Claim Missing Document
Check
Articles

Found 37 Documents
Search

Mechanical Properties of Banana Peduncle Fiber Ropes Nur, Christmastuti; Djati, Imam Damar; Widiawati, Dian
Jurnal Sains Materi Indonesia Vol. 27 No. 1 (2025): Jurnal Sains dan Materi Indonesia
Publisher : BRIN Publishing (Penerbit BRIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55981/jsmi.2025.9439

Abstract

Banana plants are utilized in almost all parts except for the peduncle due to their hardness and the presence of gum. This research, aimed at evaluating the mechanical properties of banana peduncle fiber, particularly its tensile strength, is significant in exploring the potential of this underutilized part of the plant. The tensile test followed the SNI 12-0064-1987 standard to assess and compare Manila and sisal ropes. Six types of fiber were tested: bleached peduncle fiber, unbleached peduncle fiber, abaca (Manila) fiber, coir fiber, marketed abaca fiber, and marketed coir. The highest average maximum load was found in marketed abaca rope, which measured 346.7 kg. However, this is still below the minimum load standard required by SNI, which is 480 kg. The results of the marketed abaca differ from those of abaca ropes spun using a foot spindle, indicating that the spinning and twisting techniques significantly influence tensile test outcomes. The test also shows that the bleaching process weakens the fiber strength because the unbleached banana peduncle ropes reach a higher average maximum load (92.9 kg) than the bleached banana peduncle ropes (45.2 kg). Moreover, the tensile strength tests revealed that the average breaking load of banana peduncle fiber rope was 92.9 kg, comparable to abaca fiber at 93.7 kg and coir fiber at 92.8 kg. This comparison was based on similar variables: a diameter of 8 millimeters, similar spinning techniques using a foot spindle, and no prior bleaching process. These findings underscore the potential of underutilized banana peduncle fiber ropes as a promising alternative to abaca or coir due to their load-bearing capabilities. It is important to note that the results of this tensile test are comparative rather than absolute.
Pengaplikasian Mordan sebagai Media Cap pada Pewarna Jelawe (Termiballia berllirica), Tingi (Ceriops tagal), dan Tegeran (Cudrania javanensis) untuk Menghasilkan Visual Motif pada Material Organik Katun Takao, Gina Shobiro; Widiawati, Dian
JURNAL RUPA Vol 8 No 2 (2023): Open Issue
Publisher : Telkom University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25124/rupa.v8i2.6868

Abstract

Dampak penggunaan zat warna sintetis pada bahan tekstil memberikan dampak buruk pada lingkungan, adanya pencemaran serta gangguan kesehatan menjadi sebuah masalah yang harus di solusikan. Salah satu upaya keseimbangan alam seperti penggunaan kembali bahan alami sebagai pewarnaan tekstil, serta sekaligus untuk melestarikan kekayaan sumber daya alam dalam dunia tekstil. Banyaknya sumber daya alam yang berpotensi untuk dijadikan sebagai pewarna alami tekstil, menjadikan banyaknya masyarakat yang sadar akan keunggulan pewarna alami, menghasilkan banyak perkembangan dan inovasi dalam proses penggunaan pewarna alami hingga menyuguhkan tampilan baru untuk menyesuaikan tren saat ini. Dengan adanya fenomena dan isu tersebut dapat menjadi peluang dalam mengolah zat pewarna alami untuk diproses dan memberikan hasil yang lebih mudah diterima masyarakat saat ini. Pewarna alami yang digunakan dalam penelitian ini adalah pewarna Jelawe (Terminalia berllirica), Tegeran (Cudrania javanensis), dan Tingi (Ceriops tagal) yang biasa banyak digunakan para pembatik atau pengrajin yang menggunakan pewarna alami, dikarenakan ketiga zat pewarna alami tersebut merupakan salah satu contoh yang memiliki kepekatan dan kekuatan warna yang baik pada bahan tekstil. Ketiga warna tersebut akan dilakukan eksperimen dalam menghasilkan motif pada kain dengan cara reaksi fiksasi atau mordan dengan teknik cap untuk memberikan inovasi baru penggunaan zat pewarna alam.
The Method of Coloring Techniques to Enhance Creativity in The Product Creation of Pandanus Wickerworkers in Sungai Bakau, Ketapang : Teknik Pewarnaan untuk Peningkatan Kreativitas dalam Penciptaan Produk Perajin Anyaman Pandan Sungai Bakau, Ketapang Sulistyaningtyas, Tri; Suryani, Yani; Dewanti, Sira Kamila; Hendriyana, Husen; Widiawati, Dian
Dinamisia : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 9 No. 1 (2025): Dinamisia: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Universitas Lancang Kuning

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31849/dinamisia.v9i1.24105

Abstract

This community service activities was conducted in Ketapang, West Kalimantan. Ketapang is a coastal area with abundant natural resources, one of which is the pandanus plant. Pandanus plants are utilized by the Ketapang community to become the basic material for handicrafts by craftsmen. The pandanus crafts produced by the craftsmen contain Ketapang's cultural identity. However, the craftsmen do not have knowledge of natural coloring techniques so that the products produced are monotonous. This activity aims to increase the independence and creativity of pandan embroidery crafters through coaching and mentoring. This service uses a participatory method so that all crafters are actively involved during the activity. The result of this activity is an increase in the creativity of pandan embroidery crafters in Ketapang. Providing material on natural coloring techniques can increase the creativity of crafters. This activity opens opportunities for Ketapang crafters to introduce their cultural identity while increasing the income of Ketapang crafters' Organitation. This activity also provides an understanding of sustainable products that support environmental preservation.
PENGEMBANGAN DEKORASI WARNA PADA ANYAMAN PANDAN TASIKMALAYA Desnica, Phang; Widiawati, Dian; Nugraha, Adhi
Dinamika Kerajinan dan Batik: Majalah Ilmiah Vol. 36 No. 1 (2019): Dinamika Kerajinan dan Batik : Majalah Ilmiah
Publisher : Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri Kerajinan dan Batik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22322/dkb.v36i1.5127

Abstract

Anyaman pandan merupakan salah satu warisan kebudayaan yang masih aktif diproduksi oleh masyarakat Tasikmalaya. Anyaman pandan yang awalnya hanya diterapkan dalam pembuatan tikar, mulai dikembangkan oleh masyarakat Tasikmalaya menjadi produk fashion dan peralatan rumah tangga. Namun, potensi yang dimiliki oleh masyarakat dalam mengolah serat pandan belum berkembang, belum mampu menarik perhatian pasar, dan belum memberikan keuntungan finansial. Hal ini dapat menyebabkan kemunduran eksistensi anyaman pandan hingga menuju ambang kemusnahan. Pengembangan dalam pengolahan serat pandan, yang meliputi eksperimentasi struktur dapat memberikan suatu daya tarik pada anyaman pandan. Pada akhirnya, kegiatan eksperimentasi struktur yang dilakukan dapat berdampak pada pemberdayaan masyarakat Tasikmalaya dalam memproduksi produk anyaman pandan yang lebih berinovasi dan bermutu tinggi. Metode yang digunakan adalah pendekatan campuran kuantitatif secara deskriptif dan kualitatif melalui metode eksperimentatif dan pendekatan pasrtisipatori. Hasil menunjukkan bahwa dengan melakukan eksperimentasi struktur terhadap anyaman pandan menghasilkan berbagai macam variasi teknik anyaman menarik yang belum pernah beredar di pasaran sebelumnya. Kata Kunci: anyaman, eksperimentasi, pandan, struktur, Tasikmalaya.
PENGEMBANGAN PENGGUNAAN KAIN SARUNG TAPIS LAMPUNG MELALUI INOVASI DESAIN BERDASARKAN KETERTARIKAN GENERASI Z Fajrianingtyas, Aulia; Widiawati, Dian
JURNAL IMAJINASI Vol 9, No 2 (2025): Juli-Desember
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/i.v9i2.66337

Abstract

Kain tapis merupakan salah satu kain tradisional dari Lampung yang umumnya digunakan sebagai busana bawahan (sarung). Berkembangnya zaman dan teknologi saat ini telah mempengaruhi perubahan pada kain tapis baik dari segi ragam hias maupun penggunannya. Penggunaan kain tapis sekarang tidak lagi hanya untuk acara adat/sakral saja. Penggunaannya juga sudah dapat digunakan oleh berbagai kalangan. Namun, pada kenyataannya penggunaan kain tapis masih didominasi penggunaan formal saja. Di era digital ini, keunikan yang khas pada kain tapis memiliki potensi untuk dikembangkan agar kain tradisional tapis dapat terus terjaga keberadaanya. Pengembangan dapat dilakukan melalui inovasi desain untuk mengembangkan penggunaan kain tapis secara kasual. Generasi Z merupakan kelompok demografi yang sangat dipengaruhi oleh tren dan media sosial, sehingga cocok untuk menjadi target konsumen pada produk pengembangan kain sarung tapis. Data penelitian ini didapatkan melalui survei kuesioner pada Generasi Z umur 19-27 tahun. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang dianalisis menggunakan metode ATUMICS. Hasil dari penelitian ini merupakan pembahasan mengenai penggunaan kain sarung tapis secara kasual dan referensi desain-desain pengembangan berdasarkan analisis kuesioner ketertarikan Generasi Z.
Biokomposit Tenun dari Serat Daun Nanas dan Limbah Kulit Jeruk: Inovasi Material untuk Tekstil Berkelanjutan Smaradhina, Ken Kayla; Widiawati, Dian
Jurnal Tekstil Vol 8 No 2 (2025): Vol 8 No 2 Desember 2025
Publisher : Akademi Komunitas Industri Tekstil Dan Produk Tekstil Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59432/jurnaltekstil.v8i2.144

Abstract

The growing urgency of sustainability in the textile industry necessitates the development of biodegradable materials derived from organic waste. This study introduces a composite material that integrates pineapple leaf fiber (PLF) with bioplastic made from orange peel waste, following the Material Driven Design (MDD) framework. The composite is produced through traditional weaving techniques (plain and twill) and cast using a gelatin–agar bioplastic matrix. Mechanical testing demonstrates tensile strength of up to 26.79 kg and elongation of 98.31%, depending on the PLF content and bioplastic thickness. User perception analysis indicates that samples combining twill weave with 300 ml of bioplastic provide the most desirable tactile and visual qualities. The resulting materials are biodegradable, locally sourced, and aesthetically engaging, positioning them as viable alternatives for accessories and interior products. This research contributes to sustainable material innovation by merging craft traditions with contemporary material experimentation.
Utilization of Blacu Fabric Material Waste as an Alternative Material for Fast Fashion Products Cucu Nuraeni; Dian Widiawati
Edunity Kajian Ilmu Sosial dan Pendidikan Vol. 2 No. 12 (2023): Edunity: Social and Educational Studies
Publisher : PT Publikasiku Academic Solution

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57096/edunity.v2i12.207

Abstract

In today's fast fashion era, the fashion industry has experienced many developments supported by technological advances in the current digital era accelerating the development process in the fashion industry. In addition, the fast fashion trend is also bad for the environment, continuous product production even tends to increase the fast fashion trend produces large textile waste and requires a long time in the decomposition process. Therefore, the purpose of this study is to find out what the utilization of Blacu fabric waste produced by the fashion industry looks like. This research uses qualitative research methods with an exploratory study approach which is a good method to collect information about the perception of entrepreneurial intentions. The result of this study is that Blacu fabric waste can be reused and become an alternative material for making fast fashion in the form of bag bags or tote bags, the utilization is done using the upcycling method and patchwork processing method, this is because the production costs are economical when compared to other fabric waste processing techniques and produce product textures that have distinctive characteristics because they go through the process of preparation and sewing between fabrics