Claim Missing Document
Check
Articles

Found 34 Documents
Search

PERKEMBANGAN INDUSTRI JENANG MUBAROK FOOD DI DESA GLANTENGAN TAHUN 1980-1998 Susanti, Salma Hanifah Putri; WijayatI, Putri Agus
Journal of Indonesian History Vol 9 No 2 (2020): Journal of Indonesian History
Publisher : Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jih.v9i2.47091

Abstract

Pada tahun 1980-1997, seiring dengan berkembangnya ekonomi industri di dalam masyarakat, membuat salah satu industri Jenang di Kudus meroket. Namun, ditengah perkembangan tersebut, terjadinya krisis ekonomi yang melanda di Indonesia memberikan dampak bagi sektor industri. Salah satunya adalah industri Jenang Mubarokfood. Industri Jenang Mubarokfood berada di Desa Glantengan. Penelitian ini membahas tentang sejarah industri jenang di Kudus dan peran industri Jenang Mubarokfood. Terutama terkait perkembangan Mubarokfood dan dampak yang diberikan kepada masyarakat sekitar industri. Penelitian ini berkonsentrasi di sepanjang tahun 1980-1998, ketika perkembangan industri Jenang Mubarokfood semakin berkembang. Penelitian ini mengambil satu lingkup spasial yang terjadi di Kabupaten Kudus. Lebih lanjut penelitian ini mencoba melihat sejarah awal terbentuknya industri Jenang di Kabupaten Kudus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa industri Jenang Mubarokfood menjadi cikal bakal berkembangnya industri jenang yang lain. Tak hanya itu, sejarah jenang di Kudus tidak lepas dari perkembangan tradisi yang ada di masyarakat, khususnya masyarakat di Desa Glantengan. Saat terjadi perkembangan industri jenang, memberikan banyak hal bagi masyarakat di Kudus. Hal tersebut terlihat setelah adanya industri Jenang Mubarokfood, yang memberikan dampak positif bagi masyarakat sekitar, khususnya penduduk Glantengan
Dari Perizinan Hingga Pelarangan: Perjudian Di Kota Semarang Tahun 1970-1997 prabowo, dwi hendro; Wijayati, Putri Agus
Journal of Indonesian History Vol 10 No 1 (2021): Journal Of Indonesian History
Publisher : Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jih.v10i1.47197

Abstract

Perkembangan kota Semarang sebagai sebuah kota modern dapat dilihat dari penduduknya yang terdiri dari beragam etnis, profesi, dan struktur sosial. Secara historiografis perkembangan etnis di Semarang dijelaskan oleh De Graaf menyatakan bahwa sudah lama terjadi interaksi pertukaran komoditas barang dagangan dan hasil kebudayaan, antara orang Jawa dan Tionghoa yang terjadi di Kota Semarang. Pokok permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini meliputi, (1) Bagaimana perjudian muncul dari sekedar permainan biasa dari hiburan masyarakat, berubah menjadi permainan yang diatur pemerintah kota Semarang, (2) Bagaimana perjudian di kota Semarang diatur dan diarahkan sehingga menjadi sumber dana pendapatan bagi pemerintah kota, (3) Bagaimana wacana perjudian dibentuk dan dilarang keberadaannya, serta dicitrakan sebagai kegiayan yang mengancam moralitas masyarakat. Metode penelitian yang dilakukan dalam proses penelitian ini menggunakan metode sejarah. Dari hasil penelitian yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa perjudian di Kota Semarang berhubungan dengan berbagai pihak baik pemain, oknum tertentu, dan juga pemerintah.
Pesantren Al-Kahfi Somalangu Kebumen Dalam Lintasan Revolusi Adrianto, Bayu; Wijayati, Putri Agus
Journal of Indonesian History Vol 9 No 1 (2020): Journal of Indonesian History
Publisher : Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jih.v9i1.40983

Abstract

In 1945-1949, along with the development of the nationalism spirit of rejection of colonialism echoed by international institutions, which were transferred to countries in the world, including Indonesia. The return of the Dutch to occupy Indonesia, the spread of the spirit of patriotism in various regions spearheaded by the military and the army of the people. One of them is the resistance carried out by the Islamic laskar of Somalangu Al-Kahfi Islamic Boarding School. The Islamic Warriors, named the Islamic Oemat Force (AOI), guarded the Kebumen area and the capital of Yogyakarta from the Dutch attack. The results of the study showed that the role of the AOI as an Islamic army which had its headquarters in Al-Kahfi Somalangu Islamic Boarding School was quite large during military aggression. they commanded with the military trying to defend Kebumen from the Netherlands. Not only that, the contribution was also carried out in maintaining the Republic of Indonesia's capital, Yogyakarta. After the KMB diplomacy, the fusion of paramilitary forces and military forces became a part of APRIS, apparently not ready. This can be seen after the clash between groups, which resulted in civil war.
PERKEMBANGAN INDUSTRI JENANG MUBAROK FOOD DI DESA GLANTENGAN TAHUN 1980-1998 Susanti, Salma Hanifah Putri; WijayatI, Putri Agus
Journal of Indonesian History Vol 9 No 2 (2020): Journal of Indonesian History
Publisher : Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jih.v9i2.47091

Abstract

Pada tahun 1980-1997, seiring dengan berkembangnya ekonomi industri di dalam masyarakat, membuat salah satu industri Jenang di Kudus meroket. Namun, ditengah perkembangan tersebut, terjadinya krisis ekonomi yang melanda di Indonesia memberikan dampak bagi sektor industri. Salah satunya adalah industri Jenang Mubarokfood. Industri Jenang Mubarokfood berada di Desa Glantengan. Penelitian ini membahas tentang sejarah industri jenang di Kudus dan peran industri Jenang Mubarokfood. Terutama terkait perkembangan Mubarokfood dan dampak yang diberikan kepada masyarakat sekitar industri. Penelitian ini berkonsentrasi di sepanjang tahun 1980-1998, ketika perkembangan industri Jenang Mubarokfood semakin berkembang. Penelitian ini mengambil satu lingkup spasial yang terjadi di Kabupaten Kudus. Lebih lanjut penelitian ini mencoba melihat sejarah awal terbentuknya industri Jenang di Kabupaten Kudus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa industri Jenang Mubarokfood menjadi cikal bakal berkembangnya industri jenang yang lain. Tak hanya itu, sejarah jenang di Kudus tidak lepas dari perkembangan tradisi yang ada di masyarakat, khususnya masyarakat di Desa Glantengan. Saat terjadi perkembangan industri jenang, memberikan banyak hal bagi masyarakat di Kudus. Hal tersebut terlihat setelah adanya industri Jenang Mubarokfood, yang memberikan dampak positif bagi masyarakat sekitar, khususnya penduduk Glantengan
Dari Perizinan Hingga Pelarangan: Perjudian Di Kota Semarang Tahun 1970-1997 prabowo, dwi hendro; Wijayati, Putri Agus
Journal of Indonesian History Vol 10 No 1 (2021): Journal Of Indonesian History
Publisher : Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jih.v10i1.47197

Abstract

Perkembangan kota Semarang sebagai sebuah kota modern dapat dilihat dari penduduknya yang terdiri dari beragam etnis, profesi, dan struktur sosial. Secara historiografis perkembangan etnis di Semarang dijelaskan oleh De Graaf menyatakan bahwa sudah lama terjadi interaksi pertukaran komoditas barang dagangan dan hasil kebudayaan, antara orang Jawa dan Tionghoa yang terjadi di Kota Semarang. Pokok permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini meliputi, (1) Bagaimana perjudian muncul dari sekedar permainan biasa dari hiburan masyarakat, berubah menjadi permainan yang diatur pemerintah kota Semarang, (2) Bagaimana perjudian di kota Semarang diatur dan diarahkan sehingga menjadi sumber dana pendapatan bagi pemerintah kota, (3) Bagaimana wacana perjudian dibentuk dan dilarang keberadaannya, serta dicitrakan sebagai kegiayan yang mengancam moralitas masyarakat. Metode penelitian yang dilakukan dalam proses penelitian ini menggunakan metode sejarah. Dari hasil penelitian yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa perjudian di Kota Semarang berhubungan dengan berbagai pihak baik pemain, oknum tertentu, dan juga pemerintah.
KEKERASAN DAN KRIMINALITAS DI KOTA SEMARANG: ANTARA NEGARA KOLONIAL DAN OTORITAS LOKAL Putri Agus Wijayati
Al-Qalam Vol 25, No 3 (2019)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (294.444 KB) | DOI: 10.31969/alq.v25i3.795

Abstract

Memasuki dekade pertama awal abad ke-20, Semarang sebagai unit historis mengalami modernisasi yang didukung oleh terbangunnya infrastruktur sebagai kota kolonial, yang mengidealkan keteraturan. Kajian sejarah ini mencoba menghadirkan kehidupan keseharian warga kota dan penguasa kota yang diwarnai oleh keragaman faktual, mulai dari keteraturan hingga ketidakteraturan sosial, namun lebih difokuskan pada kondisi-kondisi ketidakteraturan, ketidakamanan, dan beragam persoalan sosial lainnya yang pernah terjadi di Kota Semarang pada empat dekade akhir era kolonial. Sebagai realitas masa lalu, berbagai permasalahan sosial yang berlangsung di Kota Semarang dikonstruksi berdasarkan sumber primer dan sekunder. Konstruksi historis ini dipahami melalui konsep kekerasan dan kriminalitas. Penguasa kota, yang dalam hal ini adalah gemeente merupakan representasi kuasa dari negara kolonial ingin membuat segala sesuatunya menjadi aman dan teratur, sehingga hukum dan aturan yang diproduksi oleh gemeente didasarkan pada cara pandang kolonial. Dalam konteks implementasi hukum itulah, kemudian atas nama keteraturan maka negara kolonial mengambilalih otoritas yang sebelumnya berada di tangan penguasa lokal, yang mengakibatkan ekslusivitas penguasa lokal. Pada saat yang sama, penguasa lokal ingin mempertahankan eksistensi diri di ruang kota, sehingga yang terjadi adalah sebagian dari mereka terkonversi ke dalam informal services atau ilegal agency di perkotaan. Kajian ini menyimpulkan bahwa ketidakteraturan sosial yang berlangsung di ruang kota membuktikan ketidakmampuan negara kolonial dalam mengatur warga kota.
SEMARANG DAN SURABAYA DALAM PERSPEKTIF HISTORIS DAN EKONOMI KOTA: SEBUAH PEMIKIRAN HISTORIOGRAFIS Putri Agus Wijayati
SASDAYA: Gadjah Mada Journal of Humanities Vol 2, No 1 (2017): November
Publisher : Unit Penelitian dan Publikasi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (956.014 KB) | DOI: 10.22146/sasdayajournal.31747

Abstract

This article describes the economic history of the town and its dynamics. As part of the historical reality, urban economics further accentuates its economic elements based on trade, industry and services activities. Of the three factors above, which one actively contributes to growth in urban economic development? Or, among the three, may be intertwined or synergised, which in turn form a support force that can stimulate the economic growth rate of a city. However, is it that simple in explaining the economic history of the town?, because a historical study must also be considerate of changes over time, while when discussed is the economic dimension, then, we are dealing with statistical data used to understand a change in time, as is done by quantitative economic history. This paper takes spatial space in the cities of Surabaya and Semarang as both cities, dominantly influenced by elements of trade, industry and services.
Dari pedagang keliling hingga pedagang kaki lima: simbol kebertahanan rakyat kecil di Kota Semarang pada empat dekade abad ke-20 Wijayati, Putri Agus; Utomo, Cahyo Budi; Atmaja, Hamdan Tri
Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya Vol 18, No 1 (2024): Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya dan Pengajarannya
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um020v18i12024p1-17

Abstract

The presence of itinerant traders and street vendors who are categorized as small traders in the city of Semarang is not a problem that disturbs the order and beauty of the city. However, when their activities are carried out in areas that the gemeente views as spaces that are free from disorder and free from disorder, then both categories of traders will experience a fate that is not in their favor. The big question that is then presented in this article is, how do we understand the existence of traveling traders and street vendors from a historiographic perspective? To answer this problem, it is necessary to present as optimally as possible primary sources to present an adequate historical narrative. Kehadiran pedagang keliling dan pedagang kaki lima yang dikategorikan sebagai pedagang kecil di Kota Semarang, bukan merupakan persoalan yang mengganggu ketertiban dan keindahan kota. Namun ketika kegiatan mereka dilakukan di area-area yang oleh gemeente dipandang sebagai ruang yang bebas dari ketidakteraturan dan terbebas dari ketidaktertiban, maka kedua kategori pedagang tersebut akan mengalami nasib yang tidak berpihak pada mereka. Pertanyaan besar yang kemudian dihadirkan dalam tulisan ini adalah, bagaimana kita memahami keberadaan pedagang keliling dan pedagang kaki lima dalam perspektif historiografis? Untuk menjawab permasalahan tersebut perlu menghadirkan seoptimal mungkin sumber primer untuk menghadirkan narasi historis yang memadai.
Inklusivitas Etnis Tionghoa di Lasem Tahun 1967 – 1999 Muslimin, Muhammad Khoirul; Wijayati, Putri Agus
Jurnal Pattingalloang Vol 11, No. 1, April 2024
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/pattingalloang.v11i1.64778

Abstract

Lasem tumbuh sebagai daerah yang memiliki keragaman etnis dan mozaik budaya yang menarik. Hal ini tidak terlepas dari sikap penduduk lokal yang inklusif dan toleran terhadap keberadaan etnis lainnya, salah satunya adalah etnis Tionghoa. Tulisan ini mengkaji sikap inklusif penduduk lokal terhadap keberadaan etnis Tionghoa. Kajian ini diawali tahun 1967 – 1999, didasarkan argumentasi bahwa pada periode tersebut dijumpai tindakan yang meminggirkan etnis Tionghoa, baik tindakan represif maupun melalui undang-undang. Pertanyaan yang perlu dihadirkan dalam artikel ini di antaranya; 1) hal-hal apa saja yang memengaruhi proses inklusivitas penduduk lokal dengan etnis Tionghoa? 2) bagaimana proses inklusivitas yang berlangsung? 3) bagaimana proses inklusivitas mampu menghadirkan kehidupan yang harmonis? Artikel ini menggunakan metode sejarah yang meliputi heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi.  Adapun sumber-sumber yang digunakan terdiri dari sumber primer dan sumber sekunder. Sumber primer mengambil dari surat kabar Suara Merdeka, surat kabar Daulat Rakyat, laporan statistik BPS Kabupaten Rembang Tahun 1967-1999. Sementara sumber sekunder mengambil dari kepustakaan dan literatur hasil dari kajian sejarawan sebelumnya. Hasil penulisan ini menunjukkan bahwa masyarakat Lasem bersikap inklusif dan tolong menolong untuk menjaga stabilitas pemukiman Tionghoa agar tidak terkena tindakan represif dan diskriminasi dari pemerintah maupun oknum masyarakat lainnya.
Workshop Pemanfaatan Media Evaluasi Web - Quiz Berbasis Kahoot Sebagai Upaya Peningkatan Kompetensi Pedagogi Guru Sejarah di Kabupaten Semarang Wijayati, Putri Agus; Suryadi, Andy; Atno, Atno; Utami, Maulida Putri Fajar; Fausi, Rachmandika Lucky; Apriliana, Anjani Dwi
PENGABDI PENGABDI: VOL. 5, NO.2 (2024)
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/pengabdi.v5i2.66155

Abstract

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan kompetensi pedagogi guru sejarah di Kabupaten Semarang melalui pemanfaatan media evaluasi berbasis web-quiz menggunakan Kahoot. Di era Revolusi Industri 4.0, penggunaan teknologi dalam pembelajaran sangat penting, terutama untuk pelajaran sejarah yang kerap dianggap monoton. Workshop ini dirancang untuk memperkenalkan dan mendampingi para guru dalam mengintegrasikan media edutainment, khususnya Kahoot, ke dalam pengajaran mereka. Hasil dari workshop ini menunjukkan adanya peningkatan partisipasi dan antusiasme guru dalam menggunakan Kahoot sebagai media pembelajaran sejarah, serta respons positif dari para siswa terhadap metode ini. Kegiatan ini berhasil melibatkan 24 guru dari berbagai sekolah di Kabupaten Semarang, dengan dukungan dari Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Sejarah setempat. Keberhasilan kegiatan ini mendorong perlunya pengembangan lebih lanjut dalam penggunaan teknologi untuk pendidikan sejarah di masa depan.