Articles
Identifikasi Hidrogeologi Situs Candi Dan Petirtaan Jolotundo Menggunakan Inversi Metode VLF-EM
Putra Sukandar, Eka Cahya;
Widodo, Amien;
Warnana, Dwa Desa
Jurnal Geosaintek Vol 4, No 2 (2018)
Publisher : Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1288.564 KB)
|
DOI: 10.12962/j25023659.v4i2.4294
Situs sejarah dan budaya menjadi salah satu peninggalan penting yang perlu dijaga, termasuk di dalamnya situs petirtaan Jolotundo yang berada di wilayah Kabupaten Mojokerto. Pengetahuan akan sistem hidrogeologi akan membantu melestarikan dan menjaga suplai air di situs petirtaan. Metode Very Low Frequency - Electromagnetic(VLF-EM) dipilih untuk memetakan sistem hidrogeologi dan aliran air di wilayah tersebut. Metode ini dipilih karena dapat memetakan wilayah yang jenuh air dengan memanfaatkan nilai resistivitas dari material di wilayah pengukuran. Jumlah lintasan yang diambil sebanyak 6 lintasan dengan spasi yang digunakan bervariasi yakni sepanjang 1 meter, 1,5 meter, serta 5 meter. Nilai resistivitas target sebesar 0-10 Ohm.meter yang merupakan rentang resistivitas dari air. Terdapat anomali yang diidentifikasi sebagai aliran air yang teridentifikasi pada lintasan 2, 3, 4, dan 5. Adapun aliran air tersebut terbentuk dari akuifer dengan tipe akuifer tertekan. Batuan penyusun sistem hidrogeologi daerah penelitian terdiri atas batuan tuff, aglomerat, serta breksi gunung api. Batuan aglomerat berfungsi sebagai batuan penyusun akuifer dari sistem hidrogeologi, sedangkan batuan tuf berfungsi sebagai batuan pembatas, yang menjebak air sehingga tidak keluar dari akuifer. Interpretasi pada penampang hasil pengolahan menunjukkan adanya 2 jalur aliran air dimana aliran pertama berada sejalajr dengan lintasan pertama sementara aliran kedua berada di sebelah timur laut dari aliran pertama. Keadalaman dari kedua aliran tersebut berturut-turut yakni sedalam 20 meter serta 6 meter. Adapun arah kedua aliran tersebut yakni barat laut-tenggara dimana aliran yang ke dua merupakan aliran yang diindikasikan menyuplai air di situs petirtaan Jolotundo. Dugaan ini dikuatkan dengan posisi situs yang berada tepat di bawah aliran ke dua.
Potensi Geowisata Bukit Jamur Kecamatan Bungah, Kabupaten Gresik, Provinsi Jawa Timur
Wijaya, I Putu Krishna;
Widodo, Amien
Jurnal Geosaintek Vol 1, No 1 (2015)
Publisher : Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (575.371 KB)
|
DOI: 10.12962/j25023659.v1i1.1199
Informasi geologi pada umumnya digunakan untuk kepentingan eksplorasi dalam bidang energi, pertambangan, keteknikan, dan lingkungan. Padahal dalam bidang pariwisata informasi geologi juga dapat digunakan untuk mendukung pengembangan suatu kawasan pariwisata khususnya wisata alam. Bukit Jamur di Kecamatan Bungah, Kabupaten Gresik memiliki keunikan dan nilai estetika yang layak untuk dijadikan sebagai suatu lokasi wisata. Bukit Jamur juga menarik dari sisi geologi karena merupakan bagian dari puncak antiklin yang telah tererosi. Bukit Jamur tersusun atas batu pasir karbonatan dan batu gamping terumbu (bafflestone) yang diinterpretasikan terbentuk di lingkungan reef front. Oleh karena itu, kawasan ini sangat berpotensi untuk dijadikan kawasan geowisata, laboratorium alam, dan sebagai tempat pembelajaran struktur geologi, stratigrafi, petrologi karbonat dan mix-silisiklastik maupun kuliah lapangan terutama bagi mahasiswa geosains.
Identifikasi Intrusi Air Laut Pada Air Tanah Menggunakan Metode Resistivitas 2d Studi Kasus Surabaya Timur
Wardhana, Rizky Rahmadi;
Warnana, Dwa Desa;
Widodo, Amien
Jurnal Geosaintek Vol 3, No 1 (2017)
Publisher : Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.12962/j25023659.v3i1.2945
Kawasan Surabaya Timur telah mengalami intrusi air laut dan berdampak pada akuifer air tanah sehingga memiliki kualitas air dengan adanya kadar garam yang terdapat pada sumur penduduk sekitar. Masalah adanya dugaan intrusi air laut ini telah diidentifikasi dengan menggunakan metode geolistrik dengan menggunakan konfigurasi wenner-schlumberger yang terletak di kawasan Surabaya Timur yang bertujuan untuk mengidentifikasi adanya intrusi air laut. Pengambilan data telah dilakukan pada kawasan Surabaya Timur saja. Data sumur juga dilakukan pengambilan sampel untuk mendapatkan hasil parameter air berupa elevasi muka air tanah, Salinitas, TDS, pH, dan Konduktivitas. Akuisisi data geolistrik dilakukan pada 3 titik lokasi yaitu Sutorejo, Klampis, dan ITS dengan menggunakan metode Resistivitas 2D dan Induced Polarization. Tahapan dari pengolahan data menggunakan perangkat lunak Res2Dinv. Berdasarkan hasil interpretasi pada daerah peneltian Sutorejo, pada kedalaman 0.6-3,5 meter atau pada perlapisan paling atas diduga terjadi intrusi air laut dengan nilai resistivitas 0.734-6.31 ohm.m yang terdapat pada bagian tengah hingga Timur Laut. Dugaan ini juga didukung dari hasil penelitian dari metode Induced Polarization yang menujukkan nilai 0.202 msec pada kedalaman 0.6 - 3.5 meter.
Pengolahan Dan Interpretasi Data Log FMI (Fullbore Formation Microimager) Untuk Analisa Rekahan
Paul Chemistra;
Pegri Aripin;
Fuadur K;
Ayi Syaeful Bahri;
Amien Widodo;
Firman Syaifuddin;
widya utama;
Jaka Rahadiansyah
Jurnal Geosaintek Vol 4, No 1 (2018)
Publisher : Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (705.236 KB)
|
DOI: 10.12962/j25023659.v4i1.3737
Telah dilakukan penelitian tentang menentukan workflow pengolahan dan interpretasi data image log FMI (Fulbore Formation MicroImager) menggunakan Geolog 7.4. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tahap-tahap yang dilakukan dalam melakukan pengolahan data image beserta interpretasi tentang analisa rekahan. Berdasarkan analisa rekahan yang dilakukan menggunakan prinsip sifat resistivitas dan konduktivitas pada gambar data log FMI ditemukan bahwa pada sumur PC-1 terdapat 27 conductive fracture dan 39 resistive fracture sedangkan pada sumur PC-2 terdapat 40 conductive fracture dan 29 resistive fracture. Pada sumur PC-1 memiliki orientasi strike dari conductive fracture berarah NNW-SSE, sedangkan orientasi strike dari resistive fracture dominan berarah NNW-SSE. Pada sumur PC-2 memiliki orientasi strike dari conductive fracture yang dominan berarah WNW-ESE, sedangkan orientasi strike dari resistive fracture yang dominan WSW-ENE.
Rancang Bangun Prototype Instrumen Pendeteksi Dini Tsunami Akibat Gempabumi dengan Memanfaatkan Prinsip Refleksi Gelombang
Kharis Aulia Alam;
Amien Widodo;
Juan Pandu Gya Nur Rochman
Jurnal Geosaintek Vol 6, No 1 (2020)
Publisher : Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.12962/j25023659.v6i1.5644
Indonesia merupakan salah satu negara yang dikategorikan sebagai negara dengan tingkat kerawanan terhadap bencana tsunami yang tinggi. Penyebab terbesar dari tsunami di Indonesia adalah aktivitas tektonik atau gempabumi, dimana hingga awal tahun 2018 lebih dari 150,000 jiwa meninggal dunia. Tingginya angka korban jiwa tersebut tentunya tidak lepas dari absennya teknologi pendeteksi dini tsunami di Indonesia dan ditambah dengan kurangnya pengetahuan masyarakat tentang tanda-tanda tsunami, seperti surutnya air laut. Perancangan prototype instrumen pendeteksi dini tsunami akibat gempabumi dilakukan dengan memanfaatkan prinsip refleksi gelombang. Sensor ultrasonik dan sensor efek doppler dikombinasikan dengan mengaplikasikan konsep penembakan dan penerimaan kembali gelombang. Pengujian dilakukan terhadap model uji rekayasa kondisi tsunami untuk melihat kemampuan instrumen dalam mendapatkan data ketinggian dan kecepatan perubahan ketinggian air. Digunakan nilai kecepatan rekayasa bernilai 0,02 m/s sebagai batas antara keadaan aman dan keadaan bahaya tsunami pada rancangan model uji. Kedua sensor mampu mendapatkan nilai ketinggian air dan kecepatan perubahan ketinggian air dengan toleransi tingkat kesalahan pembacaan data sebesar ±10-2 m/s.
Aplikasi Metode Seismik Refraksi Untuk Lintasan Terowongan Studi Kasus Wilayah “SMBR”
Lutfi Zakariah;
Dwa Desa Warnana;
Amien Widodo;
Nefrizal Nefrizal
Jurnal Geosaintek Vol 4, No 2 (2018)
Publisher : Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1053.727 KB)
|
DOI: 10.12962/j25023659.v4i2.4292
Metode seismik refraksi telah banyak digunakan untuk rekayasa bawah permukaan dalam mengidentifikasi struktur dan stratigrafi dengan memanfaatkan perbedaan elastic properties pada batuan. Pada penelitian seismik refraksi diterapkan untuk analisa bawah permukaan dalam penentuan jalur terowongan. Terowongan yang direncanakan melewati perbukitan di wilayah SMBR sangat penuh dengan resiko geologi seperti adanya struktur dan zona weathering layer. Panjang lintasan akuisisi ini sepanjang 1800 m dengan 38 titik tembak. Dari hasil pengolahan data diperoleh 3 buah lapisan, Lapisan pertama adalah soil atau tanah residual dengan rentang velocity 300-1200 m/s, pada lapisan kedua terdapat sandstone dengan rentang nilai velocity 1800 – 3100 m/s dan pada lapisan ketiga terdapat lapisan siltstone dengan rentang 2400-4400 m/s. Selain itu terdapat struktur berupa patahan pada meter ke -1105. Berdasarkan data bor sampai kedalaman 50 m dominan terdapat sandstone sehingga sering terjadi lose. Dengan mengetahui kondisi bawah permukaan diharapkan proses konstruksi menjadi lebih efektif dan menurunkan risiko kecelakaan kerja.
Pemetaan Risiko Iklim sebagai Hasil Perumusan Aksi Adaptasi Perubahan Iklim Kabupaten Probolinggo
Amien Widodo;
Adjie Pamungkas;
Ketut Dewi Martha Erly;
Ummi Fadlilah K;
Nurlaili Humaidah
Jurnal Geosaintek Vol 1, No 1 (2015)
Publisher : Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (779.563 KB)
|
DOI: 10.12962/j25023659.v1i1.1197
Kabupaten Probolinggo sebagai salah satu kabupaten yang memiliki peran strategis dalam pengembangan wilayah Jawa Timur mulai merasakan adanya gejala-gejala perubahan iklim, seperti kenaikan muka air laut, cuaca ekstrim, kenaikan suhu udara, dan perubahan pola curah hujan. Dampak perubahan iklim ini mengakibatkan permasalahan pada sektor air bersih, kekeringan, banjir, peningkatan wabah penyakit, dan sebagainya. Kegiatan ini difokuskan kepada strategi dan rencana aksi adaptasi dampak perubahan iklim di kabupaten Probolinggo. Tindakan adaptasi adalah penyesuaian pada sistem alam dan sistem kehidupan manusia dalam merespon risiko dan peluang yang timbul dari perubahan iklim yang tidak dapat dihindari. Kegiatan ini bertujuan untuk mendapatkan profil risiko iklim terhadap sistem kota/kabupaten yang rapuh dan terpengaruh dari dampak perubahan iklim di Kabupaten Probolinggo. Strategi dan rencana aksi adaptasi Kabupaten Probolinggo dilakukan dalam beberapa tahapan yaitu identifikasi dampak dari fenomena perubahan iklim, penentuan sistem kota yang rapuh, dan pemetaan risiko iklim tiap kecamatan menggunakan software ArcGIS berdasarkan skala kemungkinan dan skala konsekuensi dampak perubahan iklim terhadap sistem kota.
RANCANG BANGUN ALAT PENGUKUR KECEPATAN AKUSTIK DAN KADAR AIR VOLUMETRIK UNTUK MONITORING TANAH LONGSOR
Ahmad Iqbal Hamami;
Dwa Desa Warnana;
Amien Widodo
Jurnal Geosaintek Vol 6, No 2 (2020)
Publisher : Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.12962/j25023659.v6i2.5410
Faktor yang dapat memicu terjadinya tanah longsor salah satunya yaitu nilai hambatan geser yang kecil. Hal ini bisa disebabkan karena terdapatnya lapisan kedap air dibawah lapisan jenuh oleh air. Sehingga perlu dilakukan monitoring parameter tanah lain yang berhubungan dengan kadar air volumetrik. Dari data BNPB, dalam 10 tahun terakhir bencana tanah longsor terjadi di Indonesia lebih dari 200 kali setiap tahunnya. Dari total kejadian bencana longsor tersebut mengakibatkan 63 orang meninggal dunia dan hilang, 1625 rumah rusak, dan 37 fasilitas umum rusak. Sedangkan menurut LIPI, hingga saat ini baru terdapat 150 alat deteksi longsor yang terpasang dari ribuan yang dibutuhkan. Sehingga pada penelitian ini akan dibuat prototipe alat untuk monitoring tanah longsor. Penelitian ini akan membahas mengenai aplikasi alat ultrasonic transducers sebagai sistem monitoring kecepatan akustik pada tanah. Ultrasonic transducers adalah metode yang menggunakan 2 sensor ultrasonic dimana satu sensor dihubungkan dengan modul transmitter dan sensor yang lainnya dihubungkan dengan modul receiver, selanjutnya keduanya akan dihubungkan dengan generator gelombang dan mikrokontroler. Transmitter sebagai sensor untuk menghasilkan gelombang suara didalam tanah yang akan diterima oleh receiver. Sehingga didapatkan waktu penjalaran gelombang suara pada jarak tertentu yang telah ditentukan. Dari kedua parameter tersebut dilakukan perhitungan di software Arduino IDE sehingga bisa didapatkan output berupa kecepatan akustik pada tanah. Setelah dilakukan pengujian dengan sudut kemiringan 43o, didapatkan nilai kecepatan akustik saat terdapat rekahan pada pengujian ke-1 naik dari 1309.24 m/s ke 1694.34 m/s, 1636.55 m/s ke 2117.93 m/s pada pengujian ke-2, dan 1505.23 m/s ke 2117.93 m/s pada pengujian ke-3. Nilai kadar air volumetrik sendiri terdapat pada rentang 87% sampai 99% pada saat terdapat rekahan sampai longsoran total terjadi. Hasil dari pengujian tanah menunjukkan bahwa jenis tanah yang digunakan pada penelitian ini adalah pasir lempungan.
Pemetaan Bawah Permukaan Pada Daerah Tanggulangin, Sidoarjo Dengan Menggunakan Metoda Ground Penetrating Radar (GPR)
Elfarabi Elfarabi;
Amien Widodo;
Firman Syaifudin
Jurnal Geosaintek Vol 3, No 1 (2017)
Publisher : Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1810.52 KB)
|
DOI: 10.12962/j25023659.v3i1.2955
Pengukuran dengan menggunakan Ground Penetrating Radar (GPR) dilakukan di kawasan lumpur Sidoarjo tepatnya di daerah Tanggulangin, Sidoarjo, agar dapat memetakan bawah permukaan di daerah ini. Ground Penetrating Radar adalah metoda geofisika yang dikembangkan sebagai salah satu alat bantu untuk penelitian geologi bawah permukaan dangkal dengan menggunakan prinsip dari gelombang elektromagnetik dan memiliki hasil yang rinci. Penelitian ini dilakukan di utara pusat semburan lumpur dengan mengambil data sebanyak 8 lintasan, setelah itu data di olah menggunakan software MatGPR R3-5. Berdasarkan hasil pengolahan data diketahui bawah permukaan pada daerah penelitian sudah tidak stabil hal ini dikarenakan efek dari semburan Lumpur Sidoarjo.
IDENTIFIKASI SUNGAI BAWAH PERMUKAAN PADA DATA RESISTIVITAS 2D KONFIGURASI DIPOLE-DIPOLE DI DESA GEDOMPOL, KABUPATEN PACITAN
Ayi Syaeful Bahri;
Muthiul Padlilah;
Amien Widodo;
Anik Hilyah;
Singgih Purwanto;
Putry Vibry Hardyani;
Christopher Salim
Jurnal Geosaintek Vol 7, No 3 (2021)
Publisher : Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.12962/j25023659.v7i3.10950
Kawasan karst Pacitan tersusun oleh batuan karbonat yang mudah larut akibat adanya proses karstifikasi. Batuan karbonat ini memiliki banyak rongga percelahan yang menjadikan drainase bawah permukaan lebih berkembang dalam bentuk aliran sungai bawah permukaan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi sungai bawah permukaan dari data resistivitas 2D. Penelitian dilakukan di Desa Gedompol, Kecamatan Donorojo, Kabupaten Pacitan menggunakan metode geolistrik resistivitas 2D konfigurasi Dipole-Dipole. Akuisisi data dilakukan pada 3 lokasi berbeda sehingga dihasilkan 3 lintasan yaitu Dipole-1, Dipole-2, dan Dipole-3 yang memiliki panjang lintasan 230 meter. Penerapan konfigurasi Dipole-Dipole pada penelitian ini dilakukan untuk dapat mengetahui nilai resistivitas yang dihasilkan dari penampang bawah permukaan dengan target yang lebih dalam daripada konfigurasi lain, serta mampu memberdakan nilai resistivitas batuan secara kontras. Hasil penelitian menunjukkan bahwa anomali sungai bawah permukaan teridentifikasi pada penampang 2D di kedalaman 5 – 35 meter dengan nilai resistivitas berkisar antara 1,26 – 12,4 Ωm. Anomali ini berbentuk rongga akibat pengaruh sistem perkembangan sungai bawah permukaan yang termasuk ke dalam zona vadose. Pada zona ini, air menginfiltrasi vertikal ke dalam tanah melalui luweng dan ketika memasuki zona jenuh, air akan bergerak ke arah horizontal mengikuti celah yang semakin lama semakin melebar hingga membentuk saluran sungai bawah permukaan atau kantung air.