Claim Missing Document
Check
Articles

Found 82 Documents
Search
Journal : PHARMACON

EVALUASI PENYIMPANAN DAN PENDISTRIBUSIAN OBAT DI INSTALASI FARMASI RSUD NOONGAN, KABUPATEN MINAHASA PROVINSI SULAWESI UTARA Tiarma, Tiarma; Citraningtyas, Gayatri; Yamlean, Paulina V.Y.
PHARMACON Vol 8, No 1 (2019): Pharmacon
Publisher : PHARMACON

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

EVALUASI PENYIMPANAN DAN PENDISTRIBUSIAN OBAT DI INSTALASI FARMASI RSUD NOONGAN, KABUPATEN MINAHASA PROVINSI SULAWESI UTARATiarma1), Gayatri Citraningtyas1), Paulina Yamlean1)1)Program Studi Farmasi FMIPA UNSRAT Manado, 95115ABSTRACTDrug management is one aspect of hospital management that is very important in providing overall health services because the inefficiency and ineffectiveness of drug management will have a negative impact on hospitals both medically, socially and economically. This study aims to evaluate the storage and distribution of drugs in accordance with the Regulation of the Minister of Health No. 72 of 2016 in Pharmacy Installation of Noongan District Hospital using a descriptive method with a retrospective and prospective approach. The results showed that the drug storage system in the Pharmacy Installation of Noongan General Hospital as a whole was not in accordance with the Regulation of the Minister of Health No. 72 of 2016 such as, warehouses that are not too large to store all drug supplies, the absence of regulators of humidity, the absence of pedestal boards and drugs placed directly on the floor, while the process of drug distribution is in accordance with Minister of Health Regulation No. 72 of 2016 using the Centralization and Individual methods for medicines and the Floor Stock method for Medical Materials.Keywords: Storage, Distribution, Medicine, Pharmacy Installlation Noongan District HospitalABSTRAKPengelolaan obat merupakan salah satu segi manajemen rumah sakit yang sangat penting dalam penyediaan pelayanan kesehatan secara keseluruhan karena ketidakefisienan dan ketidaklancaran pengelolaan obat akan memberi dampak negatif terhadap rumah sakit baik secara medik, sosial, maupun secara ekonomi. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi penyimpanan dan pendistribusian obat sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan No. 72 Tahun 2016 di Instalasi Farmasi RSUD Noongan menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan retrospektif dan prospektif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem penyimpanan obat di Instalasi Farmasi RSUD Noongan secara keseluruhan belum sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan No. 72 Tahun 2016 seperti, gudang yang tidak terlalu luas untuk menyimpan semua persediaan obat, tidak adanya pengatur kelembaban, tidak adanya papan alas dan obat diletakkan langsung dilantai, sedangkan pada proses pendistribusian obat telah sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan No. 72 Tahun 2016 dengan menggunakan metode Sentralisasi dan Perorangan untuk obat-obatan dan metode Floor Stock untuk Bahan Medis Habis Pakai.Kata Kunci : Penyimpanan, Pendistribusian, Obat, Instalasi Farmasi RSUD Noongan 
FORMULASI DAN UJI STABILITAS FISIK SEDIAAN KRIM EKSTRAK ETANOL DAUN SESEWANUA (CLERODENDRON SQUAMATUM VAHL.) Pratasik, Meyla; Yamlean, Paulina; Wiyono, Weny
PHARMACON Vol 8, No 2 (2019)
Publisher : PHARMACON

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT Sesewanua Leaves (Clerodendron squamatum Vahl.) have the potential to be made as skin care cosmetic preparations but must be in the right formulation to achieve the desired effect. The aim of this study was to determine the physical stability of a cream from Sesewanua leaf extract. This study used a experimental method by making ethanol extract of Sesewanua leaves with a concentration of 0.5% and physical stability test. Physical evaluation was carried out before and after cycling test through organoleptic observation, homogenety test, pH test, dispersion test, adhesion test, viscosity test, centrifugation test and cream type determination. The results of the physical evaluation showed that F1 without Sesewanua leaf extract and F2 with Sesewanua leaf extract creams met the requirements of physical stability, so can be concluded that Sesewanua leaf extract can be formulated into cream preparations with concentration of 0.5% which is physically stable before and after cycling test. Keywords: Sesewanua Leaves, Cream, Physical Stability  ABSTRAK Daun Sesewanua (Clerodendron squamatum Vahl.) berpotensi untuk dibuat sebagai sediaan kosmetik perawatan kulit namun harus dengan formulasi yang tepat agar mencapai efek yang diinginkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui stabilitas fisik sediaan krim ekstrak daun sesewanua. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental dengan membuat krim ekstrak etanol daun Sesewanua dengan konsentrasi 0,5% dan uji stabilitas fisik. Evaluasi fisik dilakukan sebelum dan sesudah cycling test melalui pengamatan organoleptis, uji homogenitas, uji pH, uji daya sebar, uji daya lekat, uji viskositas, uji sentrifugasi dan penentuan tipe krim. Hasil evaluasi fisik menunjukkan krim F1 tanpa ekstrak daun Sesewanua dan F2 dengan ekstrak daun Sesewanua memenuhi persyaratan stabilitas fisik. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan ekstrak daun sesewanua dapat diformulasi menjadi sediaan krim dengan konsentrasi 0,5% yang stabil secara fisik sebelum dan sesudah cycling test. Kata Kunci : Daun Sesewanua, Krim, Stabilitas Fisik
ISOLASI DAN UJI ANTIBAKTERI DARI ISOLAT BAKTERI YANG BERASOSIASI DENGAN SPONS CALLYSPONGIA AERIZUSA SERTA IDENTIFIKASI SECARA BIOKIMIA Liempepas, Angelika; Lolo, Widya; Yamlean, Paulina
PHARMACON Vol 8, No 2 (2019)
Publisher : PHARMACON

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT               Sponge Callyspongia aerizusa contain potential bioactive compound that can be utilized in the health sector. Extract of sea sponge Callyspongia aerizusa, can hamper the growth of Salmonella typhi bacteria, Streptococcus pyogenes, Shigella and Staphylococcus epidermidis. The aim of this study was to test the antibacterial activity against Escherichia coli and Staphylococcus aureus bacteria and identify the type of symbionic bacteria of Callyspongia aerizusa sponge based on their physiological and biochemical characteristics. The method of testing the antibacterial activity was agar diffusion method (Kirby and Baurer diffusion disc). There were three bacterial isolates namely T1, T2, and T3 isolates. The result showed that T1, T2, and T3bacterial isolates had antibacterial activity against Escherichia coli and Staphylococcus aureus test bacteria. Based on the biochemical test, T2bacterial isolates were identified as Bronchothrix bacteria and T1and T3 bacterial identified as Desulfotomaculum. Keywords: Callyspongia aerizusa, Antibacterial activity, symbiont bacteria, Biochemical Identification   ABSTRAKSpons Callyspongia aerizusa memiliki kandungan senyawa bioaktif potensial yang dapat dimanfaatkan dibidang kesehatan. Ekstrak spons laut Callyspongia aerizusa dapat menghambat pertumbuhan bakteri Salmonella typhi, Streptococcus pyogenes, Shigella dan Staphylococcus epidermidis. Penelitian ini bertujuan untuk menguji aktivitas antibakteri dari bakteri simbion spons Callyspongia aerizusa terhadap bakteri Escherichia coli dan Staphylococcuc aureus dan mengidentifikasi jenis bakteri simbion spons Callyspongia aerizusa berdasarkan karakteristik fisiologis dan biokimianya. Metode pengujian aktivitas antibakteri yang digunakan yaitu metode difusi agar (disc diffusion Kirby and Baurer). Terdapat tiga isolat bakteri yaitu isolat T1, T2, dan T3. Hasil penelitian menunjukan bahwa isolat bakteri T1, T2, dan T3 memiliki aktivitas antibakteri terhadap bakteri uji Escherichia coli dan Staphylococcuc aureus. Berdasarkan uji biokima, isolat bakteri T2 diduga sebagai bakteri Brochothrix dan  isolat bakteri T1 dan T3 diduga sebagai bakteri Desulfotomaculum.Kata kunci: Callyspongia aerizusa, Aktivitas antibakteri, Bakteri simbion, Identifikasi Biokimia
FORMULASI DAN UJI EFEKTIVITAS KRIM ANTIBAKTERI EKSTRAK ETANOL DAUN BELUNTAS (PLUCHEA INDICA LESS.) TERHADAP BAKTERI PROPIONIBACTERIUM ACNES Suru, Eunike; Yamlean, Paulina; Lolo, Widya
PHARMACON Vol 8, No 2 (2019)
Publisher : PHARMACON

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT Beluntas plants contain flavonoid compounds, which are know to have antibacterial activity. This study aims to make a formulate and test the physical stability of antibacterial cream prepared from Beluntas Leaf extract (Pluchea indica Less.) with three variations in extract concentrations of 5%, 10% and 15%, and  test the effectiveness of antibacterial against Propionibacterium acnes bacteria. The method of this research is experimental laboratory research. Beluntas leaves extract (Pluchea indica Less.) was obtained by maceration using 96% of ethanol and formulated into cream preparations with various extract concentrations. The result showed that Beluntas Leaf extract cream fulfilled the requirements of the physical properties of cream preparations, which included organoleptic test, homogeneity, pH, dispersion, adhesion, emulsion type and cycling test. On the result of antibacterial activity testing, the average diameter of the clear zone of prepared cream of Beluntas leaf extract was at concentration of 5%, 10% and 15%, respectively ie 6.16 mm, 7.83 mm, 10.16 mm. Based on the classification of antibacterial category, the inhibiting ability of the test bacteria by 5% and 10% cream was categorized as moderate, and 15% was categorized as strongly which is the most effective cream inhibiting the activity of Propionibacterium acnes. Keywords: Beluntas leaves, antibacterial cream, Propionibacterium acnes ABSTRAK            Tanaman Beluntas  merupakan salah satu tanaman  yang berkhasiat obat. Tanaman Beluntas mengandung senyawa flavonoid yang diketahui memiliki aktivitas antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk membuat formula dan uji stabilitas fisik sediaan krim antibakteri dari ekstrak Daun Beluntas (Pluchea indica Less.) dengan tiga variasi konsentrasi ekstrak yaitu 5%, 10% dan 15%, serta menguji efektivitas antibakteri terhadap bakteri Propionibacterium acnes. Metode penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratorium. Ekstrak daun Beluntas (Pluchea indica Less.) diperoleh dengan cara maserasi dengan pelarut etanol 96% dan diformulasikan menjadi sediaan krim dengan variasi konsetrasi ekstrak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa krim ekstrak Daun Beluntas memenuhi persyaratan sifat fisik sediaan krim yang meliputi uji organoleptik, homogenitas, pH, daya sebar, daya lekat, tipe emulsi dan cycling test .Pada hasil pengujian aktivitas antibakteri, diameter rata-rata zona bening sediaan krim ekstrak daun beluntas pada konsetrasi 5%, 10% dan 15% berturut ?turut yaitu 6,16 mm, 7,83 mm, 10,16 mm. Berdasarkan klasifikasi kekuatan daya antibakteri, maka kemampuan penghambatan bakteri uji oleh krim konsentrasi 5% dan 10% dikategorikan sedang, serta 15% dikategorikan kuat yang merupakan krim paling efektif menghambat aktivitas bakteri Propionibacterium acnes. Kata kunci : Daun Beluntas, krim antibakteri, Propionibacterium acnes.
UJI EFEK ANTIBAKTERI JAMUR ENDOFIT PADA TUMBUHAN SEREH (CYMBOPOGON CITRATUS) PADA BAKTERI UJI STAPHYLOCOCCUS AUREUS DAN ESCHERICHIA COLI Falugah, Fathia; Posangi, Jimmy; Yamlean, Paulina
PHARMACON Vol 8, No 3 (2019)
Publisher : PHARMACON

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT Endophytic fungi are fungi that live in plant tissues and do not harm these plants. Endophytic fungi can produce compounds that have the potential as antibacterial. This study aimed to examine the antibacterial effects of endophytic fungi isolated from the lemongrass (Cymbopogon citratus) against Staphylococcus aureus and Escherichia coli bacteria. Lemongrass is used to inhibit or kill pathogenic bacteria because it contains essential oils that function as an antifungal and antibacterial against several pathogenic bacteria such as Staphylococcus aureus and Escherichia coli. The laboratory experiment method tested the antibacterial activity of endophytic fungi isolates obtained from lemongrass (Cymbopogon citratus) against Staphylococcus aureus and Escherichia coli using hole / well method. From the results of the study, four endophytic fungi were isolated from the roots and leaves of lemongrass (Cymbopogon citratus). Antibacterial results showed that endophytic fungi extract isolated from lemongrass plants was more effective in inhibiting Staphylococcus aureus compared to Escherichia coli bacteria. In Staphylococcus aureus bacteria the average inhibitory value is 5-9 mm while in Escherichia coli bacteria the average inhibitory value is only 3 mm. Endophytic fungi from lemongrass roots have a better antibacterial effect compared to endophytic fungi from lemongrass leaves. Conclusion, endophytic fungi isolated from the roots and leaves of lemongrass (Cymbopogon citratus) have an antibacterial effect on the growth of S. aureus bacteria and are not effective against E. coli bacteria. This endophytic fungus isolate is more active against Gram positive (+) bacteria and less active against Gram negative (-) bacteria. Keywords: Lemongrass plants, Endophytic Fungi, Antibacterial Activity, Staphylococcus aureus,  Escherichia coli. ABSTRAK Jamur endofit ialah jamur yang hidup di dalam jaringan tumbuhan dan tidak membahayakan tumbuhan tersebut. Jamur endofit dapat menghasilkan senyawa yang berpotensi sebagai antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk menguji efek antibakteri jamur endofit yang diisolasi dari akar,batang dan daun tumbuhan sereh (Cymbopogon citratus)  terhadap bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli. Sereh digunakan untuk menghambat atau membunuh bakteri patogen karena mengandung minyak atsiri yang berfungsi sebagai antijamur dan antibakteri terhadap beberapa bakteri patogen seperti Staphylococcus aureus dan  Escherichia coli.  Metode penelitian secara eksperimen laboratorium menguji aktivitas antibakteri dari isolat jamur endofit  yang diperoleh dari tumbuhan sereh (Cymbopogon citratus) pada bakteri Staphylococcus Aureus dan Escherichia Coli menggunakan metode lubang/sumuran. Dari hasil penelitan diperoleh empat jenis jamur endofit yang diisolasi dari akar dan daun  tumbuhan sereh (Cymbopogon citratus).  Hasil penelitian antibakteri menunjukkan bahwa ekstrak jamur endofit yang diisolasi dari tumbuhan sereh lebih efektif menghambat  bakteri Staphylococcus aureus dibandingkan dengan bakteri Escherichia coli. Pada bakteri  Staphylococcus aureus nilai rata-rata daya hambat yaitu 5-9 mm sedangkan pada bakteri Escherichia coli nilai rata-rata daya hambat yaitu hanya 3 mm. Jamur endofit dari akar sereh memiliki efek antibakteri yang lebih baik dibandingkan dengan jamur endofit dari daun sereh. Kesimpulan, Jamur endofit yang diisolasi dari akar  dan daun sereh (Cymbopogon citratus) memiliki efek antibakteri terhadap pertumbuhan bakteri S. aureus dan tidak efektiv terhadap bakteri E. coli. Isolat jamur endofit ini lebih aktif pada bakteri Gram positif (+) dan kurang  aktif pada bakteri negatif (-). Kata Kunci : Tumbuhan Sereh, Jamur Endofit, Aktivitas Antibakteri, Staphylococcus aureus, Escherichia coli.
SKRINNING FITOKIMIA, UJI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN DAN TABIR SURYA PADA TANAMAN JAGUNG (ZEA MAYS L.) Pangemanan, David Albert; Suryanto, Edi; Yamlean, Paulina V. Y.
PHARMACON Vol 9, No 1 (2020)
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/pha.9.2020.27432

Abstract

ABSTRACT Corn (Zea Mays L.) is widely developed in Indonesia. Corn kernels showed total phenolic and antioxidant activity. Antioxidants have the potential as photoprotectors, therefore, plants containing phenolic compounds can be used in the prevention of free radicals. For this reason, researcher is interested in further researching the phytochemical screening, antioxidant activity and sunscreen testing from extracts of stems, leaves, hair and leaf wrapping from corn (Zea mays L.). The samples used were corn plants (corn silk, corn leaves, corn stalks and leaf wrapping corn) originating from Kauditan area, North Minahasa. The results of the study showed that the leaf contained saponin and flavonoid compounds, the stem contained alkaloid and saponin compounds, the hair contained alkaloid and flavonoid compounds, and the leaf wrapping only contained alkaloid compounds. The highest to lowest total phenolic content values starting from the stem were 46.93 ?g / mL, the leaf wrapping 37.76 ?g / mL, the leaf 26.63 ?g / mL and hair 14.49 ?g / mL. The leaf has the highest antioxidant activity with a value of 72.81% followed by 62.87% stem then wrapping leaf 43.13%  and finally hair 29.14%. The SPF value of the stem was included in the ultra protection with a value of 16.117 followed by the leaves included in the maximum protection with an SPF value of 10.902. While the hair with SPF value of 0.6 and wrapping leaf with SPF value of 0.222 are included in the minimum protection. Keywords: Corn (Zea Mays L.), Sunscreen, Antioxidants, Phenol ABSTRAK Jagung (Zea Mays L.) banyak dikembangkan di Indonesia. Biji jagung menunjukkan kadar total fenolik dan aktivitas antioksidan. Antioksidan memiliki potensi sebagai fotoprotektor, oleh karena itu, tanaman yang mengandung senyawa fenolik dapat digunakan dalam pencegahan radikal bebas. Untuk itu peneliti tertarik untuk meneliti lebih lanjut tentang skrining fitokimia, uji aktivitas antioksidan dan tabir surya dari ekstrak batang, daun, rambut, dan daun pembungkus dari jagung (Zea mays L.). Sampel yang digunakan ialah tanaman jagung (rambut jagung, daun jagung, batang jagung dan daun pembungkus jagung) yang berasal dari daerah Kauditan, Minahasa Utara. Hasil dari penelitian menunjukkan daun mengandung senyawa saponin dan flavonoid, batang mengandung senyawa alkaloid dan saponin, rambut mengandung senyawa alkaloid dan flavonoid, dan daun pembungkus hanya mengandung senyawa alkaloid. Nilai kandungan total fenolik  yang paling tinggi sampai paling rendah dimulai dari batang sebesar 46.93 ?g/mL, daun pembungkus 37.76 ?g/mL, daun 26.63 ?g/mL dan rambut 14.49 ?g/mL. Daun memiliki aktivitas antioksidan yang paling tinggi dengan nilai 72.81% diikuti oleh batang 62.87% kemudian daun pembungkus 43.13% dan yang terakhir adalah rambut 29.14%. Nilai SPF batang termasuk dalam proteksi ultra dengan nilai 16,117 diikuti oleh daun yang termasuk dalam proteksi maksimal dengan nilai SPF 10,902. Sedangkan rambut dengan nilai SPF  0,6 dan daun pembungkus dengan nilai SPF 0,222 termasuk dalam proteksi minimal. Kata Kunci : Jagung (Zea Mays L.), Tabir Surya, Antioksidan, Fenol
UJI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN DAN PENENTUAN TOTAL KANDUNGAN FENOLIK EKSTRAK ETANOL DAUN NANAMUHA (BRIDELIA MONOICA MERR) Lakoro, Julia Elsa; Runtuwene, Max R. J.; Yamlean, Paulina V. Y.
PHARMACON Vol 9, No 1 (2020)
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/pha.9.2020.27426

Abstract

ABSTRACTNanamuha (Bridelia monoica Merr.) is a plant that was used as a cancer and tumor drug by the Sangihe Islands community. This plant contains phenol compounds, flavonoids, alkaloids and tannins. The purpose of this study was to determine the potential of nanamuha leaves that grow in the Sangihe Island to have antioxidant activity and determine the total phenolic ethanol extracts of nanamuha leaf. The extraction method used is maceration with ethanol solvent p.a. The extracts obtained was determined total phenolic and antioxidant activity test using DPPH method. Based on the results obtained, the ethanol extracts of nanamuha leaves has antioxidant activity with an IC50 value of 75,03 µg / mL and the result showed that the total phenol content the ethanol extracts of nanamuha leaves of  53,34 mg / L.  Keywords : Nanamuha leaf, total phenol, antioxidant activity, DPPH  ABSTRAKNanamuha (Bridelia monoica Merr.) merupakan tanaman yang dimanfaatkan sebagai obat kanker dan tumor oleh masyarakat Kepulauan Sangihe. Tanaman ini memiliki kandungan senyawa fenol, flavonoid, alkaloid dan tanin. Tujuan dari penelitian ini adalah unutuk mengetahui potensi dari daun nanamuha yang tumbuh di Kepulaun Sangihe ini memiliki aktivitas antioksidan dan menentukan total fenolik dari ekstrak etanol daun nanamuha. Metode ekstraksi yang digunakan adalah maserasi dengan pelarut etanol p.a. Ekstrak yang diperoleh ditentukan total fenolik dan uji aktivitas antioksidan dengan metode DPPH. Berdasarkan hasil yang didapatkan ekstrak etanol daun nanamuha memiliki aktivitas antioksidan dengan nilai IC50 75,03 µg/mL dan hasil penelitian menunjukan total kandungan fenolik ekstrak etanol daun nanamuha sebesar 53,34 mg/L. Kata kunci : Daun Nanamuha, Total fenol, Aktivitas antioksidan, DPPH
FORMULASI DAN UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI KRIM EKSTRAK ETANOL HERBA SELEDRI (APIUM GRAVEOLENS L.) TERHADAP BAKTERI STAPHYLOCOCCUS AUREUS Clements, Garry; Yamlean, Paulina V. Y.; Lolo, Widya Astuty
PHARMACON Vol 9, No 1 (2020)
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/pha.9.2020.27443

Abstract

ABSTRACTCelery herbs (Apium graveolens L.) have content flavonoid, saponin and tannin. Flavonoids have anti-inflammatory properties, antioxidants and antibacterials. This study aims to determine whether the ethanol extract of celery herbs can be formulated into cream preparations, test the quality of preparations at concentrations of 5%, 10% and 15%. These methods of research are experimental laboratories by making the supply of self-sustaining herbal celery ethanol extract cream and testing the quality of the cream preparation,  as well as testing of antibacterial activity was carried out using the liquid dilution method and measuring value of  Minimum Inhibitory Concentration  and Minimum Bactericidal Concentration using a UV-Vis Spectrophotometer. This research shows that celery herbs ethanol extract can be formulated into cream preparations, fulfilling quality test of organoleptic, scatter power, adhesion and cycling test, but that doesn?t meet the requirements for homogeneity tests and pH tests and has antibacterial activity which not only inhibits but kills bacteria in preparations of 5% and 15%Keywords: Cream Celery herb extract, Antibacterial, Staphylococcus aureus, UV-Vis spectrophotometer ABSTRAK Herba Seledri (Apium graveolens L.) memiliki kandungan flavonoid, saponin dan tannin. Flavonoid memiliki khasiat sebagai antiinflamasi, antioksidan dan antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ekstrak etanol herba Seledri dapat diformulasikan menjadi sediaan krim, menguji mutu sediaan pada konsentrasi 5%, 10% dan 15%. Metode penelitian ini experimental laboratorium dengan membuat Sediaan Krim Ekstrak Etanol Herba Seledri dan menguji mutu sediaan krim, serta   menguji aktivitas antibakteri menggunakan metode dilusi cair dan mengukur nilai KBM dan KHM menggunakan Spektrofotometer UV-Vis. Hasil penelitian menujukkan bahwa ekstrak etanol herba Seledri dapat diformulasikan menjadi sediaan krim, memenuhi uji mutu sediaan organoleptik, daya, sebar, daya hambat dan stabilitas  namun tidak memenuhi persyaratan untuk uji homogenitas dan uji pH serta mempunyai aktivitas antibakteri yang membunuh bakteri pada sediaan berkonsentrasi 5% dan 15%.Kata Kunci : Krim Ekstrak herba Seledri, Antibakteri, Staphylococcus aureus, Spektrofotometer UV-Vis
FORMULASI DAN UJI EFEKTIVITAS ANTIBAKTERI SEDIAAN SABUN CAIR EKSTRAK ETANOL DAUN KERSEN (Muntingia Calabura L.) TERHADAP BAKTERI Staphlococcous epidermidis Korompis, Freisy C.C; Yamlean, Paulina V. Y.; Lolo, Widya Astuty
PHARMACON Vol 9, No 1 (2020): PHARMACON
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/pha.9.2020.27407

Abstract

ABSTRACT Cherry plants (Muntingia calabura L.) is a plant that has many properties in the treatment. One part of the plant that is widely used is the leaf which contain of flavonoid compounds, saponins and tannins contained in cherry leaves can inhibit bacterial activity. This study aims to formulate the liquid soap from ethanol extract of cherry leaves and test the antibacterial effectiveness of the liquid soap ethanol extract of cherry leaves with a concentration of 10%, 15% and 20% on the growth of Staphylococcus epidermidis bacteria. Liquid soap formulation of ethanol extract of cherry leaves with a concentration of 10%, 15% and 20% was conducted by laboratory experimental research. The results of testing the quality of liquid soap at a concentration of 10% meet the requirements according to the standards set by SNI namely organoleptic test, pH, high foam, moisture content, free alkali content, specific gravity. Concentrations of 15% and 20% did not meet the requirements for specific gravity testing. The test results of the antibacterial effectiveness of liquid soap ethanol extract of cherry leaves using the diffusion method with way of wells can inhibit the bacteria Staphylococcus epidermidis at concentrations of 10%, 15%, and 20% which categorize as weak. Keywords: Kersen, Peel-off mask, Antibacterial, Staphlococcous epidermidis  ABSTRAK Tanaman Kersen (Muntingia calabura L.) merupakan tanaman yang memiliki banyak khasiat dalam pengobatan. Salah satu bagian tanaman yang banyak digunakan ialah bagian daun yang mengandung senyawa flavonoid, saponin dan tannin yang terdapat pada daun kersen mampu menghambat aktivitas bakteri. Penelitian ini bertujuan untuk memformulasi sediaan sabun cair ekstrak etanol daun kersen dan  menguji efektivitas antibakteri sediaan sabun cair ekstrak etanol daun kersen dengan konsentrasi 10%, 15% dan 20% terhadap pertumbuhan bakteri Staphylococcus Epidermidis. Formulasi sabun cair ekstrak etanol daun kersen dengan konsentrasi 10%, 15% dan 20% dilakukan penelitian dengan metode eksperimental laboratorium. Hasil pengujian mutu sabun cair pada konsentrasi 10% memenuhi persyaratan sesuai standar yang ditetapkan SNI yaitu uji organoleptik, pH, tinggi busa, kadar air, kadar alkali bebas, bobot jenis. Konsentrasi 15% dan 20% tidak memenuhi persyaratan pada pengujian bobot jenis. Hasil uji efektivitas antibakteri sabun cair ekstrak etanol daun kersen menggunakan metode difusi agar dengan cara sumuran dapat menghambat bakteri Staphylococcus Epidermidis pada konsentrasi 10%, 15%, dan 20% yang termasuk dalam kategori lemah. Kata kunci : Kersen, Masker peel-off, Antibakteri, Staphlococcous epidermidis
UJI DAYA HAMBAT EKSTRAK RIMPANG LENGKUAS MERAH (ALPINIA PURPURATA K.SCHUM) TERHADAP PERTUMBUHAN BAKTERI KLEBSIELLA PNEUMONIAE ISOLAT SPUTUM PADA PENDERITA PNEUMONIA RESISTEN ANTIBIOTIK SEFTRIAKSON Abubakar, Poetry M.S.; Fatimawali, Fatimawali; Yamlean, Paulina V.Y.
PHARMACON Vol 8, No 1 (2019): Pharmacon
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/pha.8.2019.22611

Abstract

UJI DAYA HAMBAT EKSTRAK RIMPANG LENGKUAS MERAH (Alpinia purpurata K.Schum) TERHADAP PERTUMBUHAN BAKTERI Klebsiella pneumoniae ISOLAT SPUTUM PADA PENDERITA PNEUMONIA RESISTEN ANTIBIOTIK SEFTRIAKSONPoetry Melinda S Abubakar1), Fatimawali1), Paulina V. Y. YamLean1)1)Program Studi Farmasi FMIPA UNSRAT Manado, 95115ABSTRACTRed galangal rhizome is a plant that has various properties including antifungal and antibacterial. Red galangal rhizomes contain a class of flavonoids, phenols and terpenoids, which can be, used as basic ingredients of modern medicines. Flavonoids and phenols are also known to inhibit microbes. Flavonoids can inhibit microbes that have been resistant to antibiotics. This study aims to determine the antibacterial activity of red galangal rhizome extract (Alpinia purpurata K.Schum) and test its inhibitory effect on the growth of Klebsiella pneumoniae bacteria in sputum isolates in patients with pneumonia resistant ceftriaxone antibiotics. Red galangal rhizome plant was extracted by maceration method using 96% ethanol. Antibacterial inhibitory tests were carried out using the disc and well method. The results showed that the red galangal extract of rhizome had a inhibitory effect on the bacterium Klebsiella pneumoniae. On the disc method for concentrations of 100%, 75%, 50%, 25% and 12.5% the diameter of the inhibition zone is 9.6 mm, 8.68 mm, 8.5 mm, 8.5 mm and 7.6 mm. The inhibition ability of bacterial growth on the disc method is categorized as moderate because it has an average inhibition zone diameter of 5-10 mm. Whereas in the well method for concentrations of 100%, 75%, 50%, 25% and 12.5% the diameter of the inhibition zone was 25.8 mm, 20 mm, 15.6 mm, 12.7 mm and 9.7 mm, respectively. The inhibition ability of bacterial growth in the well method for 100% concentration is categorized as very strong because it has an average inhibition zone diameter of >20 mm, for concentrations of 75%, 50% and 25% it is categorized as strong because it has an average inhibition zone of 10- 20 mm and for a concentration of 12.5% it is categorized as moderate because it has an average inhibition zone diameter of 5-10 mm.Keywords: Red galangal rhizome, Alpinia purpurata K.Schum, Klebsiella pneumoniaABSTRAKRimpang Lengkuas merah merupakan tanaman yang memiliki berbagai khasiat di antaranya sebagai antijamur dan antibakteri. Rimpang Lengkuas merah mengandung golongan senyawa flavonoid, fenol dan terpenoid yang dapat digunakan sebagai bahan dasar obat-obatan moderen. Senyawa flavonoid dan fenol juga diketahui dapat menghambat mikroba. Flavonoid dapat menghambat mikroba yang telah resisten terhadap antibiotik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak rimpang Lengkuas merah (Alpinia purpurata K.Schum) dan menguji daya hambatnya terhadap pertumbuhan bakteri Klebsiella pneumoniae isolat sputum pada penderita pneumonia resisten antibiotik seftriakson. Tanaman rimpang Lengkuas merah di ekstraksi dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 96%. Uji daya hambat antibakteri dilakukan dengan metode cakram dan sumuran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak rimpang Lengkuas merah memiliki daya hambat terhadap bakteri Klebsiella pneumoniae. Pada metode cakram untuk konsentrasi 100%, 75%, 50%, 25% dan 12,5% diameter zona hambatnya ialah 9,6 mm, 8,68 mm, 8,5 mm, 8,5 mm dan 7,6 mm. Kemampuan penghambatan pertumbuhan bakteri pada metode cakram di kategorikan sedang karena memiliki diameter zona hambat rata-rata 5-10 mm. Sedangkan pada metode sumuran untuk konsentrasi 100%, 75%, 50%, 25% dan 12,5% diameter zona hambatnya ialah 25,8 mm, 20 mm, 15,6 mm, 12,7 mm dan 9,7 mm. Kemampuan penghambatan pertumbuhan bakteri pada metode sumuran untuk konsentrasi 100% di kategorikan sangat kuat karena memiliki diameter zona hambat rata-rata >20 mm, untuk konsentrasi 75%, 50% dan 25% di kategorikan kuat karena memiliki diameter zona hambat rata-rata 10-20 mm dan untuk konsentrasi 12,5% di kategorikan sedang karena memiliki diameter zona hambat rata-rata 5-10 mm.Kata Kunci:Rimpang Lengkuas merah, Alpinia purpurata K.Schum, Klebsiella pneumonia
Co-Authors Aaltje Manampiring Abdullah, Surya S. Abdullah, Surya Sumantri Abubakar, Poetry M.S. Abubakar, Poetry Melinda Adeanne Wullur Adithya Yudistira Amanda Putri Pratikto Anisa Puspa Juwita Antasionasti, Irma Apriliani Margaret Marista Lourina Rarung Ardiansa A.T Tucunan, Ardiansa A.T Ariem, Feiby Ba'u, Defrikson Billy Kepel Christania A. E. Pakasi Clements, Garry Daimunon, Regita Defrikson Ba'u Dewa G Katja Dewa Gede Katja Edi Suryanto Edwin de Queljoe Edwin De Queljoe Ekawati Tallei, Trina Elly Suoth Ering, Mariando N. Fabiola N Palobo Fadillah Djafar Falugah, Fathia Fatimawali . Fona Budiarso Frendsiane Pangalinan Gayatri Citraningtyas Grace Riani Pongsipulung Gratia, Berta Gusti Ayu Wulandari Hamdiyah Hamzah Hamidah Sri Supriati Hosea Jaya Edy Hutauruk, Hamido Immanuela Irene Mandias Inriani MarlinMareyke Rumayar Jainer P. Siampa Jainer Pasca Siampa Jainer Siampa Jayanto, Imam Jeane Mongi Jimmy Posangi Jonly Piere Uneputty Julianri Sari Lebang, Julianri Sari Kalalo, Tekla Karlah L. R. Mansauda Korompis, Freisy C.C Lahagina, Juan Lahagina, Juan C. G. Lakoro, Julia Elsa Lebang, Julianri S. Legoh, Dina Imorina Lempoy, Sela S Liempepas, Angelika Lisma Burhan Lolowang, Sheren N. Lomboan, Evander Roliand Majid, Nurul Majid, Nurul S Manarisip, Thesya Marhaba, Fera Anelia Maureen Regina Satolom Max R. J. Runtuwene Max R.J Runtuwene Max R.J. Runtuwene Merry Senewe Mery A R Sinaga Moilati, Veronica O. Monibala, Tiarma Mopangga, Elisticia Nau'e, Dwi A.K. Nelwan, Sabine A. Niswah Paju Novel Kojong Olivia H Naibaho, Omega Agral Pakasi, Christania A. E. Pakpahan, Kevin Yosua Pangemanan, David Albert Pingkan, Aprilia Pogaga, Eklesia Poluan, Omega A Pratasik, Meyla Pratasik, Meyla C. M. Purwoko, Agus Ratte, Titah Amelia Ravael Kurnia Kolibu Risma Meidy Hardina Sitorus Rompis, Ferrna Rumayar, Adisti Aldegonda Rumayar, Ricky C. Rundengan, Gerald Runtuwene, Kristianus Siampa, Jainer Pasca Singal, Ausich Sukandi, Gabrilia Sukandi, Gabrilia P. C. Suru, Eunike Surya S. Abdullah Surya Sumantri Abdullah Surya Sumantri Abdullah Tasya Mangkey Tatuh, Heru Andika Tiarma Tiarma TRINA EKAWATI TALLEI Umboh, Defritsevani Umboh, Defritsevani Y. Vanda S Kamu Vanda S Kamu Veren Naftalia Mamangkey Violeta Gavelentri Melga Tambingon Virginia lasut Walewangko, Marfincy Walewangko, Marfincy S. Weny I Wiyono Weny Wiyono Widdhi Bodhi Widdhi Bodhi Widya Astuty Lolo, Widya Astuty Yos Banne Yuni Arista N Kumesan