Sonny Tilaar
Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi, Manado

Published : 73 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

EVALUASI SISTEM TRANSPORTASI MENUJU KOTA TOMOHON SEBAGAI COMPACT CITY Pangauw, Kindly A.I.; Tilaar, Sonny; Sembel, Amanda S
SPASIAL Vol 4, No 3 (2017)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Fenomena pembangunan kota acak (urban sprawl development) yang terjadi hampir di seluruh kota di dunia yang ditandai dengan ekspansi kawasan terbangun yang lebih besar dibandingkan dengan laju pertumbuhan penduduk pada umumnya tidak diikuti oleh desentralisasi pusat kegiatan secara proporsional. Sebagai solusi dari fenomena pembangunan kota acak dicetuskan ide pembangunan compact city. Bentuk kota yang kompak akan mampu mereduksi jarak tempuh perjalanan sehingga dapat menurunkan tingkat mobilisasi penduduk di perkotaan. Kota Tomohon yang pusat pelayanan kegiatannya berada di tengah-tengah kota, menjadikan daerah pusat kegiatan ini berkembang sebagai pusat utama pertumbuhan wilayah di Kota Tomohon. Ini menyebabkan kebergantungan masyarakat pada kendaraan bermotor dalam mengakses daerah pusat pelayanan kegiatan ini semakin meningkat dan menjadi kendala bagi upaya penghematan energi untuk transportasi perkotaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kondisi sistem transportasi Kota Tomohon dan menganalisis tingkat kekompakan sistem transportasi menuju Kota Tomohon sebagai compact city. Dengan menggunakan metode deskriptif untuk menggambarkan konsisi sistem transportasi dan metode overlay serta teknik buffer. Penelitian ini diawali dengan mengidentifikasi kondisi sistem transportasi di Kota Tomohon, kemudian melakukan studi literatur mengenai  aspek sistem transportasi pada konsep compact city. Hasil penelitian dapat memperlihatkan kondisi eksisting sistem transportasi di Kota Tomohon yang masih berorientasi pada satu moda transportasi publik dan fasilitas pendukung yang kurang baik. Hasil evaluasi tingkat kekompakan Kota Tomohon pada aspek sistem transportasi dalam konsep compact city yang telah dianalisis menunjukan hasil yang tidak kompak karena hanya dua aspek yang telah menunjukan hasil yang kompak, yaitu aksesibilitas yang tinggi dan keterhubungan jaringan jalan yang telah menghubungkan antar pusat pelayanan. Kata Kunci: Compact City, Sistem Transportasi, Struktur Ruang
PEMANFAATAN RUANG KAWASAN PASAR PINASUNGKULAN KAROMBASAN MANADO Jikwa, Natalia Rossalia; Tilaar, Sonny; Takumansang, Esli D
SPASIAL Vol 3, No 3 (2016)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pasar Pinasungkulan Karombasan merupakan salah satu pasar besar yang berada di kota manado berdasarkan peraturan daerah no. 14 tahun 2000 tanggal 3 januari 2000 dinas pasar dialihkan status menjadi perusahan daerah kota Manado sehingga saat ini dikelolah secara langsung oleh PD Pasar kota Manado. Di pasar pinasungkulan karombasan ini terdapat penjual-penjual mulai dari pedagang kaki lima hingga took-toko besar yang di bangun didalamnya. Pasar Pinasungkulan Karombasan ini telah menjadi pusat perbelanjaan bagi masyarakat sekitar yang sering dibanjiri pedagang maupun pengunjung. Tujuan penelitian ini adalah untuk Mengidentifikasi dan menganalisis pemanfaatan ruang kawasan pasar pinasungkulan karombasan Manado. Penelitian yang dilakukan untuk penulisan ini menggunakan data-data yang diambil secara langsung di lapangan (data primer) yaitu: tinjau langsung (data opservasi), wawancara, foto-foto dokumentasi. Data dari instansi terkait (data sekunder) diantaranya adalah data PD pasar, peta lokasi pasar, jumlah pedagang dan profil pasar kota manado. Kemudian data-data tersebut dianalisis dengan menggunakan SNI 1852: 2015 tentang pasar rakyat berdasarkan persyaratan teknis dan pengelolahan pasar. Dari hasil analisis kemudian diolah menggunakan bantuan Microsoft exel yang akan menghasilkan grafik Optimal (termanfaatkan) dan tidak optimal (tidak temanfaatkan) serta standar pemanfaatan ruang. Berdasarkan hasil analisis untuk pemanfaatan ruang kawasan pasar Pinasungkulan Karombasan Manado, bahwa ruang yang termanfaatkan adalah 50% dan ruang yang tidak termanfaatkan adalah 50% sedangkan berdasarkan standar SNI 1852:2015 bahwa pasar Pinasungkulan Karombasan Manado mencapai 47.73% memenuhi standar dan 52.72% tidak memenuhi standar.   Kata kunci :Pasar, Pemanfaatan Ruang.
KAJIAN PERTUMBUHAN WILAYAH PENGEMBANGAN DI KOTA AMBON (STUDI KASUS : SATUAN WILAYAH PENGEMBANGAN II) Djati, Theresia Silvana Samba; Tilaar, Sonny; Sembel, Amanda S
SPASIAL Vol 3, No 3 (2016)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Satuan wilayah pengembangan (SWP) adalah wilayah yang secara geografis dan administrasi dikelompokan berdasarkan potensi dan sumber daya untuk pengembangannya. Kota Ambon memiliki lima (V) SWP. Pusat kota merupakan SWP I dengan fungsi kegiatan yaitu pemerintahan, komersial, perdagangan dan jasa serta permukiman. Dari tahun ke tahun menunjukan adanya perkembangan kota Ambon dalam hal pemanfaatan ruang dalam kota. Kegiatan yang cenderung berorientasi di pusat kota sehingga menjadikan pusat kota semakin padat perlahan dikembangkan ke arah bagian luar pusat kota dalam hal ini yaitu satuan wilayah pengembangan (SWP) II. Tujuan dari penelitian ini yaitu mengidentifikasi arah perkembangan wilayah secara spasial pada SWP (Satuan Wilayah Pengembangan) II dan menentukan lokasi pusat pertumbuhan wilayah di SWP II. Metode penelitian yang digunakan yaitu metode Kualitatif-Kuantitatif (Mix Method). Metode kualitatif digunakan untuk mengidentifikasi arah perkembangan wilayah pada SWP II dengan menggunakan analisis overlay dan analisis terhadap faktor-faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi perkembangan kota, metode kuantitatif digunakan untuk menentukan lokasi pusat pertumbuhan wilayah di SWP II dengan  menggunakan analisis skalogram, analisis indeks sentralitas dan analisis gravitasi. Hasil penelitian menunjukan bahwa, arah perkembangan spasial Satuan Wilayah Pengembangan (SWP) II  yaitu perkembangan horizontal melalui proses perkembangan spasial sentrifugal. Lokasi pusat  pertumbuhan wilayah  di Satuan Wilayah Pengembangan (SWP) II berdasarkan analisis skalogram dan analisis indeks sentralitas berada di desa Passo. Hasil analisis gravitasi menunjukan interaksi desa/kelurahan yang paling kuat di SWP II yaitu antara Desa Passo dengan Desa Nania, sedangkan yang paling sedikit interaksinya yaitu Desa Passo dengan Desa Latta. Kata Kunci : Pertumbuhan wilayah, Perkembangan Wilayah, Satuan Wilayah Pengembangan II, Kota Ambon.
ARAHAN PENGEMBANGAN PENGGUNAAN LAHAN PERMUKIMAN DI KECAMATAN AMURANG BARAT, KABUPATEN MINAHASA SELATAN Sillia, Iskandar -; Sela, Rieneke L; Tilaar, Sonny
SPASIAL Vol 4, No 2 (2017)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam perkembangannya sebuah wilayah perkotaan, penggunaan lahannya akan semakin meningkat seiring dengan pertambahan penduduk yang ada pada wilayah tersebut, hal ini tidak bisa dipungkiri bahwa manusia membutuhkan lahan untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Pertambahan penduduk yang tidak di imbangi dengan ketersediaan lahan menyebabkan banyak penduduk yang akan memanfaatkan lahan untuk permukiman yang tidak sesuai dengan karakteristik lahan permukiman. Oleh karena itu,  dibutuhkan suatu arahan pengembangan penggunaan lahan permukiman, dalam pengembangan lahan permukiman yang baru dan tepat. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kesesuaian lahan permukiman di Kecamatan Amurang Barat dan menetapkan arahan pengembangan penggunaan lahan permukiman di Kecamatan Amurang Barat.  Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan cara deskriptif dan superimpose (overlay) data-data fisik dasar yang berkaitan dengan kesesuaian lahan untuk permukiman, kemudian dioverlay lagi dengan kawasan lindung dan arahan rencana pola ruang kawasan budidaya sehingga dapat mentapkan arahan pengembangan penggunaan lahan permukiman berdasarkan karakteristik lahan yang sesuai untuk di kembangkan. Hasil studi, diketahui bahwa tidak semua wilayah Kecamatan Amurang Barat kesesuaian lahannya sesuai untuk permukiman. Berdasarkan penjumlahan parameter kesesuaian lahan didapatkan dua fungsi lahan yaitu lahan yang sesuai untuk permukiman dan lahan sesuai bersyarat untuk permukiman. Berdasarkan (overlay) kesesuaian lahan, kawasan lindung dan arahan rencana kawasan budidaya pengembangan penggunaan lahan permukiman di Kecamatan Amurang Barat dapat diarahkan pada sebagian wilayah Kelurahan Rumoong Bawah karena memiliki daya dukung lahan yang sesuai. Kata Kunci : Lahan, Permukiman, Kesesuaian lahan, Pengembangan Lahan
PARTISIPASI MASYARAKAT TERHADAP PENGEMBANGAN PARIWISATA PANTAI MAHEMBANG KECAMATAN KAKAS Meray, Josie Geraldy; Tilaar, Sonny; Takumansang, Esli D
SPASIAL Vol 3, No 3 (2016)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pantai Mahembang Kecamatan Kakas sebagai bagian dari Kabupaten Minahasa yang memiliki daya tarik untuk dikembangkan sebagai daerah tujuan wisata baik untuk pasar wisata nusantara maupun mancanegara. Objek wisata ini mempunyai potensi yang sangat besar untuk di kembangkan yaitu seperti pesona alam pantai yang sangat indah dengan pasir putih dan tekstur alam yang berbukit-bukit.Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi tanggapan masyarakat dalam pengembangan kawasan wisata Pantai Mahembang Kecamatan Kakas dan menganalisis bentuk-bentuk partisipasi masyarakat dalam pengembangan kawasan wisata Pantai Mahembang Kecamatan Kakas.Metode penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif-kuantitatif dengan analisis deskriptif kualitatif. Adapun metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu kuisioner, wawancara, observasi dan studi dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa karakteristik masyarakat mempengaruhi bentuk dan tingkatan partisipasi yang dilakukan masyarakat. Hal tersebut juga berkaitan dengan mata pencaharian dan tingkat pendidikan masyarakat, rendah tingginya pendidikan masyarakat akan mempengaruhi mata pencaharian masyarakat.Dan untuk tanggapan masyarakat dilihat dari skala peran serta masyarakat yang didukung oleh peran pemerintah desa dan wisatawan, masyarakat menanggapi secara positif tentang adanya pengembangan kawasan objek wisata Pantai Mahembang dan juga dapat meningkatkan perekonomian warga di sekitar lokasi wisata tersebut.Sedangkan bentuk-bentuk dan tingkatan partisipasi yang diberikan masyarakat dalam pengembangan kawasan wisata Pantai Mahembang Kecamatan Kakas meliputi : Partisipasi masyarakat dalam bentuk tenaga, buah pikiran, serta keterampilan dan kemahiran. Tingkatan partisipasi tersebut dapat dikategorikan dalam tingkat partisipasi insentif, inisiatif, dan interaktif.Kata Kunci :Partisipasi Masyarakat, Pariwisata, Pengembangan, Pariwisata Berkelanjutan, Pantai Mahembang.
PERKEMBANGAN PERMUKIMAN DI PULAU DOOM KOTA SORONG Johansz, Devid Abraham; Sela, Rieneke L; Tilaar, Sonny
SPASIAL Vol 4, No 1 (2017)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pulau Doom terletah di Kota Sorong Provinsi Papua Barat. Pulau Doom sudah ditinggali oleh masyarakat sejak masa pendudukan Belanda. Belanda sudah melirik keberadaan Pulau Doom sejak tahun 1800-an dan kemudian sekitar tahun 1935 Pulau Doom dijadikan sebagai ibu kota pusat pemerintahan Kota Sorong. Pulau Doom kini menjadi kawasan permukiman bagi masyarakat yang tinggal di wilayah tersebut. Seiring berkembang waktu, perkembangan permukiman di Pulau tersebut kini mulai berkembang dari tahun ke tahun dan menjadi padat akibat pertumbuhan penduduk yang semakin meningkat. Perkembangan permukiman di Pulau Doom dari tahun 2007 hingga 2015 mengalami perkembangan yang pesat. Oleh karena itu, tujuan penelitian ini adalah menganalisis arah perkembangan permukiman dan faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi perkembangan permukiman di Pulau Doom Kota Sorong. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif dan analisis spasial (overlay) dengan menggunakan software ArcGIS 10.1. Berdasarkan hasil penelitian bahwa, 1arah perkembangan permukiman di Pulau Doom lebih dominan berkembang ke arah  kelurahan Doom Barat pada kontur 0-10% (topografi dataran rendah) dengan perkembangan permukiman sebesar 60%. 2Faktor-faktor yang paling mempengaruhi perkembangan permukiman di Pulau Doom adalah faktor geografis, faktor kependudukan, faktor swadaya dan peran serta masyarakat dan faktor sosial budaya. Kata Kunci     : Permukiman, Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Permukiman
EVALUASI KEBIJAKAN POLA RUANG DAN STRUKTUR RUANG BERBASIS MITIGASI BENCANA BANJIR (Studi Kasus : Kota Palu) Rachmatullah, Michael; Rogi, Octavianus H. A.; Tilaar, Sonny
SPASIAL Vol 3, No 3 (2016)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kota Palu, seperti kebanyakan kota lainnya di Indonesia sering mengalami bencana banjir. Karena itulah diperlukan sistem mitigasi bencana banjir di Kota Palu dalam bentuk perencanaan pola dan struktur ruang yang tanggap bencana banjir. Kota Palu sudah memiliki rencana / kebijakan pola dan struktur ruang yang terdapat didalam RTRW Kota Palu 2010 – 2030. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui apakah kebijakan pola dan struktur ruang yang ada sudah tanggap terhadap bencana banjir atau belum. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi tingkat risiko banjir di Kota Palu dan mengevaluasi kebijakan pola dan struktur ruang di Kota Palu dengan mempertimbangkan aspek bencana banjir khususnya pada tingkat risikonya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan menggunakan analisis konversi rawan bencana, analisis tingkat kerentanan dan analisis tingkat kapasitas yang parameter pembentuknya mengikuti peraturan baku dari BPBD Kota Palu untuk menjawab tujuan pertama dan analisis evaluasi untuk menjawab tujuan kedua yang keseluruhan analisisnya dibantu dengan software Arcgis. Berdasarkan hasil studi, didapat2 hal yaitu; persebaran tingkat risiko di kota Palu terbagi atas 5 kelas dan yang menjadi pembahasan adalah kelurahan dengan kelas risiko tinggi (8 kelurahan) dan kelas risiko sangat tinggi(9 kelurahan) dan kebijakan pola ruang dan struktur ruang di Kota Palu sudah cukup tanggap terhadap risiko banjir yang ada. Hal ini ditunjukkan melalui perbandingan persentase luas rencana kawasan keseluruhan pada bidang pola ruang serta perbandingan persentase jumlah sistem perkotaan, panjang jalan keseluruhan, dll pada bidang struktur ruang terhadap bagian dari tiap perencanaan yang masuk dalam kelurahan berisiko banjir tinggi dan sangat tinggi.   Kata Kunci :Evaluasi, Banjir, Mitigasi, Kebijakan Pola Ruang dan Struktur Ruang
PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN SEPANJANG KORIDOR JALAN MANADO-BITUNG DI KECAMATAN KALAWAT Tujuwale, David Hizkia; Waani, Judy O; Tilaar, Sonny
SPASIAL Vol 4, No 2 (2017)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kecamatan Kalawat adalah salah satu kecamatan yang berkembang dengan jumlah penduduk yang selalu bertambah serta memiliki lokasi yang strategis karena berada di antara dua kota, yaitu Kota Manado dan Kota Bitung, sehingga Kecamatan Kalawat merupakan salah satu daerah penghubung bagi kota – kota tersebut. Kecamatan Kalawat juga mempunyai kondisi geografi yang cenderung landai sehingga terjadinya pembangunan perumahan-perumahan baru, tokoh, hotel dan lain-lain. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi perubahan penggunaan lahan yang terjadi di sepanjang koridor Jalan Manado – Bitung di Kecamatan Kalawat dan mengkaji faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya perubahan penggunaan lahan di koridor jalan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif dan analisis SIG. Jenis perubahan penggunaan lahan yang paling dominan adalah lahan kosong menjadi komersil seluas 10.11 ha, kemudian lahan kosong menjadi pendidikan seluas 0.83 ha, dan yang ketiga jenis lahan kosong menjadi hunian seluas 0.49 ha. Jumlah perubahan penggunaan lahan seluas 12.17 ha. Sedangkan faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan tersebut yaitu faktor aksesibilitas, perkembangan penduduk, daya dukung lahan, prasarana dan sarana, serta nilai lahan. Adapun faktor lainnya yang mempengaruhi perubahan fungsi lahan yaitu faktor ekonomi.Kata Kunci : Perubahan Penggunaan Lahan, Koridor Jalan
ANALISIS PEMANFAATAN RUANG TERBANGUN DI KAWASAN PESISIR LOKASI STUDI KASUS: SEPANJANG PESISIR KOTA MANADO Tilaar, Sonny; Tarore, Raymond Ch
SPASIAL Vol 4, No 1 (2017)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kota Manado memiliki potensi yang besar dalam bidang pesisir dan kelautan. Pemanfaatan ruang terbangun yang terjadi saat ini di kawasan pesisir Kota Manado membawa pengaruh besar bukan hanya pada bertumbuhnya perekonomian Kota Manado, peningkatan aktivitas masyarakat di kawasan pesisir, tapi juga membawa pengaruh terhadap lingkungan alam dan kelangsungan ekosistem kawasan pesisir. Penelitian ini dilakukan di sepanjang kawasan pesisir Kota Manado, dengan meliputi 5 (lima) kecamatan dan 21 (dua puluh satu) kelurahan yang termasuk dalam kawasan pesisir Kota Manado. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi karakteristik dan kondisi fisik (alami dan buatan), dan sosial ekonomi pemanfaatan ruang terbangun kawasan pesisir Kota Manado, serta menganalisis kesesuaian antara kondisi eksisting pemanfaatan ruang terbangun kawasan pesisir Kota Manado dengan arahan perencanaan yang ada dalam RTRW Kota Manado 2010-2030. Adapun penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Pengumpulan data dilakukan melalui survey lapangan (wawancara dan dokumentasi), dan survey ke instansi terkait (permintaan data). Analisis dilakukan menggunakan Sistem Informasi Geografis (SIG). Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa adanya ketidaksesuaian pemanfaatan ruang terbangun di kawasan pesisir Kota Manado antara arahan dalam RTRW Kota Manado 2010-2030 dengan kondisi eksisting di wilayah penelitian, antara lain: Permukiman di kawasan sempadan Pantai Malalayang, permukiman di kawasan sempadan Sungai Malalayang, Sario, dan Bailang, alih fungsi lahan perkebunan/pertanian menjadi lahan permukiman dan perdagangan/jasa, pertokoan dan Hotel yang dibangun membelakangi pantai di area reklamasi B on B (Boulevard on Bussiness), tumbuhnya permukiman kumuh di kawasan pesisir Kelurahan Bahu, Sindulang I, dan Sindulang II. Kata Kunci : Pemanfaatan ruang terbangun, Kawasan pesisir, RTRW
PERUBAHAN PEMANFAATAN LAHAN DI KAWASAN STRATEGIS TUMBUH CEPAT KAPITU – TEEP KABUPATEN MINAHASA SELATAN Mirah, Edbert M; Mononimbar, Windy; Tilaar, Sonny
SPASIAL Vol 4, No 1 (2017)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kabupaten Minahasa Selatan terbentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2003 tentang Pembentukan Kabupaten Minahasa Selatan dan Kota Tomohon di Provinsi Sulawesi Utara. Ibu kota Kabupaten Minahasa Selatan adalah Kota Amurang yang berjarak ± 64 km dari Kota Manado.  Secara geografis Kabupaten Minahasa Selatan terletak di antara 00,47’ – 10,24’ Lintang Utara dan 1240,18’ – 124,045’ Bujur Timur. Sesuai  RTRW Kabupaten Minahasa Selatan wilayah Desa Kapitu - Teep diperuntukkan sebagai kawasan strategis dari sudut kepentingan ekonomi dan Sub-Pusat Pemerintahan sehingga diasumsikan banyak terjadi perubahan pemanfaatan lahan dikawasan tersebut.Wilayah Desa Kapitu – Teep merupakan bagian kawasan strategis yang telah berkembang atau potensial untuk dikembangkan karena memiliki keunggulan sumber daya dan  geografis yang dapat menggerakkan pertumbuhan ekonomi wilayah sekitarnya. Hal ini  mengakibatkan banyaknya penduduk pendatang yang bermukim dan tentu saja membutuhkan tempat tinggal untuk kelangsungan hidupnya. Sehingga alih fungsi lahan terus terjadi, diduga sebagaian besar lahan perkebunan dan pertanian yang sebelumnya mendominasi telah dikonversi menjadi perumahan dan fasilitas umum. Desa Kapitu-Teep menjadi salah satu daerah yang perlu dikaji mengenai perubahan lahannya. Terutama yang terjadi sejak tahun 2003 sampai tahun 2016 dimana diasumsikan perubahan pemanfaatan lahan yang terjadi begitu pesat. Adapun perumusan masalah yang akan dibahas adalah : Bagaimana Perubahan pemanfaatan lahan yang terjadi di kawasan strategis tumbuh cepat Kapitu – Teep? dan Apa Faktor – faktor pendorong perubahan pemanfaatan lahan?. Adapun manfaat hasil studi ini Memberikan rekomendasi dan pertimbangan bagi pemerintah dalam mengembangan Kawasan Tumbuh Cepat Kapitu-Teep, Dapat dijadikan sebagai bahan  pertimbangan atau dikembangkan lebih lanjut, serta referensi terhadap penelitian yang sejenis, Memberikan informasi kepada masyarakat mengenai perubahan pemanfaatan lahan yang terjadi di Kapitu-Teep. Berdasarkan hasil studi dapat ditarik kesimpulan perubahan pemanfaatan lahan yang terjadi begitu pesat dalam kurun waktu 15 tahun terakhir dan ada 5 faktor pendorong terjadinya perubahan pemanfaatan lahan. Kata    Kunci :           Pemanfaatan Lahan, Faktor Pendorong,          Kawasan Strategis Cepat Tumbuh
Co-Authors Alexander M. P. Dalawir Alfath S.N. Syaban Alfonsa Londar, Alfonsa Ali, Sadam Alvin J. Tinangon Amanda Sembel Andi A. M. Malik Andy A. Malik Apriska G Djalil, Apriska G Asmudrono, Rani Karenina Astrid Iske R. R. Rawung Christina Seredity Cyntha Tendean Dapas, Gisella A Djati, Theresia Silvana Samba Duwila, Nurul Mentari Dwight M Rondonuwu, Dwight M Dwight M. Rondonuwu Esli D Takumansang Fanataf, Patrisius A Fela Warouw Fella Warouw Frits O. P. Siregar Frits O.P. Siregar Gobel, Ananda Van Gunawan Tamboeo, Gunawan Gunena, Andrey Roland Gunena, Cheintya Gwijangge, Lipen Hanny Poli Haurissa, Destela Hendriek H Karongkong Hendriek Karongkong, Hendriek Husin, Pratiwi Indriani, Reggi Ingerid L Moniaga, Ingerid L Ingerid Moniaga Jefrey I. Kindangen Jermias, Agatha Kirey Jikwa, Natalia Rossalia Johansz, Devid Abraham Josie Geraldy Meray, Josie Geraldy Judistia S. Makarau, Judistia S. Judy O Waani Judy O. Waani Kalimpung, Gloria J. Kartika R. Basarang, Kartika R. Katuuk, Rionald Jourdan Kumolontang, Melita Lefrandt, Lucie I. R. Lestari, Nadira Astuti Linda Tondobala Lomban, Gracella Patricia Lucky Ridel Aruperes, Lucky Ridel Malik, Andy Anton Mangopa Manabung, Patrick I. I. Mareike Runtu Maychard M Pelambi, Maychard M Mentari Ngodu, Mentari Michael M Rengkung, Michael M Mirah, Edbert M Moh Yushar Fadhly, Moh Yushar Mokolensang, Falentino Muhammad Syahri Paputungan Octavianus Hendrik Alexander Rogi Pangau, Christania M. Pangauw, Kindly Anugerah Imanuel Pangkey, Oksilina Papia J. C. Franklin Papia J.C. Franklin Peggy Egam Peter N. Y. P. Sumual, Peter N. Y. P. Pierre H Gosal, Pierre H Pierre H. Gosal Pinangkaan, Karfel Pontoh, Muh Reza Novian Rachmat Prijadi Rachmatullah, Michael Raule, Reveena Djaenny Raymond Ch Tarore, Raymond Ch Raymond Ch. Tarore Rieneke L Sela, Rieneke L Rieneke L. E. Sela Rieneke L.E. Sela Rieneke Sela Riza S. E. Suot Romel R. Pandei Roosje J. Poluan Rumagit, Eliska S.G. Rungkat, Cindy F. Sakul, Fianna G. Sammy Piris Sangkertadi -, Sangkertadi Sarihi, Yan Rezki Satolom, Andre P. Sela, Rieneke Lusia Evani Sembel, Amanda S Sibula, Devid Silangen, Marcelino Gerry Sillia, Iskandar - Simaela, David Heryyanto Siregar, Frits Surijadi Supardjo Surjadi Supardjo Suryadi Supardjo, Suryadi Suryono Suryono Susanto, Wahyu N. Syahrul, Syahril Tambajong, Gifly Jeremy Tambbotto, Syalom W. Tangkudung, Theogive Hosea Tarore, Raymond Tiara Putri Ananta Poli, Tiara Putri Ananta Tilaar, Natalia Tujuwale, David Hizkia Vicky H. Makarau Walandouw, Daniel Walandouw, Daniel Windy Mononimbar