Articles
KOMPLEKSITAS PENELITIAN PERGURUAN TINGGI
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1991: HARIAN MEDIA INDONESIA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (214.628 KB)
Indikator apakah yang menadai kualitas perguruan tinggi? Pertanyaan "Research universety" merupakan satu kategorisasi dari sebuah perguruan tinggi yang didalamnya telah tumbuh iklem meneliti bagi segenab sevitas akademikanya: makanisme dan proses penelitian berlangsung secara terus menerus dalam kapasitas yang memadai. Mekanisme dan proses ini mengakibatkan senantiasa bermunculnya penemuan-penemuan ilmiah, baik yang bersifat fungsional terhadap pengembangan ilmu dan tehnologi maupun yang bersifat aplikatif bagi pemecahan kompleksitas broblematika yang dihadapi masyarakat sekitarnya. Apakah sudah ada jperguruan tinggi di negara kita yang berkualivikasi "research universety"? Jujur saja, belum ada PTN maupun PTS kita yang berkualivikasi seperti itu. umpamanya perguruan tinggi kita masih berkualivikasi teaching university, karena kegiatan pengajaran masih sangat mendominasi seluruh aktivitas kelembagaan. Secara lebih mendalam lagi kita dapat mencermati pencapaian misi perguruan tinggi di negara kita yang diformulasikan dalam tridharma perguruan tinggi. Dari tiga dharma yang terkandung dalam tridharma tersebut, yaitu pengajaran, penelitian, dan pengapdian masyarakat, maka dharma pengajaran yang mendominasi kegiatan perguruan tinggi kita pada umumnya.
"OVER CAPACITY" SD DIY MEMBAHAYAKAN
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1991: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (97.469 KB)
Secara komparatif penyelenggaraan pendidikan di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) memiliki berbagai kelebihan kualitas maupun kuantitas bila dibandingkan dengan wilayah atau propinsi lain di luarnya; faktor ini pula yang mengangkat propinsi ini sebagai wilayah yang berkredibilitas di bidang pendidikan. Indikator mengenai hal tersebut di atas sangatlah banyak; dari sisi kuantitatif dapat diamati dari banyak-nya migran masuk yang datang dari luar DIY untuk menetap dalam beberapa tahun. Karakteristik migran masuk ini ka-lau diamati lebih tajam ternyata merupakan lulusan SMTP yang akan melanjutkan studi ke SMTA beserta lulusan SMTA yang akan melanjutkan studi ke perguruan tinggi. Data kuantitatif yang saya miliki sekitar 11% dari siswa baru SMTA di DIY berasal dari luar daerah; sedangkan untuk mahasiswa baru perguruan tinggi, PTN dan PTS, persentase nya bisa tiga sampai enam kali lipat. Dari sisi perbandingan jumlah siswa SD, SMTP, dan SMTA maka DIY juga lebih bagus dibandingkan dengan keba-nyakan propinsi yang lain, atau dengan kondisi nasional sekalipun. Perbandingan jumlah siswa SD, SMTP, dan SMTA di DIY sekitar 60:21:19, sedangkan kondisi nasional me-nunjuk pada angka 83:12:5. Dari sisi ini jelaslah bahwa kondisi persekolahan di DIY jauh lebih balance kalau di-bandingkan dengan kondisi nasional kita.
MENYIKAPI TAYANGAN TELEVISI
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1997: HARIAN SUARA MERDEKA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (111.639 KB)
Perjalanan kultural bangsa Indonesia tengah berada pada era baru yang disebut dengan era industrialisasi dan era globalisasi. Kalau era industrialisasi tertandai dengan terjadinya transformasi pada konsentrasi sumber investasi maka di sisi yang lain era globalisasi tertandai dengan terjadinya transparansi hampir pada semua bidang kehidupan. Kalau selama ini mayoritas masyarakat Indonesia masih meletakkan konsentrasi sumber investasi pada tanah pertanian dan perkebunan (preindustrial society), maka kita dituntut mengubah ke permesinan dan jasa (industrial society). Itu pun ternyata belum cukup; karena di depan kita ada "mesin budaya" yang menarik kita untuk meletakkan konsentrasi sumber investasi pada ilmu pengetahuan dan teknologi (post industrial society). Untuk menuju perjalanan ke depan diperlu-kan perjuangan yang tidak ringan karena sangat beragamnya potensi budaya antar kelompok masyarakat kita sendiri. Sekarang ini kita sedang menghadapi gelombang perubahan yang maha dahsyat; dari kultur yang konvensional menuju kultur yang tek-nologis, dari kultur yang semi tradisional menuju kultur yang modern. Semua ini menjadi tantangan baru bagi bangsa kita. Dunia kita sekarang adalah dunia yang serba transparan; dengan diaplikasikannya teknologi di semua bidang kehidupan maka terjadilah sistem informasi yang tak mengenal batas (borderless information). Dengan kekuatan teknologi maka sistem distribusi informasi sanggup menembus dinding-dinding geografis, pagar-pagar sosial, filter-filter budaya dan tembok-tembok politik antar bangsa; karenanya informasi yang terjadi di suatu tempat dapat dinikmati di tempat lain pada waktu yang sama. Dunia global kita terasa menjadi sempit namun kita tetap dituntut memiliki wawasan luas untuk berenang didalamnya.
GAIRAH BARU BAGI ILMUWAN DAN PENELITI
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1986: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (124.666 KB)
PERNAHKAH anda melihat patung yang termasyhur dari Auguste Rodin: seorang manusia yang sedang tekun berpikir? Dialah lambang kemanusiaan kita, homo sapiens, makhluk yang berpikir. Setiap saat dari hidupnya, sejak beliau lahir sampai masuk liang lahat, dia tidak pernah berhenti berpikir. Demikian Jujun S. Suriasumantri mengawali penulisan bukunya dalam "ilmu dalam Perspektif" (1983). Demikianlah keadaan yang sesungguhnya. Manusia "si pemikir" ini akhirnya memang menjadi makhluk yang paling sempurna diantara ciptaan Tuhan lainnya. Tidak salah kalau Gilbert Highet (1972) menulis bahwa otak manusia bekerja seperti jantung yang tidak berhenti berdenyut, siang dan malam, sejak bocah hingga renta. "Gumpalan" yang beratnya kurang dari satu seteng-ah kilogram milik manusia ini tersimpan berbilyun-bilyun ingatan, kebiasaan, kemampuan, keinginan, harapan serta ketakutan. Didalamnya tersimpan pula pola, suara, perhi-tungan dan berbagai dorongan. Itulah sebabnya maka dalam sejarahnya yang singkat manusia mengubah wajah dunia dan dirinya sendiri. Perkembangan ilmu, pengetahuan dan teknologi --yang oleh George J. Mouly (1963) diisyaratkan dimulai sejak manusia lahir di bumi-- dapat dimanfaatkan oleh manusia untuk mengubah wajah dunia.
NASIB GURU INDONESIA
SUPRIYOKO, KI
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2009
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (96.138 KB)
Sungguh-sungguh terjadi! Konon nasib pendidikan nasional Indonesia bukanlah di tangan konglomerat, aristokrat dan teknokrat, bahkan bukan pula di tangan birokrat, akan tetapi berada di tangan guru; namun anehnya jarang sekali para guru diajak bicara dalam menentukan masa depan pendi-dikan nasional alias nasib pendidikan nasional Indonesia. Ketika jaman prakemerdekaan, para guru justru sering diajak bicara dalam menentukan nasib pendidikan di negeri ini. Guru pun pernah menun-jukkan perlawanannya terhadap kaum penjajah, misalnya dalam peristiwa Onderwijs Ordonnantie (OO) tahun 1932 yang di bawah kepemimpinan Bapak Pendidikan Nasional Ki Hadjar Dewantara melawan kebijakan sewe-nang-wenang Belanda dengan strategi lijdelijk verset. Dengan keberanian-nya itu guru pun makin dihormati rakyat; dan yang lebih penting memiliki peran dalam menentukan perjalanan pendidikan (nasional) ke depan. Sekarang? Hampir semua orang menyatakan posisi strategis guru yang jumlahnya 2,7 jutaan orang dalam menentukan masa depan pendidikan nasional; akan tetapi senyatanya mereka relatif jarang diajak ?mengobrol? atau ?bercengkerama? untuk menentukan nasib pendidikan yang digeluti setiap harinya. Sungguh-sungguh terjadi; dan terjadi sungguh-sungguh!
DELINKUENSI REMAJA DALAM SISTEM PENDIDIKAN KITA
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1992: HARIAN SUARA KARYA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (212.355 KB)
Ibarat buah durian yang lagi musim maka sekarang ini perkelahian sebagai ekspresi dari kenakalan atau delinkuensi remaja tengah memasuki masa musim kembali. Di berbagai kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Semarang, dsb, akhir-akhir ini lagi-lagi terjadi perkelahian antar pelajar atau antara pelajar dengan pihak lain.Di Jakarta bahkan terjadi perkelahian antara pelajar dengan mahasiswa yang melibatkan puluhan remaja. Ironis memang; pelajar dan mahasiswa yang di dalam sistem pendidikan kita merupakan putra bangsa yang secara sistematis disiapkan untuk menjadi pemimpin bangsa di masa depan justru melakukan hal-hal yang sangat mempri-hatinkan, bahkan cenderung memalukan. Peristiwa yang sempat mengundang rasa keprihatinan Bapak Presiden Soeharto serta beberapa menteri tersebut makin hari tidak terasa semakin menyurut, akan tetapi ada pratanda justru makin meningkat kualitasnya. Delinkuensi remaja kita saat ini tidak sebatas perkelahian lagi namun sudah menjalar ke pengrusakan; akhirnya korban pun berjatuhan, dari bus yang ringsek sampai nyawa melayang.
PERKEMBANGAN PTS DI JAWA TENGAH
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1996: HARIAN SUARA MERDEKA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (127.351 KB)
Dengan telah selesainya pelaksanaan seleksi tertulis Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN) tanggal 18 dan 19 Juni 1996 yang lalu maka sekarang para peserta seleksi sebagai kandidat mahasiswa baru PTN tengah menunggu hasil perjuangannya. Hasil UMPTN itu sendiri menurut rencana akan diumumkan kira-kira akhir Juli nanti. Di dalam saat-saat yang seperti sekarang ini para lulusan sekolah menengah pada umumnya dan peserta UMPTN pada khususnya mulai "berpaling" pada perguruan tinggi alternatif. Mereka mencari pergu-ruan tinggi lainnya di luar PTN yang memberikan kemungkinan untuk merintis masa depannya melalui kelanjutan studi. Tujuannya: apabila nantinya tidak diterima alias ditolak masuk PTN karena gagal testing mereka telah menemukan perguruan tinggi alternatif. Maklumlah sam-pai sekarang ini PTN masih menjadi 'university of choice' di negara kita; meskipun predikat ini makin lama terasa semakin mengendor. Secara empirik kompetisi perebutan kursi PTN relatif ketat; dan tahun ini meskipun jumlah peserta UMPTN cenderung menurun akan tetapi bukan berarti bahwa kompetisinya telah menjadi kendor. Saat ini satu kursi PTN rata-rata masih diperebutkan oleh enam atau tujuh kandidat;akibatnya lebih banyak peserta UMPTN yang gagal daripada yang berhasil masuk PTN. Mereka yang gagal lebih berkepentingan terhadap pemilihan perguruan tinggi alternatif di luar PTN. Dalam mencari perguruan alternatif tersebut akhirnya PTS, Per-guruan Tinggi Swasta, menjadi pilihan; meskipun banyak pula lulusan sekolah menengah yang sejak semula sudah menjatuhkan pilihannya di PTS. Tentunya PTS yang bonafide. Para kandidat mahasiswa ramai- ramai mencari informasi mengenai PTS. Kota-kota besar dan wilayah-wilayah yang banyak "menyimpan" PTS, khususnya di Jawa, menjadi pusat perhatian. Jawa Tengah termasuk menjadi pusat perhatian; kare-nanya informasi ke-PTS-an di Jawa Tengah penting dikomunikasi.
PROBLEMATIKA TENAGA KERJA INDONESIA PENDIDIKAN ALTERNATIF SEBAGAI SOLUSI
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1992: HARIAN BALI POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (259.876 KB)
"Sejalan dengan laju pembangunan, kita makin memiliki angkatan kerja yang lebih terdidik dan lebih sehat. Dengan meluasnya lapangan usaha dan kesempatan kerja, maka angkatan kerja tadi merupakan kekuatan dinamis dan potensi produktif yang besar bagi gerak pembangunan kita selanjutnya. Di lain pihak kita menyadari bahwa masalah pengangguran tetap merupakan masalah yang besar, yang belum sepenuhnya dapat kita atasi". ( Presiden Soeharto, 16 Agustus 1991 ) Seorang pengamat ekonomi dunia dari University of Brunel yang menjadi konsultan ahli UNESCO, John Vaizey, pernah menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi suatu negara merupakan akibat dari banyak faktor yang cukup kompleks; adapun dua faktor di antaranya yang paling dominan ialah faktor akumulasi modal dan tenaga kerja. Tetapi, negara yang hanya mengandalkan faktor modal saja tidak akan me-nikmati laju pertumbuhan ekonomi yang signifikan apabila tidak berusaha meningkatkan mutu tenaga kerjanya (baca: "Education in The Modern World", 1987). Secara ekonomik hipotetis tersebut di atas sangat relevan dengan apa yang pernah dikemukakan oleh senior-nya, William Bowen, yang secara tegas menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi negara sama sekali tidak dapat dian-dalkan semata-mata pada modal. "Dengan demikian jelaslah bagi kita, akumulasi modal semata-mata tidak akan memain kan peranan yang dominan dalam pertumbuhan ekonomi suatu negara, baik negara maju maupun negara berkembang" (baca: "Economic Aspects of Education", 1969).
KONTRIBUSI TEORI KONVERGENSI
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1990: HARIAN SUARA KARYA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (110.25 KB)
Setiap menjelang tahun akademik baru seperti saat ini maka setiap lembaga perguruan tinggi, baik perguruan tinggi negeri (PTN) maupun perguruan tinggi swasta (PTS) dihadapkan pada masalah klasik tentang sistem seleksi masuk; yaitu sistem untuk menyeleksi kandidat mahasiswa baru yang benar-benar mempunyai kemampuan dasar untuk mengikuti proses belajar mengajar di perguruan tinggi. Permasalahan tersebut juga dihadapi oleh masyarakat kita pada umumnya, khususnya bagi anggota masyarakat yang secara langsung mempunyai kepentingan untuk "mengkapling" kursi belajar pada perguruan tinggi; karena sebelum mendapatkan kursi belajar mereka akan dihadapkan pada sistem seleksi tersebut. Tahun ini penyelenggaraan seleksi masuk pada PTN dikemas dalam bentuk Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN) serta diselenggarakan secara serempak tanggal 20 dan 21 Juni 1990 pada berbagai tempat di seluruh wilayah Nusantara; sedangkan untuk PTS waktu penyelenggaraannya sangat bervariasi, akan tetapi pada umumnya dilaksanakan lebih dari satu gelombang. Pada berbagai PTS bahkan ada yang sampai tiga atau bahkan empat gelombang.
UGM SELAMATKAN MUKA INDONESIA
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2008
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (110.068 KB)
Setelah Majalah Times sukses membuat publikasi tentang perankingan perguruan tinggi dunia yang cukup ?menegangkan? masyarakat pendidikan dalam ?World Top Universities? (November, 2007), kini CINDOC giliran berhasil menyita perhatian masyarakat pendidikan dunia dengan publikasi yang cukup ?menggigit?, ?Webometrics Ranking of World Universities? (Januari, 2008). Sesugguhnya baik publikasi Times maupun CINDOC bukanlah sesuatu yang baru karena hal ini sudah dilakukan secara rutin dalam beberapa tahun terakhir; meskipun demikian toh hasil studi tersebut tetap saja menarik dan bahkan ditunggu-tunggu oleh masyarakat perguruan tinggi. Pasalnya, secara internal hasil publikasi kedua lembaga dunia tersebut dapat dijadikan baro-meter kualitas lembaga dan dapat dijadikan bahan evaluasi; sementara itu secara eksternal dapat dijadikan alat publikasi untuk menjaring mahasiswa baru sebagaimana kriteria yang diinginkan lembaga. Siapa pun tentu akan bangga kalau kualitas perguruan tingginya diakui oleh lembaga internasional yang terpercaya dan dikomunikasikan di seluruh penjuru dunia.