Claim Missing Document
Check
Articles

Sebuah Ironi: Kegagalan Amerika Serikat dan Bank Dunia dalam Upaya Menyelesaikan Konflik Bendungan GERD Bernadeta Ninditha Herdianti; Rr. Hermini Susiatiningsih
Jurnal Hubungan Internasional Vol. 16 No. 2 (2023): JURNAL HUBUNGAN INTERNASIONAL
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jhi.v16i2.49712

Abstract

Keterlibatan pihak ketiga kerap kali dijumpai di sejumlah konflik. Kehadirannya ini bagai pedang bermata dua. Pihak ketiga dapat mendamaikan pihak yang berkonflik, tapi tidak jarang justru memperkeruh suasana yang sudah kelam sebelumnya. Tidak terkecuali keterlibatan Amerika Serikat serta Bank Dunia dalam upaya menyelesaikan konflik Grand Ethiopian Renaissance Dam (GERD) yang menjadi sengketa selama beberapa tahun terakhir antara Mesir, Sudan, dan Etiopia. Sumber daya yang terbatas dan ketergantungan banyak pihak akan sumber daya tersebut telah menciptakan konflik kepentingan yang sampai saat ini tak kunjung mencapai kata sepakat. Kehadiran pihak ketiga ini nyatanya tidak menyelesaikan konflik dan justru berujung pada kegagalan negosiasi. Artikel ini hendak menganalisis faktor penyebab kegagalan negosiasi internasional yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Bank Dunia dalam konflik Bendungan GERD. Penelitian ini akan dianalisis menggunakan teori kegagalan negosiasi internasional serta menggunakan metode kualitatif eksplanatif sebagai landasan penelitian dalam mengupas faktor yang melatarbelakangi kegagalan negosiasi ini. Penelitian ini menemukan bahwa aktor yang terlibat, proses formulasi dalam negosiasi, dan strategi yang dipilih negosiator merupakan faktor penyebab kegagalan negosiasi tersebut.
#MeToo in Sweden: A Legal Game-Changer on Sexual Harassment Sherry Amara Budianjani; Susiatiningsih, Hermini; Muhammad Faiq Adi Pratomo
Jurnal Sentris Vol. 6 No. 1 (2025): Jurnal Sentris
Publisher : Kelompok Studi Mahasiswa Pengkaji Masalah Internasional Unpar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/sentris.v6i1.9095.14-30

Abstract

Sweden is well-known for having the highest levels of gender equality. In reality, Sweden has one of the highest reported incidences of sexual harassment in the European Union. Numerous feminist movements have arisen as a result, with the #MeToo movement and the Harvey Weinstein case being highly well-known in 2017. As one of the social movements, #MeToo aims to accomplish certain objectives. For example, it is now working to change sexual harassment laws in Sweden. This poses the question, how can a social movement such as #MeToo impact a nation's laws to the extent that those laws have impacted? In this essay, we aim to give a broad overview of a social movement that has garnered a lot of support from Swedish society. The approach is qualitative and uses the theory of liberal feminism and social movement in addition to secondary data collection. The study's findings examine a social movement that urged the government to transform the status quo by providing a safe space for women to fight for gender equality. This movement ultimately resulted in the passing of a new law that was a reform that benefited the victims. Keywords: Social Movement; #MeToo; Sexual Harassment; Policy Change; Sweden.
Memperkuat Lokalitas Kota Semarang di Era Globalisasi melalui Diplomasi Lokal Susiatiningsih, Hermini; Farabi, Nadia; Paramasatya, Satwika; Puspapertiwi, Sheiffi
Global Strategis Vol. 12 No. 1 (2018): Global Strategis
Publisher : Department of International Relations, Faculty of Social and Political Science, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (40.946 KB) | DOI: 10.20473/jgs.12.1.2018.1-15

Abstract

Globalisasi menyebabkan semua lini kehidupan menjadi saling berhubungan. Desentralisasi yang dikuatkan melalui penyebaran nilai-nilai demokrasi melalui fenomena globalisasi nyatanya telah memunculkan pemerintah daerah sebagai salah satu aktor penting dalam hubungan internasional melalui perannya dalam paradiplomasi. Diadopsi dari pengalaman negara-negara maju, negara berkembang kini mengadaptasikan paradiplomasi dengan kondisi dan kepentingan yang dimiliki. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi diplomasi yang kompatibel dengan konsep lokalitas, sehingga dapat memperkuat lokalitas Kota Semarang di era globalisasi. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan konsep desentralisasi dan paradiplomasi dengan metode kualitatif untuk menganalisa data yang diperoleh. Penelitian ini menemukan bahwa paradiplomasi tahap pertama telah diterapkan oleh Pemerintah Kota Semarang. Paradiplomasi tahap pertama ini dilakukan untuk mencapai kepentingan ekonomi, seperti meningkatkan investasi dan memperluas pasar, tanpa meninggalkan identitas dan modalitas lokal. 
#SDGs 5, 12, 17: Perempuan Sebagai Agensi Perubahan Penanganan Persampahan Rumah Tangga di Desa Jatibogor, Kabupaten Tegal Susiatiningsih, Rr. Hermini
Jurnal Pengabdian Masyarakat Indonesia Vol 4 No 2 (2024): JPMI - April 2024
Publisher : CV Infinite Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52436/1.jpmi.2040

Abstract

Desa Jatibogor, Kecamatan Suradadi, menghadapi permasalahan terkait penumpukan sampah akibat tingginya angka penduduk dan kurangnya sistem pengelolaan sampah yang tidak efisien sehingga itu berpotensi mengancam lingkungan dan kualitas kesehatan masyarakat. Namun, kesadaran akan pentingnya pengelolaan sampah masih rendah. Oleh karena itu, dibutuhkan peran perempuan di Desa Jatibogor sebagai agen perubahan dalam mengatasi permasalahan tersebut. Kegiatan pengabdian masyarakat ini melibatkan Ibu-Ibu PKK untuk menggerakkan masyarakat dalam mengelola sampah. Diharapkan, sampah yang dikelola dapat menjadi sumber pendapatan tambahan. Partisipasi perempuan dalam penanganan sampah mencerminkan prinsip-prinsip SDGs termasuk kesetaraan gender, konsumsi berkelanjutan, dan kemitraan global. Kegiatan ini mencakup sosialisasi, pelatihan keterampilan, dan pengembangan usaha berbasis sampah untuk perempuan serta pembentukan komunitas daur ulang dan bank sampah. Hasilnya adalah pemberdayaan perempuan, perubahan budaya, peningkatan kesadaran akan keberlanjutan lingkungan, pengurangan pencemaran, peningkatan kualitas hidup, pertumbuhan ekonomi, dan kolaborasi komunitas. Kesimpulannya, peran perempuan sangat penting dalam upaya menjaga lingkungan dan kesejahteraan masyarakat di Desa Jatibogor.
#MeToo in Sweden: A Legal Game-Changer on Sexual Harassment Sherry Amara Budianjani; Susiatiningsih, Hermini; Muhammad Faiq Adi Pratomo
Jurnal Sentris Vol. 6 No. 1 (2025): Jurnal Sentris
Publisher : Kelompok Studi Mahasiswa Pengkaji Masalah Internasional Unpar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/sentris.v6i1.9095.14-30

Abstract

Sweden is well-known for having the highest levels of gender equality. In reality, Sweden has one of the highest reported incidences of sexual harassment in the European Union. Numerous feminist movements have arisen as a result, with the #MeToo movement and the Harvey Weinstein case being highly well-known in 2017. As one of the social movements, #MeToo aims to accomplish certain objectives. For example, it is now working to change sexual harassment laws in Sweden. This poses the question, how can a social movement such as #MeToo impact a nation's laws to the extent that those laws have impacted? In this essay, we aim to give a broad overview of a social movement that has garnered a lot of support from Swedish society. The approach is qualitative and uses the theory of liberal feminism and social movement in addition to secondary data collection. The study's findings examine a social movement that urged the government to transform the status quo by providing a safe space for women to fight for gender equality. This movement ultimately resulted in the passing of a new law that was a reform that benefited the victims. Keywords: Social Movement; #MeToo; Sexual Harassment; Policy Change; Sweden.
Re-boosting Mass and Ecotourism in Lombok, Indonesia, Post COVID-19:: Opportunities, Challenges and Strategic Pathways Wahyudi, Fendy Eko; Susiatiningsih, Hermini; Suwarno, Peter
Journal of Mandalika Review Vol. 5 No. 1 (2026): Journal of Mandalika Review
Publisher : Politeknik Pariwisata Lombok

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55701/mandalika.v5i1.339

Abstract

Introduction: This study examines the re-boost strategies for the tourism sector of Lombok, Indonesia, in the aftermath of the COVID-19 pandemic, with particular emphasis on the synergistic and sometimes conflicting domains of mass tourism and ecotourism. Methodology: Drawing on extant literature, policy documents, and qualitative data derived from interviews with local stakeholders, this paper explores how Lombok’s tourism industry can navigate post-pandemic challenges—health protocols, visitor hesitancy, environmental sustainability concerns, and socio-economic setbacks—while capitalizing on new opportunities. Findings: Lombok’s tourism landscape stands at a crossroads. The COVID-19 pandemic brought new opportunities for mass and eco-tourism-related business in Lombok, to adjust with the growing importance of tourist new preferences. Though cultural and ecological preservation efforts are mainly driven by non-governmental organizations and local communities, several local businesses and authorities has adjusted their strategies to integrate with the post-pandemic recovery efforts—highlighted multi-stakeholder approaches. Conclusion: The article concludes that significant growth of post-pandemic tourists centered adjustment driven by local authorities and communities must be guided with policy recommendations and community-based strategies that aim to strengthen Lombok’s position as a leading destination for both mass and ecotourism.
Assessments of the Sister City Partnership between Baubau, Indonesia and Seoul, South Korea Susiatiningsih, Rr. Hermini; Alfian, Muhammad Faizal; Setiyaningsih, Dewi
Global Strategis Vol. 20 No. 1 (2026): Global Strategis
Publisher : Department of International Relations, Faculty of Social and Political Science, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jgs.20.1.2026.125-148

Abstract

This study examines the sister city partnership between Baubau, Indonesia, and Seoul, South Korea, with a focus on evaluating its alignment across cultural, educational, economic, and governance dimensions. The partnership was founded in 2009 with the goal of adopting Hangeul, Korea's phonetic writing system, to preserve the endangered Ciacia language. Although there are no historical or genealogical connections between the two cities, the partnership is the result of a calculated effort that has produced significant cultural and educational results. Through interviews with key stakeholders, document analysis, and field observations, the study employs six evaluative indicators ranging from cultural influence to community engagement to assess the partnership's impact. The resulting compatibility score of 17 indicates a moderate alignment, highlighting strengths in cultural revitalization and grassroots participation. However, the study identifies imbalances in cultural exchange and limited economic cooperation, suggesting a risk of cultural asymmetry and underutilized development potential. This paper provides the contention that though the partnership is a prime example of soft power diplomacy, it also requires evaluated approaches for ensuring equal representation and its continued viability. The results highlight how crucial reciprocal participation and contextual awareness are to subnational international cooperation, especially when working with groups that have different linguistic and cultural identities. Keywords: Sister City, Baubau-Seoul Cooperation, Cultural Diplomacy, Subnational in International Relations Penelitian ini mengkaji kemitraan sister city antara Baubau, Indonesia, dan Seoul, Korea Selatan, dengan fokus pada evaluasi kesesuaiannya dalam dimensi budaya, pendidikan, ekonomi, dan tata kelola. Kemitraan ini didirikan pada tahun 2009 dengan tujuan mengadopsi Hangeul, sistem penulisan fonetik Korea, untuk melestarikan bahasa Ciacia yang terancam punah. Meskipun tidak terdapat hubungan historis atau genealogi antara kedua kota, kemitraan ini merupakan hasil dari upaya strategis yang menghasilkan dampak signifikan dalam bidang budaya dan pendidikan. Melalui wawancara dengan para pemangku kepentingan utama, analisis dokumen, dan observasi lapangan, studi ini menggunakan enam indikator evaluatif, mulai dari pengaruh budaya hingga partisipasi komunitas, untuk menilai dampak dari kemitraan ini. Skor kompatibilitas sebesar 17 menunjukkan keselarasan yang moderat, dengan kekuatan pada revitalisasi budaya dan keterlibatan akar rumput. Namun, studi ini juga menemukan ketidakseimbangan dalam pertukaran budaya serta keterbatasan kerja sama ekonomi, yang mengindikasikan potensi risiko asimetri budaya dan peluang pembangunan yang belum dimaksimalkan. Artikel ini berargumen bahwa meskipun kemitraan ini mencerminkan praktik diplomasi soft power, dibutuhkan strategi yang dikalibrasi ulang untuk menjamin representasi yang adil dan keberlanjutan jangka panjang. Temuan ini menekankan pentingnya sensitivitas kontekstual dan keterlibatan timbal balik dalam kerja sama internasional subnasional, terutama ketika melibatkan komunitas dengan identitas linguistik dan budaya yang khas. Kata-kata Kunci: Sister City, Kerjasama Baubau-Seoul, Diplomasi Budaya, Kerja sama Hubungan Internasional Subnasional
Kepentingan Inggris dalam Memerangi Illegal Logging melalui Program Multistakeholder Forestry Programme di Indonesia Salsabilla Amanda Putri; Hermini Susiatiningsih; Marten Hanura
Journal of International Relations Diponegoro Volume 8, Nomor 3, Tahun 2022
Publisher : International Relations, Faculty of Social and Political Sciences, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jirud.v8i3.34546

Abstract

UK is one of the countries that requires wood for the purpose of using both for structural and non-structural buildings. The high demand for wood has forced UK to ask Indonesia to continue to supply its wood needs. However, illegal logging has become a problem for the forestry sector in Indonesia which has caused many losses, ranging from the unstable timber market industry, the deteriorating economy, and the increasingly unsustainable state of the forest. This made the UK formulate a foreign policy for Indonesia by creating a cooperation scheme through the Multistakeholder Forestry Program. Based on this, the author aims to explain the UK's interest in establishing cooperation with Indonesia through the Multistakeholder Forestry Program in combating Illegal Logging. This paper will focus to explain and analyze the cooperation formed between UK and Indonesia in minimizing the illegal timber trade. This study uses qualitative methods with data collection through secondary sources. This study uses the theory of Neoclassical Realism by looking at the internal and external factors of the UK. The results of this study indicate that the cooperation between the UK and Indonesia has been able to improve forest governance in Indonesia and the UK can easily obtain legal and safe timber.Keywords: Illegal Logging, Cooperation, MFP, Indonesia, UK.
Strategi Pemerintah Korea Selatan Dalam Ekspor Industri Kreatif Tahun 2016-2018 Choirin Nisa' Berliantika; Hermini Susiatiningsih; Fendy Eko Wahyudi
Journal of International Relations Diponegoro Volume 8, Nomor 3, Tahun 2022
Publisher : International Relations, Faculty of Social and Political Sciences, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jirud.v8i3.34652

Abstract

This research discussed about the strategy of the South Korean government to utilize the Korean wave in the export of its creative industries which include music, broadcasting (drama and films), animations, cartoons, and games, which are promoted by the South Korean government both domestically and internationally. This research focused on the implementation of the South Korean government’s strategy in spreading its creative industry to various countries to improve the South Korean economy through its exports. This research used a qualitative method with a descriptive type of research. The theory used in this research was the theory of national interest and public diplomacy. This research aims to describe that the South Korean government exported creative industries that contain South Korean cultural values with strategies, namely developing South Korea’s domestic potential, connecting South Korea with other countries, and making South Korea active in the international arena. These strategies have had an influence on the development of South Korea’s creative industry both in the domestic market and the international market, so that it has implications for export growth and improving the economy of the South Korean country. 
DIPLOMASI DIGITAL JEPANG DI ERA PANDEMI: STRATEGI PROGRAM BEASISWA MONBUKAGAKUSHO DI INDONESIA (2020–2022) Wulan Suci Intan Auliani; Hermini Susiatiningsih; Anjani Tri Fatharini
Journal of International Relations Diponegoro Vol 10, No 1 (2025)
Publisher : International Relations, Faculty of Social and Political Sciences, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jirud.v10i1.50772

Abstract

Beasiswa “Monbukagakusho” merupakan program yang digagas Pemerintah Jepang melalui Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Olahraga, Sains, dan Teknologi (MEXT) dengan tujuan untuk mencetak mahasiswa internasional berkualitas tinggi, memperkuat kerja sama dengan negara lain, serta membangun citra positif Jepang di bidang pendidikan secara global. Sejak diluncurkan pada tahun 1954, program ini telah menerima ratusan ribu mahasiswa dari berbagai negara. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi diplomasi digital yang diterapkan Pemerintah Jepang di Indonesia melalui program beasiswa “Monbukagakusho” pada tahun 2020–2022 di masa Covid-19, dengan menggunakan konsep  diplomasi digital Ilan Manor. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif deskriptif, dengan data primer dari wawancara dengan JASSO Indonesia, serta data sekunder dari buku, jurnal, artikel, dan situs web terpercaya. Penelitian ini menunjukkan bahwa pemerintah Jepang secara aktif memanfaatkan media digital dan memenuhi strategi diplomasi digital, yaitu engagement dan listening, framing the nation, networked and collaborative approaches to diplomacy, serta consular aid dalam mempromosikan program beasiswa “Monbukagakusho”di Indonesia.
Co-Authors Abihail, Didier Adhinugroho, M. Yudhistira Adityani, Fiandara Dwi Ahmad Daniel Kusumah Anshary, Ahmad Daniel Aisya, Naila Sukma Alfatih, Muhammad Hadziq Alfian Muhammad Faizal Alfian, Muhammad Faizal Almira Devina Phedra Phelia, Almira Devina Andi Akhmad Basith Dir Andi Akhmad Basith Dir, Andi Akhmad Anggun Saputri, Kadek Naraiswari Anindia Cahya Putri, Anindia Cahya ANJANI TRI FATHARINI Ardi Ferdian Aulia Ayu Fernanda Aulia, Marsanda Avinasa Suryagilang Wicaksana, Avinasa Suryagilang Ayu Sabrina Bambang Supriyadi Bayu Mahendra Bernadeta Ninditha Herdianti Bimasakti Aryo Bandung, Bimasakti Aryo Brian Bintang Purbokusumo, Brian Bintang Budi setiyono Choirin Nisa' Berliantika Cindy Anggun Wardhani Damarsidi, Hafriz Resa Dewi Setiyaningsih Ekaputra, Muhammad Edrian ezraputi salsabila Fadhil Ramadhan Fahri, Muhammad Azhar Fahrizal Lazuardi, Fahrizal Faiz Balya Marwan, Faiz Balya Fendy Eko Wahyudi Fendy Eko Wahyudi, Fendy Eko Gala Panuga Azis, Gala Panuga Ghiebiel Fido Caliptra, Ghiebiel Fido Gios Danika Hilda Erika Damara, Hilda Erika Ichda Rizqoh Karomatunnisa, Ichda Rizqoh Ika Riswanti Putranti Ilham Pradana Murwanto Ilyas, Maulana Muhammad Joni Firmansyah Kardina Gultom, Kardina Kertiyasa, Wandha Lucia Mandaratri, Bidara Palupi Maria Aurelia Primastuti Puspasari Marten Hanura, Marten Medyna Oktavia, Medyna Mesi Fransiska Berutu, Mesi Fransiska Mohamad Rosyidin Mohamad Rosyidin Mohammad Rosyidin, Mohammad Muhamad Iksan, Muhamad Muhammad Faiq Adi Pratomo Muhammad Faizal Alfian Muhammad Faizal Alfian Muhammad Faizal Alfian Muhammad Faizal Alfian Muhammad Muslim, Muhammad Muhammad Rifqi Muhammad Subhan Muhammad Syahrial Muhammad, Ajie Mahar Nadia Farabi, Nadia Naila Izzah Naufal Ridho Maulana Ni Made Laksmi Udayani Ningrum, Nadita Anisa Noor Fathia Rizky Irawan, Noor Fathia Norma Rani K. Z., Norma Rani Nugraha, Widhi Prasetia Pertiwi, Diyah Ayu Pertiwi, Sheiffi Puspa Peter Suwarno Prasetya, Nanda Eka Pusaka, Semerdanta Putranti, Ika R R. Sapto Hendri Boedi Soesatyo Ramadhanty, Sarahswati Ratih Nur Istiqomah, Ratih Nur Reyva Fernanda Priskilla Rikzan, M. Alvin Rizki Ananda Rr. Hermini Susiatiningsih Salsabilla Amanda Putri Satwika Paramasatya Satwika Paramasatya, Satwika setiyaningsih, dewi Sheiffi Puspapertiwi, Sheiffi Sherry Amara Budianjani Silitonga, Christian Simamora, Tiurma Debora Sirait, Marcellino L P Sukma Teja Purnayuda, Sukma Teja Supratiwi . Tambunan, Arfa Wulandari Ula, Syarifatul Wibowo, Beatrix Franscya Egidia Saraswati Wicaksari, Teu Meryesca Wicaksono, Mirza Agung Widya Kusuma Saraswati, Widya Kusuma Wijaya, Chandra Kusuma Wijayanto, Hari Adi Akbar Wulan Suci Intan Auliani Wulandari, Cintya Wuryandari, Annisa Yaneski, Arifa Filza Yulia Alfeini, Yulia