Claim Missing Document
Check
Articles

ANALISIS NILAI EKONOMI KAWASAN MENGGUNAKAN TRAVEL COST METHOD (TCM) DAN CONTINGENT VALUATION METHOD (CVM) UNTUK PEMBUATAN PETA ZONA NILAI EKONOMI KAWASAN DENGAN SIG (Studi Kasus : Kawasan Taman New Balekambang, Kabupaten Karanganyar) Kusmaryudi, Alan; Yuwono, Bambang Darmo; Amarrohman, Fauzi Janu
Jurnal Geodesi Undip Volume 8, Nomor 3, Tahun 2019
Publisher : Jurusan Teknik Geodesi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1072.576 KB)

Abstract

Potensi pariwisata di Indonesia yang beraneka ragam. Besarnya potensi wisata yang ada di Indonesia dapat berpengaruh dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Salah satu tempat wisata dengan keunikan isinya yang dapat dijadikan tujuan wisata adalah Taman New Balekambang. Besarnya potensi Kawasan Taman New Balekambang maka perlu dibuat Peta ZNEK untuk mengetahui nilai ekonomi kawasan berdasarkan Willingness To Pay dengan metode TCM (Travel Cost Method) dan CVM (Contingent Valuation Method) pada kawasan tersebut, dan Peta Utilitas Kawasan berdasarkan tipologi kawasan.Metode penarikan responden yang digunakan dalam penelitian ini adalah non probability sampling dengan teknik sampling insidental, yaitu responden yang ditemui secara kebetulan datang berkunjung di Kawasan Taman New Balekambang. Data yang digunakan adalah 80 responden untuk TCM dan 90 responden untuk CVM. Metode pengolahan data yang digunakan adalah analisis regresi linear menggunakan Microsoft Excel dan perhitungan menggunakan Maple 17. Serta dilakukan juga uji asumsi klasik (normalitas, heteroskedastisitas, autokorelasi, dan multikolinearitas), validitas dan reliabilitas menggunakan SPSS 23.Dalam penelitian ini, uji asumsi klasik menunjukkan semua data berdistribusi normal, tidak terjadi heteroskedastisitas, terbebas dari autokorelasi dan tidak memiliki multikolinearitas. Uji validitas dan reliabilitas menunjukan hasil valid dan reliabel pada model yang digunakan. Hasil perhitungan nilai total ekonomi diperoleh nilai guna langsung sebesar Rp. 326.848.291.120,-. Nilai keberadaan sebesar Rp. 25.312.836.650,- sehingga diperoleh nilai total ekonomi Taman New Balekambang  sebesar Rp. Rp. 352.161.127.770,-.
APLIKASI SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS PERSEBARAN JARINGAN AGEN BUS (AKAP) BERBASIS WEB (Studi Kasus : Po Bejeu (AKAP), trayek Jepara - Jakarta) Cholid, Muhamad Nurman; Yuwono, Bambang Darmo; Awaluddin, Moehammad -
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 4, Nomor 1, Tahun 2015
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (768.528 KB)

Abstract

ABSTRAKPo Bejeu merupakan penyedia jasa transportasi umum ( Bus AKAP ) dengan trayek Jepara – Jakarta. Informasi mengenai lokasi agen Po Bejeu sangat diperlukan oleh konsumen, namun saat ini informasi mengenai lokasi agen hanya sebatas data informasi non spasial berupa alamat dan nomor telepon tanpa adanya data spasial berupa posisi geografis agen Po Bejeu tersebut. Maka dari itu perlu adanya suatu sistem atau aplikasi yang menampilkan informasi data spasial dan non spasial agen Po Bejeu dalam satu sistem  yang terpadu.Dalam penelitian ini menggunakan data spasial berupa koordinat posisi tiap agen yang didapat dari hasil survey menggunakan GPS Garmin CSx60 dan data atribut berupa foto, alamat, nomor telepon, petugas agen. Pembangunan aplikasi Sistem informasi Geografis berbasis web ini dimulai dengan pengumpulan data, pengolahan data, pembuatan basis data MySQL, pembangunan tampilan web, integrasi web dengan Google Maps API dan basis data MySQL untuk menampilkan peta persebaran agen Po Bejeu.Hasil dari penelitian berupa aplikasi Sistem informasi Geografis berbasis web yang menampilkan persebaran agen Po Bejeu di 13 wilayah dan dapat diakses di alamat www.bejeu.com/agen. Pengujian terhadap aplikasi ini menggunakan dua pengujian yaitu uji program dengan hasil bahwa aplikasi ini berhasil diakses melalui web browser Google Chrome, Mozilla Firefox, Opera Mini dan Internet Explorer, dan uji usability menggunakan kuisioner dengan hasil bahwa aplikasi ini mendapatkan penilaian 75.8% untuk komponen efektivitas, 77.4% untuk komponen kemudahan dan 81.5% untuk komponen kepuasan, dengan demikian aplikasi ini efektif, mudah dan sangat memuaskan.Kata Kunci: Po Bejeu, Agen, Web-GIS, Aplikasi ABSTRACTPo Bejeu is a provider of public transportation services (bus AKAP) with Jepara - Jakarta route. Information about the location of Po Bejeu agent is required by the consumer, but the current information on the location of the agent was limited to non-spatial information data such as addresses and phone numbers without spatial data such as the geographical position of the Po Bejeu agents. Thus the need for a system or application that displays information spatial data and non spatial agent Po Bejeu in one integrated system.In this study the use of spatial data (coordinates of the position of each agent) obtained from a survey using GPS Garmin CSx60 and attribute data (photographs, addresses, phone numbers, agency officials). Geographic information system application development starts with a web-based data collection, data processing, the manufacture of the MySQL database, web interface development, web integration with the Google Maps API and the MySQL database to display a map of the distribution agent PO Bejeu.The results of the study is an application of web-based Geographic Information System which displays the distribution of agents Po Bejeu in 13 regions and can be accessed at www.bejeu.com/agen. Testing of these applications using two kinds of testing metode. The first is a test program with the result that the application is successfully accessed via a web browser Google Chrome, Mozilla Firefox, Opera Mini and Internet Explorer, and the second usability testing using a questionnaire with the result that the application is getting 75.8 % for the assessment component of effectiveness, 77.4 % to 81.5 % of components for ease and satisfaction component, thus the application of effective, easy and very satisfying. Keywords : Po  Bejeu, Agent, Web-GIS, Application
Analisis Distribusi Klorofil A Dengan Pengaruhnya Terhadap Hasil Perikanan Menggunakan Metode Penginderaan Jauh ( Studi Kasus Pesisir Pantai Pesawaran Lampung ) ., Henndry; Suprayogi, Andri; Yuwono, Bambang Darmo
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 3, Nomor 1, Tahun 2014
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (860.197 KB)

Abstract

Indonesia memiliki bermacam-macam kekayaan alam yang melimpah, diantaranya adalah kekayaan sumber daya ikan baik di laut, sungai, maupun danau. Kabupaten Pesawaran adalah salah satu kabupaten di Provinsi Lampung, Indonesia. Kabupaten Pesawaran merupakan daratan dengan ketinggian yang bervariasi. Umumnya nelayan yang ada di perairan selatan Kabupaten Pesawaran  masih cenderung menggunakan intuisi yang didapat secara turun temurun untuk menentukan daerah penangkapan ikan. Nelayan seringkali pulang membawa hasil tangkapan yang sedikit bahkan terkadang kosong. Hal ini berpengaruh terhadap tingkat kesejahteraan mereka. Kelemahan tersebut pada prinsipnya telah menjadi perhatian para ahli, terutama untuk memaksimalkan upaya penangkapan di negara berkembang (Mustapha et al., 2010).Penelitian ini bersifat analisis deskriptif yaitu menjelaskan tentang persebaran klorofil A di wilayah pesisir pantai Kabupaten Pesawaran dan melakukan perbandingan dengan data statistik perikanan di daerah tersebut dalam kurun waktu tiga tahun pengamatan menggunakan citra Aqua-Modis tahun 2011, 2012 dan 2013. Hasil yang di dapat dari penelitian ini adalah perubahan klorofil dari tahun 2011 hingga tahun 2013 memiliki suatu pola yaitu selalu mengikuti perubahan musim yang terjadi di Indonesia seperti adanya musim kemarau dan musim penghujan. Pada musim kemarau yang terjadi antara januari 2011 dan juni 2011, jumlah klorofil dalam bentuk luasan  berjumlah 6.318,620 km2 Sedangkan pada musim penghujan yang terjadi pada bulan juli 2011 hingga desember 2011 berjumlah 12.725,120 km2Kata kunci: Klorofil, Perikanan, Aqua-Modis, Penginderaan Jauh
APLIKASI PERSEBARAN ALUMNI TEKNIK GEODESI UNIVERSITAS DIPONEGORO BERBASIS WEBGIS Anarullah, Rizqie; Yuwono, Bambang Darmo; Nugraha, arief Laila
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1082.38 KB)

Abstract

ABSTRAKProgram Studi Teknik Geodesi Universitas Diponegoro yang berdiri sejak tahun 2005 telah menghasilkan alumni yang memiliki kemampuan dalam bidang survei dan pemetaan. Alumni tersebut tersebar di seluruh wilayah Indonesia dan bekerja di berbagai instansi pemerintah maupun swasta. Untuk menunjang sistem pendataan alumni Teknik Geodesi Universitas Diponegoro maka dibutuhkan sebuah aplikasi yang dapat mempermudah dalam mendata dan mengetahui persebaran alumni tersebut. Sehingga dapat memberikan informasi tentang lowongan pekerjaan dengan cara berinteraksi secara langsung antar alumni.Aplikasi Persebaran Alumni Teknik Geodesi Universitas Diponegoro (selanjutnya akan disebut PATG) diharapkan dapat mencakup semua kebutuhan tersebut. Dalam pembangunan aplikasi ini dimulai dengan studi literatur dimana mempelajari penelitian dengan kajian yang sama, kemudian mengumpulkan data atribut dari alumni, mengolah data, pembuatan basis data MySQL untuk menampilkan peta persebaran alumni.  Hasil dari penelitian berupa aplikasi persebaran alumni Teknik Geodesi Universitas Diponegoro berbasis webGIS yang menampilkan persebaran alumni Teknik Geodesi yang tersebar di seluruh wilayah. Pengujian aplikasi ini menggunakan dua pengujian yaitu uji program dengan hasil bahwa aplikasi ini berhasil diakses dengan web browser Google Chrome, Mozilla Firefox, dan Internet Explorer. Berikutnya adalah uji usability menggunakan kuisioner dengan hasil bahwa aplikasi ini mendapat penilaian 77,2%  untuk keefektifan, 78,25%  untuk kemudahan, dan 76,5% untuk kepuasan. Dengan demikian aplikasi ini dikategorikan aplikasi yang efektif, mudah dan memuaskan.  Kata Kunci : Alumni Teknik Geodesi Universitas Diponegoro, Uji Usability, Webgis ABSTRACTGeodetic Engineering Diponegoro University established since 2005 has produced graduates who have skills in the field of surveying and mapping. Graduates are spread throughout Indonesia and worked in various government and private agencies. To support the data collection system Geodesy Diponegoro University graduate then needed an application that can simplify the record and determine the distribution of the graduates.  That would give information about a vacancy by means of interact directly betweben graduates.Application Distribution Graduates Geodetic Engineering Diponegoro University (called PATG) is expected to cover all these needs. Development of this application begins with a literature study from research with the same study then collected data an attribute of graduates, process data and manufacturing MySQL database to display a map of the distribution of graduates.Results from this research is an application of alumni spread geodetic engineering based Diponegoro University webGIS that displays the distribution of geodetic engineering graduates are scattered throughout the region. This application was tested using two kind tests. First is a test program with the result that the application is successfully accessed with a web browser Google Chrome, Mozilla Firefox and Internet Explorer. Next is a usability test using a questionnaire with the result that the application is assessed for effectiveness 77,2% , 78,25%  for convenience and 76,5% for satisfaction. Thus this application categorized effective application , easy and satisfying. Keywords : Graduates Geodetic Engineering University Diponegoro, Usability Test, WebGIS  *) Penulis, Penanggungjawab
ANALISIS KETELITIAN DEM ASTER GDEM, SRTM, DAN LIDAR UNTUK IDENTIFIKASI AREA PERTANIAN TEBU BERDASARKAN PARAMETER KELERENGAN (Studi Kasus : Distrik Tubang, Kabupaten Merauke, Provinsi Papua) Mahmudi, Mahmudi; Subiyanto, Sawitri; Yuwono, Bambang Darmo
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 4, Nomor 1, Tahun 2015
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1060.87 KB)

Abstract

ABSTRAKLereng merupakan permukaan bumi yang memiliki kemiringan seragam. Kelerengan merupakan perbandingan antara beda tinggi dengan jarak. Salah satu pemanfaatan informasi kelerengan yaitu dalam bidang perkebunan tebu untuk penentuan area tanam. Proses pemetaan area dengan luas ribuan hektar, tentu tidak efisien apabila menggunakan metode survey pemetaan langsung di permukaan tanah. Salah satu metode alternatif yang sering diterapkan yaitu dengan memanfaatkan elevasi dari data DEM SRTM dan ASTER yang dianggap sebagai tinggi permukaan tanah. Meski demikian, banyak literatur lain yang menjelaskan bahwa elevasi DEM (Digital Elevation Model) sebenarnya merupakan elevasi tutupan lahan di atas permukaan tanah. Dari hal itu, maka hadir metode LIDAR (Light Detection and Ranging) yang dirasa lebih baik, karena berbasis sinar laser yang dapat menjangkau informasi tinggi permukaan tanah. Penelitian ini menganalisis korelasi, dan perbedaan klasifikasi kelerengan data DEM SRTM dan ASTER terhadap klasifikasi kelerengan data LiDAR. Area yang diteliti meliputi perkebunan tebu dengan luas ±7.370 Ha di daerah Tubang, Merauke, Papua.Pembuatan peta kelerengan mengikuti SOP (Standard Operating Procedures) yang dikeluarkan oleh BIG (Badan Informasi Geospasial) pada tahun 2012, tentang pengolahan data untuk pemetaan kemiringan lereng nomor 03.01.11.02. Dimana garis besar tahap pengolahannya meliputi gridding, definisi sistem proyeksi, klasifikasi kelerengan, klustering, penghalusan, dan generalisasi. Sedangkan pembagian jenis klasifikasi kelerengan mengikuti aturan yang dibuat oleh Puslittanak (Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat), hal tersebut mengingat penelitian ini berkaitan dengan kondisi tanah pertanian. Hasil dari penelitian ini berupa tiga buah peta kelerengan, dan tiga buah peta kesesuaian lahan pertanian tebu berdasarkan parameter kelerengan skala 1:30,000 dari data LIDAR, SRTM, dan ASTER.Hasil proses interpolasi grid menunjukkan bahwa data yang paling akurat yaitu LiDAR dengan nilai standar deviasi ±0,3674013m; selanjutnya SRTM sebesar ±8,0916394m; dan terakhir ASTER sebesar ±9,8854329m. Setelah dilakukan uji ketinggian data terhadap titik kontrol BM dan peta RBI, diketahui bahwa data LiDAR memiliki selisih paling baik dengan standar deviasi ±0,078m dan ±1,387m; kemudian SRTM ±0,422m dan ±4,339m; ASTER ±0,297m dan ±7,979m. Meski demikian, dalam perhitungan manual ditunjukkan bahwa ketiga data menghasilkan analisis kemiringan lereng yang sama dengan RBI, selisih dan standar deviasi ketiganya kurang dari ±0,4%. Kemudian hasil uji korelasi dan signifikansi luas hasil klasifikasi kelerengan LiDAR menunjukkan bahwa hubungan terhadap SRTM searah sebesar 49,6% (Cukup), sedangkan terhadap ASTER tidak searah sebesar 57,8% (Kuat). Nilai selisih luas rata-rata antara LiDAR dengan SRTM sebesar 3.382.840 m², sedangkan dengan ASTER sebesar 5.547.200 m². Selisih luas area sesuai tanam tebu SRTM terhadap LiDAR yaitu 4.702.697,081m², sedangkan ASTER terhadap LiDAR yaitu 12.733.548,477m². Persamaan jenis klasifikasi area sesuai tanam ASTER terhadap LiDAR yaitu 34,82%; sedangkan SRTM terhadap LiDAR 29,80%.Kata Kunci : ASTER, Lereng, LiDAR, SRTM , Tebu ABSTRACTSlopes are the earth's surface that has a sloping uniform. Slope is the ratio between the height difference and distance. One of information usages of slope is in the field of sugarcane plantations especially for the determination of the planting area. The mapping process of thousands acres of area is certainly not efficient when using directly survey mapping survey method. One of alternative methods that usually applied is by using the elevation data of DEM SRTM and ASTER which are considered as a high ground area. However, many other literatures explain that the elevation of DEM (Digital Elevation Model) is actually a level of land cover elevation above ground. This condition triggers the present method of LIDAR (Light Detection and Ranging) that is considered better than the previous methods, due to the laser beam based which possibly measures the height of terrain. This study analyzed relationship and differences in the classification slope DEM SRTM and ASTER data with the classification slope LiDAR data. Area examined in this research is the sugarcane plantations area with the vast of ± 7,370 hectares in Tubang, Merauke, Papua.Map making slope is cited from SOP (Standard Operating Procedures) issued by BIG (Badan Informasi Geospasial) in 2012 related to the data processing for mapping slope number 03.01.11.02. Whereas, the outline of the data processing stages are including gridding, definition of projection system, slope classification, clustering, smoothing, and generalization. While, the distribution of slope classification types following the rules made by Puslittanak (Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat), it is due to this study relates to the condition of agricultural land. This study is resulting three slope maps with a scale of 1:30,000 of LiDAR, SRTM and ASTER data.After the testing of height data towards the BM control point and RBI maps, revealed that LiDAR data has the best difference with a standard deviation of ± 1.387 m, then SRTM ± 4.339 m, and ASTER ± 7.979 m. However, the manual calculations indicated that the three data produced the same slope analysis with the RBI, differentiation and standard deviations are less than ± 0.4 m. Then the results of correlation and significance of the slope broad classification show a 49.6% direct relationship between SRTM and LIDAR (considered to be enough), whereas a 57.8% indirect relationship between LIDAR and ASTER (considered to be strong). And the value difference between LiDAR and SRTM is 3,382,840 m²,  while the between LiDAR and ASTER is 5,547,200 m². The result of recapitulating sugarcane planting area which based of DEM/DTM has explained that the more resemble is between LiDAR and SRTM with the value difference is 1,380,356.127 m², while the between LiDAR and ASTER is 9,952,798.232 m². Then the equality of arable area which resemble with the result of LiDAR is ASTER, it has equation a 85.18%, whereas SRTM a 73.76%.Keywords : ASTER, LiDAR, Slope, SRTM, Sugarcane
ANALISA GEOSPASIAL PENYEBAB PENURUNAN MUKA TANAH DI KOTA SEMARANG Bambang Darmo Yuwono; Hasanuddin Z. Abidin; Muhammad Hilmi
Prosiding SNST Fakultas Teknik Vol 1, No 1 (2013): PROSIDING SEMINAR NASIONAL SAINS DAN TEKNOLOGI 4 2013
Publisher : Prosiding SNST Fakultas Teknik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penurunan muka tanah merupakan permasalahan yang umum terjadi di kota - kota besar termasuk di Kota Semarang. Kondisi geologi serta aktifitas manusia ditengarai menjadi faktor penyebab penurunan muka tanah. Penurunan muka tanah memiliki karakteristik yang bervariasi secara spasial maupun temporal diakibatkan oleh faktor penyebab yang berbeda.Karakteristik dari penurunan tanah perlu diketahui untuk keperluan perencanaan dan penataan kota maupun tindakan dalam melakukan antisipasi dan mitigasi terhadap dampak yang ditimbulkan. Untuk mendapatkan karakteristik penurunan muka tanah dilakukan penggabungan hasil pengukuran penurunan muka tanah dari berbagai metoda yaitu sipat datar, GPS, pengukuran langsung dan InSAR. Analisa geospasial didasarkan pada hubungan spasial antara karakteristik penurunan muka tanah terhadap faktor - faktor penyebab penurunan muka tanah maupun terhadap kondisi tutupan lahannya.Penurunan muka tanah yang terjadi di Kota Semarang memiliki laju yang bervariasi antara 0 - 13 cm/tahun dengan kecenderungan meningkat ke arah utara timur (timur laut) Kota Semarang. Daerah yang memiliki laju penurunan muka tanah tinggi antara 9 - 13 cm/tahun antara lain adalah PRPP (Pekan Raya Promosi dan Pembangunan), Tanjungmas, Terboyo dan Kaligawe. Penelitian ini mengakaji tentang faktor yang berpengaruh terhadap penurunan muka tanah menggunakan analisis geospasial terkait dengan faktor – faktor antara lain perubahan muka air tanah, pembebanan dan konsolidasi. Hasil penelitian menunjukkan di lokasi Semarang bagian Utara memiliki perubahan muka air tanah yang cukup tinggi antara 1.2 – 1.4 m per tahun , dengan nilai indeks kompresilibitas berkisar antara 0.6 – 0.9 dimana skala pembebanan berkisar 3 – 4.Kata kunci: : GPS, InSAR, muka air tanah, skala pembebanan, indeks kompresibilias,
KAJIAN EFEKTIVITAS PENGUKURAN GARIS PANTAI MENGGUNAKAN RTK DAN TOTAL STATION Wahyu Gangga; Bambang Darmo Yuwono; Fauzi Janu Amarrohman
Jurnal Geodesi UNDIP Vol 8, No 1 (2019)
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (564.066 KB)

Abstract

Garis pantai adalah garis batas pertemuan antaran daratan dan air laut, di mana posisinya tidak tetap dan dapat berpindah sesuai dengan pasang surut air laut dan erosi pantai yang terjadi (Triatmodjo, 1999) .Garis pantai merupakan bagian penting dari suatu negara kepulauan seperti Indonesia. Karena garis pantai dapat digunakan sebagai acuan penetapan batas wilayah bahkan batas negara dan untuk penetapan batas pengelolaan sumberdaya alam. Selain it ugaris pantai juga digunakan untuk mementukan batas wilayah laut propinsi dan kabupaten atau kota yang terdiri dari wilayah darat dan laut. Pengukuran garis pantai sejauh ini terdapat beberapa metode salah satunya dengan pengukuran metode terestris, pada penelitian ini akan mengkaji antara data hasil pengukuran garis pantai menggunakan metode RTK Radio yang akan dibandingkan dengan metode terestris dengan Total Station yang diasumsikan sebagai pengukuran paling benar atau definitif. Perbandingan tersebut mecari metode mana yang lebih efektif , dengan mempertimbangkan ketelitian, waktu, dan biaya serta hasil akhir dari garis pantai yang terbentuk. Pengukuran garis pantai dengan GNSS metode RTK Radio dan metode terestris dengan Total Station direferensikan terhadap datum vertikal lokal masing – masing garis pantai yang diperoleh akan mengacu pada chart datum yaitu: Higher Hig Water Level (HHWL), Mean Sea Level (MSL) dan Lower Low Water Level (LLWL). Dilihat dari hasil uji statistik sampel, ketelitian horizontal dan vertikal dari dua metode ini tidak menunjukkan perbedaan hasil yang signifikan. Perbandingan posisi horizontal (X,Y) antara RTK Radio dengan Total Station diperoleh rata – rata pergeseran nilai sebesar 0.468 m dengan nilai standar deviasi (  sebesar 0.684 m. Dari hasil tersebut maka pengukuran GNSS metode RTK Radio memenuhi Circular Error 90 % atau CE90 kelas 3 untuk skala 1:2500 dan Liniear Error 90% atau LE90 kelas 3 untuk skala 1:1000. Sehingga pengukuran RTK dapat digunakan untuk pengukuran pemetaan skala besar sampai dengan 1:2500. Perbandingan waktu yang digunakan untuk pengukuran garis pantai dengan GNSS metode RTK Radio rata – rata memerlukan waktu sebesar 7 menit 47.9 detik untuk setiap sesi atau patok. Pengukuran terestris metode Total Station memerlukan waktu rata – rata sebesar 17 menit 26.2 detik untuk menyelesaikan sesi yang sama dengan metode RTK Radio. Biaya pengukuran RTK Radio lebih murah dibandingkan dengan pengukuran terestris dengan Total Station. Hasil dari penggambaran garis pantai dua metode pada peta tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan.
APLIKASI SATELIT ALTIMETRI DALAM PENENTUAN SEA SURFACE TOPOGRAPHY (SST) MENGGUNAKAN DATA JASON-2 PERIODE 2011 (Studi Kasus : Laut Utara Jawa) Alvian Danu Wicaksono; Bambang Darmo Yuwono; Yudo Prasetyo
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (857.116 KB)

Abstract

ABSTRAK                Indonesia merupakan negara kepulauan yang sebagian besar wilayahnya terdiri dari perairan. Luasnya wilayah perairan Indonesia memerlukan pengembangan penelitian lebih lanjut terkait kondisi fisis dan biologis perairan tersebut. Salah satu bentuk kajian fisis perairan Indonesia adalah pengamatan bentuk muka air laut (sea surface topography/SST). Sea Surface Topography (SST) merupakan tinggi permukaan air laut di atas geoid. Penelitian ini berfungsi untuk memperoleh fenomena laut secara temporal.Pada penelitian ini menggunakan data satelit altimetri dari dua penyedia data yaitu RADS dan AVISO dengan lokasi penelitian di perairan Semarang dengan jalur pass 51 dan 64 sedangkan  Surabaya pada jalur satelit pass 127 dan 140. Metode yang digunakan adalah mengolah data satelit altimetri Jason-2 tahun 2011 dengan analisis perbandingan akurasi, arus dan karakteristik sea surface topography menggunakan sofware BRAT 2.0..Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat akurasi data pengolahan satelit altimetri RADS dan software BRAT adalah <  0,25 m berdasarkan uji statistik simpangan baku dan hasil nilai SST yang tertingi terjadi pada pass 064 terjadi pada cycle 110 sebesar  1,5752 m pada tanggal 27 Mei 2011 – 07 Juni 2011 sedangkan nilai SST terendah terjadi pada pass 051 dengan cycle 095  sebesar 0,544 m pada tanggal 30 Januari 2011 – 09 Februari 2011. Berdasarkan pengamatan dan analisis menerangkan bahwa arah arus bergerak ke arah Samudra Hindia ini dapat diketahui dengan nilai sea surface topography yang mengacu pada ketinggian geoid lebih tinggi di daerah Utara laut Jawa dari pada di Selatan laut Jawa.Kata Kunci : Aviso, BRAT, Jason-2, Radar Altimetry Database System (RADS), Sea Surface Topography (SST) ABSTRACTIndonesia can be classified as an archipelago nation in which most of its territory consisted of water. With this large number of water territory, Indonesia needs to develop an advanced research related to the physical and biological condition of the water territory. One of the physical study of Indonesian water territory is the observation of sea surface (Sea Surface Topography/SST). Sea Surface Topography (SST) can be defined as the high level of sea surface above the geoid. The purpose of this research is to get the sea phenomenon temporally                This research was using altimetry satellite data from two data provider RADS and AVISO with the research sites in Semarang satellite pass 51 and pass 64 and Surabaya satellite pass 127 and 140. The method used in this research is by processing altimetry satellite data Jason-2 2011 with the comparison analysis of the current and the characteristic of Sea Surface Topography using software BRAT 2.0.                The result of the research showed that the accuracy level of the processed data of altimetry satellite and software BRAT is < 0.25 m according to the statistic test of standard deviation and the result of SST point the highest happened on pass 064 in cycle 110 with the result of 1.5752 m on May 27th 2011 – June 07th 2011 and the lowest happened on pass 051 in cycle 095 with the result of 0.544 m on January 30th 2011 – February 09th 2011. The observation and the analysis showed that the current which moving towards the Indian Ocean can be known with Sea Surface Topography point that refers to the high level of geoid higher in the northern Java Sea rather than Southern Java SeaKeywords: Aviso, BRAT, Jason-2, Radar Altimetry Database System (RADS), Sea Surface Topography (SST)
APLIKASI SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS BERBASIS WEB DAN ANDROID UNTUK PEMILIHAN JALUR ALTERNATIF MENUJU TEMPAT PARIWISATA (Studi Kasus: Kota Wisata Cibubur Dan Jungleland, Kabupaten Bogor) Tatag Abiyoso Utomo; Bambang Darmo Yuwono; Fauzi Janu Amarrohman
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 6, Nomor 2, Tahun 2017
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (702.213 KB)

Abstract

ABSTRAK Sektor pariwisata sebagai kegiatan perekonomian telah menjadi andalan potensial dan prioritas pengembangan bagi sejumlah Negara.Terlebih bagi negara berkembang seperti Indonesia yang memiliki potensi wilayah yang luas dengan daya tarik wisata yang cukup besar. Salah satu problematika yang harus dipecahkan adalah masalah infrastruktur Information and Communication Technology (ICT) dan strategi promosi wisata yang masih konvensional.Penelitian ini dilakukan pada jalur alternatif  yang telah dipilih pada saat penentuan jalur alternatif yang akan dilakukan survei lapangan. Data yang didapat dari survei lapangan terdiri dari gambar foto, koordinat marking, jalur tracking, dan kepadatan jalan. Selain data-data hasil survei, data yang didapat dari penelitian ini adalah jalur padat. Data jalur padat didapat dari informasi sehari-hari. Pada penelitian ini data yang terpakai adalah gambar foto, koordinat marking, jalur tracking, dan data jalur padat. Metodologi penelitian yang dipakai pada penelitian ini adalah kualitatif dan kuantitatif. Metode kualitatif dapat dilihat pada pengambilan gambar foto, koordinat marking, jalur tracking, dan kepadatan jalan. Sedangkan metode kuantitatif dapat dilihat pada pengambilan data jalur padat.Hasil akhir penelitian ini berupa aplikasi SIG untuk pemilihanjalur alternatif menuju tempat pariwisata berbasis web yang terkoneksi android di Kabupaten Bogor menggunakan google map API sebagai  penyedia peta  gratis  yang diintegrasikan  ke  dalam website dan aplikasi android. Kata Kunci: Pariwisata, Webgis, Android, Jalur Alternatif  ABSTRACT  Tourism sector as the economic activity has become a mainstay of potential and priorities for the development for a number of countries, especially Indonesia as a developing country that has the large potential area with high tourist attraction. One of the problems that must to be solved is the problem of infrastructure of Information and Communication Technology (ICT) and tourism promotion strategy that is still conventional.  This research is observed on alternative road which has been decided when pre survey. Observed data which have been got from field observed consist of coordinate of marking, photo picture, tracking road, and intentcity of road. Besides of observed data’s, that is data of traffic road. Data of traffic road are got from daily news. Used data in this research consist of photo picture, tracking road, coordinate of marking, and traffic road. Method of observation in this research those are qualitative and quantitative. Qualitative method can be seen when taking photo picture, marking coordinate, tracking road, and road intensity. Then quantitative method can be seen when taking traffic road data.The final result of this research is a GIS using web and android based for alternative road toward tourism place in Bogor using Google map API as the free provider map that is integrated into website and android.  Keywords: Tourism, Webgis, Android, Alternative Road
KAJIAN PENGUKURAN DAN PEMETAAN BIDANG TANAH METODE DGPS POST PROCESSING DENGAN MENGGUNAKAN RECEIVER TRIMBLE GEOXT 3000 SERIES Arintia Eka Ningsih; Moehammad Awaluddin; Bambang Darmo Yuwono
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 3, Nomor 3, Tahun 2014
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (892.083 KB)

Abstract

Abstrak Pengukuran posisi titik-titik dengan metode ektraterestrial menggunakan receiver gps saat ini sudah banyak digunakan. Hal tersebut ditunjang oleh kemajuan teknologi sehingga hasil yang diperoleh mempunyai ketelitian yang tinggi dengan waktu yang relatif singkat. Penelitian ini bertujuan mengkaji sampai sejauh mana ketelitian pengukuran luasan dan koordinat bidang tanah yang diperoleh dari hasil pengukuran dengan menggunakan receiver Trimble GeoXT 3000 series metode penentuan posisi diferensial dengan sistem DGPS metode post processing untuk pemetaan bidang-bidang tanah.Dari hasil pengukuran dan pengolahan data dimana hasil pengukuran ETS digunakan sebagai acuan. Dengan metode pengolahan secara absolut ketelitian RMS koordinat  sebesar 1,463 m dan ketelitian RMS luas bidang tanah sebesar 2,910 m2, sedangkan dengan metode pengolahan secara DGPS Post processing ketelitian RMS koordinat sebesar 0,507 m dan ketelitian RMS luas bidang tanah sebesar 0,586 m2.Kata Kunci : Receiver Trimble GeoXT 3000 Series, DGPS, Bidang Tanah AbstractMeasurement of the position of the points with extraterestrial method using receiver GPS are now widely used. It advance in technology so that the results have high accuracy with a relatively short time. This study aims to assess the extent to which the accuracy of measurement of land area and coordinate field measurement results obtained from using the receiver Trimble GeoXT 3000 series differential positioning method with DGPS  post processing method for mapping land areas.From the results of the measurement and data processing in which the result of the measurement is used as a reference ETS. With absolute processing method have coordinates accuracy was 1.463 m and vast land areas accuracy was 2,910 m2, whereas DGPS post processing method have coordinates accuracy was 0.507 m and vast land areas accuracy was 0.586 m2.Keywords : Receiver Trimble GeoXT 3000 Series , DGPS , Land Areas
Co-Authors Abdi Sukmono, Abdi Adzindani Reza Wirawan Ahadea Kautzarea Yuwono Aisyah Arifin Alfian Budi Prasetya Alfin Nandaru Alfred Boni Son Simbolon Ali Amirrudin Ahmad Alvian Danu Wicaksono Amirul Hajri Amri Perdana Ginting Andre Hermawan Andri Suprayogi Anggoro Pratomo Adi Arief Laila Nugraha Arintia Eka Ningsih Arwan Putra Wijaya Azeriansyah, Reyhan Bambang Sudarsono Bandi Sasmito Bobby Daneswara Indra Kusuma Desvandri Gunawan Dian Rizqi Ari Wibowo Diqja Yudho Nugroho Dzaki Adzhan Elceria Susanti EVAN BRILLIANTO Extiana, Kiky Fadli Rahman Fadli Rahman, Fadli Fathan Aulia Fauzi Iskandar Fauzi Janu Amarrohman, Fauzi Janu Fina Faizana Fuad Hari Aditya Galih Rakapuri Hana Sugiastu Firdaus Handaru Aryo Suni Haris Yusron Hasanuddin Z. Abidin Henndry . Heri Gusfarienza Indira Nori Kurniawan Indra Laksana Inessia Umi Putri Iqbal Yukha Nur Afani Khairuddin Khairuddin Kusmaryudi, Alan L. M. Sabri Lanjar Cahyo Pambudi Laode M Sabri Lasmi - Rahayu Leur P. Maranatha Sitorus Lorenzia Anggi Ramayanti Lutfi Eka Rahmawan Lutgar Sudiyanto Sitohang M. Awaluddin, M. Maylani Daraputri Merpati Dewo Kusumaningrat Moehammad Awaluddin Moh Kun Fariqul Haqqi Mohamad Rizki Ramadhan Mualif Marbawi Much. Jibriel Sajagat, Much. Jibriel Muhamad Nurman Cholid Muhamad Salahuddin Muhammad Adnan Yusuf, Muhammad Adnan Muhammad Chairul Ikbal, Muhammad Chairul Muhammad Hilmi Muhammad Ilman Fanani Nugrahanto, Prasetyo Odi Nurhadi Bashit ORY ANDRIAN APSANDI Ory Andrian Apsandi R. Sapto Hendri Boedi Soesatyo Raka Angga Prawira Ramdhan Thoriq Setyabudi Ramlansius Tumanggor, Ramlansius Reisnu Iman Arjiansah Renaud Saputra Purba Rian Yudhi Prasetyo Risa Ayu Miftahul Rizky Riska Pratiwi Risty Khoirunisa Risty Khoirunisa, Risty Rizki Fadillah Rizki Putra Agrarian Rizqie Anarullah, Rizqie Roy Kasfari Sanches Budhi Waluyo Saul Ambarita Sawitri Subiyanto Susilo Susilo Tatag Abiyoso Utomo Theodorus Satriyo Singgih Vauzul Rahmat Wahyu Gangga Widi Hapsari Wijaya, A. P. Wikan Isthika Murti WIWIT PURWANTI Wulan Sari, Lailathul Fitria Yolanda Adya Puspita Yudo Prasetyo YULIA SAVIRA RACHMA Zainab Ramadhanis