Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

Analisis Perbedaan Waktu Transportasi Mukosiliar Hidung Pada Perokok Dan Non Perokok Dengan Uji Sakharin Di Universitas Muslim Indonesia Permatasari, Dinda; Susilo, Wawan; Wiriansya, Edward Pandu; Abdi, Dian Amelia; Sanna, Andi Tenri
Window of Health : Jurnal Kesehatan Vol. 2 No. 4 (Oktober, 2019)
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (549.587 KB) | DOI: 10.33368/woh.v0i0.215

Abstract

The nose has a physiological function for example as a filter that is useful to clean the air of inspiration from dust, bacteria and viruses through a mechanism called the mucociliary transport system (TMS). This TMS mechanism functions to protect the upper and lower respiratory system by forming waves of sweeping on foreign objects such as dust and even microorganisms trapped in the mucous pallets. This study aims to determine whether there are differences in nasal mucociliary transport time in smokers and non-smokers. The material used in this study is sakharin which has a sweetness level 700 times sweeter than ordinary sugar. This study involved 50 research subjects who were divided equally into 2 groups, 25 smokers and 25 non-smokers. All subjects will be interviewed in the form of a questionnaire and then test the time of mucociliary transport of his nose using the sakharin test. The results of this study found that the average mucociliary transport time of the nose to non-smokers was 24.67 ± 5.36 minutes and the mean time of mucociliary transport of the nose to smokers was 9.42 ± 5.04 minutes. Obtained also the results of the average mucociliary transport time of noses in light smokers that is 24.2 ± 5.4 minutes and the average mucociliary transport time of noses in moderate smokers is 27.9 ± 3.94 minutes. It can be concluded that the difference in nasal mucociliary transport time was found in smokers and non-smokers where the mucociliary transport time in smokers was longer.
Faktor-faktor stres yang berhubungan dengan pekerjaan dokter gigi praktek swasta di Makassar Muhammad Ilyas; Andi Tenri Sanna; Nita JH; Huzair .
Makassar Dental Journal Vol. 2 No. 3 (2013): Vol 2 No 3 Juni 2013
Publisher : Makassar Dental Journal PDGI Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (104.382 KB) | DOI: 10.35856/mdj.v2i3.127

Abstract

Stres merupakan respon fisiologis, psikologis dan perilaku individu yang mencari adaptasi atau penyesuaian diri dari tekanan internal dan eksternal. Peneliti sebelumnya mengatakan pekerjaan dokter gigi menduduki peringkat yang tinggi dibanding dengan pekerjaan lain sebagai penyebab stres. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan faktor-faktor stres dengan profesi dokter gigi di Kota Makassar. Penelitian ini bersifat observasional analitik dengan rancangan cross sectional. Subjek penelitian adalah dokter gigi yang tinggal di kota Makassar, sebanyak 217 orang. Data dianalisis menggunakan uji chi square. Tercatat dokter gigi perempuan 171 orang dan laki-laki sebanyak 436 orang, frekuensi penanganan stres praktek dokter gigi swasta sebanyak 145 orang (membuat situasi nyaman 73 orang, motivasi diri 30 orang dan konsumsi obat penenang 42 orang), Jadi ada hubungan faktor-faktor stres dengan pekerjaan praktek dokter gigi swasta di Kota Makassar dengan nilai x hitung = 3,15 (p = 0,03). Disimpulkan dokter gigi praktek swasta lebih banyak dijumpai perempuan dibanding dengan laki-laki, konsumsi obat penenang dan motivasi diri merupakan hal yang paling banyak dilakukan oleh dokter gigi praktek swasta agar situasi terasa nyaman dalam melakukan praktek. Ada hubungan antara faktor-faktor stres dengan pekerjaan dokter gigi praktek swasta di Kota Makassar.
Hubungan Pengetahuan Pola Makan Terhadap Kejadian Radang Tenggorokan pada Siswa Sekolah Dasar Sri Wahyuni Gayatri Basri; Andi Tenri Sanna Arifuddin; Hermiaty Nasruddin; Masita Fujiko M.Said; Radiana Syamsu
UMI Medical Journal Vol 7 No 2 (2022): UMI Medical Journal
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Muslim Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33096/umj.v7i2.219

Abstract

Latar Belakang : Penyakit tenggorokan merupakan jenis penyakit peradangan yang menyerang bagian tenggorokan disebabkan oleh virus dan bakteri yang sering diderita oleh anak-anak yang mengkonsumsi jajanan di sekolah yang belum diketahui kandungan gizi dan kebersihannya dapat berpengaruh terhadap kesehatan dan dapat menimbulkan suatu masalah Kesehatan. Tujuan : Mengetahui hubungan pengetahuan pola makan terhadap kejadian radang tenggorokan pada siswa SD. Metode : Deskriptif analitik. Adapun sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer yang diambil dari kuisioner. Hasil : Hasil dari 74 responden diperoleh anak yang mengalami gejala radang tenggorokan dengan pengetahuan pola makan yang berisko sebanyak 30 orang (40.5%), sedangkan dengan pengetahuan pola makan yang tidak berisiko sebanyak 8 orang (10.8%). Adapun responden yang tidak mengalami gejala radang tenggorokan dengan pengetahuan pola makan berisiko sebanyak 29 orang ( 39.2%), dan responden dengan pengetahuan pola makan tidak berisiko sebanyak 7 orang (9.5%). Kesimpulan : tidak ada hubungan antara pengetahuan pola makan dengan kejadian radang tenggorokan pada siswa sekolah dasar.
Hubungan antara Penggunaan Cotton Bud dengan Serumen Obturans pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Muslim Indonesia Angkatan 2020 Dahliawati Mohi; Sri Julyani; Ahmad Ardhani Pratama; Andi Tenri Sanna Arifuddin; Zulfiyah Surdam
Fakumi Medical Journal: Jurnal Mahasiswa Kedokteran Vol. 3 No. 1 (2023): Januari
Publisher : Universitas Muslim Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33096/fmj.v3i1.176

Abstract

Serumen obturans atau kotoran telinga ini dia merupakan produk kelenjar sebasea dan apokrin yang ada pada kulit liang telinga dalam kondisi menumpuk dan keras oleh karena penggunaan cotton bud sebagai alat untuk membersihkan telinga yang tidak dilakukan dengan sempurna atau tidak dikeluarkan seluruhnya sehingga terjadinya penumpukkan serumen di dalam telinga atau terjadi akumulasi serumen yang mengeras, menyumbat secara total maupun sebagian di kanalis auditori eksternus. Rancangan kuantitatif observasional dengan pendekatan Cross-Sectional. Teknik pengambilan sampel yaitu total sampling. Pn variabel kedalaman dan frekuensi Cotton bud dengan serumen obturans memiliki hubungan berpengaruh yang signifikan sedangkan pada variabel durasi penggunaan cotton bud dengan serumen obturans tidak memiliki hubungan berpengaruh yang signifikan. Terdapat hubungan variabel antara kedalaman dan frekuensi cotton bud dengan kejadian serumen obturans sedangkan pada variabel durasi penggunaan cotton bud dengan kejadian serumen obturans tidak berhubungan
Characteristics Of Presbicusis: A Literature Review Nawirah Labambe; Andi Tenri Sanna; Destya Maulani; Andi Baso Sulaiman; Indah Hamriani
Jurnal EduHealth Vol. 15 No. 03 (2024): Jurnal EduHealt (September), Year 2024
Publisher : Sean Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hearing loss or deafness is the partial or complete inability to hear sounds in one or both ears. Hearing loss can occur at any age. The most common cause of hearing loss in the elderly is presbycusis.1 Presbycusis or known as age related hearing loss (ARHL) is a loss of hearing ability that occurs slowly with age. The method used is literature review with Narrative Review design. The results obtained in this literature are that there are 10 articles obtained with restrictions from 2020 - 2024 and in-depth analysis of the strengths and limitations of each article on the characteristics of presbyacusis has been carried out. 10 articles that discuss the characteristics of presbyacusis, 8 articles mention the characteristics of presbyacusis based on age, 8 articles mention the characteristics of presbyacusis based on gender. Based on the results of the identification and review of several in this literature review, it can be concluded that there are several characteristics of presbyacusis including age, gender and history of chronic disease. Early recognition of the diagnosis of presbyacusis is very important, because if left untreated it can have serious consequences on mental health, cognitive, and even physical health.
Characteristics of Tonsillopharyngitis Patients at Ibnu Sina Hospital Makassar from January 2023 to May 2024 Hikma, Nur Suci; Nurmadilla, Nesyana; Pratama, Ahmad Ardhani; Sanna, Andi Tenri; Abidin, Mohammad Reza Zainal
Healthy Tadulako Journal (Jurnal Kesehatan Tadulako) Vol. 11 No. 2 (2025)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Tadulako

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22487/htj.v11i2.1621

Abstract

Background: Upper respiratory tract infections in children often lead to tonsillopharyngitis, which is caused by viruses (such as adenovirus and rhinovirus) or bacteria, especially Group A beta-hemolytic streptococcus (GABHS). Predisposing factors include poor oral hygiene, consumption of certain foods, and inadequate treatment. Objective: To determine the characteristics of age, gender, type of food, clinical manifestations, laboratory results, and management provided to tonsillopharyngitis patients at Ibnu Sina Hospital, Makassar. Results: Of the 86 tonsillopharyngitis patients recorded at Ibnu Sina Hospital, Makassar, between January 2023 and May 2024, the majority of patients were female (60.47%), aged 20-44 years (46.51%). Most patients consumed regular food (74.42%), and the most common clinical symptoms were fever (87.21%), sore throat (75.58%), and hyperemia of the tonsils and pharynx (100%). Laboratory examination showed leukocytosis in 53.49% of patients, and the most common antibiotic treatment was ceftriaxone (55.81%), followed by cefixime (25.58%) Conclusion: The study at Ibnu Sina Hospital, Makassar, concluded that the majority of tonsillopharyngitis patients are female, aged 20-44 years, and consumed regular food. Most patients experienced hyperemia of the tonsils and pharynx, leukocytosis, and were treated empirically with the antibiotic ceftriaxone based on clinical manifestations.
Characteristics of chronic rhinosinusitis patients at Ibnu Sina Hospital Makassar Aulia, Rizka; Nurmadilla, Nesyana; Pratama, Ahmad Ardhani; Sanna, Andi Tenri; Utami, Dian Fahmi
Journal of Midwifery and Nursing Vol. 7 No. 3 (2025): September: Health Science
Publisher : Institute Of Computer Science (IOCS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35335/jmn.v7i3.6621

Abstract

Background: Chronic rhinosinusitis is an inflammation of the nasal mucosa and paranasal sinuses that lasts for ? 12 weeks, involving sinusitis and rhinitis simultaneously. In Indonesia, the incidence data is uncertain, but a study in Palembang in 2019 showed the proportion of chronic rhinosinusitis in adults was 33.3%. Given the limited data, high prevalence, and impact of this disease, a study was conducted to analyze the characteristics of chronic rhinosinusitis patients at Ibnu Sina Hospital Makassar. Methods: This study used an analytic observational design with a cross-sectional approach, involving 83 subjects selected by consecutive sampling. Data taken from medical records included age, gender, clinical manifestations, antibiotic treatment, and sinus location. Univariate analysis was performed using Microsoft Excel. Results: The results of univariate analysis showed that most chronic rhinosinusitis patients were aged 17-25 years (41.27%), followed by patients aged 26-35 years (26.98%). Male patients slightly outnumbered females, with 50.79% male and 49.21% female. The most common clinical manifestations were facial pain (63.49%), nasal congestion (53.97%), and headache (63.49%), while less common symptoms included cough (11.11%) and bad breath (4.76%). In terms of antibiotic treatment, cefadroxil was the most commonly administered (33.3%), followed by ceftriaxone (31.7%) and cefixime (24.2%). Regarding the site of sinus involvement, multi-sinusitis was the most common (60.5%), followed by unilateral sinusitis (34.2%) and pansinusitis (5.26%). Conclusion: Chronic rhinosinusitis at Ibnu Sina Hospital Makassar was most common in males aged 17-25 years, with facial pain as the main symptom, multi-sinusitis as the most common location, and cefadroxyl and ceftriaxone as the main antibiotics used.
Karakteristik Penderita Vertigo Perifer yang Berobat di Rumah Sakit Jala Ammari Lantamal VI Makassar Tahun 2020-2022 Ardiani, Tasya; Yudhiono, Fanny; Nikmawati, Nikmawati; Sanna, Andi Tenri; Gani, Sri Wahyuni Saraswati
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 1 (2024): April 2024
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jptam.v8i1.14024

Abstract

Vertigo merupakan perasaan yang abnormal mengenai adanya gerakan penderita terhadap sekitarnya atau sekitarnya terhadap penderita, tiba-tiba semuanya terasa berputar atau bergerak naik turun di hadapannya. Secara global kejadian vertigo umur 18 tahun hingga 79 tahun adalah 30%, 24% diantaranya diasumsikan karena gangguan vestibuler, 64 dari 100.000 orang dengan kecenderungan terjadi pada wanita (64%). Berdasarkan latar belakang tersebut diatas penulis tertarik untuk melakukan penelitian mengenai karakteristik dari penderita vertigo perifer. Penelitian ini di Rumah Sakit Jala Ammari Lantamal VI Makassar tahun 2020-2022. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik dari penderita vertigo perifer yang berobat di Rumah Sakit Jala Ammari Lantamal VI Makassar tahun 2020-2022. Penelitian ini menggunakan penelitian deskriptif dengan pendekatan cross-sectional dan teknik pengambilan sampel dilakukan dengan metode total sampling. Penelitian dilaksanakan di Rumah Sakit Jala Ammari Lantamal VI Makassar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa didapatkan 123 sampel yang memenuhi kriteria dan didapatkan hasil dengan usia terbanyak yaitu pada Usia 46 – 55 tahun sebanyak 37 orang (30,0%), perempuan adalah populasi terbanyak yaitu sebanyak 73 orang (59,35%), dan berdasarkan pekerjaan didapatkan hasil terbanyak pada pekerjaan tidak beresiko yaitu sebanyak 106 orang (86,18%). Kesimpulannya, penderita vertigo perifer yang berobat di Rumah Sakit Jala Ammari Lantamal VI Makassar tahun 2020-2022 terbanyak terjadi pada usia tua, perempuan, dan pada pekerjaan yang tidak beresiko.
Gambaran Kejadian Gangguan Keseimbangan Perifer pada Pasien di Poliklinik THT di Rumah Sakit Ibnu Sina Periode Januari 2018 – Juli 2023 Ghassani, Amalia Azza; Sanna, Andi Tenri; Juliana, Anastasia; Harun, Achmad; Wartati, Sri
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 1 (2024): April 2024
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jptam.v8i1.14036

Abstract

Keseimbangan merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia untuk hidup mandiri. Keseimbangan memerlukan integrasi sistem visual, vestibular, dan proprioseptif. Prevalensi pusing di Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun, terutama pada kelompok lanjut usia. Sekitar 80% pusing bersifat perifer. Gangguan keseimbangan jarang dikenali dan pemulihan total sulit dicapai. Hal ini berpotensi mempengaruhi kualitas hidup seseorang. Untuk mengetahui prevalensi dan gambaran kejadian gangguan keseimbangan perifer pada pasien Klinik Umum THT RS Ibnu Sina Makassar periode Januari 2018 sampai dengan Juli 2023. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan desain cross-sectional. Teknik pengambilan sampel menggunakan seluruh sampel. Data pasien diambil dari rekam medis RS Ibnu Sina Makassar pada Agustus 2023. Dari hasil penelusuran, 30 sampel dengan jumlah kasus terbanyak pada tahun 2019 mencapai 30%. Jenis kelamin mayoritas adalah perempuan (76,7%), dan usia mayoritas antara 56 dan 65 tahun (40%). Keluhan terkait gangguan keseimbangan perifer yang terbanyak adalah pusing (100%), dan jenis gangguan keseimbangan perifer yang terbanyak adalah BPPV (43,3%). Sebuah penelitian yang dilakukan antara tahun 2018 hingga 2023 menemukan bahwa jumlah pasien gangguan keseimbangan perifer tertinggi pada tahun 2019. Pasien dengan gangguan keseimbangan perifer sebagian besar adalah perempuan dan lanjut usia antara 56 dan 65 tahun. Keluhan terbanyak adalah pusing, dan BPPV adalah kasus paling umum yang terjadi pada gangguan jenis ini.
HUBUNGAN BEBAN KERJA MENTAL TERHADAP KINERJA DOKTER MUDA RS IBNU SINA MAKASSAR Sjakir, Muh Febri Ananda; Sanna, Andi Tenri; Safitri, Asrini; Natasha, Ratih; Nurul Aisyah, Windy
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 5 No. 3 (2024): SEPTEMBER 2024
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v5i3.27104

Abstract

Rumah sakit sudah menerapkan keselamatan kerja dan sistem tersebut penting karena banyak potensi bahaya yang bisa terdampak bagi tenaga Kesehatan. Beban kerja merupakan salah satu indikator keselamatan kerja, Beban kerja salah satu yang dapat mempengaruhi dari kegiatan dokter muda yang harus diselesaikan suatu unit organisasi. Beban kerja terdiri atas 2 yaitu faktor internal yang berasal dari dalam tubuh seperti mental dan faktor eksternal yang berasal dari luar tubuh seperti fisik. Dari efek beban kerja yang berlebihan bisa membuat kinerja dokter muda mengalami penurunan. Rumah Sakit Ibnu Sina Makassar merupakan sarana pelayanan kesehatan yang berada di Makassar. Efek beban kerja yang berlebihan bisa mempengaruhi kinerja dokter muda mengalami penurunan. Tujuan penelitian mengetahui hubungan beban kerja mental terhadap kinerja dokter muda di RS Ibnu Sina Makassar. Jenis penelitian yaitu penelitian analitik dengan rancangan cross sectional. Sampel penelitian ini diperoleh dengan menggunakan metode purposive sampling, yaitu pemilihan sampel dengan kriteria yang telah ditentukan. Teknik pengumpulan data menggunakan data primer yakni kuesioner. Dari penelitian didapatkan 36 sampel. Hasil uji chi-square didapatkan hubungan beban kerja mental terhadap kinerja dokter muda (p=0,012), Artinya beban kerja mental berhubungan dengan kinerja. Penelitian ini menunjukkan terdapat hubungan beban kerja mental terhadap kinerja dokter muda di RS Ibnu Sina Makassar.