Articles
BILA PROGRAM PGSD GAGAL
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1990: HARIAN WAWASAN
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (118.061 KB)
Sudah dapat dipastikan bahwa mulai tahun 1990 ini Depdikbud menyelenggarakan program peningkatan kualitas guru-guru sekolah dasar yang lazim disebut dengan PGSD, Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Penyelenggaraan program ini ditempuh melalui dua jalur; masing-masing adalah jalur konvensional dan jalur nonkonvensional. Jalur yang pertama, konvensional, dengan sasaran seba-nyak 6.460 mahasiswa diselenggarakan pada 18 perguruan tinggi negeri, PTN, dan perguruan tinggi swasta, PTS, yang ditunjuk. Adapun rincian dari 18 perguruan tinggi ini adalah 10 IKIP Negeri, 2 FKIP Negeri, 3 IKIP Swasta, dan 3 FKIP Swasta. Jenis mahasiswanya adalah mereka yang belum bekerja, dalam arti tidak atau belum menjadi guru SD. Jalur ini dikenal dengan 'jalur prajabatan'. Sementara itu jalur yang kedua, nonkonvensional, dengan sasaran sekitar 20.000 mahasiswa diselenggarakan oleh Direktorat Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) bekerja sama dengan Direktorat Pendidikan Tinggi (Dikti) yang dalam hal ini adalah Universitas terbuka (UT). Jenis mahasiswanya adalah mereka yang sudah/sedang bekerja menjadi guru SD, dalam arti belajar sambil bekerja atau bekerja sambil belajar. Jalur ini dikenal dengan 'jalur penyetaraan'.
PELAKSANAAN CBSA CENDERUNG GAGAL
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1995: HARIAN PIKIRAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (413.389 KB)
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Wardiman Djojonegoro baru-baru ini, tepatnya tanggal 21 Juni 1995 yang lalu, membuka satu simposium nasional tentang Sistem Pembinaan Profesional (SPP) dan Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA). Di dalam sambutan pembukaannya yang dilakukan di ruang sidang Depdikbud tersebut beliau menyatakan kalau memang CBSA terbukti kurang efektif bisa saja segera dihentikan pelaksanaannya. Menyimak sambutan beliau dari kalimat per kalimat nampaknya selaku menteri pendidikan Pak Wardiman pernah mendengar masukan dan kritik mengenai pelaksanaan CBSA di lapangan; di samping, tentu saja, laporan langsung tentang pelaksanaan CBSA dari staf Depdikbud yang diberi tugas untuk itu. Lepas dari berbagai komentar positif yang ada, selama ini kritik terhadap pelaksanaan CBSA memang cukup gencar; ada yang menyatakan CBSA hanya baik di teori, CBSA baik di laporan, sesungguhnya tidak ada sekolah yang dapat menerapkan pendekatan CBSA secara optimal, sampai ada yang menyatakan CBSA sebenarnya tidak cocok bagi masyarakat kita yang paternalistik.
KENDALA SISTEM MAGANG
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1993: HARIAN SURABAYA POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (180.608 KB)
Keinginan pemerintah kita untuk mendekatkan dunia pendidikan dengan dunia industri sebenarnya sudah muncul sejak lama, akan tetapi untuk merealisasi keinginan ini ternyata tidak gampang. Berbagai kebijakan untuk merea-lisasi kebijakan ini telah diaplikasi, meskipun hasilnya belum optimal; katakanlah misalnya saja dengan kebijakan Pengembangan Sekolah Seutuhnya (School Integrated Deve-lopment), Institusi Pasangan, Link and Match, serta SLTP Keterampilan. Apabila baru-baru ini Mendikbud Wardiman Djojonegoro menyatakan bahwa mulai tahun depan Depdikbud akan mengaplikasi sistem magang di Sekolah Menengah Ke-juruan (SMK), maka hal itu sesungguhnya merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk lebih mendekatkan lagi dunia pendidikan dengan dunia industri. Seperti diketahui baru-baru ini Pak Wardiman me-nyatakan bahwa sistem magang akan dimulai tahun 1994 dan penerapan sistem magang ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas tenaga kerja Indonesia. Sistem magang nantinya bukan saja hanya bermanfaat bagi lembaga pendidikan akan tetapi juga sangat bermanfaat pula bagi dunia industri; oleh karena itu sudah tiba waktunya secara bersama-sama dunia pendidikan dan dunia industri mengkampanyekan sis-tem magang tersebut. Sistem magang itu sendiri memiliki berbagai isti-lah di berbagai negara yang mengaplikasikannya; misalnya di Australia disebut dengan 'industry apprentice' atau 'apprentship system',di Jerman sistem ini disebut dengan 'dual system', dan di negara-negara lain ada yang menye-but dengan istilah yang lain lagi.
PILIHAN PASCA UMPTN : UT DAN PTS
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1996: HARIAN PIKIRAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (119.767 KB)
Seleksi tertulis Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN) yang dilaksanakan pada tanggal 18 dan 19 Juni 1996 hasilnya telah di-umumkan tanggal 27 Juli 1996 yang lalu. Dari keseluruhan peserta UMPTN yang jumlahnya mencapai 375.452 orang ternyata hanya 63.753 peserta, atau 17 persen, yang dinyatakan berhasil. Selebihnya, 311.699 peserta, atau 83 persen, dinyatakan gagal. Bagi mereka yang berhasil menembus dinding PTN memang tidak banyak mengundang problem; akan tetapi bagaimana dengan nasib mereka yang gagal yang jumlahnya jauh lebih banyak? Sebagian dari mereka yang gagal memang ada yang sudah mem-buat antisipasi semenjak dini; misalnya dengan "memburu" perguruan tinggi alternatif, baik perguruan tinggi di dalam negeri maupun pergu-ruan tinggi di luar negeri. Dan ....., ketika tahu atas kegagalannya di UMPTN maka mereka pun di samping sudah siap juga sudah mengadakan langkah-langkah yang perlu. Di samping sudah membuat antisipasi maka sebagian dari mereka yang gagal juga banyak yang tidak menyiapkan diri untuk menerima kegagalannya tersebut. Ada yang sangat yakin akan berhasil menembus UMPTN sehingga tidak menyiapkan langkah-langkah lain apabila gagal, dan ada pula yang berpola aktivitas "linear"; mereka baru akan melangkah ke tahapan berikutnya apabila sudah tahu dengan pasti atas hasil dari aktivitas sebelumnya. Akibatnya mereka baru melangkah ketika tahu dan yakin dirinya benar-benar telah gagal dalam upayanya menembus tebalnya dinding PTN. Sampai saat ini pun kiranya masih banyak peserta gagal UMPTN yang masih "bengong"" tidak taahu apa yang harus dikerjakan, meski hasrat untuk melanjutkan studi masih membara. Hal ini dapat terjadi karena terbaatasnya informasi pada para kandidat mahasiswa tentang dunia perguruan tinggi kita.
MENGGALI POTENSI WANITA INDONESIA
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1989: HARIAN WAWASAN
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (98.755 KB)
Konon menurut ceriteranya wanita itu makhluk yang lemah lembut; lemah karena tidak perkasa, serta lembut karena tidak garang. Hal ini ternyata ada "tetapi"-nya; yaitu kalau sampai wanita tersebut kehilangan kelemahan dan kelembutannya maka akan menjadi wanita yang perkasa dan "garang"; bahkan keperkasaan serta "kegarangan"-nya akan melebihi kaum pria. Tentunya kita boleh setuju dan boleh pula tidak, pembenaran dari hipotesis tersebut pun masih memerlukan bukti-bukti teoretik dan empirik yang cukup; akan tetapi pendapat kedua pakar dari University of Columbia yang juga diangkat sebagai staf pada 'Columbia Presbyterian Medical Center' yang berkedudukan di New York AS berikut ini kiranya sedikit banyak memberi "dukungan" terhadap hipotesis di atas. Landrum B. and Shettles MD di dalam bukunya "Your Baby's Sex: Now You Can Choose" mengintrodusir sbb: dari hasil penelitian tentang daya tahan terhadap berbagai penyakit, tekanan hidup, kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan lingkung-annya, umur, dan sebagainya, telah lama diketahui oleh para ahli bahwa kaum laki-laki justru lebih lemah dibandingkan dengan kaum wanita. Memang laki-laki mempunyai otot yang lebih kekar, tetapi daya tahan untuk tetap hidup justru lebih lemah kalau diban- dingkan dengan wanita. Tentu kita boleh percaya atau boleh tidak percaya terhadap kesimpulan tersebut di atas; akan tetapi bahwa kaum wanita pun mempunyai potensi serta daya juang yang cukup hebat, dan tidak kalah dengan apa yang dimiliki oleh kaum pria, kiranya memang tidak perlu didiskusikan lagi.
SISTEM KONVENSIONAL PENDIDIKAN TINGGI
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1986: HARIAN JAWA POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (114.143 KB)
"........ dengan cara pondok, pawiyatan kita dapat mengadakan dunia kesiswaan atau pecantrikan, yaitu dunia pendidikan. Oleh karena guru-guru dan murid-murid tiap hari hidup bersama-sama, siang malam bersama-sama makan, bermain, belajar, bergaul, sudah teranglah disini anak akan terdidik dengan sempurna, tidak menurut buku pedagogik, tetapi menurutpedagogik yang hidup, yaitu menurut cara hidup yang nyata dan baik ..................." (Ki Hadjar Dewantara, 1928) Benar apa yang dikatakan oleh sementara orang bahwa barang antik itu bila dirawat dengan baik maka makin lama akan semakin menarik. Nilainya pun tidak semakin menurun, akan tetapi justru semakin menaik; sebab secara fungsional barang tersebut semakin diperlukan. Dalam dunia arsitektur misalnya. Dewasa ini ba-nyak diantara para arsitek yang dalam mendisain rumah kembali ke model-model klasik yang dipandang antik, mi-salnya saja model joglo. Sementara yang lainnya mencoba mengkombinasikan model klasik dengan modern, misalnya saja menggabung model klasik spanyolan dengan model ku-bus Jepang. Eksperimen ini ternyata cukup memuaskan, bahkan disain semacam ini dewasa ini pun berkembang dengan pesatnya. Langkah seperti tersebut diatas kiranya dapat ju-ga diberlakukan dalam dunia pendidikan, khususnya dalam dunia pendidikan tinggi.
JUAL BELI SKRIPSI
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1993: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (411.042 KB)
Kasus jual beli skripsi akhir-akhir ini nampaknya cukup menyita perhatian masyarakat, khususnya masyarakat akademik. Banyak orang heran, karya ilmiah yang disusun dalam waktu yang relatif tidak singkat dan didokumentasi secara khusus oleh pemiliknya ternyata dapat diperjual-belikan di "pasar bebas" tanpa sepengetahuan pemiliknya; meskipun sebagian yang diperjual-belikan tersebut bukan naskah asli, hanya copynya saja. Keheranan tersebut semakin menjadi-jadi manakala diketahui adanya sistem pemesanan yang berlaku. Kabarnya seseorang calon pembeli dapat memesan jenis skripsi dari bidang studi tertentu yang diinginkannya, misalnya saja bidang ekonomi, pendidikan, hukum, kependudukan, dsb,dan di dalam waktu yang relatif singkat pesanan inipun dapat disediakan. Dibandingkan dengan karya-karya ilmiah yang lainnya skripsi ini harganya relatif mahal, bisa berli-pat ganda dibandingkan ongkos copynya. Berapakah jumlah skripsi yang beredar di pasaran? Jumlahnya relatif banyak, bukan saja puluhan atau ratus-an, akan tetapi mencapai ribuan eksemplar. Angka-angka ini baru sebatas yang "diamankan" pihak berwajib, belum termasuk yang "diamankan" penjualnya.
MITOS MATEMATIKA DI SEKOLAH
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1997: HARIAN KOMPAS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (120.369 KB)
Perbincangan klasik mengenai Matematika di sekolah, SD, SLTP dan SMU (sekarang ditambah SMK) senantiasa menggelitik pada tiap tahunnya; hal ini terutama disebabkan karena belum memuaskannya prestasi Matematika siswa kita pada umumnya, baik di forum lokal, nasional maupun internasional. Sayangnya, perbincangan seperti ini lebih diwarnai dengan berbagai keluhan daripada opini solutif ataupun aktivitas-aktivitas konkrit yang mendorong makin berprestasinya para siswa itu sendiri. Harus diakui dengan jujur bahwa prestasi Matematika siswa kita memang belum memuaskan,untuk tidak menyatakan menyedihkan. Di tingkat lokal sesekali dilaksanakan lomba Matematika bagi siswa; dan hasilnya banyak yang belum menggembirakan. Kami di Yogyakarta baru saja melaksanakan lomba Matematika untuk sekolah umum (SD, SLTP dan SMU) yang diikuti oleh 450-an siswa "terpilih" dari D.I. Yogyakarta dan Jawa Tengah. Saya sendiri cukup bangga menyaksikan banyaknya anak-anak yang antusias meng-ikuti lomba yang diselenggarakan oleh lembaga swasta kami bekerja sama dengan Kanwil Depdikbud setempat ini. Namun, begitu melihat hasilnya rasa kebanggaan itu menjadi kurang optimal. Mari kita perhatikan data konkritnya sbb: pada babak awal lomba maka pencapaian nilai rata-rata (mean) peserta SD hanya 25,7 untuk rentang 0 s/d 45; atau kalau dikonversi ke dalam rentang konvensional 0 s/d 10 maka skor yang dicapai peserta SD hanya 5,7. Artinya para siswa SD peserta lomba tersebut rata-rata hanya mampu mencapai nilai 5,7 dari nilai maksimal 10,0. Untuk peserta kelompok SMP dan SMU nilai rata-ratanya hanya 5,3 dan 4,6; artinya siswa SMP dan SMU peserta lomba tersebut rata-rata hanya mampu mencapai nilai 5,3 dan 4,6 dari nilai maksimal 10,0. Tentu saja angka-angka ini jauh dari memuaskan.
MENINGKATKAN KUALITAS LULUSAN SEKOLAH SEBUAH UPAYA FORMULATIF HASIL EBTANAS
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1988: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (114.653 KB)
Para siswa sekolah menengah tingkat atas, SMTA, baru saja menyelesaikan evaluasi belajar tahab akhir yang diselenggarakan secara nasional, Ebtanas. Sementara itu para siswa sekolah menengah tingkat pertama, SMTP, sebentar lagi akan segera menempuh-nya. Ketika pertama kali Ebtanas ditetapkan dan sekaligus diaplikasikan sebagai sistem evaluasi di sekolah-sekolah, tahun 1984/85, Depdikbud menaruh harapan yang cukup besar akan hasil yang dapat dicapai oleh sistem ini. Ebtanas disamping diharapkan dapat meningkatkan kualitas lulusan diharapkan juga mampu mensejajarkan mutu lulusan antar sekolah yang sederajat dan sejenis. Kesenjangan kualitas lulusan sekolah yang selama ini terjadi, baik sekolah antar pulau, sekolah antar propinsi, sekolah antar kota, bahkan antar sekolah dalam satu kota, diharapkan akan dapat diatasi oleh Ebtanas. Kalau selama ini kualitas lulusan di luar Pulau Jawa pada umumnya selalu lebih rendah dibandingkan lulusan sekolah di Pulau Jawa, atau sekolah yang berada di pedesaan umumnya selalu lebih rendah mutunya dibanding lulusan sekolah di kota, maka dengan Ebtanas keadaan semacam ini akan dapat "diselesaikan"; meskipun disadari hal ini memerlukan waktu yang tidak pendek.
USIA DINI: PENDIDIKAN TERABAIKAN
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2005
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (133.408 KB)
Atas kerja sama yang mutualistik di antara Depdiknas RI dengan UGM Yogyakarta maka pada Senin dan Selasa tanggal 14 dan 15 November 2005 ini diselenggarakan seminar dan lokakarya nasional Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) bertempat di UGM Yogyakarta. Kegiatan yang melibatkan sekitar 500-an orang ini antara lain dimaksudkan untuk mengembangkan konsep PAUD di Indonesia agar tidak (terlalu) ketinggalan dengan negara-negara lain seperti Singapura, Australia, dan sebagainya. Seminar dan lokakarya nasional PAUD yang relatif jarang terjadi itu di samping melibatkan pakar dan praktisi di dalam negeri juga pakar dari lembaga internasional. Bahkan beberapa pembicara diambil dari lembaga internasional tersebut; misalnya Ms. Soo-Hyang Choi dari UNESCO atau tepatnya dari bagian Section for Early Childhood and Inclusive Education serta Marylou Hyson, Ph.D. dari NAEYC Washington DC selaku senior advisor for Research and Professional Practice. Dari seminar dan lokakarya nasional tersebut akan dibuat rumusan atau formulasi atas berbagai hal berdasarkan apa-apa yang berkembang selama kegiatan berlangsung. Rumusan itulah yang nantinya akan dijadikan salah satu referensi pengembangan pendidikan anak usia dini di Indonesia.