Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search

Analisis Merkuri (Hg) dalam Ikan Air Tawar di Pasar Depok dengan Metode Inductively Coupled Plasma Optical Emission Spectrometry (ICP-OES) Lia Puspitasari; Herdini Herdini; Syifa Fauziah
SAINSTECH FARMA Vol 11 No 2 (2018): Sainstech Farma Jurnal Ilmu Kefarmasian
Publisher : FAKULTAS FARMASI, INSTITUT SAINS DAN TEKNOLOGI NASIONAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (735.763 KB) | DOI: 10.37277/sfj.v11i2.388

Abstract

Merkuri merupakan logam berat yang dapat memberikan efek toksik pada tubuh hingga dapat menyebabkan kematian. Kontaminasi logam merkuri pada pangan diatur dalam SNI 2009 terkait Batas Maksimum Logam Berat. Beberapa pembuangan limbah logam berakhir pada perairan sungai, danau, atau laut sehingga dapat terjadi pencemaran logam terhadap ekosistemnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kadar cemaran merkuri dalam ikan air tawar antara lain, lele, mas, patin, dan nila merah. Penyiapan sampel dilakukan dengan metode destruksi basah dengan alat microwave digesti. Analisis merkuri dilakukan dengan metode ICP-OES (Inductively Coupled Plasma Optical Emission Spectromerty). Panjang gelombang yang digunakan yaitu pada 184,950nm. Hasil validasi metode analisis menunjukkan bahwa metode yang digunakan dalam penelitian ini memenuhi persyaratan linearitas (0,9988), LOD (0,0861µg/g), LOQ (0,1757µg/g), presisi (%KV) 9,29%, dan akurasi (100,88). Uji kualitatif dilakukan untuk mengetahui ada atau tidaknya merkuri dalam sampel dan hasil menunjukkan bahwa dari keempat sampel yang diuji tiga sampel tidak mengandung merkuri hanya ikan nila merah yang positif mengandung merkuri. Kandungan merkuri rata-rata dalam sampel ikan air tawar : nila merah 0,03µg/g.
Identifikasi Golongan Metabolit Sekunder dan Aktivitas Antioksidan Eksstrak Daun Brotowali (Tinospora tuberculata Beumee) Lia Puspitasari; Laode Rijai; Herman Herman
SAINSTECH FARMA Vol 11 No 1 (2018): Sainstech Farma Jurnal Ilmu Kefarmasian
Publisher : FAKULTAS FARMASI, INSTITUT SAINS DAN TEKNOLOGI NASIONAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (363.894 KB) | DOI: 10.37277/sfj.v11i1.407

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui golongan metabolit sekunder, aktivitas antioksidan, nilai IC50, ekstrak yang memiliki aktivitas terbaik sebagai antioksidan, serta mengetahui potensi antioksidan daun brotowali (Tinospora tuberculata Beumee) yang dibandingkan dengan kontrol positif (vitamin C). Penelitian ini menggunakan metode peredaman radikal bebas 1,1-diphenyl-2-picrylhidrazyl (DPPH), yang diujikan pada ekstrak kasar metanol (konsentrasi 50, 150, dan 250 ppm), ekstrak fraksi n-heksana (konsentrasi 300, 500, dan 700 ppm), dan ekstrak fraksi etil asetat (konsentrasi 100, 200, dan 300 ppm) daun brotowali (Tinospora tuberculata Beumee), serta kontrol negatif (pelarut metanol), dan kontrol positif (vitamin C). Hasil identifikasi golongan metabolit sekunder pada ekstrak kasar metanol dan ekstrak fraksi etil asetat yaitu alkaloid, karotenoid, fenol, tanin, steroid dan triterpenoid. Sementara pada ekstrak fraksi n-heksana yaitu alkaloid, karotenoid, steroid dan triterpenoid. Nilai IC50 masing-masing sampel antara lain: ekstrak kasar metanol 184,76 ppm; ekstrak fraksi n-heksana 1173,40 ppm; ekstrak fraksi etil asetat 910,60 ppm. Hasil pengujian aktivitas antioksidan diketahui bahwa ekstrak yang memiliki aktivitas antioksidan terbaik adalah ekstrak kasar metanol pada konsentrasi 250 ppm. Pada pengujian potensi diperoleh kesimpulan bahwa potensi antioksidan ekstrak kasar metanol daun brotowali tidak berbeda nyata dengan vitamin C.
Analisis Merkuri pada Krim Pemutih Wajah yang diperoleh via Online dengan Metode ICP-OES (Inductively Coupled Plasma Optical Emission Spectrometry) Herdini Herdini; Lia Puspitasari; Rizky Andini
SAINSTECH FARMA Vol 12 No 1 (2019): Sainstech Farma Jurnal Ilmu Kefarmasian
Publisher : FAKULTAS FARMASI, INSTITUT SAINS DAN TEKNOLOGI NASIONAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (691.082 KB) | DOI: 10.37277/sfj.v12i1.412

Abstract

Krim pemutih wajah merupakan krim pemutih kulit yang banyak dijual melalui internet. Penambahan merkuri ke dalam krim pemutih wajah dimanfaatkan produsen untuk mengambil keuntungan dengan hasil yang cepat dan praktis. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis merkuri dalam krim pemutih wajah yang diperoleh melalui internet. Bahan uji yang dianalisis terdiri atas 2 merek (merek A dan B) yang masing-masing terdiri atas krim siang dan krim malam, dengan jumlah total bahan uji adalah 4 (A1, A2, B1, dan B2). Sebelum proses penyiapan bahan uji, dilakukan pemeriksaan uji organoleptis dan pengukuran pH. Penyiapan bahan uji menggunakan metode destruksi basah dengan alat microwave digesser. Analisis merkuri dilakukan dengan metode ICP-OES (Inductively Coupled Plasma Optical Emission Spectrometry). Hasil pengukuran pH menunjukkan bahwa keempat bahan uji tidak memenuhi syarat. pH bahan uji A1 = 8,28; A2 =.8,33; B1 = 8,30; dan B2 = 8,15. Hasil validasi metode menunjukkan nilai linearitas r = 0,999; nilai LOD dan LOQ adalah 0,0867 μg/L dan 0,289 μg/L; nilai KV (Koefisien Variasi) yaitu 2,15%; dan nilai persen perolehan kembali rata-rata adalah 91,04%. Hasil uji kualitatif menunjukkan bahwa keempat bahan uji positif mengandung merkuri. Kandungan merkuri rata-rata secara berturut-turut adalah 2563,838 μg/g; 640,55 μg/g; 2518,51 μg/g; dan 6,40 μg/g.
Karakterisasi Senyawa Kimia Daun Mint (Mentha sp.) dengan Metode FTIR dan Kemometrik Lia Puspitasari; Suci Mareta; Amlius Thalib
SAINSTECH FARMA Vol 14 No 1 (2021): Sainstech Farma: Jurnal Ilmu Kefarmasian
Publisher : FAKULTAS FARMASI, INSTITUT SAINS DAN TEKNOLOGI NASIONAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37277/sfj.v14i1.931

Abstract

Tanaman mint (Mentha sp.) merupakan salah satu tanaman yang banyak dimanfaatkan, baik untuk bahan baku farmasi, maupun untuk makanan, minuman, flavour agent, dan kosmetika. Tanaman mint merupakan salah satu genus dalam familia Lamiaceae yang memiliki lebih kurang 30 spesies. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui karakterisasi tanaman mint dari berbagai spesies yang berbeda menggunakan metode spektroskopi Fourier Transform Infra Red (FTIR). Hal ini bermanfaat dalam pengendalian kualitas bahan alam dalam hal identifikasi. Hasil spektrum FTIR dianalisis dengan metode Principal Component Analysis (PCA) untuk mengetahui pola fingerprint pada spesies yang berbeda. Spektrum FTIR pada bilangan gelombang 4000-400 cm-1 yang dianalisis menggunakan PCA menunjukkan bahwa ada perbedaan spesies dan pelarut dengan nilai total varian sebesar 99% (PC-1=93% dan PC-2=6%). Segmentasi spektrum FTIR pada bilangan gelombang 1500-1400 cm-1 dilakukan untuk memperoleh hasil yang lebih baik pada pengelompokkan jenis tanaman. Berdasarkan hasil segmentasi diperoleh hasil plot PCA dengan nilai total varian sebesar 100% (PC-1=100% dan PC-2=0%). Dapat disimpulkan bahwa analisis kemometrik dengan metode PCA dapat dengan jelas mengidentifikasi perbedaan antara absorbansi gugus ikatan senyawa tanaman mint A, B, dan C.
Aktivitas Antiinflamasi Keladi Belau (Caladium bicolor (W. Ait) Vent.) Terhadap Enzim Siklooksigenase (COX) Secara In Vitro Nisa Naspiah; Yoppi Iskandar; Moelyono M W Moelyono M W; Febrina Mahmudah; Lia Puspitasari
Proceeding of Mulawarman Pharmaceuticals Conferences Vol. 3 (2016): Spesial Issue of Mulawarman Pharmaceuticals Conference Proceeding (Prosiding Semnas T
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Mulawarman, Samarinda, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (352.965 KB) | DOI: 10.25026/mpc.v3i2.129

Abstract

Penelitian mengenai aktivitas antiinflamasi keladi belau (Caladium bicolor (W. Ait) Vent.) terhadap enzim siklooksigenase (COX) secara in vitro telah dilakukan. Aktivitas antiinflamasi secara in vitro terhadap enzim COX ditentukan dengan menggunakan metode TMPD (N,N,N’,N’-tetrametil-p-fenilendiamin) secara spektrofotometri. Enzim COX yang diuji meliputi enzim COX-1 dan COX-2. Berdasarkan hasil pengujian diketahui ekstrak batang keladi belau mempunyai aktivitas antiinflamasi dengan nilai IC50 sebesar 250,66 ppm terhadap COX-1 dan 255,27 ppm terhadap COX-2. Hasil pengujian menunjukkan bahwa ekstrak tersebut lebih banyak menghambat enzim COX-1.
Analisis Kandungan Logam Timbal (Pb), Besi (Fe) Dan Magnesium (Mg) Pada Pakan Ayam Ras Petelur Dengan Metode Spektrofotometri Serapan Atom (SSA) Sholikha, Munawarohthus; Natasya, Fauziah Cinta; Puspitasari, Lia
Sainstech Farma: Jurnal Ilmu Kefarmasian Vol 14 No 2 (2021): Sainstech Farma: Jurnal Ilmu Kefarmasian
Publisher : LPPM, INSTITUT SAINS DAN TEKNOLOGI NASIONAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37277/sfj.v14i2.1014

Abstract

Pakan dibutuhkan oleh ayam ras petelur, namun dalam pakan tersebut dapat mengandung unsur logam seperti timbal, besi, magnesium, dan lain–lain. Hal ini akan berpengaruh terhadap produk ternak yang dihasilkan dari ayam tersebut. Jika unsur–unsur logam tidak terkontrol akan memberikan efek negatif untuk manusia yang mengonsumsi telur tersebut seperti kanker dan penyakit lainnya. Untuk mengetahui unsur–unsur logam yang terdapat di dalam pakan, dilakukan pengujian dengan metode Spektrofotometri Serapan Atom (SSA). Sampel uji diperoleh dari dua distributor berbeda yaitu sampel A dan sampel B yang terletak di daerah Jakarta. Dari pengujian tersebut didapatkan hasil, logam Pb (sampel A = 0,0276 mg/kg dan sampel B = Tidak Terdeteksi), logam Fe (sampel A = 134,79 mg/kg dan sampel B = 117,9 mg/kg), logam Mg (sampel A = 413,6 mg/kg dan sampel B = 363,7 mg/kg). Hasil dari pengujian menunjukkan bahwa pakan tersebut mengandung logam Pb tetapi masih di bawah nilai ambang batas, sedangkan kandungan logam Fe dan Mg nilainya berada di atas nilai ambang batas yang direkomendasikan oleh SNI 0,05 mg/kg.
Molecular Docking Senyawa Caboxamycin Pada Mycobacterium tuberculosis Polyketide Synthase 13 (Pks13) Puspitasari, Lia; Nur Aripin, Iis Sumiyati; Setyaningsih, Erwi Putri
Sainstech Farma: Jurnal Ilmu Kefarmasian Vol 15 No 2 (2022): Sainstech Farma: Jurnal Ilmu Kefarmasian
Publisher : LPPM, INSTITUT SAINS DAN TEKNOLOGI NASIONAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37277/sfj.v15i2.1265

Abstract

Senyawa caboxamycin merupakan antibiotik baru yang termasuk dalam kelompok benzoxazole yang diproduksi oleh Streptomyces sp. NTK 937 (marine strain). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui mekanisme penghambatan senyawa caboxamycin terhadap Mycobacterium tuberculosis polyketide synthase 13 (Pks13) secara in silico dengan metode molecular docking. Tahapan molecular docking dimulai dengan optimasi struktur senyawa caboxamycin dan streptomisin (kontrol positif) 3D, preparasi protein Pks13, validasi metode, serta docking senyawa caboxamycin dan streptomisin yang teroptimasi pada protein Pks13. Hasil docking protein Pks13 pada ligan standar adalah -144,0 kkal/mol, pada streptomisin adalah -101,7 kkal/mol, dan pada caboxamycin adalah -75,9 kkal/mol. Streptomisin dan caboxamycin memiliki ikatan hidrogen yang sama terhadap residu asam amino protein Pks13 yaitu ASN-1640 dan HIS-1664, sehingga caboxamycin memiliki mekanisme kerja dalam menghambat Pks13 pada M.tuberculosis secara in silico. Senyawa caboxamycin memiliki mekanisme molekuler dalam menghambat protein Pks13 yang ditunjukkan dengan adanya pembentukkan ikatan hidrogen, sehingga senyawa caboxamycin berpotensi sebagai antituberkulosis secara in silico.
Tyrosinase Enzyme Inhibition Activity Test by Ethanol Extract of Taro Leaf (Typhonium flagelliforme (Lodd.) Blume) In Vitro Sholikha, Munawarohthus; Wahyuningtyas, Wahyuningtyas; Puspitasari, Lia
Sainstech Farma: Jurnal Ilmu Kefarmasian Vol 16 No 1 (2023): Sainstech Farma: Jurnal Ilmu Kefarmasian
Publisher : LPPM, INSTITUT SAINS DAN TEKNOLOGI NASIONAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37277/sfj.v16i1.1451

Abstract

Hyperpigmentation is an event that occurs due to excessive production of skin pigment. Skin color is strongly influenced by the presence of melanin, where the presence of melanin is strongly influenced by the enzyme tyrosinase. Taro leaf (Typhonium flagelliforme (Lodd.) Blume) are one of the plants have flavonoid compounds used as antioxidants and tyrosinase inhibitors. The aim of this study was to test the ethanol extract of taro leaf as a tyrosinase inhibitor. Taro leaf in this study were obtained through an extraction process using 96% ethanol solvent by maceration method. The thick ethanol extract of taro leaf was tested for phytochemical screening, total flavonoid levels, and tyrosinase inhibition test. The method used for tyrosinase inhibition test was enzymatic method in vitro. The results of this study indicated that there was a total flavonoid compound content of 0.7378% (b/b) and the inhibitor activity can be seen from the IC50 value for the diphenolation reaction (L-DOPA substrate) which was 13.307 mg/mL. This value was greater when compared with 0.093 mg/mL of phenolic acid, so that the ethanol extract of taro leaf has the potential to inhibit tyrosinase activity.
Analisis Rhodamin B pada Lip Tint Menggunakan Metode Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT) Puspitasari, Lia; Azizah, Kholipia; Thalib, Amlius
Sainstech Farma: Jurnal Ilmu Kefarmasian Vol 16 No 1 (2023): Sainstech Farma: Jurnal Ilmu Kefarmasian
Publisher : LPPM, INSTITUT SAINS DAN TEKNOLOGI NASIONAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37277/sfj.v16i1.1495

Abstract

Rhodamine B is a dangerous colorant and is prohibited for use in various cosmetic products. The aim of this study was to analyze Rhodamine B in lip tint cosmetics, using the High Performance Liquid Chromatography (HPLC) system. Quantitative determination of Rhodamine B was carried out on 8 samples consisting of 4 BPOM registered samples and 4 non BPOM registered samples. The samples were taken at the Cakung traditional market with a randomized sampling method. The quantitative analysis of Rhodamine B by HPLC was carried out with a C18 stationary phase and a mobile phase of a mixture of acetonitrile and diammonium hydrogen phosphate (80:20); the sample injection volume was 20 µl and the eluent flow rate was 0.71 mL/minute. The results showed that Rhodamine B was not detected in the 8 lip tint samples tested.
Analisis Kadar Pemanis Buatan pada Suplemen Anak dengan Metode Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT) dan Spektrofotometri UV-Vis Puspitasari, Lia; Thalib, Amlius; Finanti, Hanif Mifta
Sainstech Farma: Jurnal Ilmu Kefarmasian Vol 16 No 2 (2023): Sainstech Farma: Jurnal Ilmu Kefarmasian
Publisher : LPPM, INSTITUT SAINS DAN TEKNOLOGI NASIONAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37277/sfj.v16i2.1569

Abstract

Sweeteners are food additives in the form of natural sweeteners and artificial sweeteners that give a sweet taste to food products. The use of sweeteners that are not in accordance with the limits set can have a negative impact on health. This study aims to determine whether the levels of artificial sweeteners in the form of saccharin and cyclamate in children's supplements have met the requirements set by BPOM according to the Decree of the Head of BPOM No. 12 of 2014 and Circular Letter No. HK.04.01.42.421.12.17.1666 of 2017 concerning Limits. Maximum Permitted Use of Artificial Sweeteners in Traditional Medicinal Products and Food Supplements. Three samples of children's supplements were taken randomly at several drug stores. The research method used for the determination of saccharin levels using HPLC and the determination of cyclamate levels using UV-VIS spectrophotometer The results of the analysis of saccharin levels are; sample (1084) = 463.02 mg/kg, sample (1085) = 363.01 mg/kg, and sample (1114) = 652.61 mg/kg. As for the levels of cyclamate obtained, sample content (1084) = 763.34 mg/kg, sample (1085) = 1279.87 mg/kg, and sample (1114) = 436.07 mg/kg. In conclusion, all samples tested for saccharin levels met the requirements for the maximum limit of 1000 mg/kg set by BPOM. Meanwhile, the sample (1085) tested for cyclamate did not meet the requirements for the maximum limit of 1250 mg/kg set by BPOM.