Articles
TAWURAN PELAJAR DALAM TEORI
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1996: HARIAN SUARA KARYA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (119.733 KB)
Tawuran pelajar akhir-akhir ini kambuh lagi! Beberapa hari yang lalu di Semarang meletus perkelahian antar pelajar yang melibatkan puluhan siswa. Korban tawuran yang belasan orang jumlahnya itu ter-nyata tidak seluruhnya siswa akan tetapi ada pula gurunya. Pak Guru yang barangkali bermaksud baik hati ternyata justru menjadi korban tawuran massal; konon kepalanya bocor terkena lemparan batu dari oknum remaja sekolah yang berhuru-hara tersebut. Bukan itu saja. Setelah aparat keamanan berhasil mengamankan oknum-oknum pelajar yang terlibat perkelahian tersebut ternyata men-dapatkan senjata tajam, belati. Sudah sebegitu profesionalkah oknum pelajar kita dalam berkelahi fisik? Entahlah; tetapi di samping senjata tajam tersebut juga ditemukan pil koplo jenis nipam. Pil ini termasuk jenis obat-obat terlarang yang dapat membawa "terbang" (fly) orang yang meminumnya. Pil ini dapat menurunkan kadar rasionalitas orang yang meminumnya; dan pil jenis nipam ini pulalah yang diminum oleh sopir bis yang menewaskan puluhan penumpang di salah satu jalan tol menuju Jakarta beberapa waktu yang lalu. Kenapa oknum-oknum pelajar yang terlibat perkelahian tersebut harus membawa senjata tajam? Kenapa mereka juga harus membawa pil koplo? Nampaknya mereka sengaja menyiapkan diri untuk berkelahi dan bikin keributan. Meskipun setiap muncul kasus tawuran maka aparat keamanan kita segera turun tangan akan tetapi secara empirik menunjukkan banyaknya oknum pelajar yang setelah dilepas dari pe-ngamanannya segera bikin ulah lagi. Ibarat nila setitik merusak susu sebelanga maka persentase oknum pelajar yang senang berkelahi yang jumlahnya relatif kecil inilah yang dapat "menarik" teman-teman lainnya dalam jumlah banyak. Tawuran pelajar pun kambuh dimana-mana; Medan, Yogyakarta, Karanganyar, Jakarta, dan di berbagai kota lainnya.
INDEPENDENTITAS DAN KREATIVITAS BAN
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1995: HARIAN SUARA PEMBARUAN
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (413.578 KB)
Munculnya keterangan Ketua Badan Akreditasi Nasional (BAN), Sukadji Ranuwihardjo, yang menyatakan bahwa BAN akan segera menjalankan fungsinya untuk mengakreditasi seluruh perguruan tinggi (PTS dan PTN) di negara kita pantas disambut secara positif. Lebih daripada itu boleh pula disambut dengan penuh harap. Seperti kita ketahui baru-baru ini Pak Sukadji memberi informasi bahwa tahun 1996 nanti sistem dan mekanisme akreditasi (yang baru) akan segera dilaksanakan. Apabila selama ini sistem akreditasi hanya berlaku bagi PTS, maka nantinya akan diberlakukan bagi PTS maupun PTN; hal ini sesuai dengan pesan UU No.2/1989 tentang Sistem Pen-didikan Nasional dan PP No.30/1990 tentang Pendidikan Tinggi. Pada sisi yang lain bila selama ini dipakai terminologi "Terdaftar","Diakui" dan "Disamakan" dalam penstatusannya, maka nantinya akan dipakai istilah "Accredited" dan "Not-Accredited". Informasi mengenai akan bekerjanya BAN untuk mengakreditasi perguruan tinggi sedikit menggembirakan karena sekarang ini anggota masyarakat kita memang sedang menunggu prestasi BAN. Masyarakat kita, terutama masyarakat perguruan tinggi, sangat ingin BAN segera berfungsi. Jujur saja, meski anggota BAN sudah dilantik Mendikbud pada Desember 1994 lalu tetapi sampai kini belum sanggup menjalankan fungsinya sebagai akreditator PTS dan PTN. Bahkan, meskipun BAN telah diresmikan dan anggota BAN telah dilantik, ternyata sam-pai kini pelaksanaan akreditasi bagi PTS di Indonesia masih dilakukan secara konvensional (Supriyoko, "Meningkatkan Mutu Perguruan Tinggi Swasta, Suara Pembaharuan", 4 Agustus 1995).
DIMULAI LAHIRNYA BAYI "PREMATUR" TPI
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1991: HARIAN BALI POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (213.574 KB)
Sebagaimana yang pernah terjadi pada tahun-tahun yang sebelumnya maka perjalanan pendidikan tahun 1991 ini sangat menarik untuk direview dan dicermati kembali. Pada dasarnya pendidikan itu sendiri merupakan fenomena universal yang oleh birokrasi manusia senantiasa dicoba disistematisasi pengembangannya; maka berbagai kompleksitas problematika menjadi eksist karenanya. Upaya untuk mensolusi kompleksitas problematika inilah yang kemudian menimbulkan kemenarikan-kemenarikan tertentu. Kalau perjalanan pendidikan kita pada tahun 1989 dan 1990 yang lalu diwarnai dengan bermunculnya berbagai produk hukum tertentu, khususnya munculnya UU No:2/1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional, SK Menpan No:26/1989 tentang angka kredit bagi jabatan guru, PP No:27/1990 tentang pendidikan prasekolah, PP No:28/1990 tentang pen didikan dasar, PP No:29/1990 tentang pendidikan menengah serta PP No:30/1990 tentang pendidikan tinggi; maka pada tahun 1991 ditandai dengan munculnya "lembaga pendidikan" yang baru dan nonkonvensional. Seperti yang telah kita ketahui bersama pada awal tahun 1991, tepatnya pada tanggal 23 Januari 1991, maka Presiden Soeharto telah berkenan meresmikan berdirinya Televisi Pendidikan Indonesia (TPI). Lembaga pertelevi-sian ini memiliki orientasi yang agak spesifik dibanding dengan lembaga pertelevisian yang sudah ada (TVRI, RCTI, dan SCTV); yaitu lebih menitik-beratkan siarannya pada program-program pendidikan.
TENTANG PENERTIBAN SMK
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1997: HARIAN BALI POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (116.703 KB)
Kalangan praktisi Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) sekarang ini banyak yang bersikap hati-hati, khawatir dan bahkan ada pula yang resah; pasalnya berkait dengan nasib sekolah yang dikelolanya. Seper-ti diketahui baru-baru ini telah dilakukan "penutupan" puluhan bahkan ratusan SMK yang dipandang tidak layak operasi dan/atau tidak dapat memenuhi persyaratan administratif sebagai lembaga pendidikan. Di DKI Jakarta saja ada puluhan SMK yang ditutup; belum lagi yang ada di wilayah-wilayah lain. Di DKI Jakarta ada beberapa puluhan SMK yang terpaksa ditutup dikarenakan tidak dapat memenuhi persyaratan administrasi yang telah ditentukan Depdikbud. Di luar itu juga terdapat puluhan SMK lainnya yang terpaksa ditutup karena tidak mampu menyediakan peralatan dan fasilitas praktik dengan kualitas standard minimal. Memang peralatan praktik relatif mahal sehingga bisa dimaklumi bila ada beberapa SMK yang menemui kesulitan di dalam sistem pengadaannya. Di Jawa Timur bahkan terdapat SMK yang sudah beroperasi lebih dari lima tahun dan sudah berkali-kali meluluskan siswa (via Ebtanas) akan tetapi juga terkena kebijakan "penutupan" dikarenakan adanya persyaratan administrasi sekolah yang belum terselesaikan. Padahal, kualitas sekolah tersebut relatif baik. Berbagai kasus tersebut memang sempat membuat para praktisi pendidikan tersentak, khususnya para pengelola SMK swasta, karena dari berbagai kasus yang muncul tidak satu pun SMK negeri yang ter-kena kebijakan "penutupan". Memang ada praktisi pendidikan yang pandai mengambil hikmah atas kasus tersebut; yaitu segera mengadakan koordinasi dengan unsur-unsur sekolah untuk mengevaluasi diri sejauh mana lembaganya telah memenuhi persyaratan administrasi dan sejauh mana penyediaan peralatan praktiknya dapat mendukung kurikulum dan silabi.
KONTRIBUSI MENCIPTA MASYARAKAT INFORMASI
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1986: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (127.893 KB)
Dalam rangka meningkatkan peranan pers dalam pembangunan perlu ditingkatkan usaha pengembangan pers yang sehat, pers yang bebas dan bertanggung jawab, yaitu pers yang dapat menjalankan fungsinya sebagai penyebar informasi yang obyektif melakukan kontrol sosial yang konstruktif, menyalurkan aspirasi rakyat dan meluaskan komunikasi dan partisipasi masyarakat. Dalam hal ini maka perlu dikembangkan interaksi positif antara pers, pemerintah dan masyarakat. (GBHN Tahun 1978) MARK TWIN pernah mengatakan bahwa didunia ini hanya ada atau terdapat dua macam penerangan saja, masing-masing adalah matahari di langit dan pers di bumi. Dan Matahari lebih menunjuk pada "sumber penerangan" fisik, sedangkan pers lebih menunjuk pada "sumber penerangan" non-fisik. Sinar matahari telah menerangi seluruh pelosok dunia, dan potensinya telah digunakan untuk berbagai ke-pentingan. Demikian pula dengan pers maka berita-berita atau informasi-informasi yang disajikan juga telah mene-rangi dunia, dan potensinya juga telah digunakan untuk berbagai kepentingan. Itulah sebabnya maka setiap negara selalu berusa-ha untuk "menguasai" pers. Menguasai di sini tidak selalu berarti memiliki,akan tetapi bagaimana memanfaatkan jasapers untuk kepentingan pembangunan negara yang bersangkutan, dan menjadikan pers sebagai media interaksi antara pemerintah dengan masyarakat. Tak terkecuali untuk negara kita sendiri, Indonesia!
SALING-SILANG PENGATURAN GELAR AKADEMIK
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1993: HARIAN SURABAYA POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (473.346 KB)
Masalah pengaturan pemakaian gelar akademik yang sebenarnya telah diisyaratkan oleh Undang-Undang (UU) RI Nomer 2/1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional sekarang ini benar-benar tengah menjadi topik pembicaraan yang aktual. Keaktualan ini mulai nampak nyata bersamaan dengan dikeluarkannya SK Mendikbud Nomer 036/U/1993 yang meluncur di awal tahun ini. Bahwa SK tersebut telah menimbulkan saling-silang kiranya memang benar; bahkan Mendikbud Fuad Hassan sem-pat "jengkel" terhadap orang-orang atau pihak-pihak yang merasa kecewa atas diberlakukannya SK tersebut. Menurut-nya,maksud diberlakukannya SK tersebut antara lain untuk mengakhiri kebiasaan-kebiasaan yang keliru pada masyara-kat kita dalam hal pemakaian gelar akademik selama ini, namun demikian ada saja anggota masyarakat yang tak mau mengerti. Hal inilah yang tidak dapat dimengerti. Untuk meyakinkan ketidakmengertiannya tersebut Pak Fuad sempat memberi ilustrasi.Istilah doktorandus (Drs.) itu sesungguhnya bukan gelar, akan tetapi oleh sebagian sarjana kita dipasang menjadi gelar akademik. Kasus ini merupakan contoh dari kebiasaan keliru yang selama ini sering tidak disadari.
INDONESIA IKUT MEMBIDANI LAHIRNYA "PAPE"
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1997: HARIAN PIKIRAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (122.209 KB)
Hari Kamis s/d Sabtu 8 s/d 10 November 1979 lebih dari delapan belas tahun yang lalu bertempat di Tokyo Jepang telah berkumpul 36 pakar dan praktisi pendidikan dari lima negara di Kawasan Pasifik; yaitu Amerika Serikat (AS), Indonesia, Jepang, Taiwan dan Thailand. Ke-36 pakar tersebut sedang asik membahas posisi dan perkembangan pendidikan swasta pada era 80-an dalam suatu seminar internasional yang mengambil tema "Private Schools in 1980's". Dari komunikasi antar pakar dan praktisi tersebut terbetik adanya kesamaan pendapat tentang pentingnya persamaan persepsi di antara masyarakat Pasifik dalam mengantisipasi perkembangan pendidikan, khususnya pendidikan swasta, yang makin hari dirasa tidak semakin ringan akan tetapi justru semakin kompleks. Sejak hari pertama pertemuan, para pakar dan praktisi tersebut memandang perlu dibentuknya organisasi yang menghimpun aspirasi masyarakat Pasifik dalam hal pengembangan pendidikan pada umum-nya dan pendidikan swasta pada khususnya. Dan setelah melalui tahap pembahasan akhirnya mereka memutuskan untuk membentuk organisasi sebagaimana yang dimaksudkan. Nah ..., pada saat itulah kemudian lahir "bayi mungil" yang di-beri nama Kan-Taiheiyo Shigaku Kyoiku Rengokai (bahasa Jepang), atau dalam bahasa Inggris 'The Conference of Pan-Pacific Private Education', yang kemudian dikenal dengan nama 'Pan-Pacific Asso-ciation of Private Education' (PAPE). Sebagai catatan, pergantian nama yang lama menjadi PAPE terjadi satu tahun kemudian ketika di-selenggarakan kongres di Taipei, Taiwan. Dari perjalanan historis ini jelaslah bahwa Indonesia termasuk satu dari lima negara yang membidani lahirnya PAPE.
KI HADJAR DEWANTARA DAN KONSEPNYA
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2007: MAJALAH FASILITATOR
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (119.998 KB)
Adalah Ki Hadjar Dewantara yang bernama kecil Raden Mas (RM) Soewardi Soerjaningrat. Bagi bangsa Indonesia, khususnya yang terlibat langsung dalam dunia pendidikan kiranya sangat mengenal nama agung dan monumental ini. Ia bukan saja seorang pendidik dan tokoh pendidikan akan tetapi juga seorang Bapak Pendidikan Nasional Indonesia. Oleh karena jasanya yang demikian besar dalam mengembangkan sistem pendidikan nasional maka wajar saja kalau hari kelahirannya ditetapkan sebagai Hari Pendidikan Nasional. Ki Hadjar bukanlah seorang nabi, bukan pula seorang rasul, atau sebangsanya. Ia hanyalah manusia biasa sebagaimana manusia lain pada umumnya; namun di balik kebiasaannya itu telah lahir konsep-konsep pendidikan yang tetap relevan sampai sekarang. Apabila kita cermati konsep pendidikannya pun sangat komplit; bukan saja terbatas pada pendidikan formal atau persekolahan, melainkan juga pendidikan informal atau pendidikan keluarga serta pendidikan non-formal atau pendidikan kemasyarakatan; ketiga lingkup pendidikan yang sampai sekarang tetap berjalan sesuai kaidahnya.
TENTANG PENERTIBAN DOSEN MENGAJAR
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1988: HARIAN WAWASAN
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (94.387 KB)
Semenjak kalender akademik tahun 1988 dibuka, maka lembaga pendidikan tinggi di negara kita nampaknya telah dan akan mendapatkan "sentuhan" yang lebih memadahi; dan kiranya ini adalah merupakan angin yang sangat menyejukkan bagi kalangan akademisi pada khususnya serta masyarakat pada khususnya. Dimulai dari wawancara "ekslusif" TVRI yang menampilkan Menteri Pendidikan kita, Prof. Dr. Fuad Hassan, bersama Menteri Luar Negeri, Prof. DR. Mochtar Kusumaatmadja pada awal Januari 1988 yang lalu. Dalam acara ini Mendikbud mengkomunikasikan bahwa pendekatan pendidikan yang ditempuh oleh Depdikbud untuk pendidikan tinggi ialah 'pendekatan kualitatif.
AIDS ANGGOTA BARU PENYAKIT SEKSUAL
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1991: HARIAN YOGYA POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (260.95 KB)
AIDS, Acquired Immune Deficiency Syndrome, adalah jenis penyakit yang sedemikian populer di seluruh dunia pada akhir-akhir ini; meskipun sebenarnya AIDS merupakan jenis penyakit yang relatif baru. Secara medik penyakit yang relatif "ganas" ini baru ditemukan pada awal tahun 80-an yang lalu; meskipun ada pula yang melaporkan sejak tahun 1979 AIDS sudah berhasil diidentifikasi. Penyakit yang sulit "dikendalikan" tersebut mena-rik perhatian dunia, bukan saja terbatas pada kalangan medik namun juga kalangan masyarakat umum. Penyakit ini, sebagaimana dengan berbagai penyakit lain, tidak pandang bulu dalam memilih sasaran; politisi, ilmuwan, penyanyi, olahragawan, wanita tuna susila (WTS), dan juga masyara-kat umum. Bahkan, para dokter pun tak luput dari incaran AIDS. Kalau penyanyi terkenal Freddy "Queen" Mercury ha-rus merelakan nyawanya, kalau olahragawan AS berprestasi Earvin Magic Johnson harus "bersiap-siap", dan kalau dua WTS di Gang Dolly harus kehilangan langganan, itu semua merupakan contoh konkrit dari hasil kiprahnya AIDS. Dalam era globalisasi sekarang ini penyebaran dan perkembangan informasi memang berjalan dengan cepat, be-gitu halnya dengan AIDS. Penyakit ini telah menyebar di seluruh dunia; tak terkecuali Indonesia dan negara-nega-ra ASEAN lainnya. Itulah sebabnya; ketika para menteri-menteri kesehatan se ASEAN bertemu di Jakarta awal bulan ini mereka sepakat untuk menjadikan AIDS sebagai masalah regional yang harus mendapatkan prioritas.