Claim Missing Document
Check
Articles

DOSEN-DOSEN KITA YANG TIDAK PRODUKTIF Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1990: HARIAN YOGYA POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (107.649 KB)

Abstract

       Seandainya perguruan tinggi itu dapat diibaratkan sebagai sebuah kereta maka para dosen adalah sebagai me-sin penggeraknya. Betapapun panjangnya kereta itu maka jalannya  tetap saja tergantung pada mesin penggeraknya. Hal ini melukiskan bahwa betapapun besarnya sebuah per-guruan tinggi maka tetap saja para dosen memegang peran yang dominan; dengan kata lain tanpa adanya aktivitas akademik dari para dosen maka akan "mandeg"-lah perguruan tinggi yang bersangkutan.       Pengibaratan tersebut di atas melukiskan betapa dominannya peran dosen dalam kehidupan kampus; meski bu-kan berarti dengan mengecilkan peran civitas kampus yang lainnya. Memang berat tugas seorang dosen; karena di sam ping mereka diharapkan dapat menjadi motor penggerak di kampusnya masing-masing maka masyarakat sekitar pun juga mengharapkan "kelebihan" yang dimilikinya.       Di negara manapun di dunia ini maka seorang dosen hampir senantiasa dianggap sebagai sosok manusia yang memiliki potensi intelektual berlebih,  tentu saja kalau  dibandingkan  dengan rata-rata potensi intelektual manu-sia di sekelilingnya. Di Indonesia pun begitu pula.
DUA KUNCI PENDIDIKAN TAIWAN Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2007
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (98.451 KB)

Abstract

Baru saja saya menerima surat dari Dr. Anthony Si-An Chen; ia adalah Ketua Asosiasi Pendidikan Swasta Taiwan, Republic of China Private Educational Association (ROC-PEA). Dalam surat resminya ini, ia menga-barkan akan diselenggarakannya konferensi internasional pendidikan swasta yang diikuti oleh negara-negara di pinggiran Samudra Pasifik, termasuk Jepang dan Amerika Serikat (AS).        Di dalam surat yang sama, Mr. Chen, meminta saya untuk menjadi nara sumber sekaligus memberikan presentasi tentang reformasi pendidikan sekolah swasta, private schools education reforms, dalam suatu konferensi internasional. Konferensinya itu sendiri masih lama dilakukan, yaitu tanggal 27 s/d 29 Oktober 2007 di Howard International House Taipei.        Kalau semua berjalan sesuai rencana, bagi saya memberikan presentasi dalam pertemuan ilmiah berskala internasional di Taiwan bukanlah yang pertama kalinya. Beberapa tahun lalu saya pernah diminta Mr. Chen untuk tampil dalam seminar internasional tentang pendidikan swasta pula. Bahkan lebih daripada itu saya pernah membawa pimpinan PAPE, Pan-Pacific Association of Private Education, berkunjung ke istana presiden sekaligus berdialog dengan Presiden Taiwan waktu itu, yaitu Mr. Lee-teng Hui.
PLUS MINUS UN PENGGANTI SUPRIYOKO, KI
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2009: HARIAN PIKIRAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (86.021 KB)

Abstract

Setelah melalui perundingan alot, untuk tidak mengatakan perdebatan sengit, yang melibatkan menteri pendidikan dengan jajaran, ketua Badan Standar Nasional Penidikan (BSNP), dan para anggota DPR RI akhirnya diputuskan melaksanakan Ujian Nasional (UN) Pengganti bagi sekolah yang pelaksanaan UN-nya bermasalah.          Suka atau tidak suka, faktanya memang banyak sekolah yang pelaksa-naan UN-nya bermasalah; hal ini dikarenakan terjadinya pelanggaran atau kesalahan, baik yang bersifat sistematis maupun teknis. Atas pelanggaran dan kesalahan ini banyak sekolah yang berpotensi tidak lulus 100 persen kalau menggunakan kriteria yang berlaku. Itulah sebabnya sebanyak 33 SMA dan MA dilakukan UN Pengganti.          Bagaimana kalau tidak dilakukan UN Pengganti? Puluhan ribu siswa terancam tidak lulus. Seandainya benar-benar tidak lulus dan tidak diadakan UN Pengganti, bukankan mereka bisa mengikuti Ujian Paket C? Tentu saja bisa; namun keputusan dilakukannya UN Pengganti sudah diambil sehingga apa pun risikonya harus tetap dijalankan.
LAGI, LINK AND MATCH DI PERGURUAN TINGGI: HARI INI SEMINAR SEHARI "LINK AND MATCH" DI UGM Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1994: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (447.952 KB)

Abstract

       Benar bahwa dalam mengantisipasi era industrialisasi sekarang ini dengan hanya mengandalkan keunggulan komparatif semata tidak akan mencapai hasil yang optimal; untuk dapat mencapai hasil optimal maka keunggulan komparatif ini harus dibersamai dengan keunggulan kompetitif yang memadai.  Adapun cara yang paling tepat dan efektif untuk mencapai keunggulan kompetitif adalah meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan.         Bagi negara-negara berkembang yang sudah memiliki keunggulan komparatif secara maksimal akan tetapi belum memiliki keunggulan kompetitif secara memadai, seperti Indonesia, hal tersebut sangatlah penting. Itulah sebabnya peningkatan kualitas sumber daya manusia mendapatkan tempat yang strategis dalam era Pembangunan Jangka Panjang Tahap Kedua (PJPT-2) sekarang ini.  Dalam posisi seperti ini maka pendidikan memikul tugas yang benar-benar tidak ringan, bah-kan sangat berat, karena berhasil dan tidaknya pelaksanaan pendidikan sangat menentukan berhasil dan tidaknya pembangunan nasional. Bila pendidikan gagal dapat dipastikan akan gagal pembangunan nasional, sebaliknya bila pendidikan berhasil maka akan berhasil pembangunan nasional kita.          Tugas pendidikan yang sangat berat itu akan makin berarti pada negara-negara yang memiliki kadar heterogenitas tinggi dalam berbagai aspek kehidupannya, katakan saja seperti India, Korea, Malaysia; dan tak terkecuali Indonesia. Tingginya kadar heterogenitas di dalam berbagai aspek kehidupan ini, antara lain aspek sosial budaya, politik, ekonomi dan kemasyarakatan, menyebabkan timbulnya berbagai pro-blematika pendidikan;  dan problematika pendidikan inilah yang dapat menghambat lajunya perahu pendidikan itu sendiri.
EBTANAS SLTP "SULIT" Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1994: HARIAN BALI POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (411.418 KB)

Abstract

       Sebagaimana telah dijadualkan semula maka setelah Ebtanas di sekolah menengah, baik di SMA sebagai sekolah umum maupun SMK sebagai sekolah kejuruan, selesai pelaksanaannya, kegiatan Ebtanas pun dilanjutkan pada Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP)  dan Sekolah Dasar (SD). Ebtanas SLTP  telah dilaksanakan serentak dari tanggal 9 s/d 11 Mei, sedangkan Ebtanas SD telah dilaksanakan pada tanggal 16 s/d 18 Mei 1994 yang lalu.          Seperti yang terjadi pada tahun-tahun sebelumnya maka pelaksanaan Ebtanas SLTP berada di tengah-tengah di antara Ebtanas SMA/SMK dengan Ebtanas SD. Ternyata tahun ini pun kebiasaan itu tidak berubah;  urutan pelaksanaan dari sekolah menengah (SMA/SMK), SLTP dan SD sampai kinimasih tetap dipertahankan.          Apabila kita cermati jadual lengkap pelaksanaan Ebtanas tahun ini adalah sbb:  Ebtanas SMA (dan SMK) di-langsungkan pada tanggal 3 s/d 6 Mei  yang hasilnya akan diumumkan 26 Mei, Ebtanas SLTP dilaksanakan 9 s/d 11 Mei yang hasilnya  akan diumumkan 30 Mei,  sedangkan Ebtanas SD dilaksanakan 16 s/d 18 Mei yang hasilnya akan diumum-kan 10 Juni 1994.  Melihat agenda akademik yang relatif padat ini kiranya wajar kalau kemudian ada yang menyebut bulan Mei sebagai 'Bulan Ebtanas'.
MASALAH GURU DI ACEH Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2005: HARIAN SUARA PEMBARUAN
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (122.036 KB)

Abstract

Setelah gempa tektonik dan badai Tsunami di Aceh berlalu, kini masalah yang dihadapi oleh masyarakat setempat dan pemerintah sungguh kompleks. Salah satu masalah yang kompleks tersebut adalah masalah pendidikan, utamanya menyangkut guru.          Meskipun tidak dapat dikatakan tertinggal, pendidikan di Aceh selama ini memang tidak dapat dikatakan (terlalu) maju. Kepadatan penduduk di Aceh yang relatif rendah (jarang) dibandingkan dengan daerah-daerah lain di Indonesia pada umumnya merupakan salah satu kendala bagi penyelenggaraan pendidikan bermutu di daerah yang terletak di bagian paling barat Indonesia ini.          Menurut data BPS di dalam ?Statistics of Welfare 2001?, luas wilayah Aceh adalah 55.390 Km2, terdiri dari 147 kecamatan dan berpenduduk sebanyak 4.146.866 orang. Kepadatan penduduk di Aceh adalah 74,87 orang per Km2; angka ini di bawah rata-rata nasional sebesar 107,07 orang per Km2. Sebagai informasi angka kepadatan penduduk yang tertinggi adalah DKI Jakarta sebesar 12.645,33 orang per Km2; dan terendah di Papua sebesar 5,11 orang per Km2. Angka kepadatan penduduk yang relatif rendah merupakan salah satu kendala penyelenggaraan pendidikan bermutu di Aceh.
PERAN SENTRAL GURU Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1994: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (182.773 KB)

Abstract

       Masih tentang peran sentral!  Ini komentar pendek mengenai topik klasik tetapi aktual yang dibicarakan se-cara resmi maupun tak resmi dalam Kongres XVII Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) di Jakarta dari tanggal 4 s/d 9 Juli 1994. Seperti yang kita ketahui bersama acara kongres ini telah dibuka langsung oleh Presiden Soeharto atas nama segenap bangsa Indonesia yang menaruh simpati serta hormat atas pengabdian para guru sebagai "pahlawan tanpa tanda jasa".          Ada yang "hebat" di dalam acara tersebut. Kongres PGRI kali ini diikuti oleh sekitar 11.000 orang; terdiri dari para guru, pengamat, maupun tamu dari negara-negara lain di kawasan ASEAN dan dari organisasi guru ditingkat internasional. Barangkali baru kali ini suatu organisasi profesi mampu mengumpulkan anggotanya sedemikian banyak;  organisasi profesi lain seperti Persatuan Insinyur Indo-nesia (PII),Ikatan Dokter Indonesia (IDI),Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI),dsb, rasanya belum pernah mampu melakukannya. Bahkan, Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) yang juga baru saja mengadakan kongres tak mampu mengumpulkan peserta lebih dari seribu orang.          Itulah PGRI, organisasi "raksasa" yang sering di-lupakan orang. Barangkali kita memang termasuk kaya akan guru. Apabila di negara kita jumlah Pegawai Negeri Sipil (PNS) hampir mencapai 4 juta orang maka sekitar 1,8 juta atau hampir separoh di antaranya berprofesi guru. Itulah sebabnya maka organisasi guru dapat meraksasa.
INOVASI TEKNOLOGI KITA Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1994: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (411.485 KB)

Abstract

       Suatu tradisi yang konstruktif telah dikembangkan oleh Pemerintah Daerah (Pemda)  Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dalam beberapa tahun yang terakhir ini; yaitu diadakannya lomba inovasi teknologi bagi mahasiswa PTN/PTS.  Kegiatan ini dimaksudkan untuk merangsang para intelektual muda kita, dalam hal ini mahasiswa, agar me-ngembangkan daya nalarnya guna membuat inovasi di bidang teknologi;  baik teknologi yang bersifat terapan (appro-priate technology) maupun teknologi yang masih harus di-kembangkan lebih lanjut (developed technology).          Mengevaluasi pelaksanaan lomba inovasi teknologi dari tahun ke tahun, tahun ini adalah tahun yang keenam, ternyata ditemukan kemajuan yang cukup berarti;  hal ini dapat dilihat dari jumlah peserta, bidang studi yang di-lombakan maupun variasi inovasi yang ditawarkan.          Kalau dilihat dari almamater atau asal mahasiswa sebagai peserta lomba pun ditemukan kemajuan yang sangat berarti pula.  Mulanya lomba inovasi teknologi ini hanya didominasi oleh mahasiswa yang berasal dari perguruan tinggi tertentu yang di dalam hal ini adalah Universitas Gadjah Mada (UGM) saja; akan tetapi sekarang ini peserta lebih terdistribusi ke berbagai PTN/PTS.  Bahkan, tahun ini ada PTS "kecil" yang tidak mau ketinggalan untuk ber partisipasi di dalamnya;  dan terbukti inovasi teknologi yang ditawarkan berhasil masuk final.
JANGAN BERHARAP KENAIKAN GAJI GURU AKAN BESAR Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1995: HARIAN SUARA PEMBARUAN
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (414.179 KB)

Abstract

       Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) diam-diam dapat juga "unjuk gigi".  Konon baru-baru ini pengurus PGRI telah mengusulkan agar supaya pemerintah memberlakukan sistem yang tersendiri bagi penggajian para guru;  hal ini seiring dengan usaha kita meningkatkan kualitas sumber daya manusia mengingat pendidikan merupakan kunci utama.  Dan, tentunya karena guru memiliki posisi yang sangat strategis dalam dunia pendidikan kita.          Dalam dengar pendapat dengan Komisi IX DPR RI maka Ketua Umum Basyuni Suriamihardja menyatakan bahwa PGRI telah mengusulkan agar guru golongan II diberi tunjangan pendidikan sebesar Rp 50.000,-, golongan III sebesar Rp 75.000,-, dan golongan III sebesar Rp 100.000,-.          Lebih lanjut Basyuni menyatakan bahwa para guru pendidikan dasar dan menengah saat ini sangat mengharapkan dapat direalisasi-kannya usulan mengenai tunjangan pendidikan tersebut. Apabila hal ini dapat terpenuhi maka akan makin pendek kesenjangan yang terjadi antara guru pendidikan dasar dan menengah dengan dosen perguruan tinggi dalam hal "tunjang-menunjang" pendidikan.
SBY PUN GAGAL MERAIH NOBEL Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2006: HARIAN SUARA PEMBARUAN
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (114.288 KB)

Abstract

       Habislah sudah! Harapan agar supaya putera terbaik bangsa Indonesia menerima penghargaan Nobel tidak mungkin terwujud, setidak-tidaknya untuk tahun 2006 ini. Dengan diumumkannya para pemenang penghargaan nobel untuk berbagai bidang kemanusiaan, khususnya bidang perdamaian, maka harapan untuk mendapatkan penghargaan nobel bagi putra Indonesia telah tertutup.          Seperti kita ketahui, panitya penghargaan nobel telah mengumumkan para pemenang di bidangnya masing-masing. Untuk bidang Fisika akan diterimakan kepada dua fisikawan AS, John C. Mather dan George F. Smoot untuk penemuannya atas bentuk badan hitam (black body) dan anisotropi radiasi latar gelombang mikro kosmik (CMB, cosmic microwave background radiation). Untuk bidang Kimia pun dimenangkan kimiawan AS, Roger D. Kornberg, atas temuannya tentang cara sel mendapatkan informasi dari gen untuk memproduksi protein. Sementara itu untuk bidang fisiologi alias kedokteran pun juga dimenangkan oleh warga AS, Andrew Z. Fire dan Craig C. Mello.          Untuk bidang sastra penghargaan nobel tahun ini dimenangkan novelis berkebangsaan Turki, Orhan Pamuk, yang berhasil menemukan simbol baru bagi perbedaan dan jalinan kebudayaan. Khusus untuk bidang ekonomi, meski banyak orang ?menentang? pamakaian kata Nobel untuk bidang ini karena tidak diwasiatkan oleh Alfred Nobel, lagi-lagi diraih oleh warga AS, Edmund Phelps, untuk temuannya mengenai intertemporal tradeoff dalam kebijakan ekonomi makro.