Herlina I. S. Wungouw
Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado, Sulawesi Utara

Published : 50 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

PROFIL TNF-α SESAAT SETELAH MELAKUKAN SENAM ZUMBA Ratulangi, Maria R. J.; Polii, Hedison; Wungouw, Herlina I. S.
eBiomedik Vol 4, No 1 (2016): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.4.1.2016.10839

Abstract

Abstract: Tumor Necrosis Factor-alpha (TNF-?) is one type of pro inflammatory cytokines produced by macrophages and T cell as response to acute inflammation and trauma. Exercise can be the cause of the physical stress that can lead to muscle and joints damage. Damaged muscles and joints which caused by exercising will be responded by the body inflammatory system to release pro inflammatory cytokines. Zumba fitness is an exercise that combines dance and aerobic steps. It is an application form of High Intensity Interval Training. The objective of this research is to determine the TNF-?profile of medical students of Sam Ratulangi University shortly after zumba exercise. This research is an experimental study using post test design. The respondents are 18 medical students of Sam Ratulangi University batch 2014 who met the inclusion criterias. Blood samples were taken as soon as the respondents finished 1 hour of zumba exercise. TNF-? levels were measured with an enzyme-linked immunosorbent essay (ELISA) Quatikine ® Human TNF-?. Based on the research the highest level of TNF-? is 97,59 mg/mL and the lowest level is 34,25 pg/mL with average levels of TNF-? is 75,27 pg/mL. It can be concluded that the levels of TNF-? of all subjects lay on normal range (10 pg/mL ? 100 pg/mL).Keywords: TNF-?, immune system, zumbaAbstrak: Tumor Necrosis Factor-alpha (TNF-?) merupakan salah satu jenis sitokin pro-inflamasi yang diproduksi oleh makrofag dan sel T sebagai respon inflamasi akut atau respon terhadap trauma. Olahraga dapat menjadi penyebab stres fisik yang dapat mengakibatkan cedera otot maupun sendi. Kerusakan otot dan sendi yang diakibatkan karena berolahraga akan direspon oleh tubuh dengan dirangsangnya sistem inflamasi sehingga dilepaskan sitokin pro-inflamasi. Senam zumba adalah salah satu jenis olahraga aerobik yang menggabungkan tarian dan unsur aerobik dan merupakan bentuk penerapan dari metode High Intensity Interval Training, yakni latihan kardio yang dilakukan dalam waktu singkat dengan intensitas yang tinggi.Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui profilTNF-?pada mahasiswa Fakultas Kedokteran UNSRAT sesaat setelah melakukan senam zumba. Penelitian ini bersifat eksperimental lapangan dengan menggunakan rancangan post test design. Subjek penelitian berjumlah 18 orang yang telah memenuhi kriteria inklusi.Sampel darah diambil segera setelah senam zumba selama 1 jam. Kadar TNF-? diukur dengan menggunakan enzyme-linked immunosorbent essay (ELISA) Quatikine ® Human TNF-?.Hasil penelitian ini menunjukkan kadar TNF-?tertinggi yaitu 97,59 mg/mL dan kadar TNF-?terendah yaitu 34,25 pg/mL. Rata-rata kadar TNF-? semua subjek yaitu 75,27 pg/mL.Pada penelitian ini dapat disimpulkan bahwakadarTNF-?semua subjekberada pada kisaran normal (10 pg/ml ? 100 pg/ml).Kata kunci: TNF-?, sistem imun, zumba
PENGARUH LATIHAN BEBAN TERHADAP KEKUATAN OTOT LANSIA R., Febriani Patandianan; Wungouw, Herlina I. S.; Marunduh, Sylvia
e-Biomedik Vol 3, No 1 (2015): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v3i1.8075

Abstract

Abstract: Elderly are people who have biological systems changing both functional and structural due to the aging process. They experience a decline usphysical capacity, marked by the decrease. This study aimed to determine the effect of weight training on muscle strength of elderly. This was an experimental study with pre-post test group design. Results and Conclusion: In several movements which are showed a significant p value=0.000 (p<0.005) in muscle strength with elbow flexion, elbow extension, and shoulder extension. A significant value of p=0.001(p<0.005) is obtained on the movement of shoulder flexion, shoulder abduction, left foot flexion, and right foot extension, another results p value= 0.002 (p<0.005) in foot dorsoflexion, and p value 0.003 (p<0.005) on the movements of the left leg extension, leg flexion while dextra obtained significant p value=0.004 (p<0.005). As a conclusion weight training can strengthen the muscle of elderly.Keywords: weight training, muscle strength, elderlyAbstrak: Lansia merupakan orang yang sistem biologisnya mengalami perubahan-perubahan struktur dan fungsi dikarenakan usia yang sudah lanjut. Pada lansia terjadi penurunan kapasitas fisik yang ditandai dengan penurunan massa otot serta kekuatannya yang akan menjadi penghambat dalam melaksanakan aktivitas. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh latihan beban terhadap kekuatan otot lansia. Penelitian ini bersifat eksperimental dengan rancangan pre-post one group test. Hasil dan simpulan: Hasil penelitian menunjukkan nilai signifikan p=0,000 (p<0,05) pada kekuatan otot dengan gerakan fleksi siku, ekstensi siku dan ekstensi bahu. Nilai signifikan p=0,001 (p<0,05) pada gerakan fleksi bahu, abduksi bahu dan fleksi kaki sinistra, ekstensi kaki dextra, nilai p=0,002 (p<0,005) pada dorsofleksi kaki dan nilai p=0,003 (p<0,05) pada gerakan ekstensi kaki sinistra, sedangkan gerakan fleksi kaki dextra diperoleh nilai signifikan p=0,004 (p<0,05). Pada penelitian ini terdapat pengaruh latihan beban terhadap kekuatan otot lansia.Kata kunci: latihan beban, kekuatan otot, lansia
GAMBARAN VISUS MATA PADA SENAT MAHASISWA FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SAM RATULANGI Tamboto, Freelyn Ch. P.; Wungouw, Herlina I. S.; Pangemanan, Damajanty H. C
eBiomedik Vol 3, No 3 (2015): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.3.3.2015.10148

Abstract

Abstract: Visus is visual acuity. Vision examination is an examination to see visual acuity. Overview vision and blindness remains a substantial social problem in Indonesia. WHO estimates that in 2000 there were 45 million people with blindness in the world, in which one third is in south east asia. With the world's population increases with the increase in life expectancy will increase the number of blindness at least one million people Indonesia reached 1.47%. This study aims to determine visual acuity eye on the students of the Faculty of Medicine, University of Sam Ratulangi. This descriptive study using cross sectional study design (cross-sectional). With the study sample met the criteria is the age of 19-22 years old and healthy while doing research. The samples were students of the Faculty of Medicine, University of Sam Ratulangi numbered 20 people. Based on the research results that show the frequency of eye vision disorders did not differ between the sexes men and women, but the effect on the frequency of vision disorder age. Conclusion: Impaired vision usually occurs due to hereditary factors or behavioral factors that are not well when reading or watching near for a long time and with less lighting.Keywords: visusAbstrak: Visus adalah ketajaman penglihatan. Pemeriksaan visus merupakan pemeriksaan untuk melihat ketajaman penglihatan. Gambaran penglihatan dan kebutaan masih menjadi masalah sosial yang cukup besar di Indonesia. WHO memperkirakan pada tahun 2000 terdapat 45 juta penderita kebutaan di dunia, di mana sepertiganya berada di Asia Tenggara. Penambahan jumlah penduduk dunia dengan peningkatan umur harapan hidup maka jumlah kebutaan akan meningkat paling sedikit satu juta orang Indonesia mencapai 1,47%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui visus mata pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi. Penelitian ini bersifat deskriptif dengan menggunakan desain studi potong lintang (cross sectional study). Sampel penelitian yang memenuhi kriteria yaitu usia 19-22 tahun dan sehat disaat melakukan penelitian. Sampel penelitian adalah mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi berjumlah 20 orang. Berdasarkan penelitian diperoleh hasil yang menunjukkan frekuensi gangguan visus mata tidak berbeda antara jenis kelamin laki laki maupun perempuan, namun frekuensi gangguan visus berpengaruh pada usia. Simpulan: Gangguan visus biasanya terjadi karena faktor herediter atau faktor perilaku yang tidak baik saat membaca atau nonton dekat dalama waktu yang lama dan dengan penerangan yang kurang.Kata kunci: visus
PENGARUH LATIHAN AEROBIK TERHADAP FORCED VITAL CAPACITY (FVC)PRIA DEWASA DENGANOVERWEIGHT Sagay, Ester Florencia; Polii, Hedison; Wungouw, Herlina I. S.
e-Biomedik Vol 1, No 1 (2013): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v1i1.1624

Abstract

Abstract: Changes to respiratory function due to regular aerobic exercise will affect the value of pulmonary function, especially in Forced Vital Capacity (FVC). This research aimed to determine the effect of aerobic exercise on FVC overweight male students of Unsrat Medical Faculty. This research is analytic with design experimental, one group pre and post test design. The sampling technique used is non-purposive sampling technique. The research sample was taken from the students of the Faculty of Medicine 2009, Univercity of Sam Ratulangi who fulfill the inclusion criteria. Some 32 students were selected as research subjects. After giving informed consent, FVC measurement was done with the spirometer. After it was measured, they were given treatmen in the form aerobic exercise using a stationary bike for three weeks with frequency of exercise three times a week and exercise intensity for 30 minutes. We measured again FVC values after the exercise three times program. Normality test data showed significance for FVC value before treatment by 0.752, and after treatment by 0.912. Comparison of the average value before and after exercise were tested by using a paired test. Significant value for FVC is P = 0.084, means there is no significant difference between FVC values before and after exercise (P> 0.05). The mean FVC was 3.88 before treatment and after treatment the mean value was 4.00, an increase in the average value of 0.11. Conclusion:Aerobic Exercise on a regular basis using a stationary bike on the overweight male student can improve lung function in particular the mean FVC but there was no significant difference from the mean value. Keywords: FVC, Aerobic Exercise, Overweight.   Abstrak: Perubahan fungsi pernapasan karena latihan aerobik secara teratur akan mempengaruhi nilai fungsi paru khususnya Forced Vital Capacity (FVC). Penelitian ini untuk mengetahui pengaruh latihan aerobik terhadap FVC mahasiswa pria Fakultas Kedokteran Unsrat dengan berat badan lebih.Penelitian ini bersifat analitik dengan rancangan eksperimental one grup pre and post test design. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik non purposive sampling. Sampel penelitian diambil dari Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Angkatan 2009.Sejumlah 32 orang mahasiswa terpilih sebagai subjek penelitian dan dilakukan pengukuran FVC dengan Spirometer.Setelah itu diberikan perlakuan berupa latihan aerobik menggunakan sepeda statis selama tiga minggu dengan frekuensi latihan tiga kali seminggu dan intensitas latihan selama 30 menit.Selanjutnya dilakukan pengukuran kembali nilai FVC sesudah program latihan.Uji normalitas data menunjukkan nilai signifikansi untuk FVC sebelum perlakuan sebesar 0.752, dan sesudah perlakuan sebesar 0.912. Perbandingan nilai rata  rata  sebelum dan sesudah latihan diuji dengan menggunakan uji t berpasangan.Nilai signifikan untuk FVC adalah P = 0.084, berarti tidak terdapat perbedaan yang bermakna antara nilai FVC sebelum dan sesudah latihan (P > 0.05) .Nilai rerata FVC sebelum pelakuan adalah 3,88  dan nilai rerata sesudah perlakuan adalah  4,00,  terjadi penigkatan nilai rerata sebesar 0,11.Simpulan:Latihan Aerobik menggunakan sepeda statis secara teratur dapat meningkatkan nilai rerata fungsi paru khususnya FVC tetapi tidak terdapat perbedaan yang bermakna dari nilai rerata tersebut. Kata Kunci: FVC, Latihan Aerobik, Berat Badan Lebih (Overweight).
Hubungan Tingkat Risiko Musculoskeletal Disorders (MSDs) Mengguna-kan Rapid Entire Body Assessment (REBA) dengan Keluhan MSDs pada Residen Ilmu Bedah Tubagus, Ade P.; Doda, Diana V. D.; Wungouw, Herlina I. S.
JURNAL BIOMEDIK : JBM Vol 10, No 3 (2018): JURNAL BIOMEDIK : JBM
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/jbm.10.3.2018.21982

Abstract

Abstract: According to WHO, musculoskeletal disorders are categorized as the second rank of work-related disease. Various factors such as work, individual, and social factors can cause MSDs. These disorders play an important role in morbidity of workers such as healthcare workers. This study was aimed to analyze the correlation between the risk level of MSDs evaluated by using REBA and MSDs complaints among surgery residents. This was an analytical observational study with a cross-sectional design. The instruments used in this study were the Rapid Entire Body Assessment (REBA) worksheet and the Nordic Body Map (NBM) questionnaire. Data were analyzed with the Spearman correlation test. There were 42 surgery residents of Faculty of Medicine, Sam Ratulangi University, Manado participated in this study. The majority of them were males (81%) and young adults (88%). The prevalence of MSDs complaints were as follows: 60% of respondents had mild complaints, 33% had moderate complaints, and 7% had severe complaints. The bivariate analysis showed that the risk level of MSDs evaluated by REBA had a strong positive correlation with MSDs complaints (P=0.000; r=0.603). Conclusion: There was a significant correlation between risk level of MSDs evaluated by using REBA and the MSDs complaints. Based on the results, ergonomics interventions are recommended to surgery residents in order to prevent the occurence of MSDs.Keywords: musculoskeletal disorders (MSDs), REBA, surgery residentsAbstrak: Musculoskeletal disorders (MSDs) menurut WHO berada di urutan kedua terbanyak penyakit akibat kerja. Berbagai faktor seperti pekerjaan serta faktor individu dan sosial dapat menyebabkan terjadinya MSDs. Gangguan ini berperan dalam morbiditas di banyak bidang pekerjaan salah satunya di bidang kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tingkat risiko MSDs menggunakan REBA dengan keluhan MSDs pada residen ilmu bedah. Jenis penelitan ialah analitik observasional dengan desain potong lintang. Alat ukur yang digunakan ialah lembar kerja Rapid Entire Body Assessment (REBA) dan kuesioner Nordic Body Map (NBM). Analisis data menggunakan uji korelasi Spearman. Hasil penelitian mendapatkan sebanyak 42 residen ilmu bedah Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado menjadi responden penelitian. Mayoritas responden berjenis kelamin laki-laki (81%) dan berada dalam kategori dewasa muda (88%). Prevalensi keluhan MSDs ialah 60% keluhan MSDs ringan, 33% keluhan sedang, dan 7% keluhan berat. Hasil uji korelasi Spearman mendapatkan tingkat risiko MSDs menggunakan REBA memiliki hubungan positif kuat dengan keluhan MSDs (P=0,000, r=0,603). Simpulan: Terdapat hubungan bermakna antara tingkat risiko MSDs menggunakan REBA dengan keluhan MSDs. Berdasarkan hasil penelitian maka direkomendasikan intervensi ergonomi pada residen bedah untuk mencegah terjadinya keluhan MSDs.Kata kunci: musculoskeletal disorders (MSDs), REBA, residen bedah
PENGARUH SENAM BUGAR LANJUT USIA TERHADAP KADAR KOLESTEROL Pontoh, Li Ping; Pangemanan, Damajanty H. C.; Wungouw, Herlina I. S.
Jurnal Biomedik : JBM Vol 5, No 1 (2013): JURNAL BIOMEDIK : JBM Suplemen
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/jbm.5.1.2013.2627

Abstract

Abstract: Risks of coronary heart diseases (CHD), degenerative diseases, and metabolic disorders have increased in the elderly. Exercise and physical activity are beneficial to improve their physical fitness which can prevent or delay the occurences of the diseases. This study aimed to determine the effect of aerobic exercise for the eldery on blood cholesterol levels. This was a field experimental study with one group pre-post test design. Subjects were elderly who lived in BPLU Senja Cerah Manado. Blood cholesterol examinations were carried out before and after excercise. Thirty elderly were treated with elderly aerobic exercise routinely 3 times weekly for 3 consecutive weeks. Data were analyzed by using paired sample t-tests. The results showed that the mean cholesterol levels of the elderly before the designated exercise was 236.23 mg/dL and after the excercise was 195.63 mg/dL. Conclusion: The elderly aerobic exercises reduced blood cholesterol levels of the elderly. Keywords: elderly, exercise, cholesterol, elderly aerobic exercise.     Abstrak: Pada lanjut usia (lansia) terdapat peningkatan risiko penyakit jantung koroner (PJK), berbagai penyakit degeneratif, serta gangguan metabolisme. Kebugaran jasmani lansia sangat dibutuhkan untuk mencegah atau menunda perlangsungan penyakit-penyakit tersebut. Olahraga dan aktifitas fisik merupakan salah satu solusi untuk meningkatkan kebugaran jasmani. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh senam bugar lansia terhadap kadar kolesterol darah. Penelitian ini bersifat eksperimental lapangan dengan rancangan pre-post one group test. Subyek penelitian ialah lansia yang berdiam di BPLU Senja Cerah Manado. Pengambilan darah dilakukan sebelum dan sesudah diberikan perlakuan. Subyek penelitian sejumlah 30 orang lansia yang diberi perlakuan berupa senam bugar lansia secara rutin 3 kali seminggu selama 3 minggu. Analisis statistik menggunakan paired sample t-test untuk menentukan pengaruh senam bugar lansia terhadap kadar kolesterol sebelum dan sesudah perlakuan dengan α = 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rerata kadar kolesterol sebelum senam bugar lansia 236,23 mg/dL sedangkan sesudah senam bugar lansia selama 3 minggu 195,63 mg/dL. Simpulan: Senam bugar lansia yang dilakukan secara teratur dapat  menurunkan kadar kolesterol darah pada lansia. Kata kunci: lansia, olahraga, kolesterol, senam bugar lansia.
PKM KOMISI BAPA DAN KOMISI IBU JEMAAT GMIM KYRIOS UNTUK PENYULUHAN KESEHATAN REPRODUKSI DI DESA KAWILEY KECAMATAN KAUDITAN KABUPATEN MINAHASA UTARA Marunduh, Sylvia Ritta; Wungouw, Herlina I. S.; Pangemanan, Damayanti H. C.
JURNAL LPPM BIDANG SAINS DAN TEKNOLOGI Vol 5, No 2 (2018)
Publisher : JURNAL LPPM BIDANG SAINS DAN TEKNOLOGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kesehatan Reproduksi penting bagi setiap individu terutama yang sudah berkeluarga. Kurangnya pengetahuan tentang kesehatan reproduksi bisa memunculkan perilaku reproduksi yang tidak sehat yang akan memunculkan permasalahan seperti yang sudah diuraikan di atas dan menyebabkan masyarakat belum maksimal dalam menggunakan upaya pemerintah, contohnya pemeriksaan dini untuk deteksi kanker serviks karena takut dan tidak tahu. Mengenai angka penyakit hubungan seksual, Departemen Kesehatan Republik Indonesia (Depkes RI) mencatat, setiap tahun hingga September 2005 terdapat 4186 kasus AIDS dan 4065 kasus HIV positif di Indonesia, 46,19 % terjadi pada remaja usia 15-29 tahun (43% terinfeksi melalui hubungan seks yang tidak aman dan 50% terinfeksi melalui penggunaan narkoba dengan jarum suntik), 2,3 juta kasus aborsi di Indonesia dimana 20% di antaranya adalah aborsi yang dilakukan oleh remaja (Depkes RI, 2003). Desa Kawiley merupakan salah satu dari 10 desa-desa di Kecamatan Kauditan, yang terletak di Wilayah Minawerot Kabupaten Minahasa Utara Propinsi Sulawesi Utara. Desa ini memiliki beberapa denominasi jemaat, salah satunya GMIM Kyrios Kawiley yang terdiri dari 14 Kolom dengan jumlah anggota yang dari total anggota jemaat yang berjumlah kurang lebih 825 jiwa, termasuk didalamnya Komisi Bapa dan Komisi Ibu (Mitra PKM). Terletak di antara dua kota besar, Kota pelabuhan Bitung dan Ibu Kota Sulawesi Utara Manado, Desa Kawiley yang sudah berkembang maju sesuai dengan survey awal mempunyai permasalahan terkait kesehatan reproduksi yang hampir mirip dengan kota sekitarnya, seperti angka kejadian gangguan di sistem reproduksi yang sudah cukup banyak contohnya kanker serviks dan infertilitas, perilaku remaja yang semakin bebas melakukan hubungan seksual pranikah, peningkatan jumlah kasus penyakit menular seksual dan kasus HIV/AIDS sesuai dengan data Dinas Kesehatan Minahasa Utara. Masalah-masalah terkait kesehatan reproduksi di atas disertai dengan kurangnya pengetahuan masyarakat mitra tentang kesehatan reproduksi. Memadainya pengetahuan kesehatan reproduksi menurut Tjiptaningrum (2009) yang didapat baik melalui penyuluhan, aktifnya partisipasi orangtua dalam mengarahkan perkembangan remaja, ada pengaruh agama dapat mencegah praktek-praktek penyimpangan kasus-kasus terkait kesehatan reproduksi. Karena itu solusi terhadap permasalahan yang terjadi di Mitra adalah melakukan penyuluhan tentang kesehatan reproduksi dan pembekalan kelompok mitra untuk menjadi motivator yang nantinya diharapkan akan menyebarkan informasi tentang kesehatan reproduksi kepada masyarakat sekitar.____________________________________________________________________________________Keywords: kesehatan reproduksi.
PENGARUH LATIHAN FISIK AEROBIK TERHADAP KOLESTEROL HIGH DENSITY LIPOPROTEIN (HDL) PRIA DENGAN BERAT BADAN LEBIH (OVERWEIGHT) Hengkengbala, Gloria; Polii, H.; Wungouw, H. I. S.
e-Biomedik Vol 1, No 1 (2013): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v1i1.4360

Abstract

Abstract: Several studies have suggested that aerobic exercise can affect the metabolism of cholesterol in the blood, one of which cholesterol High Density Lipoprotein (HDL), otherwise known as “good cholesterol”, but it has not been mentioned in detail what kind of exercise and how much exercise intensity long and also how many levels of HDL can be improved with practice. Aerobic physical exercise using a stasionary bicycle made for one’s physicalfitness test. This study aimed to determine the effect of aerobic exercise on HDL overweight male student of the Unsrat Medical Faculty. This research is analytic experimental design field with one group pre-post test. The study subject were 28 students medical Unsrat 2009 (18-25 years) with IMT > 23 who fulfil the inclusion criteria. Subjects were given aerobic physical exercise in the fitness center Manado for 3 weeks with a frequency of three times a week, with duration of 30 minutes of exercise, then it is conducted normality test of data distribution, and data analysis followed by paired t test for normally distributed data obtained. The result showed an increase in the mean  levels of HDL subjects 44.85±7.98 mg/dL to 46.89±8.96 mg/dL (p=0.104) but trough paired t test, Ido not get meaningful results after doing aerobic exercise (p>0.005). Aerobic Phycical Exercise on a regular basis using a stationary bike on the overweight men student can increase the mean HDL cholesterol levels but no significant difference from the mean value.Keywords: Aerobic Physical Exercise, HDL, Overweight.  Abstrak: Beberapa penelitian telah menyebutkan bahwa latihan fisik aerobik dapat mempengaruhi metabolisme kolesterol dalam darah salah satunya kolesterol HDL (High Density Lipoprotein) atau dikenal sebagai “kolesterol baik”, namun belum disebutkan secara terperinci jenis latihan fisik seperti apa dan dengan intensitas latihan berapa lama dan juga berapa banyak kadar HDL yang dapat ditingkatkan dengan latihan. Latihan fisik aerobik dengan menggunakan sepeda statis yang dilakukan untuk tes kebugaran fisik seseorang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh latihan fisik aerobic terhadap kadar HDL mahasiswa pria Fakultas Kedokteran Unsrat dengan berat badan lebih.  Jenis penelitian ini bersifat eksperimental lapangan dengan rancangan pre-post one group test. Subjek  penelitian sebanyak 28 mahasiswa Kedokteran UNSRAT Angkatan 2009  (18-25 tahun) dengan IMT ≥ 23 yang memenuhi kriteria inklusi. Subyek  diberikan latihan fisik aerobic di pusat Kebugaran Manado selama 3 minggu dengan frekuensi 3 kali seminggu, dengan lamanya latihan 30 menit, selanjutnya dilakukan uji normalitas distribusi data, kemudian dilanjutkan analisis data dengan uji t berpasangan karena data yang didapat berdistribusi normal. Hasil penelitian didapatkan terjadi peningkatan nilai rerata kadar HDL subyek  44,85 ± 7.98 mg/dL menjadi 46.89 ±8.96 mg/dL (p= 0.104) namun  melalui uji t berpasangan mendapatkan hasil yang tidak bermakna sesudah melakukan latihan fisik aerobik (p >0.005). Simpulan: Latihan fisik aerobik menggunakan sepeda statis secara teratur pada mahasiswa pria dengan berat badan lebih dapat meningkatkan nilai rerata kadar HDL tetapi tidak terdapat perbedaan yang bermakna dari nilai rerata tersebut.Kata Kunci: latihan Fisik Aerobik, HDL, overweight.
Hubungan Gaya Belajar dengan Nilai Hasil Ujian Modul Sistem Gastro-intestinal, Hepatobilier Dan Pankreas Pada Mahasiswa Angkatan 2016 Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Abay, Novita A.; Wungouw, Herlina I. S.; Berhimpon, Siemona
e-Biomedik Vol 6, No 2 (2018): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v6i2.22107

Abstract

Abstract: In an educational institution, achievement or performance of study is an important indicator to measure the success of teaching-learning process. Learning factors that can influence students’ grades are internal and external factors. This study was aimed to obtain the relationship between learning style and students’ grades in the gastrointestinal system, hepatobiliary, and pancreas module. This was an analytical study with a cross sectional design. Respondents were 90 students of batch 2016. Data were obtained by filling the learning style questionnaire and students’ grades were obtained from the Academic Department. Data were analyzed by using the chi-square test. The chi-square test on dominant learning style showed a P value of 0.989 meaning there was no significant relationship between dominant learning style and the grades, meanwhile on combined learning style the P value was 0.410 which also meant that there was no relationship between learning style and the grades. Conclusion: There was no relationship between learning style and students’ grades in the gastrointestinal system, hepatobiliary, and pancreas module among students of Faculty of Medicine, Sam Ratulangi University.Keywords: learning style, students’ grades Abstrak: Dalam suatu lembaga pendidikan, prestasi belajar merupakan indikator penting untuk mengukur keberhasilan proses belajar mengajar. Faktor belajar yang dapat memenga-ruhi hasil belajar mahasiswa ialah faktor internal dan faktor eksternal. Penelitian ini bertujuan untuk untuk mengetahui hubungan gaya belajar dengan nilai hasil ujian modul sistem gastrointestinal, hepatobilier dan pankreas. Jenis penelitian ialah analitik dengan desain potong lintang. dengan jumlah sampel sebanyak 90 orang mahasiswa angkatan 2016. Data didapatkan melalui pengisian kuesioner gaya belajar dan data nilai didapatkan dari bagian akademik. Uji analisis pada penelitian ini menggunakan uji chi-square. Hasil penelitian dengan uji chi-square pada gaya belajar dominan didapatkan nilai P=0,989 yang menunjukkan tidak terdapat hubungan bermakna antara gaya belajar dominan dengan hasil ujian, sedangkan untuk gaya belajar gabungan didapatkan nilai P=0,410 artinya tidak terdapat hubungan gaya belajar dengan hasil ujian. Simpulan: Tidak terdapat hubungan antara gaya belajar dengan nilai hasil modul gastrointestinal, hepatobilier, dan pankreas pada mahasiswa angkatan 2016 Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi.Kata kunci: gaya belajar, hasil belajar
Pengaruh Intensitas Latihan Beban terhadap Massa Otot Tambing, Agustina; Engka, Joice N. A.; Wungouw, Herlina I. S.
e-Biomedik Vol 8, No 1 (2020): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v8i1.27099

Abstract

Abstract: Muscles can be formed by weight training to be ideal and athletic that will improve performance and confidence of a man. One of the factors that influence weight training is intensity, which shows the severity of the weight of an exercise. The American College of Sports Medicine recommends an intensity of> 70% 1-RM for the purpose of increasing muscle mass. This study was aimed to determine the effect of weight training intensity on muscle mass. This was an experimental study with two group pretest and posttest design. Subjects were 42 Sam Ratuangi University male students divided into two groups. Both groups were given different training intensities (50-60% 1-RM and 50-80% 1-RM). Tricep biceps mass was measured on the circumference of the upper arm using a meter (cm) before and after exercise for 8 weeks. Data were tested for normality using the Shapiro Wilk test and paired t test to determine differences in the average before and after training in each group. In both groups the results showed a p-value of 0.000 (p <0.05), which indicated that there was an increase of muscle mass in each group. Meanwhile, the independent sample t-test of the difference between the two groups obtained a p-value of 0.072 (p> 0.05) which indicated that there was no significant effect between the two different intensities on muscle mass. In conclusion, there was no significant effect of weight training intensity on muscle mass.Keywords: muscle mass, intensity of weight training Abstrak: Otot dapat dibentuk dengan latihan beban agar menjadi ideal dan atletis yang akan meningkatkan performa dan kepercayaan diri bagi seorang laki-laki. Salah satu faktor yang memengaruhi latihan beban ialah intensitas, yang menunjukkan berat ringannya beban suatu latihan. American College of Sports Medicine merekomendasikan intensitas>70% 1-RM untuk tujuan peningkatan massa otot. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh intensitas latihan beban terhadap massa otot. Jenis penelitian ialah eksperimental dengan rancangan two grouppretest dan posttest. Subjek penelitian ialah mahasiswa Unsrat yang berjenis kelamin laki-laki dengan jumlah 42 orang, dibagi ke dalam dua grup. Kedua grup diberikan intensitas latihan yang berbeda (50-60% 1-RM dan 50-80% 1-RM). Massa otot bisep trisep diukur pada lingkar lengan atas dengan menggunakan meteran (cm) sebelum dan sesudah latihan selama 8 minggu. Data penelitian diuji normalitas dengan Shapiro wilk test dan uji t berpasangan untuk mengetahui perbedaan rerata sebelum dan sesudah latihan pada masing-masing grup. Pada kedua grup didapatkan hasil p=0,000 (p<0,05) yang menunjukkan bahwa terdapat peningkatan massa otot pada setiap grup. Pada uji beda selisih antara kedua grup yang menggunakan independent sample t-test didapatkan nilai p=0,072 (p>0,05) yang menunjukkan tidak terdapat pengaruh bermakna antara kedua intensitas yang berbeda terhadap massa otot. Simpulan penelitian ini ialah tidak terdapat pengaruh bermakna dari intensitas latihan beban terhadap massa otot.Kata kunci: massa otot, intensitas latihan beban
Co-Authors Aaltje E. Manampiring Aaltje Manampiring Abay, Novita A. Adriansyah L. Putra, Adriansyah L. Angmalisang, Elvin Clara Cheren Christine Pondaag Christina Salaki D. H. C. Pangemanan Damajanty H. C. Pangemanan Deiby O. Lumempouw, Deiby O. Doda, Diana V.D. Dolot, Jecky F. Elvin A. Herlambang, Elvin A. Ester Florencia Sagay Febriani Patandianan R., Febriani Patandianan Franly Onibala Freelyn Ch. P. Tamboto, Freelyn Ch. P. Gloria Hengkengbala Gresty Masi H. Polii Hedison Polii Helma Christy S. Tumigolung Heriyannis Homenta Hubert I. Tatara Irene, Angellita M. Ivanny Kasenda Jill Lolong Joice N. A. Engka Julia Rottie Jusuf, Devi Dewinta Li Ping Pontoh Lia M. Tanudjaja, Lia M. Lumenta, Nikita Makal, Henny V Mambu, Gloria Christy Manoppo, Firginia P. Manoppo, Melisa Linda Maria R. J. Ratulangi, Maria R. J. Marunduh, Sylvia Ritta Matali, Valentino J. Michael Karundeng Mogi, Jessica G. Mohammad R. S. Utomo Mondoringin, Lidya H. M. Naue, Sitti H. Ngantung, Edwin J. Pati, Josefa M. Pemsi M. Wowor, Pemsi M. Pertiwi, Junita Maja Prisilia M. Pinontoan Rawung, Meilita M. Renold C. Ibrahim, Renold C. Renteng, Septriani Richard Kowel, Richard Rinto Mangiwa Rivelino Hamel Rofina Yanuby Rondo, Amelia Andrita Alika Sapulete, Ivonny Septia, Nindirah Siemona Berhimpon, Siemona Suci M. J. Amir Sundah, Job P. A. Sylvia Marunduh Sylvia R. Marunduh Sylviah Marunduh Tambing, Agustina Tani, Prisilya Theresia Nancy Lesilolo, Theresia Nancy Tubagus, Ade P. Umboh, Jootje M. Vandri D Kallo, Vandri D Worung, Yulinda Veronica Fralya Yanti M. Mewo