Claim Missing Document
Check
Articles

Found 19 Documents
Search

Pendidikan Kesehatan Sebagai Upaya Meningkatkan Pengetahuan Tentang Penyakit Ginjal Kronis (Chronic Kidney Disease/ CKD) pada Siswa SMA Pasundan 2 Kota Cimahi Budi Rustandi; Theophylia Melisa Manumara; Ajeung Devani; Rida Octavia Butar Butar; Dini Fitriani; Azkia Az Zahra; Novia Syifa Nurhaliza; Resa Laura; Alysah Gita Maharani; Novita Wulansari; Maulidina Puji Apriliani; Ayula Devina
Jurnal Medika: Medika in progres
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/weyv1y81

Abstract

Penyakit Ginjal Kronik (PGK) merupakan kondisi kerusakan struktur atau penurunan fungsi ginjal secara progresif dan ireversibel yang berlangsung lebih dari tiga bulan. Penyakit ini menjadi masalah kesehatan global dengan prevalensi yang terus meningkat, termasuk pada kelompok remaja. Kurangnya pengetahuan remaja mengenai faktor risiko, gejala awal, dan upaya pencegahan PGK menjadi perhatian serius dalam bidang kesehatan. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran siswa SMA Pasundan 2 Kota Cimahi mengenai Penyakit Ginjal Kronik melalui pendekatan edukatif. Metode yang digunakan meliputi penyampaian materi menggunakan media Power Point, pembagian leaflet edukatif, pre-test, sesi tanya jawab, serta post-test untuk mengukur tingkat pemahaman siswa. Hasil pelaksanaan menunjukkan peningkatan pemahaman yang signifikan, tercermin dari kemampuan siswa menjawab pertanyaan pada sesi post-test dan kuis. Antusiasme dan partisipasi aktif siswa dalam sesi tanya jawab membuktikan, bahwa metode edukatif efektif meningkatkan pemahaman remaja tentang pentingnya menjaga kesehatan ginjal. Disimpulkan bahwa edukasi kesehatan mampu meningkatkan kesadaran dan pemahaman siswa mengenai bahaya PGK, faktor risiko seperti hipertensi, diabetes mellitus, konsumsi obat tanpa resep, serta pentingnya hidrasi cukup dan gaya hidup sehat sebagai upaya pencegahan penyakit ginjal kronik pada remaja
Gerakan Remaja Sadar Hidrasi (RESIK): Edukasi Pencegahan Dini Risiko Batu Ginjal pada Siswa SMK Kesehatan Rajawali Budi Rustandi; Theophylia Melisa Manumara; Intan Awaliah; Kayla Melani Putria; Dida Dida; Muthia Sabila Hidayah; Salsa Putri Windi Yulianti; Anggita Cahyani; Dina Audina Uswatun Hasanah; Anggia Ropi; Enur Atni; Meysa Maulida
Jurnal Medika: Medika in progres
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/748taq12

Abstract

Batu ginjal merupakan gangguan pada sistem perkemihan yang terjadi akibat pengendapan mineral dan garam di ginjal maupun saluran kemih. Penyakit ini dapat menyebabkan nyeri, gangguan berkemih, hingga penurunan fungsi ginjal apabila tidak ditangani dengan baik. Saat ini, faktor risiko batu ginjal tidak hanya ditemukan pada orang dewasa, tetapi juga mulai banyak dijumpai pada remaja akibat pola hidup yang kurang sehat, seperti kurang minum air putih, sering mengonsumsi minuman bersoda dan berkafein, pola makan tinggi garam, kurang aktivitas fisik, serta kebiasaan menahan buang air kecil. Rendahnya pengetahuan remaja mengenai kesehatan ginjal turut meningkatkan risiko terjadinya batu ginjal di masa mendatang. Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran siswa mengenai pencegahan batu ginjal melalui penerapan pola hidup sehat. Kegiatan dilaksanakan di SMK Kesehatan Rajawali Kabupaten Bandung Barat dengan melibatkan 30 siswa. Metode yang digunakan meliputi pendidikan kesehatan melalui ceramah interaktif, diskusi, tanya jawab, serta pembagian leaflet edukatif. Evaluasi dilakukan menggunakan pre-test dan post-test untuk mengukur tingkat pengetahuan peserta sebelum dan sesudah edukasi. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan siswa setelah mengikuti pendidikan kesehatan. Nilai rata-rata peserta meningkat dari 80 pada saat pre-test menjadi 90 pada saat post-test. Selain itu, siswa menunjukkan pemahaman lebih baik mengenai faktor risiko, tanda dan gejala, komplikasi, serta upaya pencegahan batu ginjal. Kegiatan ini terbukti efektif dalam meningkatkan pengetahuan dan kesadaran remaja mengenai pencegahan batu ginjal sejak dini
Penyuluhan Kesehatan pada Remaja Untuk Membentuk Siswa SMK Sebagai Health Agent Dalam Deteksi Dini Benign Prostatic Hyperplasia di Lingkungan Keluarga Budi Rustandi; Theophylia Melisa Manumara; Rahma Fauziah; Fauziyyah Zull Heryanto; Muhammad Fadri Ramadhan; Ilma Tri Febrian; Winda Hermawati; Rizky Rivaldi Fauji; Dewi Sri Ambarwati; Teguh Akbar Dwiyanto; Pelgi Fratama
Jurnal Medika: Medika in progres
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/xbhqq878

Abstract

Benign Prostatic Hyperplasia (BPH) merupakan salah satu masalah kesehatan yang sering terjadi pada lansia dan dapat menurunkan kualitas hidup apabila tidak terdeteksi serta ditangani sejak dini. Rendahnya pengetahuan masyarakat mengenai gejala dan faktor risiko BPH menjadi alasan penting dilaksanakannya kegiatan penyuluhan kesehatan yang melibatkan remaja sebagai agen perubahan di lingkungan keluarga. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan membentuk siswa SMK TI Pembangunan Cimahi sebagai health agent yang mampu mengenali tanda dan gejala awal BPH serta melakukan edukasi dan deteksi dini pada anggota keluarga lanjut usia. Metode yang digunakan meliputi penyuluhan interaktif, pemberian materi mengenai BPH, diskusi kelompok, serta kegiatan cerdas cermat sebagai sarana evaluasi pemahaman peserta terhadap materi yang telah disampaikan. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa siswa mampu memahami pengertian, faktor risiko, gejala, pencegahan, dan pentingnya deteksi dini BPH dengan baik. Antusiasme peserta dalam kegiatan cerdas cermat juga menunjukkan peningkatan pemahaman dan kemampuan mereka dalam menjawab pertanyaan terkait BPH. Selain itu, peserta menunjukkan kesiapan yang lebih baik untuk menyampaikan informasi kesehatan kepada keluarga dan mendorong lansia melakukan pemeriksaan apabila ditemukan gejala yang mengarah pada BPH. Kegiatan ini menunjukkan bahwa pemberdayaan remaja sebagai health agent merupakan strategi yang efektif dalam meningkatkan kesadaran keluarga terhadap deteksi dini BPH. Dengan demikian, program penyuluhan ini berkontribusi dalam upaya promotif dan preventif kesehatan masyarakat, khususnya pada kelompok lansia
GERTAK BSK: Gerakan Serentak Stop Batu Saluran Kemih melalui Edukasi Digital di SMA Pasundan 2 Cimahi Budi Rustandi; Theophylia Melisa Manumara; Agnia Fauziah; Nagia Nuramadani; Salwa Nurul Samsy; Kania Azzahra; Desi Trisnawati; Giska Pebrianti; Verawati Verawati; Sarah Nur Awaliah; Fitri Mawardiani
Jurnal Medika: Medika in progres
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/kf1svg96

Abstract

Batu Saluran Kemih (BSK) atau urolitiasis merupakan kondisi terbentuknya batu pada saluran kemih, meliputi ginjal, ureter, kandung kemih, dan uretra. Batu umumnya tersusun atas kalsium oksalat atau kalsium fosfat, meskipun dapat pula berasal dari asam urat, struvit, dan sistin. Penyakit ini telah dikenal sejak zaman kuno dan masih menjadi masalah kesehatan yang cukup sering ditemukan hingga saat ini. Gejala utama yang muncul ketika batu memasuki ureter adalah nyeri akut yang mendadak dan hebat. Selain menimbulkan ketidaknyamanan, kekambuhan batu saluran kemih dapat meningkatkan risiko komplikasi, angka kematian, serta biaya pengobatan. Prevalensi di Indonesia diperkirakan terdapat sekitar 170.000 kasus baru setiap tahun dengan prevalensi mencapai 2–15% dari populasi. Faktor risiko terjadinya urolitiasis antara lain kurang konsumsi air putih, pola makan tinggi garam dan protein, gangguan metabolik, infeksi saluran kemih, obesitas, serta gaya hidup sedentari. Perubahan gaya hidup modern menyebabkan risiko penyakit ini mulai meningkat pada usia remaja sehingga diperlukan upaya edukasi kesehatan sejak dini. Kegiatan pendidikan kesehatan berbasis digital dilaksanakan pada siswa SMA Pasundan 2 Cimahi menggunakan media PowerPoint, leaflet, poster kesehatan, dan kuis interaktif. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pengetahuan siswa mengenai pengertian, faktor risiko, gejala, dan pencegahan urolitiasis. Selain itu, siswa menjadi lebih sadar untuk menerapkan pola hidup sehat seperti meningkatkan konsumsi air putih, menjaga pola makan, dan rutin beraktivitas fisik. Pendidikan kesehatan interaktif berbasis digital terbukti efektif meningkatkan literasi kesehatan remaja terkait pencegahan urolitiasis
Pengaruh Pendidikan Kesehatan terhadap Pengetahuan dan Pencegahan Vaginitis pada Remaja SMK Rajawali Budi Rustandi; Theophylia Melisa Manumara; Agni Noviani; Sevie Nuraini; Nayla Nurkhairun Nisa; Mesi Lestari; Risa Ismaya; Selvina Selvina; Kheisya Permana Putri; Nadiah Maratu Solihah; Meita Zeta Zetira; Siti Fatimatu Jahra Nurazijah; Arin Aulia Sabrina; Moch Rifki Mubarok
Jurnal Medika: Medika in progres
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/cdgcsm82

Abstract

Vaginitis is a common reproductive health issue among adolescent girls and can affect their health and quality of life. A lack of knowledge regarding reproductive health, genital hygiene and infection prevention are factors contributing to the high incidence of vaginitis among adolescents. Various studies indicate that a lack of good personal hygiene practices can increase the risk of reproductive tract infections. Findings indicate that health education delivered through various methods, such as audiovisual media, educational videos, leaflets, peer groups, and digital applications, can improve adolescents’ knowledge, attitudes, and behaviours regarding the maintenance of reproductive organ hygiene. It was found that poor genital hygiene practices are significantly associated with an increased incidence of vaginitis. Health education delivered in a structured and continuous manner has been shown to help adolescents understand the importance of maintaining reproductive health and adopting appropriate preventive behaviours. Therefore, health education needs to be continuously developed and integrated into school activities to support improvements in adolescent girls’ reproductive health and reduce the risk of vaginitis.
Pengaruh Edukasi Pendidikan Kesehatan Penyakit Gonore untuk Remaja di SMKS Bandung Barat Cintia Sukma Nurjanah; Budi Rustandi; Selvi Dwi Habibah; Gita Fitri Rohimah; Syifa Agnaita; Lusy Julia6 Anggit Erika; Siti Sarah Regina; Natasya Sinta Dewi; Jamjam Firdaus Sagiri; Ayu Widia
Jurnal Medika: Medika in progres
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jrabh683

Abstract

Gonore merupakan salah satu infeksi menular seksual (IMS) yang masih menjadi masalah kesehatan reproduksi pada remaja. Rendahnya pengetahuan mengenai penyebab, cara penularan, gejala, komplikasi, dan pencegahan gonore dapat meningkatkan risiko terjadinya perilaku berisiko yang berdampak pada kesehatan reproduksi. Edukasi kesehatan menjadi salah satu strategi promotif dan preventif yang dapat meningkatkan pemahaman remaja terkait IMS. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan remaja mengenai gonore melalui edukasi kesehatan. Metode yang digunakan berupa penyuluhan kesehatan dengan media presentasi dan leaflet, dilanjutkan dengan diskusi interaktif serta evaluasi menggunakan quiz. Sasaran kegiatan adalah siswa sekolah menengah yang mengikuti program edukasi kesehatan reproduksi. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan peserta mengenai pengertian gonore, faktor risiko, tanda dan gejala, komplikasi, serta upaya pencegahannya. Peserta juga menunjukkan antusiasme dan partisipasi aktif selama kegiatan berlangsung. Edukasi kesehatan terbukti efektif dalam meningkatkan pengetahuan remaja mengenai gonore dan pentingnya menjaga kesehatan reproduksi. Oleh karena itu, edukasi kesehatan terkait IMS perlu dilakukan secara berkelanjutan di lingkungan sekolah sebagai upaya pencegahan penyakit dan peningkatan derajat kesehatan remaja.
The Endotracheal Suctioning and Oxygen Saturation in an Intensive Care Patient with Ischemic Stroke and Decreased Consciousness: A Descriptive Case Study Lisnawati Lisnawati; Lisbet Octovia Manalu; Istianah Istianah; Budi Rustandi
Jurnal Keperawatan Komprehensif (Comprehensive Nursing Journal) Vol. 12 No. 2 (2026): JURNAL KEPERAWATAN KOMPREHENSIF (COMPREHENSIVE NURSING JOURNAL)
Publisher : STIKep PPNI Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33755/jkk.v12i2.999

Abstract

Background: Patients with ischemic stroke and decreased consciousness are at high risk of ineffective airway clearance due to impaired cough reflex and accumulation of airway secretions. This condition may lead to hypoxemia and further neurological deterioration, requiring appropriate airway management in intensive care settings. Objective: To describe the implementation of endotracheal suctioning as part of nursing care in an intensive care patient with ischemic stroke and decreased consciousness, with particular attention to oxygen saturation and clinical airway status. Methods: A descriptive single-patient case study was conducted in the general intensive care unit. Data were collected through direct observation, physical examination, bedside monitoring, and medical record review. The nursing care process included assessment, diagnosis, planning, implementation, and evaluation. Endotracheal suctioning was performed according to clinical indications and unit protocol, and oxygen saturation was observed before and after suctioning over a five-day period. Results: At baseline, the patient presented with decreased consciousness, retained airway secretions, bilateral rhonchi, weak cough reflex, tachypnea, and oxygen saturation of 92%. Across the five-day observation period, suctioning was followed by short-term improvement in oxygen saturation, with post-procedure values reaching 97–98%, accompanied by reduced secretion burden and clearer breath sounds. By the end of observation, respiratory status was more stable and suctioning was required less frequently. Conclusion: In this case, endotracheal suctioning performed on the basis of clinical indications was associated with improvement in short-term oxygen saturation and airway clearance indicators. These observations should be interpreted within the broader context of comprehensive intensive care and should not be taken as evidence of independent treatment effect. Further studies with stronger designs are needed to evaluate the contribution of suctioning in neurocritical patients
Passive Range of Motion Intervention to Improve Physical Mobility in a Hemorrhagic Stroke Patient After External Ventricular Drainage: A Case Study Siti Komariah; Tentry Fuji Purwanti; Budi Rustandi; Lisbet Octovia Manalu
Jurnal Keperawatan Komprehensif (Comprehensive Nursing Journal) Vol. 12 No. 2 (2026): JURNAL KEPERAWATAN KOMPREHENSIF (COMPREHENSIVE NURSING JOURNAL)
Publisher : STIKep PPNI Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33755/jkk.v12i2.1005

Abstract

Background: Hemorrhagic stroke is a life-threatening neurological disorder that often leads to significant motor impairment due to intracranial bleeding, elevated intracranial pressure, and disrupted neuromuscular function. Patients in intensive care settings are highly susceptible to complications related to prolonged immobility, including joint stiffness, muscle weakness, atrophy, contractures, impaired circulation, and pressure injuries. Passive Range of Motion (ROM) exercises are commonly applied as a nursing intervention for patients who are unable to perform voluntary movement, aiming to preserve joint mobility and prevent musculoskeletal deterioration. Objective: This case study aimed to describe the implementation of nursing care in a hemorrhagic stroke patient with impaired physical mobility following External Ventricular Drainage (EVD), with a focus on the application and evaluation of passive ROM exercises in the General Intensive Care Unit (GICU). Methods: A descriptive case study design was employed involving a female patient with hemorrhagic stroke who underwent EVD placement. Data were collected through comprehensive nursing assessment, direct observation, interviews, and medical record review. Passive ROM exercises were administered twice daily for 10–15 minutes using controlled movements of the upper and lower extremities. Neurological status, hemodynamic stability, and EVD function were continuously monitored. Results: Over a five-day period, gradual improvement was observed. Muscle strength increased by one grade, joint mobility improved by approximately 10 degrees, and the Glasgow Coma Scale reached 12. No complications related to the intervention or EVD were identified. Conclusion: Passive ROM may be safely incorporated into nursing care for hemorrhagic stroke patients with EVD and may help maintain joint function and reduce immobility-related complications, although outcomes are influenced by multiple clinical factors.
ANALISIS ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN RISIKO BUNUH DIRI AKIBAT DEPRESI DENGAN INTERVENSI GUIDED IMAGERY DAN FOCUS GROUP DISCUSSION DI RUANG JIWA INTENSIF CAMAR RS JIWA PROVINSI JAWA BARATTAHUN 2026 Ai Mona; Tonika Tohri; Budi Rustandi
SINERGI : Jurnal Riset Ilmiah Vol. 3 No. 2 (2026): SINERGI : Jurnal Riset Ilmiah, February 2026
Publisher : Lembaga Pendidikan dan Penelitian Manggala Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62335/sinergi.v3i2.2428

Abstract

Background: Depression is a mood disorder that significantly increases the risk of suicide, particularly among patients in acute psychiatric intensive care settings. Suicide risk management is a priority in nursing care as it directly relates to patient safety. Non-pharmacological interventions such as Guided Imagery and Focus Group Discussion (FGD) may help stabilize emotions and improve coping mechanisms. Objective: To analyze nursing care for patients at risk of suicide due to depression through the implementation of Guided Imagery and Focus Group Discussion interventions in a psychiatric intensive care unit. Methods: This study employed a descriptive analytic method with a case study approach. Data were collected through observation, interviews, active participation, documentation review, and literature study. The subject was a patient diagnosed with depression and high suicide risk admitted to a psychiatric intensive care unit. Interventions were implemented in stages, beginning with Guided Imagery for emotional stabilization, followed by FGD to enhance social support and coping skills. Evaluation was conducted by assessing behavioral changes, emotional responses, and suicide risk scores. Results: The findings showed a significant reduction in suicide risk scores from high risk (scores of 14 and 11) to low risk (score of 3) after the interventions. Patients reported feeling calmer, more comfortable, experiencing fewer negative thoughts, and showing increased motivation to live. FGD facilitated emotional expression and strengthened social support. Conclusion: The implementation of Guided Imagery and Focus Group Discussion was effective in reducing suicide risk among patients with depression in a psychiatric intensive care setting. These interventions can be integrated into comprehensive nursing care to support suicide prevention efforts
Co-Authors A. Pratama Agni Noviani Agnia Fauziah Ahmad Arifin Ai Mona Ajeung Devani Albar Rizki Suwita Nardy Alysah Gita Maharani Anggia Ropi Anggita Cahyani Anggun Nadila Arin Aulia Sabrina Ayu Widia Ayula Devina Azkia Az Zahra Bagas Dinan Maulana Cintia Sukma Nurjanah Desi Trisnawati Dewi Puspita Sari Dewi Sri Ambarwati Dida Dida Dina Audina Uswatun Hasanah Dini Fitriani Dwi Tania Enur Atni Faiza Sausan Karinda Farla Meitha Zahra Fauziyyah Zull Heryanto Fitri Andini Fitri Mawardiani Flora Cinta Anggraini Giska Pebrianti Gita Fitri Rohimah Ilma Tri Febrian Inge Parasningtias Billah Intan Awaliah Istianah Istianah Istianah Istianah Jamjam Firdaus Sagiri Kania Azzahra Kayla Melani Putria Kheisya Permana Putri Lisbet Octovia Manalu Lisnawati Lisnawati Lusy Julia6 Anggit Erika M. Deri Ramadhan Maulidina Puji Apriliani Mawati Nduru Meita Zeta Zetira Merdiana Nurdianingsih Mesi Lestari Meysa Maulida Moch Rifki Mubarok Muhammad Fadri Ramadhan Muthia Sabila Hidayah Nadiah Maratu Solihah Nagia Nuramadani Natasya Sinta Dewi Nayla Nurkhairun Nisa Neng Nabila Tri Widia Lestari Nesa Regina Noviyanti Novia Syifa Nurhaliza Novita Wulansari Nur Aeni Mukti Pelgi Fratama Rahma Fauziah Reni Yuliana Resa Laura Rida Octavia Butar Butar Rifki Nurohman Risa Ismaya Rizki Gumilang Rizky Gumilang Pahlawan Rizky Rivaldi Fauji Rohmat, Muhammad Sahrul Rosa Dwi Handayani Salsa Nurliawati Salsa Putri Windi Yulianti Salwa Nurul Samsy Sandi Sandi Santi Nur Fadilah Sarah Nur Awaliah Saskia Agis Nurahmi Selvi Dwi Habibah Selvina Selvina Sevie Nuraini Siti Fatimatu Jahra Nurazijah Siti Komariah Siti Sarah Regina Suci Noor Hayati Syifa Agnaita Teguh Akbar Dwiyanto Tentry Fuji Purwanti Theophylia Melisa Manumara Tonika Tohri Verawati Verawati Winda Hermawati Zalva Febriana Sukardi