Claim Missing Document
Check
Articles

Found 20 Documents
Search

EDUKASI KEWIRAUSAHAAN MELALUI INOVASI PRODUK PESTISIDA NABATI RAMAH LINGKUNGAN Harlina Kusuma Tuti
Jurnal Abdimas UNU Blitar Vol 5 No 2 (2023): Volume 5 Nomor 2 : Desember 2023
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28926/jppnu.v5i2.207

Abstract

Pengangguran merupakan salah satu masalah yang selalu dihadapi dan sulit untuk dihindari bagi suatu negara, baik di negara berkembang maupun negara maju, namun pada umumnya tingkat pengangguran cenderung lebih tinggi dihadapi oleh negara-negara yang sedang berkembang. Upaya untuk mengurangi tingkat pengangguran salah satunya adalah dengan meningkatkan kewirausahaan. Kewirausahaan merupakan kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda melalui berpikir kreatif dan bertindak inovatif. Indonesia memiliki keanekaragaman flora yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber bahan pestisida nabati yang dapat digunakan sebagai produk kewirusahaan. Oleh sebab itu diperlukan sosialisasi kepada masyarakat tentang Edukasi Kewirausahaan melalui Inovasi Produk Pestisida Nabati Ramah Lingkungan. Metode yang digunakan adalah dengan penyuluhan dan motivasi kewirausahaan. Penyuluhan dilakukan oleh dosen Fakultas Pertanian Universitas Borobudur. Keanekaragaman flora di Indonesia seperti bawang putih, bawang bombai, cabai, kunyit, serai dan mimba dapat dirubah menjadi produk pestisida nabati yang dibuat secara sederhana. Produk tersebut dapat dikembangkan sebagai kewirausahaan. Langkah-langkah mengembangkan program kewirausahaan produk pestisida nabati meliputi: 1). Pengembangan program, 2). Kolaborasi dengan pakar, 3). Pendanaan dan sumber daya, 4). Fasilitas laboratorium, 5). Lokakarya dan seminar, 6). Bimbingan, 7). Pembuatan prototipe dan pengujian, 8). Kepatuhan dan peraturan, 9). Pengembangan rencana bisnis, 10). Pameran kewirausahaan dan hari pasar, 11). Peningkatan dan dukungan berkelanjutan.
Article Review: Pemanfaatan Insektisida Nabati untuk Pengendalian Wereng Batang Coklat (Nilaparvata lugens Stal.) Tuti, Harlina Kusuma; Sari, Yulia Padma; Batubara, Junianto S
JURNAL PROTEKSI TANAMAN TROPIKA Vol 7 No 3 (2024): Oktober2024
Publisher : www.ulm.ac.id

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jptt.v7i3.2911

Abstract

Botanical pesticides are pesticides derived from natural plant products that contain bioactive compounds such as secondary compounds. This compound can function as an inhibitor of development, reduces fertility, inhibits appetite (anti-feedant), repellent, attractant, has a direct effect as a poison and prevent and reduce put down the egg. Botanical insecticides are insecticides produced from plant extracts, which are obtained from various parts of plants such as flowers, fruit, seeds, leaves, stems and roots, which contain secondary metabolite compounds. Secondary metabolite compounds produced by plants include essential oils, alkaloids, phenols, flavonoids, tannins, triterpenoids, steroids and saponins. Several lying plants that produce secondary metabolite compounds are good alternatives as a source of raw materials for vegetable insecticides because they are easy to obtain and do not require fertile soil to grow, including: Tinospora crispa (L.) Miers., Azadirachta indica (A.) Juss., Swietenia mahagoni and Annona squamosa.
Article Review: Pemanfaatan Insektisida Nabati untuk Pengendalian Wereng Batang Coklat (Nilaparvata lugens Stal.) Tuti, Harlina Kusuma; Sari, Yulia Padma; Batubara, Junianto S
JURNAL PROTEKSI TANAMAN TROPIKA Vol 7 No 3 (2024): Oktober2024
Publisher : www.ulm.ac.id

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jptt.v7i3.2911

Abstract

Botanical pesticides are pesticides derived from natural plant products that contain bioactive compounds such as secondary compounds. This compound can function as an inhibitor of development, reduces fertility, inhibits appetite (anti-feedant), repellent, attractant, has a direct effect as a poison and prevent and reduce put down the egg. Botanical insecticides are insecticides produced from plant extracts, which are obtained from various parts of plants such as flowers, fruit, seeds, leaves, stems and roots, which contain secondary metabolite compounds. Secondary metabolite compounds produced by plants include essential oils, alkaloids, phenols, flavonoids, tannins, triterpenoids, steroids and saponins. Several lying plants that produce secondary metabolite compounds are good alternatives as a source of raw materials for vegetable insecticides because they are easy to obtain and do not require fertile soil to grow, including: Tinospora crispa (L.) Miers., Azadirachta indica (A.) Juss., Swietenia mahagoni and Annona squamosa.
SOSIALISASI PENGOLAHAN LIMBAH DAUN MENJADI DAUN TRANSPARAN YANG DIGUNAKAN SEBAGAI INDUSTRI KREATIF DI DESA MEKAR SARI, KECAMATAN CIKALONGKULON, KABUPATEN CIANJUR Tuti, Harlina Kusuma
Jurnal Abdimas UNU Blitar Vol 6 No 1 (2024): Vol 6 No 1 (2024): Volume 6 Nomor 1 : Juli 2024
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28926/jppnu.v6i1.281

Abstract

Sampah merupakan issue tentang permasalahan lingkungan yang sudah menjadi perhatian utama ditingkat lokal, nasional maupun internasional. Di Indonesia baik dikota maupun dipedesaan memiliki jumlah sampah organik yang sangat besar khususnya sampah daun. Sampah daun dapat diolah menjadi daun transparan yang dapat dikembangkan menjadi produk-produk kerajinan dengan nilai ekonomi yang tinggi, serta sebagai alternatif teknik pengelolaan limbah secara optimal, maka perlu disosialisasikan dalam pengelolaan limbah daun menjadi daun transparan. Pengabdian kepada masyarakat ini dilakukan dengan metode penyuluhan. Metode ini digunakan sebagai bentuk sosialisasi yang sesuai dengan kondisi Desa Mekar Sari dalam memberikan informasi, dan berdiskusi bersama masyarakat dalam mengetahui dan memahami pembuatan kerajinan berbahan sampah daun. Sampah daun diolah menjadi daun transparan yang dapat digunakan untuk berbagai kerajinan tangan yang bernilai ekonomi. Kerajinan tangan yang dihasilkan meliputi rangkaian bunga, gantungan kunci dan hiasan meja. Berdasarkan hasil evaluasi dapat diketahui jika dengan adanya kegiatan pengabdian pengolahan limbah dauan menjadi daun transparan yang digunakan sebagai industri kreatif ternyata dapat meningkatkan tingkat pengetahuan mitra dan keterampilan sebanyak 60%. Pada umumnya masyarakat sangat senang dengan adanya kegiatan penyuluhan membuat kerajinan yang bahannya mudah ditemukan dilingkungan sekitar sehingga mempermudah menambah keterampilan masyarakat dan dapat membantu dalam menumbuhkan jiwa kewirausahaan.
EDUKASI PENDEKATAN PARTISIPATIF DALAM PENGENDALIAN HAMA BURUNG DI PERTANAMAN PADI DI KECAMATAN TAMBAN CATUR KABUPATEN KAPUAS KALIMANTAN TENGAH Tuti, Harlina Kusuma; Sepe, Muslimin; Romadhan, Panji; Rido, Muhammad; Regina, Nurinayah Alfi
BAKIRA: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 5 No 2 (2024): BAKIRA : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LP2M) Universitas Pattimura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/bakira.2024.5.2.115-123

Abstract

Bird pests in rice cultivation pose a serious problem that directly affects harvest yields and farmer welfare, particularly in Tamban Catur District, Kapuas Regency, Central Kalimantan. This study focuses on implementing an educational program and field practices for bird pest control through a participatory approach. The objective of this research is to enhance farmers' understanding and skills in independently and sustainably managing bird pests. The methods used include training, extension services, and field assistance, involving active participation from farmers. The results show that this program effectively increased farmers' knowledge of bird pest control techniques and significantly reduced harvest losses caused by pest attacks. This participatory approach is expected to be widely applicable in other regions to support food security and improve farmers' welfare.
UJI EFEKTIVITAS WAKTU APLIKASI Trichoderma sp. UNTUK MENGENDALIKAN PENYAKIT LAYU FUSARIUM PADA TANAMAN CABAI (Capsicum Frutescens L) Febriana, Dela; Sunar, Sunar; Kusuma Tuti, Harlina
AGROSCIENCE (AGSCI) Vol 14, No 2 (2024): December
Publisher : Fakultas Sains Terapan, Universitas Suryakancana Cianjur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35194/agsci.v14i2.4249

Abstract

Cabai rawit ( Capsicum frutescens L.) merupakan salah satu jenis tanaman hortikultura yang banyak dibudidayakan di Indonesia karena memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi. Cabai memiliki banyak manfaat bagi manusia karena cabai kaya akan protein, lipid, karbohidrat, serat, garam mineral (Ca, P, Fe) dan vitamin A, D3, E, C, K, B2, B12 serta berfungsi sebagai antioksidan. Namun terjadi penurunan produktivitas tanaman cabai disebabkan adanya serangan penyakit tanaman berupa Layu Fusarium. Penanganan penyakit lay fusarium dapat dilakukan dengan menggunakan Trichoderama sp., namun masih kurang efektif karena beberapa hal salah satunya adalah waktu yang tepat untuk pengaplikasiannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas waktu aplikasi Trichoderma sp. untuk mengendalikan penyakit layu fusarium pada tanaman cabai. Penelitian dilakukan dengan membandingkan waktu aplikasi pada 7 hari sebelum tanam, saat tanam, dan 7 hari setelah tanam, aplikasi dilakukan pada tanaman yang telah terinfeksi patogen Fusarium oxysporum dengan metode Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial. Hasil penelitian berupa adanya interaksi antara waktu aplikasi Trichoderma sp. dengan jamur patogen Fusarium oxyporum pada tanaman cabai, waktu aplikasi Trichoderma sp. terbaik untuk mengendalikan patogen Fusarium oxysporum terdapat pada saat 7 hari sebelum tanam dengan persentase kelayuan 5.98% dan pada saat tanam dengan persentase kelayuan 6.96%. Waktu aplikasi Trichoderma sp. mempengaruhi pertumbuhan tanaman serta produktivitas tanaman cabai.
Inovasi Pengolahan Tandan Kosong Kelapa Sawit menjadi Kompos untuk Mendukung Pertanian Ramah Lingkungan di Kelurahan Bangkal Kecamatan Cempaka Tuti, Harlina Kusuma; Ratna, Ratna; Utami, Aditya Dyah; Sari, Yulia Padma; Diena, Nurin Nisa Farah; Nindhiani, Faridawati Junjung; Muchlis, Zuliyan Agus Nur; Tuniah, Tuniah; Shodiq, Muhammad Syaiful; Ridayanti, Ridayanti; Noormalasari, Soraya
Lumbung Inovasi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 10 No. 1 (2025): March
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LITPAM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/linov.v10i1.2629

Abstract

Indonesia merupakan salah satu negara penghasil kelapa sawit terbesar di dunia. Namun, keberhasilan ini juga menghasilkan tantangan berupa limbah biomassa, salah satunya adalah tandan kosong kelapa sawit. Desa Bangkal merupakan salah satu wilayah yang memiliki potensi akses terhadap limbah tandan kosong kelapa sawit dari perkebunan kelapa sawit di sekitarnya. Namun, penggunaan limbah ini di tingkat masyarakat masih sangat minim dan belum optimal sehingga potensi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pengelolaan limbah ini belum dimanfaatkan secara maksimal. Akan tetapi Pupuk organik berbasis tandan kosong kelapa sawit mampu memperbaiki struktur tanah dan meningkatkan produksi tandan buah segar hingga 34% dibandingkan pemupukan standar. Pengabdian kepada masyarat ini bertujuan untuk memberikan pemahaman dan pelatihan kepada masyarakat mengenai pemanfaatan tandan kosong kelapa sawit sebagai bahan baku pupuk organik yang ramah lingkungan dan bernilai ekonomis, serta mendorong pengelolaan limbah kelapa sawit secara berkelanjutan melalui penyuluhan, pelatihan dan praktik, serta evaluasi pengetahuan dan keterampilan peserta dilakukan melalui kuesioner yang diisi sebelum dan sesudah kegiatan. Hasil kegiatan pengabdian kepada masyarakat menunjukkan bahwa pengetahuan dan keterampilan petani di Kelurahan Bangkal mengenai pembuatan pupuk organik dari limbah seperti tandan kosong kelapa sawit meningkat setelah pelatihan. Dengan adanya pelatihan ini diharapkan kedepannya para petani di Kelurahan Bangkal dapat secara mandiri mengolah limbah organik seperti limbah pertanian atau perkebunan menjadi pupuk organik. The Innovation of Processing Palm Oil Empty Fruit Bunches into Compost to Support Environmentally Friendly Agriculture in Bangkal Village, Cempaka District Abstract Indonesia is one of the largest palm oil producing countries in the world. However, this success also creates challenges in the form of biomass waste, one of which is empty oil palm bunches. Bangkal Village is one of the areas that has potential access to empty oil palm bunch waste from surrounding oil palm plantations. However, the use of this waste at the community level is still very minimal and not optimal so that the potential to improve community welfare through the management of this waste has not been utilized optimally. However, organic fertilizer based on empty oil palm bunches can improve soil structure and increase fresh fruit bunch production by up to 34% compared to standard fertilization. This community service aims to provide understanding and training to the community regarding the use of empty oil palm bunches as raw materials for organic fertilizers that are environmentally friendly and have economic value, as well as to encourage sustainable management of oil palm waste through counseling, training and practice, and evaluation of participant knowledge and skills is carried out through questionnaires filled out before and after the activity. The results of community service activities show that the knowledge and skills of farmers in Bangkal Village regarding the manufacture of organic fertilizers from waste such as empty oil palm bunches increased after training. With this training, it is hoped that in the future farmers in Bangkal Village will be able to independently process organic waste such as agricultural or plantation waste into organic fertilizer.
EFEKTIVITAS DOSIS PUPUK ORGANIK DAN EKSTRAKSI KULIT BAWANG MERAH TERHADAP PERTUMBUHAN TANAMAN PAKCOY (Brassica rapa) Fajri, Khairul Nur; Sunar, Sunar; Tuti, Harlina Kusuma
AGROSCIENCE (AGSCI) Vol 15, No 1 (2025): June
Publisher : Fakultas Sains Terapan, Universitas Suryakancana Cianjur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35194/agsci.v15i1.4595

Abstract

Pertanian organik merupakan salah satu upaya yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi dengan bahan pangan yang bebas dari bahan kimia. Kebutuhan nutrisi tersebut salah satunya dapat dipenuhi dengan sawi pakcoy (Brassica rapa). Sawi pakcoy (Brassica rapa) merupakan sayur yang kaya akan vitamin dan mineral. Budidaya pakcoy secara organik dapat dilakukan dengan penggunaan Pupuk Organik Cair (POC). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh POC kulit bawang merah dengan metode ekstraksi secara aerob dan anaerob terhadap kandungan hara tanah dan pertumbuhan tanaman pakcoy. Pembuatan POC pada penelitian ini menggunakan metode maserasi aerob dan anaerob. Perlakuan yang digunakan pada tanaman sawi pakcoy adalah POC aerob 250 ml dan 500ml, serta POC anaerob 250 ml dan 500 ml dengan metode Rancangan Acak Kelompok (RAK). Hasil penelitian berupa pemberian POC yang paling berpengaruh untuk tinggi tanaman adalah POC anaerob 500 ml dengan tinggi 19,88 cm, jumlah daun terbanyak dengan aplikasi POC anaerob dan POC anaerob 500 ml dengan jumlah 8,2 helai, dan lebar daun tertinggi pada perlakuan POC anaerob 500 ml dengan lebar 89,6 cm2. Antar perlakuan tidak berbeda nyata, selain itu tidak terdapat perbedaan nyata dari kandungan POC hasil ekstraksi metode aerob dan anaerob.
KAJIAN LITERATUR: POTENSI ASAP CAIR SEBAGAI INSEKTISIDA ALAMI UNTUK PENGENDALIAN HAMA TANAMAN Sari, Yulia Padma; Tuti, Harlina Kusuma; Nindhiani, Faridawati Junjung
JURNAL PERTANIAN CEMARA Vol 22 No 1 (2025): JURNAL PERTANIAN CEMARA (CENDEKIAWAN MADURA)
Publisher : Fakultas Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24929/fp.v22i1.4283

Abstract

Asap cair memiliki potensi besar sebagai insektisida alami karena mengandung berbagai senyawa aktif seperti fenol, asam organik, dan senyawa karbonil yang bersifat toksik bagi serangga hama. Beberapa penelitian yang telah dilakukan menyebutkan bahwa asap cair yang berasal dari beberapa bahan seperti tandan kosong kelapa sawit, tempurung kelapa, sekam padi, serta limbah kayu karet terbukti dapat menyebabkan terganggunya perkembangan hingga menyebabkan kematian serangga hama.
Potensi Insektisida Nabati untuk Pengendalian Callosobruchus chinensis L. Tuti, Harlina Kusuma; Sari, Yulia Patma; Batubara, Junianto S
JURNAL PROTEKSI TANAMAN TROPIKA Vol 8 No 3 (2025): Oktober 2025
Publisher : www.ulm.ac.id

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jptt.v8i3.3519

Abstract

Callosobruchus chinensis L. (Coleoptera: Bruchidae) is a major storage pest of legumes that reduces seed quality, germination capacity, and causes yield losses of up to 30–50% during storage. Control strategies have generally relied on synthetic chemical insecticides, which may lead to resistance, hazardous residues, and adverse impacts on health and the environment. Therefore, botanical insecticides are considered a safer and more sustainable alternative. This review article was prepared through a systematic literature study by searching scientific publications from Google Scholar and Google Books using the keywords “botanical insecticide,” “plant extract,” “essential oil,” “pulse beetle,” and Callosobruchus chinensis. The findings indicate that several plants such as Neem (Azadirachta indica), Black Pepper (Piper nigrum), Custard Apple (Annona squamosa), Sweet Flag (Acorus calamus), Tuba Root (Derris elliptica), and Mexican Sunflower (Tithonia diversifolia) show great potential as botanical insecticides. Their active compounds, including azadirachtin, piperine, annonacin, β-asarone, rotenone, as well as alkaloids and flavonoids, act through multiple mechanisms, such as contact poison, stomach poison, antifeedant, repellent, and sterilant agents, effectively suppressing pest populations. The advantages of botanical insecticides include biodegradability, environmental safety, and the availability of abundant local resources, although limitations remain in terms of residual activity and consistency of effectiveness. Thus, botanical insecticides have the potential to be developed as an important component of environmentally friendly and sustainable Integrated Pest Management (IPM) strategies to protect stored commodities from losses caused by storage pests.