Claim Missing Document
Check
Articles

Pemberdayaan Remaja SMA dalam Pemantauan Status Gizi melalui Edukasi dan Demonstrasi Gizi Seimbang sebagai Upaya Pencegahan Dini Stunting Zukhra, Ririn Muthia; Putri, Syeptri Agiani; Putri, Fachriani; Khairiyah, Putri Adila; Rendi, Gusti; Alamsyah, Qodri; Ananda, Shalsabila Aulia; Aprianto, Azat; Putri, Abel Aprilia; Adesyahpuri, Diva
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 7, No 12 (2024): Volume 7 No 12 (2024)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v7i12.18029

Abstract

ABSTRAK Stunting merupakan masalah gizi yang timbul akibat asupan gizi yang tidak mencukupi secara terus-menerus dalam jangka waktu yang lama. Kekurangan gizi ini dapat mengakibatkan gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak, seperti tinggi badan yang lebih rendah atau pendek dibandingkan standar usia, serta keterlambatan dalam kemampuan motorik. Berdasarkan data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) prevalensi stunting di Indonesia tahun 2022 menurun dari 24,4% menjadi 21,6% dan di Provinsi Riau 17%. Remaja putri memiliki peran penting dalam pencegahan stunting karena mereka adalah calon ibu yang akan berkontribusi langsung terhadap status gizi anak-anak mereka di masa depan. Jika status gizi remaja putri tidak segera diperbaiki, maka di masa depan akan semakin banyak ibu hamil yang memiliki postur tubuh pendek atau menderita KEK, yang pada gilirannya akan meningkatkan prevalensi stunting di Indonesia. Tujuan pengabdian masyarakat ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan siswa dalam pengukuran dan pemantauan status gizi remaja sebagai upaya pencegahan dini stunting. Kegiatan pengabdian Masyarakat ini dilakukan di SMAN 3 Pekanbaru. Kegiatan ini dengan melakukan pelatihan kepada 43 Siswa anggota PMR melalui pemberian edukasi kesehatan dan demonstrasi gizi seimbang. Pelatihan dilakukan sebanyak sekali seminggu selama 3 minggu. Setiap kali pemberian edukasi kesehatan terdiri dari ceramah, pemutaran video, dan demonstrasi. Evaluasi keberhasilan dinilai dengan posttest yang diberikan kepada kelompok remaja sehat yang sudah mengikuti pelatihan. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan keterampilan siswa pada kategori baik yaitu sebanyak 30 orang atau 69,7%, kategori cukup sebanyak 10 orang atau 23,2% dan kategori kurang sebanyak 3 orang atau 6,9%.Kesimpulan dari kegiatan pengabdian masyarakat ini didapatkan peningkatan keterampilan siswa kelompok remaja sehat mengenai cara pengukuran dan pemantauan status gizi remaja sebagai upaya pencegahan dini stunting. Kata Kunci: Demonstrasi, Pemberdayaan, Pendidikan Kesehatan, Remaja, Stunting ABSTRACT Stunting is a nutritional problem that arises due to inadequate nutritional intake continuously over a long period of time. This nutritional deficiency can result in impaired growth and development in children, such as a height that is lower or shorter than age standards, as well as delays in motor skills. Based on data from the Indonesian Nutrition Status Survey (SSGI), the prevalence of stunting in Indonesia in 2022 will decrease from 24.4% to 21.6% and in Riau Province 17%. Adolescent girls have an important role in preventing stunting because they are prospective mothers who will contribute directly to the nutritional status of their children in the future. If the nutritional status of adolescent girls is not immediately improved, then in the future more and more pregnant women will have short stature or suffer from CED, which in turn will increase the prevalence of stunting in Indonesia. The aim of this community service is to increase students' knowledge and skills in measuring and monitoring the nutritional status of adolescents as an effort to prevent early stunting. This community service activity was carried out at SMAN 3 Pekanbaru. This activity involved training 43 PMR student members through providing health education and demonstrations of balanced nutrition. Training is carried out once a week for 3 weeks. Each time the health education is provided consists of lectures, video screenings and demonstrations.Evaluation of success was assessed by a posttest given to a group of healthy teenagers who had taken part in the training. The results of the activity showed an increase in students' skills in the good category, namely 30 people or 69.7%, in the sufficient category 10 people or 23.2% and in the poor category 3 people or 6.9%. The conclusion from this community service activity was that it was found that the skills of students in the healthy adolescent group had increased regarding how to measure and monitor the nutritional status of adolescents as an effort to prevent early stunting. Keywords: Adolescent, Demonstrations, Empowerment, Health Education, Stunting
Penerapan Hypnoparenting Untuk Menurunkan Tingkat Fatigue pada Pasien Anak yang Menjalani Perawatan Kanker di Ruang Anggrek Sementara RSUD Arifin Achmad Provinsi Riau Kenisa Nazlia Rizal; Ririn Muthia Zukhra; Mala Hayati
SMASH: Journal of Social Management Sains and Health Vol 2, No 1 (2025): April 2025
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/smash.v2i1.5335

Abstract

Hypnoparenting adalah suatu cara pola asuh yang dilakukan saat anak berada di alam bawah sadar dengan memberikan sugesti positif yang dapat meningkatkan rasa percaya diri dan semangat anak. Asuhan keperawatan pada pasien meliputi penerapan hypnoparenting untuk menurunkan tingkat fatigue pada pasien anak yang menjalani perawatan kanker. Asuhan keperawatan ini penting diberikan untuk menunjang proses keperawatam pasien. Beberapa penelitian terkait hypnoparenting telah terbukti keefektifannya. Pemberian asuhan keperawatan ini diberikan pada pasien dengan masalah keperawatan fatigue (keletihan). Setelah diberikan intervensi selama 30 menit selama 3 hari berturut-turut, didapatkan tingkat fatigue pasien mengalami penurunan yang diukur dengan instrumen Fatigue Assessment Scale (FAS). An. E mengalami penurunan skor fatigue dari 52 menjadi 14, dan An. Z mengalami penurunan skor fatigue dari 57 menjadi 16. Berdasarkan hasil dari penerapan asuhan keperawatan ini disarankan kepada perawat dan pasien agar dapat mempraktikkan hypnoparenting ini di dalam penatalaksanaan pasien anak yang mengalami fatigue akibat menjalani perawatan kanker.
Penerapan Rendam Kaki Dengan Air Hangat Terhadap Penurunan Suhu Tubuh pada Anak Dengan Hipertermia di Ruang Anggrek Sementara RSUD Arifin Achmad Provinsi Riau Sofia Yulidar Hafni; Ririn Muthia Zukhra; Mala Hayati
SMASH: Journal of Social Management Sains and Health Vol 2, No 1 (2025): April 2025
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/smash.v2i1.5336

Abstract

Hipertermia merupakan kondisi di mana suhu tubuh melebihi batas normal akibat peningkatan aktivitas pusat pengatur suhu di hipotalamus. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas asuhan keperawatan melalui penerapan rendam kaki dengan air hangat untuk menurunkan suhu tubuh pada pasien dengan hipertermia, khususnya pada anak-anak. Berdasarkan data dari observasi di RSUD Arifin Achmad, terdapat 4 pasien yang mengalami demam dengan berbagai diagnosis medis yang berbeda selama periode 11-12 November 2024. Penelitian ini menggunakan metode Evidence-Based Practice (EBP) dengan intervensi selama 15 menit, di mana suhu tubuh pasien diukur sebelum dan sesudah terapi. Hasil menunjukkan bahwa setelah penerapan terapi, pasien An. M mengalami penurunan suhu dari 38,8°C menjadi 38,0°C (penurunan 0,8°C), sedangkan An. R mengalami penurunan dari 38,0°C menjadi 37,3°C (penurunan 0,7°C). Penerapan rendam kaki dengan air hangat terbukti efektif dalam menurunkan suhu tubuh pasien dengan hipertermia, yang mendukung pentingnya asuhan keperawatan ini dalam praktik klinis. Penelitian ini diharapkan dapat memperkaya informasi dan pengetahuan perawat serta memberikan dasar untuk tindakan aplikatif dalam penatalaksanaan pasien dengan hipertermia. Dengan demikian, hasil penelitian ini dapat menjadi referensi bagi perawat dalam memberikan asuhan keperawatan yang komprehensif dan efektif terhadap pasien anak yang mengalami hipertermia.
Efektifitas Penggunaan Aplikasi Nutriteens Sebagai Program Berbasis Internet Untuk Pengontrolan Asupan Nutrisi Pada Remaja Obesitas: Studi Kuasi Eksperimen Syeptri Agiani Putri; Wice Purwani Suci; Ririn Muthia Zukhra; Fathra Annis Nauli; Radinal Dwiki Novendra
Jurnal Ners Vol. 10 No. 1 (2026): JANUARI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i1.52240

Abstract

Peningkatan prevalensi obesitas pada remaja memerlukan inovasi pengelolaan nutrisi yang mudah diakses dan efektif. Aplikasi mobile health (mHealth) seperti NutriTeens berpotensi mendukung pemantauan asupan kalori secara mandiri dan meningkatkan kepatuhan remaja terhadap pengaturan nutrisi harian. Penelitian ini bertujuan menganalisis efektivitas penggunaan aplikasi NutriTeens dalam meningkatkan pengetahuan gizi dan mengontrol asupan nutrisi pada remaja obesitas. Desain penelitian menggunakan one group pretest–posttest dengan 30 remaja obesitas. Intervensi berlangsung selama empat minggu melalui edukasi langsung dan pengulangan materi menggunakan aplikasi NutriTeens. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner pengetahuan gizi dan food recall 24 jam. Analisis menggunakan uji Wilcoxon dan paired t-test. Hasil menunjukkan peningkatan rerata pengetahuan gizi (15,60 menjadi 16,23), namun tidak signifikan (p = 0,399). Terdapat perbedaan signifikan antara kebutuhan energi dan asupan aktual (p = 0,002), menandakan ketidaksesuaian asupan energi dengan kebutuhan fisiologis. Penelitian ini menyimpulkan bahwa NutriTeens efektif dalam memonitor asupan nutrisi, namun belum berdampak signifikan pada peningkatan pengetahuan. Optimalisasi fitur interaktif dan durasi intervensi diperlukan untuk memperoleh hasil yang lebih efektif.
Survei Kejadian Growth Faltering Pada Anak Usia 6–12 Bulan di Kota Pekanbaru Syeptri Agiani Putri; Riri Novayelinda; Ririn Muthia Zukhra; Yesi Hasneli
Malahayati Nursing Journal Vol 7, No 6 (2025): Volume 7 Nomor 6 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v7i6.20500

Abstract

ABSTRACT Growth faltering is a condition of growth failure characterized by a slowing growth rate. The main cause is malnutrition. Continuous growth faltering conditions can cause disturbances in growth, cognitive and psychomotor development, physical activity, behavior and learning abilities. The Purpose of this study is to see the incidence of growth faltering in children aged 6 – 12 month in Pekanbaru City. This study uses a quantitative descriptive method with cross sectional approach. The research sample was 386 children aged 6 - 12 months using the Lemeshow formula. The sampling technique used purposive sampling. The instruments used were demographic data questionnaires and anthropometric measuring instruments. The data analysis used was univariate analysis. The research results show that the incidence of growth faltering in children aged 6 - 12 months in Pekanbaru City is 42.7%. Characteristics of children with growth faltering occur in children aged 9 - 11 months (40.3%) and male (51.5%). The majority of respondents were born at full term (39.9%), not LBW (43%), had a history of receiving exclusive breastfeeding (44.7%) and had family income above the minimum wage (44.9%). Based on the research results, it is recommended that the Community Health Center add education regarding providing appropriate and healthy MPASI before giving MPASI to children. Suggestions for future researchers to be able to identify factors related to the incidence of growth faltering in children. Keywords: Growth Faltering, Malnutrition, Stunted  ABSTRAK Growth faltering merupakan suatu kondisi gagal tumbuh yang ditandai dengan melambatnya laju pertumbuhan. Penyebab utamanya adalah kekurangan gizi. Kondisi growth faltering yang terus menerus dapat menyebabkan gangguan pada pertumbuhan, perkembangan kognitif dan psikomotorik, aktivitas fisik, perilaku dan kemampuan belajar. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat kejadian growth faltering pada anak usia 6 – 12 bulan di Kota Pekanbaru. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Sampel penelitian sebanyak 386 anak usia 6 – 12 bulan dengan menggunakan rumus Lemeshow. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner data demografi dan alat ukur antropometri. Analisis data yang digunakan adalah analisis univariat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kejadian growth faltering pada anak usia 6 – 12 bulan di Kota Pekanbaru sebesar 42,7%. Karakteristik anak dengan growth faltering terjadi pada anak usia 9 – 11 bulan (40,3%) dan berjenis kelamin laki-laki (51,5%). Mayoritas responden lahir cukup bulan (39,9%), tidak BBLR (43%), memiliki riwayat mendapat ASI eksklusif (44,7%) dan memiliki pendapatan keluarga di atas UMR (44,9%). Berdasarkan hasil penelitian disarankan kepada Puskesmas untuk menambah edukasi mengenai pemberian MPASI yang tepat dan sehat sebelum memberikan MPASI pada anak. Saran bagi peneliti selanjutnya agar dapat mengidentifikasi faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian growth faltering pada anak. Kata Kunci: Gizi Buruk, Growth Faltering, Stunting.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kemampuan Perawat dalam Proses Penyapihan Ventilator di Ruang Pediatric Intensive Care Unit Fadhilah Fadhilah; Erika Erika; Ririn Muthia Zukhra
Malahayati Nursing Journal Vol 7, No 1 (2025): Volume 7 Nomor 1 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v7i1.16397

Abstract

ABSTRACT Intensive room nurses must have the ability to process ventilator weaning because it can affect the incidence of prolonged ventilator use.  This study aims to determine what factors influence the ability of nurses in the ventilator weaning process in the pediatric intensive care unit. This research used quantitative-correlative description methods with a total sampling of 31 nurses in the Pediatric Intensive Care Unit at Arifin Achmad Regional Hospital. The instrument used in this research was a questionnaire on the characteristics, knowledge, attitudes, and abilities of nurses in the ventilator weaning process, which had been tested for validity and reliability. Data analysis using chi-square. There was a significant influence between age (p = 0.002), length of work (p = 0.001), and training (p = 0.000) on nurses' ability in the ventilator weaning process. There was no influence between the level of education, knowledge, and attitudes and nurses' abilities in the ventilator weaning process (p = 0.552, 0.226, and 0.376).Factors that can influence the ability of nurses in the ventilator weaning process are age, length of work, and training. Keyword: Nursing Ability, Pediatric Intensive Care Unit, Ventilator Weaning  ABSTRAK Perawat ruang intensif harus memiliki kemampuan dalam proses penyapihan ventilator karena dapat berpengaruh pada kejadian prolonged ventilator.  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi kemampuan perawat dalam proses penyapihan ventilator di ruang Pediatric Intensive Care Unit.  Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif-deskripsi korelasi dengan total sampling berjumlah 31 perawat di ruang Pediatric Intensive Care Unit RSUD Arifin Achmad. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini berupa kuesioner karakteristik perawat, pengetahuan, sikap, dan kemampuan perawat dalam proses penyapihan ventilator yang sudah dilakukan uji validitas dan reliabilitas. Analisis data menggunakan Chi-Square. Terdapat pengaruh yang signifikan antara usia (p = 0,002), lama kerja (p = 0,001), dan pelatihan (p = 0,000) dengan kemampuan perawat dalam proses penyapihan ventilator. Tidak terdapat pengaruh antara tingkat pendidikan, pengetahuan, dan sikap dengan kemampuan perawat dalam proses penyapihan ventilator (p = 0,552, 0,226, dan 0,376). Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kemampuan perawat dalam proses penyapihan ventilator yaitu usia, lama kerja, dan pelatihan. Kata Kunci: Kemampuan Perawat, Pediatric Intensive Care Unit, Penyapihan  Ventilator
PAKET EDUKASI HIDUP SEHAT “MINUM YANG CUKUP UNTUK ANAK CEMERLANG” DAN PEMERIKSAAN WARNA URIN SEBAGAI SKRINNING SEDERHANA UNTUK KEADEKUATAN MINUM PADA ANAK USIA SEKOLAH Syeptri Agiani Putri; Riri Novayelinda; Yufitriana Amir; Juniar Ernawaty; Ganis Indriati; Ririn Muthia Zukhra; Nurhannifah Rizky Tampubolon
Community Development Journal : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 5 No. 6 (2024): Vol. 5 No. 6 Tahun 2024
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/cdj.v5i6.38911

Abstract

Pendahuluan: Air merupakan komponen penting bagi tubuh manusia, yang berperan dalam berbagai fungsi vital, termasuk menjaga keseimbangan cairan tubuh, mengatur suhu tubuh, dan mendukung fungsi organ. Kebutuhan cairan yang cukup sangat penting, terutama bagi anak-anak usia sekolah yang sedang dalam masa pertumbuhan dan aktivitas fisik yang tinggi. Dehidrasi pada anak sekolah dapat menyebabkan gangguan konsentrasi, penurunan daya tahan tubuh, kelelahan, dan dampak negatif lainnya terhadap kesehatan serta prestasi belajar. Oleh karena itu, penting untuk memberikan edukasi tentang pentingnya hidrasi yang cukup guna mencegah dehidrasi dan mendukung kesehatan anak-anak di sekolah. Tujuan: Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan siswa dan kebiasaan hidrasi melalui edukasi menggunakan media PowerPoint dan buku saku di SDN 166 Sri Meranti, Kecamatan Rumbai, Pekanbaru. Metode: Kegiatan pengabdian masyarakat ini melibatkan 30 siswa kelas 4 yang mengikuti edukasi dan skrining warna urin. Penilaian dilakukan melalui pre-test dan post-test dengan kuesioner serta pengukuran kepekatan warna urin sebelum dan sesudah edukasi. Hasil: Hasil menunjukkan peningkatan rata-rata skor pengetahuan siswa dari 67,33 pada pre-test menjadi 71,67 pada post-test. Skrining urin juga menunjukkan penurunan rata-rata kepekatan warna urin dari 3,7 menjadi 3,1, yang mencerminkan perbaikan kebiasaan hidrasi siswa. Kesimpulan: Edukasi menggunakan media powerpoint dan buku saku efektif dalam meningkatkan pengetahuan dan kebiasaan minum air putih siswa. Program ini memberikan dampak positif pada kesehatan dan konsentrasi belajar siswa, serta mendorong pembentukan pola hidup sehat dengan cukup minum air putih.
Gambaran Perilaku Kesehatan Remaja Pada Siswa Sekolah Menengah Atas Sayang Maulad Tika; Syeptri Agiani Putri; Ririn Muthia Zukhra
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 1 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.739

Abstract

Remaja merupakan kelompok usia yang berada dalam tahap transisi dari masa kanak-kanak menuju dewasa, di mana terjadi banyak perubahan fisik, emosional, dan sosial. Masa ini juga menjadi periode krusial dalam pembentukan kebiasaan hidup, termasuk perilaku kesehatan. Sayangnya, remaja sering kali kurang memiliki kesadaran dan pengetahuan yang cukup dalam menjaga kesehatannya, yang dapat berdampak pada munculnya berbagai masalah kesehatan, seperti anemia, malnutrisi, dan gaya hidup tidak sehat. Oleh karena itu, penting untuk mengetahui gambaran perilaku kesehatan remaja sebagai langkah awal dalam upaya promosi dan pencegahan masalah kesehatan sejak dini. Penelitian ini menggunakan metode desain deskriptif sederhana. Sampel penelitian ini berjumlah 92 responden yang diambil menggunakan teknik Proportionate stratified random sampling. Analisis yang digunakan yaitu dengan uji statistik univariat. Hasil analisis didapatkan bahwa gambaran perilaku kesehatan remaja dikategorikan kurang baik dengan melihat pengetahuan kesehatan remaja kurang baik dalam pengetahuan etiologi kesehatan dan pencegahan dalam kesehatan sebanyak 47 remaja (51,1%), sikap kesehatan remaja kurang baik dalam sikap kognitif dan sikap konatif sebanyak 56 remaja (60,9%), dan tindakan kesehatan remaja negative dalam memberi dukungan sebanyak 53 remaja (57,6%). Berdasarkan gambaran perilaku kesehatan remaja dikategorikan kurang baik yaitu dengan hasil pengetahuan kesehatan remaja yang kurang baik, sikap kesehatan remaja yang kurang baik dan tindakan remaja terhadap kesehatan dikategorikan kurang baik.
Hubungan Kekerasan Verbal Dalam Berkomunikasi Orangtua Kepada Anak Terhadap Status Kesehatan Mental Emosional Anak Usia Prasekolah Diva Adesyahpuri; Syeptri Agiani Putri; Ririn Muthia Zukhra
Malahayati Nursing Journal Vol 8, No 6 (2026): Volume 8 Nomor 6 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v8i6.22501

Abstract

ABSTRACT The childhood stage is the most important stage in human development. The psychosocial development of preschool children is initiative and feelings of guilt. However, some parents have problems with their children using verbal violence in communicating. This causes children to become aggressive, withdraw from the environment, and can hinder learning at home and school. This research uses a descriptive correlation design with a cross sectional approach. The sample consisted of 100 parents, with sampling using a stratified random sampling technique. The analysis of this research consists of univariate using descriptive tests and bivariate using chi-square tests. The majority of respondents who used verbal violence in communicating were in the low category, amounting to 80 people (80%). The emotional mental health status of preschool age children is dominated by normal, numbering 75 people (75%). Respondents who used verbal violence in communicating were in the high-medium category with the emotional mental health status of normal and troubled preschool age children totaling 12 people (100%), while respondents who used verbal violence in communicating with children were dominated by the low none category with the emotional mental health status of normal preschool age children was 69 people (78.4%). Therefore, the statistical test results obtained a p value (0.068) α (0.05). This research shows that there is no relationship between verbal violence in parent-to-child communication and the mental-emotional health status of preschool-age children. It is hoped that health workers will carry out early detection using verbal violence questionnaires in parental communication and KMME in preschool children.  Keywords: Preschool Aged Children, Verbal Violence, Parental Communication, Emotional Mental Health Status.  ABSTRAK Tahap anak merupakan tahapan terpenting pada perkembangan manusia. Perkembangan psikososial anak usia prasekolah adalah inisiatif dan perasaan bersalah. Namun, beberapa masalah orangtua kepada anak ada yang menggunakan kekerasan verbal dalam berkomunikasi. Hal ini menyebabkan anak menjadi agresif, menarik diri dari lingkungan, serta dapat menghambat belajar di rumah dan sekolah. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif korelasi dengan pendekatan cross sectional. Sampel berupa orangtua sebanyak 100 orang, dengan pengambilan sampel menggunakan teknik stratified random sampling. Analisis penelitian ini, terdiri dari univariat menggunakan uji deskriptif dan bivariat dengan uji chi-square. Mayoritas responden yang menggunakan kekerasan verbal dalam berkomunikasi pada kategori rendah berjumlah 80 orang (80%). Status kesehatan mental emosional anak usia prasekolah didominasikan oleh normal berjumlah 75 orang (75%). Responden yang menggunakan kekerasan verbal dalam berkomunikasi pada kategori tinggi sedang dengan status kesehatan mental emosional anak usia prasekolah yang normal dan bernasalah berjumlah 12 orang (100%), sedangkan responden yang menggunakan kekerasan verbal dalam berkomunikasi kepada anak didominasikan oleh kategori rendah-tidak ada dengan status kesehatan mental emosional anak usia prasekolah yang normal berjumlah 69 orang (78,4%). Maka dari itu, hasil uji statistik diperoleh nilai p value (0,068) α (0,05). Penelitian ini menunjukkan tidak ada hubungan kekerasan verbal dalam berkomunikasi orangtua kepada anak terhadap status kesehatan mental emosional anak usia prasekolah. Diharapkan bagi tenaga kesehatan untuk melakukan deteksi dini dengan kuesioner kekerasan verbal dalam berkomunikasi orangtua dan KMME pada anak usia prasekolah. Kata Kunci: Anak Usia Prasekolah, Kekerasan Verbal, Komunikasi Orangtua, Status Kesehatan Mental Emosional.
Hubungan peran ayah dengan kejadian stunting pada anak usia 12–36 bulan: The relationship between paternal roles and stunting among children aged 12–36 months Risma Safira S; Nurhannifah Rizky Tampubolon; Ririn Muthia Zukhra
Jurnal Keperawatan Tropis Papua Vol. 8 No. 2 (2025): DESEMBER 2025
Publisher : Poltekkes Kemenkes Jayapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47539/jktp.v8i2.478

Abstract

Stunting pada anak merupakan masalah gizi kronis yang tidak hanya dipengaruhi oleh asupan nutrisi, tetapi juga oleh pola pengasuhan dalam keluarga, termasuk keterlibatan ayah. Peran ayah dalam pemenuhan gizi, pengasuhan, dan pemantauan kesehatan anak berpotensi memengaruhi status gizi anak usia dini. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara peran ayah dan kejadian stunting pada anak usia 12–36 bulan di wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Lima Puluh, Kota Pekanbaru. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif korelasional dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 108 anak usia 12–36 bulan yang dipilih menggunakan teknik cluster random sampling. Peran ayah diukur menggunakan kuesioner keterlibatan ayah, sedangkan status gizi anak dinilai berdasarkan indikator tinggi badan menurut usia (TB/U) sesuai standar WHO. Analisis data dilakukan menggunakan uji Chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar anak memiliki status gizi normal (78,7%) dan mayoritas ayah memiliki peran yang baik dalam pengasuhan (91,7%). Terdapat hubungan yang signifikan antara peran ayah dan kejadian stunting pada anak usia 12–36 bulan (p = 0,003), di mana keterlibatan ayah yang baik berkaitan dengan risiko stunting yang lebih rendah. Temuan ini menegaskan pentingnya pelibatan ayah dalam upaya pencegahan stunting melalui pendekatan berbasis keluarga, khususnya pada periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan. Stunting in children is a chronic nutritional problem influenced not only by inadequate nutrient intake but also by family caregiving practices, including paternal involvement. Fathers’ roles in nutritional provision, caregiving, and health monitoring may affect the nutritional status of young children. This study aimed to analyze the relationship between paternal roles and the incidence of stunting among children aged 12–36 months in the working area of Lima Puluh Subdistrict Primary Health Center, Pekanbaru City. This study employed a descriptive correlational design with a cross-sectional approach. The sample consisted of 108 children aged 12–36 months selected using a cluster random sampling technique. Paternal roles were measured using a father involvement questionnaire, while children’s nutritional status was assessed based on height-for-age (H/A) indicators according to WHO standards. Data were analyzed using the Chi-square test. The results showed that most children had normal nutritional status (78.7%) and the majority of fathers demonstrated good involvement in caregiving (91.7%). A significant relationship was found between paternal roles and the incidence of stunting among children aged 12–36 months (p = 0.003), where good paternal involvement was associated with a lower risk of stunting. These findings highlight the importance of engaging fathers in family-based stunting prevention efforts, particularly during the first 1,000 days of life.
Co-Authors A An Defitri Basar Abel Aprilia Putri Adesyahpuri, Diva Afriani, Dita Afriansyah, Azan Agrina, Agrina Ajeng Chaerani Insan alamsyah, Qodri Alfitra, Nur Fadia Amalia Ayuturrahmi Amin, Suci Aminatul Fitri Amir, Yufitriana Ananda, Shalsabila Aulia Andreas, Aldo Steven Anggraini, Nurmala Annisa Amelia Putri Aprianto, Azat ARDI, VELISIA DWI PUSPITA Arneliwati Ayu Lestari Ayu Wahyuni aziz, ari rahmat Azra, Azzumardi Bayhakki Bayhakki Cica Kristina Damerta, Imelda Tri Darwin - Karim Deby Octaviani Dessy Magdalena Menci Dewi, Yulia Nurmala Dian Kahfi Rivya Dimas Imam N Dina Oktavia Diva Adesyahpuri Dwi Reskhi Novithasari Eliyana, Nur Erika Erwin Erwin Erwin Erwin Fadhilah Fadhilah Fathra Annis Nauli Febriana Sabrian Giatri Rahma Sari Gita Febriani Pratiwi Ida Ayu Putu Sri Widnyani Ika Permanasari Indriani, Nia Indriati, Ganis Irawan, Muhammad Rico Irene Novita Sari Tarigan Irmaningsih, Yogi Jumaini, Jumaini ' Juniar Ernawaty Kenisa Nazlia Rizal Khairiyah, Putri Adila Lestari Lestari Limbong, Natalia Theopani Lina Triwahyuni Mala Hayati Marsella, Anggi Muryani Muryani Natanael, Christoffel Ningrum, Nurmalisadikin Setia Nopriadi Novendra, Radinal Dwiki Nurfalah, Saputri Nurhannifah Rizky Tampubolon Nurhannifah Rizky Tampubolon Nurul Qomariah Oswati - Hasanah Panjaitan, Krisman Rivaldo Pebrianti, Yeni Pratama, Andika Fadhilah Saji Putri, Abel Aprilia Putri, Fachriani Putri, Salsabila Zumari Putriani, Eka Rendi, Gusti Reni Zulfitri Ressy Herlia Riri Novayelinda Riri Novayelinda Ririn Anggreni Risma Safira S Roza Misalia Safri Safri Saputra, Angga Reza Sari, Nurfiya Sasmita, Ilyas Sayang Maulad Tika Siagian, Nadiah Marshella Silaen, Ribka Septiana Siti Febryza Indra Situmorang, Ribka Susanti Sofia Yulidar Hafni Suharti, Reni Syahputra, Fahmi Syeptri Agiani Putri Tahani Hutrika Tiara Maharani, Tiara Tiara Putri Wiraini Trianti, Rana Roidah Ufiasari, Nor Hasanah vaulyn jovanda Veny Elita Wan Nishfa Dewi Wasisto Utomo Wice Purwani Suci Widia Lestari Wirdatul Jannah Yanhaz, Aidillia Yesi Hasneli Yesi Septina Wati