Claim Missing Document
Check
Articles

Found 29 Documents
Search

Perubahan Profil Farmakokinetika Ibuprofen yang Diberikan dengan Kombinasi Vitamin C pada Tikus Putih (Rattus Norvegicus L.) Sattrio Desrianto Prabowo; Arsyik Ibrahim; Riski Sulistiarini
Journal of Tropical Pharmacy and Chemistry Vol. 3 No. 3 (2016): J. Trop. Pharm. Chem.
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Mulawarman, Samarinda, Indonesia, 75117, Gedung Administrasi Fakultas Farmasi Jl. Penajam, Kampus UNMUL Gunung Kelua, Samarinda, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25026/jtpc.v3i3.103

Abstract

Ibuprofen is one of the NSAID (NonSteroid Anti Inflamation Drug) drugs that has been widely used as antipyretic agent, analgesic dan anti-inflamation. Vitamin C is an important nutrient for the body and has been widely used to maintain health. Earlier study indicate patterns of interaction between vitamin C and NSAID drugs. The aims of this research were to study the influence of vitamin C to the pharmacokinetics profile of ibuprofen. The study was conducted using 9 rats rats, divided into 3 groups (n=3 per group). Each group was treated the following treatment : control ibuprofen (ibuprofen 7.2 mg/200 gBW), dose 1 group (ibuprofen 7,2 mg/200 gBW, and vitamin C 4,5 mg/200 gBW), and dose 2 group (ibuprofen 7,2 mg/200 gBW and vitamin C 9 mg/200 gBW). Blood sampling is done from the vein of rat’s tail at minutes 15, 30, 45, 60, 75, 90, 120, 180, 240, 300 and 360. The quantitation of ibuprofen in plasma was determined by UV spectrophotometer at maximum wavelength. Result showed that vitamin C changed the absorption of ibuprofen by prolonged the maximum plasma concentration time, reduce maximum levels of ibuprofen and vitamin C also changed the elimination of ibuprofen by prolonged the elimination time. Keywords: Ibuprofen, Vitamin C, Pharmacokinetics ABSTRAK Ibuprofen merupakan salah satu obat golongan NSAID (Non Steroid Anti-Inflamation Drug) yang secara luas digunakan oleh masyarakat sebagai antipiretik, analgesik, dan anti-inflamasi. Vitamin C merupakan nutrisi penting bagi tubuh yang dikonsumsi secara luas oleh masyarakat untuk menjaga kesehatan. Penelitian awal menunjukkan bahwa terdapat pola akan kemungkinan teradinya interaksi antara vitamin C dengan obat golongan NSAID. Tujuan penelitian ini adalah mempelajari pengaruh vitamin C terhadap profil farmakokinetika ibuprofen. Uji dilakukan dengan membagi 9 ekor tikus dalam 3 kelompok (tiap kelompok 3 ekor). Tiap kelompok diberi perlakuan sebagai berikut: kontrol ibuprofen (ibuprofen 7,2 mg/200 gBB), dosis 1 (ibuprofen 7,2 mg/200 gBB dan vitamin C 4,5 mg/200 gBB), dan dosis 2 (ibuprofen 7,2 mg/200 gBB dan vitamin C 9 mg/200 gBB). Pengambilan cuplikan darah dilakukan dari vena ekor tikus pada menit ke- 15, 30, 45, 60, 75, 90, 120, 180, 240, 300 dan 360. Kadar ibuprofen dalam plasma diukur menggunakan spektrofotometer UV - Vis pada panjang gelombang maksimum. Hasil penelitian menunjukkan bahwa vitamin C dapat mempengaruhi absorpsi ibuprofen dengan memperpanjang waktu konsentrasi plasma mencapai maksimum, menurunkan kadar maksimum ibuprofen dalam darah, dan vitamin C juga mempengaruhi eliminasi ibuprofen dengan memperpanjang waktu eliminasi ibuprofen Kata Kunci: Ibuprofen, Vitamin C, Farmakokinetik
Aktivitas Antidotum Air Kelapa Hijau (Cocos nucifera L.) terhadap Keracunan Sianida pada Mencit (Mus musculus L.) Astri Sulistia; Riski Sulistiarini; Muhammad Amir Masruhim
Journal of Tropical Pharmacy and Chemistry Vol. 3 No. 3 (2016): J. Trop. Pharm. Chem.
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Mulawarman, Samarinda, Indonesia, 75117, Gedung Administrasi Fakultas Farmasi Jl. Penajam, Kampus UNMUL Gunung Kelua, Samarinda, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25026/jtpc.v3i3.106

Abstract

Cyanide is a toxic compound that can interfere with health and reduce the nutrients bioavailability in the body. These toxins inhibit the body cells to get oxygen so that the most affected are the heart and brain. The aim of this study was to know the effect of green coconut water (Cocos nucifera L.) as an antidote to cyanide poisoning in mice (Mus musculus L.). The method was in vivo antidote activity using potassium cyanide-induced toxic mice. The mice were divided into 3 groups, i.e. negative control, positive control and test group with green coconut water giving 100% concentration. Each group consisted of 5 mice. Observations of toxic symptoms after the induction of potassium cyanide performed in initial times and and the results are analyzed visually by comparing graphs based on each group of tests during 24 hours of observation. The results showed that the green coconut water with 100% concentration that given in mice showed the influence of the reduction in toxic symptoms such as abnormal posture. Recovery of toxic effect in the test group by giving green coconut water was no better than the positive control group by giving sodium nitrite and sodium thiosulfate. Keywords: Green coconut water (Cocos nucifera L.), Antidotum, Toxin, Potassium cyanide, Sodium nitrite, Sodium tiosulphate ABSTRAK Sianida merupakan senyawa beracun yang dapat mengganggu kesehatan serta mengurangi bioavailabilitas nutrien di dalam tubuh. Racun ini menghambat sel tubuh mendapatkan oksigen sehingga yang paling terkena dampaknya adalah organ jantung dan otak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian air kelapa hijau (Cocos nucifera L.) sebagai antidotum terhadap keracunan sianida pada mencit (Mus musculus L.). Metode yang digunakan adalah metode secara in vivo dengan menggunakan hewan uji mencit yang diinduksi kalium sianida. Mencit dibagi ke dalam 3 kelompok, yaitu kelompok kontrol negatif, kontrol positif dan kelompok uji dengan pemberian air kelapa hijau konsentrasi 100%. Setiap kelompok terdiri dari 5 ekor mencit. Pengamatan gejala toksik yang muncul setelah induksi kalium sianida dilakukan pada menit tertentu dan hasil yang didapat dianalisis secara visual berdasarkan berdasarkan grafik perbandingan pada masing-masing kelompok pengujian selama 24 jam pengamatan. Hasil menunjukkan bahwa air kelapa hijau dengan konsentrasi 100% yang diberikan pada mencit menunjukkan adanya pengaruh terhadap penurunan gejala toksik berupa sikap tubuh yang tidak normal. Efek pemulihan pada kelompok uji dengan pemberian air kelapa hijau tidak lebih baik dari kelompok kontrol positif dengan pemberian natrium nitrit dan natrium tiosulfat. Kata kunci: Air kelapa hijau (Cocos nucifera L.), Antidotum, Racun, Sianida, Natrium nitrit, Natrium tiosulfat
Observasi Klinik Ekstrak Air Umbi Segar Bawang Dayak (Eleutherine palmifolia L. Merr) Sebagai Obat Kista Ovarium Adam M. Ramadhan; Riski Sulistiarini; Laode Rijai; Emil Bahtiar
Journal of Tropical Pharmacy and Chemistry Vol. 3 No. 4 (2016): J. Trop. Pharm. Chem.
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Mulawarman, Samarinda, Indonesia, 75117, Gedung Administrasi Fakultas Farmasi Jl. Penajam, Kampus UNMUL Gunung Kelua, Samarinda, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25026/jtpc.v3i4.122

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memastikan secara observasi klinik tentang kemampuan ekstrak air umbi segar bawang dayak menghilangkan benjolan pada rahim (kista) ovarium dan memastikan waktu yang diperlukan atau lama pemberian ekstrak tersebut yang dapat menghilangkan benjolan atau kista rahim wanita. Kegiatan yang dilakukan adalah membuat sediaan teh herbal dari umbi segar bawang dayak. Dosis yang digunakan dalam teh herbal sebesar 8,4 gram/hari. Setiap partisipan mengkonsumsi teh herbal sebanyak 2 kali sehari selama 7 hari dilanjutkan mengkonsumsi selama 14 hari. Kemudian dilakukan pemeriksaan USG untuk melihat ukuran kista ovarium baik sebelum mengkonsumsi maupun setelah mengkonsumsi teh herbal. Hasil penelitian observasi klinik umbi segar bawang dayak menunjukkan bahwa teh herbal memberikan perubahan ukuran kista ovarium terhadap masing-masing responden. Pemakaian teh herbal dalam observasi penelitian ini sebesar 4,2 gram dengan aturan minum 2 kali sehari (8,4 gram/sehari) dan terjadi perubahan ukuran kista ovarium yang dikonsumsi selama 7-14 hari. Kata kunci : Bawang Dayak, Teh Herbal, Kista Ovarium ABSTRACT This study aimed to ascertain clinical observations about the ability of the water extract of fresh garlic bulbs dayak eliminate lumps in the uterus (cysts) ovarian and ensure the necessary time or duration of administration of the extract to remove the lump or cyst woman's uterus. The activities are making herbal tea preparation of fresh garlic bulbs dayak. Doses used in herbal teas of 8.4 grams / day. Each participant consumed herbal tea 2 times a day for 7 days continued to consume for 14 days. Then do an ultrasound to see the size of ovarian cysts before consuming or after consuming a herbal tea. The results of the study of fresh garlic bulbs clinical observations show that the herbal tea dayak give change ovarian cyst size of each respondent. Use of herbal tea in the observation of this study was 4.2 grams with the rules of drinking 2 times daily (8.4 grams / day) and change the size of ovarian cysts are consumed during the 7 days and continued for 14 days. Keywords: Onion Dayak, Herbal Tea, Ovarian Cysts
Pharmacological Activities of Three Kinds “Kayu kuning”: Arcangelisia flava, Fibraurea tinctoria, and Coscinium fenestratum – an Short Review Riski Sulistiarini; Andreanus A Soemardji; Elfahmi; Maria Immaculata Iwo
Journal of Tropical Pharmacy and Chemistry Vol. 5 No. 2 (2020): J. Trop. Pharm. Chem.
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Mulawarman, Samarinda, Indonesia, 75117, Gedung Administrasi Fakultas Farmasi Jl. Penajam, Kampus UNMUL Gunung Kelua, Samarinda, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The literature-based review was constructed discussing three types of yellow woods plant from Indonesia, including Arcangelisia flava, Fibraurea tinctoria, and Coscinium fenestratum. Yellow wood plants are widely used as traditional medicine due to its activities that were pharmacologically studied. Those activities include antiplasmodial, cytotoxic, antioxidant, toxicity, antidiabetic, anticolestroleia, antihypertensive to liver activity, and health-behavior changes in experimental animals.
Identification and Determination of Berberine from Arcangelisia Flava, East Borneo Riski Sulistiarini
Journal of Tropical Pharmacy and Chemistry Vol. 5 No. 4 (2021): J. Trop. Pharm. Chem.
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Mulawarman, Samarinda, Indonesia, 75117, Gedung Administrasi Fakultas Farmasi Jl. Penajam, Kampus UNMUL Gunung Kelua, Samarinda, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25026/jtpc.v5i4.372

Abstract

Berberine is a compound that has various benefits but also has dangerous toxic effects. In Indonesia, the Regulation of the Head of the Food and Drug Supervisory Agency No. 10 of 2014 concerning the Prohibition of Producing and Circulating Traditional Medicines and Health Supplements Containing Coptis Sp, Berberis Sp, Mahonia Sp, Chelidonium Majus, Phellodendron Sp, Arcangelica Flava, Tinosporae Radix, and Catharanthus Roseus. Regulation No. 7 of 2018 (BPOM, 2018) also prohibits the presence of berberine in processed food. This research was conducted to determine the content of berberine compounds from the extract and stem fraction of Arcangelisia flava. The research was conducted by identifying the content of berberine by TLC method compared with Rf Berberine sulfate and determination of berberine content by HPLC method (High-Performance Liquid Chromatography) using column C-18 (ODS). Berberine content of methanol extract, n-hexane fraction, ethyl acetate fraction and Arcangelisia Flava methanol-water fraction were 0.0040, respectively; 0.0010; 0.0041, 0.0044%.
Imunomodulator Activity of Three Types “Kayu Kuning” Borneo Dwi Hadi Setya Palupi; Riski Sulistiarini; Vita Olivia Siregar
Journal of Tropical Pharmacy and Chemistry Vol. 6 No. 1 (2022): J. Trop. Pharm. Chem.
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Mulawarman, Samarinda, Indonesia, 75117, Gedung Administrasi Fakultas Farmasi Jl. Penajam, Kampus UNMUL Gunung Kelua, Samarinda, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25026/jtpc.v6i1.375

Abstract

The immune system is a system that plays a role in maintaining the integrity of the body against the dangers that various foreign objects can cause. Immunomodulators are substances or substances that can change/modify the immune system. Empirically, Kayu Kuning or Yellow Wood is used as a cleaner for post-partum conditions. Yellow wood in East Kalimantan is the name for three species, namely Arcangelisia Flava, Fibraurea tinctoria, and Coscinium fensteratum. With the approach of improving the immune system and metabolism, immunomodulatory tests carried out on three types of yellow wood found in Borneo Island. The immunomodulatory activity of Yellow wood steam extract in the non-specific immune response test used phagocytic index and organ index parameters where BALB/c female mice were randomly divided into 16 treatment groups which included a normal group, an immunostimulant comparison group (Levamisole 2.5 mg/kg body weight), an immunosuppressant comparison group (Methylprednisolone 40mg/kg BW), a test extract group with a dose of 100 mg/kg body weight, for the ethanolic extracts of A. Flava, F. tinctoria and C. fenestratum, respectively. Based on the study results, it means that the methanol extract of A. Flava methanol extract had immunostimulating activity, while the methanol extract of F. tinctoria and C. fenestratum showed an immunosuppressant effect
Pengaruh Penambahan Ekstrak Daun Kemangi (Ocimum basilicum L.) Terhadap Aktivitas Antibakteri Basis Pasta Gigi Dewi Nurmashita; Laode Rijai; Riski Sulistiarini
Jurnal Sains dan Kesehatan Vol. 1 No. 4 (2015): J. Sains Kes.
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Mulawarman, Samarinda, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25026/jsk.v1i4.34

Abstract

Pencegahan terjadinya masalah kesehatan gigi dan mulut sangat diperlukan. Menyikat gigi merupakan metode yang efektif untuk menanggulangi masalah tersebut. Penambahan herbal pada pasta gigi diharapkan dapat mencegah terjadinya masalah kesehatan gigi dan mulut karena memiliki kemampuan menghambat pertumbuhanmikroba. Daun kemangi (Ocimum basilicum L.) memiliki aktivitas antibakteri yang baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh aktivitas antibakteri basis pasta gigi dengan penambahan ekstrak daun kemangi dalam menghambat pertumbuhan mikroba. Daun kemangi diekstraksi dengan menggunakan etanol 96%. Ekstrak daun kemangi diuji antibakterinya terhadap bakteri Sterptococcus mutans dengan menggunakan variasi konsentrasi yaitu 25, 50, 100, 150, dan 200 mg/mL. Basis pasta gigi dibuat dengan memvariasikan konsentrasi kalsium karbonat (abrasif) 37% (F1), 42% (F2) dan 47% (F3). Basis pasta gigi yang telah dibuat ditambahkan dengan variasi konsentrasi ekstraiuk daun kemangi yaitu 25, 50 dan 100 mg/mL pada setiap formula. Semua formula diuji aktivitas antibakterinya terhadap bakeri Streptococcus mutans. Hasil penelitian menunjukkan diameter zona bening paling baik pada ekstrak adalah pada konsentrasi 15 mg/mL (6,247 mm), pada basis pasta gigi adalah formula 1 (F1) (11,386 mm).Dan pada sediaan pasta gigi adalah pada formula 1 (F1) dengan zona penghambatan sebesar 4,103 mm.
Optimasi Formula Nanoemulgel Ekstrak Daun Pidada Merah (Sonneratia Caseolaris L) Dengan Variasi Gelling Agent Hajrah Hajrah; Lisna Meylina; Riski Sulistiarini; Lia Puspitasari; Awal Prichatin Kusumo
Jurnal Sains dan Kesehatan Vol. 1 No. 7 (2017): J. Sains Kes.
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Mulawarman, Samarinda, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25026/jsk.v1i7.52

Abstract

Sediaan gel yang baik dapat diperoleh dengan cara memformulasikan beberapa jenis bahan pembentuk gel, namun yang paling penting untuk diperhatikan adalah pemilihan gelling agent. HPMC (Hidroxy Propyl Methyl Cellulose), Karbopol 960 dan Viskolam MAC 10 merupakan gelling agent yang sering digunakan dalam produksi kosmetik dan obat, karena dapat menghasilkan gel yang bening, mudah larut dalam air, dan mempunyai ketoksikan yang rendah. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gelling agent yang sesuai sebagai pembawa nanoemulgel ekstrak daun pidada merah yang memiliki kestabilan fisika yang sesuai dengan persyaratan yang telah ditetapkan. Formulasi nanoemulgel dibuat dengan variasi gelling agent yang digunakan selanjutnya dilakukan evaluasi sifat fisika yang meliputi uji organoleptis, homogenitas, daya sebar, pH, dan viskositas. Evaluasi basis gel terpilih dilakukan selama 30 hari. Hasil yang diperoleh dari uji stabilitas menunjukan basis gel dengan viskolam MAC 10 memiliki standar yang baik untuk viskositas, pH, daya sebar, homogenitas dan organoleptis.
Laporan Kasus: Pengobatan pada Melena et causa NSAID Ulkus peptikum pada Pasien Anemia dan Nefrolitiasis dengan CKD: Case Report: Treatment of Melena et causa NSAIDs Peptic Ulcers in Patients with Anemia and CKD Nephrolithiasis Riski Sulistiarini; Hajrah Hajrah; Muhammad Ardan; Reny Anggraini; Adam M. Ramadhan
Jurnal Sains dan Kesehatan Vol. 4 No. SE-1 (2022): Spesial Edition J. Sains Kes.
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Mulawarman, Samarinda, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25026/jsk.v4iSE-1.1682

Abstract

Melena atau berak darah adalah kondisi umum yang terjadi pada pasien dengan ulkus peptikum. Kami melaporkan kasus pasien yang mengalami melena et causa NSAID ulkus peptikum dengan riwayat hipertensi dan gagal ginjal dengan komplikasi anemia, nefrolitiasis serta CKD saat masuk rumah sakit.