
PRIORITAS ANGGARAN PENDIDIKAN KITA Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1997: HARIAN YOGYA POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (106.369 KB)

Abstract

       Suatu tradisi politis pidato presiden pada setiap awal tahun  untuk menyampaikan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) senantiasa mendapat perhatian dari banyak kalangan; baik kalangan dalam maupun luar negeri.  Hal ini juga berlaku pada pidato Presiden Soeharto yang disampaikannya tanggal 6 Januari 1997 lalu untuk menghantarkan nota keuangan dan RAPBN Tahun 1997/1998 di depan Sidang Paripurna DPR kita. Hadir dalam acara yang penting ini Wakil Presiden, Try Soetrisno, dan para pejabat tinggi negara.       Bagi banyak kalangan,  RAPBN 1997/1998  mendapat tanggapan yang positif.  Tercerminnya upaya-upaya mengurangi ketergantungan dari pihak "luar" dan naiknya nominal anggaran merupakan dua point penting yang secara akumulatif akan sangat menentukan keberhasilan pembangunan negara kita di masa mendatang;  setidak-tidaknya dalam periode tahun anggaran 1997/1998. Berkurangnya ketergantungan ter-hadap pihak luar tentu akan menaikkan kredibilitas pembangunan; sedangkan naiknya anggaran diharapkan mampu mempertinggi kuantitas pembangunan, dan sudah barang tentu dengan kualitasnya.      Seperti yang telah kita ketahui bersama, bila dibandingkan dengan APBN 1996/1997 yang sedang berjalan ini,  yaitu sebesar 90,62 tril-yun rupiah,  maka RAPBN 1997/1998 yang nilainya mencapai angka 101,09 trilyun rupiah, mengalami kenaikan yang sangat berarti; yaitu mencapai 11 persen lebih.         Apabila kita bandingkan dengan tahun lalu  maka angka kenaikan tersebut relatif bagus.  Tahun lalu RAPBN 1996/1997 mencapai 90,62 trilyun rupiah,  yang berarti mengalami kenaikan lebih dari 16 persen bila dibandingkan dengan APBN 1995/1996 yang sedang berjalan saat itu yang besarnya 78,02 trilyun rupiah.  Sebagaimana dengan tahun yang lalu maka kenaikan anggaran tahun ini pun sudah banyak diprediksi oleh para pengamat ekonomi kita.
LEBARAN DALAM DIMENSI MULTI AKULTURASI Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1986: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (110.153 KB)

Abstract

       Beberapa tahun yang lampau saya pernah mengalami "lebaran" di negeri orang,  tepatnya di Eropa. Setelah selesai menjalani ibadah puasa wajib selama satu bulan,  disuatu pagi yang telah ditentukan kita berkumpul di tanah lapang atau di masjid-masjid (ada beberapa masjid yang dibangun oleh orang-orang Turki, Arab, dsb). Bersama-sama kita melaksanakan sholat ied, Idul Fitri.       Selesai sholat ied kita saling bersalam-salaman, dan langsung menuju ke kediaman Duta Besar menghadiri undangannya untuk beramah-tamah. Makan-makan, minum-minum ala kadarnya dan "kangen-kangenan" terus pulang. Tidak ada upacara resmi, seremonial protokoler, seremonial religius dan sejenisnya.       Keadaan serupa juga dialami oleh umat Islam dari bangsa lain, Arab, Mesir, Turki, Malaysia, dsb. Setelah selesai menjalankan sholat ied biasanya terus pulang dan bekerja seperti biasanya. Kalaupun toh beristirahat pada umumnya tak lebih dari satu hari, hari itu.       Tidak ada persiapan khusus menyambut "lembaran". Tidak ada "hura-hura" untuk mudik atau acara pulang kampung. Tidak ada acara masak besar. Dan tidak ada "paket lebaran". Tidak ada acara "sungkeman" dan "ngabekten" serta kumpul keluarga. Bahkan ... tidak ada lebaran!
MENGGALI POTENSI WANITA INDONESIA Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1990: HARIAN YOGYA POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (112.089 KB)

Abstract

       Ketika dahulu Ibu Kartini ingin mulai menjalankan roda-roda emansipasinya barangkali menemukan pertanyaan klasik yang cukup menggelitik: "Benarkah kaum wanita itu tidak memiliki kelebihan apapun dibandingkan dengan kaum pria?". Atau bahkan justru berangkat dari pertanyaan inilah roda emansipasi tersebut mulai diputar.       Roda emansipasi pun akhirnya berjalan beriringan dengan adanya keinginan untuk membuktikan bahwa wanita memiliki berbagai kelebihan tertentu dibandingkan pria. Dan benar ..., ketika emansipasi tengah berjalan seperti sekarang ini maka pertanyaan tersebut di atas justru berobah konotasinya menjadi: "Benarkah kaum wanita itu banyak kelebihannya dibanding pria?".        Jawabnya yang paling tepat adalah sepotong kata "ya", meskipun disertai dengan catatan di sana-sini. Itu berarti bahwa kaum wanita memang mempunyai berbagai kelebihan dibanding kaum pria.
DARI BANDUNG UNTUK INDONESIA SUPRIYOKO, KI
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2009: HARIAN PIKIRAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (108.435 KB)

Abstract

Kiranya tidak banyak orang yang menyangka kalau Indonesia berhasil memasukkan 39 nama perguruan tinggi berkelas dunia, world class univer-sity (WCU), dalam daftar 6.000 perguruan tinggi berkelas dunia yang baru saja atau tepatnya 30 Juli 2009 lalu dipublikasi oleh Consejo Superior de Investigaciones Cientificas (CSIC).          Di dalam publikasinya, ?Ranking Web of World Universities?, CSIC menorehkan 39 nama perguruan tinggi Indonesia yang terdiri dari 22 PTN dan 17 PTS. Angka ini cukup fantastis karena dalam publikasi satu setengah tahun sebelumnya, edisi 29 Januari 2008, Indonesia hanya berhasil mema-sukkan 17 nama perguruan tinggi.          Diakui atau tidak, ke-39 perguruan tinggi tersebut telah mengangkat nama baik Indonesia di mata masyarakat dunia karena nama yang belakang-nya diikuti dengan inisial Indonesia telah dibaca oleh ratusan juta manusia di dunia. Di samping Times di Inggris dan Shanghai Jiao Tong University di Cina, CSIC yang bermarkas di Spanyol diakui kredibel oleh masyarakat dunia dalam hal perankingan perguruan tinggi. Publikasinya selalu diikuti oleh ratusan juta orang.
LIPI DAN PERSOALAN PENELITI Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1992: HARIAN BALI POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (211.423 KB)

Abstract

       Hampir di semua negara, terutama di negara-negara maju, memiliki lembaga pemerintah dan/atau nonpemerintah yang diberi tugas untuk mengkoordinasi pengembangan ilmu dan pengetahuan guna memajukan masyarakat di negara yang bersangkutan. Di Indonesia, lembaga semacam itu disebut Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).          Apakah dengan demikian LIPI menjadi satu-satunya lembaga yang diberi tugas untuk mengkoordinasi pengem-bangan ilmu dan pengetahuan? Tidak, karena di luar LIPI masih banyak lembaga yang bertugas mengkoordinasi pengembangan ilmu dan pengetahuan tersebut, di antaranya ialah perguruan tinggi yang di negara kita jumlahnya mencapai 1.000-an lembaga.  Meskipun demikian mengangkat LIPI se-bagai lembaga nasional yang berdiri di depan dalam hal pengembangan ilmu dan pengetahuan di Indonesia nampaknya memang tidak terlalu salah.          Selama ini masyarakat kita memang banyak berharap kepada LIPI untuk memajukan masyarakat Indonesia melalui jalur ilmu dan pengetahuan.  Oleh karenanya tidak jarang lembaga ini menjadi "pusat bertanya" bagi pengembangan ilmu-ilmu dan pengetahuan-pengetahuan baru yang belum di kenal secara familiar oleh masyarakat pada umumnya.
MEMANFAATKAN INDUSTRIALISASI PENDIDIKAN AUSTRALIA Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1996: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (128.213 KB)

Abstract

       Australia kembali "menyerang" Indonesia. Seperti biasanya pada pertengahan tahun seperti ini Australia kembali mengadakan pameran pendidikan, 'Australia Education Expo', pada berbagai kota besar di Indonesia seperti Jakarta,Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, dan Medan.  Di Yogyakarta saja selama Bulan Juni 1996 ini teragenda tiga kali pameran; dan jumlah ini masih bisa bertambah.       Di dalam format pameran tersebut biasanya ditampilkan berbagai lembaga pendidikan di Australia, baik lembaga pendidikan formal ma-upun nonformal,  baik lembaga pendidikan tinggi maupun menengah, baik lembaga pendidikan di lapisan atas maupun lapis bawah. Kiranya perlu diketahui bahwa di Australia pun ternyata juga mengenal sistem "lapis-lapisan", meskipun tidak resmi,  dalam hal bonafiditas lembaga pendidikan.Oleh masyarakat Australia sendiri ada lembaga pendidikan tertentu yang dianggap amat bonafide dan didudukkan di lapisan atas; tetapi ada pula lembaga pendidikan yang bonafiditasnya masih harus diperjuangkan dan didudukkan di lapisan bawah.       Pameran pendidikan yang dilakukan di tujuh negara Asia, mereka menyebutnya dengan istilah The Seven Dragons (TSD),  yaitu Hong Kong, Malaysia, Singapura, Indonesia, Korea, Taiwan dan Thailand, pada umumnya sangat diminati oleh berbagai lembaga pendidikan dari semua lapisan. Adapun tujuannya jelas: menarik (kandidat) mahasiswa dan siswa dari tujuh negara TSD untuk belajar di lembaganya; meski kalau ada siswa dan mahasiswa yang berasal dari negara di luar TSD pun yang ingin bergabung pasti tidak akan ditolak.      Beberapa perguruan tinggi yang menempati lapisan atas pun tidak menyia-nyiakan kesempatan;  sebut saja misalnya University of New South Wales (UNSW) yang berlokasi di New South Wales serta Mo-nash University dan RMIT University yang berlokasi di Victoria.
MENUNGGU PRESTASI BADAN AKREDITASI NASIONAL Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1995: HARIAN PIKIRAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (182.937 KB)

Abstract

       Masyarakat kita,  khususnya masyarakat pendidikan tinggi, pada saat ini sedang dalam posisi menunggu prestasi riil Badan Akreditasi Nasional (BAN) yang telah dibentuk oleh Mendikbud RI, Wardiman Djojonegoro,pada 23 Desember 1994 yang lalu untuk mensimplifikasi berbagai masalah yang berkembang pada perguruan tinggi akhir-akhir ini. Demikianlah konklusi dari sebuah diskusi kecil yang melibatkan beberapa sivitas akademika di Yogyakarta baru-baru ini.          Berbagai kompleksitas memang tengah berkembang pada banyak perguruan tinggi kita akhir-akhir ini,  baik di PTN maupun PTS; dan itu semua dianggap dapat disimplifikasi kalau BAN dapat segera men-jalankan fungsinya.  Memang sekarang ini banyak orang memberikan kritik terhadap cara kerja BAN yang dipandang kurang gesit, kurang  efektif, dan bahkan ada yang menganggap sebagai tidak profesional sama sekali.  Konon, kerja samben yang dilakukan oleh para anggotanya telah menyebabkan BAN kurang mampu menunjukkan prestasi yang "kentara" di mata masyarakat sampai saat ini.          Hadirnya BAN memang sudah ditunggu-tunggu sejak lama, sejak hampir lima tahun yang lalu ketika ketentuan mengenai eksistensi dan peran BAN yang dituangkan dalam Peraturan Pemerintah (PP) langsung ditandatangani oleh Presiden Soeharto.  Seperti diketahui tanggal 10 Juli 1990 Presiden Soeharto telah berkenan menandatangani PP No.30/1990 tentang Pendidikan Tinggi yang di dalamnya terdapat ke-tentuan tentang eksistensi dan peran BAN.  Sejak saat itu masyarakat kita, utamanya dari kalangan pendidikan tinggi, sangat merindukan hadirnya BAN untuk menjalankan fungsinya itu.
PEMANTAPAN KINERJA PENDIDIKAN MELALUI PROFESIONALISME GURU Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2006: MAJALAH METODIKA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (130.003 KB)

Abstract

       Kinerja pendidikan nasional telah lama menunjukkan tanda-tanda yang tidak memuaskan, untuk tidak menyatakan memprihatinkan. Relatif rendahnya prestasi belajar siswa, dari siswa TK s/d SM, menunjukkan belum mantapnya kinerja pendidikan nasional. Rendahnya kinerja pendi-dikan nasional semakin dapat dirasakan manakala prestasi siswa Indonesia dibandingkan dengan siswa manca pada umumnya. Pada sisi yang lain profesionalisme guru di Indonesia menunjukkan tanda-tanda yang tidak memuaskan, bahkan dengan ukuran sekarang dapat dinyatakan tidak satu pun guru yang profesional. Tidak profesionalnya para guru ini secara langsung maupun tidak langsung tentu ada hubungannya dengan kinerja pendidikan nasional.        Tidak memuaskannya kinerja pendidikan nasional pada satu sisi, serta tidak profesionalnya guru di sisi yang lain kiranya dapat ditingkatkan secara serentak; di satu sisi para guru di sekolah dapat ditingkatkan profesionalis-menya dan di sisi yang lain kinerja pendidikan nasional dapat dimantapkan. Dalam hal ini profesionalisasi guru berpengaruh kepada pemantapan kinerja pendidikan nasional.