Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

KARAKTERISTIK PASIEN PENDERITA KARSINOMA NASOFARING DI INDONESIA : NARRATIVE REVIEW Prayogi, Julian; Paulus, Paulus; Khaeruddin, Khaeruddin; Sanna, Andi Tenri; Carolina, Jane
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 5 No. 2 (2024): JUNI 2024
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v5i2.27144

Abstract

Nasofaring merupakan bagian dari sistem saluran napas bagian atas dan merupakan elemen anatomi yang menghubungkan rongga hidung dengan laring dan trakea, melalui orofaring. Kanker nasofaring di Indonesia merupakan keganasan terbanyak ke-4 setelah kanker payudara, kanker serviks, dan kanker kulit, serta merupakan keganasan terbanyak di kepala dan leher. Tujuan penelitian untuk engetahui karakteristik pasien penderita karsinoma nasofaring di indonesia. Penelitian yang dilakukan adalah Literature Review dengan desain Narrative Review. Berdasarkan hasil pencarian didapatkan sebanyak 11 artikel yang relevan untuk digunakan dalam Narrative Review ini, dari beberapa jurnal tersebut menyatakan bahwa karakteristik penderita karsinoma nasofaring yaitu laki laki merupakan jenis kelamin yang paling banyak terkena KNF disertai predisposisi perokok, usia 46-55 tahun merupakan usia yang paling rentan, pekerja wiraswasta merupakan perkejaan paling banyak terkena KNF, gejala yang paling sering pada pasien dengan KNF adalah benjolan di leher dan hidung tersumbat, Kelompok stadium klinis pasien KNF terbanyak adalah stadium IV A dan dilakukan kemoterapi, Sedangkan tipe berdasarkan histopatologi KNF terbanyak adalah tipe Non-Keratinizing Squamous Cell Carcinoma undifferentiated. Berdasarkan hasil review dapat disimpulkan bahwa penderita karsinoma nasofaring paling banyak adalah laki-laki disertai predisposisi perokok dengan rentan usia 46-55 tahun, untuk gejala yang paling sering didapatkan adalah adanya benjolan di leher dan hidung tersumbat. Kelompok stadium klinis pasien KNF terbanyak adalah stadium IV A dan dilakukan kemoterapi Sedangkan tipe berdasarkan histopatologi KNF terbanyak adalah tipe Non- Keratinizing Squamous Cell Carcinoma undifferentiated.
Risk Factor of Otitis Externa Patients Atjo, M Farizan; Maharani, Ratih Natasha; Sanna, Andi Tenri
Formosa Journal of Science and Technology Vol. 3 No. 9 (2024): September 2024
Publisher : PT FORMOSA CENDEKIA GLOBAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55927/fjst.v3i9.11312

Abstract

Otitis externa is an inflammation of the ear canal that can extend to the outer ear or tympanic membrane, commonly caused by bacteria, fungi, and viruses. Warm, humid environments and risk factors such as age, gender, body weight, physical activity, and environmental conditions contribute to its development. Symptoms include ear pain, discharge, itching, and occasionally hearing loss. This Narrative Review analyzed 10 articles from 2020 to 2024 to identify characteristic risk factors of otitis externa. Findings reveal that the condition predominantly affects late adolescents and individuals aged 17-40 years. The review concludes that otitis externa can occur in any age group or gender, with certain occupations, like those involving art materials, showing higher incidence rates, and diffuse otitis externa primarily impacting productive age patients.
Hubungan Penurunan Fungsi Pendengaran dengan Fungsi Kognitif pada Lanjut Usia di Puskesmas Pertiwi Makassar Zacky, Achmad Fauzan; Jaya, Muhammad Alim; Pratama, Ahmad Ardhani; Sanna, Andi Tenri; Abidin, Mohammad Reza Zainal
Borneo Journal of Medical Laboratory Technology Vol. 8 No. 2 (2026): Borneo Journal of Medical Laboratory Technology
Publisher : Institute for Research and Community Services Universitas Muhammadiyah Palangkaraya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33084/bjmlt.v8i2.12313

Abstract

Peningkatan jumlah lanjut usia di Indonesia diikuti oleh meningkatnya masalah kesehatan terkait penuaan, termasuk penurunan fungsi pendengaran dan fungsi kognitif. Gangguan pendengaran merupakan kondisi yang sering terjadi pada lansia dan diketahui dapat memengaruhi kemampuan komunikasi serta kemandirian. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa penurunan fungsi pendengaran berhubungan dengan percepatan penurunan fungsi kognitif. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis gangguan penurunan pendengaran pada lanjut usia, untuk mengetahui fungsi kognitif pada lanjut usia, serta untuk menganalisis hubungan gangguan penurunan pendengaran dengan fungsi kognitif pada lanjut usia. Penelitian ini adalah penelitian observasional analitik korelasional dengan pendekatan cross sectional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar lansia mengalami gangguan pendengaran tipe sensorineural dan menunjukkan penurunan fungsi kognitif, terutama pada kategori gangguan kognitif berat. Namun, hasil analisis menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang bermakna antara gangguan penurunan pendengaran dengan fungsi kognitif pada lanjut usia. Maka dapat disimpulkan bahwa gangguan pendengaran tipe sensorineural dan penurunan fungsi kognitif banyak ditemukan pada lansia, namun penurunan fungsi pendengaran tidak berhubungan secara signifikan dengan fungsi kognitif.
Perbandingan Kadar Eosinofil dan Netrofil Mukosa Hidung pada Pasien Pasca Trakeostomi di Makassar Andi Tenri Sanna
Media Publikasi Promosi Kesehatan Indonesia Vol. 2 No. 3 (2019)
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (652.395 KB) | DOI: 10.56338/mppki.v2i3.809

Abstract

Trakeostomi adalah tindakan membuat lubang pada dinding anterior trakea untuk mengatasi sumbatan jalan napas.Penelitian ini bertujuan melihat kadar eosinofil dan netrofil mukosa hidung pada pasien pasca trakeostomi di Makassar.  Penelitian ini dilakukan uji klinik pada 14 pasien pasca trakeostomi kurang dari 6 minggu, derajat kesadaran baik (GCS 15), sehingga dapat dilakukan pemeriksaan kerokan hidung. Pemeriksaan kerokan mukosa hidung bertujuan untuk mengetahui adanya sel eosinofil dan netrofil pada sekret mukosa hidung pasien pasca trakeostomi.Data analisis dengan menggunakan uji statistik chi-square. Hasil penelitian menunjukkan terdapat sel-sel inflamasi kerokan mukosa hidung yaitu eosinofil dan netrofil yang meningkat terutama pada minggu ke enam, namun tidak terdapat hubungan yang bermakna secara statistik (p>0,05)