Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search
Journal : e-CliniC

GAMBARAN PENGETAHUAN PETUGAS KESEHATAN TERHADAP HEPATITIS B DI RSUP PROF. R. D. KANDOU MANADO Hutapea, Elia A. P.; Umboh, Adrian; Wilar, Rocky; Rampengan, Novie H.
e-CliniC Vol 2, No 3 (2014): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.2.3.2014.5745

Abstract

Abstract: Hepatitis is the process of inflammation and or necrosis of liver tissue that can be caused by infections, drugs, toxins, metabolic disorders, and autoimmune disorders. Hepatitis is a world problem as it attacks billion of people, especially in developing countries. Based on Indonesia’s Health Profile, the coverage of hepatitis B immunization in Indonesia is around 59.19%, but the incidence of hepatitis B in various areas is still growing every year. WHO states that, Indonesia is included in a group with moderate and severe epidemic. Wiharta and friends reports that in Jakarta, there is 1 in 20 pregnant women that has positive HBsAg and the sufferer has high infectiousness. It requires proper knowledge of public health from the officers such as doctors, nurses, and co-ass to reduce the number of mortality due to these diseases. The purpose of this study is to acknowledge the comprehension description of health officers and it’s relation to education, training, and work experience at Prof. R. D. Kandou hospital, Manado. Methods: This study is conducted using a cross sectional design with observational approach, in this case it is done by observation and questionnaires. Data analysis used in this study is univariate analysis. Samples of 60 people. Results: In the results obtained from 60 health officers, there are 56 people of them have good knowledge on hepatitis B. As for the other health officers with sufficient knowledge on Hepatitis B consists of 4 people. Conclusion: Health officers at Prof. R D Kandou hospital have a good knowledge on hepatitis B. Keywords: Knowledge, Hepatitis B, Health Officer, Mortality.   Abstrak: Hepatitis adalah proses terjadinya inflamasi dan atau nekrosis jaringan hati yang dapat disebabkan oleh infeksi, obat-obatan, toksin, gangguan metabolik, maupun kelainan autoimun. Hepatitis adalah masalah dunia karena menyerang miliaran manusia, terutama di negara berkembang.Berdasarkan Profil Kesehatan Indonesia, cakupan imunisasi hepatitis B di Indonesia sebesar 59,19%, namun angka kejadian hepatitis B di berbagai daerah masih meningkat setiap tahunnya. WHO menyatakan  bahwa, Indonesia termasuk kelompok daerah dengan epidemisitas sedang dan berat. Wiharta dkk. melaporkan, di Jakarta 1 di antara 20 ibu hamil mengandung HBsAg positif dan pengidap tersebut mempunyai daya tular tinggi. Untuk itu diperlukan pengetahuan dari petugas kesehatan seperti dokter umum, perawat, dan co-ass untuk menekan angka morbilitas dari penyakit ini. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran pengetahuan petugas kesehatan dan hubungan penegtahuan petugas kesehatan yaitu tentang pendidikan, pelatihan, dan  pengalaman kerja di RSUP Prof. R. D. Kandou Manado. Metode: Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan desain cross sectional dengan pendekatan observasional, dalam hal ini dilakukan dengan pengamatan dan pengisian kuesioner. Analisis data yang digunakan adalah analisis univariat. Sampel berjumlah 60 orang. Hasil: Darihasilyang didapatkan dari 60 orang petugas kesehatan terdapat 56 orang yang memiliki pengetahuan baik tentang Hepatitis B. Sedangkan untuk petugas kesehatan dengan penegetahuan yang cukup terhadap Hepatitis B berjumlah 4 orang. Simpulan: Petugas kesehatan di RSUP Prof. R.D.Kandou memiliki pengetahuan yang baik terhadap penyakit Hepatitis B. Kata kunci: Pengetahuan, Hepatitis B, Petugas Kesehatan, Morbilitas.
HUBUNGAN KEBIASAAN MANDI DI SUNGAI DENGAN INFEKSI SALURAN KEMIH PADA ANAK DI KELURAHAN SINDULANG 1 Rompis, Johnny; Kusumanarwasti, Chensilya; Umboh, Adrian
e-CliniC Vol 1, No 2 (2013): Jurnal e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.1.2.2013.3290

Abstract

Abstrak: Infeksi saluran kemih (ISK) pada anak merupakan salah satu masalah kesehatan yang paling sering terjadi, dengan angka kejadian yang hanya sedikit lebih rendah dibandingkan ISPA dan infeksi digestif. Salah satu keadaan penting yang perlu diperhatikan pada gejala ISK adalah bakteriuria. Bakteriuria adalah suatu keadaan dimana bakteri dapat ditemukan didalam urin, tetapi keadaan ini tidak selalu berarti ISK. Bakteri gram negatif, khususnya Eschericia coli merupakan penyebab utama ISK (85-90%). Survei awal yang dilakukan peneliti di kelurahan Sindulang 1, kecamatan Tuminting, kota Manado, menduga bahwa sungai Tondano di daerah tersebut tercemar E.coli. Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan pendekatan potong lintang (cross sectional). Penelitian dilakukan di kelurahan Sindulang 1, kecamatan Tuminting, kota Manado, selama bulan November sampai Desember 2012, dengan sampel adalah 60 anak yang berusia antara 5-12 tahun. Hasil penelitian yang diperoleh, terdapat 39 orang anak yang memiliki kebiasaan mandi di sungai dan 21orang anak tidak memiliki kebiasaan mandi disungai.  39 orang yang mandi di sungai, didapatkan 2 orang anak yang positif menderita ISK. Hasil statistik menunjukan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara mandi di sungai dengan kejadian ISK. Kata kunci: kebiasaan mandi di sungai, ISK, urinalisis     Abstract: Urinary tract infections (UTI) in children is one of the most common health problems, the incidence is only slightly lower than the respiratory and digestive infections. One of the most important conditions that need attention from some symptoms of UTI is bacteriuria. Bacteriuria is a condition in which bacteria can be found in the urine, but this situation does not always mean UTI. Gram-negative bacteria, especially Escherichia coli is the leading cause of UTI (85-90%). Preliminary survey conducted by researchers at the Sindulang 1 village, of the Tuminting district, of the city of Manado, suspect that the Tondano river is polluted by E.coli. This was an observational analytic study with cross-sectional approach. The study was conducted in the Sindulang 1 village, of the Tuminting district, of the city of Manado, during November and December 2012, the sample was 60 children aged between 5-12 years. The results obtained, there are 39 childrens who have a river bathing habit and 21 child doesn?t. 39 people who bathe in the river, got 2 children who were positive for UTI. Subjects suffering from UTI confirmed by performing urinalysis, where meaningful results if leukocytes is  ? 5 WBC/hpf. From the statistical showed that there is a significant relationship between bathing in the river with the incidence of UTI. Keywords: river bathing habits, UTI, urinalysis
HUBUNGAN ASPEK KLINIS DAN LABORATORIUM DENGAN TIPE SINDROM NEFROTIK PADA ANAK Mamesah, Robin Samuel; Umboh, Adrian; Gunawan, Stevanus
e-CliniC Vol 4, No 1 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.4.1.2016.10981

Abstract

Abstract: Nephrotic Syndrome (NS) is one of the most frequent glomerular diseases in children marked with proteinuria, hypoalbuminaemia, and edema with or without hypercholesterolemia. Approximately there are six cases of NS per year every 100.000 child aged less than 14 years old in Indonesia with ratio between males and females 2:1. Based on therapy, NS is categorized into Steroid Sensitive Nephrotic Syndrome (SSNS) and Steroid Resistant Nephrotic Syndrome (SRNS). This study aimed to obtain the relationship between clinical and laboratory aspects with NS type in children. This was a retrospective analytical study conducted by using SSNS and SRNS patient data of the medical record in Department of Pediatric Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado. Daya were categorized into identity, age, blood pressure, proteinuria, hematuria, as well as albumin and cholesterol levels. The results showed that there were 29 SN patients (18 patients of SSNS and 11 patients of SRNS) consisted of 17 males (59%) and 12 females (41%). The statistical analysis showed that there was no significant correlation among sex (p=0.064), age (p=0.064), edema (p=0.138), systolic pressure (0.283), diastolic pressure (p=0.701), proteinuria (p=0.999), hematuria (p=0.060), albumin (p=0.175), and cholesterol (p=0.814) in both of SSNS and SRNS patients. Conclusion: There was no relationship between sex, age, blood pressure, proteinuria, hematuria, albumin, and cholesterol related to SSNS and SRNS. Keywords: nephrotic syndrome, proteinuria, SSNS, SRNS Abstrak: Sindrom nefrotik (SN) adalah salah satu penyakit glomerulus yang sering ditemukan pada anak, yang ditandai dengan proteinuria, hipoalbuminemia, dan edema dengan atau tanpa hiperkolesterolemia. Diperkirakan enam kasus per tahun tiap 100.000 anak kurang dari 14 tahun di Indonesia dengan perbandingan antara laki-laki dan perempuan 2:1. Sindrom nefrotik berdasarkan respon terapinya terbagi menjadi sindrom nefrotik sensitif steroid (SNSS) dan sindrom nefrotik resisten steroid (SNRS). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan aspek klinis dan laboratorium dengan tipe SN pada anak. Jenis penelitian ini analitik retrospektif pada pasien SNSS dan SNRS berdasarkan data rekam medik di Bagian Ilmu Kesehatan Anak RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. Data dikumpulkan meliputi identitas, usia, tekanan darah, proteinuria, edema, hematuria, hematuria, serta kadar albumin dan kolesterol. Hasil penelitian memperlihatkan 29 pasien SN terdiri dari 18 pasien SNSS dan 11 pasien SNRS. Laki-laki sebanyak 17 kasus (59%) dan perempuan 12 kasus (41%). Tidak didapatkan hubungan pada jenis kelamin (p=0,064), usia (p=0,064), edema (p=0,138), tekanan darah sistolik (p=0,283), tekanan darah diastolik (p=0,701), proteinuria (p=0,999), hematuria (p=0,060), albumin (p=0,175), kolesterol (p=0,814) pada kedua kelompok. Simpulan: Tidak terdapat hubungan antara jenis kelamin, usia, tekanan darah, proteinuria, hematuria albumin dan kolesterol dengan SNSS dan SNRS.Kata kunci: sindrom nefrotik, proteinuria, SNSS, SNRS.
Analisis Faktor Risiko Glomerulonefritis Akut Pasca Streptokokus pada Anak Di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado Tatipang, Pirania Ch.; Umboh, Adrian; Salendu, Praevilia M.
e-CliniC Vol 5, No 2 (2017): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v5i2.18508

Abstract

Abstract: Acute post-streptococcal glomerulonephritis (APSGN) is a part of acute nephritic syndrome characterized by gross hematuria, edema, hypertension, and renal insufficiency. This APSGN is common in children, caused by infection of Streptococcus β-hemoliticus group A nephritogenic strain, and 97% of cases were in developing countries including Indonesia. This study was aimed to obtain the risk factors of APSGN and their association with APSGN. This was a retrospective descriptive study with a cross sectional design. Samples were medical record data of Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado during the period of January 2013-October 2017. There were 67 samples in this study consisted of 48 (71.6%) cases of APSGN and 19 (25.3%) cases without APSGN. The bivariate analysis found five variables related to APSGN incidence, as followed: male gender (P =0.005), age ≥5 years (P=0.000), low socioeconomic status (P=0.000), good nutrition (P =0.000), and rainy season (P=0.005). Parents’ education was not related to APSGN incidence. Conclusion: The risk factors of APSGN in children were male gender, age ≥5 years, low socioeconomic status, good nutritional status, and rainy season.Keywords: APSGN, risk factors, childrenAbstrak: Glomerulonefritis akut pasca streptokokus (GNAPS) adalah bagian dari sindrom nefrotik akut (SNA) yang ditandai dengan gross hematuria, edema, hipertensi, dan insufisiensi ginjal. Gangguan ini sering terjadi pada anak-anak, disebabkan oleh infeksi kuman Streptococcus β-hemolyticus group A strain nephritogenic, dan 97% kasus terjadi di negara berkembang termasuk Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor risiko GNAPS dan hubungan faktor risiko tersebut dengan kejadin GNAPS. Jenis peneltiian ialah deskriptif retrospektif dengan desain potong lintang. Pengambilan sampel menggunakan data rekam medik RSUP Prof. R. D. Kandou Manado periode Januari 2013-Oktober 2017. Terdapat 67 sampel terdiri dari 48 (71,6%) kasus GNAPS dan 19 (25,3%) kasus yang tidak mengalami GNAPS. Berdasarkan analisis bivariat di temukan 5 varibel yang berhubungan dengan kejadian GNAPS yaitu jenis kelamin laki-laki P=0,005), usia ≥5 tahun (P=0,000), status sosial ekonomi rendah (P=0,000), gizi baik (P=0,000), dan musim hujan (P=0,005). Faktor risiko yang tidak berhubungan dengan kejadian GNAPS ialah pendidikan orang tua (P=0,20). Simpulan: Faktor risiko GNAPS pada anak ialah jenis kelamin laki-laki, usia ≥5 tahun, status sosial ekonomi rendah, status gizi, dan musim hujan.Kata Kunci: GNAPS, faktor risiko, anak
Hubungan enuresis dengan kejadian leukosituria pada siswa sekolah dasar Roring, Angie G.; Umboh, Adrian .; Wilar, Rocky .
e-CliniC Vol 4, No 1 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v4i1.11687

Abstract

Abstract: Enuresis refers to the involuntary excretion of urine that occurs during urination which is expected to have already been attained. Enuresis is divided into nocturnal enuresis and diurnal enuresis. Nocturnal enuresis (sleep wetting) is enuresis which occurs at night while enuresis diurnal (awake wetting) is enuresis which occurs during the day. The presence of leukocytes in urine that exceeds the normal value is called leukocyturia which is a sign of inflammation of the urinary tract (kidneys, ureter, bladder, and urethra). This study aimed to obtain the relationship between leukocyturia and enuresis among primary school students aged 5-10 years in SDN 4 and SDN 8 Wawalintouan Tondano. This was an observational analytical study with a cross sectional approach. Samples were obtained by using purposive sampling method. There were 60 urine samples of children of SDN 4 and SDN 8 Wawalintouan, Tondano. The results showed that of the 60 students, there were 34 males (56.7%) and 26 females (43.3%). Based on gender, there were 29 males (61.7%) with negative leukocyturia and 5 males (38.5%) with positive leukocyturia; among females there were 18 females (38.3%) with negative leukocyturia and 8 females (61,5%) with positive leukocyturia Based on enuresis, the distribution of leukocyturia showed 7 students (53,8%) with enuresis and positive leukocyturia, meanwhile of those without enuresis there were 6 students (46,2%) with positive leukocyturia. Conclusion: There was no relationship between the incidence of enuresis and leukocyturia among primary school students aged 5-10 years in SDN 4 and SDN 8 Wawalintouan Tondano.Keywords: enuresis,leukosituria,urinalysis. Abstrak: Enuresis merupakan pengeluaran air kemih yang tidak disadari yang terjadi pada saat proses berkemih diharapkan sudah tercapai. Enuresis di bagi atas enuresis nokturnal dan enuresis diurnal. Enuresis nokturnal (sleep wetting) merupakan enuresis yang terjadi pada malam hari sedangkan enuresis diurnal (awake wetting) adalah enuresis yang terjadi pada siang hari. Terdapatnya leukosit dalam urin melebihi nilai normal disebut leukosituri yang merupakan salah satu tanda adanya peradangan pada saluran kemih (mencakup ginjal, ureter, kandung kemih, dan uretra). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara enuresis dengan kejadian leukosituria pada siswa sekolah dasar usia 5-10 tahun di SDN 4 dan SDN 8 Wawalintouan Tondano. Jenis penelitian ini analitik observasional dengan desain potong lintang. Sampel diperoleh dengan metode purposive sampling yang dilaksanakan dengan mengambil sampel urin anak-anak sekolah dasar di SDN 4 dan SDN 8 Wawalintouan Tondano. Hasil penelitian memperlihatkan dari 60 sampel terdapat 34 anak laki-laki (56,7%) dan 26 anak perempuan (43,3%). Dari distribusi leukosituria berdasarkan jenis kelamin didapatkan anak laki-laki dengan leukosituria negatif berjumlah 29 anak (61,7%) dan dengan leukosituria positif 5 anak (38,5%), sedangkan anak perempuan dengan leukosituria negatif berjumlah 18 anak (38,3%) dan yang leukosituria positif 8 anak (61,5%). Distribusi leukosituria berdasarkan enuresis didapatkan 7 anak (53,8%) yang enuresis dengan leukosituria positif, sedangkan yang tidak enuresis didapatkan 6 anak (46,2%) dengan leukosituria positif. Simpulan: Tidak terdapat hubungan antara enuresis dengan kejadian leukosituria pada siswa sekolah sekolah dasar usia 5-10 tahun di SDN 4 dan SDN 8 Wawalintouan Tondano. Kata kunci: enuresis, leukosituria, urinalisis
Faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian kelainan bawaan pada neonatus di RSUP Prof Dr. R. D. Kandou Manado Polii, Evan G.; Wilar, Rocky; Umboh, Adrian
e-CliniC Vol 4, No 2 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.4.2.2016.14466

Abstract

Abstract: Nowadays, problems of the quality of the child life is the main priority in national health program, inter alia congenital anomaly which is defined as structural or functional anomaly (example metabolic disorders) that occurs during intrauterine life and can be identified before birth, at birth, or after birth. This study was aimed to find out the risk factors that related to the occurrence of congenital anomalies in the neonati at Prof . Dr. R. D. Kandou Hospital Manado. This was a descriptive retrospective study. Total samples were 66 neonates that fulfilled the inclusion criteria as follows: neonates who were born and taken cared at Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado. The results showed that maternal risk factors had a major role to the occurrence of congenital anomalies. Conclusion: Maternal infection during pregnancy was the most common risk factor, however, several congenital anomalies had unknown risk factor.Keywords: neonates, congenital anomalies, maternal risk factor Abstrak: Pada zaman sekarang ini masalah kualitas hidup anak merupakan prioritas utama bagi program kesehatan nasional. Salah satu faktor yang memengaruhi kualitas hidup anak ialah adanya kelainan bawaan yaitu anomali struktural atau fungsional (misalnya gangguan metabolisme) yang terjadi selama hidup intrauterin dan dapat diidentifikasi sebelum lahir, saat lahir, atau di kemudian hari. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian kelainan bawaan pada neonatus di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. Jenis penelitian ialah deskriptif retrospektif. Sampel sebanyak 66 neonati dengan kriteria inklusi neonatus yang lahir dan dirawat di RSUP Prof Dr. R. D. Kandou Manado. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa faktor risiko ibu berperan penting terhadap kejadian kelainan bawaan. Simpulan: Infeksi ibu selama kehamilan merupakan faktor risiko ibu yang paling sering ditemukan pada kelainan bawaan. Walalupun demikian, terdapat juga faktor-faktor yang tidak diketahui yang memengaruhi kejadian kelainan bawaan. Kata kunci: neonatus, kelainan bawaan, faktor risiko ibu
HUBUNGAN FAKTOR GENETIK DENGAN TEKANAN DARAH PADA REMAJA Kalangi, Jane A.; Umboh, Adrian; Pateda, Vivekenanda
e-CliniC Vol 3, No 1 (2015): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v3i1.6602

Abstract

Abstract: Essential hypertension is more commonly found in adolescent than in younger children and is strongly associated with genetic factor and obesity. Genes that play important role in hypertension mechanism are classified into genes that affect the natrium homeostasis in kidney, which include the I/D polymorphism ACE (Angiotensin Converting Enzyme) gene, and genes that affect steroid metabolism. Adolescents with hypertensive parents have higher risk of developing hypertension than those without familial history of hypertension. The aim of this research is to study the relationship between genetic factor (family history of hypertension) and blood pressure of adolescents. This was an analytic observational study with a cross sectional design. It was conducted in November- December 2014 at SMP Negeri 8 Malalayang. Samples were students with good nutritional status who are registered in that particular school and are given permission by their parents to participate in the study. There were 80 students who were involved in the study. Questionnaires were distributed to the students to know the existence of family history of hypertension especially in their parents and then the students’ blood pressure were measured. The data obtained is analyzed using Fisher’s Exact Test with SPSS program. The results showed that according to Fisher’s Exact Test, there was no significant relationship between genetic factor and blood pressure in adolescent. (p = 0.154 > 0.05). Conclusion: There was no relationship between genetic factor (hypertensive parents) and blood pressure in adolescent.Keywords: genetic factor, blood pressure, hypertension, adolescentAbstrak: Hipertensi esensial lebih sering ditemukan pada remaja dibandingkan dengan anak-anak dan dikaitkan erat dengan faktor genetik dan obesitas. Gen-gen yang berperan dalam mekanisme hipertensi dibagi menjadi gen yang mempengaruhi homeostasis natrium di ginjal, termasuk polimorfisme I/D gen ACE (Angiotensin Converting Enzyme) dan gen yang mempengaruhi metabolisme steroid. Remaja dengan orangtua hipertensif mempunyai resiko untuk mendapat hipertensi lebih tinggi dibandingkan anak dengan orangtuanya yang normotensif. Tujuan dari penelitian adalah untuk mengetahui hubungan faktor genetik (riwayat hipertensi dalam keluarga) dengan tekanan darah. Penelitian ini bersifat observasional analitik dengan rancangan potong lintang. Penelitian ini dilakukan pada bulan November – Desember 2014 di Sekolah Menengah Pertama Negeri 8 Malalayang. Sampel penelitian yaitu siswa yang memenuhi kriteria inklusi yaitu anak dengan status gizi baik yang tercatat di register sekolah serta mendapat izin dari orangtua untuk mengikuti penelitian. Subjek penelitian berjumlah 80 siswa. Kuesioner dibagikan untuk mengetahui riwayat hipertensi dalam keluarga terutama pada orang tua lalu tekanan darah anak diukur. Data yang diperoleh dianalisa menggunakan Fisher’s Exact Test dengan bantuan program SPSS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan uji Fisher’s exact, tidak terdapat hubungan yang signifikan antara faktor genetik (riwayat hipertensi dalam keluarga) dengan tekanan darah pada remaja (nilai p = 0,154 > 0.05). Simpulan: Tidak terdapat hubungan antara faktor genetik (orang tua yang hipertensi) dengan tekanan darah pada remajaKata kunci: faktor genetik, tekanan darah, hipertensi, remaja
Gambaran Penyakit Jantung Bawaan di Neonatal Intensive Care Unit RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado Periode 2013 - 2017 Manopo, Berry R.; Kaunang, Erling D.; Umboh, Adrian
e-CliniC Vol 6, No 2 (2018): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v6i2.22124

Abstract

Abstract: Congenital heart disease (CHD) is a structural heart defect that results from abnormal embryological heart development, or persistence of some parts of the fetal circulation at birth. Congenital heart disease is divided into two categories, namely non-cyanotic congenital heart disease and cyanotic congenital heart disease. Congenital heart disease is caused by interactions between predisposing exogenous factors and endogenous factors. This study was aimed to obtain the profile of CHD in the Neonatal Intensive Care Unit (NICU) of Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado in the period 2013 - 2017. This was a retrospective descriptive study using medical record data of patients suffering from CHD in NICU from 2013 to 2017. The results showed that there were 27 patients suffering from CHD consisting of 24 non-cyanotic CHD patients (88.89%) and 3 cyanotic CHD patients (11.11%), and the highest incidence was Atrial Septal Defect (ASD) as many as 17 babies (62.96%). Congenital heart disease was more common in males as many as 18 babies (66.67%). In this study, the clinical symptoms oftenly found was shortness of breath (48.15%) and the most common diagnosis was pneumonia (48.15%). Conclusion: The most common CHD was non-cyanotic CHD. The most commonly found defect was ASD. Clinical symptoms that often arised was shortness of breath, pneumonia was the most common comorbid diagnosis, and the dominant gender of CHD was male.Keywords: non-cyanotic CHD, cyanotic CHD, atrial septal defect Abstrak: Penyakit jantung bawaan (PJB) merupakan defek jantung struktural yang terjadi akibat perkembangan jantung embriologis yang abnormal, atau persistensi dari beberapa bagian dari sirkulasi fetus saat lahir. Penyakit ini dibagi menjadi dua kategori yaitu penyakit jantung bawaan non sianosis dan yang sianosis. Penyakit jantung bawaan disebabkan oleh interaksi antara predisposisi faktor eksogen dan faktor endogen. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran penyakit jantung bawaan di Neonatal Intensive Care Unit (NICU) RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado periode 2013-2017. Jenis penelitian ialah deskriptif retrospektif dengan menggunakan data rekam medik pasien yang menyandang penyakit jantung bawaan di NICU periode 2013-2017. Hasil penelitian mendapatkan dari 27 pasien dengan PJB, ditemukan PJB non sianotik berjumlah 24 bayi (88,89%) dan PJB sianotik berjumlah 3 bayi (11,11%) dengan angka kejadian terbanyak pada atrial septal defek (ASD) berjumlah 17 bayi (62,96%). Penyakit jantung bawaan paling banyak terjadi pada bayi yang berjenis kelamin laki-laki yaitu berjumlah 18 bayi (66,67%). Gejala klinis yang sering muncul ialah sesak napas (48,15%) dan diagnosis penyerta terbanyak yaitu pnemonia (48,15%). Simpulan: Penyakit jantung bawaan non sianosis merupakan diagnosis terbanyak, jenis ASD, dengan gejala klinis yang sering muncul yaitu sesak napas. Pneumonia merupakan diagnosis penyerta terbanyak. PJB tersering pada jenis kelamin laki-laki.Kata kunci: PJB sianotik, PJB, non sianotik, atrial septal defek
PERBANDINGAN TEKANAN DARAH ANTARA ANAK YANG TINGGAL DI PEGUNUNGAN DAN PESISIR PANTAI Mandang, Queen; Umboh, Adrian; Gunawan, Stefanus
e-CliniC Vol 3, No 1 (2015): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v3i1.6425

Abstract

Abstract: Blood pressure in children varies because there are many factors that influence. One is geographic factors. Based on data from the Health Research in 2007 found that the prevalence of hypertension is highest in coastal areas while the lowest prevalence of hypertension in the coastal area. Altitude and different sodium intake on mountain and coastal areas are assumed to affect the blood pressure. This study aimed to determine the difference in blood pressure between children who live in the mountains and in the coast. We used descriptive analytic method with cross sectional design, with 107 samples according to criteria of children aged 6-12 years with no family history of obesity and hypertension. Data were obtained by using questionnaire, measurement of weight and height (BMI) and blood pressure measurement using a sphygmomanometer and cuff child. The results showed 15.5% of children with high-normal systolic pressure and 17.4% of children with high diastolic pressure in the mountains. In coastal areas, found 28% of children with normal systolic pressure-high, 13% of children of normal-high diastolic pressure, and 5% of children of high diastolic pressure. These data were analyzed using Mann Whitney test, showing the results were not statistically significantly systolic (p = 0.815) diastolic (p = 0.221) so that H0 and H1 is rejected. Conclusion: There was no difference in blood pressure among children aged 6-12 years who live in the mountains and the coast.Keywords: child's blood pressure, mountains, coastal.Abstrak: Tekanan darah pada anak bervariasi karena ada banyak faktor yang memengaruhi. Salah satunya adalah faktor geografis. Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar tahun 2007 didapatkan prevalensi hipertensi tertinggi di wilayah pantai sedangkan prevalensi hipertensi terendah di wilayah pantai. Ketinggian lokasi dan asupan natrium yang berbeda pada daerah pegunungan dan pesisir pantai diasumsikan berpengaruh terhadap tekanan darah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan tekanan darah antara anak yang tinggal di pegunungan dan pesisir pantai. Metode penelitian deskriptif analitik dengan rancangan potong lintang, dengan 107 sampel sesuai kriteria anak umur 6-12 tahun tanpa obesitas dan riwayat keluarga hipertensi. Data diperoleh melalui kuesioner, pengukuran berat badan dan tinggi badan (IMT) dan pengukuran tekanan darah menggunakan sphygmomanometer dan manset anak. Hasil penelitian menunjukkan 15,5% anak dengan tekanan sistolik normal-tinggi dan 17,4% anak dengan tekanan diastolik tinggi pada daerah pegunungan. Pada daerah pesisir pantai ditemukan 28% anak dengan tekanan sistolik normal-tinggi, 13% anak tekanan diastolik normal-tinggi, dan 5% anak tekanan diastolik tinggi. Data ini dianalisis menggunakan uji mann whitney, menunjukkan hasil secara statistik tidak bermakna sistolik (p=0,815) diastolik (p=0,221) sehingga H0 diterima dan H1 ditolak. Simpulan: Tidak ada perbedaan tekanan darah antara anak berumur 6-12 tahun yang tinggal di pegunungan dan pesisir pantai.Kata kunci: tekanan darah anak, pegunungan, pantai.
PERBEDAAN TEKANAN DARAH PADA ANAK YANG TINGGAL DI PEGUNUNGAN DAN TINGGAL DI TEPI PANTAI Jufri, Alan J.; Umboh, Adrian; Masloman, Nurhayati
e-CliniC Vol 3, No 1 (2015): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v3i1.7403

Abstract

Abstract: Blood pressure is the force that is necessary for blood to flow in blood vessels and circulation to all parts of the human body. The air pressure in the mountains is lower than at the beach, this causes increased erythrocyte production, which results in increased viscocity and resistance. This study aimed to determine the difference in blood pressure among children who live in the mountains and at the seaside. This was an observational survey with a cross sectional design. Samples taken to represent the two major populations were elementary students Wulurmaatus Modoinding, South Minahasa (mountain area) and elementary students Inpres 12/79 Wangurer, Madidir Bitung (beach area). In the target population sampling is done by simple random sampling and at affordable population sampling conducted consecutive sampling. Found as many as 28 boys in the mountains and 24 boys on the beach with an average TDS respectively 90.3 mmHg and 94.1 mmHg (ρ = 0.126) and the average TDD respectively 62, 1 mmHg and 64.7 mmHg (ρ = 0.146). And as many as 25 girls in the mountains and 28 girls on the beach with an average TDS respectively 88.7 mmHg and 93.5 mmHg (ρ = 0.065) and the average TDD found respectively 63.7 mmHg and 66 mmHg (ρ = 0.139). From the results obtained it can be concluded that there was no difference in blood pressure (systolic and diastolic) in children who live in the mountains and at the seaside.Keywords: blood pressure, children, mountains, beach frontAbstrak: Tekanan darah merupakan kekuatan yang diperlukan agar darah dapat mengalir di dalam pembuluh darah dan beredar ke seluruh bagian tubuh manusia. Tekanan udara di pegunungan lebih rendah di bandingkan di tepi pantai; hal ini meningkatkan produksi eritrosit, yang mengakibatkan peningkatan viskositas serta resistensi, Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan tekanan darah pada anak yang tinggal di pegunungan dan di tepi pantai. Penelitian ini bersifat survei observasional dengan rancangan potong lintang. Sampel diambil mewakili ke dua populasi, yaitu siswa SD Inpres Wulurmaatus Kecamatan Modoinding, Kabupaten Minahasa Selatan (pegunungan) dan siswa SD Inpres 12/79 Wangurer, Kecamatan Madidir Kota Bitung (tepi pantai). Pada populasi target pengambilan sampel dilakukan secara simple random sampling dan pada populasi terjangkau pengambilan sampel dilakukan secara consecutive sampling. Ditemukan sebanyak 28 anak laki-laki di pegunungan dan 24 anak laki-laki di tepi pantai dengan rata-rata TDS masing-masing 90,3 mmHg dan 94,1 mmHg (ρ=0,126) serta rata-rata TDD masing-masing 62,1 mmHg dan 64,7 mmHg (ρ=0,146). Sebanyak 25 anak perempuan di pegunungan dan 28 anak perempuan di tepi pantai dengan rata-rata TDS masing-masing 88,7 mmHg dan 93,5 mmHg (ρ=0,065) serta rata-rata TDD ditemukan masing-masing 63,7 mmHg dan 66 mmHg (ρ= 0,139). Simpulan: Tidak terdapat perbedaan tekanan darah (sistolik dan diastolik) pada anak yang yang tinggal di pegunungan dan di tepi pantai.Kata kunci: tekanan darah, anak, pegunungan, tepi pantai
Co-Authors Aaltje E. Manampiring Aaltje Ellen Manapiring Aaltje Manampiring Abram Babakal Adi Suryadinata Krisetya Alan J. Jufri Algi Reafanny Batara Amatus Yudi Ismanto Andi Dwi Bahagia Febriani Andrian Aldo Rantung Angelya Lumoindong Angie G. Roring, Angie G. Ango, Putri C. Ari L. Runtunuwu Ari Runtunuwu Astrid A. Malonda Baksh, Aida K. Bernadus, Janno Berty Bradly Chensilya Kusumanarwasti Christien Gloria Tutu Corona, Fidel Damaris, Damaris David E Kaunang David Kaunang Drova Grano Manorek Eka Patandianan Elia A. P. Hutapea Erling D. Kaunang Fatimawali . Frecillia Regina Herwanto Herwanto Hesti Lestari Hesti Lestari Hidayani, Agung R.E Hosang, Kevin H. Irawan Yusuf Iwan P. Wawointana, Iwan P. Jane A. Kalangi Jeanette I. Ch. Manoppo Jeanette I. Ch. Manoppo, Jeanette I.Ch. Manoppo Jenifer Andalangi Johannes Edwin Johnny Rompis Jose M. Mandei Jose M. Mandei Jully Kasie Kartini W. Adam Kristellina Tirtamulia Kromo, Lucky Kurniawan Tan Lasidi, Oktifani Devi Liow, Jackli Eugene Lonto, Jesica S. Lumingkewas, Pitter Handry Lydia Tendean Maki, Frindi Manopo, Berry R. Manoppo, Jeanette Irene Christiene Mantali, Rizqa Mantik, Keren E.K. Maria Fitricilia Marianne C. Jacobus, Marianne C. Matthew, Febriano Max F. J. Mantik Max F.J Mantik, Max F.J Natharina Yolanda, Natharina Nilawati, . Novie H. Rampengan Novie Homenta Rampengan, Novie Homenta Nurhayati Masloman Oko, Moh. Abdiel Artabony Oktavin Yollah Umboh Paulina N. Gunawan Phan, Sardito Pinaria, Anthoneta S. Polii, Evan G. Praevilia M. Salendu Queen Mandang Reifanli M. Pai, Reifanli M. Robin Samuel Mamesah, Robin Samuel Rocky Wilar Rompies, Ronald Rompis, Johnny L. Ronald Chandra Sabriani, Jehan Sanusi, Holly Sarah M. Warouw Sarah Warouw smanto, Yudi Stefanus Gunawan Stefanus Gunawan Stevanus Gunawan, Stevanus Suryadi N. N. Tatura, Suryadi N. N. Suryani As’ad Suwontopo, Marvin Leonardo T. A. Sudjono Taliwongso, Fernando Ch. Tandiawan, Ledy Tatipang, Pirania Ch. Tumbal, Anastasya G. Umboh, Indria M. Umboh, Valetine Valentine Umboh Valentine Umboh, Valentine Vicky M. Kalangie, Vicky M. Vini Maleke, Vini Vivekenanda Pateda Vivekenanda Pateda Waworuntu, David S. Welong Seftian Surya Yanni, Iloh Devi Yolanda B. Bataha