Claim Missing Document
Check
Articles

EDUCATIONAL VALUES IN CHILDREN LITETARY WORKS BY MURTI BUNANTA Roy Raja Sukmanta Meliala; Sahid Teguh Widodo; Slamet Subiyantoro
IJOTL-TL: Indonesian Journal of Language Teaching and Linguistics Vol. 2 No. 3 (2017): September 2017
Publisher : Center of Language and Cultural Studies [CLCS]

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (225.519 KB) | DOI: 10.30957/ijoltl.v2i3.389

Abstract

 This study aims to see the value of any character education found in children's literature entitled “The Youngest Frog”, “Si Molek”, “Masarasenani and Sun”, and “Tiny Boy” by Murti Bunanta. Children's literature is a literary work written by adults and intended for children. This study used descriptive qualitative intends to understand the phenomenon of what is experienced by the subject of research. This study revealed that the use of dominant character education values can be seen in the value of love peace, hard work, communicative, creative, and curiosity with the amount of data 4 or 13 percentage. Values of character education are manifested in the democratic and religious values.  
The Relevance Between Javanese Pitutur Luhur and Islam Religiosity Riky Zakub; Sahid Teguh Widodo; Budhi Setiawan
IBDA` : Jurnal Kajian Islam dan Budaya Vol 16 No 1 (2018): IBDA': Jurnal Kajian Islam dan Budaya
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Islam Negeri Profesor Kiai Haji Saifuddin Zuhri Purwokerto Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1043.31 KB) | DOI: 10.24090/ibda.v16i1.1659

Abstract

Javanese pitutur luhur is an honorable thought as the inheritance from Javanese ancestors in which it is bequeathed from generation to generation. Pitutur luhur is led as guidance for Javanese societies throughout their life. It contains the ancestors’ thoughts about some aspects of life since every human being (including Javanese people) has guidance for life. As religious people, for Muslim societies, it is a must to bring Qur’an and hadith into their guidance of life. This study discusses the relevance between Javanese Pitutur luhur and Islamic religiosity based on Qur’an and hadith. The result of this study shows that there is harmony and relevance between Javanese Pitutur luhur and Islam religiosity as explained in Qur’an and Hadith. To sum up, both of them can be equal to the guidance of life, and to provide directions in the middle of deculturation, dereligiosity, paganism, and secularism towards religious and cultural values.
Peran Komunitas Seni Dalam Mengembangkan Karya Hand Lettering Di Era Digital Arifah Insani Sari Utami; Ahmad Adib; Sahid Teguh Widodo
Mudra Jurnal Seni Budaya Vol 34 No 3 (2019): September
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/mudra.v34i3.669

Abstract

Hand lettering merupakan seni menggambar huruf dengan teknik manual, menggunakan peralatan seperti kuas, kapur, pen, alat pahat, dan lain-lain. Di era digital karya hand lettering menjadi popular. Pembahasan mengenai hal tersebut tidak hanya berhenti pada persoalan perwujudan estetis sebuah karya seni tetapi juga pada ranah kehidupan masyarakatnya yaitu kehidupan sosial, ekonomi, dan budaya di era digital saat ini. Komunitas berperan penting dalam mengembangkan hand lettering karena memiliki kekuatan untuk mempengaruhi lingkungannya. Artikel ini bertujuan untuk menyajikan penelitian peran dan fungsi komunitas seni dalam mempengaruhi masyarakat untuk berkarya seni tradisional dan mengembangkan hand lettering menjadi industri kreatif. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dan analisis data diskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunitas berperan penting dalam penegembangan hand lettering di era digitaldengan memaksimalkan fungsi komunitas yaitu 1) sebagai komunikator untuk mentransfer nilai, ide, dan pengetahuan mengenai hand lettering kepada anggota dan masyarakat pendukungnya 2) sebagai sarana melakukan pendekatan secara emosional kepada masyarakat untuk mensosialisasikan seni hand lettering sehingga dapat mempengaruhi kebutuhan estetis dan perilaku masyarakat pendukungnya 3) sebagai wadah dan ruang untuk mengaktualisasikan diri dalam berkarya seni hand lettering.
PENDIDIKAN KARAKTER DALAM NOVEL MAHAMIMPI ANAK NEGERI KARYA SUYATNA PAMUNGKAS TINJAUAN PSIKOLOGI SASTRA Rois Abdul Fatah; Sahid Teguh Widodo; Muhammad Rohmadi
Jurnal Gramatika Vol 4, No 1 (2018)
Publisher : Universitas PGRI Sumatera Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (109.275 KB) | DOI: 10.22202/jg.2018.v4i1.2412

Abstract

Abstrak:Novel dapat digunakan sebagai media untuk menyampaikan pembelajaran. Khususnya pendidikan karakter. Psikologi sastra dapat digunakan untuk memahami pendidikan karakter yang terkandung dalam novel. Tujuan penelitian ini pertama, menggambarkan struktur yang membangun novel Mahamimpi Anak Negeri. Kedua, menjelaskan pendidikan karakter yang terkandung dalam novel Mahamimpi Anak Negeri. Bentuk penelitian ini adalah kualitatifdeskriptif dengan pendekatan konten analisis. Data penelitian ini adalah wacana atau kutipan dalam novel. Teknik analisis menggunakan teknik analisis non-interaktif dengan melakukan pembacaan hermeneutik digunakan untuk menjelaskan secara rinci arti dalam bentuk kebahasaan terhadap wacana dalam novel Mahamimpi Anak Negeri. Hasil penelitian ini pertama, struktur pembangun novel Mahamimpi Anak Negeri ini, yaitu tema: perjuangan; alur: campuran; penokohan: Tegar, Darwin, Elang (aku), Waris, Senja, dan Paman Jono; latar: Bukit Bayur, Wogen Legok, rumah paman Wijaya, Purwokerto, kandang sapi, Universitas Gajah Mada, jakarta, dan Sttgart; dan sudut pandang orang pertama. Kedua, berdasarkan hasil analisis ditemukan 18 pendidikan karakter di dalam novel Mahamimpi Anak Negeri yaitu: religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tau, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial dan tanggung jawab.Kata Kunci: pendidikan karakter, novel Mahamimpi Anak negeri, Psikologi Sastra
PENDIDIKAN KARAKTER DALAM NOVEL MAHAMIMPI ANAK NEGERI KARYA SUYATNA PAMUNGKAS TINJAUAN PSIKOLOGI SASTRA Rois Abdul Fatah; Sahid Teguh Widodo; Muhammad Rohmadi
Jurnal Gramatika Vol 4, No 1 (2018)
Publisher : Universitas PGRI Sumatera Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (109.275 KB) | DOI: 10.22202/jg.2018.v4i1.2412

Abstract

Abstrak:Novel dapat digunakan sebagai media untuk menyampaikan pembelajaran. Khususnya pendidikan karakter. Psikologi sastra dapat digunakan untuk memahami pendidikan karakter yang terkandung dalam novel. Tujuan penelitian ini pertama, menggambarkan struktur yang membangun novel Mahamimpi Anak Negeri. Kedua, menjelaskan pendidikan karakter yang terkandung dalam novel Mahamimpi Anak Negeri. Bentuk penelitian ini adalah kualitatifdeskriptif dengan pendekatan konten analisis. Data penelitian ini adalah wacana atau kutipan dalam novel. Teknik analisis menggunakan teknik analisis non-interaktif dengan melakukan pembacaan hermeneutik digunakan untuk menjelaskan secara rinci arti dalam bentuk kebahasaan terhadap wacana dalam novel Mahamimpi Anak Negeri. Hasil penelitian ini pertama, struktur pembangun novel Mahamimpi Anak Negeri ini, yaitu tema: perjuangan; alur: campuran; penokohan: Tegar, Darwin, Elang (aku), Waris, Senja, dan Paman Jono; latar: Bukit Bayur, Wogen Legok, rumah paman Wijaya, Purwokerto, kandang sapi, Universitas Gajah Mada, jakarta, dan Sttgart; dan sudut pandang orang pertama. Kedua, berdasarkan hasil analisis ditemukan 18 pendidikan karakter di dalam novel Mahamimpi Anak Negeri yaitu: religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tau, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial dan tanggung jawab.Kata Kunci: pendidikan karakter, novel Mahamimpi Anak negeri, Psikologi Sastra
KAJIAN STRUKTURAL WANDA WAYANG DURGA DALAM PERSPEKSTIF CERITA PEWAYANGAN SUDAMALA DAN BUDAYA JAWA Restu Budi Setiawan; Sahid Teguh Widodo; Suyitno Suyitno
Widyaparwa Vol 46, No 1 (2018)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (186.85 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v46i1.161

Abstract

This article want to describe and explain about the meaning of wanda wayang Durga gagrag Surakarta on Javanese culture perspective. Wanda wayang Durga which explain in this article consist of the Durga wanda belis, wanda gedrug, wanda gidrah, wanda murgan, wanda surak, and wanda wewe. The approach which used on this research is structuralism-semiotic approach from Levi-Strauss model. This approach is chosen because it is considered can explain the object deeper from two side that are outside structure or surface-structure and inside structure or deep- structure. Material object of this research is the figure of Durga from many kind of wanda. Formal object of this research is structural analysis. Primary data on in this research is document wanda wayang of Durga figure. Therefore, the secondary data are interview document and literature review. Analysis data technique on this research consist on four phases, that are data collected phase, data reduction, data presentation, and conclusion drawing.Artikel ini mengupas makna dari wanda wayang Durga gagrag Surakarta dalam perspektif cerita pewayanganSudamala dan kebudayaan Jawa. Pedekatan yang digunakan adalah pendekatan strukturalisme semiotik model Levi Strauss yang menjelaskan suatu objek kajian secara struktural melalui dari dua sisi yaitu struktur luar yang dikenal dengan istilah surface structure dan struktur dalam   yang dikenal dengan istilah deep structure. Objek material dari penelitian ini adalah sosok Durga yang terdapat dalam berbagai macam wanda tersebut diatas. Objek formal penelitian ini adalah sebuah kajian struktural. Data dalam penelitian ini terdiri atas dua jenis data yakni data primer dan data sekunder. Data primer dalam penelitian ini adalah dokumen wanda wayang tokoh Durga, sedangkan data sekundernya adalah wawancara dan studi pustaka. Teknik analisis data dalam penelitian ini meliputi empat tahap, yakni tahap pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan simpulan. Temuan yang terdapat dalam penelitian ini diantaranya adalah berbagai macam wanda wayang tokoh Durga dalam pewayangan gaya Surakarta yang diantaranya adalah Durga wanda belis, wanda gedrug, wanda gidrah, wanda murgan, wanda surak, wanda reca, wanda ngerik, wanda ratudan wanda wewe.
CERITA RAKYAT SUNAN MURIA: PENDEKATAN STRUKTURAL DAN NILAI KARAKTER Hidar Amaruddin; Yanuar Bayu Isnaeni; Herman J. Waluyo; Sahid Teguh Widodo
Dialektika: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 6, No 2 (2019)
Publisher : Department of Indonesia Language and Literature Teaching, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/dialektika.v6i2.13561

Abstract

Abstract: This article aims to describe the structure contained in Sunan Muria Folk Literature and describe the character values in Sunan Muria Folk Literature. This research is a qualitative descriptive study. The type of plot used in Sunan Muria Folk Literature in Kudus Regency is a straight or advanced plot. The dominant figure in the Sunan Muria Folk Literature in Kudus Regency is a good human character. More background is used in this folk literature. Sunan Muria Folk Literature in Kudus Regency contains varied suggestions. The character values in this folk literature include religious values, honesty, tolerance, discipline, hard work, independence, democratization, friendship/ communicative, peace, social life, and the value of responsibility. Abstrak: Artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan struktur yang terkandung dalam Sastra Rakyat Sunan Muria dan menguraikan nilai-nilai karakter dalam Sastra Rakyat Sunan Muria. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif. Jenis plot yang digunakan dalam Sastra Rakyat Sunan Muria di Kabupaten Kudus adalah plot lurus atau maju. Tokoh dominan dalam Sastra Rakyat Sunan Muria di Kabupaten Kudus adalah karakter manusia yang baik. Latar belakang tempat lebih banyak digunakan dalam literatur rakyat ini. Sastra Rakyat Sunan Muria di Kabupaten Kudus berisi saran variatif. Nilai-nilai karakter yang dalam literatur rakyat ini antara lain nilai religi, kejujuran, toleransi, disiplin, kerja keras, kemandirian, demokratisasi, persahabatan/komunikatif, damai, kehidupan sosial, dan nilai tanggung jawab. 
Memahami Makna Seni dalam Pencak Silat Suryo Ediyono; Sahid Teguh Widodo
PANGGUNG Vol 29 No 3 (2019): Transformasi Bentuk dan Nilai dalam Seni Budaya Tradisi
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v29i3.1014

Abstract

ABSTRACTThe martial art or pencak silat is a combating method that philosophically teaches both spiritual and physical education helping the enthusiasts to live with the noble moral values in their society. The material object of this study is pencak silat and the formal object is the philosophy of arts or aesthetics of the pencak silat. This study aims to examine (1) norms or manners of pencak silat, (2) pencak silat style, (3)  pencak silat categories and pencak silat equipments. This research employs factual-historical method by means of description, analysis, and synthesis. The results are (1) norms of pencak silat are conceptually found in the attitude of performance, steps (gerak langkah), attack (serangan), and defense (belaan), (2) martial arts style consists of the mental-spiritual aspects, martial arts, arts, and sport, (3) arts in martial arts are subdivided into wiraga, wirama, and wirasa, and the martial arts equipments include specific use of costumes, weapons, and traditional music acompaniments. Keywords: martial arts style, pencak silat, philosophical values, wiraga-wirama-wirasa ABSTRAK Seni bela diri pencak silat sebagai metode bertarung secara filosofis mengajarkan pendidikan spiritual dan fisik untuk membantu para peminatnya dalam menghayati nilai-nilai moral yang luhur di dalamnya. Objek material dari penelitian ini adalah pencak silat dan objek formal adalah filsafat seni atau estetika dari pencak silat tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menguji (1) norma atau perilaku pencak silat, (2) gaya pencak silat, (3) kategori pencak silat dan peralatannya. Penelitian ini menggunakan metode faktual-historis melalui deskripsi, analisis, dan sintesis. Hasilnya adalah (1) norma pencak silat yang secara konseptual ditemukan dalam sikap kinerja, gerak langkah, serangan, dan pertahanan (belaan), (2) gaya seni bela diri (aliran gaya) yang terdiri dari aspek mental-spiritual, bela diri, seni, dan olahraga, (3) seni dalam seni bela diri dibagi menjadi wiraga, wirama, dan wirasa serta peralatan seni bela diri termasuk penggunaan kostum, senjata khusus, dan pengiring musik tradisional.Kata kunci: gaya seni bela diri, pencak silat, nilai filosofis, wiraga-wirama-wirasa
Variasi Istilah dalam Upacara Adat Pernikahan Masyarakat Pendalungan: Kajian Semantik di Era VUCA Mijianti, Yerry; Widodo, Sahid Teguh; Rohmadi, Muhammad
Proceedings Series on Social Sciences & Humanities Vol. 20 (2024): Prosiding Pertemuan Ilmiah Bahasa & Sastra Indonesia (PIBSI XLVI) Universitas Muhamm
Publisher : UM Purwokerto Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30595/pssh.v20i.1300

Abstract

Kondisi dan karakteristik masyarakat Pendalungan membuat pelaksanaan upacara adat dipengaruhi oleh pola pikir, kebiasaan, kelengkapan bahan, ilmu yang dimiliki, dan kondisi saat ini. Kecenderungan mudah berubah, ketidakpastian, kompleksitas, dan ambiguitas merupakan gambaran kondisi masyarakat saat ini akibat perkembangan teknologi dan informasi. Penelitian kualitatif dengan strategi etnografi dengan sub strategi etnolinguistik. Data berupa informasi dari dalang manten pelaksana upacara adat Jawa. Data dikumpulkan dengan observasi partisipan, wawancara, dan pengamatan. Kesahihan data dilakukan dengan triangulasi data, triangulasi teori, triangulasi metode, dan triangulasi peneliti. Analisis data menggunakan empat jenis analisis data etnografi, yaitu analisis domain, analisis taksonomi, analisis komponen, dan analisis tema. Variasi istilah yang terdapat dalam upacara adat pernikahan masyarakat Pendalungan di Kabupaten Jember meliputi tiga belas istilah yang khas dan dikaji dari empat sudut pandang, meliputi wujud, struktur, makna, dan fungsi. Ketiga belas istilah memiliki minimal satu dan maksimal delapan variasi. Istilah yang mengalami variasi atau keragaman yaitu pemasangan tarub, pemasangan tratak, kerik, ganti baju, potong tumpeng, balangan gantal sirih, wiji dadi, sindur binayang, timbang, tanem, dhahar kembul, mertui, dan sepasaran pengantin.
Acquisition de Compétences Interculturelles dans l'Apprentissage du Français au Niveau Universitaire Handayani, Sri; Bani Sudardi; Sahid Teguh Widodo; Tri Indri Hardini
HEXAGONE Jurnal Pendidikan, Linguistik, Budaya dan Sastra Perancis Vol. 14 No. 1 (2025): HEXAGONE
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/hxg.v14i1.67972

Abstract

Cette étude examine le processus d’acquisition des compétences interculturelles dans l’apprentissage du français à l’Universitas Negeri Semarang (UNNES). En s’appuyant sur une approche qualitative et une étude de cas, les données ont été recueillies à travers des entretiens approfondis avec 14 enseignants de français. Les résultats révèlent que, bien que la transmission de la compétence interculturelle soit considérée comme importante, elle reste encore partielle. Les dimensions du savoir, de la compréhension et des compétences pratiques (savoir-faire) sont davantage explorées, tandis que les attitudes (savoir-être) et la pensée critique (savoir-s’engager) sont moins abordées. L’étude identifie cinq fonctions essentielles de la compétence interculturelle pour les apprenants : 1) prévenir le choc culturel, 2) faciliter la compréhension des contextes linguistiques et culturels, 3) motiver et préparer mentalement, 4) renforcer l’identité personnelle et filtrer les valeurs non compatibles, 5) développer un esprit critique dans la réception d’informations. L’intégration plus équilibrée des cinq dimensions proposées par Byram est nécessaire pour former des apprenants capables de naviguer efficacement dans un monde multiculturel. Cette étude recommande un renforcement des formations enseignantes en matière de compétence interculturelle et une révision curriculaire intégrant ces dimensions de manière systématique.