Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

PENINGKATAN KETRAMPILAN MAHASISWA DALAM PENGELOLAAN SAMPAH ORGANIK DAN KOTORAN TERNAK UNTUK MEWUJUDKAN GREEN CAMPUS DI KAMPUS PSDKU KABUPATEN GAYO LUES Makmur, Ali; Ulfa, Rasyida; Sari, Rahayu Eka; Pani, Mario; Ridhana, Fita; Ilham, Ilham; khalid, Idham; Riandi, Lian Varis; Alkautsar, Alkautsar; Jalaluddin, Muhammad; Novita, Andi
Peternakan Abdi Masyarakat (PETAMAS) Vol 5, No 1 (2025): Volume 5, Nomor 1, Juni 2025
Publisher : Departemen of Animal Science, Agriculture Faculty, Syiah Kuala University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/petamas.v5i1.44761

Abstract

AbstractThe activity of managing organic waste as a manifestation of achieving a Green Campus is one of the efforts to create a better environment that can benefit the community, especially those living near the campus area. Effective Microorganisms (EM-4) is a mixture of beneficial microorganisms used to improve soil quality, accelerate waste decomposition, reduce environmental pollution, and enhance plant growth. Many plants on campus have suboptimal growth, requiring fertilization. Therefore, it is necessary to engage the campus community, especially students, to produce organic fertilizer by utilizing waste from the campus environment, cafeteria, as well as organic leaf and pine litter waste, so it can be used as compost. More than 95,24% of respondents have never participated in training on compost production. Further training is needed to ensure the target audience better understands waste management.Kegiatan pengelolaan sampah organik merupakan perwujudan untuk menuju Green Campus merupakan salah satu kegiatan untuk mewujudkan terciptanya lingkungan yang baik dan dapat dimanfaatkan bagi masyarakat terutama masyarakat yang dekat dengan areal kampus.Effective Microorganisms (EM-4) adalah campuran mikroorganisme yang bermanfaat yang digunakan untuk meningkatkan kualitas tanah mempercepat penguraian sampah, mengurangi polusi lingkungan dan meningkatkan pertumbuhan tanaman Banyak tanaman yang ada dikampus yang kurang optimal pertumbuhan sehingga perlu pemupukan. Untuk itu perlu mengajak masyarakat kampus khususnya mahasiswa untuk membuat pupuk organik dengan memanfaatkan sampah yang ada di lingkungan kampus atau kantin, kotoran ternak dan sampah organik daun kayu dan seresah pinus sehingga dapat dimanfaatkan sebagai pupuk kompos. Lebih 95,24% responden yang tidak pernah mengikuti dalam pelatihan tentang pembuatan kompos. Perlu pelatihan lebih lanjut sehingga sasaran lebih paham terhadap pengelolaan sampah tersebut.
KEBERADAAN PENYAKIT KARAT DAUN (Hemileia vastatrix B. ET BR.) PADA KETINGGIAN TEMPAT BERBEDA Pani, Mario; Sari, Rahayu Eka
Agros Journal of Agriculture Science Vol 25, No 1 (2023): edisi JANUARI
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Janabadra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37159/jpa.v25i1.2496

Abstract

Salah satu organisme pengganggu tanaman yang sering menyerang pertanaman kopi adalah Hemileia vastatrix. Patogen ini dikenal sebagai penyebab penyakit Karat daun kopi. H. vastatrix menjadi patogen utama bagi tanaman kopi, sebab serangan jamur ini pada pertanaman kopi dapat menimbulkan kerugian yang berarti. Tinggi rendahnya serangan patogen ini sangat dipengaruhi oleh lingkungan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menginvestigasi keberadaan penyakit karat daun kopi pada lahan tanaman kopi dengan ketinggian tempat yang berbeda. Penelitian ini dilaksanakan di perkebunan kopi arabika di Kecamatan Silih Nara, Celala, dan Bies. Kabupaten Aceh Tengah, Provinsi Aceh, Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kejadian penyakit dan intensitas penyakit tidak berbeda nyata pada ketinggian tempat berbeda. Tingkat kejadian penyakit tertinggi berdasarkan ketinggian tempat yaitu 51% dan terendah 41%. Sedangkan pengaruh ketinggian tempat terhadap tingkat intensitas penyakit tidak terlalu tinggi antara semua sub ketinggian. Intensitas tertinggi terdapat pada sub ketinggian 1.100-1300 dpl yaitu 10,88% dan terendah pada sub ketinggian 1.300-1.500 dpl yaitu 8,69%. Secara keseluruhan perbedaan tingkat keparahan penyakit tertinggi dapat dilihat pada pengamatan pertama dan mengalami penurunan pada pengamatan terakhir. Tingkat kejadian penyakit dan intensitas penyakit pada pengamatan masih tergolong rendah, akan tetapi perlu adanya antisipasi terhadap potensi serangan patogen H.vastatrix yang lebih parah akibat dampak dari perubahan iklim secara global.
Youth Empowerment Through Papaya Cultivation with Agribusiness Innovation for Economic Independence Muhammad Husaini Assauwab; Mario Pani; Mega Wati
Journal of Community Service and Rural Development Vol. 2 No. 1 (2025)
Publisher : Business Finence Analyst Co.,

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This community service activity aims to empower the youth of Tanjung Aman Village, Darul Hasanah District, Southeast Aceh Regency through papaya cultivation as an agribusiness innovation that supports economic independence. This topic was chosen due to the low participation of youth in the agricultural sector due to a lack of understanding of the promising potential of agribusiness. The methods used included counselling, hands-on training, and assistance in managing papaya cultivation. Evaluation was conducted quantitatively and qualitatively to measure improvements in knowledge, skills, and youth participation. The results showed an 80% increase in understanding of cultivation techniques, 75% increase in practical application on personal land, and 25% increase in land productivity. This activity also encouraged economic independence with 60% of participants having developed agribusiness business plans. These results show that the practice-based training approach is effective in improving youth competence in agriculture, so it can be a sustainable empowerment model in rural areas.
PERBEDAAN KERAPATAN MANGSA TERHADAP PERILAKU DAN KEMAMPUAN PEMANGSAAN Sycanus annulicornis Dohrn. (Hemiptera: Reduviidae) Batubara, Junianto S.; Nasution, Riska Romaito; Pani, Mario; Tuti, Harlina Kusuma
Agrika Vol. 19 No. 1 (2025): MEI 2025
Publisher : Badan Penerbitan Universitas Widyagama Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31328/ja.v19i1.6843

Abstract

ABSTRAK Pengendalian hayati merupakan alternatif yang efektif untuk mengurangi dampak negatif penggunaan pestisida sintetis, seperti resistensi hama, resurgensi, munculnya hama sekunder, pencemaran lingkungan, residu pada produk pertanian, dan risiko terhadap kesehatan manusia. Salah satu agen pengendalian hayati yang potensial adalah Sycanus annulicornis (Hemiptera: Reduviidae), predator polifagus yang mampu memangsa berbagai jenis hama defoliator. Penelitian ini dilakukan untuk mempelajari lama pencarian dan penanganan mangsa oleh S. annulicornis terhadap Spodoptera frugiperda, serta menganalisis kemampuan pemangsaan predator ini pada kerapatan mangsa yang berbeda. Metode yang digunakan melibatkan pengamatan terhadap perilaku pemangsaan S. annulicornis pada kerapatan mangsa 5, 10, dan 15 ekor S. frugiperda. Parameter yang diamati meliputi waktu pencarian mangsa pertama dan kedua, waktu penanganan mangsa, serta jumlah mangsa yang dimangsa setelah 1, 3, dan 6 jam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kerapatan mangsa berpengaruh signifikan terhadap kemampuan predasi S. annulicornis. Semakin tinggi kerapatan mangsa, semakin cepat waktu pencarian dan semakin tinggi jumlah mangsa yang dimangsa. Pada kerapatan 5 dan 15 ekor, waktu pencarian mangsa pertama masing-masing adalah 7 dan 3 menit, fenomena serupa juga terjadi pada pencarian mangsa kedua.
VARIASI DOSIS MULSA ORGANIK AKASIA DAN KIRINYUH DALAM MENGENDALIKAN GULMA PADA TANAMAN KEDELAI: STUDI KARAKTERISTIK PERTUMBUHAN GULMA: Indonesia Ramut, Anuar; Yusli Harta, Rika; Pani, Mario; Maida, Maida
Jurnal Pertanian Agros Vol 27 No 1 (2025): EDISI JANUARI
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Janabadra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37159/jpa.v27i1.42

Abstract

Keberhasilan pengendalian gulma di pertanaman kedelai, selain di tentukan oleh jenis juga ditentukan dosis mulsa. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan jenis dan dosis mulsa organik untuk mengendalikan gulma di pertanaman kedelai. Penelitian di laksanakan pada bulan Agustus sampai Desember 2024, di Desa Lawe Sagu Hulu Kecamatan Lawe Bulan Kabupaten Aceh Tenggara Provinsi Aceh. Jenis mulsa organik yang digunakan adalah: akasia dan kirinyuh, serta dosis yang digunakan adalah: 0; 4,8; 9,6; 14,4 dan 19,2 ton ha-1. Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok bifaktorial dengan 4 ulangan. Peubah yang diamati adalah: persentase pengendalian gulma, persentase penutupan gulma, bobot basah gulma, jumlah spesies gulma dan jumlah populasi gulma. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis mulsa organik akasia dapat meningkatkan persentase pengendalian gulma periode 50 harian. Dosis mulsa organik 4,8 ton ha-1 sudah dapat meningkatkan persentase pengendalian gulma periode 20, 30, 40, dan 50 harian, menurunkan persentase penutupan gulma periode 20, 30, 40, dan 50 harian serta menurukan jumlah populasi gulma periode 20 harian. Dosis 14,4-19,2 ton ha-1 dapat menurunkan bobot basah gulma periode 20, 30,  dan 50 harian dan jumlah spesies gulma periode 20 dan 30 harian. Tidak terdapat interaksi antara jenis dan dosis mulsa organik akasia dan kirinyuh pada pengamatan pertumbuhan gulma apapun.
Analisis Vegetasi Gulma Pasca-Panen Tanaman Padi di Kabupaten Gayo Lues Pani, Mario; Ramut, Anuar; Sari, Rahayu Eka; Batubara, Junianto S.; Efendi, Usman
Media Pertanian Vol 10, No 2 (2025): Media Pertanian
Publisher : Program Studi Agroteknologi Universitas Siliwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37058/mp.v10i2.16852

Abstract

Padi merupakan tanaman pangan utama dengan tingkat konsumsi tinggi di berbagai wilayah Indonesia, termasuk Kabupaten Gayo Lues, Provinsi Aceh. Salah satu kendala utama dalam optimalisasi hasil panen padi adalah keberadaan gulma yang berkompetisi dengan tanaman dalam memperoleh sumber daya penting seperti air, cahaya, dan unsur hara. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis komposisi, dominansi, dan tingkat kesamaan komunitas gulma di lahan sawah pascapanen pada enam desa yang tersebar di tiga kecamatan: Blangjerango, Kutapanjang, dan Blangkejeren. Metode kuadrat digunakan untuk pengambilan sampel, dan parameter yang diamati meliputi kerapatan relatif, frekuensi relatif, dan dominansi relatif yang diintegrasikan ke dalam nilai Summed Dominance Ratio (SDR). Hasil identifikasi menunjukkan bahwa Desa Gegarang memiliki 29 spesies gulma yang didominasi oleh Bacoppa crenata (SDR 30,77%), 12 spesies di Peparik Gaib (Fimbristylis littoralis, SDR 21,01%), 15 spesies di Ulon Tanoh (Cyperus brevifolius, SDR 40,45%), 12 spesies di Beranang (Cyperus halpan, SDR 27,67%), 17 spesies di Penggalangan (Fimbristylis quinquangularis, SDR 36,59%), dan 19 spesies di Sepang (Pluchea indica, SDR 26,51%). Analisis koefisien komunitas menunjukkan tingkat kemiripan spesies yang tinggi antar desa dalam satu kecamatan (89%) dan variasi spesies yang lebih besar antar kecamatan (72,7%-95,8%). Temuan ini mengindikasikan bahwa struktur komunitas gulma sangat dipengaruhi oleh kondisi agroekosistem lokal dan praktik budidaya yang diterapkan. Penelitian ini memberikan data dasar penting untuk merancang strategi pengendalian gulma yang tepat, berkelanjutan, dan ramah lingkungan pada lahan persawahan Kabupaten Gayo Lues.  Rice is a major food crop with high consumption levels in various regions of Indonesia, including Gayo Lues Regency, Aceh Province. One of the main challenges in optimizing rice harvest yields is the presence of weeds that compete with the plants for essential resources such as water, light, and nutrients. This study aims to analyze the composition, dominance, and similarity of weed communities in post-harvest rice fields across six villages spread over three sub-districts: Blangjerango, Kutapanjang, and Blangkejeren. The quadrat method was used for sampling, and the observed parameters included relative density, relative frequency, and relative dominance, which were integrated into the Summed Dominance Ratio (SDR). Identification results indicate that Gegarang Village has 29 weed species dominated by Bacopa crenata (SDR 30.77%), 12 species in Peparik Gaib (Fimbristylis littoralis, SDR 21.01%), 15 species in Ulon Tanoh (Cyperus brevifolius, SDR 40.45%), 12 species in Beranang (Cyperus halpan, SDR 27.67%), 17 species in Penggalangan (Fimbristylis quinquangularis, SDR 36.59%), and 19 species in Sepang (Pluchea indica, SDR 26.51%). Community coefficient analysis shows a high similarity in species among villages within a sub-district (89%) and greater species variation between sub-districts (72.7%-95.8%). These findings indicate that the structure of weed communities is heavily influenced by local agroecosystem conditions and farming practices applied. This study provides essential baseline data for designing appropriate, sustainable, and environmentally friendly weed control strategies in rice fields in Gayo Lues Regency.