Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search
Journal : e-CliniC

GAMBARAN FUNGSI GINJAL PADA ANAK DENGAN TERAPI LEUKEMIA LIMFOBLASTIK AKUT DI PUSAT KANKER ANAK ESTELLA RSUP PROF DR RD KANDOU Adam, Kartini W.; Umboh, Adrian; Gunawan, Stefanus
e-CliniC Vol 3, No 1 (2015): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v3i1.6515

Abstract

Abstract: Leukemia is a neoplastic disease which is characterized with differentiation and proliferation of hematopoietic cells. Chemotherapy is one of the main therapy for cancer until the remission. Metabolites of chemotherapy may damage the kidney cells, ureter, and bladder which is marked with a decrease of kidney functions. This study aimed to obtain the kidney functions of pediatric patients with acute lymphoblastic leukemia (ALL) who got chemotherapy. This was a retrospective-cohort study by collecting the medical records of pediatric patients with ALL in Pediatric Cancer Center Estella of Hospital of Prof. DR. R.D Kandou period January 2010-August 2014, and then analyzed their Glomerulus Filtration Rate (GFR) using Mann-Whitney test on the induction phase and unpaired T-test on the consolidation phase. There were 42 cases in this study. The result showed no significant difference (P > 0.05) between the LFG induction and consolidation phase. Conclusion: There was not a significant different betwen renal function of children aged 2-12 years of high risk groups and of standard risk groups who got chemotherapy in induction phase and consolidation phase.Keywords: glomerulus filtration rate, acute lymphoblastic leukemia, chemotherapyAbstrak: Leukemia adalah penyakit neoplastik yang ditandai dengan diferensiasi dan proliferasi sel hematopoietik. Kemoterapi merupakan pengobatan utama kanker sampai ke tahap remisi. Metabolit obat kemoterapi dapat merusak sel-sel ginjal, ureter, dan kandung kemih ditandai dengan penurunan fungsi ginjal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui fungsi ginjal pada anak dengan leukemia limfoblastik akut (LLA) yang menjalani kemoterapi. Jenis penelitian yang digunakan adalah kohort retrospektif, dengan cara mengumpulkan rekan medik pasien anak dengan LLA di Pusat Kanker Anak Estella RSUP Prof. DR. R.D Kandou periode Januari 2010-Agustus 2014, lalu menganalisis LFG dengan menggunakan Uji Mann-whitney pada fase induksi dan Uji T tidak berpasangan pada fase konsolidasi. Terdapat 42 kasus dalam penelitian ini. Hasil penelitian memperlihatkan tidak terdapat perbedaan bermakna (P > 0,05) antara LFG fase induksi dan konsolidasi. Simpulan: Tidak terdapat perbedaan bermakna antara fungsi ginjal anak usia 2-12 tahun pada kelompok high risk (risiko tinggi) dan kelompok standard risk (risiko standar) setelah menjalani kemoterapi fase induksi dan fase konsolidasi.Kata kunci: laju filtrasi glomerulus, leukemia limfoblastik akut, kemoterapi
HUBUNGAN STATUS GIZI DAN BERAT LAHIR PADA ANAK USIA 2-3 TAHUN Patandianan, Eka; Umboh, Adrian; Warouw, Sarah
e-CliniC Vol 3, No 1 (2015): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v3i1.6751

Abstract

Abstract: Based on Riskesdas 2013, national prevalence of severely underweight 5,7%, underweight 13,9%, normal 75,9% and overweight 4,5%. Many factors affect the nutritional status of children under 5 years: socio-economic, maternal education, place of residence, birth status, infection, genetic, immunization, the status of breastfeeding, complementary feeding, health care, intervals of pregnancy and birth weight. Small for gestational age (SGA) refers to infants born weighing less than the weight of pregnancy it is supposed to. Catch up growth leads low birth weight baby to reach or to exceed a normal weight later. Catch up growth spontaneously occurred in 2 years old children and without spontaneous catch up growth at 3 years, it is not possible to experience it later without therapeutic intervention. The purpose of this study is to measure the weight and height of children aged between 2-3 years old with a history of SGA, determine nutritional status and determine the relationship between nutritional status and birth weight. This research took place at Prof Dr RD Kandou Hospital Manado and samples’ house, from October to December 2014. This study was an observational analytic study with cross-sectional approach and used consecutive sampling method. There were 39 children aged between 2-3 years old with a history of SGA as samples, who were born in Prof Dr RD Kandou Hospital from December 2011 to December 2012. Nutritional status by weight for age 5,1% severely underweight, 15,4% underweight, 79,5% normal; by height for age 25,6% severely stunted, 28,2% stunted and 46,2% normal; by weight for height 5,1% wasted, 89,8% normal and 5,1% overweight; by BMI for age 5,1% stunted, 84,6% normal and 10,3% overweight. There is no relationship between nutritional status and birth weight in children aged between 2-3 years old with a history of SGA (p> 0.05).Keywords: nutritional status, birth weight, SGAAbstrak: Berdasarkan Riskesdas 2013, prevalensi nasional gizi buruk 5,7%, gizi kurang 13,9%, gizi baik 75,9% dan gizi lebih 4,5%. Banyak faktor yang yang mempengaruhi status gizi anak dibawah 5 tahun: sosial-ekonomi, pendidikan ibu, tempat tinggal, status kelahiran, infeksi, genetik, imunisasi, status menyusui, makanan pendamping, perawatan kesehatan, interval kehamilan dan berat lahir. Kecil masa kehamilan (KMK) mengacu pada bayi lahir dengan berat kurang dari berat seharusnya untuk masa kehamilan itu. Tumbuh kejar menyebabkan bayi dengan berat badan lahir rendah mencapai atau melebihi berat badan normal di kemudian hari. Tumbuh kejar spontan terjadi pada usia 2 tahun dan anak tanpa tumbuh kejar spontan pada usia 3 tahun tidak mungkin untuk mengalami hal itu kemudian tanpa intervensi terapeutik. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengukur berat badan dan tinggi badan anak 2-3 tahun dengan riwayat KMK, menentukan status gizinya dan mengetahui hubungan antara status gizi terhadap berat lahir. Lokasi penelitian di RSUP Prof Dr RD Kandou Manado dan rumah sampel penelitian, dari Oktober-Desember 2014. Penelitian ini merupakan analitik observasional dengan pendekatan potong lintang dan menggunakan metode consecutive sampling. Didapatkan sampel sebanyak 39 anak usia 2-3 tahun dengan riwayat kecil masa kehamilan yang lahir di RSUP Prof Dr RD Kandou periode Desember 2011 – Desember 2012. Status gizi menurut BB/U gizi buruk 5,1%, gizi kurang 15,4%, gizi baik 79,5%; menurut TB/U sangat pendek 25,6%, pendek 28,2% dan normal 46,2%; menurut BB/TB kurus 5,1%, normal 89,8% dan berat badan lebih 5,1%; menurut IMT/U kurus 5,1%, normal 84,6% dan berat badan lebih 10,3%. Tidak ada hubungan antara status gizi dan berat lahir pada anak usia 2-3 tahun dengan riwayat KMK (p>0,05).Kata kunci: status gizi, berat lahir, KMK
Faktor Risiko yang Berhubungan dengan Kejadian Kelainan Bawaan pada Neonatus Matthew, Febriano; Wilar, Rocky; Umboh, Adrian
e-CliniC Vol 9, No 1 (2021): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v9i1.32306

Abstract

Abstract Congenital abnormalities are one of the main causes of infant mortality worldwide. Their symptoms vary from mild to severe. This study was aimed to determine the risk factors associated with the incidence of congenital abnormalities. This was a literature review study. The results obtained 10 articles that discussed about the risk factors of congenital abnormalities. The incidence of congenital abnormalities was more common in males. The most common factor was the maternal age of 20+ years Especially in Indonesia, there was no significant data about the risk factors related to the incidence of congenital abnormalities, however, two journals from Indonesia showed an increased incidence of congenital abnormalities in women infected during pregnancy. In addition, there were other risk factors found only in one to two journals, such as exposure to cigarettes, consumption of drugs or narcotics, and family history of previous congenital disorders. The review also covered several congenital disorders classified in organ systems dominated by the cardiovascular system. In conclusion, the risk factors associated with congenital abnormalities are maternal age, multiparity, history of abortion, congenital abnormalities in previous pregnancies, gestational diabetes, exposure to cigarette smoke, consumption of alcohol, consumption of drugs, not taking folic acid, family history of congenital abnormalities, consanguinity, and low socioeconomic statusKeywords: risk factor, birth defect, congenital anomalies, neonates                                                                         Abstrak Kelainan kongenital merupakan salah satu penyebab utama kematian bayi di dunia dengan gejala bervariasi dari ringan hingga berat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian kelainan kongenital. Jenis penelitian ialah literature review. Hasil penelitian mendapatkan 10 artikel mengenai faktor risiko kejadian kelainan kongenital. Kejadian kelainan kongenital lebih sering terjadi pada jenis kelamin laki-laki. Faktor risiko yang paling sering ialah usia ibu saat hamil mulai 20 tahun hingga lebih. Khusus di Indonesia belum ada data bermakna yang menunjukkan faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian kelainan kongenital, namun dua artikel dari Indonesia menunjukkan peningkatan kejadian kelainan kongenital pada ibu yang terinfeksi saat hamil. Faktor risiko lainnya yang hanya didapatkan pada satu hingga dua jurnal saja seperti, paparan rokok, konsumsi obat maupun narkoba, serta riwayat keluarga yang pernah mengalami kejadian kelainan bawaan sebelumnya. Hasil kajian juga mendapatkan beberapa diagnosis penyakit kelaianan kongenital yang di golongkan dalam sistem organ, didominasi oleh sistem kardiovaskular. Simpulan penelitian ini ialah faktor risiko yang berhubungan dengan kelainan kongenital ialah usia ibu, multiparitas, riwayat abortus, kelainan ba kongenital waan pada kehamilan sebelumnya, diabetes gestasional, paparan asap rokok, konsumsi alkohol, konsumsi obat-obatan, tidak mengonsumsi asam folat, riwayat keluarga mengalami kelainan kongenital, adanya hubungan darah antara ayah dan ibu, dan status sosioekonomi rendahKata kunci: faktor resiko, kelainan kongenital, neonatus
Hubungan antara Kebiasan Merokok, Konsumsi Alkohol dan Faktor Sosiodemografis dengan Kualitas Hidup Remaja di Kabupaten Minahasa Utara Pinaria, Anthoneta S.; Manampiring, Aaltje E.; Umboh, Adrian
e-CliniC Vol. 12 No. 1 (2024): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v12i1.45748

Abstract

Abstract: Quality of life (QoL) is a measure for the health status of an individual comprehensively, assessed based on the physical, psychological, social and environmental domains. Several factors influence the development of adolescents, including social media, urbanization, and unhealthy eating pattern. This study aimed to analyze the relationship between smoking habit, alcohol consumption, and sociodemographic factors with quality of life of adolescents in North Minahasa. This was a quantitative study with a cross-sectional design. Respondents were 402 teenagers who were junior and senior high school students in North Minahasa. Research variables were age, gender, smoking habit, and alcohol consumption. Data were analyzed univariately, bivariately, and multivariately using the chi square test. The results showed that there was no significant relationship between age, gender, alcohol consumption habits and smoking habits with QoL of adolescents (p>0.05). There was a significant relationship between smoking habits and QoL of adolescents (p=0.049). Adolescent smoking habit significantly affected QoL of adolescents, where adolescents who smoked had a probability of 2.374 of having a lower QoL compared to those who did not smoke. In conclusion, there is no significant relationship between age, gender, and alcohol consumption habit with the QoL of adolescents, however, there is a significant relationship between smoking habits and the QoL of adolescents in North Minahasa. Keywords: age; gender; smoking; alcohol consumption; quality of life; adolescents   Abstrak: Kualitas hidup merupakan suatu ukuran terhadap status kesehatan individu secara komprehensif yang dinilai berdasarkan domain fisik, psikologis, sosial dan lingkungan. Terdapat beberapa faktor yang memengaruhi perkembangan remaja, antara lain media sosial, urbanisasi, pola makan yang tidak sehat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara kebiasaan merokok, konsumsi alkohol dan faktor sosiodemografi dengan kualitas hidup remaja di Minahasa Utara. Jenis penelitian ialah kuantitatif dengan desain potong lintang. Responden penelitian ialah 402 remaja yang merupakan siswa SMP dan SMA di Minahasa Utara. Variabel penelitian yaitu usia, jenis kelamin, kebiasaan merokok, konsuksi alkohol dan kualitas hidup remaja. Data penelitian dianalisis secara univariat, bivariat dan multivatriat dengan menggunakan uji chi square. Hasil penelitian memunjukkan tidak terdapat hubungan bermakna antara usia, jenis kelamin, kebiasaan konsumsi alcohol, dan kebiasaan merokok dengan kualitas hidup remaja (p>0,05). Terdapat hubungan bermakna antara kebiasaan merokok dengan kualitas hidup remaja (p=0,049). Remaja merokok memiliki kemungkinan sebesar 2,374 dengan kualitas hidup rendah dibandingkan remaja tidak merokok. Simpulan penelitian ini ialah tidak terdapat hubungan bermakna antara usia, jenis kelamin, kebiasaan konsumsi alkohol dengan kualitas hidup remaja namun terdapat hubungan bermakna antara kebiasaan merokok dengan kualitas hidup remaja di Kabupaten Minahasa Utara. Kata kunci: usia; jenis kelamin; merokok; konsumsi alkohol; kualitas hidup; remaja
Profil Penyakit Jantung Bawaan di Bagian Ilmu Kesehatan Anak RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado Periode September 2022 – Agustus 2023 Baksh, Aida K.; Waworuntu, David S.; Umboh, Adrian
e-CliniC Vol. 12 No. 3 (2024): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v12i3.55352

Abstract

Abstract: Congenital heart disease (CHD) is a congenital heart defect that occurs during the heart development period of 3-8 weeks gestational age. This disease is divided into two categories, non-cyanotic CHD and cyanotic CHD. This study aimed to determine the profile of CHD in the Pediatric Department of Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado from September 2022 to August 2023. This was a retrospective and descriptive study using patients’ medical records during the period September 2022 - August 2023. The results obtained 94 patients with a mean age of 3.6 years, most of them were >5 years old (35.1%), consisting of males (53.2%) and females (46.8%). Asianotic CHD (78.7%) was the most common CHD found, and the majority of patients had good nutritional status (59.6%). In conclusion, congenital heart disease in children is most common in males, with asianotic type, and good nutritional status. Keywords: congenital heart disease; pediatric patients    Abstrak: Penyakit jantung bawaan (PJB) merupakan kelainan sejak lahir pada jantung yang terjadi saat masa perkembangan jantung usia gestasi 3-8 minggu. Penyakit ini terbagi atas dua kategori yaitu PJB non sianotik dan PJB sianotik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil PJB di Bagian Ilmu Kesehatan Anak RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado periode September 2022 – Agustus 2023. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif retrospektif dengan menggunakan rekam medik pasien selama periode September 2022 – Agustus 2023. Hasil penelitian mendapatkan 94 pasien PJB dengan rerata usia 3,6 tahun, terbanyak pada sebaran usia >5 tahun (35,1%), jenis kelamin laki-laki (53,2%) dan perempuan (46,8%), Penyakit jantung bawaan asianotik (78,7%) merupakan kategori PJB terbanyak, dan mayoritas pasien memiliki status gizi baik (59,6%). Simpulan penelitian ini ialah penyakit jantung bawaan pada anak terbanyak berjenis kelamin laki-laki, jenis asianotik, dan memiliki status gizi baik. Kata kunci: penyakit jantung bawaan; pasien anak
Gambaran Enuresis pada Anak Sekolah Dasar Tumbal, Anastasya G.; Umboh, Adrian; Rompis, Johnny L.
e-CliniC Vol. 14 No. 1 (2026): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v14i1.65843

Abstract

Abstract:  Enuresis is defined as involuntary voiding in children aged ≥5 years, occurring at least twice per week for three consecutive months, and not attributable to underlying medical conditions. Enuresis is influenced by biological, psychological, and environmental factors and remains commonly observed among primary school children. This study aimed to describe the occurrence of enuresis and its associated risk factors among elementary school children at Paal Dua District. A quantitative descriptive design with a cross-sectional approach was used. Samples were obtained through proportionate stratified random sampling from 250 respondents enrolled in SD Advent 3 Paal Dua, SD GMIM 22 Manado, and SD Advent 6 Kairagi Weru. Data were collected using the Clinical Management Tools (CMT) questionnaire from the Indonesian Urological Association and a previously validated and reliable research instrument. The findings showed that among the 15 children with enuresis, most were six years old (66.7%) and male (60%). The highest percentages were found in enuresis occurred predominantly at night (93.3%), the onset began since birth (66.7%), and voided 4–7 times per day (93.3%). The most frequently identified risk factors included toilet training at 3–4 years of age (73.3%), difficulty being awakened from sleep (53.3%), urinary tract infection complaints (33.3%), psychological stress (20%), and a history of constipation (26.7%). A family history of enuresis was present in 60% of cases, and the most common household composition was four family members (33.3%). In conclusion, enuresis remains present among primary school children in Paal Dua District, indicating the need for early detection and continuous parental education. Keywords: enuresis; elementary school children; nocturnal enuresis; risk factors    Abstract: Enuresis merupakan pengeluaran urin secara involunter pada anak usia ≥5 tahun dengan frekuensi minimal dua kali per minggu selama tiga bulan berturut-turut tanpa disebabkan oleh kondisi medis tertentu. Enuresis dipengaruhi oleh faktor biologis, psikologis, dan lingkungan, serta masih sering ditemukan pada anak sekolah dasar. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan kejadian enuresis dan faktor risikonya pada anak sekolah dasar di Kecamatan Paal Dua. Jenis penelitian ialah deskriptif kuantitatif dengan desain potong lintang. Sampel diperoleh melalui teknik proportionate stratified random sampling dari 250 responden yang berasal dari SD Advent 3 Paal Dua, SD GMIM 22 Manado, dan SD Advent 6 Kairagi Weru. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner Clinical Management Tools (CMT) dari Ikatan Ahli Urologi Indonesia serta instrumen penelitian sebelumnya yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Hasil penelitian menunjukkan dari 15 anak dengan enuresis, sebagian besar berusia 6 tahun (66,7%) dan berjenis kelamin laki-laki (60%). Persentase tertinggi didapatkan pada kejadian enuresis terutama terjadi pada malam hari (93,3%), onset enuresis sejak lahir (66,7%), dan frekuensi berkemih 4–7 kali per hari (93,3%). Faktor risiko yang paling banyak ditemukan meliputi toilet training pada usia 3–4 tahun (73,3%), sulit dibangunkan saat tidur (53,3%), keluhan infeksi saluran kemih (33,3%), riwayat stres (20%), serta riwayat sembelit (26,7%). Riwayat enuresis dalam keluarga ditemukan pada 60% anak, dan komposisi keluarga terbanyak adalah empat anggota dalam satu rumah tangga (33,3%). Simpulan penelitian ini ialah enuresis pada anak sekolah dasar di Kecamatan Paal Dua masih cukup sering ditemukan sehingga diperlukan upaya deteksi dini dan edukasi berkelanjutan kepada orang tua. Kata kunci: enuresis; anak sekolah dasar; enuresis nokturnal; faktor risiko
Co-Authors Aaltje E. Manampiring Aaltje Ellen Manapiring Aaltje Manampiring Abram Babakal Adi Suryadinata Krisetya Alan J. Jufri Algi Reafanny Batara Amatus Yudi Ismanto Andi Dwi Bahagia Febriani Andrian Aldo Rantung Angelya Lumoindong Angie G. Roring, Angie G. Ango, Putri C. Ari L. Runtunuwu Ari Runtunuwu Astrid A. Malonda Baksh, Aida K. Bernadus, Janno Berty Bradly Chensilya Kusumanarwasti Christien Gloria Tutu Corona, Fidel Damaris, Damaris David E Kaunang David Kaunang Drova Grano Manorek Eka Patandianan Elia A. P. Hutapea Erling D. Kaunang Fatimawali . Frecillia Regina Herwanto Herwanto Hesti Lestari Hesti Lestari Hidayani, Agung R.E Hosang, Kevin H. Irawan Yusuf Iwan P. Wawointana, Iwan P. Jane A. Kalangi Jeanette I. Ch. Manoppo Jeanette I. Ch. Manoppo, Jeanette I.Ch. Manoppo Jenifer Andalangi Johannes Edwin Johnny Rompis Jose M. Mandei Jose M. Mandei Jully Kasie Kartini W. Adam Kristellina Tirtamulia Kromo, Lucky Kurniawan Tan Lasidi, Oktifani Devi Liow, Jackli Eugene Lonto, Jesica S. Lumingkewas, Pitter Handry Lydia Tendean Maki, Frindi Manopo, Berry R. Manoppo, Jeanette Irene Christiene Mantali, Rizqa Mantik, Keren E.K. Maria Fitricilia Marianne C. Jacobus, Marianne C. Matthew, Febriano Max F. J. Mantik Max F.J Mantik, Max F.J Natharina Yolanda, Natharina Nilawati, . Novie H. Rampengan Novie Homenta Rampengan, Novie Homenta Nurhayati Masloman Oko, Moh. Abdiel Artabony Oktavin Yollah Umboh Paulina N. Gunawan Phan, Sardito Pinaria, Anthoneta S. Polii, Evan G. Praevilia M. Salendu Queen Mandang Reifanli M. Pai, Reifanli M. Robin Samuel Mamesah, Robin Samuel Rocky Wilar Rompies, Ronald Rompis, Johnny L. Ronald Chandra Sabriani, Jehan Sanusi, Holly Sarah M. Warouw Sarah Warouw smanto, Yudi Stefanus Gunawan Stefanus Gunawan Stevanus Gunawan, Stevanus Suryadi N. N. Tatura, Suryadi N. N. Suryani As’ad Suwontopo, Marvin Leonardo T. A. Sudjono Taliwongso, Fernando Ch. Tandiawan, Ledy Tatipang, Pirania Ch. Tumbal, Anastasya G. Umboh, Indria M. Umboh, Valetine Valentine Umboh Valentine Umboh, Valentine Vicky M. Kalangie, Vicky M. Vini Maleke, Vini Vivekenanda Pateda Vivekenanda Pateda Waworuntu, David S. Welong Seftian Surya Yanni, Iloh Devi Yolanda B. Bataha