Claim Missing Document
Check
Articles

Found 31 Documents
Search

PENURUNAN JUMLAH ERITROSIT TANPA PERUBAHAN INDEKS ERITROSIT PADA WANITA LANSIA SEHAT DI KOTA MALANG Muhammad Dwiki Kevin Pribadi; Sasi Purwanti; Rahma Triliana
Jurnal Kedokteran Komunitas Vol 10, No 2 (2022)
Publisher : Jurnal Kedokteran Komunitas (Journal of Community Medicine)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1137.719 KB)

Abstract

ABSTRAK Pendahuluan: Jumlah penduduk lansia di Indonesia cukup tinggi. Penuaan diketahui menyebabkan perubahan pada jumlah eritrosit dan indeks eritrosit. Namun, pengaruh penuaan pada jumlah eritrosit dan indeks eritrosit yakni Mean Corpuscular Volume (MCV), Mean Corpuscular Hemoglobin (MCH), dan Mean Corpuscular Hemoglobin Concentration (MCHC) belum pernah diteliti pada wanita sehat di Kota Malang sehingga perlu dilakukan.Metode: Penelitian studi Cross-sectional ini dilakukan pada individu wanita sehat yang dibagi dalam 2 kelompok yaitu kelompok dewasa muda usia (19-23 tahun, n=40) dan lansia (usia 59-66 tahun, n=40). Kedua kelompok dilakukan pemeriksaan darah lengkap dengan Hematology Auto Analyzer untuk menilai jumlah eritrosit dan indeks eritrositnya. Data dianalisis dengan uji Independent T-Test/Mann Whitney. Selanjutnya dilakukan uji korelasi Pearson/Spearman dengan p <0.05 dianggap signifikan.Hasil dan Pembahasan: Rata-rata jumlah eritrosit dewasa muda dan lansia didapatkan 4.91±0.47 vs 4.66±0.38 (p=0.040). Rata-rata indeks eritrosit dewasa muda dan lansia pada MCV adalah 85.05±4.34 vs 86.94±4.24 ( p= 0.122), MCH 28.39±1.55 vs 28.55±1.70 (p= 0.525) , dan MCHC 33.32±1.10 vs 32.90±1.33 (p= 0.107). Uji korelasi antara usia dengan jumlah eritrosit  didapatkan r= -0.150 (p= 0.185) sedangkan uji korelasi antara usia dengan indeks eritrosit pada MCV r= 0.174 (p=0.123), MCH r= 0,157 (p=0.164), dan MCHC r= -0.078 (p= 0.493). Hal ini  menunjukkan penuaan menurunkan jumlah eritrosit yang diduga karena lansia mengalami permasalahan produksi dan destruksi eritrosit.Kesimpulan: Penuaan menurunkan jumlah eritrosit namun tidak mempengaruhi indeks eritrosit.Kata Kunci : Usia, Penuaan, Eritrosit, Indeks Eritrosit
PENINGKATAN HASIL TIMED UP AND GO (TUG) TEST DAN MEAN ARTERIAL PRESSUREN (MAP) WANITA LANSIA SEHAT DI KOTA MALANG Qonitiya Nuriyah; fancy Brahma Adiputra; Rahma Triliana
Jurnal Kedokteran Komunitas Vol 10, No 2 (2022)
Publisher : Jurnal Kedokteran Komunitas (Journal of Community Medicine)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1043.967 KB)

Abstract

ABSTRAK Pendahuluan: Penuaan adalah tahapan kehidupan yang menunjukkan adanya penurunan fungsi dan dimulai setelah usia 50 tahun dengan ditandai penurunan massa tubuh dan kekuatan fisik yang dapat dideteksi dengan  Timed up and-go (TUG) test. Selain penurunan aktivitas fisik, hipertensi merupakan penyakit terbanyak yang terjadi pada lansia dan dapat diukur melalui pemeriksaan tanda-tanda vital. Penelitian ini dilakukan karena belum ada yang menilai perbedaan hasil TUG test dan perubahan tanda tanda vital pre dan post TUG test pada lansia dan usia dewasa muda sebagai kontrol.Metode: Penelitian Descriptive analytic studi Cross-sectional dilakukan pada dua kelompok penelitian yaitu wanita dewasa muda sebagai kontrol (n=40) dan wanita lansia (n=40). Responden diperiksa TUG dan tanda-tanda vital berupa tekanan darah, Mean Arterial Pressure (MAP) dan Heart Rate (HR) pre dan post TUG test. Data dianalisis dengan uji T-Test, Mann Whitney, Wilcoxon, Paired T-Test, dan Spearman Correlation. Nilai p<0.05 dianggap signifikan.Hasil: Nilai TUG test kelompok dewasa muda 9,32 ± 1,64 dan lansia 11,41 ± 1,52 (p=0.000). Nilai MAP kelompok dewasa muda 83,23 ± 6,37 dan lansia 97,70 ± 25,60 (p=0.000). Nilai HR kelompok dewasa muda 86,20 ± 10,21 dan lansia 83,30 ± 12,35 (p=0.000). Usia berkorelasi kuat dengan TUG test r=0.592 (p=0.000) dan MAP  r=0.652 (p=0.000), namun tidak berkorelasi dengan HR r=-0.200 (p=0.076). Hal ini menunjukkan penurunan mobiltas akibat penurunan kekuatan otot, penurunan fungsi vaskular akibat kekakuan arteri, dan penurunan penurunan aktivitas nodus sinoatrial myocytes.Kesimpulan: Penuaan meningkatkan hasil pemeriksaan TUG, MAP, namun menurunkan HR secara signifikan antara kelompok lansia dan kelompok dewasa muda sebagai kontrol.Kata Kunci : Penuan, TUG test, mean arterial pressure, heart rate
PERBANDINGAN DAN HUBUNGAN WILAYAH GEOGRAFIS DAN SARANA KESEHATAN PADA INSIDENSI SERTA PREVALENSI LEPRA DI KEPULAUAN MADURA Eryta Deka Wulan Agustin; Sri Herlina; Rahma Triliana
Jurnal Kedokteran Komunitas Vol 8, No 1 (2020)
Publisher : Jurnal Kedokteran Komunitas (Journal of Community Medicine)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (192.103 KB)

Abstract

Introduction : Leprosy is chronic infection caused by Mycobacterium leprae which can cause long-term disability. Paucibacillary (PB) and Multibacillary (MB) leprosy has high prevalence and incidence especially in Madura Island.  One of the factor that influence isgeographical area that can make many patients not covered by health services that provide health facilities and medical professionals. The effect of geographic area to prevalence and incidence of leprosy in Madura Islands has never been studied.Method : Cross-sectional study with secondary data acquired from Health Profile of Sumenep Regency. Sample in this research were collected from data leprosy patien in 2014 – 2018 in Sumenep Regency and Poteran Island that taken by  purposive sampling method. Results : There was comparison between health facilities and health workers in Sumenep and Poteran p=0,000. There was relation between health facilities and MB leprosy prevalence in Poteran 2014-2018 p=0,029. Health facilities and health workers had no relation with incidence and leprosy prevalence in Sumenep p=0,070 and p=0,099.Conclusion : There was relation between health facilities and MB leprosy prevalence in Poteran 2014-2018. There was relation between health workers in MB leprosy prevalence in Poteran Island at 2014-2018. Further research is needed to find other factors which affected on prevalence and incidence of leprosy. Keywords: Leprosy, Geographic Area, Incidence, Prevalence
PENGARUH KENDALI GLUKOSA TERHADAP SIKLUS TIDUR PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2 DI MALANG Verry Setiawan Primadhiputra; Rahma Triliana; Shinta Kusumawati
Jurnal Kedokteran Komunitas Vol 9, No 1 (2021)
Publisher : Jurnal Kedokteran Komunitas (Journal of Community Medicine)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (566.996 KB)

Abstract

Pendahuluan : Diabetes melitus (DM) merupakan penyakit degeneratif kronik yang ditandai dengan kondisi hiperglikemia. Salah satu komplikasinya adalah gangguan siklus tidur. Gangguan ini dapat dinilai dengan Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) dan Insomnia Severity Index (ISI). Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pengaruh kendali glukosa darah pada siklus tidur pasien DM tipe 2Metode : Penelitian analytic cross sectional study dengan menggunakan desain control group post test only subjek penelitian adalah laki-laki dan perempuan yang menderita DM tipe 2 tanpa komplikasi dengan usia diatas 40 tahun. Penentuan gangguan siklus tidur menggunakan metode wawancara dengan kuesioner PSQI dan ISI. Variabel penelitian dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu Kelompok Terkendali (KT) dan Kelompok Tidak Terkendali (KTT). Masing-masing kelompok akan ditentukan gangguan siklus tidur dengan menggunakan kuesioner PSQI untuk menilai kualitas tidur dan ISI untuk menilai tingkat insomnia. Data masing-masing kelompok dianalisa menggunakan uji Chi-square dilanjutkan dengan uji korelasi Spearman dengan tingkat signifikansi p<0.05.Hasil : Dari total 40 sampel, hasil dari PSQI pada KT kualitas tidur baik (12,5%), gangguan kualitas tidur ringan (5%), dan sedang (20%) sedangkan KTT baik (7,5%), ringan (20,0%), dan sedang (35%). Pada hasil ISI didapatkan KT normal (17,5%), insomnia ringan (15%), sedang (2,5%), dan berat (2,5%) sedangkan KTT normal (27,5%), insomnia ringan (25%), dan sedang (10%). Hasil uji Chi Square PSQI 0.178 (P>0,05) dan ISI 0.506 (P>0,05) yang menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara kendali glukosa dengan siklus tidur berdasarkan pengukuran PSQI dan ISI. Hasil uji korelasi Spearman PSQI 0,502 (P>0,05) dan ISI 0,881 (P>0,05). Tidak terdapat hubungan antara kendali glukosa dengan siklus tidur berdasarkan pengukuran PSQI dan ISI pada pasien DM tipe 2 di Malang.Kesimpulan : Kualitas tidur baik dan normal lebih banyak pada KT sedangkan gangguan kualitas tidur sedang dan insomnia sedang lebih banyak pada KTT. Pada penelitian ini tidak terdapat hubungan yang signifikan antara kendali glukosa dengan siklus tidur pada pasien DM tipe 2 di Malang.Kata Kunci : Kendali glukosa, ISI, PSQI, Diabetes Mellitus Tipe 2
DIABETES MELITUS TIPE 2 MENYEBABKAN PERUBAHAN HASIL SHORT PHYSICAL PERFORMANCE BATTERY (SPPB) TEST DI MALANG RAYA Qurrotu Ainayya; Fitria Nugraha Aini; Rahma Triliana
Jurnal Kedokteran Komunitas Vol 10, No 2 (2022)
Publisher : Jurnal Kedokteran Komunitas (Journal of Community Medicine)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (385.522 KB)

Abstract

ABSTRAK Pendahuluan: Diabetes Melitus Tipe 2 (DMT2) adalah penyakit yang ditandai adanya kondisi hiperglikemia dan mampu mengakibatkan terjadinya sarkopenia dan frailty syndrome (sindroma kelemahan). Sarkopenia dan frailty syndrome ditandai adanya penurunan performa fisik yang dapat diukur dengan SPPB test. Efek DMT2 pada skor SPPB test individu di Malang Raya belum pernah dilakukan sehingga pengkajian lebih lanjut perlu dilakukan.Metode: Penelitian dilakukan secara descriptive-analitic menggunakan pendekatan cross-sectional dengan teknik non-probability sampling tipe purposive sampling pada 60 responden yang dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu kelompok sehat (n=28) dan DMT2 (n=32). SPPB test diukur dengan tes keseimbangan, 4-m walking   test, dan chair stand test. Analisis data menggunakan uji komparasi, dilanjutkan uji korelasi dengan signifikansi p<0.05.Hasil dan Pembahasan: Tidak terdapat perbedaan signifikan pada skor tes keseimbangan (p=0.203). Nilai 4-m walking test kelompok sehat 5,425 ± 1,107 dan DMT2 6,738 ± 1,862 (p=0.005). Nilai chair stand test kelompok sehat 14,769 ± 3,18 dan DMT2 12,958 ± 4,87 (p=0.140). Terdapat perbedaan signifikan pada skor total SPPB test (p=0.027). Hasil uji korelasi HbA1c dengan tes keseimbangan adalah r=-0.158 (p=0.227), dengan 4-m walking   test adalah r=0.451 (p=0.000), dengan chair stand test adalah r=-0.044 (p=0.736), dan dengan skor total SPPB test adalah r=-0.353 (p=0.006). Hal ini menunjukkan pada DMT2 terjadi penurunan performa fisik melalui SPPB test.Kesimpulan: DMT2 menurunkan 4-m walking test dan skor total SPPB test, tetapi tidak mengubah hasil tes keseimbangan dan chair stand test pada individu lansia di Malang Raya.Kata Kunci : Diabetes Melitus Tipe 2; Sarkopenia; Frailty Syndrome; SPPB test 
LAJU FILTRASI GLOMERULUS MENURUN PADA WANITA LANSIA SEHAT DI KOTA MALANG TANPA PERUBAHAN KADAR KREATININ URIN Riki Nur Taufiq; Fitria Nugraha Aini; Rahma Triliana
Jurnal Kedokteran Komunitas Vol 10, No 2 (2022)
Publisher : Jurnal Kedokteran Komunitas (Journal of Community Medicine)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (310.084 KB)

Abstract

ABSTRAK Pendahuluan: Jumlah penduduk lanjut usia di Indonesia cukup tinggi. Salah satu perubahan pada proses menua adalah perubahan struktur dan fungsi ginjal. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui perbedaan laju filtrasi glomerulus (LFG), kreatinin urin dan kreatinin serum pada lansia dan dewasa muda sebagai deteksi dini penyakit pada ginjal yang belum dilakukan sehingga peneliti perlu melakukan penelitian.Metode: Studi Cross Sectional dengan sampel wanita usia dewasa muda dan lansia. Pengambilan sampel darah tepi dan urin digunakan sebagai bahan untuk mengukur kadar kreatinin urin dan kreatinin serum yang diukur dengan metode Jaffe reaction, pemeriksaan LFG dikalkulasi dengan rumus Cockroft and Gault.Hasil dan Pembahasan: Rata – rata LFG dewasa muda dan lansia adalah 108.93±19.94 vs 68±17 (p=0,000). Rata – rata kreatinin urin dewasa muda dan lansia adalah 142,29±91,37 vs 101,61±68,83 (p=0,181). Rata – rata kreatinin serum dewasa muda dan lansia adalah 0,73±0,11 vs 0,80±0,12 (p=0,017).  Hubungan tidak searah kuat didapatkan pada usia dan LFG r=-0,686 (p=0,000), lemah pada usia dan kreatinin urin r=-0,153 (P=0,181). Hubungan searah kreatinin serum dan usia dengan kekuatan lemah r=0,205 (p=0,017). Hal ini menunjukan adanya penurunan fungsi ginjal yang terjadi akibat perubahan pada nefron seiring dengan bertambahnya usia.Kesimpulan: Penuaan berpengaruh pada nilai laju filtrasi glomerulus namun tidak berpengaruh pada kreatinin urin wanita sehat di kota Malang. Kata Kunci: Usia, Penuaan, Laju Filtrasi Glomerulus, Kreatinin Urin, Kreatinin Serum
PENURUNAN KADAR ION KALSIUM DARAH DAN MASSA TULANG DENGAN PENGUKURAN BIOELECTRICAL IMPEDANCE ANALYSIS (BIA) PADA WANITA LANSIA SEHAT DI KOTA MALANG Luthfiyyah Dewi Heriyanto; fancy Brahma Adiputra; Rahma Triliana
Jurnal Kedokteran Komunitas Vol 10, No 2 (2022)
Publisher : Jurnal Kedokteran Komunitas (Journal of Community Medicine)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1.585 KB)

Abstract

ABSTRAK Pendahuluan: Lanjut usia adalah individu berusia lebih dari 59 tahun yang jumlahnya terus meningkat. Penuaan  secara fisiologis dapat meningkatkan risiko penyakit degeneratif termasuk kelainan tulang dan sendi. Penurunan esterogen pada wanita menopause dapat menurunkan massa tulang dan mengganggu absorbsi kalsium di usus. Penelitian menggunakan Bioelectrical  Impedence Analysis (BIA) sebagai alat ukur massa tulang belum pernah dilakukan sebelumnya sehingga perlu diteliti.Metode: Penelitian metode Descriptive Analytic dengan pendekatan Cross Sectional dengan responden wanita sehat di Kota Malang yang dibagi menjadi dua kelompok yaitu wanita dewasa muda usia 19-23 tahun dan lansia usia 59-66 tahun. Kadar ion kalsium darah diukur dengan Atomic Absorbtion Spectroscopi (AAS) dan massa tulang diukur  dengan  Bioelectrical Impadance Analysis (BIA). Hasil dianalisa dengan uji Mann-Whitney dan p<0,05 dianggap signifikanHasil dan Pembahasan: Kadar ion kalsium wanita dewasa muda dan lansia adalah 9.420±0.374 vs 9.670±0.329 (p=0.003). Nilai massa tulang wanita dewasa muda dan lansia adalah 2.1800±0.31801 vs 1.969±0.2901 (p=0.006). Hasil uji korelasi usia dengan kadar ion kalsium r=-0.276 (p=0.013) dan massa tulang r=-0.279 (p<0.012). Hal ini menunjukkan bahwa kalsium dan massa tulang akan menurun dengan proses penuaan yang diduga terjadi akibat penurunan absorbsi ion kalsium di usus dan peningkatan eksresi kalsium di ginjal serta tidak terjadinya remodeling tulang.Kesimpulan: Penuaan menurunkan kadar ion kalsium darah dan massa tulang pada wanita lansia sehat di Kota MalangKata Kunci : Usia, penuaan, kalsium darah, massa tulang
Result Comparison of Fecal Occult Blood Test between FOBT Hb and FOBT Hb tambah Tranferrin in Detecting Upper Gastrointestinal Tract Bleeding Anik Widijanti; Sri Sulistiandari; Tony Hariyanto; Rahma Triliana
The Indonesian Journal of Gastroenterology, Hepatology, and Digestive Endoscopy VOLUME 11, NUMBER 1, April 2010
Publisher : The Indonesian Society for Digestive Endoscopy

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24871/11120102-6

Abstract

Background: Immunological fecal occult blood test (FOBT) using anti human hemoglobin (Hb) has a low sensitivity in detecting upper gastrointestinal (GI) bleeding, due to Hb degradation. Transferrin (Tf) is more stable in stool when compared to Hb, provides an alternatives on diagnosing upper GI bleeding. This study aim to determine the advantage of FOBT Hb + Tf in detecting upper GI bleeding compared with FOBT Hb alone. Method: This study was conducted by comparing the diagnostic value of Rapid Immunochromatographic FOBT that use anti-human Hb alone, with the one using combination of anti human Hb Tf simultaneously in detecting upper GI bleeding. Stool sample from 48 patients with upper GI bleeding and 29 controls (without any upper GI bleeding) were collected then tested with both FOBT Methods. Endoscopy study was used as gold standard endoscopy to determine test’s diagnostic value. Result: In detecting upper GI bleeding, the sensitivity of FOBT Hb + Tf (85.42%) was higher than FOBT Hb (29.17%). The specifity of both Methods were accurate at 89.66% and 93.10% respectively. Positive predictive values (PPV) for both Methods were also good at 93.18% and 87.50% while negative predictive value (NPV) FOBT Hb + Tf (78.79%) were higher than FOBT Hb (44.26%). Conclusion: Between these two test Methods on detecting upper GI bleeding, FOBT Hb + Tf has higher sensitivity, PPV and NPV value compared to FOBT Hb. It is advisable to use FOBT Hb + Tf for upper GI bleeding screening. Keywords: FOBT, immunochromatography, hemoglobin, transferrin, upper GI bleeding
PENURUNAN KADAR HEMOGLOBIN TANPA PERUBAHAN KADAR ZAT BESI SERUM PADA WANITA LANSIA SEHAT DI KOTA MALANG Nurbella Sannyngtyas; Yeni Amalia; Rahma Triliana
Jurnal Kedokteran Komunitas Vol 10 No 2 (2022)
Publisher : Jurnal Kedokteran Komunitas (Journal of Community Medicine)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Pendahuluan: Anemia Defisiensi Besi (ADB) adalah penurunan kadar Hb karena kurangnya zat besi serum yang sering terjadi di Indonesia. Lansia memiliki resiko anemia lebih besar dibanding usia muda terutama wanita. Penelitian ini mengambil responden usia tua dan muda dengan gap kurang lebih 40 tahun untuk mengetahui perbedaan kadar zat besi serum dan Hb pada dua kondisi usia.Metode: Penelitian ini merupakan studi deskriptif jenis Cross-sectional dengan responden wanita sehat yang dibagi dalam 2 kelompok, yaitu kelompok dewasa muda (n=40) dan lansia(n=40). Kadar zat besi serum diukur dengan metode Spektrofotometri Serapan Atom (SSA) dan kadar Hb dengan menggunakan metode flow cytometry. Data zat besi serum dianalisis dengan uji Independent T-Test, sedangkan data Hb dianalisis dengan uji Mann-Whitney. Uji korelasi Spearman digunakan untuk menilai hubungan antar variabel yang ada dengan p<0.05 dianggap signifikan.Hasil dan Pembahasan: Kadar zat besi serum dewasa muda dan lansia didapatkan 72.400±26.467 vs 82.700±21.670 (p=0.061). Kadar hemoglobin dewasa muda dan lansia didapatkan 13.905±1.671 vs 13.105±0.991 (p=0.008). Uji korelasi usia dengan kadar zat besi serum didapatkan r=0.246 (p=0.028), sedangkan hasil uji korelasi usia dengan kadar Hb didapatkan r=-0.137 (p=0.226). Hal ini menunjukkan penurunan kadar Hb lansia yang terjadi karena lansia mengalami penurunan fungsi ginjal, sehingga berdampak pada penurunan produksi hormon eritropoietin hingga membuat jumlah eritrosit dan kadar Hb ikut menurun.Kesimpulan: Penuaan berperan dalam penurunan kadar hemoglobin (Hb), namun tidak mempengaruhi kadar serum zat besi.Kata Kunci : Usia, Penuaan, Serum Zat Besi, Hemoglobin (Hb).
PENINGKATAN HASIL TIMED UP AND GO (TUG) TEST DAN MEAN ARTERIAL PRESSUREN (MAP) WANITA LANSIA SEHAT DI KOTA MALANG Qonitiya Nuriyah; fancy Brahma Adiputra; Rahma Triliana
Jurnal Kedokteran Komunitas Vol 10 No 2 (2022)
Publisher : Jurnal Kedokteran Komunitas (Journal of Community Medicine)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Pendahuluan: Penuaan adalah tahapan kehidupan yang menunjukkan adanya penurunan fungsi dan dimulai setelah usia 50 tahun dengan ditandai penurunan massa tubuh dan kekuatan fisik yang dapat dideteksi dengan  Timed up and-go (TUG) test. Selain penurunan aktivitas fisik, hipertensi merupakan penyakit terbanyak yang terjadi pada lansia dan dapat diukur melalui pemeriksaan tanda-tanda vital. Penelitian ini dilakukan karena belum ada yang menilai perbedaan hasil TUG test dan perubahan tanda tanda vital pre dan post TUG test pada lansia dan usia dewasa muda sebagai kontrol.Metode: Penelitian Descriptive analytic studi Cross-sectional dilakukan pada dua kelompok penelitian yaitu wanita dewasa muda sebagai kontrol (n=40) dan wanita lansia (n=40). Responden diperiksa TUG dan tanda-tanda vital berupa tekanan darah, Mean Arterial Pressure (MAP) dan Heart Rate (HR) pre dan post TUG test. Data dianalisis dengan uji T-Test, Mann Whitney, Wilcoxon, Paired T-Test, dan Spearman Correlation. Nilai p<0.05 dianggap signifikan.Hasil: Nilai TUG test kelompok dewasa muda 9,32 ± 1,64 dan lansia 11,41 ± 1,52 (p=0.000). Nilai MAP kelompok dewasa muda 83,23 ± 6,37 dan lansia 97,70 ± 25,60 (p=0.000). Nilai HR kelompok dewasa muda 86,20 ± 10,21 dan lansia 83,30 ± 12,35 (p=0.000). Usia berkorelasi kuat dengan TUG test r=0.592 (p=0.000) dan MAP  r=0.652 (p=0.000), namun tidak berkorelasi dengan HR r=-0.200 (p=0.076). Hal ini menunjukkan penurunan mobiltas akibat penurunan kekuatan otot, penurunan fungsi vaskular akibat kekakuan arteri, dan penurunan penurunan aktivitas nodus sinoatrial myocytes.Kesimpulan: Penuaan meningkatkan hasil pemeriksaan TUG, MAP, namun menurunkan HR secara signifikan antara kelompok lansia dan kelompok dewasa muda sebagai kontrol.Kata Kunci : Penuan, TUG test, mean arterial pressure, heart rate