Claim Missing Document
Check
Articles

IMPLEMENTASI PERMAINAN GOPA UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN NUMERASI SISWA Ramdani, Nurlailatun; Suryaningsih, Sri; Nurwalidainismawati, Nurwalidainismawati
Dikmat: Pendidikan Matematika Vol 5, No 02 (2024): Oktober 2024
Publisher : STKI Harapan Bima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56842/dikmat.v5i02.496

Abstract

Masalah utama yang dihadapi dalam pembelajaran matematika di sekolah dasar adalah rendahnya minat dan keterlibatan siswa dalam proses belajar, terutama bagian numerasi. Untuk mengatasi hal tersebut maka penelitian ini bertujuan mendeskripsikan implementasi permainan Gopa dalam pembelajaran matematika untuk meningkatkan keterampilan numerasi siswa sekolah dasar. Permainan Gopa, yang diadaptasi dari permainan tradisional engklek, menggabungkan unsur fisik, strategi, dan penyelesaian soal matematika secara kolaboratif. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan desain studi kasus eksploratif, melibatkan 19 siswa kelas III SDN Pandai yang dibagi menjadi dua kelompok, serta seorang guru sebagai fasilitator. Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif, wawancara semi-terstruktur, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa permainan Gopa berhasil meningkatkan keterlibatan siswa, menciptakan atmosfer belajar yang aktif dan kolaboratif, serta membantu siswa memahami konsep matematika dengan cara yang menyenangkan. Wawancara dengan siswa dan guru mengindikasikan bahwa permainan ini juga meningkatkan motivasi belajar dan pemahaman materi. Penelitian ini menyarankan bahwa penggunaan permainan tradisional seperti permainan Gopa dapat menjadi alternatif efektif untuk meningkatkan keterampilan numerasi siswa di sekolah dasar.
ANALISIS KESULITAN SISWA DALAM MENYELESAIKAN SOAL MATEMATIKA MATERI PERKALIAN MENGGUNAKAN METODE POROGAPIT DI SDN O,O MPILI KECAMATAN DONGGO Sumarni, Sumarni; Nurwalidainismawati, Nurwalidainismawati; Ramdani, Nurlailatun; Suryaningsih, Sri
Dikmat: Pendidikan Matematika Vol 5, No 02 (2024): Oktober 2024
Publisher : STKI Harapan Bima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56842/dikmat.v5i02.497

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat kesulitan siswa dalam menyelesaikan soal matematika khususnya pada materi perkalian menggunakan metode porogapit. Metode porogapit atau metode pembagian bersusun dikenal sebagai salah satu teknik dasar yang digunakan untuk operasi aritmatika perkalian. Meskipun metode ini sering diajarkan di sekolah dasar, banyak siswa yang masih menghadapi kesulitan dalam penerapannya. Penelitian ini menggunakan deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui tes dan wawancara yang di validasi dengan triangualsi sumber. Subjek dalam penelitian ini merupakan siswa kelas V SDN O’o dengan jumlah 9 orang siswa yang beralamatkan di Desa Mpili Kecamatan Donggo. Tahap analisis mengacu pada Miles dan Huberman dengan menggunakan empat tahapan analisis. Hasil penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa Tingkat kesulitan siswa dalam menyelesaikan soal perkalian matematika menggunakan metode porogapit terletak pada kesulitan dalam memahami konsep soal, kesulitan dalam melakukan operasi hitung perkalian matematika, serta kesulitan dalam menyelesaikan masalah matematika. Kesimpulannya bahwa tingkat kesulitan siswa dalam menyelesaikan soal matematika menggunakan metode porogapit disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu pemahaman konsep yang kurang, kesalahan prosedural, dan faktor psikologis. Maka untuk mengatasi masalah tersebut, guru perlu meningkatkan pemahaman konseptual, melakukan pendekatan bertahap dalam pembelajaran, melakukan latihan secara terus menerus serta memberikan motivasi kepada siswa.
PENGARUH BAHASA PENGANTAR TERHADAP PEMAHAMAN KONSEP MATEMATIKA SISWA DI DAERAH MULTIBAHASA Fauzi, Azra; Suryaningsih, Sri; Nurwalidainismawati, Nurwalidainismawati; Hardyanti, Hardyanti
Dikmat: Pendidikan Matematika Vol 6, No 01 (2025): April 2025
Publisher : STKI Harapan Bima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56842/dikmat.v6i01.509

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh penggunaan tiga bahasa dalam pembelajaran matematika di sekolah dasar di Kecamatan Lambitu, Kabupaten Bima, yaitu Bahasa Lambitu (bahasa ibu lokal), Bahasa Bima (bahasa daerah umum), dan Bahasa Indonesia (bahasa nasional). Subjek dalam penelitian ini adalah enam guru sekolah dasar yang aktif mengajar matematika pada siswa kelas rendah dan tinggi. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan teknik wawancara mendalam sebagai instrumen utama pengumpulan data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketidaksesuaian bahasa pengantar dengan latar belakang linguistik siswa menghambat pemahaman konsep matematika, terutama ketika istilah-istilah matematis tidak diterjemahkan atau dijelaskan dalam bahasa yang familiar bagi siswa. Para guru mengungkapkan bahwa penggunaan Bahasa Indonesia sebagai satu-satunya bahasa pengantar sering menyebabkan kebingungan, kurangnya keterlibatan siswa, dan kesalahan dalam menyelesaikan soal. Sebaliknya, ketika guru menggunakan pendekatan yang responsif terhadap bahasa, seperti menjelaskan kembali konsep dalam Bahasa Bima atau Bahasa Lambitu, pemahaman siswa meningkat secara signifikan. Temuan ini mendukung teori bahwa bahasa bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga mediasi kognitif dalam pembelajaran matematika. Oleh karena itu, penggunaan bahasa pengantar yang sesuai dengan kondisi sosial-budaya dan linguistik siswa menjadi kunci dalam meningkatkan efektivitas pembelajaran matematika di daerah multibahasa.
DAMPAK PEMBELAJARAN MATEMATIKA BERBASIS KOLABORATIF TERHADAP KEMAMPUAN KOMUNIKASI MATEMATIS SISWA SD DI LAMBITU Wardatunnissa, Yeni; Suryaningsih, Sri; Supryanto, Try
Dikmat: Pendidikan Matematika Vol 5, No 01 (2024): April 2024
Publisher : STKI Harapan Bima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56842/dikmat.v5i01.500

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak pembelajaran matematika berbasis kolaboratif terhadap kemampuan komunikasi matematis siswa. Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimen dengan desain kelompok kontrol, yang melibatkan siswa dari sekolah dasar sebagai subjek. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok yang mengikuti pembelajaran kolaboratif mengalami peningkatan signifikan dalam kemampuan komunikasi matematis, dengan skor rata-rata naik dari 65 menjadi 82, serta nilai  yang menunjukkan signifikansi statistik. Temuan ini menunjukkan bahwa pembelajaran kolaboratif tidak hanya meningkatkan kemampuan komunikasi matematis, tetapi juga meningkatkan keterlibatan dan motivasi siswa dalam pembelajaran. Oleh karena itu, penerapan model pembelajaran kolaboratif sangat direkomendasikan untuk meningkatkan hasil belajar matematika di sekolah dasar.
Inovasi Pembelajaran Sains Berbasis Bahasa Lokal: Pendekatan THK untuk Meningkatkan Kualitas Pendidikan di Bima Arwan, Arwan; Taufiqurrahman, M.; Paramita, Shanti; Suryaningsih, Sri
Jurnal Pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam (JP-IPA) Vol 6, No 01 (2025): Mei 2025
Publisher : STKIP HARAPAN BIMA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56842/jp-ipa.v6i01.366

Abstract

This study aims to explore the effectiveness of the use of local languages in science learning based on the Technology, Health, and Culture (THK) approach in Bima. Using qualitative descriptive methods, this study involved grade VII students and teachers in several schools to understand how local languages and THK approaches can improve students' understanding and critical and creative thinking skills. The results showed that using local languages significantly increased students' understanding of scientific concepts, with an increase in comprehension by up to 33%. In addition, integrating the THK approach enriched the learning experience, improving critical thinking skills by 38% and creative thinking by 45%. THK-based learning models have also proven to be effective in improving students' cognitive, affective, and psychomotor learning outcomes. However, there are challenges in terms of technology limitations and teacher training. Therefore, this study recommends increased access to technology and further training for teachers to support the widespread implementation of this model. Overall, this study shows that local language-based approaches and THK can effectively improve science learning quality in culturally rich areas such as Bima
PERAN GURU DALAM PENERAPAN KURIKULUM MERDEKA BELAJAR: STUDI KASUS DI SEKOLAH DASAR Nur'itam, Nur'itam; Nurwalidainismawati, Nurwalidainismawati; Suryaningsih, Sri
Pendikdas: Pendidikan Dasar Vol 6, No 1 (2025): Mei 2025
Publisher : STKIP HARAPAN BIMA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56842/pendikdas.v6i1.399

Abstract

Kurikulum Merdeka Belajar yang dicanangkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia memberikan kebebasan bagi sekolah dan guru dalam merancang dan melaksanakan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran guru dalam penerapan Kurikulum Merdeka Belajar di Sekolah Dasar, serta mengidentifikasi tantangan yang dihadapi selama proses implementasi. Metode Penelitian jenis penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Penelitian ini dilakukan di sekolah dasar  SDN O’o Mpili Kecamatan Donggo dengan subjek penelitian adalah guru-guru kelas di sekolah terkait. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan guru-guru yang terlibat dalam penerapan Kurikulum Merdeka Belajar, observasi kegiatan belajar mengajar, dan dokumentasi terkait implementasi kurikulum di sekolah tersebut. Teknik keabsahan data menggunakan triagulasi waktu dan metode. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif menggunakan 4 tahapan dari Miles dan Huberman . Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru memainkan peran penting sebagai fasilitator, inovator, dan motivator, namun masih menghadapi berbagai kendala dalam pelaksanaan, termasuk keterbatasan sarana dan kesiapan profesional. Kesimpulannya Penerapan Kurikulum Merdeka Belajar memerlukan peran proaktif guru dalam menyesuaikan metode pengajaran dengan kebutuhan siswa. Guru tidak hanya sebagai penyampai materi tetapi juga sebagai fasilitator yang mendukung siswa untuk mandiri dan kreatif.
Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika Sesuai Tahapan Polya Ditinjau Dari Gaya Belajar Siswa Ramdani, Nurlailatun; Suryaningsih, Sri
Jurnal Ilmiah Mandala Education (JIME) Vol 9, No 3 (2023): Jurnal Ilmiah Mandala Edcation (Agustus)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pendidikan Mandala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58258/jime.v9i3.5835

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kemampuan pemecahkan masalah matematika sesuai tahapan polya ditinjau dari gaya belajar. Penelitian yang dilakukan merupakan penelitian kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif kualitatif. Pengambilan data pada awalnya dilakukan keseluruh siswa kelas X IPA 4 di SMA Negeri 2 Woha dengan menyebarkan angket untuk diisi oleh siswa dan dari hasil pengisian tersebut maka dipilih subjek penelitian. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan tes dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa subjek auditorial dan kinestetik dapat melalui semua tahapan polya dalam memecahkan masalah matematika sedangkan subjek visual dominan dapat melalui 2 tahapan polya hal ini karena subjek visual melakukan kekeliruan pada tahapan pelaksanaan rencana dan untuk pengecekan kembali jawaban siswa tidak dapat melakukannya.
Perbedaan Self Confidence Siswa Melalui Model Problem Based Learning Berbantuan Talking Stick suryaningsih, sri
Jurnal Ilmiah Mandala Education (JIME) Vol 9, No 1 (2023): Jurnal Ilmiah Mandala Education (Januari)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pendidikan Mandala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58258/jime.v9i1.4626

Abstract

Tujuan penelitian yaitu untuk menganalisis perbedaan percaya diri siswa dengan penerapan model PBL berbantuan Talking Stick dengan pembelajaran konvensional. Metode penelitian yaitu kuantitatif eksperimen dengan desain Quasi-Eksperimental tipe kelompok kontrol (Pra-Tes dan Pos-Tes) Nonekuivalen (Non-equivalent [Pre-Test and Post-Test] Control-Group Design). Penelitian dilakukan di 4 sekolah yang terdiri dari 2 SDN sebagai kelas eksperimen (SDN 2 Sape dan kelas V SDN INPRES Sangia dengan jumlah 54 siswa) dan 2 SDN sebagai kelas kontrol (SDN 8 Sape dan SDN INPRES Dea berjumlah 37 siswa). Pengambilan sampel menggunakan teknik Nonprobability Sampling: sampling purposive. Teknik pengumpulan data menggunakan angket percaya diri dan lembar observasi percaya diri siswa. Berdasarkan hasil analisis data didapatkan hasil bahwa pada sekolah akreditasi A nilai Sig. angket 0,034 < 0,05 dan nilai Sig. lembar observasi yaitu 0,033 < 0,05 maka H0 ditolak dan H1 diterima. Sekolah akreditasi B nilai Sig. angket dan lembar observasi sama yaitu 0,017 < 0,05 maka H0 ditolak dan H1 diterima. Disimpulkan terdapat perbedaan yang signifikan antara kelas eksperimen dan kelas kontrol setelah dilakukan treatmen dengan menerapkan model PBL berbantuan Talking Stick.
Analysis of Reading Difficulties of High-Class Students at State Elementary School 01 Sumi Ningsi, Ruri; Haryanto, Lutfin; Suryaningsih, Sri
Jurnal Ilmiah Mandala Education (JIME) Vol 10, No 4 (2024): Jurnal Ilmiah Mandala Education (Oktober)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pendidikan Mandala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58258/jime.v10i4.7506

Abstract

The study aims to analyze the reading difficulties of high school students in state elementary school 01 Sumi and identify the factors causing the reading difficulties that occur. The method uses data collection, observation and interviews. The type of research used is qualitative research. Data were taken from 79 high school students, with the results of the study 5 categories of students with reading difficulties in high class. The category of very good at reading consists of 10 students, the category of able to read consists of 17 students, the category of quite good at reading consists of 29, the category of less able to read consists of 15 students, and the category of unable to read consists of 8 students. The reading difficulties experienced in these 5 categories are difficulty in understanding the meaning of the reading text, difficulty in recognizing the alphabet, difficulty in distinguishing vowels and consonants, difficulty in recognizing punctuation, difficulty in comparing the contents of the reading, difficulty in making conclusions, difficulty in distinguishing factual and opinion sentences, difficulty in distinguishing main ideas from the details presented. There are several factors causing the reading difficulties experienced: 1. Lack of early literacy of students, 2. The role of parents, 3. Interest and motivation, and 4. Social environment.
DEVELOPING INTERACTIVE EDUCATIONAL COMICS ON LOCAL CULTURE TO ENHANCE CRITICAL THINKING SKILLS Supryanto, Try; Hardyanti, Hardyanti; Suryaningsih, Sri; Putri, Anita; Arwan, Arwan
Prima Magistra: Jurnal Ilmiah Kependidikan Vol. 6 No. 4 (2025): Volume 6 Number 4 (October 2025)
Publisher : Program Studi PGSD Universitas Flores

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37478/jpm.v6i4.5808

Abstract

Critical thinking skills are essential 21st-century competencies that should be developed from elementary education. However, students often struggle with higher-order thinking, worsened by the lack of engaging and contextual learning media. This study addresses the issue by developing interactive educational comics based on local culture through a fun learning approach to enhance students’ critical thinking. The study aims to produce learning media that are valid, practical, and effective in supporting arts and culture education while improving critical thinking skills. Using a Research and Development (R&D) approach with the ADDIE model (analysis, design, development, implementation, evaluation), the research involved 71 fourth-grade students from SDN Bajo and SDN Wadukopa. Instruments included validation sheets, critical thinking tests, and questionnaires for teachers and students. The final analysis used a t-test and n-gain test. Results indicate the comics are valid based on expert evaluation, highly practical according to teacher and student responses, and effective in improving critical thinking. The t-test (sig. 0.000<0.05) confirmed significant differences in students’ skills before and after implementation, while the n-gain test showed a 96% increase. Thus, the interactive educational comic proves to be a feasible and impactful medium for developing critical thinking in elementary students.