Claim Missing Document
Check
Articles

Found 25 Documents
Search

Pemberdayaan Kelompok Wanita Tani Untuk Peningkatan Produksi Sayur Mayur Mandiri Iskandar, Slamet Iskandar; Waluyo, Waluyo; Sitasari, Almira; Pratamawati , Diana Andriyani; Martati, Endah
Jurnal Kesehatan Pengabdian Masyarakat (JKPM) Vol. 3 No. 1 (2022): 1
Publisher : Poltekkes Kemenkes Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29238/jkpm.v3i2.1789

Abstract

Kelompok Wanita Tani (KWT) merupakan wadah pembinaan bagi wanita yang dikembangkan pemerintah dalam proses transfer teknologi pertanian. Desa Trimulyo, Kapanewon Jetis, Kabupaten Bantul memiliki perkumpulan kelompok wanita tani. Namun keberadaan kelompok wanita tani di tengah-tengah kaum perempuan di pedesaan cenderung belum optimal.  Hal ini seperti terlihat dalam kegiatan yang dilaksanakan belum dapat mandiri dan cenderung pasif keberadaannya di masyarakat. Tujuan kegiatan pengabdian masyarakat ini yaitu untuk mendampingi meningkatkan keterampilan kelompok wanita tani dalam memanfaatkan lahan kebun desa untuk meningkatkan produksi bahan pangan sayur mayur yang berkualitas, berkuantitas dan beragam.  Berdasarkan hasil kegiatan, pendampingan kelompok wanita tani (KWT) ini  ini telah berhasil menggerakan kegiatan peningkatan produksi sayur mayur untuk ketahanan pangan  rumah tangga khususnya di RT 02 dan RW 05 Dusun Ponggok II Trimulyo Jetis Bantul. Selama enam bulan kegiatan budidaya sayur mayur bisa panen beberapa kali sesuai dengan jenis tanamannya.  Jenis tanaman yang ditanam di kebun kelompok wanita tani adalah cabe rawit, terong ungu, terong biasa, sawi hijau, dan papaya. Rata-rata hasil panen sayur mayur tiap bulan kurang lebih Rp. 315.000,-. Sehingga selama enam bulan dengn enam kali panen menghasilkan Rp. 1.890.000,-. 
POTRET KESEHATAN MENTAL LANSIA: PELATIHAN PENINGKATAN KESEHATAN HOLISTIC LANSIA DI KOTA YOGYAKARTA Trisnowati, Heni; Naini, Rohmatus; Gustina, Erni; Ummu Aziizah, ‘Aabidah; Maudy Rohman, Elsa; Kartika Wulan, Utami; Andriyani Pratamawati, Diana
Martabe : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 7, No 7 (2024): MARTABE : JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jpm.v7i7.2748-2755

Abstract

Kesehatan mental lansia merupakan aspek penting dalam menunjang kualitas hidup yang optimal. Program Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) ini bertujuan untuk memotret kesehatan mental lansia melalui pelaksanaan program PESILAT pada kelompok lansia di Kampung Jageran, Mangkuyudan, Kelurahan Mantrijeron, Kota Yogyakarta pada tanggal 17-18 Februari 2024. Dengan tema "Membentuk Lansia Sehat, Bahagia, dan Siap Husnul Khotimah," kegiatan ini merupakan hasil kerja sama dengan Majelis Pembinaan Kesejahteraan Sosial (MPKS) Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Yogyakarta (PDM Kota Yogyakarta) dan Pimpinan Cabang Muhammadiyah Mantrijeron. Sebanyak 31 lansia berpartisipasi dalam program ini yang dilaksanakan melalui metode penyuluhan yang melibatkan penyampaian materi dan diskusi. Hasil screening menunjukkan bahwa hampir semua lansia mengalami gejala-gejala kesehatan mental, seperti kecemasan, ketegangan, dan kekhawatiran. Lansia mencemaskan kondisi fisik yang kurang optimal, gangguan kesehatan, masalah sosial, kesendirian, kehilangan anggota keluarga, dan masalah finansial. Kecemasan meningkat saat mengingat usia senja yang menuju husnul khotimah. Selain itu, gangguan kesehatan mental lansia juga tercermin dari waktu istirahat yang tidak optimal, yang berdampak pada mudahnya merasa lelah dan kesulitan mengambil keputusan. Meskipun demikian, para lansia tetap merasakan manfaat dari aktivitas sosial, rutinitas di rumah, dan aktivitas keagamaan seperti ibadah berjamaah, berorganisasi, dan kajian, yang memberikan mereka rasa kebahagiaan dan kepuasan. Porgram ini menyimpulkan bahwa pelatihan peningkatan kesehatan holistik dapat membantu mengurangi kecemasan dan meningkatkan kesejahteraan mental lansia, namun perhatian lebih lanjut diperlukan untuk menangani berbagai gejala kesehatan mental yang masih dialami oleh para lansia.
INTERVENSI PROMOSI KESEHATAN UNTUK PENGENDALIAN FAKTOR RISIKO LEPTOSPIROSIS DI PEDUKUHAN DAWUNG, SLEMAN YOGYAKARTA Andriyani Pratamawati, Diana; Trisnowati, Heni; Jumaedi Nasir, Ardiansyah; Nur Fadhilah, Aulia; Syawitri, Nadya; Nur Djanah, Sitti; Emilia, Emilia
Martabe : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 7, No 11 (2024): MARTABE : JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jpm.v7i11.4553-4564

Abstract

Latar belakang: Pada tahun 2023, D.I. Yogyakarta termasuk 15 provinsi yang melaporkan adanya kasus leptospirosis. Data Dinas Kabupaten Sleman tahun 2023 ada 60 warga Sleman yang dinyatakan positif terjangkit leptospirosis. Desa Bokoharjo, Prambanan, Sleman menghadapi masalah kesehatan serius karena terdapat kasus leptospirosis yang meninggal dunia pada bulan Februari 2024 di Pedukuhan Dawung. Kondisi ini memerlukan perhatian yang serius terkait pencegahan dan pengendalian kasus leptospirosis di wilayah ini.  Tujuan: melakukan intervensi kegiatan edukasi dan FGD (Focus Group Discussion) untuk mencegah penularan leptospirosis dan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang faktor risiko. Metode: Pengabdian masyarakat dalam bentuk Praktek Kerja Lapangan (PKL) dengan metode edukasi dan FGD dilanjutkan penandatanganan komitmen bersama dan evaluasi program promosi kesehatan. Hasil: Program promosi kesehatan  edukasi tentang pencegahan dan pengendalian faktor risiko Leptospirosis yang disampaikan melalui pertemuan yang dilaksanakan di Rumah Bapak Dukuh Dawung. Penyampaian Informasi dilakukan secara interaktif yaitu melalui media PPT dan diskusi tanya jawab. FGD yang dilaksanakan dalam program ini melibatkan masyarakat, Dukuh, perangkat RT dan Kader Kesehatan yang ada di Pedukuhan Dawung. Akhir FGD, masyarakat melakukan ikrar pencegahan leptospirosis yang dilanjutkan dengan penandatanganan komitmen bersama. Hasil evaluasi program promosi kesehatan menunjukkan adanya perbedaan sebelum dan sesudah intervensi. Meski ada peningkatan nilai namun secara statistik perbedaannya belum signifikan. Kesimpulan: Kegiatan penyuluhan edukasi pengendalian faktor risiko leptospirosis di Pedukuhan Dawung telah berhasil meningkatkan pengetahuan dan mempengaruhi sikap dan perilakunya meski tidak signifikan secara statistik. Rekomendasi, sebaiknya edukasi tidak dilakukan hanya sekali, namun berkali-kali hingga dapat membentuk perilaku, meningkatkan pengetahuan dan sikap dalam upaya mencegah penyakit leptospirosis secara signifikan.
PENINGKATAN ASUPAN MINERAL Fe DAN VITAMIN C PADA TOKOH MASYARAKAT MELALUI PENYULUHAN DENGAN MEDIA BOOKLET Slamet Iskandar Iskandar; Almira Sitasari; Diana Andriyani Pratamawati; Endah Martati
Media Gizi Mikro Indonesia Vol. 15 No. 2 (2023): Media Gizi Mikro Indonesia (MGMI)
Publisher : Poltekkes Kemenkes Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29238/mgmi.v15i2.2176

Abstract

Background: Consuming food that is not diverse can cause nutrient intake to be deficient and unbalanced, which will affect an individual's nutritional status. Mineral deficiencies can cause health problems such as goiter, osteoporosis, osteomalacia and anemia. Meanwhile, a lack of Vitamin C will cause dry skin, wounds that take longer to heal, bleeding gums, mouth ulcers and anemia. Fulfilling mineral and vitamin needs can be obtained from consuming animal and vegetable foods. One effort to increase mineral and vitamin intake is by conducting outreach in the community. Objective: To know the increased intake of minerals (Fe) and vitamin C figures of the community leaders through counseling using booklet media. Methods: This study used a cohort design with one group pretest and posttest without control. The sample for this research was one hundred community leaders from Jetis District, Bantul Regency. Data on mineral and vitamin intake was collected using food recall. Data analysis was carried out using the Wilcoxon Signed Rank Test.. Results: The average initial tomas mineral intake was 5.15 ± 4.28 mg. The average final tomas mineral intake was 7.76 ± 4.77 mg. The average initial intake of vitamin C for Tomas was 22.56 ± 21.78 mg. The average final intake of vitamin C was 74.60 ± 78.50 mg. The average initial knowledge of Thomas was 44.85 ± 13.72. The average knowledge of final Tomas was 71.55 ± 19.65. The average initial attitude was 56.31 ± 3.48. The average final attitude was 71.98 ± 5.04. Conclusion: There was an increase in Tomas' knowledge, Tomas' attitude, Tomas' mineral intake, and Tomas' vitamin C intake before and after counseling using booklet media. Keywords: Booklet, mineral, Vitamin C, Tomas ABSTRAK Latar Belakang : Konsumsi pangan yang tidak beraneka ragam dapat menyebabkan asupan zat gizi menjadi kurang dan tidak seimbang, sehingga akan berpengaruh pada status gizi individu. Defisiensi mineral dapat menyebabkan gangguan kesehatan seperti gondok, osteoporosis, osteomalasia, dan anemia. Sedangkan kekurangan Vitamin C akan menyebabkan kulit kering, luka lebih lama sembuh, gusi berdarah, sariawan, dan anemia. Pemenuhan kebutuhan mineral dan vitamin dapat diperoleh dari konsumsi pangan hewani maupun nabati. Salah satu upaya untuk meningkatkan asupan mineral dan vitamin adalah dengan melakukan penyuluhan di Masyarakat. Tujuan : Mengetahui peningkatan asupan mineral (Fe) dan vitamin C tokoh masyarakat melalui penyuluhan dengan media booklet. Metode : Penelitian ini menggunakan disain kohort dengan one group pretest and posttest without control. Sampel penelitian ini adalah seratus tokoh masyarakat dari Kecamatan Jetis Kabupaten Bantul. Data tentang asupan mineral dan vitamin dikumpulkan dengan food recall. Analisis data dilakukan dengan Wilcoxon Signed Rank Test. Hasil : Rata-rata asupan mineral tomas awal adalah 5,15 ± 4,28 mg. Rata-rata asupan mineral tomas akhir adalah 7,76 ± 4,77 mg. Rata-rata asupan vitamin C tomas awal adalah 22,56 ± 21,78 mg. Rata-rata asupan vitamin C tomas akhir adalah 74,60 ± 78,50 mg. Rata-rata pengetahuan tomas awal adalah 44,85 ± 13,72. Rata-rata pengetahuan tomas akhir adalah 71,55 ± 19,65. Rata-rata sikap tomas awal adalah 56,31 ± 3,48. Rata-rata sikap tomas akhir adalah 71,98 ± 5,04. Kesimpulan : Ada peningkatan pengetahuan tomas, sikap tomas, asupan Mineral tomas, dan asupan vitamin C tomas sebelum dan sesudah penyuluhn dengan media booklet. Kata Kunci : Booklet, Asupan mineral, Asupan Vitamin C, Tomas
“Nutridi”: Modifikasi timbangan pangan digital sebagai alat pendukung pembelajaran gizi Dina Fadhilah; Diana Andriyani Pratamawati; Aprilia Alua
Health Educational Laboratory Vol. 1 No. 2
Publisher : Poltekkes Kemenkes Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29238/helab.v1i2.2166

Abstract

Misestimating portion sizes of food consumed will affect the quality of the estimate and result in inaccurate nutrient intake. Conventional digital food scales only measure body weight without listing nutritional values, thus limiting their usefulness in health education and promotion. This study aims to develop and test Nutridi, a modified digital food scale equipped with nutritional reference values, as a tool to support nutrition education. Research Methods This research is a quantitative study with a research and development (R&D) design at Poltekkes Kemenkes Yogyakarta between April and October 2022. The object of this study is the Nutridi digital scale, developed by integrating food composition data into the digital weighing system. Data processing using the Stata application began with a normality test using the Kolmogorov-Smirnov test and then a paired t-test. The results of weighing 62 food ingredients showed that the Nutridi digital scale was proven to be precise (CV 0%) and accurate equivalent to the Camry digital scale (mean difference ?1 g), The normality test on the distribution of differences between the Nutridi digital scale and the Camry digital scale (pooled, n = 186) with Kolmogorov–Smirnov showed deviations from the normal distribution (mean diff 0.0430 g; SD 0.2034 g; D = 0.5407; p <0.001), which was likely influenced by the large number of identical difference values ??(ties; e.g. 0 g or ±1 g) due to the limited resolution of the measuring instrument. However, the paired t-test per ingredient showed that for ingredients with measurement variations, there was no significant difference between the two scales (p>0.05), while for ingredients with all identical replicates between tools, the t-statistic was not calculated because the variance was zero which practically indicated that the results of both tools were exactly the same. In conclusion, the Nutridi digital scale has good precision and accuracy and is suitable for use as a learning tool in food weighing practicums at the Nutrition Department of the Ministry of Health's Polytechnic of Health, as well as for household use. Further research is needed to validate its accuracy, improve its usability, and expand its food database for broader applications.